Sebuah Kisah Banjir, Keluhan, dan Abreaksi yang Harus Muncul

15 comments
Banjir di area rumah saya, Palmerah, saat Sabtu beberapa minggu silam (18/1) lebih cepat surut ketimbang pada hari pertama 2020. Selepas bersih-bersih pada awal tahun, saya sempat membaca informasi dari BMKG bahwa pada pertengahan Januari hingga Maret masih akan terjadi puncak hujan. Dalam waktu dekat, sekitar tanggal 12-15, mereka memprediksi hujan yang lebih lebat daripada tanggal satu. Ketika itu saya tentu hanya bisa berdoa agar prakiraan cuaca tersebut keliru dan jangan sampai ada banjir separah hari itu lagi.



Saya berpikir tentang doa saya yang mungkin terkabul karena hingga tanggal 16 belum ada tanda-tanda kalau langit bakal menangis meraung-raung. Dugaan saya nyatanya meleset dua hari kemudian. Langit akhirnya mengucurkan air matanya pada waktu Subuh. Seketika itu, saya pun masih berpikir palingan cuma hujan biasa yang tidak akan menimbulkan banjir. Namun, siapalah saya yang tidak mampu membaca bahasa alam ini bisa-bisanya langsung menyimpulkan demikian?

Satu jam berselang, pertanyaan itu langsung terjawab dengan semakin derasnya hujan dan air pun masuk ke dalam rumah. Ketakutan mulai menjalari tubuh saya. Meskipun waktunya sedikit mundur, prediksi BMKG sepertinya benar adanya mengenai hujan yang lebih ganas dan mungkin ketinggian airnya meningkat. Terbukti air butek hari ini lebih lekas masuk ke rumah daripada kejadian pada 1 Januari.

Sembari memindahkan barang-barang di ruangan depan ke tempat yang lebih tinggi, saya bertanya dalam hati: Bagaimana jika kamar saya yang lebih tinggi sebelas cm dari ruangan depan ini juga terkena dampak lagi sebagaimana waktu itu? Saya otomatis terkenang kembali dengan banjir awal tahun—yang bagi sebagian orang dianggap sebagai pertanda buruk.


Rabu, 1 Januari 2020

Saya baru beranjak tidur sekitar Subuh karena habis begadang menonton anime Kimetsu no Yaiba. Belum ada sepuluh menit memejamkan mata, saya mendengar teriakan banjir berulang-ulang kali dari luar rumah. Dalam keadaan setengah sadar, saya mengira itu hanya fase awal menuju alam mimpi yang mungkin berkisah tentang banjir. Saya langsung terjaga begitu ada seseorang yang menabok paha saya. Saya mendapati wajah gusar ibu saya. Beliau meminta tolong dengan nada mengomel buat memindahkan segala perabotan di ruangan depan.

Ketinggian air di ruangan depan ternyata sudah mencapai mata kaki saya. Sebagian benda-benda, khususnya alas tidur semacam karpet dan bantal yang biasa digunakan ayah saya ketika ketiduran di ruangan depan, sudah lepek. Saya mengangkutnya ke kamar mandi, lalu menaruhnya di ember yang berisi baju-baju kotor.

“Salat dulu, jangan tidur lagi,” ujar Ibu sewaktu saya balik ke kamar.

Saya menjawab sudah dan gantian bertanya “apanya yang tidur lagi?” sekalian menjelaskan bahwa tidur tak sampai 10 menit itu belum terhitung nyenyak.


Bunyi teriakan kombinasi antara menyuruh bangun dan informasi kamar saya kebanjiran terdengar begitu nyaring. Dengan kondisi kepala teramat pusing, saya membuka mata dan terkejut menyaksikan kamar saya sudah dimasuki air berwarna kecokelatan. Kesadaran saya langsung pulih sepenuhnya ketika mengetahui bagian bawah kasur saya telah basah.

“Lagian, tadi kan udah dibilang supaya jangan tidur lagi, kok malah ngeyel,” kata Ibu seraya membantu saya menggotong kasur dan menaruhnya di atas kursi-kursi plastik yang berjejer.

Seumur-umur saya hidup, apalagi sehabis rumah direnovasi (ruangan lain dibikin lebih tinggi dari ruangan depan), baru kali ini kamar saya kebanjiran. Alasan saya tadi langsung tidur lagi tanpa memindahkan barang-barang, sebab sebelum-sebelumnya memang selalu aman dari banjir.

Kesombongan saya itu pun akhirnya terendam oleh kuasa Tuhan. Mungkin kejadian ini memang perlu terjadi agar saya ke depannya tidak lagi meremehkan kondisi alam yang mustahil bisa ditebak. Lagi pula, ketinggian kamar saya juga belum tinggi-tinggi amat. Kenapa saya bisa seoptimis itu buat menyimpulkan kamar saya bakalan aman dari banjir? Toh, Titanic—kapal yang dirancang dengan hebat dan kata penciptanya tak mungkin bisa tenggelam—buktinya tetap terkena malapetaka. Bagaimana dengan rumah saya yang ala kadarnya ini?



Kondisi hujan masih keterlaluan deras. Belum ada tanda-tanda sedikit pun bakal reda. Lima belas menit kemudian, banjir di kamar saya telah mencapai mata kaki. Gawat, ini sungguh di luar dugaan saya. Saya refleks berlari ke ruangan depan. Saya pun menelan ludah melihat tinggi airnya yang nyaris mencapai betis. Kalau daerah rumah saya yang dalam 4-5 tahun terakhir terbilang aman dari banjir dan tiba-tiba bisa separah ini, lantas bagaimana dengan kondisi daerah lain yang lebih rendah? Mungkinkah sedengkul?



Dari beberapa informasi yang saya baca via Twitter, banjir di sebagian wilayah bahkan sudah mencapai 80-100 cm. Gila, itu tingginya kira-kira sepinggang saya. Jika hujan tidak kunjung berhenti, bisa-bisa tempat saya banjirnya juga akan setinggi itu. Astagfirullah. Saya enggak bermaksud berpikiran buruk, tapi hujan pagi itu betul-betul terasa mengerikan.

Jadilah saya mulai memindahkan tas berisi dokumen-dokumen penting, laptop beserta perangkat elektronik lainnya, alat tulis, serta obat-obatan yang tadinya berada di meja dan bagian lemari paling bawah, ke bagian lemari paling atas ataupun menumpuknya bersama pakaian-pakaian bersih.

Apa yang saya takutkan mulai menjadi kenyataan. Setengah jam berselang, banjir di kamar saya sudah mencapai setengah betis, sedangkan di ruangan depan sedengkul. Bagian dapur, kamar mandi, dan kamar orang tua saya (ruangan yang paling tinggi di rumah) pun akhirnya mulai ikut kemasukan air. Saya bersyukur saat tiga menit sebelumnya menyempatkan diri buat memindahkan buku-buku di rak nomor dua dari bawah ke dalam tas, terus menyimpannya ke dalam lemari. Kalau terlambat sedikit saja, pasti buku-buku itu bakal terendam dan basah kuyup.


Saya tak mau kejadian awal tahun itu terulang kembali. Sekelarnya memindahkan pelbagai benda di ruangan depan, saya langsung kembali ke kamar buat memindahkan kasur, laptop, buku-buku, dan barang penting lainnya ke tempat yang terasa aman dari banjir. Tidak lupa juga saya mengungsikan motor ke rumah tetangga yang rumahnya lebih tinggi dan halamannya cukup luas buat menampung enam motor.

Saya sungguh tak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Pada banjir yang pertama dan tak terduga itu, kami sekeluarga sempat luput buat memindahkan motor yang terparkir di depan rumah. Kami terlalu sibuk dengan perabotan di dalam rumah. Kami baru mengingatnya sewaktu motor kami dua-duanya telah terendam sampai bagian tempat duduknya. Mesin dan knalpot yang terendam air dalam jangka waktu lama itu lantas membuat motor tersebut enggak mau hidup saat dinyalakan, sekalipun ayah saya sudah membuang air yang berada di knalpot. Mau tak mau, kami perlu mengeluarkan biaya yang lumayan buat servis ke bengkel.

Selain motor, yang ikut terendam air bah ialah kulkas di teras rumah yang kami gunakan buat menjual aneka minuman (air mineral, teh, susu, minuman bersoda, minuman rasa jeruk). Saat ada tetangga depan rumah yang memanggil tukang servis pada keesokan harinya, ibu saya berniat ikut memeriksakan kulkas yang sempat terendam itu.

“Berhubung kulkas punya Ibu belum sama sekali dihidupkan sehabis terendam banjir,” ujar si tukang servis. “Ini nanti cukup tunggu aja sampai mesinnya benar-benar kering, kira-kira selama sepuluh hari, baru boleh dinyalakan lagi.”

Barangkali kami termasuk beruntung karena tak perlu menyervisnya. Jika ada yang pantas disebut kerugian, mungkin ruginya hanya tak ada pemasukan dari penjualan minuman selama dua minggu.


Bicara soal pemasukan, pada Sabtu saat kebanjiran itu keluarga kami juga sudah telanjur membuka warung demi mencari uang. Nasi uduk, bihun, tahu maupun telur semur, serta sambal kacang telah tersaji di etalase dagangan. Serampungnya urusan memindahkan perabotan, saya juga mesti kembali ke dapur untuk menggoreng donat, tempe, serta bakwan supaya melengkapi menu jualan.

Hiburan saya satu-satunya sembari menunggu gorengan itu matang, yaitu memainkan ponsel buat mengisahkan tragedi banjir hari ini ke Twitter. Maka, saya pun melanjutkan cerita itu dengan twit banjir sebelumnya. Ingatan tentang banjir pertama kali itu langsung memenuhi kepala saya hingga bikin saya bertanya-tanya, mengapa pengalaman pertama sering membuat saya tampak norak?


Pertama kalinya merasakan banjir parah membuat saya menulis catatan begini: Karena jengkel bukan main sama banjir sialan ini, mendadak muncul hasrat di dalam diri buat jadi orang tajir biar bisa pindah ke apartemen atau merenovasi rumah jadi bertingkat dua. Saya enggak perlu menderita kayak sekarang. Mau rebahan aja tempatnya tidak memungkinkan. Saya cuma bisa duduk di meja kerja semacam bufet—tempat menaruh laptop—sembari memandangi kasur yang basah di pojokan kamar, lalu sesekali becermin di air butek dan terus-menerus merenungi kondisi berengsek ini.

Walaupun saya tidak merasa miskin, tapi entah kenapa hari itu saya ingin sekali menangisi kehidupan memble yang termasuk golongan kelas bawah ini. Sialnya, air mata justru tak kunjung mengucur sekeras apa pun saya berusaha mengeluarkannya. Mungkin rasa capek di tubuh saya sudah melebihi kesedihan dalam diri. Atau bisa juga kesedihan saya telah berevolusi menjadi kemarahan.

Rasa murka berlebihan biasanya datang saat saya lagi kelaparan ataupun belum tidur. Bisa kau bayangkan jika kedua hal itu dipadukan? Betul, saya ingin mengucapkan sumpah serapah kepada siapa pun yang terlihat menjengkelkan. Orang yang menjadi samsak kemarahan saya ialah seorang komika yang mengaku berpikiran terbuka, menjunjung nilai kemanusiaan di atas agama, dan gemar melontarkan lelucon-lelucon gelap. Tapi, apakah saking gelapnya dalam berkomedi membuat mata dan hati Coki Pardede ikutan buta? Saya heran, mengapa dia bisa-bisanya meledek para korban banjir dengan mengaitkannya pada musibah akibat bermaksiat pada malam tahun baru? Pertanyaan itu saya jawab dengan makian “tai anjing” ke akunnya.

Kegusaran saya kayaknya sudah tak bisa tertolong lagi, sebab saat itu juga saya sangat ingin menjotos orang-orang tak berempati seperti Coki hingga tangan saya berdarah. Pikiran jahat barusan mungkin tak perlu muncul kalau saja saya bisa menahan diri agar tidak membuka Twitter. Tapi karena sudah kadung terpicu, mungkin kali ini saya cuma perlu mengikuti nasihat Hawadis untuk memblokir para bajingan tolol dan tak berempati di Twitter demi kondisi hati yang lebih tenteram.

Masalahnya, bagaimana mungkin bisa tenteram kalau ketika saya betul-betul butuh tidur atau minimal merebahkan tubuh, sedangkan keadaan memaksa saya harus tetap terjaga? Saya hanya bisa menyender ke tembok dan memejamkan mata sambil berdoa supaya hujan lekas reda serta banjir segera surut.

Mungkin kamu akan berpikir, memangnya separah apa sih keadaan saya? Apakah tak ada kasur lain buat ditiduri? Keadaan saya sebetulnya biasa saja kalau dibandingkan dengan orang lain. Namun, mengingat membandingkan kesulitan orang lain itu tidak pantas, atau setiap orang punya penderitaannya masing-masing, jadi biarkanlah saya meratapi penderitaan saya sendiri. Saya cuma ingin tidur, tetapi kasur saya basah. Kasur milik adik saya dan orang tua juga sudah penuh dengan berbagai perabotan. Boro-boro bisa dijadikan tempat tidur, buat duduk saja rasanya susah.


Singkat cerita, air baru benar-benar surut pada pukul satu siang. Saya tak punya pilihan lain selain ikut membantu membersihkan sisa-sisa genangan dan sampah yang masuk ke rumah. Jika kondisi tubuh dalam keadaan prima, mungkin saya tak perlu mengeluh saban kali bangkit dari jongkok. Maka, setiap kali punggung terasa hendak patah saat mengepel, saya cuma bisa mengumpat anjing dalam hati. Yang sedetik kemudian langsung berkata, “Sabar, Yog, tinggal sedikit lagi demi bisa mengistirahatkan tubuh.”

Sesudah urusan bersih-bersih itu kelar, saya akhirnya bisa menumpang tidur di kasur adik saya, lalu terbangun hingga pukul lima sore. Mengingat tadi sebelum tidur saya hanya sempat membilas kaki dan tangan dengan sabun, saya ingin segera mengguyur sekujur badan. Terasa ada yang kurang kalau belum mandi.

Begitu saya masuk ke kamar mandi dan memutar keran, tak ada setetes air pun yang keluar. Ternyata air masih tetap mati. Mungkin sampai besok. Saya akhirnya langsung keluar lagi, kemudian memilih meminta air wudu kepada tetangga yang rumahnya menggunakan Jet Pam. Setelah Magrib, saya ketiduran lagi.

Malamnya, sekitar pukul sepuluh, saya terbangun dan kembali membuka Twitter buat menengok keadaan di luar sana. Masih adakah wilayah yang kebanjiran? Selama menggulir ponsel dalam rentang setengah jam, saya tak kuat menyaksikan penderitaan orang lain. Dari sekian banyak korban banjir, dua hal yang muncul di lini masa dan paling saya ingat: 1) Seorang wanita lumpuh berusia 50-an yang terjebak di sebuah rumah dan belum menerima pertolongan sejak pagi karena layanan bantuan tidak merespons sama sekali; 2) Ibu-ibu hamil yang juga mengalami kejadian serupa, bahkan belum menyantap apa pun sejak subuh.

Saat membayangkan rasa lapar ibu hamil itu, saya baru ingat kalau sejak pagi baru memakan sepotong roti dan meminum sekotak susu. Saya lantas menyuruh adik saya buat beli makanan di luar. Hampir dua jam dia tidak pulang-pulang. Mana hujan mulai turun lagi. Saya hanya bisa berdoa semoga tidak sampai banjir.

Begitu kembali, adik saya langsung mencerocos nama-nama hewan sekaligus mengeluh akan kondisi di dekat rumah tak ada penjual makanan sama sekali. Dia harus mencari ke area yang lebih jauh demi menemukan satu-satunya pedagang nasi goreng. Namun saking ramainya pembeli dan dia mendapat antrean paling akhir, piihan yang tersisa cuma mi gorengnya. Saya pun segera menyantap mi goreng yang begitu dikunyah rasanya aneh betul di lidah. Masa bodohlah, yang penting bisa mengganjal perut.

Setelah kenyang, pikiran tentang “jika saja saya lebih kaya, andaikan rumah saya bertingkat, seandainya saya tinggal di apartemen, dan seterusnya, dan sebagainya” itu mulai memudar ketika saya semakin sadar bahwa di perumahan wilayah Jakarta Timur dan Bekasi, terdapat beberapa rumah yang konon saat pagi tadi lantai duanya juga kemasukan air. Lantai satu mereka sudah benar-benar terendam. Saya juga tak menyangka, sudah semalam ini masih ada daerah yang banjirnya belum surut, sampai-sampai mereka perlu mengungsi di posko penampungan terdekat.

Jadi, mau setinggi apa pun bangunan, sepertinya manusia tak akan pernah bisa melawan keganasan alam. Tetap ada kemungkinan bakal terendam kalau Tuhan sudah berkehendak. Merujuk kisah banjir bandang pada zaman Nabi Nuh, saya spontan ingin tertawa atas banjir yang saya alami sekarang ini sungguh tak ada apa-apanya. Meski begitu, bukankah tak ada larangan buat mengeluh?

Buktinya, beberapa kawan saya yang terdampak bencana ini pun dengan entengnya menyalahkan pemerintah, khususnya gubernur masa sekarang, yang tidak becus menanggulangi banjir. Berbeda sekali dengan era sebelumnya. Mereka berujar baru tahun ini ada banjir yang separah itu lagi. Terakhir kali merasakannya sudah sekitar 4-5 tahun silam. Mereka pun menyimpulkan bahwa program kerja gubernur baru teramat payah. Hinaan mereka bahkan semakin menjadi-jadi ketika mengetahui sikap gubernur itu yang bukannya mengevaluasi kesalahan, melainkan malah menyalahkan banjir kiriman dari Bogor.

Entah sudah lelah dengan sedih-sedihan atau merasa mendapatkan hiburan gratis, saya akhirnya bisa menutup hari itu dengan tertawa. Pertanyaannya, apa yang sebetulnya saya tertawakan?


Mengenang kembali kejadian banjir pada awal tahun, rupanya dapat membuat diri saya lebih rileks untuk menyikapi banjir berikutnya, tepatnya yang terjadi pagi ini. Ketakutan saya atas dagangan bakal kurang laku maupun ketinggian air yang lebih gila, justru terpatahkan dengan larisnya dagangan ibu saya berbarengan dengan surutnya air. Pukul tujuh, makanan-makanan di etalase sudah lenyap diborong para pembeli, padahal jika hari biasa masih membutuhkan sekitar 2-3 jam lagi baru benar-benar habis. Mungkin orang-orang lagi malas memasak atau bingung mesti mencari sarapan ke mana saat hujan dan banjir begini. Jadi, pilihan paling dekat: warung ibu saya. Alhamdulillah, berarti banjir kali ini bisa membawa berkah buat keluarga saya.

Meskipun sama-sama belum tidur seperti banjir pada tahun baru, tapi proses bersih-bersih rumah selepas surut kali ini terasa lebih ringan. Tidak ada lagi problem kasur basah ataupun motor terendam yang harus dibawa ke bengkel. Saya juga lebih bisa menahan diri, agar tak mudah terpancing dengan lelucon yang meledek korban banjir. Intinya, penderitaan pada banjir pertama telah menguatkan saya, sehingga masalah-masalah banjir hari ini dapat dipikul dengan enteng.

Mungkin yang berat hanyalah bagaimana saya mengisahkan cerita banjir ini dengan menarik. Lagi pula, apakah kisah korban banjir tak penting semacam ini layak ditulis? Siapakah yang sudi membaca keluhan seorang penggerutu? Apa pun itu, ketika tulisan ini telah kamu baca, berarti saya sudah berdamai dengan kejadian banjir yang pernah menimpa saya. Kecemasan mengenai bagus atau jeleknya tulisan pun sudah saya buang bersamaan dengan tewasnya alter ego yang memilih bunuh diri sewaktu dia terjebak dalam manik depresi. Semoga pada 2020 ini saya juga betul-betul berdamai dengan trauma-trauma masa lalu, dan mungkin bisa melahirkan sosok yang jauh lebih ceria dan tahan banting.


Januari 2020
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

15 comments

  1. Dari tulisannya saya juga ikut merasakan bagaimana frustsinya kalau banjir melanda, jujur saya yang belum pernah terkena banjir gak tau kalau ternyata semerepotkan itu, speechless dah. Pasti desperate banget antara mau tidur tapi gak bisa, kesel, cemas, semuanya bercampur jadi satu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan sampai kena deh, Kak. Betulan repot proses memindahkan barang dan bersih-bersihnya.

      Tapi soal tidur itu kesalahan saya sendiri habis begadang, sih.

      Delete
  2. Gw suka endingnya yog, meski banjir dateng seenak jidat kayak jelangkung, tapi hikmahnya dagangan ibuk jd laris ya, sumpah gw pas baca bagian ini mendadak pingin ngemil nasi uduk, bihun, plus bakwan ato gorengan lainnya hiks #laper

    Oiya jujur gw suka gaya penulisanmu yang cem gini sih, maksudnya ga melulu masalah bab kepenulisan tp cerita-cerita lain, walaupun cerita tentang kemalangan kyk tulisan you yang dulu-dulu--kan sering tuh dulu you nulis kemalangan tp ada bumbu lelucon satirnya juga di beberapa bagian, dan mungkin byk umpatan di sana sini tp gw jadi nemu diksi baru yg kerasa pas aja dibacanya karena sesuai dg kondisi di lapangan yg menurut gw it's oke kok, misalnya merenungi kondisi yang brengsek ini, kehidupan yang memble ini, dsb, bagi gw itu diksinya bagus (nambah perbendaharaan kata lg kan gw hehe)

    Gw ngikutin bgt ni di twitter u karena ngliat widget twitter di pojok kanan bagian bawah dari blog ini pas hari h banjir awal tgl 1 kemaren... gw pikir buku2 koleksi you ikutan basah, ternyata slamet ya alhamdulilah....

    terus gw merinding pas ngeliat retweetan tentang kondisi ibu2 tua struck masih terjebak di dalam belum dievakuasi dan ibu hamil belum makan #sedih...pernah ngerasain jg soalnya pas hamil blom makan itu rasanya nelangsanya 2 kali lipet, untung di sini sosial media bisa turut membantu ya untuk menginfokan, seenggaknya supaya orang tau dan ada yang menolong

    Trus baca pas bagian adikmu cari makan dapatnya mie yg ala kadar, di sini gw jd turut membayangkan gimana rasanya pas beneran berada dalam kondisi laper tapi ga bisa ngapa2in itu #sedih part2

    Gw dong, semingguan ini belakang rumah masi dijadikan posko banjir n dapur umum, jd masih banyak bpk2 tni/abri yang bertugas. Baru kemarenan dah mulai surut alhamdulilah, tp bener apa2 jd langka, bahkan gw nyari gula pasir di minimarket aja susah.

    Oh ya pas tempat gw 3 hari kemaren mati listrik gegara banjir itu juga rada bikin frustasi juga sih (untung ga mati aer, klo mati aer ude deh tambah fuyeng pala awak haha). Tp gw coba menikmati walau kadang ya sepet juga, jd susah ngapa2in soalnya, ada 2 bayi pulak, tp untunglah ga berlangsung lama

    walaupun rumah gw ga kmasukan air sih, tp akses jalannya itu yg uda menyerupai lautan kopi alias air bah coklat tua, mirip di filem titanic wkkk... untung rumah gw cuma kebagian mati listrik. Ya walaupun cukup lama, 3 hari full itu tadi...Mau ngecas musti nitip kabel yg kehubung genset tetangga, untung tetangga ada genset huaha..klo ga sumpah susah betul mau ngapa ngapain, tp siang doang dipanjernya. Malam ga ngangkat klo bagi jalur kabel dari genset, jd malem musti panas2an dan peteng2an #maklum rumah gw masih amburadul tatanannya sebab rumah second gitu deh--ventilasinya rada kacau, klo mati lampu, ampun gerah banget

    Tapi alhamdulilah sih atas inisiatif pak rt yang minta dipindahkan jalur listrik untuk blok gw ke pln-nya terlaksana. Karena cuma blok gw doang yg kena mati listrik pdhl ga banjir, sedangkan blok lain listrik nyala padahal cuma samping2an ga gitu jauh jaraknya. Untung aja usaha pak rt tsb berbuah manis #trus warga pada bersorak sorai deh pas listrik dah idup lg

    Gitulah sepenggal cerita banjir deket rumahku hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untung gue komen dulu baru baca komen ini. Kalau enggak, bisa lupa mau komen apa. Komennya lebih panjang dari cerpen gue anjirrr

      Delete
    2. Mbak Nita: Alhamdulillah masih ada hal baiknya, atau itu saya berusaha buat memandangnya dari sudut lain. Biar enggak sepenuhnya keluhan.

      Saya juga udah malas kok bahas kepenulisan. Itu kemarin karena efek bacaan dan lagi bersinggungan sama media yang disasar, makanya pembahasan cuma seputar itu. Setelah ini berusaha bikin kisah yang sebisa mungkin jauh dari tulis-menulis. Kalau udah 6 bulanan, baru mungkin sesekali bakal bahas lagi.

      Biarpun Twitter efektif buat mewartakan, masih ada beberapa netizen nyinyir yang mengira twit soal banjir itu caper. Haha.

      Daerah Mbak Nita di Tangerang kan, ya? Sejak tahun baru lingkungannya udah kena banjir, kah? Saya baru lihat baru-baru ini soalnya. Kemarinan terfokus sama Jakarta dan Bekasi. Kadang saya heran sih sama daerah yang enggak terdampak, tapi air dan listriknya ikut mati. Bikin susah. Semoga cepat surut dan keadaannya normal lagi, Mbak. Aamiin.

      Firman: gue jadi ingat komentarnya Bayu yang selalu bisa jadi satu tulisan.

      Delete
  3. Jakarta oh Jakarta.

    Terakhir kali rumah gue kebanjiran yang gue ingat waktu gue masih kelas satu atau dua SD. Beneran masuk ke rumah persis kayak yang lu fotoin. Setelah banjir surut, langsung direnovasi dan alhamdulillah gak pernah banjir lagi sampai sekarang. Nah, jadi tetap ada hal baik yang terjadi kan gara-gara banjir ini. Bisa jadi dari situ juga pelanggan lu jadi nambah, mungkin aja tadinya ada yang gatau lu jualan, terus jadi tau dan malah jadi langganan habis ini. Who knows.

    Btw, si Coki itu emang bangsat sih. Ilang respek gue jadinya sama dia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah lama banget, Man. Syukurlah enggak kena banjir lagi. Itu zaman SD rumah gue padahal masih pendek, tapi belum separah tahun ini.

      Sebetulnya pintar-pintarnya si korban aja dalam memandang masalah. Haha. Bisa jadi saat banjir itu para saingannya lagi kagak dagang. Semoga sih betulan bisa nambah pelanggan baru.

      Gue udah masa bodoh sama Coki. Dari dulu juga kurang suka.

      Delete
  4. Banjir di jakarta berat, Yog, banjir di kampung saya di pedalaman kalbar malah menyenangkan. jadi bisa main sampan2an di lapangan bola yang tinggi airnya maksimal sebahu orang dewasa, kalo main sampan2an di sungai kan deres banget dan dalam. Namanya main, kan lomba oleng2in smapan lawan. jadi ya menyenangkan saja gitu sampan oleng tanpa khawatir tenggelam hanyut. listrik juga masih nyala, aer mati gak apa2. air banjirnya bersih (aer sungai), bisa dipake mandi.

    di jakarta, air banjirnya jadi sumber kekotoran, bawa sampah, yang nggak banjir, listrik dan aernya mati. nyari yang jual makanan gabisa, mau masak gabisa, bahkan mau mandi dan BAB saja gabisa. saya kudu bela2in pergi mall cuma buat BAB karna di kos gak ada aer. Belom di kos ada penghuni yg nakal, dia maksa BAB tanpa disirem... ya alloh... dua hari gak mandi sama sekali ditambah ancaman aroma yg semerbak...

    Kalo melihat dari RTRW (rencana tata ruang dan wilayah) Jakarta, susah mau nyalahin siapanya. Itu kesalahan fungsi bangunannya udah sejak lama, peruntukannya apa, dibangunnya lain lagi. Masyarakatnya pada gembira lagi menyambut bangunan yg gak tepat itu. pas lama2 efeknya kerasa, baru ngeluh saat pejabatnya berganti2 entah sudah berapa.

    Para tetua betawi bilang jakarta banjirnya sejak dulu, buktinya namanya pake rawa rawa gitu, padahal, jika memang sejak dulu, maka type bangunannya harusnya mengadopsi bentuk panggung, itu lumrah di mana2 yg sering kena banjir. Di jakarta tidak, kesimpulannya, emang pengrusakan ini ditimbulkan oleh manusia. nyalahin... nggak guna sih, walo tau siapa penyebab utamanya dulu, emangnya bakal langsung bisa diatasi? sedangkan merobohkan gedung yg meghambat proses penyerapannya saja gak bisa. kabur ke kaltim emang paling bener.

    masalah menceritakan agar menarik, saya nggak tahu sih gimana. pas nulis keseringan gak pernah mikirin itu, asal diri sendiri ngerasa lepas dan puas udh nulisin cerita atau bahasan lainnya ya udah. karena di saat tertentu, tulisan komposisi balsem juga bisa menarik, padahal gak diniatin untuk dibaca orang-orang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wakakak sama kayak haw, dulu pas ngekos di jakarta, dan sering padam listrik n air bela belain ke mall cuma buat numpang bab hahhahahhahahha
      Sama cari makan siang saking jarang warung deket kosan jakarta

      Delete
    2. Masalah utamanya emang airnya yang kotor ini. Sumber penyakit. Lucunya, sebagian bocah tetap cuek berenang. Gila juga anak kecil di daerah saya.

      Saya masih bisa numpang ke tetangga tajir atau masjid terdekat sih, tanpa harus ke mal ketika air mati. Cuma ya, tetap aja kurang nyaman kalau bukan milik sendiri.

      Penghuni indekos ini ada-ada aja asli. Bisa-bisanya maksa berak dan kagak disiram. Semoga suatu hari ketahuan pelakunya biar malu dan kapok.

      Sejujurnya, saya berusaha enggak menyalahkan pemerintah. Saya cuma meneruskan opini teman di sekitar soal itu dan mentertawakannya. Apalagi yang dijadikan kambing hitam ikutan cari kambing lain buat disembelih. Kan semakin konyol.

      Yang bikin saya norak soal hasrat pengin tajir atau pindah ke apartemen, itu nyatanya juga salah satu penyebab banjir, kan? Yang mestinya daerah resapan air kok malah dibangun sesuatu. Lalu, kenapa dulu pembangunannya diizinkan? Giliran kebanjiran, baru pada murka.
      Jadi ya, sulit memang mengatasi banjir di Jakarta. Pemerintahnya tolong jangan pada takabur ketika kampanye atau bikin program. Janji-janji tai asu bakal memancing kemarahan khalayak.

      Iya, akhirnya pikiran biar menariknya saya buang kan. Yang penting udah lega bisa cerita. Kagak tersimpan di draf melulu. Mau ketunda sampai kapan lagian? Haha.

      Mbak Nita: makan di mal asal ada KFC/McD sih masih terjangkau, Mbak. Kalau yang tersedia cuma restoran mending ke warkop beli mi instan atau burjo biar menghemat pengeluaran.

      Delete
    3. Sementara aku pas air di kosan mati : nekat masuk ke asrama mahasiswa (padahal posisi waktu itu udah jadi alumni dan nggak ada kenalan yang tinggal di asrama sama sekali), terus nylonong ke kamar mandi asrama. Hahahaha

      Delete
  5. Itu lantai tipa ruang di rumahmu selisih 11 cm semua, Yog? Apa cuma kamarmu sama ruang depan aja? Parah banget itu, kalau 4-5 tahun nggak kena banjir, tapi tiba-tiba di awal 2020 kemarin bisa setinggi itu. Deket kali toh, Yog? Atau kiriman air dari mana?

    Twit yang nenek-nenek itu yang ada video dari atas rumah itu bukan ya? Lupa aku, tapi sempet baca juga. Ramai banget yang ngeretweet & ngelove.

    Selalu ada hikmah dibalik musibah *halah, sok bijak aku XD. Itu pas nyari bahan-bahan buat diolah jadi barang dagangan nggak susah, Yog? Habis banjir, siapa tahu pedagang sama pasar pada nggak buka/jualan. Hehehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ruang depan sama kamar saya beda 11 cm. Dari jalanan di luar ke kamar saya mungkin bisa 17 cm lebih. Terus kamar mandi, dapur, kamar orang tua bedanya sama kamar saya bisa 20 cm. Intinya mah ruangan yang paling tinggi dari jalanan yang udah banjir sepinggang aja tuh sampai kemasukan air, meski cuma kayak genangan sedikit.

      Rumah saya lumayan dekat dari kali. Kayaknya emang luber.

      Asli, harus belanja dari pukul 1 atau 2 pagi buat bahan kayak tempe dan sayuran biar enggak kehabisan, padahal biasanya belanja sebelum Subuh masih kebagian.

      Itu kan di cerita dagangnya pas tanggal 18 ya. Udah banyak pedagang lagi. Kalau yang tanggal 1 mah kami sempet libur seminggu karena pedagangnya nyaris enggak ada.

      Delete
  6. Mau nyalahin siapapun, toh ga bakal mengubah kenyataannya Yog :D. Mau ngamuk Ama si gubernur, trus emgnya banjir bkl lgs surut gitu :D. Aku udh pasrah aja kalo soal begini. Alhmdulillah rumahku memang ga kena, tp akses k kantor kena, yg bikin aku susah juga pas mau ngantor. Yg kasian temenku dan istrinya Pas awal THN baru kmrn hampir 48 jam dia terjebak di atap rumahnya Krn banjir memang sampe atap. Hp mati pula. Jd kantorku baru bisa kirim bantuan perahu karet utk jemput dia dan istrinya setelah dikabarin Ama keluarganya. Istrinya sampe lemes Krn ga minum .. di situ aku bersyukur sih, kondisiku g sampe separah itu :(. Jd kalo ada org yg tega bikin lelucon ato apapun yg jelek berkaitan banjir, aku bener g abis pikir. Masa sih harus disentil Tuhan supaya empatinya bisa nyala

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, menyalahkan orang lain enggak akan mengubah apa pun. Tapi mungkin dengan mengkritik kinerja pemerintah, beberapa teman saya berharap ke depannya bakal ada tindakan buat pencegahan atau penanggulangan banjir.

      Parah ya. Dehidrasi berat itu hampir dua hari enggak minum. Syukurlah pihak kantor lekas menolongnya.

      Kalau enggak salah, yang mengejek korban banjir itu seorang agnostik, Mbak. Jadi ya....

      Delete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.