Sudah berulang kali gue jatuh dari motor atau kecelakaan. Hm, tetapi hal itu tidak membuat gue berhenti mengendarai motor. Mungkin sempat trauma sebentar, tapi begitu merasa baikan, gue pasti akan menaiki motor itu kembali. Sejujurnya, sih, itu terpaksa. Iya, karena gue kalau naik angkutan umum bakalan enek dan pusing. Nggak enak banget, ya, jadi orang yang mabuk kendaraan umum. Dasar lemah!

Namun, gue masih bisa kok naik kereta api dan TransJakarta. Kalo mikrolet, taksi, metromini, dan kopaja gue mending nyerah aja deh. Rasa mual gue susah banget dikendalikan. Kan nggak lucu aja gitu ketika di metromini terus gue “hoek-hoek” dan disangka hamil. Gue nggak pengin mengganggu penumpang yang lain dan membuat mereka merasa jijik. Maka, mau gak mau gue harus tetap mengendarai motor.

***

Beberapa orang sering mengeluh dan malas dengan hari Senin. Begitu pun dengan gue pada hari Senin tanggal 9 Januari 2017. Entah kenapa, hari itu gue pengin tidur aja. Padahal emang habis begadang dan baru tidur sehabis Subuhan. Sedihnya, gue lupa kalau pukul satu siang nanti harus masuk kerja. Yeh, itu mah emang gue aja yang bego. Hahaha.

Sekitar pukul 11, gue tiba-tiba kebangun dari tidur yang seolah-olah begitu singkat. Padahal udah tidur sekitar 5 jam. Entah kenapa kalau tidur pagi itu rasanya kayak nggak berasa tidur, ya? Karena masih ngantuk, gue pun memilih tidur lagi. Ah, azan Zuhur juga belum. Tidur satu jam lagi bisa ini mah, batin gue sambil memejamkan mata kembali.

Celakanya, gue kebangun pukul 12.45. Bangkai. Gue langsung lari ke kamar mandi, kemudian mandi secepatnya. Cuma, ya tetep aja nggak mungkin pukul 13.00 gue udah sampai kantor. Secepat-cepatnya palingan sekitar 13.30. Itu juga kalau nggak macet.

Inilah di saat gue merasa apes (yang artinya sial, bukan apes yang film monyet itu). Iya, karena langit tiba-tiba meneteskan air matanya. Gue yang sedang terburu-buru ini pun terpaksa menepi dan memakai jas hujan. Tapi biar bagaimanapun, gue cukup bersyukur atas hujan ini. Siang ini, lalu lintas di Jalan Gatot Subroto yang biasanya macet mendadak lancar. Gue pun melirik jam tangan di tangan kanan. Jam menunjukkan pukul 13.22. Belum telat-telat amat, pikir gue.


Di saat gue mulai menambahkan kecepatan supaya cepat sampai, tiba-tiba klakson TransJakarta malah mengagetkan gue dan motor pun sedikit oleng. Gue anaknya emang nggak bisa dikagetin. Meskipun gue anaknya nggak latah seperti orang-orang yang tiap kaget selalu refleks mengucap sesuatu seperti: “Eh, ayam-ayam”; “Aduh, copot. Eh, copot”; “Ah, kontol lu gede. Kontol lu gede”.

Ya, gue nggak latah begitu. Gue kalau kaget biasanya istigfar. Yoi, gue mengucap astagfirullah dalam hati. Anjay!

Namun, kekagetan gue hari ini ternyata membuat gue terjatuh. Sebenarnya gue nggak jatuh karena kaget mendengar klakson TransJakarta itu. Gue jatuh disebabkan oleh sebuah lubang di tengah jalan. Jadi, di tengah jalan itu ada kotakan terbuat dari besi yang ada lubang-lubang kecil untuk resapan air gitu deh. Nah, pinggirannya tuh seperti keropos dan menjadi lubang. Ban gue pun jeblos ke lubang itu. Biasanya, gue masih bisa menahan keseimbangan kalau ban motor masuk ke lubang, tapi kali ini ban motor gue malah nyangkut sehingga gue terjatuh ke kiri dan ketiban motor.

Suasana jalanan di hari ini begitu sepi. Entah gue harus merasa beruntung atau sedih. Beruntung karena nggak ada yang lihat gue terjatuh memalukan seperti ini. Sedih karena nggak ada yang bantuin.

Gue masih lemes dan nggak percaya kalau gue baru saja terjatuh. Motor Honda Spacy ini juga cukup berat untuk gue angkat. Lalu, beberapa detik kemudian ada seorang bapak-bapak yang mencoba untuk menolong gue. 

“Ada yang luka, Dek?” tanya Bapak itu sembari mengangkat motor gue.

Di kala motor itu belum berdiri sepenuhnya atau masih miring, gue malah mendadak bangun seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

“Nggak apa-apa kok, Pak,” jawab gue dan langsung menyalakan motor lagi.

“Bener nggak apa-apa? Bisa bawa motornya?”

“Bisa, Pak. Bisa. Makasih, ya,” ujar gue, meninggalkan tempat kejadian itu dengan terburu-buru.

Adrenalin itu keluar begitu saja ketika gue merasa malu karena terjatuh sendiri. Gue juga merasa nggak ada yang sakit di bagian tubuh. Gue lebih mencemaskan laptop yang gue gendong di tas ini. Takut kenapa-kenapa karena itu adalah laptop kesayangan gue (dibaca: laptop satu-satunya).

Sesampainya di parkiran kantor, gue segera membuka hape untuk menanyakan teman soal meeting yang udah mulai apa belum. Lucunya, gue malah dikabarkan terlebih dahulu sama temen satu tim lainnya yang katanya masuknya diundur jadi pukul tiga sore.

Telek pitik!

Gue udah buru-buru sampai terjatuh kayak tadi, eh ternyata brainstorming-nya diundur. Ahahaha. Lucu banget bukan? Kalo kata Yogaesce, “Ketawa dong!”.

FYI, gue bekerja sebagai freelancer di salah satu TV swasta. Begitu melangkahkan kaki keluar lift karena sudah sampai di lantai 7—tempat diskusi ide para tim kreatif—, kaki kiri gue mendadak terasa sakit.

***

Kerja sambil menahan sakit rasanya bener-bener nggak enak. Ketika para tim kreatif sedang brainstorming, tapi gue cuma diem seraya menahan kaki yang ngilu. Hari itu, perasaan gue nggak keruan. Gue bekerja begitu pasif. Sebab, pikiran gue juga keganggu. Ini kaki gue kenapa sakit banget, ya Allah? Apa baik-baik aja? 

Pulang ngantor, gue langsung mengabarkan Nyokap untuk memanggil tukang urut. Jadi, begitu sampai rumah nanti gue sudah bisa langsung urut. Namun, kenyataan berkata lain. Sesampainya di rumah, Nyokap nggak ada. Kata adik gue, beliau lagi pergi ke pasar. Begitu Nyokap pulang, gue langsung bertanya, “Bu, mana tukang urutnya? Udah sakit banget ini. Harus urut sekarang juga.”

Beliau pun langsung menjawab, “Tadi Ibu udah ke rumah tukang urutnya, tapi dia udah ada jadwal ngurut sampai jam sembilan.”

Ya, Allah. Entahlah gue harus menunggu pukul 9 malam dengan cara apa. Masa iya cuma menikmati rasa sakitnya? Dua jam bagi gue terasa begitu lama ketika sedang menderita. Akhirnya, gue memilih curhat di grup dan bertanya-tanya soal kaki yang keseleo. Nggak nyangka, ternyata ngobrol di grup chat benar-benar bikin gue lupa waktu.

Jam sudah menunjukkan pukul 9, tapi tukang urut itu belum juga datang. Akhirnya, Nyokap kembali mendatangi rumah tukang urut tersebut. Nggak lama setelah itu, kaki kiri gue udah diurut sama tukang sedot tinja. Ya, kagaklah! Tukang urutnya ibu-ibu sudah berumur sekitar 50 tahun. Beliau menjelaskan kalau engkel kaki gue uratnya muter.

Deg! Bener kan dugaan gue. Soalnya ngilu banget.

“Kamu yang dulu pernah kepeleset di gunung itu, ya?” tanya si Ibu tukang urut. “Kayaknya dulu juga pernah keseleo di bagian ini.”

“Curug, Bu,” jawab gue mengoreksi. “Iya, yang waktu itu kepeleset dan urut malem-malem juga.”

“Oh, iya. Bener berarti. Nggak kapok apa jatuh mulu? Doyan bener kayaknya jatuh.”

Gokil! Ibu ini masih inget gue. Ah, tapi kampret bener itu ngeledeknya. Siapa juga yang doyan jatuh? Anjirlah.

“Jangan tegang gitu. Rileks aja. Rileks. Nanti bahaya kalau urat kamu kaku,” ujar Ibu itu bersiap-siap memutar pergelangan kaki gue.

Karena bingung harus apa biar nggak tegang, maka gue kembali membuka WhatsApp dan nge-chat grup. Alhamdulillah, cara ini kembali berhasil. Gue malah bisa ketawa-ketawa pas lagi di urut begini. So, terima kasih teman-teman di grup.

Begitu urut selesai, tukang urutnya bilang, “Ya udah. Semoga cepet sembuh, ya. Inget, jangan buat jinjit dulu. Takut nanti uratnya balik lagi kayak sebelum di urut.”

Setelah mengucap seperti itu, tukang urut itu pun pulang. Ya, tentu saja setelah gue berikan sejumlah uang sebagai upahnya.

Padahal udah diurut, tapi gue masih takut kaki gue kenapa-kenapa. Serem aja gitu kalau udah menyangkut bagian urat. Luka yang nggak nampak memang nyeremin, sih. Lalu, ketika gue pindah ke kamar dan berbaring sambil menatap langit-langit berniat ingin tidur. Tiba-tiba pertanyaan tukang urut itu kembali mengusik gue.

“Nggak kapok jatuh mulu?”

Gue langsung pengin bertanya balik, “Mana ada, sih, orang yang nggak kapok kalau jatuh?”

Namun, begitulah tentang jatuh. Kita nggak punya pilihan lain saat jatuh selain untuk bangkit lagi. Misalnya anak kecil yang terjatuh ketika sedang berlarian. Dia mungkin awalnya menangis saat terjatuh, tapi setelah itu ibunya pasti akan bilang, “Udah nggak apa-apa. Hayo, bangun lagi. Makanya, tadi dibilangin apa? Jangan lari kenceng-kenceng! Cepet bangun lagi, nggak usah nangis. Tadi lari kenceng-kenceng bisa, masa bangun nggak bisa?”

Anak itu pun bangkit lagi dan tertawa.

Jatuh cinta pun begitu. Kita rasanya nggak akan pernah kapok untuk jatuh cinta lagi meskipun telah patah hati berulang kali. Terjatuh membuat diri kita lebih kuat. Begitu juga terjatuh dalam kehidupan ini. Kegagalan mungkin sering terjadi dalam hidup kita. Lalu, apa kita berdiam diri di situ aja? Nggak, kan? Membiarkan diri terpuruk bukanlah jawaban.

Lucunya, gue sendiri pernah depresi dan nggak tau hidup harus untuk apa lagi. Tiga bulan hidup tanpa harapan dan tujuan benar-benar menjengkelkan. Gue pengin bangkit, tapi bingung harus mulai memperbaikinya dari mana. Setelah sekian lama, akhirnya ketemu juga jalan keluar itu. Gue anaknya suka banget cerita alias curhat. Jadi, cara paling gampang untuk memulai perubahan adalah dengan menulis cerita.

Semoga gue tidak mengulangi kesalahan kemarin itu. Semoga ketika gue terjatuh lagi nanti, entah terjatuh dalam situasi seperti apa pun, gue tetap bisa bangkit kembali. Gue juga jadi teringat perkataan Thomas Wayne yang diulang kembali oleh Alfred kepada Bruce Wayne ketika rumahnya hangus terbakar di film Batman Begins.

Why do we fall?”

So, we can learn to pick ourselves up.

Sumber: KLIK


Atau bisa juga begini, “Mengapa kita terjatuh?”

Seperti di sebuah lagu Sheila On 7, tentu saja agar kita siap untuk melompat lebih tinggi.