Kau berada di sebuah kafe di Cikini. Kau hanya memesan segelas es teh leci dan roti bakar cokelat. Kau harus membayar seharga lima puluh ribu untuk dua menu tersebut. Kau bingung, mengapa harga minuman itu bisa dua kali lipat lebih mahal dibanding makanan yang kaupesan? Harga semua menu di kafe ini terlalu mewah bagimu. Jika kau ingin membandingkannya dengan warkop favoritmu, semahal-mahalnya tak lebih dari setengah harga yang kaubayar saat ini.

Namun, jika dipikir-pikir lagi, uang lima puluh ribu itu sudah termasuk pajaknya. Bisa dibilang kau juga menyewa pemakaian satu gelas, satu sedotan, satu sendok, satu garpu, serta satu piring. Tanpa harus repot-repot mencucinya. Ditambah lagi penggunaan satu meja dan dua bangku kecil yang saat ini kautempati.

Selain itu, kau dapat menikmati internet gratis karena sang pramusaji sempat memberikanmu potongan kertas kecil yang bertuliskan kata sandi wifi. Kau juga dapat berlama-lama di sini. Masih ada sembilan jam lagi sebelum kafe ini tutup. Ada pendingin ruangan yang membuatmu tidak kegerahan. Terdapat sinar putih lampu yang menerangi setiap sudut ruangan, sehingga kau bisa melihat dengan jelas perempuan manis berambut sebahu yang memakai kacamata berbingkai bulat, yang duduknya tak jauh darimu.



Apakah harga lima puluh ribu itu sebanding dengan semua yang kau peroleh? Khususnya tentang kesempatanmu mengajak gadis jelita itu berkenalan dan mengobrol, sampai-sampai pada tiga jam berikutnya kau berhasil mendapatkan kontaknya? 

--

PS: Foto di atas hanya contoh dari latihan saya menggambar pakai aplikasi AutoDesk. Bukan potret perempuan di cerita fiksi yang terburu-buru dibikin ini.