Berangkat dari membaca tulisan lama di bloknot, gue kemudian menemukan catatan ide tentang proyek pertanyaan yang belum sempat tertuliskan. Gue mendapat inspirasi itu awalnya dari sebuah kutipan Mbah Sujiwo Tejo:
Lama-lama orang malas romantis, karena takut disebut galau. Malas peduli, takut disebut kepo. Malas mendetail, takut dibilang rempong. Malas berpendapat, takut dibilang curhat. Malas mengubah sudut pandang saat debat, takut dibilang labil.

Waktu itu, gue memang termenung membaca kutipannya. Lalu, saat puasa dan menjelang Lebaran kemarin banyak orang yang resah tentang pertanyaan-pertanyaan yang biasa dilontarkan para saudara: “Kapan lulus?, “Kapan punya pacar?”, “Kapan nikah?”, “Kapan mati?”, dan seterusnya. Gue pun kepikiran tentang sebuah proyek pertanyaan.

Meskipun pertanyaan-pertanyaan seperti itu nggak etis, tapi gue jadi kepikiran akan suatu pertanyaan yang begitu mengganjal di kepala. Kebetulan, kemarin juga sempat dibahas ketika gue ikut kelas menulis puisi Aan Mansyur. Ternyata, gue bisa berpikiran hal yang sama seperti Aan. Nggak nyangka.

Pertanyaan gue: Kenapa orang-orang sekarang ini jadi malas bertanya, terus takut dibilang kepo?



Misalnya di sebuah kelas saat perkuliahan, ketika dosen bertanya kepada mahasiswanya, jarang banget ada mahasiswa yang mau bertanya. Biasanya saat ada yang bertanya, kita akan kesal karena jam istirahat jadi ditunda. Atau kita menganggap orang yang bertanya itu cari perhatian atau cari muka kepada dosen. Padahal, kan, belum tentu. Mungkin dia bertanya karena memang belum mengerti materinya.

Oleh karena itu, gue pun mengusulkan proyek pertanyaan kepada anggota WIRDY. Proyek ini melatih untuk berpendapat dan berani bertanya. Tiap orangnya akan gue tanya sebuah pertanyaan. Kemudian, gantian mereka yang bertanya kepada gue. Bisa dibilang ini mirip QnA gitu, sih. Bedanya, gue merahasiakan siapa yang bertanya kepada gue.

Maka, inilah pertanyaan dan jawaban itu:

Satu

T: Kalau ngelihat tren blogger sekarang, blogger yang kayak lu (blogger curhat) itu masih punya tempat nggak, sih, di dunia blogging?

J: Sebentar deh, emang tren blogger sekarang kayak gimana? Gue sumpah kurang ngikutin. Kalau yang lu maksud rata-rata ngeblog sekarang ini tujuannya buat komersil atau cari duit, gue tau. Atau niche blog saat ini didominasi sama yang bahas makanan dan jalan-jalan gitu, ya?

Menurut gue, blogger curhat jelas masih punya tempat. Sebab, sebelumnya blog itu kan kayak diary. Bedanya ini di internet. Nah, orang-orang awal bikin blog gue pikir pasti niatnya buat curhat. Ada, sih, beberapa yang bikin blog karena terpaksa. Iya, mereka bikin cuma untuk memenuhi syarat tugas sekolah atau kuliah. Namun, orang-orang yang gue kenal kebanyakan masih doyan cerita keseharian gitu. Lagian, curhat tuh simpel, nulisnya bisa lebih luwes tanpa repot riset sana-sini. Dan, tentunya bikin deket sama pembaca. Ehehe. Beberapa temen yang gue kenal, emang lebih suka baca curhatan, sih.

Apalagi kalau gaya nulisnya oke; ceritanya ngalir dan yang baca nggak berasa bosen. Terus kalau bisa ngasih bumbu komedi itu juga bisa jadi nilai tambah. 

Jadi, kalau mau curhat mah curhat aja. Nggak usah mikir nggak ada yang baca, atau nggak punya tempat. Setiap penulis pasti ada pembacanya masing-masing. Ya, minimal diri sendiri. Nulis kan emang sebetulnya buat diri sendiri. Gue sendiri sejujurnya juga nulis buat diri sendiri. Buat terapi jiwa. Apa yang numpuk di kepala ini, kudu segera gue tumpahin ke media. Biar kepala jadi lebih enteng. Gue mungkin udah susah buat punya tempat bercerita di dunia nyata karena nggak punya banyak temen yang mau meluangkan waktunya untuk mendengarkan. Namun, gue yakin masih punya tempat di blog untuk bercerita. Kami, sesama blogger, tentu akan saling berbagi cerita.


Dua

T: Nih ya, kalo suatu saat uang nggak lagi penting dan dunia nggak membutuhkan alat tukar apa pun untuk dapetin kebutuhan kita. Kira-kira apa yg bakalan lu lakuin untuk menuhin kebutuhan lu sendiri?

J: Kok jadi kayak sistem barter dah? Ini kembali ke masa lampau lagi dong? Kemunduran zaman jadinya. Wahaha. Ya udah, karena ini suatu perumpamaan, berarti gue juga bisa berandai-andai kalau suatu saat menerbitkan buku (mungkin secara indie). Nah, nanti buku gue itu kan bisa ditukar dengan hal yang gue mau dan butuhkan (dan semoga ada yang mau membaca tulisan gue).

Terus kalau nggak ada yang tertarik diajak bertukar kebutuhan sama buku, gue kan juga bisa berandai tentang diri gue yang kelak menjadi seorang pengusaha makanan. Misalnya gue butuh baju dan celana, nanti tinggal kerja sama dengan orang yang punya usaha di bidang itu. Nilai baju dan celana itu bisa gue tukar dengan makanan untuk berapa hari, minggu, atau bulan. Begitu juga misal gue butuh kuota. Pokoknya sebisa mungkin gue bertransaksi secara adil dan sesuai kesepakatan bersama. Gue nggak mau memenuhi kebutuhan gue dengan menipu, mencuri, merampok, dan sebagainya.

Lagian ini pertanyaan apa, sih? Taek!

T: Kalo gitu satu pertanyaan lagi deh. Ini dalam hal asmara. Hahaha. Setiap orang pasti ngalamin kegagalan dalam menjalin hubungan nih, ya. Apa yang bisa lu pelajari dari kegagalan tersebut? Apa ada ngerasa kayak takut untuk percaya sama pasangan, takut untuk terlalu cinta gitu?

J: Eh, ini kan kesepakatannya cuma nanya satu pertanyaan, terus kalau mau pertanyaannya beranak kudu yang relevan! Hadeh, yowislah jawab aja. Yang jelas gue belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama dong dari kegagalan itu. Lagian, masih banyak kesalahan yang perlu dicoba. Wahaha.

Oke, serius. Karena pertanyaannya itu bisa diceritakan dari pengalaman gue, mending gue curhat aja deh.

Dulu, hubungan gue pernah gagal karena pasangan yang selingkuh. Setelah diselingkuhin itu, gue jadi belajar banyak. Pertama, gue jadi tau kalau yang namanya diselingkuhin itu sakit banget. Terus gue jadi belajar buat memaafkan orang yang udah nyakitin itu. Lalu, gue juga belajar untuk nggak selingkuh atau membohongi pasangan. Dan, gue jadi banyak introspeksi diri juga.

Apa, sih, yang bikin pasangan selingkuh? Ada godaan dari pihak ketiga?

Gue cukup yakin selingkuh sepertinya nggak terjadi kalau hubungan keduanya itu kuat dan berkomitmen. Berarti gue harus sadar diri kalau memang ada yang salah dengan diri gue. Misalnya si pacar menilai gue itu orang yang membosankan, terlalu egois, kurang perhatian, dll. Atau kalau emang si pasangan udah mikir ke arah yang serius, tandanya gue belum pantas untuk itu.

Akhirnya gue jadi belajar gimana caranya menjadi pasangan yang baik, nyaman, enak diajak ngobrol, terus bisa bikin dia yakin sama gue—yang meskipun “masih gini-gini aja”, tapi dia dapat melihat ada niat baik dan komitmen. Sehingga dia nggak berpaling seperti pasangan sebelumnya.

Sehabis diselingkuhin, gue tentunya pernah takut. Jangankan percaya sama pasangan, gue mah pernah takut buat pacaran lagi. Sebab, rasanya tuh susah banget percaya sama cewek-cewek baru yang hadir di hidup gue. Di kepala gue itu isinya pasti ada curiganya sama gebetan. Ah, nanti kalo jadian palingan gue diselingkuhin lagi, atau nggak paling baru berapa bulan juga putus.

Gue tiba-tiba jadi orang yang pesimis duluan. Syukurnya hal itu nggak berlangsung sangat lama. Sekitar 8-10 bulan memilih jomlo, gue juga udah bisa percaya lagi sama perempuan yang bisa diajak menjalin hubungan. Haha. Mungkin rasa takut dan curiga gue itu sebagian dari proses menyembuhkan patah hati. Halah! Jadi sebelum diri ini menjelajahi cinta yang baru, luka yang menganga itu kudu mengering dan sembuh dulu deh. Biar gue juga nggak ngebanding-bandingin sama perempuan di masa lalu. Wqwq.

Takut terlalu cinta? Waduh, ini berat kayaknya. Kalau terlalu cinta kepada pasangan, apalagi itu melebihi cinta kepada Allah jangan sampai deh. Itu gue takut. Biar bagaimanapun, cinta kita kepada Sang Pencipta harus lebih besar dibanding cinta terhadap makhluk ciptaannya. Allahu Akbar!

Tapi kayaknya pertanyaan ini bukan maksud ke situ deh, ya? Haha.

Oke-oke, gue nggak takut untuk terlalu cinta kepada pasangan. Emang takut untuk apa? Untuk gagal dan patah hati? Itu mah udah risiko menjalin hubungan. Yang gue tahu, kalau emang cinta kepada pasangan, ya kita sebaiknya membebaskan pasangan itu. Nggak mengekang atau mengikat pasangan. Seandainya pasangan gue nanti memilih berakhir, atau parahnya pergi bersama orang lain, itu akan tetep jadi pilihan dia. Dan, gue nggak bisa ngelarang-ngelarang ataupun ngatur-ngatur pilihan hidup dia. Apalagi kami masih pacaran.

Mungkin ini akan terdengar sangat omong kosong, ya. Namun kalau emang gue cinta sama dia, ya seharusnya gue turut bahagia dengan pilihannya itu. Gue pun mendoakannya yang terbaik. Hal barusan gue pelajari dari film Kiamat Sudah Dekat tentang ilmu ikhlas, dan dari film You Are the Apple of My Eye tentang gimana rasanya ditinggal nikah sama orang yang kita sayang.


Tiga

T: Kamu kan sebagai mantan mahasiswa ekonomi nih, Yog. Nah, saya mau tanya bagaimana cara meningkatkan nilai mata uang rupiah di dunia internasional?

J:Pertanyaan bagus!

Tapi bentar deh, ini gue lagi ngerjain soal UAS di kampus apa gimana, sih? Kok pertanyaannya... ah, ya udahlah gue jawab aja. Masih mending ini tentang ekonomi dan pernah gue pelajari, coba kalau tentang pertanian? Gue pasti kudu riset dan wawancara salah seorang blogger lulusan pertanian, dulu....

Menurut gue, caranya adalah dengan mengurangi impor dan menaikkan ekspor. Sebelumnya, untuk mengimpor barang itu kita membutuhkan mata uang negara asing untuk nilai tukarnya. Apalagi seperti yang kita tahu tentang Indonesia sekarang, negara ini sudah terlalu banyak mengimpor barang. Bahkan, soal beras pun kita juga impor. Padahal, kan, di Indonesia masih punya banyak sawah dan petani. Terus kenapa kita harus impor segala, sih? Seharusnya pertanian di Indonesia bisa dibenahi dan menghasilkan beras dari negara sendiri.

Nah, inilah sebuah contoh yang bikin melemahkan rupiah. Untuk menguatkannya, ya lakukan sebaliknya: dengan mengeskpor barang. Negara-negara asing, kan, jadi harus menukar mata uangnya itu dengan rupiah. Mata uang rupiah pun mulai membaik nilainya.

Namun, berbicara soal ekspor-impor ini tentunya agak susah, ya. Sebelum sampai ke tahap itu, mungkin menurut gue kita bisa memulainya dengan membeli produk-produk dalam negeri. Dengan membelanjakan uang untuk produk-produk Indonesia, setidaknya kita sudah ikut menyejahterakan rakyat kita sendiri. Dan yang terpenting, kekuatan rupiah bisa lumayan stabil dan tidak menurun seperti kala mengimpor barang dan belanja produk asing.

Sayangnya, untuk mencapai hal itu kita juga butuh produk yang bagus. Oleh karena itu, Indonesia perlu menciptakan produk-produk yang berkualitas. Ya, seperti yang terjadi di dunia digital aja deh. Semua kembali ke konten, kan? Para kreator harus menyuguhkan konten-konten yang bagus kepada penikmatnya. Tapi kadang konten yang bagus pun nggak cukup, kita butuh pembeda dan ciri khas atas suatu produk.

Selain tentang produk, kita sebenarnya juga bisa menjual jasa, yaitu jasa pariwisata. Banyak tempat-tempat wisata di Indonesia yang memesona. Hal itu kan bisa dijual dan membuat orang asing tertarik berlibur ke sini. Terusnya, kalau bisa hindarilah itu kebencian-kebencian yang sampai rusuh dan radikal, misalnya bom bunuh diri. Orang asing kan jadi takut nanti untuk berlibur ke sini karena Indonesia ternyata nggak aman.

Duh, kok mulai melebar, ya? Pokoknya kira-kira begitulah caranya untuk bisa meningkatkan nilai jual rupiah.

Empat

T: Kak, aku denger-denger kakak suka cewek cemataan (dibaca: pakai kacamata). Bahkan ceweknya kakak itu pake cemata. Alasannya kenapa, Kak? Terus ada nggak, sih, blogger yang cemataan yang bikin kakak kagum? Sebut nama dong, Kak!

J: Aduh, ini kenapa harus sebut nama segala, sih? Kampret! Terus kenapa jadi bahas pacar gue juga, sih? Nanti kan kalau sebutin blogger yang gue kagumin ngarahnya ke sana lagi. Hmm.

Alasannya, karena cewek-cewek yang pakai kacamata itu punya nilai tambah tersendiri. Mereka ini nggak tahu kenapa terlihat lucu dan cerdas di mata gue. Orang yang memakai kacamata berarti kan anaknya suka baca atau nonton gitu, ya? Berarti wawasannya menurut gue luas. Ah, Gemini sok iye amat deh. Paling ujung-ujungnya juga balik ke tampang. Wqwq.

Blogger yang pakai kacamata harus perempuan nih, ya? Habisan tadi segala bawa-bawa suka cewek cemataan dan pacar, sih.

Ya udah, yang pertama adalah Uni Dzalika.



Dari awal kenal sekitar akhir 2014 di grup WhatsApp dan bertemu langsung pas Januari 2015, kami masih berteman baik sampai sekarang. Dia cukup sering menegur gue di chat personal kalau tulisan gue nggak seperti biasanya, atau mulai nggak bener, atau terlalu jelek, atau apalah itu. Nggak banyak orang yang mau mengkritik dan bilang terus terang tentang hal yang salah di diri gue.

Namun, yang bikin gue kagum sama dia adalah..., dia dulu suka menulis fiksi di blognya. Dan sepertinya yang suka tulisan fiksi dia cukup banyak. Lalu entah karena apa, dia mulai mengubah branding menjadi beauty/fashion blogger. Dia menghilangkan label fiksi di blog. Menurut gue, itu nggak gampang. Dia pasti telah berjuang begitu keras sampai akhirnya berhasil melawan dirinya sendiri. Dia berani mencari pasar yang baru dan rela kehilangan pembaca tulisan fiksinya. Itu sungguh mengagumkan, serta menginspirasi blog ini yang tadinya berdomain yoggaas dan berubah menjadi akbaryoga. Gue pun berani merelakan trafik yang sudah ramai dan memulainya lagi dari awal.



Yang gue inget, si Uni Dzalika yang memperkenalkan gue ke dia lewat mensyen Twitter.



Justin—yang entah kenapa lebih akrab disapa Njus—ini emang bikin kagum beberapa cowok, sih. Jangankan gue yang udah kenal, waktu itu aja sampai ada orang yang bikin twit begini:



Seperti yang gue bilang di twit pada tahun 2015 itu, gue emang selalu suka sama cewek yang ngerti Marvel. Selain Marvel, Justin ini emang suka nonton banyak film maupun anime. Ditambah lagi dia anaknya juga suka baca buku. Referensinya dia ini menurut gue banyak. Dan, seorang perempuan yang cerdas emang pantas untuk dikagumi. Ehehe. Uniknya lagi, dia asyik diajak berbagi soal cermis (cerita misteri).

Semoga kalau Justin baca tulisan ini, dia nggak komentar, “Mosok?”. Huahaha.

Ketiga, Icha Hairunnisa.



Ketika blog gue masih sepi banget dan hampir nggak ada yang komentar, entah gimana caranya Icha bisa menemukan blog gue. Dia dulu sempet cerita kalau tahu blog gue dari Nyunyu, kala gue masih suka baca dan komentarin artikel di sana. Terus dia meninggalkan komentar di blog gue begini:


Lucu juga, sih, gue dipanggil “Bang”, padahal tuaan dia. Tapi pada zamannya, sumpah itu puitis banget! Uwuwuwu~

Gue lupa detailnya gimana kami bisa akrab kayak sekarang. Yang gue inget, gara-gara gue mengunjungi balik blog dia. Terus dia juga jadi rutin main ke blog gue. Setelah itu, dia sempat vakum ngeblog berapa lama gitu. Sebagai blogger yang merasa kehilangan pembaca setianya (sebab Icha udah mengikuti blog gue dari zaman masih gembel dan kalau nggak salah dia selalu meninggalkan komentar), gue pun mulai mencari tahu ini orang ke mana. Belakangan diketahui, dia katanya sakit dan sampai dirawat di RS (tanpa J).

Sejak itu, kami semakin tambah akrab. Apalagi kala gue menggagas sebuah grup WIRDY. Kami pun semakin mengenal jauh lebih dalam, jauh lebih lelap dari sebelumnya (ini ngapa jadi hipnotis, sih?). Meskipun kayaknya sekarang ini dia begitu menyesal pernah mengidolakan seorang Bang Yoga.

Yang bikin gue kagum sama Icha justru karena gaya nulisnya dia yang frontal, liar, nakal, binal, brutal, membuat semua orang menjadi gempar. Entah dia emang dari dulu sebelum kenal gue udah suka lelucon mesum, atau karena keseringan baca blog gue yang sekitar 2015-2016 banyak banget mesumnya.

Saat sekarang ini gue udah mulai menghilangkan pelan-pelan gaya itu, tapi dia masih konsisten tuh bermesum ria. Dia berani dicap buruk sama orang lain. Entah dia sempet sedih atau kecewa karena dianggap hina, setidaknya dia cukup keren karena sanggup bertahan dengan ciri khasnya. Salut!

Selain itu, tentunya Icha ini punya banyak referensi film. Banyak film-film bagus yang gue dapatkan dari ulasan di blognya. Anaknya juga suka musik gitu. Gue pikir, Icha memiliki wawasan yang luas dan enak diajak ngobrol. Buktinya, dia memang asyik jadi teman curhat. Ehehe.

--

Yeah, itulah pertanyaan-pertanyaan kampret yang mau nggak mau bikin gue terpaksa curhat. Semoga yang bertanya puas dengan jawaban gue itu.

NB: Semua jawaban di tulisan ini sebaiknya tidak perlu dipercaya begitu saja. Ini tulisan kebanyakan ngawurnya. Kalau ada yang mau protes sama jawaban yang tidak kalian sukai, mau ikut berpendapat, atau ikut bertanya, ya monggo tuliskan di kolom komentar. Muahaha.

Sumber gambar: Pixabay, dan untuk foto yang blogger perempuan diambil dari akun media sosial mereka masing-masing.

*

Tulisan Darma bisa baca di blog grup WIRDY