Gue pernah beberapa kali mendengar pertanyaan, “Lebih baik ketinggalan ponsel atau dompet?”

Mungkin kamu juga pernah mendengarnya, lalu mana kira-kira yang akan kamu pilih? Gue sendiri, tentunya lebih baik ketinggalan ponsel. Gue masih ingat betul, kala gue merasa nggak bawa dompet di perjalanan saat mau berangkat ke kampus. Waktu sadar kalau dompet gue nggak ada di kantong celana, awalnya gue berpikir kalau dompet itu ketinggalan di rumah.

Nah, ketika itu entah kenapa gue langsung balik lagi ke rumah untuk mengambilnya. Gue memang cukup panik kalau nggak bawa dompet waktu bepergian. Belakangan diketahui, ternyata dompet gue nggak ketinggalan di rumah. Gue menebak kalau dompet itu terjatuh di jalan. Gue bukan lagi mengalami ketinggalan dompet, tapi kehilangan dompet. Gue pun galau bukan main. Gue entah kenapa mendadak alim pada hari itu dengan banyak berdoa. Pas kena musibah baru tobat. Hadeh. Sorenya, ternyata ada orang baik yang mengembalikan dompet tersebut. Alhamdulillah. Masih rezeki gue.

Gue pun pernah ketinggalan ponsel ketika diajak nongkrong sama temen ke suatu kafe. Bagusnya, gue bukan tipe orang yang kecanduan gadget. Yang saat main ke kafe harus update location, InstaStory, atau apa pun itulah yang bikin tangan selalu memegang erat ponsel. Main ke kafe ini niatnya mau ngobrol atau mau pamer?

Berdasarkan pengalaman itu, gue menyimpulkan kalau dompet buat gue lebih penting daripada ponsel. Selain uang, di dalam dompet pastinya ada KTP, SIM, STNK, kartu ATM, dan beberapa kartu lainnya. Kalau lagi bepergian mengendarai motor, terus nggak bawa dompet, gue langsung merasa was-was. Takut kalau ada razia kendaraan bermotor. Kemudian, misalnya pergi ke suatu tempat makan, gue butuh dompet untuk membayarnya (baik dengan bayar uang tunai atau debit). Apalagi untuk bayar parkir. Masa pakai debit? Gue selalu menaruh uang di dompet, soalnya kalau dikantongin nanti uangnya lecek.

Jadi, jawaban dari pertanyaan pada paragraf pembuka itu masih tetap sama sampai sekarang: gue lebih memilih ketinggalan ponsel daripada dompet. Sebab, banyak yang lebih gue butuhkan di dompet daripada di ponsel. Kalau urusan menulis atau kerjaan, sepertinya masih bisa menggunakan laptop. Lagian, untuk komunikasi masih bisa menggunakan email. Bahkan, chatting-an seperti WhatsApp atau Line juga sudah bisa menggunakan laptop, kan?

Berbicara tentang ketinggalan dompet atau ponsel ini, gue jadi inget kejadian beberapa minggu lalu.

*

Pada suatu sore, gue, Agus, dan Salsa sedang kumpul di restoran cepat saji yang letaknya dekat dari rumah gue, yakni Kemanggisan. Ketika itu, gue dan Agus yang kebagian tugas buat memesan makanan di lantai 1, sedangkan Salsa menunggu di lantai 2 sekalian menjaga tas kami. Kala sudah menentukan pesanan dan kasirnya menyebutkan harga yang harus dibayar, Agus tiba-tiba bilang kepada gue, “Pakai duit lu dulu ya, Yog. Nanti gue ganti.”

Gue udah bosan sama teman yang mendadak ketinggalan dompet kalau mau bayar sesuatu. Maka, gue pun langsung menatap Agus yang kira-kira berarti: “Beneran lu ganti nggak nih?”

Agus yang sepertinya mengerti maksud gue itu segera merespons, “Tenang, dompet gue di tas, kok. Pas di atas langsung gue bayar.”

Tidak ingin berlama-lama di depan kasir dan takut membuat kesal kasir tersebut ataupun orang yang mengantre di belakang, gue pun mengeluarkan dompet dan membayarnya. Sembari membawa makanan itu ke lantai 2, Agus malah meledek dompet gue yang katanya udah kuno dan gembel. Gue tidak menanggapinya dan terus menuju ke meja—di mana Salsa menunggu. Saat gue sudah duduk dan hendak makan, Agus kemudian membuka tasnya seraya mengeluarkan dompet bergambar kamera. Ia menyerahkan uang kepada gue. Agus menepati janjinya. Nanti gue ganti bukan lagi omong kosong kayak kejadian yang lazimnya terjadi ketika teman meminjam uang.

“Itu dompet?” tanya gue heran.

Sontak, Salsa menoleh dan berujar, “Ih, unyu! Beli di mana?”

Agus merespons sekenanya pertanyaan gue dan Salsa. Katanya, lebih baik kami memutuskan untuk menyantap makanan terlebih dahulu. Sebab, ngobrolnya, kan, bisa entar seusai makan. Benar juga yang Agus bilang. Aroma ayam goreng yang khas ini juga sudah menusuk hidung gue dari tadi. Potongan sayap itu sungguh menggoda, seolah meminta untuk segera ditelan.

Sehabis melahap makanan di meja, kami tentu saja mengobrol. Dari mulai bertukar cerita selama 3 bulan belakangan ini, karena itulah waktu terakhir kami berjumpa sebelum pertemuan ini. Hingga Salsa kembali bertanya soal dompet lucu milik Agus.

Kini, gue dan Salsa sedang memperhatikan dompet Agus yang begitu dipegang rupanya terbuat dari kertas. Saat kami tanya-tanya, Agus awalnya hanya menjelaskan secara singkat dan menyuruh kami membuka Instagram @littlebigpaper untuk melihat-lihat koleksinya. Salsa mudah sekali tergoda dengan barang yang lucu-lucu, maka ia pun sekarang sedang menunduk dan menatap ponselnya. Gue pikir, ia pasti mengecek akun Instagram yang Agus bilang tadi.

Karena ponsel gue ketinggalan, gue jadinya tetap minta penjelasan lebih sama Agus. Nggak lama, Agus meneteskan minumannya ke dompet kertas miliknya itu dengan sedotan. Tahan air dan tidak mudah sobek, ujarnya penuh rasa percaya diri.

Pertemuan itu pun berakhir ketika Agus tiba-tiba mendapatkan telepon dari pacarnya. Agus lupa kalau ada janji nonton bioskop pada malam itu. Ia buru-buru pamit kepada gue dan Salsa. Akhirnya, Salsa juga memilih pulang karena ada kerjaan kantor yang belum beres. Gue mau nggak mau jadi ikutan balik ke rumah.

*

Sesampainya di rumah, barulah gue mengambil ponsel yang tumben banget bisa ketinggalan saat keluar rumah. Lalu, gue coba melihat-lihat koleksi dompet kertas itu. Gue sejujurnya suka sama dompet berdesain kamera seperti kepunyaan Agus. Namun, aneh kalau harus samaan begitu. Oleh karena itu, pilihan gue jatuh ke dompet bermotif kaset.


Sumber: Pixabay

Entah kenapa, kaset berbentuk persegi panjang itu bisa membuat gue bernostalgia. Gue jadi inget sewaktu kecil sekitar berumur 5 tahun, masa di mana Bokap memiliki banyak kaset musik. Untuk memutar musiknya itu, Bokap menggunakan radio. Gue jadi sering mendengarkan lagu-lagu lawas bersama beliau. Kalau nggak salah kaset Bokap di antaranya: Rita Sugiarto, Doel Sumbang, Nike Ardila, dan seterusnya.

Karena melihat anaknya suka tidur-tiduran di samping radio lagi asyik mendengarkan lagu, akhirnya suatu hari Bokap juga membelikan gue kaset yang berisi lagu-lagu anak. Bodohnya, gue malah suka memutar-mutar lubangnya menggunakan jari kelingking hingga pitanya keluar semua dan kusut. Setelahnya, gue bakal diomelin. Bokap pun capek membetulkan pita itu. Sungguh, bikin nostalgia.

Sehari setelah gue pesan, dompet kertas bermotif kaset itu pun sampai di rumah.



Dompet yang gue pesan seharga Rp100.000 ini namanya little wallet dan berukuran 20x10cm (dalam keadaan terbuka). Meskipun terbuat dari kertas, menurut gue materialnya sungguh kuat. Apalagi susah robek dan tahan air. Dompet ini terdapat satu slot tempat uang yang mampu menampung kira-kira 20 lembar. Lalu ada juga 4 slot tempat kartu; 2 di bagian dalam, 2 di bagian samping atau luar, yang kalau ditotal mungkin dapat menampung hingga 10-15 kartu (bisa perhatikan yang ada di foto).

Kelebihan

Bentuknya yang tipis ini tidak mengganggu gue ketika duduk atau jongkok. Saat sudah terisi uang dan kartu pun masih lebih tipis daripada dompet pada umumnya. Pokoknya nyaman ditaruh di kantong. Lalu, seperti yang sudah gue jelaskan sebelumnya, dompet ini kuat dan anti air. Dan tentunya, dompet ini memiliki motif yang unik, lucu, dan keren.



Kekurangan

Slot di bagian samping atau luar nggak ada pengamannya. Kalau naruhnya terlalu minggir, kartu-kartu itu bisa jatuh. Slot tempat uangnya betul-betul pas-pasan. Apalagi bagi orang yang suka bawa uang tunai daripada ATM, pasti merasa 20 lembar uang itu akan kurang. Ya, kecuali uang per lembarnya Rp100.000 atau Rp50.000. Namun, kalau ada kejadian seperti menerima uang kembalian yang recehan berupa seribu dan dua ribuan semua, itu jelas nggak akan muat ditaruh dompet.



*

Setelah gue simpulkan, rasanya dompet ini kurang cocok untuk dibawa jauh-jauh dan bepergian lama seperti traveling ke luar kota. Ini lebih cocok untuk kelayapan bareng temen-temen yang jaraknya nggak terlalu jauh. Nongkrong ke kafe, main ke mal, atau wisata ke museum yang lokasinya masih satu domisili dengan tempat tinggal. Atau, ya kayak cerita gue bersama Agus dan Salsa, yaitu pergi ke restoran cepat saji beberapa minggu lalu itu. Pokoknya yang cukup bawa uang beberapa lembar aja.

Ngomong-ngomong soal Agus dan Salsa, gue jadi pengin ketemu bareng mereka lagi. Kira-kira Salsa ikutan beli dompet itu atau nggak, ya? Nah, nanti Agus nggak akan bisa ngeledek dompet gue kuno lagi. Mungkin dompet gue yang sekarang juga kuno karena motifnya itu kaset, tapi kali ini tampilannya elegan. Yuhu!