Beberapa minggu lalu, Twitter sempat dihebohkan dengan beberapa hal, di antaranya: kasus LGBT, Chitato rasa Indomie Goreng, dan Tim Goreng VS Tim Kuah.

(Sumber: Twitter Indomie)

Untuk kasus LGBT, gue udah mulai muak. Perhatian gue jadinya lebih ke hal lainnya, makanan. Oke, untuk urusan makanan itu selalu menjadi favorit gue. Meskipun badan gue tetap segini-segini aja.

Gue melihat beberapa gambar yang seliweran di timeline dengan hashtag #TimGoreng dan #TimKuah. Di antara gambar-gambar itu ada salah dua gambar yang bikin gue langsung teriak,  “GOKILLL!”

Yang satu sampe rela bikin tato dengan tulisan “Tim Kuah”. Satunya lagi cukur rambut terus dibuat tulisan “Goreng”.


Tim Kuah (sumber: Twitter Jenny Jusuf)
Tim Goreng (sumber: Twitter Imandita)


Seru amat ini mereka deh. Batin gue.

Sampai akhirnya...
Read More
Sekitar tahun 2012.

Ketika sedang seru membaca novel, tiba-tiba handphone gue berbunyi. Gue memilih untuk mengabaikannya dan tetap lanjut membaca. Gue memang termasuk orang yang malas diganggu saat fokus membaca. Hape itu berdering terus-menerus, tanda ada panggilan masuk. Sebuah panggilan dari Agus Purnama, salah satu teman SMK.

Gue segera mengangkatnya.

“Halo, Yog...,” kata Agus. “Gue boleh minta tolong?” Suaranya terdengar begitu panik.
“Boleh aja. Kenapa deh?” tanya gue.

“Lu lagi sibuk gak?” tanya Agus. “Kalo lagi sibuk, mending nggak usah. Ntar ngerepotin.”

Gue bisa saja menjawab, “Duh, sibuk banget nih. Lagi nyari duit buat ngeberangkatin Mak Ijah ke Mekkah. Sorry, ya.”

Namun, gue tidak bisa begitu. Gue berusaha mengatakan, “Gak, kok. Santai.” Meskipun dia sudah mengganggu waktu santai gue. Gue mencoba ada di saat teman sedang membutuhkan bantuan.

“Jadi gini....” Agus mulai bercerita mengenai masalahnya.

Read More
Gue termasuk tipe orang yang suka memerhatikan makanan yang namanya aneh-aneh. Namun, gue hanya sekadar memerhatikan, tapi tidak berani mencicipinya. Seperti saat syukuran ulang tahun keempat Warung Blogger (Mei 2015), ketika Uni Dzalika menawari gue makanan, “Yoga cobain Tomyam Kelapa, yaaa.”

Hah? Tomyam? Apaan coba tuh? Pake ada kelapanya lagi.

Gue menggelengkan kepala.

Gue awalnya memang tidak tau apa-apa tentang tomyam. Gue pikir, tomyam itu singkatan dari tompel ayam. Oke, ngaco. Gue pikir, gabungan antara tomat dan ayam. Jadi sebuah makanan berupa ayam yang bumbunya saos tomat. Ehehe. Tapi ternyata bukan, Gaes.

Menurut Wikipedia, tomyam adalah sup yang berasal dari Thailand. Sup ini biasanya dibuat dengan campuran udang, ayam, cumi, dan makanan laut yang dicampur.

“Beneran nggak mau?” tanya Uni memastikan.

“Enggak, Un. Hehehe. Makasih. Gue kadang suka alergi sama sea food,” jawab gue ngasal.
“Ya udah, gak usah pake sea food kalo gitu. Mau, ya?” kata Uni coba merayu gue.

“Masih kenyang, kok.” Padahal gue mah takut nyobain makanan yang namanya aneh.

“Oke deh.”

Read More
Hangout pukul 4 atau 5 sore saat weekday (hari Senin-Jumat) ialah menyia-nyiakan hidup. Begitulah pikiran gue sebagai orang Jakarta. Ya, macet. Gak perlu ditanya lagi. Namun, pada tanggal 2 Februari 2016 yang jatuh pada hari Selasa, gue tidak lagi menghiraukan kemacetan itu. Gue tetap nekat pergi karena diundang ke acara launching sebuah komik di FX Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat.

Sehingga, gue pun terjebak macet di Jalan Asia Afrika, Senayan. Untuk menghindari macet, gue memilih memotong jalan lewat kawasan Gelora Bung Karno. Begitu di pintu masuknya, petugas memberhentikan gue dan bilang, “Lima ribu, Bang.”

Buseh. Mahal amat. Terakhir ke sini perasaan cuma 2.000 deh.

Mau tidak mau gue segera menyerahkan selembar uang bergambar Tuanku Imam Bonjol.

Gapapalah bayar goceng daripada stres kejebak macet, batin gue.

Gue langsung bergegas menuju FX Sudirman. Berasa orang tajir, ya, numpang lewat doang terus bayar goceng.

***

Sesampainya di sana, gue mengecek HP untuk bertanya ke beberapa teman yang juga mengikuti acara ini.

“Udah pada di mana, Gaes?”

“Di The Wendy’s, Yog,” respons Feby di grup chat.

Ternyata Feby sudah sampai terlebih dahulu. Ia pun memberikan informasi letak Wendy’s yang tidak begitu jauh dari pintu masuk. Gue segera mencari tempat itu. Kampretnya, sudah muter-muter berulang kali, The Wendy’s tetap tidak ketemu juga. Emang, sih, ini pertama kalinya gue ke FX Sudirman, tapi gak gini juga kali. Memalukan.

Masa main ke mal aja nyasar gini. Noraq banget gue. Iya, sengaja pake “Q” biar tambah norak. Ahaha. Saking keselnya, gue pun bertanya lagi ke Feby. Dan ternyata... The Wendy’s ada di F1 alias lantai satu, sedangkan gue satu lantai di bawahnya. Pantesan gak ketemu. Bodoh memang.

Gue sudah duduk berdua dengan Feby di The Wendy’s, sambil menunggu yang lain. Kami pun ngobrol-ngobrol banyak hal. Feby bahkan bercerita kalau dirinya tidak begitu menyukai komik.
Gue hanya tersenyum.

TERUS KENAPE LU IKUTAN DATENG, KAMBING?! teriak gue dalam hati.

“Sebenernya aku mah dateng cuma pengin ketemu kalian-kalian aja. Kangen sama temen-temen blogger udah lama nggak berjumpa.”

Seketika itu juga gue langsung terharu. So sweet.

Setelah itu Darma, teman gue yang lain, datang. Kami masih menunggu Imas dan Vira yang sedang di perjalanan. Jam sudah menunjukkan pukul 18.00, waktunya untuk hadir ke acara launching komik.

“Emang Tjap Toean itu di sebelah mana, sih?” tanya gue.

Mereka berdua menjawab tidak tahu. Kami bertiga emang kacau. Kami pun masih duduk-duduk di The Wendy’s.

“Eh, itu bukan, sih?” tanya Feby sambil menunjuk ke salah satu restoran yang tidak jauh dari tempat kami.

“Iya, bener,” jawab gue, lalu beranjak menuju Tjap Toean.

“Lah, tempatnya dari tadi di belakang kita, ya,” ujar Darma.

Kami bertiga pun masuk ke restoran itu dan bertanya kepada waiters mengenai meja yang dipesan atas nama Fauzi. Waiters itu pun mengantarkan kami bertiga ke meja paling belakang. Kami segera bertemu dan bersalaman dengan beberapa orang (peserta lain dan penyelenggara acara).

Kami disuruh memesan makanan oleh penyelanggara acara, lalu gue pun memesan kwetiau rebus dan es teh manis. Bentar-bentar, ini es teh manis harganya dua belas ribu segelas? Gokil! Oiya, di restoran mah namanya sweet iced tea, wajar deh mahal.

Sekitar 15 menit berselang, Imas dan Vira pun datang bersamaan dengan pesanan gue.




Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home