Sejak Desember 2017, saya terlihat semakin mengubah gaya penceritaan di blog ini. Dari yang biasanya menggunakan “gue”, lalu menjadi “saya”. Bahkan Arul dan Farih, salah dua bloger yang main ke blog saya, pernah mengomentari hal tersebut dan menanyakannya. Kira-kira beginilah komentar mereka kalau digabungkan: “Lama nggak main ke blog ini, kenapa tulisan Yoga berubah? Jadi ‘saya-saya’ gitu. Terus, dulu awal-awal masih komedi, sekarang kayaknya beda banget. Bacaan lo berubah, ya?”



Saya agak lupa kenapa awalnya memutuskan untuk mengubah gaya tulisan. Seingat saya, sih, karena suatu hari ketika asyik baca tulisan sendiri, saya ngerasa kok cuma begitu-begitu aja, ya? Kalau nggak salah, yang saya baca itu arsip tahun 2015-2016. Hampir semua tulisan selalu berbentuk curhatan yang saya berikan bumbu komedi.

Sejak era meledaknya tulisan komedi yang kebanyakan bloger berusaha “ke-Radit-Radit-an”. Kemudian, para penerbit juga mencari naskah-naskah lucu. Saya pun jadi ikut nyemplung ke dalamnya. Saya yang dari awal nggak paham menulis komedi, akhirnya mulai mempelajari strukturnya, yaitu set up dan punchline. Dan, di blog ini saya paling sering menerapkan rule of three

Contohnya di tulisan lama saya yang kini sudah dihapus, saya sempat menyelipkan lelucon:

Yang jadi masalahnya, setelah temen-temen gue pada pulang, gue bakalan sendirian lagi. Tidur-tiduran doang di kamar, mainan hape, garuk-garuk koreng.

Entahlah bagian “garuk-garuk koreng” itu lucu atau nggak untuk pembaca. Yang penting saya dapat tertawa ketika membacanya dan nggak berusaha terlalu keras untuk melucu. Pada masa itu, saya sangat senang kalau ada orang yang komentarin tulisan saya dengan embel-embel lucu, ngakak, atau apalah itu yang menjelaskan kalau mereka terhibur.

Namun, karena itu saya tiba-tiba malah tertuntut untuk lucu terus-terusan. Padahal, saya sadar kalau saya bukan seorang komedian. Saya pikir, komedi itu bukan keutamaan dalam menulis. Niat awalnya saya cuma pengin bercerita atau curhat aja di blog. Bodohnya, saya sudah telanjur terjerumus untuk mengisi blog ini dengan tulisan lucu. Terus, untuk menyiasati hal itu saya pakai deh komedi mesum. Sedikit-sedikit nyerempet ke bokep. Komedi jorok konon emang mudah ditertawakan, sih. Jurus itu seolah menjadi andalan saya. 

Bahkan, ada beberapa pembaca yang bilang ciri khas saya itu pokoknya ada mesum-mesumnya. Saya nggak tahu apakah mereka berkelakar atau serius, tapi saya menganggapnya itu suatu bentuk kritikan. Lagian, hal yang dilakukan terus-menerus tentunya nggak enak. Mengandalkan komedi mesum, berarti saya cuma bisa main di garis aman. Saya juga mendadak males kalau nama saya yang diingat nanti malah buruknya.

Oleh sebab itu, kira-kira sejak 2017 hal-hal jorok di blog ini perlahan menghilang. Walaupun sesekali saya masih menggunakan lelucon mesum itu, seenggaknya saya tidak memakainya serajin dulu. Saya nggak pengin kalau perkembangan konten di blog ini mulai tidak kentara lagi. Saya mau bertumbuh. Ya, pertumbuhan dalam berkarya itu penting. Saat saya membaca tulisan awal-awal di blog, jelas itu jelek banget jika dibandingkan dengan yang sekarang. Kalau memperhatikan gaya tulisan setahun yang lalu aja tentunya berbeda.

Nah, saya memang suka mengevaluasi tulisan sendiri. Tahun ini dengan tahun sebelumnya ada perkembangan atau nggak. Untuk menjawab pertanyaan kenapa tulisan saya berubah, karena saya memang bermaksud untuk melakukan perubahan di tahun 2018 ini. 

Awalnya, saya merasa aneh kala menuliskan “gue” untuk menuturkan cerita. Entah seakan-akan nggak pantas lagi atau itu cara termudah untuk terlihat berbeda dari sebelumnya. Saya sendiri pun bingung. Yang jelas, sih, biar sekalian kalau ngirim ke media atau ikutan lomba, saya nggak perlu repot menyesuaikan atau mengubah-ubahnya lagi. Alasan saya mulai menerapkannya dari Desember 2017 itu agar semakin terbiasa. Supaya nggak kaku pas nanti saya coba mempraktikkannya di 2018. Ya, semoga saja tulisan saya sekarang ini emang nggak kaku.

Selain urusan “saya-saya” itu, akhir-akhir ini saya lagi demen bereksperimen. Saya terpengaruh perkataan Agus Noor, “Menulis itu bagaikan bercinta. Supaya nggak bosan, kita perlu gonta-ganti gaya.”

Sejujurnya, saya belum pernah bercinta (kamu boleh tidak percaya) dan masih perjaka (tapi anggap saja sudah hilang dengan tangan sendiri), tapi saya tahu betul maksud Agus Noor tersebut. Saya memang perlu coba-coba gaya lainnya dalam menulis. Misalnya, saya beberapa bulan lalu entah mengapa sangat bosan dengan menuliskan curhatan. Makanya, akhir-akhir ini tulisan saya berbentuk fiksi. Yap, saya sedang mencoba bereksperimen seraya belajar bikin cerpen dan puisi.

Namun, tentu saja tidak semua hasil eksperimen saya bagus. Lagi pula, biarpun pada akhirnya menghasilkan kegagalan, saya cuma mau mengetahui eksperimen itu bisa jadi seperti apa. Tanpa adanya percobaan seperti itu, saya pasti tidak tahu bagian mana yang buruk, juga apa saja yang perlu saya perbaiki dalam bikin cerpen dan puisi. Ya, kira-kira kayak gitulah.

Soal bacaan yang memengaruhi tulisan di blog ini, saya memang sudah lama sekali meninggalkan buku-buku nonfiksi komedi. Terakhir kali baca buku kumpulan cerita komedi sampai tamat, saya malah berpikir, ini komedinya di mana? Atau itu justru komedinya? Bagian lucunya adalah nggak ada yang lucu. Kan konyol. Saya nggak mau sampai murka dan bilang, “Taik, ngeluarin uang banyak untuk sebuah omong kosong nggak penting.”

Saat ini, saya perlahan-lahan melahap bacaan apa saja yang menurut saya termasuk buku bagus. Saya betul-betul ingin mengubah diri saya yang 2013-2015 selalu terbelenggu dalam genre komedi. Tulisan saya nanti sulit berkembang kalau referensinya itu doang. Berusaha terlalu keras melucu juga nggak baik buat saya. Saya pun nggak mau kayak Heru alias Pangeran Wortel yang sampai menyatakan kalimat: “Berusaha cerita lucu, tapi aslinya gue sedang meneteskan air mata.”

Meskipun demikian, saya masih tetap memberikan sedikit bumbu humor di blog ini. Entahlah lucunya bisa tersampaikan atau nggak kepada pembaca. Saya cuma nggak pengin memaksakannya lagi. Kalau ada yang bisa diselipkan, ya pakai. Kalau nggak ada, santai aja. Asalkan diri saya bisa tertawa saat membaca ulang, rasanya sudah cukup.

Jadilah tulisan saya yang seperti ini. Yang penting saya bahagia ketika menuliskannya. Kalaupun pembaca blog ini tidak menyukai gaya tulisan saya lagi, ya tidak apa-apa. Mungkin tulisan saya bukanlah seleranya. Saya juga nggak takut kehilangan pembaca. Toh, setiap tulisan akan tetap ada pembacanya masing-masing. Jadi, kenapa tulisan saya berubah? Saya cuma ingin terus bertumbuh—ke arah yang lebih baik. Untuk itu, kamu jangan pernah ragu-ragu untuk memberikan kritik dan saran.

--

Gambar saya comot dari Pixabay, lalu edit seenaknya.