Beberapa hari yang lalu saat libur kerja, aku memutuskan untuk bertualang. Kamu mungkin tau rasanya bekerja selama 6 hari dalam seminggu dengan semangat yang kurang itu seperti apa. Nah, bagiku itu cukup menjenuhkan. Ketika libur, lalu cuma tidur-tiduran di rumah itu malah menambah rasa bosan. Mungkin mengistirahatkan tubuh itu perlu, tapi jiwaku juga butuh sesuatu yang baru. Yang membuatku kembali menjalani hari dengan penuh kesegaran. Maka, jadilah aku pergi bertualang.


Pertualanganku ini berlangsung selama sebelas jam. Semuanya berawal ketika aku memulai perjalanan dari Stasiun Bekasi dengan tujuan Stasiun Sudimara (Tangerang Selatan) menggunakan kereta listrik (KRL) khusus area Jabodetabek. Sebetulnya aku tidak begitu suka naik kereta, tetapi kalau menggunakan motor rasanya pasti tak sanggup. Perjalanan dari ujung ke ujung dan duduk berjuang melawan macet tentunya bisa membuat pantatku menipis. Dan karena belum memiliki helikopter, maka keretalah yang jadi solusinya.

Mungkin kamu bingung apa tujuanku pergi ke Sudimara. Aku janjian bersama teman-teman bloger: Adibah dan Yoga, untuk berjumpa sembari kulineran di sana. Mereka, sih, enak jaraknya pada dekat. Yoga dari Palmerah cuma 4 stasiun, Adibah apalagi yang tinggal naik angkot.



Sedangkan aku harus berusaha sekuat tenaga menempuh perjalanan dari Bekasi menuju Sudimara sebanyak belasan stasiun. Dan pahitnya, sendirian. Mungkin di kereta memang penuh dengan manusia, tapi tetap saja aku tidak kenal mereka dan merasa sendiri. Selagi mengeluh dalam hati, suara perempuan dari pengeras suara mewartakan kalau kereta tiba di Stasiun Manggarai. Tanda kalau aku harus transit. Setelah ini aku juga akan transit lagi di Tanah Abang. Barulah setelah itu melewati beberapa stasiun, hingga sampai di Sudimara. Uh, perjalananku masih panjang. Namun tak apa-apa. Ini lebih baik daripada aku berdiam diri di rumah.

Tak lama setelah membayangkan perjalanan jauh itu, aku mulai pusing dan mual melihat manusia segitu banyaknya menunggu kereta tiba. Seraya menunggu kedatangan kereta, aku membuka ponsel. Ada notifikasi di grup WhatsApp. Yoga bilang kalau dirinya sudah sampai dan menunggu di Stasiun Sudimara. Lalu Adibah bertanya, “Mbak Dian udah sampai mana?”

Sebelum cerita ini berlanjut, perkenalkan namaku Dian. Dian Hendrianto. Sebagian yang membaca ini mungkin bingung siapa diriku. Bagi yang belum mengenalku, akan kutegaskan kalau aku adalah seorang laki-laki tulen. Namun, entah kenapa acap kali dikira perempuan. 

Misalnya, ketika aku lagi memesan ojek online, si driver yang meneleponku pasti langsung berujar, “Posisi Mbak Dian di mananya?” Atau saat ada kiriman paket dari suatu produk yang kubeli secara online. Kurir itu berteriak di depan kontrakanku, “Permisi, ada paket. Paket untuk Mbak Dian.”

Keparat!

Kenapa mereka selalu mengira Dian itu nama perempuan? Padahal Dian Sidik pemeran Joko Tingkir itu juga seorang laki-laki.

Lebih sialnya lagi, bagi yang sudah mengenalku selalu saja menjadikan hal itu sebagai lelucon. Mereka begitu puas menertawakanku dengan panggilan “Mbak”, dan aku sungguh kesal mendengarnya.

Terkadang aku jadi kepikiran untuk membikin nama pena. Nama yang jantan dan tidak lagi dikira seorang perempuan: Hendrianto D. Ian. Ya, memang cuma memindahkan nama belakangku menjadi ke depan, sih. Namun, kupikir itu akan keren sekali seperti Monkey D. Luffy di anime One Piece. Inisial D yang sampai sekarang belum terjawab rahasianya itu terkesan misterius untuk namaku. Tapi yang paling penting ialah, orang-orang berinisial D itu tidak kenal menyerah.

Cocok sekali, bukan?

O iya, sudah cukup perkenalannya. Sekarang kembali ke kisahku yang bertualang selama 11 jam. Dari Bekasi menuju Manggarai sudah berlangsung kurang lebih 1 jam. Masih ada 10 jam lagi yang harus kuceritakan kepadamu. Tapi untuk mempersingkat waktu, akan kuringkas saja.

***

“Kesel ya nungguin lama?” tanyaku ke Yoga begitu kami bertemu. Sayangnya, ia tidak menjawab.

Sekarang pukul 2 siang lebih 14 menit, aku berangkat dari Bekasi sekitar pukul 12. Sudah sekitar dua jam aku pergi, dan Yoga kira-kira telah menunggu satu jam. Berarti sudah 2 jam pertualanganku yang tertulis di dalam cerita ini. Masih ada 9 jam lagi yang mesti kutuliskan.

Adibah mengontakku kalau dirinya barusan habis melihat kami berdua. Kami berdua pun mencari-cari, di mana si biawak ini bersembunyi. Karena malas, aku pun menanyakannya. Dan ternyata, ia melihat kami dari dalam angkot. Ia memang betul-betul biawak.

Aku bertanya kepada Yoga, apakah tempat yang kami kunjungi ini masih jauh? Ia menjawab hanya 700 meter. Tanggung kalau naik angkot. Aku tau dia sama sepertiku, kadang suka mabuk saat naik angkot. Kami berdua akhirnya memutuskan untuk berjalan kaki. Matahari pada siang itu rasanya membuat perjalanan kami seperti musafir di padang pasir. Keringat di tubuh mulai keluar. Aku kemudian menutupi kepala dengan kupluk yang menempel di sweter demi mengurangi panas terik, sedangkan Yoga menggunakan tasnya sebagai payung.

Sekitar 10 menit berjalan, akhirnya kami sampai juga.

“Ngapain jalan, sih? Enggak macet juga,” ujar Adibah yang sedang berdiri setengah jongkok menunggu kami.

Kami berdua hanya tertawa kecil dan segera masuk ke Tomyam Kelapa Saung Ibu, kemudian Adibah mengekor.

Di dalam, Yoga menyalami seseorang laki-laki dewasa, yang belakangan diketahui adalah pemiliknya dan akrab dipanggil “Kang Baha”. Aku dan Adibah pun ikut bersalaman. Sehabis itu kami berempat duduk di paling belakang, tapi tidak terlalu pojok. Obrolan dibuka dengan aku dan Adibah yang memperkenalkan diri. Kang Baha manggut-manggut mendengar kami berdua yang juga seorang bloger. Kalau Yoga enggak perlu ditanya, ia mah sudah kenal dan sepertinya cukup sering berkunjung ke sini.

Selanjutnya kami membahas tentang dunia blog. Kang Baha bercerita kalau sudah tidak ngeblog dan memilih fokus berbisnis. Sejujurnya aku agak sensitif membahas blog, sebab sudah lama enggak ada tulisan baru. Aku pun mengalihkan topik dengan bertanya tentang tomyam yang berasal dari mana kepada Kang Baha. Setelah dijawab, rupanya dari Thailand. Sumpah, aku baru tahu akan hal ini. Hal yang paling menempel di kepalaku tentang Thailand hanyalah film Jan Dara. Ehehe.

Sehabis itu, Kang Baha bercerita tentang dunia bisnis. Aku pun menyimak dengan baik. Keasyikan mengobrol, kami bertiga sampai pada lupa memesan makanan. Itu juga karena Kang Baha yang mengingatkan kami, “Eh, jadi mau makan kapan nih? Udah pada laper belum?”

Adibah dan Yoga memesan tomyam seafood, kalau aku yang campur (ayam dan seafood). Aku dan Yoga memakai nasi, sedangkan Adibah tidak. Untuk minumnya, barulah kami kompak; es teh manis.

***

Pertama kali mencicipi kuah tomyam yang asam dan pedas—kemudian buah kelapanya menambah rasa jadi agak manis—di lidah ini buatku mantap betul. Hidup merantau mau tak mau harus irit dan membuatku lebih sering makan di warteg (Warung Tegal). Oleh karena itu, tomyam kelapa ini jadi begitu spesial.

Kelar kami makan, tak begitu lama ada pria bertubuh tinggi besar menghampiri kami. Kami bertiga pun bingung sebab merasa asing dengan orang ini. Setelah ia memperkenalkan diri, barulah aku sadar kalau ternyata ia yang tadi bilang mau menyusul. Si Fauzi—lebih sering dipanggil Oji, bloger yang kuliah di Mesir dan sekarang sedang liburan dan pulang ke Indonesia. Baru saja ia duduk di sampingku, ia langsung memberikan kami oleh-oleh; pembatas buku dan gantungan kunci. Oh, terima kasih!

Selanjutnya, kami mengobrol, mengobrol, dan mengobrol. Topiknya tidak jauh-jauh dari menulis dan ngeblog. Pada diskusi ini, Yoga lebih banyak bercerita karena memang ia yang paling aktif ngeblog di antara kami. Yoga kemudian curhat kalau tulisan terbarunya, Surat Bunuh Diri Nolan, yang panjang betul itu, ternyata tidak ditulis langsung jadi. Ia bilang, ada beberapa bagian yang sudah ditulis dari 2016. Ia menyimpannya di draf sebab bingung harus dibuat tulisan seperti apa. Ketika ada berita bunuh diri, barulah ia membuka draf itu lagi. Menambahkan beberapa paragraf seraya mengeditnya sampai jadi sepanjang itu.

Seusai Yoga berbagi cerita, Oji kemudian berkata kalau dirinya malah tidak bisa menulis dipendam seperti itu. Ia biasanya kalau menulis dan mengedit seperlunya, ya langsung publish saat itu juga. Enggak bisa disimpan lama-lama. Pasti rasa di dalam tulisan itu hilang. Lalu, gantian Adibah yang bercerita kalau sedang sulit mengatur waktu untuk ngeblog. Saat ini, ia begitu sibuk menulis liputan untuk radio di kampusnya. Kalau ada ide, ya idenya sudah terpakai untuk tulisan radio itu. Buat menulis di blog hanya sisaan saja dan menurutnya kurang layak ditulis.

Aku sendiri sudah enggak ngeblog sekitar 2 bulan. Rasanya lama betul. Aku sebetulnya sudah coba menulis lagi, tapi setiap draf yang kutulis tidak pernah selesai. Jadi, aku sendiri cuma bisa menyimak mereka. Entah harus berbicara apa. Dan sejujurnya, aku termasuk orang yang agak pendiam.

Keasyikan bertukar pikiran, tak terasa waktu semakin bergeser dan menunjukkan pukul 5. Berarti sudah 5 jam kamu mengikuti petualanganku. Masih tersisa 6 jam lagi untuk cerita lengkapnya. Kuharap kamu tidak bosan mengikuti tur ini karena sekarang sudah 1.000 kata lebih. Apakah terasa panjang? Setelah ini, aku berjanji untuk berkisah dengan lebih singkat. Jadi, siapkan dirimu untuk ritme yang lebih cepat dari sebelumnya.

***

Aku dan Yoga berpisah dengan Adibah di depan Stasiun Sudimara. Kami berdua turun, dan Adibah tetap duduk di angkot untuk pulang ke indekosnya. Kalau Oji sudah berpisah lebih dahulu di depan saung karena ia mengendarai motor. Aku dan Yoga rencananya akan menonton film Dunkirk di bioskop. Satu-satunya bioskop yang kami tahu dekat dengan stasiun ialah TIM (Taman Ismail Marzuki). Berarti tujuan kami selanjutnya adalah Stasiun Cikini. Yoga kemudian bertanya kepadaku, “Kira-kira keburu enggak nih, Yan?”

Aku cuma cengengesan karena memang tidak tau akan sampai pukul berapa nanti di Cikini. Sekarang sudah pukul 17.48, dan kami saat ini baru saja naik kereta dari Sudimara, padahal filmnya dimulai pada pukul 19.15.

“Satu jam cukup enggak, sih?” aku gantian bertanya.

Yoga pun menjawab kalau waktunya pasti sangat mepet. Setelah itu, ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan membuka Twitter. Aku pun jadi ikutan memainkan ponsel. Tapi, aku tidak tau harus membuka aplikasi apa. Jadinya aku cuma menggenggam ponsel itu sambil mendengar suara keras dari roda kereta yang menggilas sambungan rel.

Sehabis kereta berhenti di Stasiun Tanah Abang, kami berdua segera berlari menaiki dan menuruni tangga. Pindah dari peron 5 menuju peron 3. Syukurnya, pas kami turun dari tangga, kereta di peron 3 langsung tiba, dan kami pun sempat masuk ke dalam setelah menerobos kerumunan orang yang baru turun dari kereta dan ingin menaiki tangga. Kereta pada jam pulang kerja benar-benar padat. Jangankan berharap mendapat tempat duduk, bisa memegang cincin besar bertali yang digantung sepanjang gerbong—alat pegangan khusus bagi penumpang yang berdiri—saja rasanya sulit. Ingin rasanya keluar lagi karena kepalaku pusing dan sulit bernapas ketika terimpit seperti ini. Namun, pintu otomatis sudah tertutup dan kereta pun mulai bergerak menuju Stasiun Karet.

Di Stasiun Sudirman, aku merasakan lagi kepahitan duniawi yang lebih pahit dari sebelumnya. Kini jumlah penumpang yang naik terlalu banyak, parahnya tidak ada penumpang yang turun. Orang-orang berseragam kantoran, baik pria maupun wanita, memaksa masuk dan membuat gerbong kereta jadi semakin sesak. Kini rasa pahit pun tercampur dengan asam yang kuhirup dari keringat orang-orang pulang kerja yang mengering dan menguap. Aromanya itu kuyakin bisa membunuh bayi tapir yang baru lahir. Terlebih lagi, dalam keadaan padat begini, dinginnya AC seolah tidak berguna.

Begitu kereta mulai berjalan kembali, aku melihat Yoga yang sampai terdorong ke depan sebab tidak kuat menahan dorongan orang di belakangnya. Kemudian dia tau-tau bilang kepadaku, “Sesungguhnya, setelah kesulitan itu ada kemudahan.”

Sebegitu menderitanya, kah? Kupikir aku saja yang menderita dari tadi, tampaknya aku memiliki teman yang bernasib lebih mengenaskan.

Sesampainya di Stasiun Manggarai, aku langsung bernapas lega. Energi kehidupan yang tersedot di gerbong kereta jahanam itu mulai kukumpulkan kembali. Namun baru saja aku merasa bebas, Yoga kemudian mengingatkan kalau sekarang sudah pukul 18.47. Ia mulai pesimis kalau nanti tidak keburu. Apalagi kereta yang kami tunggu ini kedatangannya belum tercium sedikit pun.

“Padahal tinggal satu stasiun lagi, Yan. Tahi dah ini kereta belum nongol-nongol,” kata Yoga kepadaku.

“Terus gimana?” tanyaku.

“Nonton film lainnya mau?”

Aku kemudian mengecek web dan melihat jadwal tayang film di bioskop TIM. Aku memperlihatkannya ke Yoga. Ia pun tertawa. Aku bingung apanya yang lucu? Akhirnya kulihat sekali lagi ponsel itu. Dan aku baru sadar, semua film dimulai pukul 19.00, justru Dunkirk yang masih ada harapan.

Setelah itu kereta pun tiba, tapi saat ini sudah pukul 18.53. Aku kembali bertanya, kira-kira keburu apa enggak nih? Yoga kali ini merespons dengan optimis, tenang aja sampai tepat waktu kok. Aku kembali bernapas lega. Tapi setelahnya ia bilang, “Cuma, dari Stasiun Cikini ke TIM kita lari, Yan.”


Betul saja apa yang ia bilang tadi. Sekarang kami berdua sedang berjalan cepat dari stasiun menuju TIM. Aku perhatikan tali sepatu Yoga terlepas, tapi ia tidak acuh dan terus berjalan cepat. Aku sendiri mulai lelah karena tidak sampai-sampai. Kemudian menanyakannya lagi, apa masih jauh? Yoga pun malah bingung kenapa bisa terasa begitu jauh. Apakah jarak itu justru akan semakin jauh ketika kita sedang terburu-buru? Rasanya menonton film tidak pernah semenyebalkan ini.

Pukul 19.07, akhirnya kami sampai di TIM. Namun, untuk menuju gedung bioskopnya kami masih harus berjalan lagi. Belum berakhir juga rupanya perjuangan ini. Apalagi setelah Yoga berkata, kalau nanti Dunkirk penuh gimana? Sialan! Hal itu sama sekali tidak terpikirkan olehku. Langkah kaki Yoga semakin cepat, aku juga ikutan menambah kecepatan berjalan. Sebenarnya dari tadi aku ingin berlari, tapi entah kenapa tenaga ini hanya sanggup berjalan.

Setelah memesan tiket dan kami masih kebagian kursi di tengah—yang tidak ke depan-depan amat, kami berdua akhirnya bisa betul-betul tersenyum puas. Sebelum masuk ke studio, kami pun menyempatkan untuk ke toilet terlebih dulu. Santai abis. Perjalanan kami untuk menonton film sudah seperti dikejar tenggat. Sebelum masuk ke studio, kami juga hampir salah masuk. Dunkirk itu di studio 4, dan entah kenapa Yoga berjalan menuju studio 1. Kala pintu studio sudah tertutup dan mbak-mbak itu berujar meminta tiket kami untuk mengeceknya, barulah ia sadar kalau salah studio. Ia sudah kehilangan fokus sepertinya. Bodohnya, aku tetap mengikutinya. Jadi, siapa yang lebih bodoh?



Sejauh ini, pertualanganku sudah bergerak selama 7 jam. Kamu hebat juga sudah mengikutinya sampai kalimat ini. Untuk lebih mempersingkat waktu, film Dunkirk tentunya tidak akan kuceritakan. Filmnya berlangsung selama 2 jam. Berarti sekarang sudah 9 jam aku bertualang.

Keluar dari studio 4, Yoga terlihat kurang puas dengan film tersebut. Dia pun berpendapat kalau film itu biasa saja. Filmnya memang bagus, tapi entah kenapa seperti ada yang kurang. Nolan biasanya lebih mengejutkan, katanya. Entahlah. Aku baru nonton satu film Nolan, yaitu Inception. Jadi menurutku, ya film Dunkirk itu bagus-bagus saja. Sepanjang perjalanan pulang dari TIM menuju Stasiun Cikini, Yoga berbagi beberapa film Nolan yang menurutnya bagus. Aku pun mendengarkannya. Kalau tidak salah, ia menyebutkan The Dark Knight Trilogy (Batman), The Prestige, dan Memento. Sebenarnya masih ada lagi, tapi sayangnya aku lupa.

Sesampainya di Stasiun Cikini, Yoga mampir terlebih dahulu ke mini market yang berada di dalamnya. Aku kemudian mengikutinya. Setelah mengambil minuman, membayar minuman itu di kasir, dan meminumnya, aku merasa lebih segar. Ya, rasanya 3 jam terakhir begitu melelahkan buatku. Apalagi buat Yoga. Anehnya, aku malah baru engah sejak di Stasiun Sudimara sampai duduk menonton film di bioskop, kami tidak minum apa pun. Pantas saja tenggorokanku bagai musim kemarau, dan sekarang sudah diguyur hujan.

*

Kami berpisah di Stasiun Manggarai, Yoga pun turun dan aku tetap melanjutkan perjalanan. Dari film itu habis, berjalan dari TIM menuju stasiun, membeli minuman, dan menunggu kereta. Berarti sekarang sudah 10 jam lebih aku bertualang dan kamu mengikuti kisahku. Masih ada satu jam lagi, maka sisanya ialah perjalanan dari Manggarai menuju rumah kontrakanku. Selama di kereta sampai menuju rumah, aku berkontemplasi.

Dari pertualangan 11 jam itu aku sepertinya banyak belajar. Jauh-jauh datang dari Bekasi ke Tangerang Selatan, aku ternyata mendapatkan makanan gratis senilai 30 ribu lebih. Saat kami ingin membayar makanan itu, Kang Baha malah menggratiskannya. Ia bilang, biar Yoga aja yang bayar pesanannya sendiri karena sudah biasa menyantapnya. Untuk bloger yang baru mencoba, ia memberikan tomyam itu secara cuma-cuma. Suatu hari, aku mesti ke sana lagi untuk mencoba menu lainnya, dan tentunya dengan membayar. Selain itu, aku juga mendapatkan oleh-oleh dari Mesir. Hal itu semacam bonus akan proses perjalananku yang begitu jauh.

Lalu, dari menonton film Dunkirk itu aku juga belajar untuk jangan menyerah sekecil apa pun kemungkinannya. Itu kudapatkan setelah menonton adegan-adegan tentang bagaimana menyelamatkan diri dari kepungan penjahat dan kita terus berusaha dan berdoa agar tetap selamat.

Apalagi mengingat di menit-menit terakhir saat kami bergegas menonton film. Kami benar-benar tidak menyerah dan terus berjuang melawan waktu. Kami tidak mau dikalahkan begitu saja dengan beberapa kemungkinan. Misalnya, telat datang karena film sudah dimulai, terus kebagian tempat duduk di paling depan, atau malah kursi penontonnya sudah penuh. Saat itu kami berdua rasanya bagai berjudi dengan waktu dan nasib. Alhamdulillah, kami datang tepat waktu dan masih kebagian tempat duduk di tengah. Lalu dari kekecewaan Yoga barusan, aku juga belajar untuk tidak berharap terlalu tinggi akan apa pun.

Terlepas dari semua perenungan itu, aku malah mendapatkan kesimpulan: bagiku menjadi bloger itu membuka jaringan pertemanan dan menambah wawasanku. Setelah bertualang selama 11 jam tadi, aku seperti keluar dari duniaku yang biasa-biasa saja. Rasa melelahkan di hari libur ini sepertinya bukanlah masalah untuk menyambut hari esok dan bekerja, sebab aku pulang dengan bahagia.

--

PS: Tulisan ini terinspirasi dari kisah nyata dan tidak berbayar sama sekali.

*Update:

Baru-baru ini si Dian Hendrianto akhirnya gantian nulis dari sudut pandang gue: Yoga dan Perjalanan Menuju Dunkirk.

Sumber gambar:
- Pixabay (yang kemudian diedit sesuai kebutuhan)
- http://www.transportumum.com/jakarta/wp-content/uploads/2013/12/Diagram-Rute-Jarak-Stasiun-2015-KRL-Commuter-Line-Jabodetabek-TransportUmum.jpg
- http://www.slashfilm.com/dunkirk-poster/