Saya tidak dapat mengingat sudah berapa kali saya menjilat ludah sendiri. Mungkin karena begitu banyaknya. Bisa juga sebab saya enggak terlalu peduli akan hal itu. Pola pikir dan selera setiap manusia bisa bergeser. Misalnya, sewaktu SMK saya sempat bilang enggak akan pernah mau mendengarkan dan menyukai lagu-lagu Korea. Tapi sejak adanya Blackpink, saya harus menarik kembali pernyataan itu. Lama-lama saya pun merasa hal itu biasa saja. Itu merupakan sebuah proses. Setiap manusia tentu pernah mengalaminya. Lalu, dari sekian banyak ludah yang telah saya lepeh dan telan kembali, saya pasti selalu mengingat yang satu ini: tidak menulis mesum lagi.

sumber: https://pixabay.com/id/disensor-rahasia-komunikasi-1726364/

Sejak mendekati akhir tahun 2016, tepatnya sehabis membuat cerita es krim spesial (bagi yang pernah membaca tulisan itu, kata spesial mungkin bisa kamu ganti jadi: terkutuk, sialan, bajingan, dan sebagainya), saya mulai merenungi gaya menulis di blog. Apakah saya enggak capek nulis lelucon yang berbau porno melulu? Kemudian, saya pun sampai bikin twit berikut.





Sejak twit tersebut saya buat, saya mulai berjanji kepada diri sendiri untuk mengurangi (kalau perlu menghilangkan) tulisan mesum di blog. Nyatanya? Saya masih saja mengulanginya. Saya kira ke depannya pun bakalan tetap ada. Kenapa saya berani mengatakan akan terus ada? Mungkin karena saya sudah bisa menempatkan porsi yang sesuai dalam tulisan-tulisan saya. Mungkin juga karena sekarang saya telah berdamai dengan diri sendiri. 


Namun, tidak dengan kemarin-kemarin. Terutama pada tahun 2016-2017. Kala itu, saya sering terjebak oleh citra yang saya rancang sendiri. Mulanya, niat itu saya pikirkan begini: saya pengin orang lain menilai saya buruk di dunia maya, tapi begitu bertemu di dunia nyata, orang itu mengubah pemikirannya bahwa saya tidak seburuk yang dia bayangkan—dan cenderung ke arah baik. Oleh sebab itu, saya buatlah pencitraan mesum.

Seingat saya, saya mulai bikin tulisan yang ada mesum-mesumnya itu saat tahun 2015. Awalnya, saya enggak pernah berani menuliskan hal yang jorok-jorok begitu. Tapi berhubung referensi cukup mendukung, akhirnya saya iseng mempraktikkannya. Pengaruh mesum itu di antaranya: Komik Tatang S. yang ceritanya kebanyakan horor, tapi tetap ada bagian yang menyerempet seks; cerita dewasa di internet yang pernah saya baca ketika SMK; novel Adhitya Mulya, Jomblo versi awal atau sebelum revisi; novel Eka Kurniawan, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas; cerpen-cerpen Haruki Murakami yang saya temukan di internet; buku Raditya Dika, Babi Ngesot; lagu-lagu Kungpow Chicken dan Baon Cikadap.

Jika ditanya kenapa bisa berlanjut atau keterusan, mungkin jawaban saya akan mirip seperti penjual bakso boraks yang diwawancarai oleh tim investigasi, “Ya, namanya juga coba-coba. Setelah dirasa enak karena mendapat banyak keuntungan, saya mulai ketagihan.” 

Ketika itu, saya mesti mengakui kalau menulis mesum memang ada manfaatnya. Trafik blog mulai naik secara drastis, mendapatkan banyak komentar, orang-orang pun rasanya mudah tertawa dengan lelucon semacam itu. Apalagi saat datang ke acara kopdar, ternyata ada orang yang betul-betul bertanya, “Ini Yoga yang di blog tulisannya mesum itu, kan? Kok aslinya enggak pecicilan? Malah kalem gitu?”

Citra yang saya bangun itu berarti telah berhasil.

Sayangnya, itu semua hanyalah kenikmatan semu. Lama-lama saya jadi risih sendiri dengan ledekan orang lain yang bilang saya mesum. Entah konteksnya bercanda atau serius, saya tetap curiga kalau mereka menganggap saya mesum beneran. Setelah saya pikir-pikir lagi, menulis mesum itu juga bagaikan SEO hitam. Bikin blog ramai dengan cara curang. Apa bedanya saya dengan orang-orang penggila trafikbaik yang langsung komentar tanpa membaca, ataupun yang suka komentar pakai open ID (komentarnya lebih dari satu nama, padahal tautannya itu-itu juga) supaya dapat kunjungan balik atau backlinkitu? Kemudian, puncak kekesalan saya datang ketika seorang kawan bilang kepada saya, “Udahlah, nikmatin aja dikatain mesum begitu. Itu bukti kalo branding lu berhasil banget.” 

Apakah dikenal karena keburukannya itu nikmat? 

Tidak sama sekali. Saya muak dan benci kepada diri sendiri. Diam-diam hati saya pun berbisik, carilah gaya menulis baru yang lebih baik. Namun, kita semua tentu mengerti rasanya meninggalkan hal yang buruk itu amat sulit, bahkan jika sudah berhasil suatu saat akan kambuh kembali. Berulang kali saya berusaha mencoba gaya yang lain, tapi ujung-ujungnya saya masuk ke zona negatif itu lagi. Apalagi pas udah benar-benar berusaha melepaskan diri, eh malah dapat komentar, “Kok enggak ada mesumnya lagi, sih? Ini yang nulis pasti bukan Yoga, ya? Balikin Yoga yang dulu!” 

Bedebah! Saya sungguh bertambah dongkol dengan citra mesum itu. Saya akhirnya jadi menyesali pilihan goblok waktu itu, lalu introspeksi diri untuk ke depannya. Saya pun mulai menyadari ketololan lainnya. Kalau saya enggak nyaman dengan penilaian tersebut, kenapa saya seolah-olah marah dan protes kepada orang lain? Bukankah saya sendiri yang awalnya bikin citra itu? Seharusnya itu salah saya, kan? Apa yang sudah dilepas ke publik, berarti saya mesti siap juga dengan segala risikonya. Dan yang terpenting, kenapa saya terlalu memikirkan penilaian orang lain? 

Sekarang, saya sudah tidak begitu menghiraukan omongan orang lain—apalagi yang buruk-buruk. Namun, saya pasti sangat memikirkan bagaimana ucapan orang tua saya, terutama ibu saya. Beliau yang memberi saya makan, menyekolahkan, membesarkan saya sampai seperti ini. Singkatnya, orang tua telah membiayai hidup saya. Saya enggak mau membuat mereka kecewa.

Orang tua saya sedikit-sedikit mulai melek teknologi. Keduanya pun sudah menggunakan aplikasi WhatsApp. Jadi, saya yakin mereka juga bisa mengakses blog anaknya ini. Orang tua saya kalau membaca tulisan mesum di blog ini nanti bagaimana? Meskipun saya sadar dan dapat menjelaskan bahwa menulis jorok itu cuma citra, tapi saya tahu hal tersebut bisa saja menyakiti perasaannya. Ya, mungkin mereka diam-diam juga telah membacanya, lalu bersedih sampai berlinang air mata, hingga kudu berdoa setiap selesai tahajud supaya anaknya bisa segera tobat.

Oke, imajinasi saya rasanya mulai kelewatan. 

Selain yang barusan, ada hal yang juga mengubah pola pikir saya tentang kata-kata tabu atau mesum. Saya membaca wawancara Eka Kurniawan yang membahas mengenai kenapa dia berani menuliskan kata-kata kasar atau jorok di novelnya. Misalnya, alih-alih menggunakan kata “penis”, Eka memilih kata “kontol”. Eka bilang, dia menggunakan kata-kata itu tergantung konteks. Kata itu keluar dari suara narator atau tokohnya? Jika ada kata vulgar seperti “pejuh”, itu biasanya terdapat di dialog para tokohnya. Kalau narator yang berbicara, tentu kata “sperma” yang akan dia pilih. Jawaban Eka tersebut cukup menyadarkan saya. Lalu dalam esainya, Kata-Kata yang Dibunuh, pun semakin memperkuat pemikiran saya. Eka berujar, jangan sampai kita membunuh satu kata karena kita tak menyukainya. Saya pun suka bagian ini:
Jika kita ingin memperlakukan sesama manusia dengan cara adil, saya rasa kita bisa memulainya dengan memperlakukan kata-kata dengan cara adil. Sebab sejarah telah mencatat, hari ini Anda membunuh sebuah kata, hari lain sangat mungkin Anda membunuh manusia yang mempergunakannya. 

Kesimpulan dari perenungan itu: tandanya ada yang harus saya ubah dalam gaya menulis di blog ini. Kalau memang mau tetap ada elemen mesumnya, saya mesti mencari cara supaya porsinya pas. Hal mesum itu perlu ada karena untuk kepentingan cerita, bumbu komedi, atau entah apalah itu. Bukan diniatkan untuk citra mesum lagi kayak sebelumnya. Seiring berlarinya waktu, mungkin cara saya sedikit-sedikit mulai berhasil. Terutama kala saya bikin cerpen. Pembaca sudah jarang mempermasalahkan bagian joroknya itu.

Lalu, saya pun telah belajar agar tidak terjebak dengan citra sendiri. Saya enggak pengin lagi bikin pencitraan aneh-aneh seperti dulu. Tidak mau melabeli diri saya itu bloger jenis apa. Biarkan pembaca yang menilai. Ada yang ingin menyebut saya tetap bloger curhatan kayak dulu, ya silakan. Ada yang pengin menganggap saya cerpenis, ya terserah. Ada yang mau bilang saya bloger sajak karena suka menulis puisi di blog satunya, itu juga sah-sah saja. Ada yang mau ... jadi pacar saya? 

Intinya, saya hanya ingin menjadi seorang pencerita. Apa pun bentuknya, apa pun medianya. Jika gaya bertutur dan kisah yang saya tuliskan itu masih buruk, saya cuma bisa minta maaf. Kamu dapat memberikan kritik dan masukan kepada saya, sehingga saya akan berusaha untuk memperbaikinya agar tulisan saya bisa semakin asyik dibaca. Lagian kalau tulisan saya masih jelek, itu tandanya saya memang harus lebih banyak membaca dan berlatih lagi.

-- 

PS: Berbicara soal mesum, saya jadi teringat Icha yang pernah menginterviu saya di tulisan ini: Nge-BF Bareng Yoga Akbar Sholihin. O iya, BF itu baperin film, bukan bokepin film.