“Sebelum acaranya dimulai, gue mau nanya nih. Temen-temen udah pada tahu Brilio, kan?” tanya Mas Josie, selaku MC acara.

Saat gue perhatikan, ada yang menjawab sudah, ada yang diam saja, dan ada yang segera mengetik sesuatu di laptopnya (belakangan diketahui, ia ternyata membuka web Brilio.net). Sepertinya orang itu belum tahu dan mungkin merasa malu karena sudah datang ke acara, tapi nggak ngerti sama sekali akan Brilio itu sendiri.

Sejujurnya, gue sendiri nggak banyak tahu tentang Brilio. Satu-satunya hal yang gue ketahui ialah artikelnya yang sempat gue baca beberapa kali di Line Today. Iya, hanya itu dan gue nggak mencari tahu lebih jauh.

*

Syukurnya, pada hari Sabtu, 19 Agustus 2017 gue dan teman-teman dari Komunitas ISB mendapatkan undangan untuk main ke kantor Brilio. Kantornya berlokasi di Graha Tirtadi Lt. 3 Jalan Wolter Mongonsidi No. 71, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Berkat acara inilah gue bisa mengetahui lebih lanjut tentang Brilio.


Suasana Kantor

Seperti kantor-kantor media kreatif pada umumnya, Brilio pun memiliki tempat kerja yang asyik dan nyaman. Kantornya tidak memiliki papan tulis untuk mencatat proyek yang sedang dikerjakan atau catatan yang lain. Di kantor itu, coretan-coretannya dituliskan di kaca. Lalu, di temboknya terdapat tulisan “create”, yang seolah-olah memengaruhi alam bawah sadar untuk membuat atau menciptakan sesuatu. Lalu, ada sebuah ruangan yang kami tempati di acara itu menggunakan semacam tempat duduk yang unik dan asyik buat leyeh-leyeh, tapi gue nggak tahu apa namanya.






Proses Terbentuknya



Ketika Joe Wadakethalakal (CEO & Founder Brilio.net) maju ke depan untuk memberikan sambutan. Yang pertama kali gue lakukan adalah memasang telinga baik-baik untuk menyimak apa yang akan ia katakan. Namun, begitu ia membuka mulut dan ternyata menggunakan bahasa Indonesia, gue langsung menertawakan diri sendiri dalam hati. Gue sebelumnya berpikir kalau ia akan ngomong dengan bahasa Inggris. Ya, namanya juga melihat bule, entah kenapa otomatis akan berpikir begitu.

Selanjutnya, Mas Titis (Editor in Chief Brilio.net) bercerita tentang proses terbentuknya Brilio ini. Bagaimana susahnya saat awal-awal berdiri pada Maret 2015. Mas Titis bilang, kantor Brilio itu dimulai dari sebuah rumah kontrakan di Jogja, dengan jumlah karyawan 15 orang. Gue begitu takjub mendengarnya. Sebelum menjadi besar seperti sekarang ini, ternyata ada masa-masa sulit yang telah mereka lalui. Sebuah hasil memang tidak akan mengkhianati proses.

Dapur Konten Brilio

Dapur di sini bukanlah arti sebenarnya. Gue bermaksud membuat sebuah analogi konten seperti sebuah makanan. Jadi, untuk membuat masakan yang disukai orang-orang, Brilio menggunakan beberapa cara supaya kontennya bisa viral. Mas Andri (Reporter Brilio.net) kemudian menyampaikan kepada kami tips-tips itu, di antaranya:

1. Bersahabat dengan medial sosial

Sebab, banyak informasi yang kemungkinan viral itu memang berasal dari media sosial; seperti Facebook, Twitter, dan Instagram. Namun, sebelum menjadikannya sebuah konten, kita perlu verifikasi dulu kebenarannya. Lalu mesti berpikir kembali apakah konten yang akan disajikan itu merugikan orang lain atau tidak. Sebisa mungkin untuk tidak membuat berita yang negatif dan hoaks. 

2. Melihat sisi lain dari sebuah peristiwa

Sumber: tukang sate viral sampai luar negeri

Ketika terjadi sebuah peristiwa, kita bisa melihat hal itu dari sudut pandang lain dan menemukan sisi lainnya. Misalnya setahunan yang lalu ada ledakan bom di Sarinah, Jakarta. Dari kekacauan itu, rupanya masih ada beberapa pedagang yang tetap berjualan dan tidak panik dengan kejadian pengeboman tersebut. Salah satunya ialah tukang sate yang viral hingga membuat pembawa acara berita di stasiun TV Belanda melongo. Ya, jangankan takut sama bom, sewaktu di film horor aja tukang sate pernah bikinin 100 tusuk untuk dimakan Sundel Bolong, kok.

3. Serba meme (mim) 



Anak-anak muda sekarang, memang suka sekali dengan konten yang menghibur. Biasanya dalam bentuk gambar seperti meme. Ya, cara ini memang terbukti di tulisan gue yang Meme Majalah Hidayah, itu mendapatkan trafik jauh lebih tinggi dari tulisan yang berbentuk curhatan atau cerpen.


4. Memberi perhatian khusus pada hal yang membangkitkan emosi

Generasi millennial biasanya menyukai hal-hal yang mengundang simpati dan menginspirasi. Misalnya info tentang Kakek Penjual Makanan di daerah Rawamangun, Jakarta Timur yang saking sepinya pembeli sampai ketiduran. Berkat netizen yang membuat post di akun Facebook-nya, beberapa hari setelahnya dagangan kakek itu pun laris dan diburu banyak pembeli. Beberapa media pun turut memuat berita itu. Kekuatan warganet ini memang terbukti hebat. Gue harap, the power of netizen lebih banyak difokuskan ke hal-hal baik seperti ini, bukan malah untuk mem-bully.

Sumber: Kakek ketiduran

5. Dekat dengan keseharian

Dari sebuah tema tentang “disuntik”, Brilio pernah membuat dua tulisan mengenai itu. Yang satu menceritakan dan menampilkan gambar pria pesumo di Jepang menangis sebab takut akan jarum suntik, yang satu lagi ekspresi ketakutan anak-anak SD ketika disuntik atau diimunisasi. Dari tema tulisan yang sama, pembaca lebih menyukai konten yang dekat dengan keseharian mereka, yaitu yang anak-anak SD.

Jadi, bisa disimpulkan kalau pembaca memang lebih menyukai dan bisa lebih membayangkan sesuatu hal yang dekat dengan keadaan di sekitarnya.

Mas Titis (kiri) dan Mas Andri (kanan) berbagi pengetahuan dalam membuat konten viral

Selain cara-cara itu, ada tambahan dari Mas Titis kalau anak-anak muda sekarang lebih menyukai tulisan yang listicle. O iya, listicle adalah gabungan kata dari “list” dan “article”, yang artinya menulis artikel dalam bentuk daftar.

Contohnya seperti:

5 Hal yang Gue Bawa Pulang Setelah Main ke Kantor Brilio

3 Cara Membuat Konten Viral yang Kurang Cocok Buat Gue

9 Blogger yang Sering Masuk Page One Google

Tadinya, contoh yang pertama itu pengin gue jadiin judul tulisan ini. Namun, karena merasa listicle kurang cocok dengan gaya nulis gue, maka judul tulisan ini pun nggak dibuat seperti itu. Hehe. Cuma, kalau kamu pengin bikin tulisan jadi viral, tidak ada salahnya mencoba tips ini.


Jumlah trafik dan pentingnya media sosial

Sebelum membahas materi selanjutnya tentang media sosial, kami diberikan waktu jeda untuk ngopi atau ngeteh terlebih dahulu. Barulah seusai break kami lanjut menyimak Mas Aldio (Social Media Manager Brilio.net) yang membuka materinya dengan pertanyaan: “Siapa yang punya akun medsos lebih dari tiga?”

Hampir setengah peserta langsung angkat tangan. Merasa tidak puas dengan jawaban itu, Mas Aldio bertanya lagi. Kali ini, pertanyaannya diubah menjadi “tiga atau lebih”. Barulah setelah itu semua peserta kompak mengangkat tangannya.

Sehabis itu kami kembali ditanya, seberapa pentingkah media sosial?

Kami dibiarkan menjawab pertanyaan itu dalam hati masing-masing. Untuk para pembuat konten, tentunya media sosial itu sangat penting. Meskipun banyak yang bilang kalau konten adalah raja dan yang paling penting, tapi media sosial sebagai alat untuk promosi juga nggak kalah penting.

Setelah menerapkan tips membuat konten viral yang telah disampaikan Mas Andri, kita memang perlu melakukan promosi di media sosial. Mas Aldio pun memberikan data akan jumlah page view Brilio yang per bulannya mencapai sekitar 120 juta. Yang mana 40% trafiknya itu berasal dari media sosial.

Gokil!

Gue yang sebulan bisa mencapai 10.000 aja udah bersyukur. Ini 120 juta. Dari 40%-nya aja, keseluruhan page view blog gue masih jauh banget. Mendengar apa yang ia sampaikan itu, gue merasa blog gue hanya butiran ketombe yang menempel di kaos putih. Kagak kelihatan. Mungkin selama ini gue masih kurang promosi dan membangun citra yang bagus di media sosial. Namun dengan begitu, sekarang gue pun jadi berusaha untuk menggunakan media sosial secara optimal.

Nggak terasa banget, tau-tau acaranya berakhir. Acara ini pun diakhiri dengan foto bersama. 



*

Sepulang dari acara itu, gue sebetulnya bingung pengin menuliskan keseruan saat main ke kantor Brilio itu seperti apa. Kalau mau curhat sempet nyasar lagi di perjalanan, kayaknya nggak penting banget. Terus kalau pengin fokus bahas ilmu atau tips yang gue peroleh, kayaknya terlalu serius banget. Nah, terus apa yang harus gue tulis dong? Kebanyakan mikir malah nggak jadi-jadi dan takut keburu lupa.

Oleh karena itu, gue coba menuliskan apa adanya. Berusaha curhat seperti biasa, ditambah beberapa tips yang gue ingat, dan jadilah tulisan seperti ini. Semoga saja ada manfaatnya. Aamiin.

--

Sumber foto yang tidak diberikan keterangan sumber di bawahnya, berarti dari galeri pribadi dan teman-teman Komunitas ISB.