Banyak orang yang membutuhkan keheningan dalam proses menulisnya. Saya pun demikian. Suasana ketika kebanyakan orang sudah terlelap dalam tidurnya sering saya gunakan untuk menulis. Saya tahu itu tidak baik untuk kesehatan saya. Tubuh yang semestinya istirahat, tapi justru dipakai bekerja. Namun, ada saatnya saya menulis kala terbangun dari tidur. Biasanya sekitar pukul 3 sampai 4 pagi atau sebelum waktu subuh.

Anehnya, terkadang saya memerlukan musik sebagai teman menulis. Sendirian malam-malam di kamar yang sunyi cukup sering membuat saya bergidik. Kalau tiba-tiba ada bunyi aneh atau gaib entah dari mana, bisa-bisa saya gagal menulis dan beranjak tidur. Oleh karena itu, saya memilih mengelabui ketakutan itu dengan mendengarkan musik agar tetap bisa menghasilkan tulisan.

Lagu-lagu yang saya dengarkan ketika menulis biasanya adalah musik instrumental. Dari beberapa artikel yang pernah saya baca, lagu tanpa lirik konon membuat pendengarnya jadi lebih fokus, serta dapat meningkatkan kinerja otak. Saya cukup sepakat dengan pernyataan tersebut, sebab begitulah yang saya alami jika menulis sambil mendengarkan musik instrumental.



Dari sekian banyak lagu instrumental yang saya dengarkan, inilah daftar yang rutin saya putar untuk menemani saya menulis.


Explosions in The Sky - Your Hand in Mine


Saya sejujurnya tidak banyak tahu tentang band asal Texas ini. Mengingat pertama kali mendengarkan lagunya ketika saya sedang membuang-buang bonus kuota malam dengan membuka Youtube dan membiarkannya autoplay. Saya tidak menonton videonya karena saya seraya menulis sebuah cerpen di Ms. Word. Sampailah saat dada saya tiba-tiba terasa sesak, lalu meneteskan air mata pada sebuah adegan yang saya karang itu. Saya pikir, saya terlalu berlebihan sewaktu berimajinasi. Namun, saya akhirnya sadar kalau ini pengaruh dari sebuah lagu.

Your Hand in Mine ternyata seberengsek itu. Merasa ketagihan akan lagu Explosions in The Sky, saya coba mencari lagunya yang lain.

Explosions in The Sky - Trembling Hands



Berbeda dengan judulnya, alih-alih tangan saya gemetar, justru proses menulis jadi lebih lancar. Ketika telinga saya menyerap bunyi tabuhan drum dan permainan gitar di lagu ini, tiba-tiba tangan saya seolah begitu lincah dalam mengetikkan kata demi kata. Saya sungguh merasa heran bagaimana musik memiliki kekuatan mistik seperti ini.

Sepanjang lagu ini terputar atau dalam waktu 3 menitan (dalam versi albumnya), saya bisa lebih cepat menuangkan pikiran-pikiran saya. Masa bodoh dengan alur yang berantakan, yang terpenting saya bisa menghasilkan ratusan kata. Biasanya saya sedikit-sedikit akan menghapusnya kembali, padahal yang tertulis baru dua atau tiga kalimat. Setelah kesulitan itu teratasi berkat lagu ini, saya rasa, lagu-lagu Explosions in The Sky memang memiliki daya magis yang hebat, dan dugaan saya terbukti sehabis mendengarkan lagu berikutnya.

Explosions in The Sky - Only Moment We Were Alone



Lagu ini betul-betul cocok untuk menikmati kesendirian. Jika saya lagi bersedih dan tak mampu mengeluarkan air mata, saya entah mengapa menyetelnya. Menangis atau tidak menangis seusai mendengarkan lagunya, pokoknya saya tetap merasa lebih lega.

Tidak jarang lagu ini juga membuat saya merenungi banyak hal. Mungkin lagu ini sengaja diciptakan untuk mengajak pendengarnya berkontemplasi. Selagi termenung pas mendengarkan lagunya, berbagai ide kerap melintas di kepala saya. Lalu untuk merasakan nikmat dalam kesendirian itu sendiri, lazimnya saya akan menulis. Menurut pengalaman saya, mendengarkan lagu ini sambil menulis ialah kombinasi yang aduhai.

Nah, beberapa alasan itulah yang membuat saya memutuskan untuk menjadikan ketiga lagu tersebut sebagai teman saat sedang menulis. Mungkin masih banyak lagu-lagu mereka yang terasa lebih dahsyat, tapi saya belum mendengarkan keseluruhannya. Baru tiga itu saja yang paling menempel buat saya.


Teen Daze - Discipleship



Perkenalan saya dengan musik ini juga secara tidak sengaja. Karena di ponsel saya tidak mengunduh Spotify maupun Joox, saya kerap memutar musik di SoundCloud. Saya lupa waktu itu sedang mendengarkan lagu apa, tapi kemudian lagu dari Teen Daze ini akhirnya terputar dan saya menyukainya. Saya merasa begitu rileks setiap kali menangkap nada-nada yang mereka mainkan. 

Lucunya, saya sama sekali tidak mencari tahu tentang band ini. Saya suka dengan satu lagunya dan sudah cukup. Walaupun belum terasa candu seperti saya mengenal Explosions in The Sky, tapi lagu ini selalu saya putar untuk menghilangkan ketegangan selama menulis. Lagu ini seakan-akan menjauhkan saya dari rasa takut akan hasilnya yang buruk, tidak berfaedah untuk pembaca, atau perkara-perkara lainnya.

Balmorhea - Bowsprit



Bukannya mendapatkan rekomendasi dari seorang teman mengenai musik-musik yang asyik, lagi-lagi saya menyukai sebuah lagu yang saya temukan secara acak. Serupa dengan lagu sebelumnya, lagu ini juga terputar begitu saja kala SoundCloud memainkan lagu-lagu yang terkait. Saya awalnya nggak tahu arti bowsprit, bahkan saya sempat salah baca menjadi bowspirit. Terus berpikir kalau lagu ini semacam panah semangat yang ditembakkan dan menancap di tubuh saya. Sebagaimana panah yang harusnya melukai, ia malah membuat jiwa saya damai.

Sayangnya, saya tidak puas dengan pelesetan konyol itu. Lalu saya coba cari di kamus yang rupanya berarti: cucur. Saya malah bertambah bingung. Loh, cucur itu, kan, nama kue. Emang di luar negeri pada tahu kue cucur juga? Syukurnya di KBBI ada beberapa arti selain kue yang terbuat dari tepung beras dan gula merah itu, yakni: 1) pancaran menurun tentang air mata; 2) bagian perahu sebelah depan yang menganjur panjang.

Akhirnya, saya simpulkan sendiri kalau itu tentang air mata saja. Setidaknya, itulah yang saya rasakan ketika mendengarkan lagunya. Seakan-akan saya habis menangis dan merasa lebih lega dari sebelumnya.

The Trees and The Wild - Saija



Nah, kalau band ini barulah saya tahunya dari seorang teman. Saat semester awal kuliah, saya dijejalkan lagunya yang berjudul Empati Tamako. Begitu tahu kalau saya terpikat akan lagunya, tak lama setelah itu teman saya mengajak saya untuk menonton konsernya. Dari beberapa lagu yang mereka mainkan sewaktu konser, lalu saya benar-benar merasa jatuh hati pada lagu berjudul Saija.

O iya, Saija ini adalah pengecualian dalam lagu tanpa lirik dalam daftar yang saya buat. Setidaknya, lagu ini berlirik singkat dan mirip instrumental bagi saya. Penjelasan lebih tentang lagu ini sudah pernah saya tulis sebelumnya (silakan klik tautan).

Ya, itulah lagu-lagu yang kerap saya putar selama menulis dan telah membantu saya menciptakan berbagai tulisan di blog ini; baik itu curhatan, ulasan, esai, cerpen, ataupun puisi. Lalu, apa lagu favoritmu sebagai teman menulis? Apakah sama kayak saya yang juga mendengarkan musik instrumental? Terus, adakah salah satunya dalam daftar barusan? Apa pun lagu yang kamu dengarkan itu, mari berbagi referensi musik di kolom komentar.

--

Gambar saya pinjam dari Pixabay.

PS: Untuk mendapatkan daya magis yang maksimal, saya mendengarkan lagu-lagu ini menggunakan earphone.