Kondangan yang Menerbitkan Kontemplasi

13 comments
Mana aku tahu kalau jadwal acara pernikahan Widya Sari bertepatan dengan agenda Kampanye Putih. Aku tidak berhubungan dengan kegiatan politik itu, tetapi lokasi resepsi pernikahannya yang dekat dengan Senayan tentu akan terkena imbasnya: macet. Apalagi acaranya hari Sabtu pukul 19.00-21.00 WIB yang berarti malam Minggu. Ini mah bakalan padat merayap.



Saat aku coba mengeceknya di Google Maps, dugaanku ternyata benar. Jalur yang akan kulewati nanti hampir semuanya berwarna oranye dan merah. Jarak tempuh yang semestinya hanya 25 menit berubah menjadi 1 jam 4 menit. Tiba-tiba di kepalaku melintas sebuah pikiran, apakah aku tidak perlu datang ke perkawinannya?

Aku mengingat ketika sebulan silam teman kuliahku—yang hampir tiga tahun tidak bertemu—itu mengabarkanku tentang pernikahannya. Baru kali itu ada teman yang mau repot-repot memberikanku pilihan dalam menerima undangan; mau dikirim ke rumah via ojek daring, ketemuan di suatu tempat, atau lewat digital. Dari pengalaman yang sudah-sudah, mayoritas dari mereka biasanya hanya mengirimkan undangannya lewat WhatsApp atau pesan medsos, bahkan ada pula yang cukup menyebar undangan itu ke sebuah grup karena malas atau sibuk.

Berhubung aku sok memahami tentang persiapan menikah yang pasti dibuat pusing akan banyak hal, aku tak mau menambah bebannya. Jadi, aku pun mengatakan kirim via digital sudah cukup. 

Beneran enggak apa nih?” tanya Widya. 

Mungkin ada banyak orang yang enggan datang jika undangan itu tidak ada bentuk fisiknya, sehingga Widya sampai bertanya demikian. Aku menjawab santai aja. Selama aku sehat dan waktuku sedang luang, aku akan berusaha datang.

Kalimat “Tiada kesan tanpa kehadiranmu”—sebagaimana ucapan di undangan ulang tahun saat aku masih bocah—dari Widya menutup pembicaraan kami. Secara tak langsung dia betulan mengharap kedatanganku. Baiklah, aku siap menerjang kemacetan. 


Gilang Kodimangsu, penulis romansa yang baru menerbitkan satu kumpulan cerpen, Cinta Itu Ketololan Tak Berujung, dan kini memutuskan berhenti menulis lantaran bukunya hanya terjual 29 eksemplar dalam setahun, pernah berujar, “Datang kondangan sendirian dan malam Minggu adalah kombinasi terburuk nomor dua setelah tersesat dan terjebak macet.” 

Bisa kau bayangkan bagaimana aku mengalami keduanya sekaligus? Kenekatanku tetap berangkat kondangan tanpa mengajak partner sebetulnya sudah lumrah. Namun, terjebak macet dan buta arah jelas bikin aku mengutuk kesendirian ini. Memiliki teman seperjalanan yang dapat membantuku melihat aplikasi penunjuk jalan atau buat teman mengobrol jelas lebih menggembirakan. Tapi, walaupun sendirian begini serta banyaknya menit yang terbuang dalam perjalanan, setidaknya untuk pertama kalinya dalam hidup aku jadi punya waktu melimpah memikirkan beberapa hal terkait kondangan. 

Aku tidak mengerti kenapa lampu merah durasinya bisa sampai 120 detik, sedangkan hijau cuma 20 detik—yang bikin aku sampai tiga kali merasakan lampu merah saking kacaunya kondisi lalu lintas. Sehabis memaki keadaan macet sialan ini, aku malah tersadar kalau hal ini masih mending daripada sewaktu kondangan naik kereta komuter. Aku pernah melakukannya dua kali. Ketika kondangan ke Citayam dan Tangerang. 

Aku hanya akan bercerita tentang perjalanan kondangan ke Tangerang yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup. Jalur kereta dari Stasiun Palmerah menuju Stasiun Tangerang amatlah gila. Dari awal perjalanan, mau tak mau aku sedikit-sedikit kudu transit. Dari Palmerah ke Tanah Abang aku cuma melewati satu stasiun, lalu aku mesti pindah jalur. Dari Tanah Abang ke Duri begitu juga. Barulah nantinya aku bisa menuju stasiun akhir—Tangerang—tanpa perlu pindah-pindah kereta lagi. Meski begitu, tetap saja kereta di jalur ini sangatlah terbatas. Berbeda sekali dengan jalur-jalur menuju stasiun lain yang setiap 15 menit sekali pasti ada jadwal keberangkatan kereta. Jika aku perkirakan, khusus untuk jalur Stasiun Duri ke Stasiun Tangerang para penumpang harus menunggu selama dua kali lipat dari jadwal biasanya.

Sayangnya, sebelum sampai ke tahap itu, aku masih harus menanti kereta di Stasiun Tanah Abang. Lebih-lebih pada waktu sehabis Zuhur yang rasanya menjengkelkan sekali. Orang-orang yang habis berbelanja ke Pasar Tanah Abang selalu berjubel memenuhi stasiun. Hawa gerah dan serangan bau ketiak di tengah kerumunan itu pun seakan-akan membuat neraka pindah ke Bumi. Belum nanti di dalam keretanya yang tambah berdesak-desakan. Kau enggak usah berpikir akan mendapatkan tempat duduk, bisa leluasa bergerak dan terhindar dari penumpang beraroma kecut mungkin rasanya sudah lebih dari cukup.

Akibat momen jahanam dalam perjalanan ke Tangerang itu, aku kini akan berpikir ulang kalau suatu hari nanti bakal pergi kondangan naik kereta komuter lagi. Berangkat dari rumah dengan pakaian rapi dan wangi, terus begitu sampai tujuan aku harus mampir ke masjid terdekat dan menumpang di toiletnya untuk membenahi penampilan sekaligus menyemprotkan parfum. Penderitaan berangkat kondangan sendirian saat naik motor begini malah terasa tidak ada apa-apanya. 


Aku sudah sampai di gedung resepsi pernikahan Widya Sari. Perjalananku rupanya memakan waktu 56 menit. Tidak buruk-buruk amat. Agak percis dengan perkiraan di aplikasi penunjuk jalan itu.

Aku menulis namaku di buku tamu, kemudian mengeluarkan amplop dari saku kemeja batikku. Selagi aku memasukkan amplop ke dalam kotak yang tersedia, aku jadi terkenang pertanyaan Ivan, salah seorang kawan dekatku: ”Kondangan segini wajar enggak, sih?”

Segini yang Ivan maksud senilai dengan dua paket Panas Mekdi. Aku sebenarnya juga pernah mempertanyakan hal itu. Kala UMR Jakarta semakin bertambah setiap tahunnya, apakah uang segini masih layak sebagai angpau? Dalam tiga tahun terakhir ini aku masih sering mengisi amplop dengan jumlah segitu.

Beberapa dari temanku menjawab itu tergantung lokasi resepsinya. Kalau di rumah mungkin wajar, sedangkan di gedung kayaknya sedikit. Biaya mereka menyewa tempat dan katering itu perlu diperhitungkan. 

“Ah, kalo si Rudi mah enggak apa-apa kayaknya sekalipun itu acaranya di gedung. Dia aja jarang makan setiap kondangan,” ujar Herman (temanku yang lain) saat kami sedang berdiskusi perihal amplop kondangan. 

Pernilaian Herman terhadapku mungkin ada benarnya. Aku nyaris tidak pernah menyantap hidangan utama setiap kali kondangan di gedung. Aku palingan hanya mencicipi dua jenis makanan seperti bakso dan sate ayam (somay buat alternatif jika pilihan barusan tidak ada). Itu saja biasanya sudah cukup mengenyangkanku. Segala hal yang berhubungan dengan kambing jelas bukanlah pilihanku. Aku paling enggak doyan, sehingga tak perlu mengurangi jatah para penikmat daging kambing. 

Omong-omong soal jatah, aku sering tidak mengerti dengan beberapa temanku yang ingin mencoba semua menunya. Selain bakso, sate ayam, dan somay, mereka masih siap menggasak kambing guling, soto betawi, empal gentong, spageti, dan zuppa soup. Belum lagi hidangan penutup seperti buah-buahan, puding, dan es krim. Dari ketiga makanan pencuci mulut itu, palingan aku cuma akan memilih satu, yakni es krim.

Itu semua bukan karena aku tidak doyan makan, tapi kebiasaanku mengisi perut dari rumah sebelum bepergian ini memang sulit hilang. Mulanya, itu cuma buat jaga-jaga seandainya sampai di sana makanannya sudah pada habis. Entah kenapa kebiasaan ini malah terus berlanjut. Sebab aku tak mau kejadian bedebah yang sering terjadi 3-4 tahun silam itu terulang kembali. 

Dulu, sepertinya ada sekitar belasan kali aku kondangan di gedung dan enggak menyantap apa-apa. Akibat telat sampai di lokasi acara, aku hanya meminum air putih. Semua stan makanan sudah dibereskan dan mau tutup. Hidangan utama yang jelas bukan pilihanku pun nyaris tak bersisa. Ke manakah perginya nasi goreng, ayam goreng, gurame saus asam manis, rendang, dan sambal goreng kentang? Di meja makan cuma tersedia nasi putih, kuah sop, dan kerupuk. Baru melihatnya saja langsung enggak sreg, terlebih memakannya. 

Herman yang suatu waktu ikut terkena apes bersamaku pernah bilang, “Malu kalau makan koretan. Mending makan gengsi.”

“Emang kenyang?” tanyaku. 

“Yang penting harga diri tetap terjaga. Kita masih mampu makan di luar, kan?” 

Sepulang kondangan kami lantas segera menghibur diri dengan mampir ke restoran cepat saji terdekat. Maka, sejak momen kampret itu, persiapan mengisi perut dari rumah pun muncul begitu saja. Tak perlu sampai kenyang, yang penting bisa mengganjal lapar kalau nanti kehabisan makanan. 

Selain persoalan makanan, aku juga entah mengapa jarang mengambil suvenirnya. Mungkin karena lupa atau terlalu malas buat membawanya. Kebiasaan memberikan suvenir pada saat tamu baru datang ini lumayan merepotkan buatku. Satu tanganku tentu jadi terpakai untuk memegangnya. Oleh sebab itu, aku memilih buat menitipkannya saja. Nanti pulangnya baru aku ambil. Dan begitulah akhirnya aku bisa sampai terlupa dengan suvenir. Aku sejujurnya lebih suka yang konsepnya diberikan kertas semacam kupon, barulah nanti sewaktu pulang ditukarkan dengan barangnya. Syukurlah perkawinan Widya Sari menerapkan apa yang aku maksud. 

Aku memasukkan kupon itu ke kantong celana belakang seraya bertanya-tanya, apakah nanti aku sempat bertemu seseorang yang kukenal—selain kedua mempelai—di acara pernikahan ini? Aku tak ingin benar-benar sendirian dan merasa terasing di gedung ini. Baguslah pertanyaan itu pun langsung terjawab ketika aku baru berjalan sepuluh langkah. Aku bertemu Lena (teman sekelasku selama semester 1-4) bersama suaminya. Awalnya kami bertukar kabar dan basa-basi sekadarnya, lalu dia otomatis bercerita datang ke sini dengan naik Zrap Car. Berangkat dari Depok habis Asar dan baru tiba Magrib tadi. Perjalanan yang lumayan jauh. Demi menghadiri perkawinan teman baik zaman kuliah, rupanya ada banyak waktu dan biaya yang dia korbankan. Hal itu pun lantas membawaku pada kejadian kondangan-sialan-di-Tangerang-menggunakan-kereta-komuter itu lagi. 


Aku rasa diriku telah banyak mengorbankan waktu, biaya, dan tenaga di perjalanan tersebut. Jarak tempuh yang kutebak setelat-telatnya hanya satu jam setengah, ternyata malah mencapai tiga jam lebih. Menunggu kereta di Stasiun Tanah Abang dan Duri menghabiskan hampir dua jam. Perjalanan kereta dari Duri ke Tangerang sekitar 45 menit. Sisanya barulah dari stasiun ke lokasi pernikahan. 

Yang aku heran, kenapa aku bisa-bisanya percaya begitu saja dengan informasi dari sang mempelai kalau letak rumahnya dekat dengan Stasiun Tangerang? Jarak ini kan relatif. Apakah enam koma sembilan kilometer itu termasuk dekat?

Dari Stasiun Tangerang aku mesti naik kendaraan lain. Aku bertanya kepada bapak-bapak di sekitaran stasiun tentang alamat itu. Dia memberitahuku supaya naik angkot T 03. Katanya, dari situ sudah dekat. Aku sempat ragu mengingat perkataan temanku sebelumnya. Aku lalu mencoba memastikannya lagi, “Betulan dekat nih, Pak?” 

“Habis turun angkot langsung sampai ke kompleks itu, Dek. Nanti dari pertama naik langsung bilang aja sama abangnya supaya enggak kelewatan.” 

Nada suara bapak itu sungguh mantap. Sorot matanya juga menyiratkan ketegasan. Suatu bukti kalau itu bukan jawaban sembarangan. Kali ini aku mencoba buat percaya. Aku pun naik angkot dan turun di depan gapura bertuliskan “Perumahan Damai Permai”. 

Aku melihat aplikasi peta. Benar ini tempatnya. Yang tidak kusadari adalah RT dan RW-nya. Lokasi acara pernikahan temanku ternyata masih masuk ke dalam lagi. Dari pintu masuk kompleks ini ternyata aku harus jalan kaki lagi sekitar 1,3 km. Efek kelamaan berdiri di kereta membuat kakiku tak sanggup berjalan lebih jauh. Jika tahu begini, kenapa dari awal aku tidak terpikir sedikit pun untuk memilih layanan ojek daring, ya? Celakanya, saat baru ingin membuka aplikasi layanan ojek daring, ponselku sudah sekarat. Bodoh, penglihatanku bisa-bisanya luput untuk mengecek ikon baterai. Empat persen tidak akan cukup buat memesan dan menunggu kedatangan si pengemudi. Aku takut nanti dia akan bingung mencariku jika ponselku mati dan tak bisa lagi dihubungi. Aku tidak ingin merepotkan orang lain atas kecerobohanku sendiri.

Berengsek, kenapa niat baik untuk datang kondangan ke acara teman justru jadi terlalu ribet begini, sih? 

Aku akhirnya tak punya pilihan lain selain memesan ojek pangkalan di dekat situ. Yang lupa aku perhitungkan, abangnya mematok harga kelewat tinggi. Aku berusaha menawar sejago mungkin, tapi hasilnya cuma berkurang 3.000. Bermaksud ingin berangkat kondangan dengan cara hemat, aku malah buntung. Ongkos transportasi pergi-pulang kondangan justru bisa dua kali lipat dari isi amplopku. Luar biasa.

Lantaran kondangan terkutuk itu, aku tiba-tiba jadi ingat nasihat ibuku. Beliau bilang, “Kalau ndak akrab-akrab banget dan lokasinya kejauhan, mending kamu ndak usah datang. Seandainya merasa sungkan, kamu kan masih bisa titip amplop ke teman yang lain.” 

Aku pun jadi memikirkan hal ini: mana sih yang lebih penting antara kehadiran dan isi amplop? 

Tanggal 27 pada enam bulan yang lalu, Aldo—teman sebangku saat SMA yang merangkap sahabat—melangsungkan pernikahannya. Mungkin buat sebagian orang yang sudah menerima gaji pada tanggal 25 itu adalah tanggal muda. Sayangnya, gajianku jatuh pada tanggal 1. Kondisi keuanganku hari itu lagi krisis-krisisnya. Bulan itu pengeluaran entah kenapa sedang banyak-banyaknya. Ayah masuk rumah sakit dua kali, adikku harus bayar darmawisata sekolahnya, dan aku sendiri mesti perpanjang SIM C sekaligus baru saja servis motor ke bengkel. Uang di rekening tersisa 5 digit dan tentu tidak bisa diambil, sedangkan duit di dompet hanya cukup buat makan dan transport sampai tanggal gajian datang.

Sebesar-besarnya aku palingan cuma mampu mengamplopi uang segini yang Ivan katakan tempo itu. Terus aku bercerita kepada Ibu, “Apa ini amplopnya perlu dikasih nama? Aku malu kondangan cuma segini, Bu.” 

Ibuku lalu berkata, “Apa temanmu tahu kondisi keuanganmu, Rud? Melihat kamu datang mungkin sudah lebih dari cukup. Mending kamu doakan aja yang terbaik buat kehidupan mereka kelak. Semoga temanmu bisa mengerti.” 

Aku akhirnya berusaha untuk selalu menulis nama di amplop sekalipun cuma kondangan dalam jumlah segini. Aku juga tak mau memaksakan diri buat selalu datang jika keadaan memang tidak memungkinkan; hujan, sakit, aksesnya sulit, dan bokek. 


“Kau datang sendirian?” tanya Andi, teman kuliahku yang lain, membuyarkan lamunanku tentang hal itu. Lena dan suaminya ternyata sudah tidak berada di dekatku. Sepertinya aku terlalu banyak bengong. Sampai-sampai tidak sadar, sejak kapan mereka lenyap? Tapi, ya sudahlah. Sekarang sudah ada Andi. Aku pun menjawab iya, lalu bertanya balik kepadanya. 

“Enggak, aku datang sama istri dan anakku. Tapi anakku dari tadi nangis terus. Jadi istriku pilih di mobil aja. Takut berisik kalau ikut masuk ke gedung.”

“Kau udah makan, Ndi?” 

Andi menggelengkan kepala dan mengajak aku mengantre bakso. 

Ketika sedang mengantre bakso, aku melihat perempuan berambut ikal di stan seberang. Lalu, kalimat “aku datang sama istri dan anak” terlintas kembali di benakku. Kedua hal itu otomatis mengajakku ke acara perkawinan lainnya. Aku berasa deja vu

Aku lagi mengantre bakso dan melihat seorang perempuan berambut ikal yang wajahnya terasa familiar sedang menyantap somay. Aku mencoba mengingat-ingat dia itu siapa, hingga akhirnya muncul sebuah nama: Selvi. Sepuluh tahun silam dia adalah gebetanku saat kelas satu SMA. Kebanyakan teman SMA-ku kini terlihat aneh semenjak mengenal kosmetik. Tapi dandanan Selvi tampak natural. Kecantikannya tidak memudar sedikit pun. Justru bagiku kian memukau. Ditambah lagi hari itu dia mengenakan dress terusan merangkap rok berwarna merah marun dan flat shoes hitam. Warnanya kontras sekali dengan kulitnya yang putih. Penampilan simpel tapi tetap elegan itu pun membuatku semakin terpesona.

Mungkinkah perjumpaan hari ini adalah sebuah takdir dari Tuhan? Aku kini dipertemukan lagi dengan Selvi setelah terpisah enam tahunan tanpa kabar sedikit pun? Apakah jodoh memang tidak akan ke mana-mana? Baiklah, nanti sekelarnya mengantre aku berniat untuk menyapanya. 

Tangan kiriku sudah memegang semangkuk bakso. Tangan kananku siap untuk mengajak Selvi salaman. Baru saja aku ingin mendekat ke arahnya, datang seorang pria berambut klimis dan bertubuh jangkung bersama seorang bocah kisaran dua tahun. Anak kecil itu berlari menghampiri Selvi.

Selvi pun refleks menaruh piring yang sedang dipegangnya ke meja terdekat dan langsung menggendong anak tersebut. Aku sangat mengerti tatapan itu. Tatapan seorang ibu. Aku tidak jadi meneruskan langkahku. Aku segera memutar balik sambil kilas balik kenanganku bersamanya. Tepatnya, saat sepuluh tahun silam Selvi menolakku begitu kunyatakan cinta.

“Aku udah punya pacar, Rud,” kata Selvi. “Lagian kamu itu udah aku anggap teman baikku dari SMP. Sejujurnya, aku kaget banget kalau kamu punya perasaan sama aku.” 

Aku mengutuk ketololanku akan kenyataan itu. Aku sama sekali tidak tahu dia memiliki kekasih. Kami berteman dari SMP kelas dua karena sekelas, kemudian kelas tiga kami sekelas lagi, dan berlanjut sampai kami masuk SMA yang sama. Aku sempat berpikir bahwa pertemuan kami itu adalah takdir. Namun, hari ini realitas menggampar segala harapan yang dulu pernah kususun itu. Kalimat “Aku udah punya pacar” telah berevolusi menjadi “Aku udah punya suami dan anak.” 

Mampuslah sudah. 


“Rud, maju. Kau bengong aja dari tadi,” ujar Andi. 

Perkataan Andi itu membuatku linglung. Haruskah aku maju? Tapi maju ke mana dan untuk apa? Aku tidak tahu sedang berada di mana sekarang. Di sekelilingku tidak ada seorang pun. Hanya ada suara Andi dan kegaduhan lain entah berasal dari mana. Aku juga tak bisa menatap ke depan. Di sana sepertinya tak ada apa-apa. Semuanya terlihat gelap. Jika aku melangkah, mungkinkah di depanku ada lubang keterpurukan? Aku takut terjatuh. 

“Maju, Goblok. Kau kenapa sih, Rud? Ini enggak enak sama orang yang ada di belakang kita. Kalau masih enggak mau maju juga, kusiram pakai kuah bakso kau, ya!” 

Bakso? Oh iya, aku sedang mengantre di stan makanan. Aku memperhatikan sekeliling. Aku berada di perkawinan Widya Sari. Tidak ada Selvi. Perempuan yang tadi sempat kulihat sekilas tentu saja orang asing. Oke, aku telah kembali ke masa sekarang. 

Aku sekonyong-konyong jadi berpikir sembari merenung, apakah selama ini aku selalu diam di tempat sembari sesekali menengok ke belakang kayak tadi? Benarkah aku kerap ragu-ragu dalam melangkah dan menentukan pilihan? Aku teramat bingung untuk menjawab pertanyaanku sendiri. Di ruangan ber-AC ini aku merasa tubuhku berkeringat. Sepertinya aku grogi dan pori-poriku mengeluarkan banyak keringat dingin dalam sekejap kala memikirkan pertanyaan-pertanyaan semacam itu.

Antrean selesai. Aku dan Andi mencari tempat duduk di sebelah kanan ruangan. Sial, sudah tidak ada lagi kursi kosong. Kami terpaksa makan sambil berdiri. Andi mulai menyantap bakso itu dengan sangat lahap. Anehnya, bakso yang kukunyah dan kuahnya kok terasa hambar? Aku memang lupa memberikan saus, kecap, dan sambal, tetapi kenapa lidahku seakan-akan mati rasa begini? 

Mengingat kejadian Charlie Brown—tokoh utama dalam komik strip Peanuts garapan Charles M. Schulz—yang memfavoritkan selai kacang dan kehilangan rasanya itu akibat cinta bertepuk sebelah tangan, aku jadi menyimpulkan ini semua pasti karena otakku terlalu banyak mengenang momen buruk saat kondangan sendirian. Barangkali momen malam ini merupakan isyarat bahwa aku butuh mencari partner. Selain sebagai teman kondangan, tentu agar aku punya lawan ataupun kawan bicara yang asyik, terus aku tidak perlu lagi terjebak kenangan masa lalu, atau bahkan aku memang kudu serius dalam memperbaiki persoalan asmaraku yang sebelum-sebelumnya kerap mengalami kegagalan.


April 2019

--

Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/people-couple-man-guy-woman-2595862/
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

13 comments

  1. Perasaan gue aja kali ya. Merasa de javu sama plot dan premisnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin aja emang lu pernah baca, Man. Sebelumnya gue taruh di WordPress. Itu masih bentuk draf awal. Terus gue taruh sini dengan sedikit modifikasi.

      Delete
  2. Disuruh makan sebelum kondangan adalah nasihat nyokap gue juga. Karena ya sama sering kejadian sampe tempat kondangan makanannnya dah pada abis. Wkwk

    Dan satu lagi soal "Nggak apa-apa nggak dateng kalo gak akrab-akrab banget." Nyokap gue juga ginu. Daripada effort jauh-jauh kesana, kondangan seadanya. Mending nitip wkwk

    Kondangan sendirian emang ga asik. Makanya gue selalu ngajak adik gue atau teman yang nganggur buat diajak kondangan hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terus akhirnya minum air putih atau enggak sama sekali? Haha.

      Enggak usah datang dan nitip juga sekalian.

      Gue bingung mau ngajak perempuan mana. Pas masih punya pacar aja kalau tempatnya enggak searah, gue pilih sendirian. Kecuali pulang kondangan sekalian kencan.

      Delete
  3. jangan mancing2 Yog. Kata es krim sangat tabu di sini. xD

    Ini anak yg jaid karakter utamanya nggak cocok kerja di FBI, disentil dikit, langsung kebayang semua kejadian sebelumnya yg mirip2 atau berhubungan. tapi emang disetting gitu, yak, biar terangkum semua satu bahasan. sebenarnya kenapa sih kalo ke kondangan itu berasa gak afdol bagi orang2 kalo gak nyobain semua menu. kan sajian uatamanya itu acara nikahan, bukan acara kulineran.

    kalo nginget2 pengalaman sendiri, kayaknya sampai saat ini belom pernah dah datang sendirian ke kondangan temen. paling banter ya ada temen yg jadi pagar ayu, dan selama di sana ditemenin dia terus. jadi kalo mendadak kudu sendirian ke kondangan, yg muncul bukan kenangan, tapi lagu dewa 19 - kosong.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apakah masih melekat citra buruk es krim? Haha.

      Protagonisnya lagi gampang terpicu karena dari awal saat kejebak macet dia sendiri mancing-mancing kenangan buruk kondangan.

      Makanya, saya makan cuma kayak buat syarat aja. Cicipi mah sewajarnya, bukan semuanya. Hehe.

      Asli, kosongnya lumayan berasa. Saya lumayan sering datang sendirian dan lahirlah inspirasi kisah beginian. Buahaha.

      Delete
  4. Ya ampun, ngenes banget sih lu?

    Wkwkwkwk

    Gw pernah telat dateng kondangan gara-gara macet. Pas nyampe gedung udah diberesin. Gw foto doang. Eh sama temen gw yang nikah malah digaet ke VIP room yang isinya berbagai macam menu yang disiapkan untuk keluarga mempelai. Gw sama temen gw makan di situ dan kita upload di sosial media. Langsung keluar semua umpatan dari temen yang lain karena banyak yang gak dapet makanan pas dateng ke acara kondangan.

    Hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu yang ngenes tokohnya.

      Wih, beruntung banget sampai dibolehin makan di ruangan VIP. Tamu khususnya emang udah pergi, atau lu temen akrabnya?

      Delete
  5. Dateng sendirian ke kondangan temen adalah sebuah keniscayaan bagi para jomblo yang umurnya sudah mulai mendekati akhir 20an. Yah mau diapain lagi hahahahhaha

    ReplyDelete
  6. Kenapa? Kenapa banyak sekali keresahan yang dialami si tokoh ini 11:12 juga saya alami. Manggut-manggut aja ini saya pas nemu kalimat yang "mengena".

    Jumlah uang sumbangan yang cuma segini, tapi ini dulu saya sempet tanya ke beberapa temen juga sih. Dengan jumlah segini standar solo, katanya masih wajar. Apalagi kalau itu, temen yang enggak deket-deket amat. Cukuplah.

    Dan ngomong-ngomong masalah pindah-pindah KRL, saya kadang masih bingung harus transit dimana dan nunggu rangkaian gerbong di peron berapa. Apalagi kalau pas bareng sama jam-jam sibuk orang pulang ngantor. Wah, tambah bingung. Masih cupu dan merasa "Wah, sepertinya saya memang nggak cocok untuk merantau dan hidup di ibu kota"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tulisanku tidak efektif sekali ya Allah. Hahaha

      Delete
    2. Gimana dengan tinggal di Jakarta, tapi pendapatan kayak UMR Solo? Apakah segini juga wajar? Kondisi keuangan tiap orang yang berbeda-beda inilah yang sulit menjadi standar ideal jumlah angpau.

      Saya juga termasuk masih suka tanya-tanya petugasnya kok kalau buat jalur yang belum pernah dilewati. Paling hafalnya sekitaran Palmerah-Serpong-Tanah Abang-Kota-Depok-Bogor. Wilayah Tangerang baru pernah sekali, Bekasi juga. Itu pasti kalau suatu hari keluyuran lagi mesti tanya nunggu di peron berapa.

      Delete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.