Musik sebagai Teman Menulis

34 comments
Banyak orang yang membutuhkan keheningan dalam proses menulisnya. Saya pun demikian. Suasana ketika kebanyakan orang sudah terlelap dalam tidurnya sering saya gunakan untuk menulis. Saya tahu itu tidak baik untuk kesehatan saya. Tubuh yang semestinya istirahat, tapi justru dipakai bekerja. Namun, ada saatnya saya menulis kala terbangun dari tidur. Biasanya sekitar pukul 3 sampai 4 pagi atau sebelum waktu subuh.

Anehnya, terkadang saya memerlukan musik sebagai teman menulis. Sendirian malam-malam di kamar yang sunyi cukup sering membuat saya bergidik. Kalau tiba-tiba ada bunyi aneh atau gaib entah dari mana, bisa-bisa saya gagal menulis dan beranjak tidur. Oleh karena itu, saya memilih mengelabui ketakutan itu dengan mendengarkan musik agar tetap bisa menghasilkan tulisan.

Lagu-lagu yang saya dengarkan ketika menulis biasanya adalah musik instrumental. Dari beberapa artikel yang pernah saya baca, lagu tanpa lirik konon membuat pendengarnya jadi lebih fokus, serta dapat meningkatkan kinerja otak. Saya cukup sepakat dengan pernyataan tersebut, sebab begitulah yang saya alami jika menulis sambil mendengarkan musik instrumental.



Dari sekian banyak lagu instrumental yang saya dengarkan, inilah daftar yang rutin saya putar untuk menemani saya menulis.


Explosions in The Sky - Your Hand in Mine


Saya sejujurnya tidak banyak tahu tentang band asal Texas ini. Mengingat pertama kali mendengarkan lagunya ketika saya sedang membuang-buang bonus kuota malam dengan membuka Youtube dan membiarkannya autoplay. Saya tidak menonton videonya karena saya seraya menulis sebuah cerpen di Ms. Word. Sampailah saat dada saya tiba-tiba terasa sesak, lalu meneteskan air mata pada sebuah adegan yang saya karang itu. Saya pikir, saya terlalu berlebihan sewaktu berimajinasi. Namun, saya akhirnya sadar kalau ini pengaruh dari sebuah lagu.

Your Hand in Mine ternyata seberengsek itu. Merasa ketagihan akan lagu Explosions in The Sky, saya coba mencari lagunya yang lain.

Explosions in The Sky - Trembling Hands



Berbeda dengan judulnya, alih-alih tangan saya gemetar, justru proses menulis jadi lebih lancar. Ketika telinga saya menyerap bunyi tabuhan drum dan permainan gitar di lagu ini, tiba-tiba tangan saya seolah begitu lincah dalam mengetikkan kata demi kata. Saya sungguh merasa heran bagaimana musik memiliki kekuatan mistik seperti ini.

Sepanjang lagu ini terputar atau dalam waktu 3 menitan (dalam versi albumnya), saya bisa lebih cepat menuangkan pikiran-pikiran saya. Masa bodoh dengan alur yang berantakan, yang terpenting saya bisa menghasilkan ratusan kata. Biasanya saya sedikit-sedikit akan menghapusnya kembali, padahal yang tertulis baru dua atau tiga kalimat. Setelah kesulitan itu teratasi berkat lagu ini, saya rasa, lagu-lagu Explosions in The Sky memang memiliki daya magis yang hebat. Dan, dugaan saya terbukti sehabis mendengarkan lagu berikutnya.

Explosions in The Sky - Only Moment We Were Alone



Lagu ini betul-betul cocok untuk menikmati kesendirian. Jika saya lagi bersedih dan tak mampu mengeluarkan air mata, saya entah mengapa menyetelnya. Menangis atau tidak menangis seusai mendengarkan lagunya, pokoknya saya tetap merasa lebih lega.

Tidak jarang lagu ini juga membuat saya merenungi banyak hal. Mungkin lagu ini sengaja diciptakan untuk mengajak pendengarnya berkontemplasi. Selagi termenung pas mendengarkan lagunya, berbagai ide kerap melintas di kepala saya. Lalu untuk merasakan nikmat dalam kesendirian itu sendiri, lazimnya saya akan menulis. Menurut pengalaman saya, mendengarkan lagu ini sambil menulis ialah kombinasi yang aduhai.

Nah, beberapa alasan itulah yang membuat saya memutuskan untuk menjadikan ketiga lagu tersebut sebagai teman saat sedang menulis. Mungkin masih banyak lagu-lagu mereka yang terasa lebih dahsyat, tapi saya belum mendengarkan keseluruhannya. Baru tiga itu saja yang paling menempel buat saya.


Teen Daze - Discipleship



Perkenalan saya dengan musik ini juga secara tidak sengaja. Karena di ponsel saya tidak mengunduh Spotify maupun Joox, saya kerap memutar musik di SoundCloud. Saya lupa waktu itu sedang mendengarkan lagu apa, tapi kemudian lagu dari Teen Daze ini akhirnya terputar dan saya menyukainya. Saya merasa begitu rileks setiap kali menangkap nada-nada yang mereka mainkan. 

Lucunya, saya sama sekali tidak mencari tahu tentang band ini. Saya suka dengan satu lagunya dan sudah cukup. Walaupun belum terasa candu seperti saya mengenal Explosions in The Sky, tapi lagu ini selalu saya putar untuk menghilangkan ketegangan selama menulis. Lagu ini seakan-akan menjauhkan saya dari rasa takut akan hasilnya yang buruk, tidak berfaedah untuk pembaca, atau perkara-perkara lainnya.

Balmorhea - Bowsprit



Bukannya mendapatkan rekomendasi dari seorang teman mengenai musik-musik yang asyik, lagi-lagi saya menyukai sebuah lagu yang saya temukan secara acak. Serupa dengan lagu sebelumnya, lagu ini juga terputar begitu saja kala SoundCloud memainkan lagu-lagu yang terkait. Saya awalnya nggak tahu arti bowsprit, bahkan saya sempat salah baca menjadi bowspirit. Terus berpikir kalau lagu ini semacam panah semangat yang ditembakkan dan menancap di tubuh saya. Sebagaimana panah yang harusnya melukai, ia malah membuat jiwa saya damai.

Sayangnya, saya tidak puas dengan pelesetan konyol itu. Lalu saya coba cari di kamus yang rupanya berarti: cucur. Saya malah bertambah bingung. Loh, cucur itu, kan, nama kue. Emang di luar negeri pada tahu kue cucur juga? Syukurnya di KBBI ada beberapa arti selain kue yang terbuat dari tepung beras dan gula merah itu, yakni: 1) pancaran menurun tentang air mata; 2) bagian perahu sebelah depan yang menganjur panjang.

Akhirnya, saya simpulkan sendiri kalau itu tentang air mata saja. Setidaknya, itulah yang saya rasakan ketika mendengarkan lagunya. Seakan-akan saya habis menangis dan merasa lebih lega dari sebelumnya.

The Trees and The Wild - Saija



Nah, kalau band ini barulah saya tahunya dari seorang teman. Saat semester awal kuliah, saya dijejalkan lagunya yang berjudul Empati Tamako. Begitu tahu kalau saya terpikat akan lagunya, tak lama setelah itu teman saya mengajak saya untuk menonton konsernya. Dari beberapa lagu yang mereka mainkan sewaktu konser, lalu saya benar-benar merasa jatuh hati pada lagu berjudul Saija.

O iya, Saija ini adalah pengecualian dalam lagu tanpa lirik dalam daftar yang saya buat. Setidaknya, lagu ini berlirik singkat dan mirip instrumental bagi saya. Penjelasan lebih tentang lagu ini sudah pernah saya tulis sebelumnya (silakan klik tautan).

Ya, itulah lagu-lagu yang kerap saya putar selama menulis dan telah membantu saya menciptakan berbagai tulisan di blog ini; baik itu curhatan, ulasan, esai, cerpen, ataupun puisi. Lalu, apa lagu favoritmu sebagai teman menulis? Apakah sama kayak saya yang juga mendengarkan musik instrumental? Terus, adakah salah satunya dalam daftar barusan? Apa pun lagu yang kamu dengarkan itu, mari berbagi referensi musik di kolom komentar.

--

Gambar saya pinjam dari Pixabay.

PS: Untuk mendapatkan daya magis yang maksimal, saya mendengarkan lagu-lagu ini menggunakan earphone.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

34 comments

  1. kalo aku ndengerin lagu pas nulis itu nggak wajib sih. kadang aku cuma butuh suara aja. misalnya suara jangkrik, kodok, atau kalo pas nggak di desa suara mobil-mobil yang lewat (kebetulan kosanku deket jalan tol). kadang suara-suara itu bikin aku nyaman dan lancar pas nulis.

    kalo lagu biasanya aku dengerin lagunya silampukau, atau lagu-lagu indie, atau kadang acak yang penting didengerin bikin nyaman pas nulis.

    oh iya, selain lagu, rokok dan kopi adalah teman yang cocok buat nulis. bagiku sih wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, saya juga terkadang aja, Co. Lebih sering pas suasana hening. Musik instrumental sebagai alternatif. :D

      Silampukau musiknya bagus, tapi nggak cocok kalau saya dengerin sambil nulis. Haha. Karena saya nggak ngerokok dan udah jarang minum kopi, paling saya ganti pakai camilan dan susu.

      Delete
  2. Wow itu musik yang bang yoga sukain genrenya agak rock gitu yak? Rock alunan melow huehehe. Gue anak 90an sama sekali ga tau artis-artis sama lagu-lagunya yang dipaparin, belum pernah tau dan belum pernah denger musiknya juga sebelumnya. Apa itu lagu genre 90an jangan-jangan? Loh tapi kok gue gak tau ya.

    Kalo musik untuk teman menulis gue yaitu cukup denger instrument dari dentingan piano aja, karena kalau bikin cerita atau puisi tema melow cocok banget sambil denger alunan pianonya hehehe. Lu berimajinasi sambil nangis? Wew cuma imajinasi bisa bikin perasaan ikut gejolak, luar biasaaaa :))

    willynana.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya suka genre apa pun selagi lagunya enak didengar, Na. Saya tahunya juga baru tahun lalu, kok. Kalau TTATW pas zaman awal kuliah. Haha.

      Denting piano, kala jemari menari~ Iya, waktu itu pas lagi membayangkan suatu adegan. Efek dari musik sepertinya.

      Delete
  3. Gw malah kl nulis ada suara bubar jalan idenya. Ora iso blass.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bloger satu ini butuh konsentrasi tingkat tinggi. Hm~

      Delete
  4. dulu aku malah sukanya mencak2 pake lagu 48 bersaudara (WOTA detected >.<)
    sekarang yah gausah ditanya lagi lagu2 philpop lah, apalagi yang jadul, enak2
    btw aku juga suka teen daze tapi yang judulnya cycle
    biasanya temen kos muter pas pagi2
    feelnya dapet banget
    yang penting gak puter via vallen aja klo nulis, malah gak bisa konsen wkwkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi JKT48 itu musiknya emang bikin semangat~ Saya cuma dengerin satu lagunya itu aja, Mas. Mau coba dengerin Teen Daze yang Cycle kalau gitu, ah. Haha.

      Kalau Jaran Goyang Mbak Nella bisa konsen nggak?

      Delete
  5. Tadinya, saya pikir di tulisan ini adalah musik-musik yg ada liriknya, dan kemudian berkomentar “tidak setuju!”

    Tapi ternyata, musik instrumental toh, kalo genre kayak gini sih emang cocok buat teman menulis.

    Untuk musik instrumental sendiri, memang sering saya dengar juga sih, tapi kadang gak pernah tau siapa yg memainkannya. Maklum secara random. Tapi saya tau satu band dari Indonesia yg pernah memainkan musik instrumental, Noah. Itu juga remake dari beberapa lagunya, menjadi album full instrumen.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan asal menilai sebelum membacanya sampai habis, Bang Dian. :p Eh, Noah pernah bikin full instrumen? Baru tahu ini saya.

      Delete
  6. Kalau aku suka sama lagu Ed Sheran yang Perfect buat nulis :D Lagunya romantis sih, haha.

    ReplyDelete
  7. Yang penting muter musiknya dari musik player, jangan youtube

    Soalnya bakal sering tergoda buat nonton videonya
    Nanti endingnya nulisnya 15 menit, youtuban nya 5 jam -____-

    #sering

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, betul sekali. Nonton video konser itu sungguh godaan berat menulis. Tapi saya biasa puter musiknya di SoundCloud, sih. :D

      Delete
  8. Kalau nulis kreatif (yang bener-bener ngarang), udah nyoba beberapa kali pake lagu mau ada lirik atau nggak, tetep aja gabisa fokus gatau deh haha.

    Tapi setuju kalo instrumen bisa fokus. Biasanya sih kalau belajar sambil ngerangkum gitu. Tapi dengerinnya mozart, beethoven huehehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nulis cerpen gitu? Kadang malah bisa membangun suasana buat saya. Hahaha. Yap, musik Mozart dan Beethoven bisa juga tuh.

      Delete
  9. Untung lu bikin postingan ini yog. Jadi tau Explosions in The Sky gw hehe. Gw dengerin berulang-ulang itu musik instrumentalnya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngeblog, kan, tidak melulu harus menginspirasi. Bisa juga dengan berbagi referensi. Enak banget, Yan? :D

      Delete
  10. Saya malah gak bisa nulis sambil dengerin lagu mas yoga
    lebih seneng keheningan
    Karena lebih bikin kepala lebih fresh dan bisa mengumpulkan ide ide yang akan di tuangkan
    saya pernah sambil dengerin lagu malah gak fokus
    tapi mungkin beda beda orang ya..

    temen saya nulis cuma secangkir cokelat hangat hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, beda-beda setiap orang. Ada yang malah harus pakai musik. Syukurnya, saya bisa keduanya. :)

      Delete
  11. Palong suka Explosions in The Sky - Only Moment We Were Alone.. Ngenaaa bangeeeet

    ReplyDelete
  12. Kalo gue sih biasanya dengerin Monita Tahalea, suaranya adem bikin tenang. Kalo nggak itu biasanya YUI, atau kadang-kadang dengeriin Podcast juga mantap serasa ada temen ngobrol...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seriusan sambil denger podcast, Rul? Saya nggak bisa begitu. Seringnya malah mencatat ide-ide dari menyimpulkan apa yang saya dengerin itu. Ehe.

      Delete
  13. akhirnya ada juga yang nulis tentang referensi musik untuk menemani menulis. kalau aku sendiri sih udah jatuh cinta dengan explosions in the sky, tapi hanya beberapa lagu saja. paling sering aku putar jika mood lagi turun banget atau lagi menyendiri lebih suka muter first breath aftercoma. entah kenapa dengan lagu itu lebih bisa menginstropeksi diri dan bisa meredam amarah dan hal hal negatif lainya.


    pernah dengar band MONO dari Jepang bang? lagu - lagunya instrumental juga. salah satu lagu wajib menemani untuk menulis dan dikala gundah. apalagi lagu nya yang berjudul Ashes in the Snow dalam albumnya hymn to the Immortal Wind paling favorit dan selalu di puter.

    selain itu ada beberapa band dan genre musik yang menjadi teman setia menulis. ada Mogwai, Sigur ros, fleet foxes, cigarette after sex, psydelic & stoner rock, atau blues.

    semua menjadi satu kesatuan dan memberi energi tersendiri untukku.
    terima kasih sudah berbagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh, First Breath After Coma itu ternyata enak juga. Saya tadi coba dengerin. Dalam banget gitu. Mengena di hati~

      Pernah dong. Cuma saya belum dengerin lagu-lagunya lebih jauh. Awalnya dengerin Toe, terus musik yang terkait muncul MONO. Itu Toe dari Jepang juga, kan?

      Dari yang kamu sebutkan, Sigur Ros dan Fleet Foxes doang saya tahunya. Hahahaha. Yap, makasih sudah menambahkan. :D

      Delete
  14. mungkin ini salah satu athem saya ketika bener bener stuck ga ada ide buat nulis judul lagunya this coldest heart "salah satu lagu dalam album burgerkill venomous" benar benar dalam maknanya

    satu lagu band untuk tambahan, semoga menyukainya We Lost The Sea dalam album depature songs. sepertinya mas yoga cocok dengan genre musiknya

    ReplyDelete
  15. depapepe ngga suka broo ? aku sukanya itu sih
    itu instrumental kan yah tanpa lagu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pernah dengerin, tapi agak kurang cocok sepertinya saya. Ehe.

      Delete
    2. mungkin karna akustik kali yah
      band indo ada juga yg sering ngeluarin singel instrumental di tiap albumnya ada satu sih
      andra &the backbone


      Delete
  16. Saya mau usul playlist dari saya ya, Yogs. Mungkin ada yang cocok. Entah playlistnya. Entah kamu dengan sayanya. Kan bisa dicoba.

    1. DJ Okawari - Flower Dance (percayalah, meskipun DJ, tapi gubahannya bukan EDM kok, justru lebih ke piano macem Pachebel gitu)
    2. Ryan Cohen - Wintersleep (nggak tahu udah ini enak banget sumpah. harus coba!)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah dengar. Cukup enak di telinga. Musiknya menawarkan rasa tenang dan hening. Mantap!

      Delete
  17. Nice post. Cocok banget nih sama gue yang emang suka banget dengerin musik sambil menulis.

    Oke, beda orang beda kebiasaan kali ya. Tapi bagi gue, menulis tanpa musik justru garing. Bahkan lebih seringnya gue menulis ditemenin musik yang berlirik, yang bagi sebagian orang mungkin akan menganggapnya aneh. Bagi mereka itu mungkin distraksi, tapi bagi gue, itu mood booster. Dengan musik, gue bisa bebas ngembangin benak untuk mengembara kemana aja, dan untungnya, itu justru ngebuat tangan gue bergerak lancar di atas keyboard. Sayangnya, gue belom bisa konsisten, hehe :p

    Explosions In The Sky... Gue belom pernah dengerin mereka, dan begitu coba rekomendasi lo... wow, ternyata keren. Bagus, bagus, gue suka musiknya. Cocok untuk nemenin apa pun malah. Yang "Ony Moment We Were Alone" itu bener kata lo Yog: "Mungkin lagu ini sengaja diciptakan untuk mengajak pendengarnya berkontemplasi". Kalo TTATW yang Saija, itu juga suka karena lo sempet naro reviewnya kan di blog ini.

    Hm, kalo harus nyebutin lagu favorit sebagai teman menulis bagi gue cukup sulit, karena macem-macem dan ngga satu atau dua lagu doang yang sering didengerin, tapi beda-beda hehe. Intinya, yang sesuai ama selera gue dan sekiranya bisa bertahan dalam waktu lama di kepala karena pasti akan sering gue puter sepanjang proses menulis :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, tergantung kebiasaan orang itu saat menulis, Bay. Yah, saya juga nggak konsisten-konsisten amat nih. Wqwq. Syukurlah kalau rekomendasi saya disukai orang lain. Hoho. Ya, pokoknya asyiklah dengerin musik mereka. :D

      Oh gitu, yak. Mungkin karena saya sengaja bikin playlist setiap menulis dengan lagu-lagu di daftar ini. Jadinya, ya, terbiasa dengerin terus.

      Delete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.