Setiap orang memiliki alasan tersendiri saat ikut CFD (Car Free Day) pada hari Minggu. Sayangnya, dua bulan belakangan ini gue malah belum menemukan alasan yang tepat untuk mengikutinya. Justru, adanya alasan-alasan untuk nggak ikut. Tentu saja karena cuaca sering hujan. Sekalinya nggak hujan, hawa dingin itu membuat gue memilih untuk selimutan (meski gue gak punya selimut dan hanya menggunakan sarung Wadimor) dan tidur lagi.

Sampai suatu hari, gue iseng melihat-lihat galeri foto dari tahun 2012-2015. Ada beberapa foto yang menampilkan seorang cowok memakai jaket merah klub bola Manchester United, bercelana pendek hitam, dan sedang menaiki sepeda fixie putih. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah diri gue sendiri. 



Gue masih saja memandangi foto itu. Gue mendadak rindu sama momen itu. Kalau gak salah foto itu diambil sekitar tahun 2014. Zaman gue masih bekerja di Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan, masih berambut pendek, dan tentunya masih rajin CFD-an di hari Minggu—minimal sebulan 2 kali. Sekarang, semuanya tak lagi sama. Kerjaan belum jelas karena gue masih seorang freelancer, rambut gondrong udah kayak preman (meski kalo jadi preman betulan, gue pasti yang malah dipalak karena nggak ada serem-seremnya), dan hampir nggak pernah olahraga atau ikut CFD.

Akhirnya untuk menjawab rasa kangen itu, hal sederhana yang bisa gue lakukan ada dua: 1) cukur rambut; 2) ikut CFD. Sebab, cari kerjaan tetap itu tidaklah mudah. Tetap menganggur itu baru gampang.

Entah kenapa gue masih pengin gondrong, maka gue tidak memilih opsi pertama. Gue pun mengambil pilihan kedua yang terasa lebih sulit, yaitu ikut CFD. Percayalah, hari Minggu itu lebih asyik buat males-malesan. Melepas jeratan kasur dan berjalan ke kamar mandi untuk cuci muka aja itu berat banget. Tau gitu, habis Subuhan tadi mah gak usah leyeh-leyeh di kasur kalau untuk bangkit lagi berasa beban gini.

Namun, pada tanggal 5 Maret 2017, berangkatlah gue CFD ke Bundaran HI. Gue lupa kenapa bisa tau-tau beranjak dari kasur dan sudah mengayuh sepeda sambil menikmati sejuknya udara Jakarta di hari libur ini. Jelas ini keren! Karena gue orang Jakarta, maka kegiatan CFD ini lokasinya di Jalan Sudirman sampai Jalan M. H. Thamrin. Waktu dilaksanakannya pada pukul 06.00 – 11.00 WIB.

Gue pun sampai di daerah Sudirman sekitar pukul 8. Ternyata di sini udah rame banget. Jalanan seluas ini jadi terasa sempit buat gue. Ya, bisa dibilang gue datangnya kurang pagi. Tapi ya, coba nikmati sajalah daripada tiduran doang di rumah.

Meskipun kadang males juga kalau olahraga hanya sendirian begini. Cuma musik yang bisa menemani gue bersepeda. Namun, bagi gue itu udah lebih dari cukup. Setidaknya, musik menjadikan kesepian itu seolah-olah menghilang. Habis mau gimana lagi? Temen-temen kalau diajakin pada nggak bisa.

Nggak terasa, sudah hampir sembilan lagu yang terputar ketika gue sepedaan dari rumah sampai gue berada di Sudirman ini. Kemudian, gue mulai menggowes lagi. Beberapa saat kemudian, gue sudah sampai di Bundaran HI. Gue perhatikan setiap orang terlihat bahagia sekali mengikuti CFD. Ya, entah deh apa motivasi mereka. Ada yang mungkin benar memang pengin berolahraga supaya tubuh sehat; ada yang terselubung untuk cuci mata; ada yang berfoto-foto supaya bisa pamer di media sosial; ada pula yang jualan. Ya, mereka yang pada jualan pas CFD ini memang jago menemukan peluang bisnis.

Ternyata, gowes sendirian seperti ini membuat diri gue dapat menangkap banyak hal. Awalnya, gue melihat beberapa mahasiswa/i kedokteran yang membuka praktik tes gula darah dan asam urat. Mungkin suatu hari nanti bisa-bisa ada yang buka praktik sunat. Ya, siapa tau aja.

Setelah itu, gue melihat ke arah lain. Ada tiga ibu-ibu berhijab, salah satu di antara mereka pun mengeluarkan ponselnya. Lalu, kedua temannya pun mulai mendekat dan berpose. Mereka selfie. Beberapa detik kemudian, mereka mengganti gayanya, tanda kalau ponsel itu sudah membekukan momen mereka. Nggak lama, mereka pun berganti gaya lagi. Gue hanya tertawa melihatnya.

Dari sekian banyak foto itu, gue yakin hanya akan dipilih satu foto yang terbaik untuk dipamerkan di medsos. Nggak peduli nanti temen-temennya terlihat gendut atau jelek di foto itu. Pokoknya mah dia sendiri yang kelihatan cakep.

Lagi asyik menertawakan ibu-ibu itu, eh bunyi klakson TransJakarta tiba-tiba mengejutkan gue. Taik! Beberapa orang yang berada di jalur busway itu pun minggir. Gue kemudian lanjut mengayuh sepeda kembali ke arah Sudirman.

Lalu, gue perhatikan lagi orang-orang ini. Dari sekian banyak orang yang ikut CFD, gue paling salut karena ada para relawan yang memunguti sampah di jalanan dan membuangnya ke tempat sampah. Hm, masih banyak orang yang peduli akan lingkungan rupanya. Hati gue pun tergerak akan hal itu. Gue jadi ikutan mengambil sampah di sekitar, yang kemudian gue bawa pulang untuk dijual ke pemulung. Wahaha. Nggak, kok. Nggak.

Merasa agak lelah, gue pun berhenti sejenak dan minum. Setelah itu, gue memilih satu tempat yang teduh untuk duduk sekalian istirahat. Gue kembali mengamati mereka. 

Melihat beragam manusia seperti ini membuat gue semakin kecil dan nggak ada apa-apanya. Mereka nggak ada yang memperhatikan apalagi peduli sama gue. Gue yang akhirnya memperhatikan mereka. Terkadang, menyimak apa yang terjadi di sekitar ini telah menjadi hobi tersendiri buat gue. Enak aja gitu ngelihatin orang-orang bergerak dan gue sendiri memilih diam tanpa masuk ke dalam sistem. Gue mulai tersenyum sambil menontoni aktivitas mereka.



Puas dengan hal itu, gue kemudian memotret gedung dan aktivitas CFD. Setelah mendapatkan beberapa foto yang lumayan menarik, gue lalu melirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh. Ya, setengah jam lagilah baru pulang, pikir gue.

Sampai akhirnya ada dua orang cowok remaja yang ikutan duduk di sebelah gue. Salah satu dari mereka ada yang merokok. Gue nggak tau kenapa merasa alergi dengan asap rokok itu. Gue pun terbatuk-batuk. Tapi yang lebih parah itu teman satunya lagi. Tercium bau belerang dari ketiaknya. Sungguh menyengat. Sumpah, gue langsung pengin muntah. Rasanya hari ini sudah cukup deh. Nggak perlulah nunggu-nunggu setengah jam. Sepuluh menit berdiam diri dan berada di dekat mereka aja kayaknya bisa mati gue. Tanpa berpikir panjang, gue memutuskan untuk pulang.

Di jalan pulang, gue masih melihat banyak orang yang masih sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Salah satunya ada seorang remaja perempuan yang berbicara setengah berteriak. Gue mendengar suaranya yang sedang minta tolong fotoin kepada temannya. Hal itu membuat gue memperlambat laju sepeda.

Gue mulai memperhatikannya dari jauh ketika dia mulai berpose. Berdiri dengan satu kaki, mengangkat satu kakinya yang lain dan menempatkannya di paha. Kedua tangannya lalu ditaruh di depan dada seolah-olah sedang bertapa. Setelah difoto, kemudian dia mengganti gayanya itu. Kali ini berdiri dengan dua kaki. Lalu, tangannya dibentuk seperti sedang meninju langit ke arah kanan. Namun, dia menunduk dan menaruh mukanya di ketiak sebelah kiri. Belakangan diketahui, itu namanya pose dab. Ada-ada aja deh gaya anak sekarang.

Gue pun melanjutkan perjalanan. Entah kenapa gue jadi merenung dan mengingat hal-hal yang tadi terjadi. Beberapa dari mereka di mata gue terlihat palsu. Seolah-olah olahraga, padahal mereka ikut CFD supaya bisa menunjukkan eksistensinya di media sosial. Namun, kalau dipikir-pikir, gue nggak ada bedanya sama mereka. Gue malah lebih parah karena merangkum kegiatan olahraga menjadi sebuah tulisan yang entah kenapa penuh ketidakjelasan ini.

Setidaknya, yang masih bisa gue syukuri adalah tujuan untuk olahraga itu masih ada di dalam diri gue. Sebagai orang yang gak banyak gerak karena aktivitasnya lebih sering duduk di depan laptop alias menulis. Tampaknya gue merasa butuh olahraga. Oleh karena itu, pada hari Minggu berikutnya, 12 Maret 2017, gue berangkat CFD lagi. Sendirian. Sebenarnya, gue males kalau olahraga sendirian mulu gini. Cuma, ya mending sendirilah daripada nggak jadi-jadi karena nungguin temen. Bingung juga, sih, kenapa beberapa temen gue sering bilang susah bangun pagi, atau ngakunya kesiangan padahal malamnya semangat banget pas dia ngajakin. Gue pikir, kita nggak perlu terlalu bergantung sama orang lain. Kalau masih mampu ngelakuin hal itu sendiri, ya lakuin aja. Kayaknya untuk olahraga atau melakukan hal-hal lainnya pun memang soal kemauan.