Jejak dari Masa yang Sangat Lampau

15 comments
Banyak orang yang berpendapat bahwa pacar pertama sangat sulit dilupakan. Saya kurang setuju dengan pernyataan itu. Saya mungkin bukan bagian dari orang kebanyakan, atau barangkali pengalaman pertama saya memang tak pantas disebut pacaran. Usia hubungan kami, saya dan pacar pertama, kurang lebih hanya seminggu. Tapi jika saya mengingat kisah romansa Lukman—teman kuliah saya—yang senang memamerkan mantannya berjumlah 20 lebih tiap kali membahas topik percintaan, lalu dia tetap menganggap mereka semua mantannya sekalipun di antara daftar itu ada yang cuma pacaran selama dua hari, apa boleh buat saya tetap menghitung “dia” dalam cerita berikut ini sebagai pacar pertama. Menelusuri jejak dari masa yang sangat lampau sekaligus menuliskannya sepertinya bakalan asyik. Siapa tahu di dalam proses itu saya juga bisa menggugat diri sendiri. 


Delapan bulan sebelum saya mengenal Jessica, saya juga pernah langsung terpikat dengan foto seorang gadis dan berharap bisa menjadi pacarnya. Payah betul kayaknya diri saya dulu, kok bisa-bisanya mudah naksir perempuan cuma gara-gara fotonya—yang sebetulnya bisa diedit sedemikian rupa agar terlihat menarik. Biarpun kalimat barusan bikin saya tampak gampangan, sejujurnya sih tetap harus ada interaksi di antara kami yang bisa menguatkan perasaan suka itu hingga saya berniat menjadikannya seorang pacar. Buktinya, sebelum mengetahui paras Jessica, saya dan dia sudah rutin mengobrol di permainan virtual. Kami merasa cocok dengan topik obrolan, dan tentunya memiliki ketertarikan yang sama pada gim.

Nah, saya kira begitu pula yang terjadi dengan Amalia, pacar pertama saya. Tanpa adanya komunikasi dari dinding ke dinding Facebook maupun kolom percakapan, tak mungkin saya bisa berpacaran dengannya.


Pada masanya (dalam kasus saya terjadi pada rentang 2009-2012), status Facebook “berpacaran dengan ....” menjadi hal yang teramat penting dalam lingkup pergaulan saya. Status lajang seakan-akan menjadi kehinaan buat seorang manusia pada waktu itu. Saya pun sering mendengar ujaran tentang hidup yang terasa kurang lengkap tanpa kehadiran sosok pasangan. 

Saya sudah lulus SMP dan mulai melanjutkan pendidikan ke tingkat SMK, tapi belum pernah sekali pun berpacaran. Meskipun saya sudah bisa merasakan jatuh hati sama lawan jenis, saya tetap tak tahu pacaran itu sebenarnya seperti apa dan bagaimana selain mengetahuinya lewat buku maupun film. Saya tak mau sok tahu sebelum benar-benar mengalaminya sendiri. Atas dasar itu, saya jadi cukup iri dengan kawan-kawan yang telah memiliki pacar sejak SMP, bahkan SD.

Mungkin teman SD saya terlalu cepat akil balig, atau memang dasarnya saya yang kecepatan sekolah (saya masuk SD pada usia 5 tahunan). Ini serius. Jadi, izinkan saya melantur membicarakan tentang sekolah dasar terlebih dahulu, tepatnya zaman saya masih bau kencur, sebelum menceritakan pengalaman pertama pacaran.

Sebelum ada peraturan mengenai usia minimal masuk SD mesti berumur 7 tahun, pada waktu silam beberapa pihak sekolah melonggarkan syarat tersebut. Meski begitu, tak mudah mencari sekolah yang mau menerima bocah usia 5 tahun sebagai siswanya. Sebagian sekolah yang saya dan Ayah datangi mengharuskan calon muridnya telah menempuh pendidikan TK, baru bisa masuk SD. Sebagian yang lain tidak memiliki aturan semacam itu, tapi yang penting anaknya sudah berumur 6 tahun. Lagi-lagi kami gagal mendaftar. Ketika saya datang ke SD terakhir di area Palmerah dan sudah berputus asa kudu menunggu satu tahun lagi buat masuk sekolah, rupanya guru yang mengurusi bagian administrasi mengizinkan saya sekolah dengan syarat bisa lolos dalam tes calistung. Saya pun resmi masuk SD dengan usia 5 pada tahun 2000. Alhasil, mayoritas kawan SD saya kelahiran tahun 1992-1994, sedangkan saya 1995 sendirian. 

Seingat saya, dulu zaman kelas 3 SD saya pernah mencium pipi teman sekelas. Apakah saat itu saya sudah paham hal-hal semacam itu? Tentu saja belum. Itu murni kepolosan saya yang lagi dikerjai oleh Feri, teman sebangku saya. Dia bilang, “Kalau lu berani cium pipi si Lita, nanti gue kasih 1.000.”

Pada jam pulang sekolah, ketika murid-murid sedang ramai di sekitar meja guru sedang mencari buku tulisnya yang baru saja diberi ponten sekalian cium tangan untuk pamit pulang, bibir saya langsung mendarat begitu saja di pipi Lita. Lita menoleh ke arah saya dan memegang pipi kirinya seraya mengusap-usapnya dengan tangan kiri. Tak ada yang melihat peristiwa bajingan itu selain saya, Lita, dan Feri, padahal saya melakukannya di tengah kerumunan. Anehnya, satu kelas jadi tahu momen itu pada keesokan harinya. Saya pun di-“cie-cie”-in oleh satu kelas. Entah Feri atau Lita yang mengadu kepada mereka, yang jelas Feri sungguh keparat. Bagus saja Lita tidak melapor kepada guru. Tapi lantaran kejadian biadab itu, Lita jadi mengira saya suka kepadanya. Saya sendiri boro-boro mengerti soal rasa suka, saya cuma butuh duit 1.000 buat main PlayStation sepulang sekolah di rental tanpa memikirkan konsekuensi atas perbuatan tolol itu. 

Selain Lita, pada kelas lima saya juga punya pengalaman ditembak oleh teman sekelas bernama Nurlaila di bangku kantin. Dia dan teman sebangkunya menyeret saya ketika guru sedang pamit ke toilet. Nurlaila merupakan murid pindahan sewaktu saya kelas empat. Saya tak tahu apa alasan dia menyukai saya. Barangkali karena tahu dari teman-teman bahwa saya termasuk siswa yang berprestasi. Saya pernah ikut tes cerdas cermat, mewakilkan sekolah buat olimpiade IPA, dan menduduki peringkat satu melulu dari kelas 1-4 (kelas 5 dan 6 saya peringkat dua). 

Seketika teman sebangkunya balik ke kelas, Nurlaila pun mengungkapkan perasaannya. Tololnya, saya malah plonga-plongo dan berkata, “Jadi lu ngajak ke sini cuma mau bilang gitu doang? Kenapa enggak di kelas aja tadi? Makasih udah suka sama gue. Ya udah, gue mau ke kelas lagi.” 

“Terus kita gimana?” 

“Gue enggak ngerti,” kata saya lalu berjalan menuju kelas. Saya betul-betul masih polos banget. 

Selepas kejadian itu, saya sudah lupa bagaimana sikap Nurlaila terhadap saya. Yang masih melekat di memori saya, dia pindah sekolah lagi pada kenaikan kelas enam. Apakah Nurlaila malas satu kelas dengan cowok yang pintar dalam pelajaran tapi goblok dalam urusan cinta ini? Saya tak tahu. Yang saya tahu, kepindahan Nurlaila itu mengingatkan saya pada tokoh Misaki dalam kartun Kapten Tsubasa

Saya mungkin baru paham tentang rasa suka begitu lulus SD. Tepatnya saat saya lagi menaiki tangga menuju ruang kelas yang berada di lantai 3 dan ingin cap tiga jari, lalu berpapasan dengan salah seorang siswi dari sekolah lain yang berada satu gedung dengan sekolah saya (sepertinya sekolah dia berada di lantai 2). Selama saya mencelupkan telunjuk, jari tengah, dan jari manis ke botol tinta ungu, saya terbayang-bayang lagi wajah cewek tadi.

Saya pun membatin, jadi, beginikah rasanya naksir perempuan? Walaupun saya masih kurang yakin apakah itu betulan rasa suka, intinya sih saya agak menyesal karena merasa telat dan tak mampu mengungkapkan ketertarikan ini sebagaimana yang dilakukan Nurlaila kepada saya dulu.

Kenapa kami baru dipertemukan setelah lulus SD? Saya tak tahu namanya, tak tahu dia bakal melanjutkan ke SMP mana. Sekiranya saya tahu kan saya bisa memilih sekolah yang sama, bertemu lagi dengannya, melihat wajahnya kembali, serta mengenalnya secara akrab. Apakah yang seperti itu termasuk perasaan suka?


Agustus 2009

Pertanyaan mengenai rasa suka itu saya simpan selama tiga tahunan. Selama SMP saya juga terpaksa memendam perasaan saya kepada beberapa perempuan yang saya sukai (biasanya yang saya anggap baik, pintar, dan cantik). Mengingat saya bersekolah di SMP rintisan bertaraf internasional alias RSBI, di mana kondisi mayoritas muridnya anak-anak orang tajir, sedangkan saya sendiri hanya siswa yang menerima beasiswa kurang mampu, saya jelas merasa minder. Jangankan bisa berpacaran, bisa berkawan akrab sama cewek saja rasanya mustahil.

Bagusnya, keminderan itu perlahan-lahan mengikis begitu saya masuk SMK. Mungkin karena beberapa teman sekelas mengetahui saya lulusan SMP favorit, makanya mereka memandangi saya secara berbeda seolah-olah saya berada di kasta yang lebih tinggi. Saya pun mengambil kesempatan itu dan menjadikannya amunisi untuk menambah kepercayaan diri. Kalaupun pada akhirnya mereka tahu saya bukan anak orang kaya, setidaknya pandangan mereka bahwa saya cerdas itu sudah lebih dari cukup. Pada masa sekolah saya tentu bisa menggaet lawan jenis lewat kecerdasan saya.

Niat buat menemukan pacar di SMK langsung pupus begitu saja sewaktu saya menyadari wajah perempuan di sekolah saya, khususnya teman sekelas, terasa jomplang dengan siswi-siswi SMP saya dulu. Tak ada satu pun yang mendapatkan nilai delapan di mata saya, baik secara fisik ataupun perilaku. Pelarian dari rasa kecewa itu bikin saya jadi sering main warnet saban pulang sekolah. Berkat Facebook saya bisa cuci mata dengan melihat tampang-tampang teman SMP yang pernah saya taksir. Namun, saya masih kesulitan menyingkirkan perasaan rendah diri di hadapan mereka. Meskipun saya tak perlu berbicara langsung, saya tetap tak berani mengajak mereka mengobrol di kolom percakapan. Paling-paling saya berusaha memudarkan ketakutan itu dengan mengobrol bersama teman sekelas untuk menanyakan kabar dan kini masuk ke SMA/SMK mana. 

Kala itulah terdapat notifikasi dari seorang perempuan yang menulis sesuatu di dinding Facebook saya, “Makasih udah add. Siapa di sana?” Saat saya kunjungi profilnya, wajahnya sih tampak biasa saja, tapi begitu saya mengetahui bahwa dia juga bersekolah di SMP yang sama dengan saya, otomatis saya masih memiliki kesempatan supaya punya pacar yang cakep. Apa lagi jawabannya kalau bukan mendekati adik kelas?

Saya mulai melihat daftar teman dari Facebook salah seorang adik kelas yang saya kenal—karena dulu pernah sebangku ketika UTS. Selama masa ujian, sekolah membuat sistem yang mengatur para siswa duduk bersebelahan dengan adik atau kakak kelasnya demi mengurangi kecurangan. Saat UTS pada kelas 9, saya sempat berbagi kelas dengan murid-murid kelas 7, dan begitulah saya bisa mengenal mereka.

Saya mengirimkan permintaan pertemanan kepada mereka yang fotonya terlihat jelita. Dari belasan perempuan yang menanggapi, Amalia termasuk salah satunya. Kisah kami pun bermula dari pertanyaan Lia di kolom percakapan, “Foto profil kamu kenapa ganteng banget, sih?” 

Sebelum hidung saya mulai kembang-kempis, saya melihat ulang foto profil yang jelas-jelas bukan diri saya. Saya membalasnya dengan tertawa dan emoji menjulurkan lidah. 

“Kenapa kok foto profilnya Harry Potter?” tanyanya lagi. 



Dulu, saya memang kurang percaya diri dengan menampilkan wajah sendiri. Lagian, saat itu saya juga enggak punya ponsel yang berkamera. Ponsel saya masih Esia Ngoceh seharga 199 ribu. Itu pun hadiah dari undian minuman bersoda dengan menebus seharga 50 ribu yang konon buat bayar pajaknya. Alasan saya memilih Harry Potter sebagai foto profil, sebab Talitha—salah seorang cewek yang saya taksir zaman SMP—sangat menyukai tokoh tersebut. Ya, sesederhana itu. Setelah gagal mencari perhatian Talitha, saya justru bisa membuat perempuan lain penasaran akan tampang saya. 

Biarpun saya baru menonton Harry Potter 1-3 di televisi, topik tentang Harry Potter ternyata bisa membuka peluang dan mengakrabkan saya kepada Lia yang belakangan diketahui juga suka terhadap tokoh fiksi tentang dunia sihir itu. Obrolan pun bergulir ke topik SMP kami, lalu dia mulai mencari tahu diri saya yang mana. Apakah kami pernah berjumpa selama di sekolah? Saya bilang, saya pernah 2-3 kali melihatnya jika memperhatikan foto-fotonya di Facebook, sedangkan Lia merasa masih buta mengenai sosok saya yang sok misterius. Saya lantas menjelaskan bahwa dulu pernah satu kelas dengan Maura—gadis imut yang bagi teman-teman sekelas saya bagaikan bibit unggul yang kelak tumbuh menjadi pohon berbuah manis, atau dengan kata lain, pria-pria bajingan ini ingin sekali memetiknya saat sudah matang. 

“Wooo, giliran yang cakep aja ingetnya cepet.” 

Saya lagi-lagi cuma tertawa dan memberikan emoji lidah melet. 

“Gue pas ujian sempet sebelahan sama ruangan Maura tau, tapi kok gue enggak inget lu yang mana ya, Kak?” 

Lia kemudian menyebutkan dua nama teman sekelas saya yang tampan. Lebih-lebih bilang kalau dirinya masih mengingat tampang mereka sampai hari ini. Saya pun gantian meledeknya, lalu memberi tahu bahwa saya sering berkumpul di depan kelas pada momen tak ada guru atau ke kantin bareng mereka. 

“Mereka kan tinggi-tinggi tuh, nah di antara itu gue yang paling kurus dan pendek.” 

“Oh, yang itu. Kayaknya gue tau deh meski masih samar-samar.” 


Februari 2020




Saat saya menelusuri rekam jejak di Facebook pada 2010 buat mencari tahu kiriman dari Jessica ataupun status norak tentangnya, saya justru kelewatan hingga tahun 2009 dan menemukan obrolan-obrolan saya bersama Lia. Mulai dari Lia meminta saya buat mengisahkan ulang masa SMP, percisnya pas lagi UTS dan momen saya pernah melihatnya di sekolah ataupun ketika dia menempati kelas saya; hingga ke obrolan enggak jelas yang bisa-bisanya terarsipkan di pesan Facebook. 



“Yaudeh, di chat aje, jgn pesan.” 

Saya harus berpikir keras untuk memahami maksud kalimat yang saya kirimkan pada sepuluh tahun silam itu. Memang apa bedanya, sih? Saya pun mencoba memeras isi otak. Jika ingatan ini tak berkhianat, ketika pengguna Facebook memasuki akunnya lewat laptop atau komputer atau memakai aplikasi e-buddy di ponsel, teks-teks pada kolom percakapan yang dikirimkan lewat perangkat barusan bakalan lenyap setelah penggunanya keluar. Sementara itu, kalau sang penerima pesan keburu off atau ada gangguan jaringan, otomatis kiriman itu bakal pindah ke kotak masuk, bukan lagi di kotak percakapan. 

Saya bersyukur tak banyak rekam jejak yang tertinggal di Facebook. Tapi saya jengkel sekali dengan jejak-jejak ingatan yang datang sesukanya. Terutama tentang diri saya yang bersikap sok keren di mata Lia. Misalnya, saya membual rajin belanja kaos di distro, padahal hanya mampu belinya setiap menjelang Lebaran; saya sering buka Facebook karena main di warnet, tapi suatu hari bilangnya pakai laptop Ayah (pada masa itu keluarga saya mana mampu membelinya); saat mendengar Lia sudah berpacaran lebih dari tiga kali, saya ikutan mengaku punya mantan dua. 

Kebohongan itu semata-mata saya lakukan berdasarkan saran dari Firman, teman main gim di warnet. “Lu jangan jujur-jujur amat apa, Yog, kalau pas lagi PDKT,” ujarnya. “Bokis sedikit mah enggak apa-apa. Cewek lagian bakal malas sama cowok yang main warnet melulu. Sesekali ngaku aja jadi anak rumahan. Terus cewek juga suka yang berpengalaman. Masa iya lu mau bilang belum pernah pacaran kalau ditanya punya mantan berapa? Kaburlah dia yang ada.” 



Kebohongan yang sedikit-sedikit saya tuturkan itu akhirnya berhasil membuat saya dan Lia jadian. Sepertinya pesan dari Lia yang berupa “cie-cie” itu merupakan tanggal jadian kami. Sedangkan kiriman dari Lia ke dinding saya yang minta dibuatkan gambar kalau tak salah adalah bentuk ungkapan perasaan suka. Dulu, Facebook memiliki fitur buat menggambar sebagaimana aplikasi Paint, jadi kami bisa bikin coret-coretan untuk dikirimkan ke pengguna lain. Berhubung saya payah dalam menggambar, saya akhirnya menuliskan nama dia dengan gaya ala-ala grafiti. 



Status pada gambar di atas kayaknya saat saya putus dengannya. Saya sudah tak ingat dulu putusnya karena alasan apa. Yang jelas bukan alasan mau fokus belajar. Pada bagian “sama, gue jg bingung”, saya hanya menanggapi status Lia yang berupa, “Bingung.” Mungkin dia bingung, kenapa baru pendekatan selama seminggu lebih langsung buru-buru pacaran, bahkan tanpa mengetahui sosok saya dengan jelas. Mungkin juga dia bingung sehabis mengetahui sosok asli saya yang jauh dari perkiraannya. Kok gue bisa pacaran sama orang jelek, sih? Apa gue minta putus aja, ya? Bisa jadi dia juga bingung, kenapa ada lulusan SMP favorit yang ponselnya masih Esia Ngoceh. Yang ketikan SMS-nya kudu singkat-singkat biar irit karena tarifnya Rp1 per karakter. Jangan-jangan dia orang kere? Enggak level dong, ah. Apa pun itu, saya mulai menghitung waktu dari tanggal 8 sampai 16 Agustus yang berarti kami hanya pacaran selama delapan hari.

Konyolnya, Lia kembali menghubungi saya seminggu pascaputus. Apakah dia kangen mengobrol di Facebook dan SMS-an sama saya? Entahlah. Bodohnya, saya masih meresponsnya dan kami kembali bertukar cerita. Saya malahan juga memberikan Lia nomor baru saya. Jadi, empat hari selepas kami memilih bubar, saya mencoba membongkar celengan kemudian membeli ponsel baru yang GSM. Saya memilih Sony Ericsson S302 seharga 900 ribu (tabungan saya 750 ribu, lalu orang tua menambahkan sisanya). Mengetahui saya memiliki HP baru, Lia tentu langsung meledek saya dengan “cie-cie” yang agak menyebalkan tapi suka bikin gemas itu. Mumpung sudah sama-sama GSM dan kartunya sama pula, Lia pun mencoba menelepon saya. Katanya, dia penasaran dengan suara saya. 



Saya betul-betul sudah lupa sampai kapan kedekatan itu terjalin. Terakhir komunikasi sepertinya Lebaran pada tahun 2009 (sepertinya jatuh pada September). Itu pun sebatas mengucapkan mohon maaf lahir dan batin. Salah satu di antara kami enggak ada yang berinisiatif untuk mengajak balikan. Selama berpacaran kami bahkan belum berjumpa sama sekali, mungkin sampai hari ini. 


Oktober 2018 

Seorang perempuan berkacamata dan berjilbab kelabu menoleh dan memandangi wajah saya selama tujuh detik, kemudian segera memalingkan muka sambil berjalan menjauh begitu saya perhatikan balik. Saya terus melihat punggungnya sampai wujudnya tampak kecil dan tak terlihat lagi. 

“Kamu lagi ngelihatin siapa, Yog?” tanya Hawadis, teman bloger yang sedang keluyuran bareng saya untuk bertemu dengan Juwita—bloger asal Solo yang sedang berkunjung ke Jakarta. 

Kami bertiga sedang menunggu salah seorang pengendara ojek daring yang siap mengambil pesanan Juwita di depan Stasiun Jakarta Kota. Kami bertiga sama-sama heran, dari puluhan pengemudi ojek yang terlihat di sekitar kami, mengapa tak ada satu pun yang berminat menerima order Juwita? Apalagi kami telah menunggu lebih dari setengah jam. Apakah tujuan Juwita itu termasuk jauh dan rawan macet pada jam pulang kerja begini sehingga mereka malas, atau banyak juga orang yang memakai layanan ojek daring di stasiun? 

Dua jam sebelumnya, kami baru saja main ke acara bazar buku di kawasan Kota Tua, percisnya di Gedung Tjipta Niaga. Sebetulnya tak ada alasan khusus kami main ke tempat itu. Berhubung kami sama-sama bingung mau kopi darat di mana dan kebetulan ada bazar buku, Juwita bilang tak ada salahnya ketemu sembari berburu buku diskonan. Sebagai pencinta buku murah, saya kira usul Juwita bukanlah ide buruk. Toh, Hawadis juga bilang oke. 

“Yog? Itu siapa dah? Ngelihatin cewek kok sampai segitunya?” tanya Hawadis lagi, yang kini membuyarkan pikiran saya.

“Sori, Haw. Habisnya cewek tadi kayak mantan gue.” 

“Ya Allah, kayaknya hampir di setiap tempat yang pas kita datengin bareng, kamu selalu kayak ngelihat mantanmu. Ini udah yang ketiga kalinya, lho. Waktu itu di Senayan, terus TIM (Taman Ismail Marzuki), sekarang Kota Tua. Kamu masih terbayang-bayang mereka apa?” 

Saya refleks menyengir. 

Dua kejadian sebelumnya memang cuma sekilas mirip wajahnya. Mengingat waktu itu saya baru putus dalam rentang tiga bulan, mungkin betul waktu itu saya masih terbayang oleh mantan yang terakhir, lalu satunya lagi karena saya enggak akan pernah bisa lupa wajah seseorang yang telah mengkhianati saya tanpa rasa berdosa. Tapi yang satu ini, saya berasumsi kuat itu betulan mantan. Bukan lagi cuma mirip sekilas.

“Emang yang tadi itu mirip siapa, sih? Juleha lagi?” Haw menyebut nama mantan terakhir saya karena penampilan dia juga berjilbab dan berkacamata. 

“Bukan kok, ada lagi mantan yang lain.” 

“Mantan pacarmu ada berapa, sih?” 

“Sedikit. Enggak sampai sepuluh, tapi lebih dari lima.” 

“Lebih dari lima itu termasuk banyak, ya!” 

Saya tertawa. Saya tak peduli angka itu termasuk banyak atau sedikit. Saya menjawab di dalam hati begini: Masalahnya, yang barusan saya lihat itu pacar pertama. Tak jadi soal ada berapa banyak mantan saya sekarang. Tanpa ada dia yang pertama, pacar kedua, ketiga, dan seterusnya tak akan pernah ada, sebab saya masihlah seorang pengecut yang sering menghindar untuk mengutarakan isi hati. 

Namun, kenapa mantan pertama saya memakai kacamata dan berjilbab? Setahu saya, dulu penampilannya tak seperti itu. Saya masih ingat dengan jelas foto profilnya yang berambut sebahu dengan memperlihatkan senyumnya secara malu-malu. Saya bahkan masih ingat dengan jelas tembok yang menjadi latar fotonya bercat merah saga. Selagi saya berusaha menelusuri jejak-jejak ingatan itu, anjinglah, saya baru sadar waktu telah bergulir selama sembilan tahun sejak kami putus. Perbedaan penampilan seperti itu tentu bukan hal yang pantas dipertanyakan. Yang perlu dipertanyakan adalah kemungkinan lainnya, yakni saya salah orang. Berdasarkan riset yang pernah saya baca dalam suatu artikel, setiap manusia memiliki tujuh kembaran. Jadi, ada kemungkinan itu bukanlah mantan saya. Anggaplah saya juga salah lihat seperti dugaan Hawadis lantaran terbayang-bayang masa lalu. Kalau saya enggak menyapa dan memastikannya langsung, bisa jadi memang salah orang. 

Dua puluh menit sebelum azan Magrib, Juwita akhirnya berhasil mendapatkan tukang ojek daring yang telah dia tunggu-tunggu sampai wajahnya tampak kusam karena terpapar debu jalanan. Saya lalu berjalan ke parkiran motor buat mengantar Hawadis ke indekosnya sekalian pulang ke rumah. 

Sesampainya di rumah, saya penasaran dengan apa yang sempat saya lihat di dekat Stasiun Jakarta Kota. Benarkah Amalia kini berjilbab dan berkacamata? Saya membuka Twitter dan mengetik namanya di pencarian. Tidak ketemu. Saya mencoba menggantinya dengan nama user dan ternyata saya diblokir. Loh, salah saya apa? Sepertinya kami enggak pernah ribut-ribut lagi semenjak putus. Akhirnya, saya menduga kalau ini ulah mantan saya yang lain, yang pada kemudian hari menyelingkuhi saya, sebab dia sempat meminta saya buat bertukar kata sandi akun-akun media sosial. Saya kira dia telah mengirimi mantan saya pesan yang bukan-bukan. Mungkin juga Jessica menghilang dari Facebook ketika saya cari kemarinan itu lantaran tindakan si iblis berlidah licin ini, yang mengatasnamakan kecemburuan buat bersikap semena-mena kepada dua pacar saya sebelum dia.

Masa bodohlah soal kelakuan mantan yang satu itu, yang terpenting saya masih bisa melihat foto Lia, dan dia betulan memakai jilbab serta berkacamata. Berarti yang tadi memperhatikan saya betulan dia? Apakah dia diam-diam pernah mencari tahu tentang diri saya? Saya lantas berganti ke akun Twitter satu lagi (bekas akun parodi) untuk melihat foto Lia lainnya demi hasil yang lebih akurat. Apesnya, akun dia diproteksi. Akun Instagram pun demikian. Maka, jalan satu-satunya adalah Facebook. Saya berharap Lia tidak memblokir saya di sana. 

Jawaban saya benar. Yang saya lihat tadi benar-benar Lia jika penampilannya berubah seperti saat ini. Tapi mengingat zaman sekarang sudah banyak perempuan berjilbab dan berkacamata yang sekilas tampak seragam, probabilitas saya salah melihat tentu saja masih ada. Masalahnya, saya yakin tidak salah orang. Saya pun spontan ingin mengiriminya pesan buat memastikan kebenarannya. Saya berusaha memilih kalimat sebaik-baiknya. Dimulai dengan basa-basi menanyakan kabar, mendoakannya semoga dalam keadaan baik, dan seterusnya, dan seterusnya, hingga ke permasalahan utamanya, yaitu mempertanyakan tentang pertemuan tidak sengaja tadi. Sesaat sebelum menekan tombol kirim, saya langsung menutup peramban tersebut.

Seandainya perempuan tadi betulan Lia, ya terus kenapa dan buat apa? Saya pikir, adakalanya saya cukup membiarkan apa yang telah berlalu tanpa perlu mengusiknya lagi. Keadaan dia di foto-foto yang saya lihat sudah terlihat baik, sangat baik. Saya tak mau kehadiran seseorang dari masa yang sangat lampau, apalagi tiba-tiba mengirimkan pesan semacam itu, bakalan merusak hari-hari dia ke depannya. Toh, nasihat ini juga berlaku buat diri sendiri. Semakin saya mencari tahu hal-hal yang sudah terlewat, khususnya tentang orang yang pernah bersama pada masa lalu, bisa-bisa akan menimbulkan sakit. Jadi, lebih baik saya hentikan sekarang juga. Sudah cukuplah saya mabuk kenangan. 

Jika masih belum puas, saya cukup menuliskan semua memori-memori kilas balik ini seakan-akan sedang mencoba membuang kesedihan di dalam diri supaya batin terasa lebih plong. Agar saya berhenti menoleh ke belakang yang sekilas tampak begitu menggembirakan, tapi sebetulnya bikin saya terjebak dan payah dalam menikmati kehidupan hari ini. Maka, dengan berakhirnya tiga cerita amburadul ini, saya harap diri saya dapat berjalan ke depan dengan langkah yang lebih ringan. Seringan kelakuan penulis medioker yang gemar menelantarkan draf-draf tulisannya di folder laptop.

--

Sumber gambar HP: https://www.gsmarena.com/sony_ericsson_s302-pictures-2429.php
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

15 comments

  1. Buseddd penasaran gw, lanjut yog cerita si lia yang sekarang dah jilbaban n pake kaca mata, serasa kek nonton ftv gw bacanya, pasti awkward moment banget tuh di deket bazar buku yang jalan ma haw n blogger solo, antara pingin memastikan akhirnya buka2 akun medsosnya hehehe

    Oh ya, ijinkan gw ngakak bentar ya pas loe diiming2i duit 1000 ma si feri buat cium si lita
    Emang kelakuak bocah jaman es de pas masa itu sering banget cie ciyean deh

    Trus pas ditembak nurlaela masa loe ngomongnya lempeng amat yog, kesian juga si nurlaela, uda digantung apa gimana tuh ahahha, tapi nekad juga sih nembaknya

    Oya gw baru tau tuh loe lulusan smp favorit, emmang si biasanya cewe cewe apa coco cowok yang cakep cakep klo di sekolah bikin semangat yekan, serasa oase di tengah suntuknya pelajaran, trus naksir naksiran walau ga sampe tahap pacaran

    Tapi klo yang pacaran kenal dari facebook tuh yang lia n jessica ditembak dulu baru ketemuan, apa ketemuan beberapa hari langsung pacaran.
    Kalo gw sama pak suami sih dulu kenal di fb, ketemu 2 kali langsung ditembak jg gw nya ahah, trus abis itu langsung nikah.

    Etapi gw takjub jg temen2 angkatan sd smp smk loe namanya uda keren2 ya, ada maura, ada jessica, ada thalita, cakep2 bener namanya,

    kalau angkatan gw masi era2 nama nama jadul deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya heran kenapa bocah kelas 3 SD masih sepolos anak TK. Mungkin emang dulu saya benar-benar lugu. Disangka cium pipi sama aja seperti cium tangan ke guru.

      Asli, saya juga bingung dia seagresif itu tiba-tiba narik ke kantin. Saya emang belum paham dunia percintaan saat SD, Mbak.

      Karena pas SD termasuk pintar, makanya bisa masuk SMP favorit. Tapi di SMP, lingkupnya mendadak terasa luas sekali. Paling cerdas pas SD bisa berubah jadi medioker.

      Mungkin karena kami kelahiran 90 ke atas, jadi nama anak juga mulai mengikuti eranya. Lagian, itu nama-nama adik kelas yang beda 1-3 angkatan. Coba lihat anak kelahiran tahun 2000, semakin ada-ada aja namanya, bahkan panjang banget dan sulit dihafal.

      Delete
  2. haha ini menceritakan masa masa cinta monyet juga ya dengan mengenang masa lalu? ajib banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ajib apanya? Sedih yang ada mengetahui hidup belum berubah signifikan dalam sepuluh tahun terakhir.

      Delete
  3. Giiiils, aku pas SD mah blm kepikiran pacaran yaaak :p. Boro2 itu mah. Naksir2an pas SMP. Tp mulai pacaran 3 SMP akhir. Kalo pacar yg cm 2-7 hari, itu g aku masukin mantan Yog :p. Yg LBH dari sebulan aja hahahaha. Krn bbrp ada yg aku pacarin hitungan hari, cm Krn pelarian baru putus dari pacar sebelumnya :p. Jahat sih dulu aku. Mainin cowo begitu.

    Soalnya dengan pacar pertama aku diselingkuhi. Trus sejak itu, prinsipku, harus aku yg mutusin sebelum mereka. -_- . Tp itu dululah. Udh nikah gini ga kepikiran selingkuh2. Udah puas zaman sekolah dan kuliah :p.

    Kamu minder banget nih, ngerasa cewe ga bakal suka Krn bukan anak orang kaya, melainkan LBH Krn pinter. Aku sih dulu justru ga mau pilih pacar kaya :p. Suka seenaknya. Jd LBH milih yg pinter :D. Jgn samain Ama cewe matre hahahahah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mestinya sih pacaran hitungan hari itu terasa aneh, tapi dulu kok bisa-bisanya menjalani hal itu. Wah, enggak nyangka Mbak Fanny sempat sedendam itu sama pacar pertama dengan berprinsip harus meninggalkan cowoknya duluan ke pacar-pacar berikutnya.

      Padahal dulu juga enggak pintar-pintar amat sih, Mbak. Sok banget itu si Yoga zaman remaja.

      Delete
  4. Perasaan gue campur-campur bacanya. Awal-awal ngantuk, tengah ketawa-ketawa, menjelang akhir jadi sedih ampe mau nangis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue akui pembukanya terlalu basa-basi dan pembahasannya juga basi banget emang, Man. Hahaha. Makanya gue sengaja enggak promosi tulisan ini ke media sosial. Enggak berharap banyak yang baca juga. Asli, merasa malu mengisahkan masa silam begini. Berhubung udah telanjur ditulis dari jauh-jauh hari dan cuma kepengin lega, ya udah terbitkan di blog.

      Delete
  5. Nanti kalo kita ada perlu mendatangi tempat event lagi, kayaknya lu bakal seolah atau beneran ngeliat mantan lu lagi, dah, tenang aja...

    Sepengalaman teman2 saya, Yog, dan sepengalaman saya juga, sih, saat lagi kepikiran terus2an ama org masa lalu itu ya carai tahu saja. batasin di medsos. stalk kalo bisa. tanpa menghubunginya atau membuat dia tau. biasanya, pas udh tau kalo keadaan dia baik dna udh dimiliki org lain, kita bakal ikhlas sendiri walo awalnya berasa nggak terima atau sedih, misal.

    tapi tentu saja, di dunia ini ada efek anomali, bisa saja yg terjadi justru sebaliknya. tergantung pribadi masing2, ya, walo sebagian besar yg ceritanya pernah saya dengar banyak yg lebih baik dengan patah hati saat tahu itu. Kalo lu lebih nyaman dna aman dengan menyetop dan membuang jauh rasa haus kenangannya ya itu juga tidak apa-apa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan sampai seolah melihat mereka lagi. Kalaupun iya, semoga enggak usah bilang-bilang. Wahaha.

      Dia di dalam cerita ini enggak bersama orang lain, sih. Foto yang saya maksud tuh sebenarnya dia lagi foto wisuda bareng keluarganya. Saat melihat senyumnya yang udah bahagia tuh bikin malas mengusiknya. Jadi, ya mending dia enggak perlu tahu kalau saya mencari tahunya, bahkan bikin tulisan tentangnya.

      Delete
  6. Mantannya banyak juga mas.
    Mana tiap tempat kayaknya ketemu terus lagi. 🤭

    ReplyDelete
  7. Ini tuh perempuan yang aku tau juga bukan ya? Wkwk. Aku tadi mengingat2 mantan yang pacarannya cuma beberapa hari hmmm tidak ada. Jadi aku gak bisa mengerti pacaran beberapa hari itu apa-apan. Cuma bilang "kita pacaran" doang kali ya. Udah deh, wkwk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan. Saya belum pernah menceritakan pacar pertama ke siapa-siapa ataupun ke media secara lengkap. Baru ini aja.

      Mestinya sih hitungan hari tuh enggak dianggap. Syukurlah kalau Teh Fasya belum pernah. Ini aja lucu kalau diingat-ingat.

      Saya enggak tahu juga, sih. Dulu aja cuma bisa SMS-an tanpa ada temu. Yang saya enggak habis pikir ya pacaran 1-2 hari itu. Udah kayak hubungan cinta satu malam aja kan. Pacaran demi bisa nganu.

      Delete
  8. Meskipun enggak detai betul, tapi cerita ini cukup buat gue tau kisah cinta anda, Pak Yoga. Ternyata bener, ingatan lo emang lebih baik dari gue, ya. Hahaha

    Soal pacar pertama, gue pun mana bisa lupa, orangnya masih satu kampung. :D

    Dan soal pacar-pacaran di pesbuk, asli pada jamannya itu jadi salah satu hal yang paking dibanggakan.

    Gue malah penasaran sama kisah cintanya Haw, kan katanya lima itu udah keitung banyak..

    Ya meski kita tau kisah cinta Haw sperti apa karna pernah cerita di KFC~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Satu kampung, satu RT juga, kah? Apa jangan-jangan juga sebelahan? Haha.

      Kolom status terisi "berpacaran dengan ...." rasanya udah kayak menang lotre.

      Apalagi buat temen gue yang belum pernah sekali pun pacaran, pasti dua aja terhitung banyak.

      Delete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.