Persoalan Belum Bisa Berenang

40 comments
Julukan “Kecil-Kecil Cabe Rawit” pernah melekat kala saya kelas enam SD. Alasan teman-teman sekelas memanggil saya seperti itu karena tubuh saya yang kecil, tapi sering mendapatkan prestasi di sekolah dari kelas satu. Mungkin seolah-olah saya ini terasa pedas bagi mereka. Saya, sih, cukup bahagia bisa menutupi kekurangan pada fisik saya itu dengan kecerdasan. Tapi entah mengapa ketika itu saya tetap terganggu pada hal negatifnya: “kecil-kecil” alias bertubuh kurus dan pendek.

Saya iri kepada teman-teman lainnya yang pertumbuhannya cepat. Apalagi saya termasuk tiga murid paling pendek di kelas. Saat itulah muncul hasrat untuk bertambah tinggi. Beberapa metode supaya badan bertambah tinggi pun mulai saya coba. Dari yang awalnya rutin minum susu, tapi merasa belum ada perubahan. Lalu mengonsumi minyak ikan, tapi tetap nggak ada perkembangan yang kentara. Kemudian mencoba bermain basket, tetapi wajah saya malah sering disikut teman dan mendadak malas main basket lagi. 

Setelah itu, akhirnya ada salah seorang teman yang menyarankan saya tips paling ampuh, yaitu berenang. Masalahnya, saya nggak tau cara berenang dan takut tenggelam. Terlebih lagi, saya agak trauma karena pernah terpeleset dan tercebur ke dalam empang sewaktu kelas empat SD, saat menemani ayah saya memancing. Tragedi menelan air empang itu telah membuat saya khawatir akan kedalaman air lalu kelelep. Oleh sebab itu, saya jadi nggak berani berenang hingga kelas enam SD.


sumber: galeri pribadi

Suatu hari, datanglah suatu ajakan dari teman-teman sekelas. Pada hari Sabtu, tepatnya jam istirahat sekolah, sebagian teman sekelas saya sedang membicarakan tentang janjian berenang pada hari Minggu pagi di Kolam Renang Bulungan, Jakarta Selatan. Lalu salah satu dari mereka mengajak saya. Saya pun memberikan alasan bohong kalau hari Minggu kayaknya nggak bisa, sebab diajak ke rumah sepupu di Bogor. Ia kemudian bilang kalau nggak perlu ke rumah sepupu, mending berenang karena bisa bikin tubuh saya bertambah tinggi. Saya akhirnya menjawab untuk memikirkannya lagi. 

“Ya udah kalo gitu. Misalnya lu jadi ikut, gue cuma bilangin kalo anak-anak pada janjian kumpul jam tujuh di sekolah,” ujarnya. 

Setelah pulang sekolah dan berada di rumah, rasa ngeri akan bayang-bayang tenggelam dan keinginan untuk bertambah tinggi saling beradu di dalam kepala saya. Saya bingung akan menerima ajakan berenang itu atau tidak. Sedihnya, pada hari Minggu itu saya masih saja pengecut dan memilih tidak ikut.

Pada jam istirahat keesokan harinya, anak-anak yang berenang itu langsung menceritakan segala keseruannya pada hari Minggu kemarin. Saya hanya bisa mendengarkan kisah mereka dengan dongkol. Apalagi sewaktu Nina berkata kepada Rani—salah satu dari tiga murid terpendek di kelas, “Lu kayaknya agak tinggian deh, Ran.” 

“Masa, sih?” tanya Rani, ia kemudian berdiri lebih tegak untuk membandingkan tingginya dengan tinggi Nina. 

“Iya, lu tadinya, kan, segini gue,” jawab Nina yang menjelaskan tinggi Rani awal mulanya cuma sepundaknya. “Sekarang udah lebih tinggi dikit.” 

Apakah mungkin orang bisa bertumbuh tinggi secepat itu hanya dalam sehari? Namun, saat kelas enam SD saya tidak bisa berpikir sejauh itu. Saya cuma tau satu hal: pokoknya saya kudu, mesti, wajib untuk berenang kalau nanti ada yang mengajak lagi. Intinya, saya juga pengin bertambah tinggi seperti Rani. 

Sayangnya, teman-teman sekelas tidak lagi mengadakan berenang bersama dalam waktu dekat. Saya pun agak menyesal telah melewatkan kesempatan waktu itu. Saya mendadak takut kalau tidak segera berenang nanti keberanian saya akan luntur kembali. Syukurnya, ajakan berenang dari Bayu (salah seorang teman main di rumah) segera menyelamatkan saya. 

Jadilah saya berenang hari Minggu itu bersama Bayu dan beberapa teman lainnya di Bulungan. Bayu mengajarkan saya untuk jinjit atau loncat-loncat di air agar cepat bertambah tinggi, lalu kami juga main tahan-tahanan napas siapa yang terkuat. Berenang pada hari itu saya sempat menelan air, serta air pun masuk ke hidung karena beberapa teman iseng melelepkan kepala saya. Tapi ternyata itu tidak apa-apa. Nggak seseram ketakutan saya sebelumnya. Kekhawatiran saya soal berenang perlahan mengikis. Saya justru ketagihan ingin berenang lagi. Ya, meskipun kenyataannya cuma main-main aja di air.

Seiring bergesernya waktu, sekitar tahun 2007, saya sudah berada di tingkat SMP. Ketika itu saya sudah lebih dari sepuluh kali datang ke kolam renang, tetapi masih saja belum dapat berenang dengan benar. Bayu dan beberapa teman lain kemudian mengajak saya berenang ke tempat yang lebih menarik. Waktu itu, di bilangan Pondok Indah terdapat kolam renang yang menyediakan seluncuran. Memang harganya bisa berkali-kali lipat lebih mahal dari kolam renang yang ada di Bulungan. Saya juga mesti menabung dari jauh-jauh hari demi bisa membeli tiket masuknya.

Namun, sepulang dari kolam renang yang terdapat seluncurannya itu saya semakin merasakan kepuasan berenang. Apalagi keinginan saya pun akhirnya terwujud, saya mulai bertambah tinggi. Setelah itu, saya juga seakan-akan mendapatkan kesimpulan: kalau orang yang belum bisa berenang pun tetap bisa seru-seruan menikmati wahananya. Saya pun akhirnya jadi lebih suka dengan kolam renang yang terdapat wahananya. 

Berbicara tentang kolam renang yang memiliki wahana, Atlantis Water Adventure, Ancol, Jakarta Utara ialah salah satunya. Di area Atlantis ini terdapat beberapa jenis kolam; dari mulai kolam ombak, kolam arus, kolam tanding, kolam khusus anak-anak, dan seterusnya. Apalagi baru-baru ini Atlantis juga terdapat dua wahana baru: “Dragon Race” dan “Sky Box”. 

Seminggu yang lalu atau tanggal 27 Maret 2018, saya berkesempatan hadir di acara launching-nya. Dalam acara itu, salah satu perwakilan dari Manajemen Taman Impian Jaya Ancol menyampaikan kalau bisnis rekreasi air ini ketat. Agar bisa bertahan, para tim manajemen harus terus melakukan inovasi. Salah satu upayanya tentu saja dengan menambah wahana. 

Sebelumnya, Atlantis sudah memiliki wahana seluncuran yang seru dan cukup memacu adrenalin, yakni “Crazy Slide” dan “Dragon Slide”. Dengan ditambahnya dua seluncur baru, “Dragon Race” dan “Sky Box”, semoga para pengunjung bisa semakin menikmati keseruannya dan menantang adrenalin mereka. 


Dragon Race 

 
sumber: Kamadig

Wahana ini memiliki empat jalur yang berdampingan dan cocok dijadikan sebagai ajang kompetisi bersama teman, sahabat, atau keluarga. Seluncuran yang kurang lebih sepanjang 116 meter ini memang bisa dijadikan seolah-olah perlombaan untuk empat orang, siapa yang paling cepat sampai ke ujung seluncuran. Untuk menikmati seluncuran ini, setiap pengunjung wajib menggunakan matras khusus yang sudah disediakan. 


sumber: Kamadig


Sky Box


sumber: Kamadig

Sedangkan di wahana ini, pengunjung akan masuk ke dalam sebuah tabung kaca dengan mendengarkan hitungan mundur, setelah itu lantai tabung pun akan terbuka. Dalam momen ini, pengunjung akan merasakan sensasi jatuh bebas pada kemiringan 80 derajat dari ketinggian 14 meter dan meluncur dengan kecepatan hingga 56 km/jam atau setara dengan 5 detik di seluncuran sepanjang 78,6 meter ini. Sungguh sensasi yang betul-betul mendebarkan. 

Karena kedua wahana seluncuran baru ini cukup memacu adrenalin, maka ada beberapa syarat yang wajib dipenuhi oleh para pengunjung. Pertama, tinggi badan minimal 120 cm dan bagi anak di bawah usia 12 tahun harus ada pendampingan dari orang tua. Kedua, pengunjung diwajibkan memakai pakaian renang (cowok-cowok cukup memakai celana boxer). Ketiga, tidak menggunakan jam tangan, aksesoris, dan perhiasan (agar tidak hilang ketika kamu mencoba kedua wahana ini). Keempat, dilarang meluncur bagi ibu hamil dan yang memiliki penyakit jantung. Dan tambahan, tentunya tubuh harus dalam kondisi fit.

Nah, jadi dengan adanya wahana-wahana seru seperti “Dragon Race” dan “Sky Box”, orang-orang yang belum bisa berenang masih tetap bisa menghibur dirinya dan asyik-asyikan, bukan? Terus, apakah kamu berani menantang adrenalin dan mencoba dua wahana baru di Atlantis ini? Tunjukkan merahmu! 

-- 

Saat weekday, Atlantis dibuka mulai jam: 08.00 – 18.00 WIB. Untuk tiket masuknya sebesar Rp95.000. Ketika weekend, jam bukanya lebih awal: 07.00 – 18.00 WIB, terus tiketnya seharga Rp130.000. Kalau untuk long weekend premium, harga akan berubah menjadi Rp145.000. 

PS: kalau bisa, datang pas weekday karena pengunjungnya nggak terlalu padat. Sehingga kamu bisa lebih menikmati wahananya dan nggak perlu mengantre lama seperti saat weekend.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

40 comments

  1. Waaah aku pengin nyoba sky boxnyaaa, penasaran sensasinya kayak apa.. Hhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayak ngebelah atmosfer berlapis-lapis, meluncur bareng paus akrobatis, menuju rasi bintang paling manis~

      Oke, ini mah iklan kopi.

      Delete
  2. Terus sekarang udah bisa berenang? 😅

    Jadi inget dulu bisa berenang Gegara dilempar sama bapak ketengah sungai waktu masih kelas 1 atau 2 SD. 😂

    Iya, sih.. Wisata wahana air bakalan rame setiap ada inovasi baru. Apalagi kalo emang wahananya udah banyak. 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum, masih begitu-begitu aja, Rum. Ahaha. Gokil, dilempar ke tengah sungai. Itu ayahmu kalau dipikir-pikir kok sadis juga.

      Delete
  3. Ibu ibu hamil dilarang naik sky box mungkin krna emang perutnya yg gak muat.

    Dimakassar sndiri wahana kyak Atlantis cman ada di Bugis watermark Yog. Hrga masuknya hmpir2 sama dengan Atlantis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bahahaha. Takut kenapa-kenapa juga sama kandungannya euy.

      Oh, cuma ada satu yak? Saya nggak tau tentang Makassar soalnya, Rey. Hehe.

      Delete
  4. Dari baru lahir sampai usia SMA, saya suka tuh main ke wahana air yang banyak perosotan tinggi, perosotan bauay, atau kolam arus. Tapi semenjak kuliah saya menyadari, bahwa kebutuhan saya terhadap air adalah kolam yang tidak berkaporit.

    Ini sosoan, tapi tidak bisa dicegah.

    Tapi kalau ada yang mau membayari, saya ayo aja.

    Kalau anak manusia bisa trauma berenang karena pernah tercebur, apakah berlaku sebaliknya pada anak ikan ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi, kolam renang yang ada wahanannya itu berkaporit kah, Nid? Yeh, ujung-ujungnya minta gratisan. :p

      Bisa jadi. Mereka terus menganggap daratan menyeramkan. Bayangin aja nggak bisa bernapas~

      Delete
  5. Sebagai orang yang belum pernah masuk ke wahana air gitu, saya biasa aja sih. apaan. ngga tau kenapa nggak terllau tertarik main wahana2an. masa excitednya udah lewat kayaknya saya. atau mungkin sellau mikir kalo ke sana bisanya sendiri, jadi gak asyik... entahlah..

    yang jelas, sebagai bocah kampung, wahana renang di sini ya sungai kapuas. memacu adrenalin pas aliran airnya deres. juga lompat dari jembatan yang tingginya sekitar 5-7 meter. atau main sampan rame2, grup, terus lomba menggulingkan sampannya. taruhan nyawa lah. jadi kalo gak bisa berenang, disuruh main disungai yg airnya surut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo sendirian saya belum pernah, sih. Pasti selalu bareng temen, jadinya terasa seru-seru aja.

      Saya juga pernah tuh lompat di alam bebas gitu, Haw. Sewaktu liburan ke Bogor. Lompatnya ke kolam yang ada di curug. Saya naik ke tempat yang cukup tinggi, terus lompat dan byur~ Itu sebenarnya dilarang kalo nggak salah. Cuma saya dan temen-temen nekat aja. Adrenalinnya lebih terasa kalo dipikir-pikir. Huwahaha.

      Delete
  6. Asik sih main air.
    Tapi ya gitu, klo gabisa renang takut kelelep juga😂

    ReplyDelete
  7. Pingin nyobain sky box nya tapi saya takut air, gimana dong? XD

    ReplyDelete
  8. Mata pelajaran yang paling tidak saya sukai sejak SD xD
    Main air seru, sih. Tapi karena pernah sempat kebawa arus di kali di kampung mbah, saya jadi trauma kalau ada adegan tenggelam-tenggelam. wakakak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh, ada pelajaran berenang, Nur? Di sekolah saya dulu nggak ada. Wahaha. Oke, berarti pengalaman masa kecil gitu emang suka bikin trauma, ya.

      Delete
  9. 2007 aku udah SMA -_- oke
    aku juga gak bisa berenang malah males banget klo ngikutin murid2 pada berenang
    cuma klo maen aer sih oke2 aja
    btw itu sky box kayak mo ke luar angkasa
    segimana horor tuh kelemparnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak perlu merasa lebih tua gitu, Bang. :D Ya, kebanyakan pada main-main air, sih. Yang betulan berenang termasuk jarang. Wq. Bukan kelempar, tapi kayak jatuh ke lubang. Hehe.

      Delete
  10. Saya pun, sampai sekarang belum bisa itu yang namanya berenang ngambang di kolam. Kalau tenggelam, nah baru jago. *Astaghfirullah...jangan*

    Dulu jaman SMP pernah kan ikut piknik bareng bapak, ke wahan air macam ini juga. Isenglah nyoba perosotan yang langsung meluncur ke kolam kayak Dragon Race gitu. Sampai bawah bukannya lanjut renang, malah kelelep, terus ditolongin sama life guardnya. Wahaha...apa banget ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoi, Mas Wisnu ini ahlinya gaya batu~

      Lah, kolamnya dalam banget? Biasanya kalau yang seluncuran gitu palingan sedada atau seleher bocah. Makanya suka ada peraturan tinggi minimalnya. :D

      Delete
  11. Uwaaah yog, yg sky box itu kok agak mirip wahana di waterpark dubai yg aku incer jg.. Tp kalo di sana ntr seluncurannya melewati terowongan bawah air.

    Aku tuh les renang dr kelas 1-5 sd. Lancar dulu. Sampe pernah lomba segala. Tp kls 5 sd dilarang berenang lg ama papa krn dianggab udh gede dan mulai mikirin aurat. Sampe skr jadinya ga prnh renang lg. Prnh nyoba sekali, aku tenggelam dooong. Lgs takut. Berarti renang itu ga sama kyak naik sepeda. Kalo naik sepeda kan mau vacum lama tp ga prnh lupa caranya :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Denger-denger, wahana Sky Box emang didatangkan langsung dari Eropa, Mbak. Cuma saya kira jelas berbeda, sih. Ehe. Lebih mewah yang di Dubai. :D

      Kalau kata orang, pisau yang jarang diasah akan tumpul. Jadi, mungkin kemampuan renangnya jadi berkurang atau turun, Mbak. Oke, saya sok tahu sekali~

      Delete
  12. Hahahaha gue juga sih, tapi kayaknya lebih keren dari lo gitu yog. Sekali napas, terus hanyut ngikutin arus..

    Tapi segabisagabisanya gue berenang, gatau kenapa gue lebih milih buat berenang di kolam renang biasa gitu. Baru sekali nyoba yang ada wahana-wahananya dan malah lari-larian doang. :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, beginilah saya. Emang nggak keren sama sekali kalo berenang. Wahaha. Hm, berasa mubazir ya kalo lu berenang di tempat yang ada wahananya, Di. :D

      Delete
  13. Gue dari kecil dipaksa minum Scott Emulator (emusion-gimana sih ngetiknya?) Selama dua tahun. Minumnya susu boneeto yang hadiah sticker glow in the dark itu lho. Nggak tau ngaruh atau nggak buat tinggi badan.

    Masalah renang, gimana ya, hmm, gue nggak bisa renang. Bisa sih. Cuma tiga gaya: gaya batu, gaya kucing kecebur, sama gaya sekarat berharap ada cewek bohai mau nolongin terus ngasih napas buatan.

    Tiap pelajaran olahraga ada renang, gue cuma datang doang. Nggak renang. Gantinya disuruh nulis apalah gitu dua halaman penuh. Dan tetap harus bayar uang renang. Anjay.

    By the way, tempatnya menarik itu. Sayang, gue yang nggak bisa explore kalau ke sana. Foto-foto doang paling. Huhu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Scott Emulsion, Ndre. Banyak yang bilang itu ngaruh. Cuma, saya merasa gitu-gitu aja. :(

      Gaya ketiga itu apaan wey?! Tapi kayaknya boleh juga buat saya coba. Lah~

      Jadi inget cerita temen. Dateng doang nggak apa-apa, asal bayar biaya tambahan kalau nggak mau renang. :))

      Delete
  14. Sejak kapan ni anak berubah jadi kata ganti saya?

    Ehmmm, itu trauma di empang bukan karena ada pisang goreng kuning kan yog ahahaa
    #jahat amat gue ngetawain kisah tragis yoga, duuuh kmudian dislepet
    Daerah bulungan mlh gue teringat urband legend yg ada tempat angker wakkkk

    Ngomongin renang termasuknya gue ketelatan, klo di usia segini uda ga bisa nambah tinggi lg dong yah, dah mentok
    #lalu ku menyesal dulu ga pernah diajakin olahraga renang waktu kecil

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sejak akhir 2017. Bukan, Mbak. Nggak ada benda kayak gitu di tempat pemancingan. :D
      Yah, saya juga merasa telat karena tinggi sekarang nggak sampai 170 cm. :')

      Delete
  15. jadi pengen nyoba wk wk . tpi tromaaaaaaaaaaaa.

    ReplyDelete
  16. aku penasaran pengen coba wahana ini juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cobain secepatnya biar nggak penasaran lagi, Koh~ :p

      Delete
  17. Saya bisa berenang, gaya batu tapi wkwk. Masih noob lah baru gaya bebas doang bisanya ngapung aja gak bisa. Wah berarti saya juga gak boleh naik sky box soalnya gak kuat, apalagi naik sky box tiba-tiba liat mantan berenang sama gebetannya.

    Ya engga gitu juga sih haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, paling kita nggak jauh beda. Berenang yang penting basah dan bisa main air. Haha. Tapi kayaknya kemungkinan ketemu mantan di kolam renang itu tipis sekali, Sep. :(

      Delete
  18. Memang lumayan mahal sih, akan tetapi ini menyenangkan sekali., saya jadi penasaran

    ReplyDelete
    Replies
    1. Standar harga tiap orang berbeda-beda, Mas. Buat saya juga lumayan mahal, tapi kan jadi bisa coba keseruannya. Terbayar juga sama kepuasan~ :D

      Delete
  19. Tapi, kayaknya tinggi badan juga dipengaruhi sama gen, sih. Ngomong-ngomong soal renang, gua juga sampe saat ini gak bisa berenang. cuma bisa main-main air doang di pinggiran. Kalo ada cewek cantik tenggelam, gua cuma dapat tugas ngambilin sendalnya yang hanyut doang. menyedihkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Man. Gen tetep memengaruhi. Kalau keturunan orang-orang pendek, ya buat tinggi tentu sulit banget. :(

      Hmm, betul juga. Kalau belum bisa berenang, kita bakal melewatkan kesempatan untuk menolong perempuan cantik (seperti yang lu tulis) yang tenggelam. :')

      Delete
  20. Kujadi ingin bernyanyi, Yogs.

    Dan berenanglah bersamaku, ke hingarnya langit biru ~

    ReplyDelete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.