Enggak Pengin yang Lain?

10 comments
Setiap kali menulis, membaca, dan mendengar kata “musik”, pikiran Hendri tidak pernah sama lagi. Ia kini selalu teringat akan sosok perempuan berambut poni kucir kuda plus berkacamata dengan pakaian khas wanita karier yang berjoget diiringi lagu latar “jadi pengin-jadi pengin” dalam sebuah video iklan rokok versi gagal tayang.



Hendri mendapatkan informasi tentang video itu dari Agus—kawan dekat di kantornya—empat hari yang lalu. Semua bermula ketika Hendri tampak cemberut dan tidak beranjak dari kubikel, padahal sudah jam istirahat. Melihat ada yang tidak beres di raut muka temannya itu, Agus pun berinisiatif untuk menghampiri sekaligus menghiburnya. Cara pertama: menawarkan diri buat mentraktir makan siang. Cara kedua: siap mendengarkan permasalahan Hendri.

Seusai menyantap ayam geprek, Hendri bercerita selama 15 menit, diselingi beberapa pertanyaan oleh Agus, dan akhirnya obrolan itu melahirkan kesimpulan bahwa Hendri sedang bernasib sangat sial dan membutuhkan uang buat akhir bulan nanti. 



Bagaimana mungkin dalam sepekan terakhir ini Hendri mengalami apes berturut-turut? 

Pertama, saat pulang bekerja ia kecelakaan karena ban motornya menghantam sebuah lubang di tengah jalan. Lantaran tragedi jahanam itu, Hendri perlu mengeluarkan uang sejumlah jatah makannya dua minggu untuk urut (karena kakinya terkilir) dan membenahi permasalahan motornya ke bengkel. 

Kedua, sewaktu Hendri ingin memanjakan diri dengan makan enak di restoran cepat saji sebab ada promo murah meriah, ia malah salah memesan paket dan pesanan tidak dapat dibatalkan. Alih-alih mendapat untung, Hendri justru menjadi mutung.

Ketiga, Hendri salah memilih tanggal maupun tempat duduk saat janjian menonton film Avengers: Endgame bersama seorang perempuan—yang ia kenal lewat media sosial. Ia mengira kursi yang dikliknya lewat aplikasi pemesanan tiket itu ada di deretan belakang. Ternyata yang terjadi justru kebalikannya. Perempuan itu jelas tak mau mengganti biaya tiketnya yang telah Hendri pesan, apalagi memenuhi janjinya buat nonton bareng. Malas menonton sendirian, Hendri lalu menawarkan tiket gratis ke beberapa kawannya di kantor. Jawaban yang ia peroleh semuanya seragam: “Ogah, ah. Leher nanti pegel-pegel kalo nonton depan layar banget gitu.” Mau tak mau, demi mengurangi kerugian ataupun kejengkelan, Hendri nekat pergi ke bioskop bersama tas ransel kesayangan yang berisi aneka jajanan.

Keempat, Hendri menyadari bahwa dompetnya tidak berada di saku belakang celananya kala sedang mampir ke pom bensin di tengah perjalanannya berangkat kerja. Mungkin terjatuh di suatu tempat, pikirnya. Hendri segera mencari di sepanjang jalan yang ia lewati tadi. Sudah bolak-balik dua kali dan hasilnya nihil, Hendri pun hanya bisa pasrah.

Hendri mengecek jam tangannya yang menandakan dirinya sudah terlambat bekerja. Ia kemudian izin tidak masuk kantor dengan alasan kakinya yang keseleo karena kecelakaan kemarinan itu kambuh lagi. Hendri kembali ke indekos, merebahkan diri di kasur, lalu merenungi kenapa belakangan ini hidupnya selalu dirundung kemalangan. Di tengah keputusasaan dan permenungannya itu, ia baru teringat telah mencantumkan nomor ponselnya di sebuah kertas yang sempat ditaruh dompet. Hendri berdoa semoga ada orang baik yang menghubungi dan mengembalikan dompetnya. 

Hendri memutuskan untuk menonton film Predestination (2014) di laptopnya sembari menanti kabar dari seseorang yang kelak menemukan dompetnya itu. Film berdurasi satu jam setengah itu sudah kelar, tapi tak ada satu pun pesan maupun panggilan masuk. Doa itu baru terjawab satu jam sesudahnya. Ada nomor tidak dikenal meneleponnya. Hendri langsung mengangkatnya dan terdengar suara berat seorang pria. Hendri sangat bersyukur karena panggilan itu memanglah kabar yang ia tunggu-tunggu sejak tadi, bukan panggilan yang menawarkan asuransi. Mereka pun janjian bertemu di sekitaran pom bensin—tempat jatuhnya dompet itu.


Hendri langsung mengecek isi dompetnya setelah bapak itu menyerahkannya. Bukannya menampilkan wajah gembira, Hendri malah memasang wajah lesu. Sadar kalau ada yang tidak beres, bapak itu lalu bertanya apa yang sebetulnya terjadi. Rupanya, isi dompet itu tidak seutuh sebelumnya. Memang kartu-kartu semuanya masih lengkap, tapi uang sekitar satu juta yang ada di dalamnya telah lenyap.

“Waktu saya temukan, duitnya emang udah ndak ada, Mas,” ujar bapak itu. “Saya kira emang kosong.”

Wajah bapak itu menyiratkan kejujuran. Hendri berusaha tersenyum dan mengikhlaskannya. Setidaknya, dompet yang hilang itu sudah ketemu. Ia jadi tidak perlu mengurus surat kehilangan dan pergi ke bank untuk memblokir kartu ATM. Hendri lalu menawarkan diri buat mampir ke ATM, ia bermaksud mengambil uang sebagai ucapan terima kasih kepada bapak itu. 

Ndak usah, Mas. Mending buat keperluan Mas sendiri saja.”

Hendri mengucapkan terima kasih sekali lagi. Baik karena sudah memulangkan dompetnya maupun atas pengertian bapak itu. Namun, Hendri mesti tetap ke ATM sebab ia sama sekali tidak memiliki uang tunai buat keperluan sehari-hari. Ketika mengecek saldo rekeningnya, Hendri masih tak percaya kalau sisa uangnya itu terlalu mengenaskan. Ia mafhum tabungannya benar-benar ludes karena sebelumnya sempat menganggur hampir setahun. Tapi sehabis bekerja lagi dalam tiga bulan ini, kenapa jumlah simpanannya itu cuma setengah daripada uang yang hilang di dompet? Ia tidak tahu harus irit seperti apa lagi dalam menjalani hidup sampai hari gajian datang. 


“Anjing, gajian baru seminggu kok duit udah tiris begini,” ujar Hendri. “Mana besok lusa juga udah puasa lagi, Gus. Aku setiap Ramadan biasanya lebih boros daripada hari-hari biasa.” 

Agus memberikan usul supaya Hendri berhemat dengan makan takjil gratisan di masjid dekat indekosnya. Yang penting berani memasang muka tembok. 

“Oke, puasa kali ini aku siap menahan malu. Tapi bayar sewa kosnya nih gimana?” 

“Minta keringanan. Bayarnya habis gajian.” 

Jadwal pembayaran sewa indekos Hendri sudah diatur setiap bulannya pada tanggal 26—sehari setelah tanggal gajian—sesuai kesepakatan bersama di awal perjanjian dengan induk semangnya. Hendri mengisahkan induk semangnya yang sangat ketat dalam urusan uang sewa. Tidak boleh ada yang menunggak sekalipun itu hanya sehari. Pilihannya cuma dua: bayar tepat waktu atau minggat dari tempat itu. 

Awalnya, Hendri tidak percaya dengan peraturan semacam itu. Sejahat-jahatnya manusia, mereka tentu memiliki belas kasihan. Terlebih kepada anak kos sepertinya. Hingga pada bulan kedua Hendri menempati indekos itu, barulah ia paham ketentuan itu tidak main-main. Hendri pernah menyaksikan seorang mahasiswa yang diusir pergi di tengah malam lantaran telat membayar. Katanya, induk semang telah memberikan perpanjangan waktu sampai pukul 23.59, tapi si mahasiswa masih belum juga menunaikan kewajibannya. Mahasiswa itu memohon-mohon lagi dengan memberikan alasan kalau orang tuanya baru bisa mentransfer uangnya besok pagi. Induk semangnya tetap tak peduli dan bersikap tegas. 

“Masalahnya nih tanggal 25 Mei jatuh di hari Sabtu,” kata Hendri. “Gajian kita pasti bakal diundur sampai Senin, Gus. Tai banget, kan? Aku bayarnya gimana coba?” 

Agus menanyakan berapa uang sewa indekosnya. Hendri menjawab 850 ribu. 

“Sejujurnya, bulan ini aku juga bokek, Hen. Keuanganku lagi pas-pasan terus karena masih ada cicilan motor. Enggak bisa meminjamkanmu uang dalam jumlah segitu. Kalo cuma cepe, sih, aku sanggup.” 

“Santai sih, Gus. Aku cuma mau cerita. Ini aja makasih udah ada yang mau dengerin. Ditraktir pula.” 

Agus merespons perkataan itu dengan meraih ponselnya di meja, membuka aplikasi WhatsApp, dan mengirimkan sebuah tautan ke kontak Hendri Duliyanto.

“Kau kurang kerjaan, Gus. Deket aja segala WA.”

“Buka aja dulu.” 

Hendri dengan setengah hati membuka pesan tersebut. Menemukan sesuatu yang tampak mencurigakan, ia pun bertanya, “Itu link apaan, Gus? Bokep?” 

“Bukan, video bagus pokoknya. Tontonnya nanti aja kalo udah pulang kerja, ya. Semoga bisa sedikit menghibur masalahmu.” 


Agus tidak berbohong. Itu bukan video porno sebagaimana dugaan Hendri sebelumnya. Meskipun video itu tetap lumayan mengundang berahi dan membuat sesuatu di balik celananya menonjol, tapi Hendri merasakan sensasi yang berbeda dibandingkan menonton film cabul. Ada kenikmatan lain yang ditawarkan video itu. Perempuan yang asyik menari itu seakan-akan meringankan segala beban pikiran Hendri. Ia seperti sedang jatuh cinta. 

Sejak itu, pada setiap malam menjelang tidur, Hendri berusaha menyempatkan waktu buat menonton ulang video tersebut. Lalu malam ini, sepulang salat Tarawih, Hendri semakin penasaran dengan sosok perempuan yang menggetarkan hatinya. Ia ingin mencari tahu siapa namanya. Hendri pun mengetikkan kata kunci “Cewek berkacamata iklan rokok minta musik” di Google. Ia mengeklik salah satu artikel yang tertera di hasil pencarian dan berhasil mendapatkan namanya: Elisa Lorenza. Enam detik kemudian, Hendri langsung mencari akun Instagram Elisa. 

Hendri merasa kecewa karena tidak sreg dengan foto-foto Elisa yang terpampang di sana. Hendri hanya suka Elisa yang berpenampilan seperti di video iklan itu. Ia pun menutup aplikasi Instagram dan kembali ke rutinitasnya. Malam ini, Hendri telah memutar video Elisa sebanyak 182 kali. Saat itulah Hendri tiba-tiba membayangkan seandainya ia menjadi politisi di video itu, lalu mendapat pertanyaan dari sesosok jin, “Enggak pengin minta yang lain?” Jawaban seperti apakah yang akan ia berikan? 

Ingin menjadi teman mesra Elisa? Berpacaran? Berjodoh? Atau cukup minta izin supaya dibolehkan jadi bahan merancap?

Terlepas dari semua pikiran busuk itu, Hendri cuma pengin joget bareng supaya kesedihannya hilang. Tepatnya, ia ingin bergoyang lalu dibayar Rp750.000 pada 25 Mei nanti, sebagaimana yang pernah terjadi setahun silam ketika ia terpilih menjadi salah satu pengiklan produk Warungpedia di Instagram. Uang itu pun bisa ia gunakan untuk membayar sewa indekosnya. Jika boleh berharap lebih, semoga kali ini goyangan mautnya itu bisa memenangkan ponsel keluaran terbaru atau motor atau mobil dengan harga sangat-sangat-sangat murah di acara Flash Sale Warungpedia



Ah, seandainya pada bulan Ramadan ini keberuntungan bisa berkawan baik dengannya. 

Tapi kalau kita menengok kejadian-kejadian sebelumnya, hal yang melekat di diri Hendri hanyalah nasib sial. Bukankah Hendri sadar dan tahu akan hal itu? Kenapa Hendri masih percaya sama harapan yang kerap membuatnya menderita?
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

10 comments

  1. Pengen bilang kayaknya gue kenal nih ceritanya, eh di bawah malah ada gambar orangnya. ASEM!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Membayangkan orang lain boleh juga, sih. GIF cuma pendukung gaya jogetnya Bang Hendri.

      Delete
    2. Yang kepikiran tetap Dian Hendri Anto.

      Delete
  2. hendri cuma pengen goyang ternayata.

    ReplyDelete
  3. Berasa membaca cerita hidup sendiri lewat tulisan ini. Gaji yang ngepas buat hidup sebulan, bingung buat bayar kost'an, tabungan yang baru 'segitu-segitu' aja, dan dapet barisan kursi depan pas nonton avenger. Ya, meskipun nggak paling depan, tapi lumayan bikin leher pegel itu. Hahaha.

    Iklan rokoknya beneran ada nggak, Yog? Kok penasaran. Maklum, di kost nggak ada TV ini, jadi kudet sama iklan-iklan baru.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena kehidupan Hendri bisa mewakilkan siapa pun. Termasuk penulisnya. Hahaha.

      Ada betulan. Di Youtube cuma. Di TV mah enggak mungkin tayang.

      Delete
  4. dan aku penasaran ama iklannya :p. kirain akhir ceritanya, hendri bakal dpt kejutan menyenangkan, tp ternyata msh blm hahahahaha... ceritamu kyk hidup gitu ,pake foto org beneran pula :p. sempet lgs kasian banget ama nasib si hendri :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sengaja dibikin gitu, sebab keapesan Hendri bisa saja masih berlanjut. Hahaha. Beginikah efek mengambil tokoh dari kenyataan? Ceritanya jadi hidup?

      Delete
  5. wait, ini kisah nyata? apesnya juga nyata?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebagian terjadi di kenyataan, sebagian lagi baru terjadi di kepala, Put.

      Delete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.