Saya tahu dan sangat sadar kalau saat ini sudah memasuki bulan Mei. Namun, sajak ini memang awalnya saya tulis pada akhir Februari. Pada bulan yang konon penuh cinta itu. Saya memang payah dalam membuat judul. Oleh sebab itu, jadilah saya bikin judul yang mungkin bagimu tidak ada menarik-menariknya. Tapi ada satu pertanyaan yang terus menempel di kepala saya setiap kali membaca judul dan sajak yang saya tulis ini:

Seandainya bulan Februari itu telah berakhir, apakah cinta itu juga tidak lagi terasa penuh?



--

Apakah sejak hari itu kita tumbuh menjadi manusia yang berbeda?
Aku dengan segala keluhan yang telah kubakar habis,
hingga lupa cara bercerita dan mengabarkan berita.

Sedangkan kau dengan segala rahasia yang semakin ditutup.
Sebetulnya, kau telah menggoreskan kisahmu itu di selembar kertas,
lalu kaulipat dan masukkan ke dalam botol. Tapi botol itu sengaja tidak kaututup.

Kau melempar botol itu ke laut,
seakan-akan membuang jiwa yang hampir maut.
Kau biarkan kertasnya menjadi basah,
meleburkan waktuku yang resah.

Jadi, masih adakah kita?
Atau sebatas tumpukan kata yang bingung menyusun kalimat dan paragraf?
Malu terhadap ketololan masing-masing.
Takut kepada kejujuran yang berubah asing.
Dan, apakah puisi ini masih bisa menyelamatkan kesedihan yang bisu, buta, dan tuli?

*

Sumber gambar: https://pixabay.com/id/pesan-dalam-botol-posting-botol-413680/