Pada bulan Maret kemarin, Kemkominfo kembali memblokir Tumblr. Selain menggunakan VPN, saya nggak tahu apakah sekarang Tumblr sudah bisa kembali diakses atau tidak. Yang saya tahu, Bolt—provider yang saya gunakan—nggak bisa mengaksesnya. Akhirnya, saya memutuskan untuk berhenti menulis di sana. Berusaha meninggalkan sisi kelam saya. Melupakan cerita gelap apa saja yang pernah saya tumpahkan.



Sejujurnya, saya sedih sekali karena harus meninggalkan media yang menurut saya paling asyik itu. Meskipun saya tahu kalau di sana tulisan saya itu lebih banyak sampahnya daripada di blog ini, setidaknya saya memiliki beberapa alasan untuk selalu mencintai Tumblr ketimbang blog akbaryoga. Inilah daftar alasan saya:

1. Saya sering nggak peduli bagus atau jeleknya tulisan yang saya tampilkan di Tumblr. Padahal tulisannya masih mentah banget atau baru draf satu. Namun, saya memang cuma pengin cerita alias curhat, menuangkan keresahan di kepala, atau latihan bikin puisi. Kapan lagi saya bisa percaya diri bikin puisi tanpa harus takut dibilang doyan galau, puisinya jelek, sok penyair, dan seterusnya itu? Jadi, Tumblr sangat cocok untuk media sementara sebelum saya menyunting dan mengembangkan tulisan tersebut.

2. Sangat jarang orang yang tahu kalau saya menulis di Tumblr. Semakin sedikit yang tahu, bukankah kita bisa berbuat hal yang lebih bebas dan lepas? Ibaratkan cuma ngobrol berdua sama sahabat. Kita bisa bercerita apa saja tanpa rasa malu dan topiknya mungkin nggak akan pernah habis. Beda banget kalau ada banyak orang yang tahu atau kita berada dalam perkumpulan. Kita tentunya akan bicara seperlunya atau secukupnya. Pokoknya banyak menyensor diri. Itulah perbedaan yang saya rasakan antara di Tumblr dengan blog ini. 

3. Cuma pengin tulisannya dibaca tanpa perlu dikomentari. Entah siapa aja orang yang pernah (atau bahkan rajin) baca Tumblr saya. Saya juga tidak tahu apa saja motif mereka membaca tulisan tersebut. Mungkin ada yang baca karena betulan suka sama tulisan saya, cuma pengin cari tahu informasi saya, menertawakan sisi lain saya yang melankolis, atau apa pun itu. Saya sengaja tidak memprivasinya. Biarkan orang-orang bebas berkunjung ke Tumblr saya tersebut. Semoga, sih, tidak menyesal karena isinya sering tidak jelas dan jauh dari kata rapi. 

4. Walaupun saya tidak mengikuti akun mana pun, saya masih bisa suka baca tulisan orang-orang (tentunya yang tidak diproteksi). Saya memiliki beberapa daftar Tumblr yang saya baca dengan rutin. Mungkin saya juga hampir nggak pernah menekan tombol hati untuk menyukai tulisan itu. Alasan saya bersikap seperti itu agar tidak terlihat oleh penulisnya. Saya pengin keberadaan saya cukup sebagai pembaca senyap. Ingin hubungan antara penulis dan pembaca sebatas itu. Tidak melakukan hal lebih yang lainnya. Tidak tertuntut untuk memberikan komentar atas apa yang telah saya baca. Sejujurnya, saya merasa lebih senang kalau cuma baca tulisan orang tanpa berkomentar dan memberikan respons. Saya bisa membacanya kapan saja. Tidak perlu terburu-buru karena harus gantian blogwalking. Mungkin ini sama kayak yang saya inginkan di nomor tiga, tetapi ini kebalikannya. Kalaupun pengin banget ngasih komentar, mungkin saya akan japri orangnya. Itu pun jika kenal dan sudah punya kontaknya.

5. Karena empat itu sehat, maka saya bikin sekalian jadi lima supaya sempurna. Ya, Tumblr tampaknya ialah media sempurna untuk orang seperti saya. Selain tulisan, Tumblr bisa cuma post gambar terus dikasih caption sekadarnya. Kemudian, saya juga bisa menuliskan kutipan. Walaupun itu hanya satu kalimat. Yang jelas, saya bisa mengumpulkan kutipan-kutipan dari film, buku, lirik lagu, perkataan orang, atau malah saya bisa iseng merangkainya sendiri. Kalau di blog, kan, posting yang singkat-singkat bakalan aneh banget. 

Jadi, begitulah alasan saya mencintai Tumblr. Meskipun sebetulnya saya sadar jika tidak perlu memberikan alasan untuk mencintai sesuatu hal. Lalu, apakah kamu main Tumblr juga? Apa pendapatmu menulis di sana? Terus, gimana perasaanmu setelah tahu kalau Tumblr diblokir? Masih tetap main dengan pakai VPN, atau memilih seperti saya untuk meninggalkannya?

Ah, tapi kenapa setelah meninggalkannya selama dua bulan, saya jadi mendadak rindu Tumblr begini, sih? Sampai-sampai bikin tulisan nggak jelas begini.

--

Sumber gambar: https://pixabay.com/id/media-sosial-facebook-twitter-1795578/