Oleh: Javier Marias
Kehidupan seksku dengan istriku, Marta, sangat tidak memuaskan. Istriku bukanlah wanita yang bergairah tinggi ataupun imajinatif; dia tidak pernah membisikkan kata-kata mesra dan biasanya malah menguap setiap kali aku sedang ingin bercinta. Itulah sebabnya aku sesekali pergi ke pelacur, namun mereka pun kini semakin gugup sekaligus kian mahal, serta membosankan—belum lagi sikap mereka yang enggak antusias. Aku jauh lebih berharap seandainya istriku, Marta, lebih bergairah dan imajinatif, sehingga aku bisa merasa puas hanya bersamanya. Aku pernah merasa bahagia pada satu malam ketika dia benar-benar memuaskan hasratku.
Di antara peninggalan ayahku saat beliau wafat, terdapat seikat surat yang masih menyisakan aroma samar parfum kolonye. Aku tak yakin pengirimnya sendiri yang membubuhkan wewangian itu pada surat tersebut; aku menduga sebaliknya bahwa pada suatu masa dalam hidupnya, ayahku menyimpan surat-surat itu di dekat botol parfum yang kemudian tumpah mengenainya. Bercak noda itu masih terlihat jelas, sehingga aroma yang tercium pastilah aroma parfum yang biasa dipakai ayahku (atau yang isinya pernah tumpah itu), dan bukan aroma wanita yang mengirimkan surat-surat tersebut. Terlebih lagi, aroma itu sangat khas dirinya—aroma yang sangat kukenal, yang tak pernah berubah dan tak pernah kulupakan; aroma yang sama sepanjang masa kanak-kanak, remaja, hingga sebagian besar masa mudaku—masa yang hingga kini masih aku jalani atau belum kutinggalkan. Itulah sebabnya, sebelum usia mengikis minatku terhadap hal-hal yang berbau asmara atau gairah, aku memutuskan untuk membaca surat-surat warisannya itu—surat-surat yang sebelumnya sama sekali tidak memancing rasa ingin tahuku.
Surat-surat itu ditulis oleh seorang wanita yang bernama Mercedes. Dia menulis menggunakan tinta hitam di atas kertas biru. Tulisan tangannya berukuran besar dan mencerminkan sosok keibuan, dibentuk dengan goresan pena yang cepat, seolah dia tidak lagi berhasrat untuk memikat perhatian—karena dia pasti sadar bahwa dirinya telah meninggalkan kesan mendalam yang akan bertahan selamanya. Surat-surat itu seolah ditulis oleh seseorang yang sejatinya telah tiada sewaktu menulisnya; bagaikan surat-surat yang dikirim dari alam baka. Aku tak bisa menepis anggapan bahwa itu adalah semacam permainan—jenis permainan yang begitu digemari anak-anak maupun sepasang kekasih—yang pada dasarnya melibatkan tindakan berpura-pura menjadi sosok yang bukan diri mereka sebenarnya; atau dengan kata lain, saling memberikan nama samaran dan menciptakan kehidupan rekaan. Mungkin mereka takut (hal ini berlaku bagi kekasih, bukan anak-anak) bahwa perasaan yang begitu meluap-luap akan menghancurkan mereka jika mereka mengakui bahwa merekalah—dengan kehidupan dan nama asli mereka—yang sesungguhnya mengalami perasaan tersebut. Itu adalah cara untuk meredam emosi yang paling membara dan intens dengan berpura-pura bahwa semua itu terjadi pada orang lain; sekaligus cara terbaik untuk mengamatinya, untuk menjadi penonton yang sadar sepenuhnya. Ya, mengalaminya sekaligus menyadarinya pada saat yang sama.
Wanita yang menandatangani surat-suratnya dengan nama Mercedes itu memilih skenario fiktif untuk mengirimkan ungkapan cintanya kepada ayahku setelah dia sendiri sudah meninggal dunia. Dia begitu yakin akan dimensi waktu dan tempat abadi yang dia tempati ketika menulis surat-surat itu (atau begitu yakin bahwa sang penerima akan menerima konvensi tersebut) sehingga dia tampak sama sekali tak peduli pada fakta bahwa dia harus memasukkan amplop-amplop itu ke kotak pos atau bahwa surat-surat itu memuat prangko dan cap pos biasa dari kota Gijón. Semuanya bertanggal, dan satu-satunya hal yang tidak tercantum adalah alamat pengirim—sesuatu yang memang lazim dalam hubungan yang agak sembunyi-sembunyi (semua surat ini berasal dari masa ketika ayahku menduda, tapi dia tak pernah bercerita kepadaku tentang kisah cinta pada masa tuanya ini). Keberadaan korespondensi ini pun bukanlah hal yang aneh—meskipun aku tak tahu apakah ayahku membalasnya dengan cara biasa—sebab enggak ada yang lebih lumrah daripada seorang duda yang terjerat hasrat seksual terhadap wanita yang berani, berapi-api (atau yang telah kecewa pada hidup). Ungkapan cinta, janji, tuntutan, kenangan, luapan emosi, protes, seruan, dan kata-kata cabul (terutama kata-kata cabul) yang memenuhi surat-surat ini tergolong cukup konvensional; hal yang membuatnya istimewa bukanlah gayanya, melainkan keberanian yang terpancar darinya. Semua ini enggak akan menarik perhatian jika—hanya beberapa hari setelah memutuskan untuk membuka paket itu dan mencermati lembaran-lembaran biru tersebut dengan sikap yang lebih tenang ketimbang terkejut—aku sendiri tidak menerima surat dari wanita bernama Mercedes itu; wanita yang tentangnya aku enggak bisa berkata “dia masih hidup,” sebab dia seolah-olah sudah mati sejak awal.
Suratnya sangat santun; dia tidak lantas menganggap dirinya memiliki hubungan istimewa denganku hanya karena pernah menjalin kasih dengan ayahku, dan dia juga tidak bersikap lancang dengan mengalihkan rasa cintanya kepada sang ayah—yang kini telah tiada—menjadi rasa cinta yang tak wajar terhadap putranya, yaitu aku sendiri yang masih hidup. Tanpa rasa malu sedikit pun bahwa aku mengetahui hubungan mereka, dia hanya menyampaikan kegelisahan, keluhan, serta tuntutan akan kehadiran kekasihnya—yang, meski telah berulang kali berjanji, belum juga menyusulnya enam bulan setelah kematiannya: dia gagal menemui Mercedes di tempat, atau mungkin lebih tepatnya waktu, yang telah disepakati. Menurut pandangannya, hal ini bisa disebabkan oleh salah satu dari dua hal: memudarnya rasa kasih sayang sang kekasih secara tiba-tiba pada saat-saat terakhir menjelang kematian yang membuatnya ingkar janji, atau fakta bahwa dia dimakamkan dan tidak dikremasi (seperti yang pernah Ayah minta)—hal yang menurut Mercedes (yang membicarakannya seolah-olah itu adalah sesuatu yang sangat wajar) dapat menghalangi atau mengganggu pertemuan atau reuni mereka di alam baka.
Memang benar, meskipun ayahku pernah meminta untuk dikremasi—tanpa bersikeras memaksakannya (mungkin karena permintaan itu baru dia sampaikan di akhir hayatnya, saat tekadnya mulai melemah)—dia pada akhirnya dimakamkan berdampingan dengan ibuku lantaran masih tersedia tempat di makam keluarga, dan bagiku serta Marta, langkah tersebut terasa tepat, masuk akal, dan praktis. Bagiku, surat Mercedes itu terasa seperti lelucon yang sangat tidak pantas. Aku membuangnya ke tempat sampah dan bahkan sempat terpikir untuk melakukan hal yang sama terhadap surat-surat lama itu. Seperti surat-surat lama tersebut, amplop baru itu juga menggunakan prangko baru dan memiliki cap pos Gijón. Namun, amplop itu tak berbau apa pun. Aku tak berniat membongkar kembali makam ayahku hanya untuk membakar jenazahnya.
Surat berikutnya tiba tak lama kemudian, dan di dalamnya, Mercedes seolah bisa membaca pikiranku, memohon agar aku mengkremasi ayahku karena dia tak sanggup lagi menjalani hidup (begitulah katanya, menjalani hidup) dalam ketidakpastian semacam itu. Daripada terus menanti ayahku untuk selamanya, yang mungkin sia-sia belaka, dia lebih memilih kepastian bahwa ayahku telah memutuskan untuk tidak kembali kepadanya. Dalam surat itu, dia masih menyapaku dengan kata ganti formal usted*. Aku tak bisa memungkiri bahwa aku sempat merasa tersentuh sesaat (maksudku, saat sedang membaca surat itu, bukan setelahnya), namun cap pos Asturias yang mencolok itu terasa terlalu biasa, sehingga aku tak bisa melihatnya sebagai hal lain selain lelucon yang mengerikan. Surat kedua itu pun akhirnya berakhir di tempat sampah. Istriku, Marta, melihatku merobek-robek surat itu dan bertanya: “Apa yang membuatmu begitu kesal?”
Gerak-gerikku pasti terlihat agak kasar.
“Oh, bukan apa-apa,” kataku sembari memunguti serpihan kertas itu dengan hati-hati agar dia tak bisa menyusunnya kembali.
Aku menantikan surat ketiga, yang—justru karena aku menantikannya—datang lebih lama dari dugaan, atau mungkin waktu yang dihabiskan untuk menunggu itu memang terasa lebih lama. Isinya sangat berbeda dari surat-surat sebelumnya dan mirip dengan surat-surat yang dulu sering diterima ayahku. Mercedes kini menyapaku dengan kata ganti tú* yang akrab, dan menawarkan tubuhnya—meski bukan jiwanya—kepadaku. “Kau boleh melakukan apa saja kepadaku,” ujarnya, “apa pun yang bisa kau bayangkan atau bahkan hal yang tak berani kau bayangkan untuk dilakukan pada orang lain. Jika kau mengabulkan permintaanku untuk membongkar makam dan mengkremasi ayahmu serta mengizinkannya bersatu kembali denganku, kau takkan pernah melupakanku seumur hidupmu, bahkan setelah kau mati, karena aku akan melahapmu, dan kau akan melahapku.” Kurasa wajahku memerah saat pertama kali membaca ini, dan sejenak aku sempat tergoda untuk langsung pergi ke Gijón dan menyerahkan diri kepadanya (aku memang tertarik pada hal-hal aneh dan cabul dalam seks). Namun, aku segera berpikir: “Konyol sekali. Aku bahkan tak tahu nama belakangnya.” Meski begitu, surat ketiga itu tidak berakhir di tempat sampah. Aku masih menyimpannya dengan rapat.
Kira-kira pada masa itulah sikap Marta berubah. Bukan berarti dalam sekejap dia berhenti menguap dan berubah menjadi wanita yang penuh gairah membara, tetapi dia mulai menunjukkan minat dan rasa ingin tahu yang lebih besar terhadap diriku dan tubuhku yang tak lagi muda—seolah-olah dia mencium gelagat perselingkuhan dariku dan menjadi waspada, atau seolah-olah dia sendiri telah berselingkuh dan ingin mencari tahu apakah teknik baru yang ditemukannya bisa diterapkan juga kepadaku.
“Kemarilah,” ujarnya sesekali—padahal sebelumnya dia tak pernah mengajakku seperti itu. Atau dia akan mengucapkan beberapa patah kata, misalnya: “Ya, ya, sekarang.”
Surat ketiga yang menjanjikan begitu banyak hal itu membuatku menantikan surat keempat dengan rasa gelisah yang jauh lebih besar dibandingkan saat aku menantikan surat ketiga setelah menerima surat kedua yang menjengkelkan. Namun, surat keempat tak kunjung tiba, dan aku menyadari bahwa aku mulai menanti datangnya surat setiap hari dengan rasa tidak sabar yang kian memuncak. Aku mendapati jantungku berdegup kencang setiap kali ada amplop tanpa alamat pengirim yang datang, lalu mataku akan segera melirik cap posnya untuk melihat apakah surat itu berasal dari Gijón. Padahal, tak seorang pun pernah berkirim surat dari Gijón.
Berbulan-bulan berlalu, dan pada Hari Arwah, Marta dan aku membawa bunga ke makam orang tuaku, tempat kakek-nenek serta saudara perempuanku juga dimakamkan.
“Menurutmu, apa yang akan terjadi pada kita?” tanyaku kepada Marta, sembari kami menghirup udara pemakaman yang bersih dari bangku di dekat makam keluarga kami. Aku sedang mengisap rokok, sementara dia memperhatikan kuku-kukunya, membiarkan jemarinya terentang agak jauh dari tubuh—seperti seseorang yang sedang meminta kerumunan massa untuk tetap tenang. “Maksudku, saat kita meninggal nanti. Di sini sudah enggak ada tempat lagi.”
“Bukan main apa yang kaupikirkan.”
Aku menatap jauh ke depan untuk menampilkan kesan melamun yang pas guna membenarkan apa yang hendak kukatakan, lalu berujar:
“Aku ingin dimakamkan. Penguburan lebih menyiratkan ketenangan abadi dibandingkan kremasi. Ayahku ingin dikremasi—kau ingat, kan?—tapi kita tidak menuruti keinginannya. Kurasa seharusnya kita melakukannya. Aku akan merasa terganggu jika keinginanku untuk dimakamkan nanti diabaikan. Bagaimana menurutmu? Kupikir kita sebaiknya membongkar kembali makamnya. Dengan begitu, akan ada tempat untukku saat aku meninggal nanti. Kau bisa pindah ke makam orang tuamu.”
“Ayo kita pergi dari sini. Kau mulai membuatku merinding.”
Kami berjalan melintasi deretan makam menuju pintu keluar. Cuaca saat itu cerah. Namun, baru beberapa langkah kami berjalan, aku berhenti, menatap ujung rokokku, lalu berkata:
“Menurutmu, sebaiknya kita mengkremasinya saja, ya?”
“Terserah kau saja, tapi ayo kita pergi dari sini.”
Aku membuang rokokku ke tanah dan menguburnya dengan menginjaknya menggunakan kakiku.
Marta menolak menghadiri upacara itu—sebuah prosesi tanpa emosi yang hanya aku saksikan seorang diri. Jenazah ayahku berubah dari sosok yang samar-samar masih bisa dikenali di dalam peti mati menjadi sosok yang sama sekali tak dapat dikenali lagi di dalam guci abu. Menurutku, menebar abunya tidaklah perlu; lagipula, hal itu memang tidak diperbolehkan.
Saat tiba di rumah pada larut malam, aku merasa cukup murung; aku duduk di kursi berlengan tanpa melepas mantel atau menyalakan lampu, lalu berdiam diri di sana—menunggu, merenung, dan berpikir—mungkin sedang memulihkan diri dari beban tanggung jawab serta upaya yang telah aku kerahkan untuk melakukan sesuatu yang seharusnya sudah kulakukan sejak lama: mewujudkan sebuah keinginan (keinginan orang lain). Sementara itu, di latar belakang, terdengar samar suara Marta sedang mandi. Tak lama kemudian, istriku, Marta, keluar dari kamar mandi mengenakan jubah mandi merah muda dengan rambut yang masih basah. Siluet tubuhnya tampak diterangi cahaya dari arah kamar mandi yang masih dipenuhi uap air. Dia duduk di lantai tepat di dekat kakiku dan menyandarkan kepalanya yang basah di pangkuanku. Setelah beberapa detik, aku berkata: “Bukankah sebaiknya kau mengeringkan tubuhmu? Mantel dan celana panjangku jadi basah karenamu.”
“Aku akan membuat seluruh tubuhmu basah,” ujarnya seraya memperlihatkan bahwa dia tidak mengenakan apa pun di balik jubah mandinya. Kini, kami berdua diterangi oleh cahaya yang memancar samar dari kamar mandi.
Malam itu, aku merasa bahagia karena istriku, Marta, tampil begitu menggairahkan dan penuh imajinasi; dia membisikkan kata-kata mesra dan tidak sekali pun menguap—singkatnya, aku merasa puas hanya bersamanya. Aku enggak akan pernah melupakan momen itu. Hal serupa tak pernah terjadi lagi sejak saat itu. Itu adalah satu malam penuh cinta. Ya, hal itu tak pernah terulang kembali.
Beberapa hari kemudian, aku menerima surat keempat yang sudah lama aku nantikan. Hingga kini, aku belum berani membukanya; terkadang aku bahkan tergoda untuk merobeknya saja tanpa pernah membacanya. Hal ini sebagian karena aku merasa tahu sekaligus takut akan isi surat tersebut; berbeda dengan tiga surat sebelumnya yang ditujukan kepadaku, surat ini sedikit beraroma kolonye—wewangian yang tidak pernah aku lupakan dan sangat aku kenali. Aku tak pernah lagi mengalami malam penuh cinta; justru karena hal itu tak pernah terulang, terkadang muncul perasaan aneh bahwa pada malam itu aku telah mengkhianati ayahku, atau bahwa istriku, Marta, mengkhianatiku dengan ayahku (mungkin karena kami saling memberikan nama samaran dan menciptakan kehidupan yang bukan milik kami sebenarnya), padahal kenyataannya, malam itu di apartemen kami, dalam kegelapan, berbaring di atas jubah mandinya, hanya ada aku dan Marta. Hanya aku dan Marta.
Aku tak pernah lagi mengalami malam penuh cinta ataupun merasa bahwa hanya dialah yang bisa memuaskanku, jadi aku masih mendatangi pelacur, yang kini kian mahal dan semakin gelisah. Mungkin aku harus mencoba beralih ke waria. Bukan berarti aku benar-benar peduli; hal itu tidak membuatku cemas dan tidak akan berlangsung lama, meski mungkin akan kujalani untuk sementara waktu. Terkadang aku berpikir bahwa kelak, akan jauh lebih mudah dan praktis jika Marta meninggal lebih dulu; dengan begitu, aku bisa memakamkannya di liang makam yang masih kosong. Dengan cara itu, aku tidak perlu menjelaskan mengapa aku mengubah keputusanku—karena sekarang aku lebih memilih dikremasi; bahkan, dalam keadaan apa pun, aku tidak ingin dimakamkan. Di sisi lain—aku sendiri heran memikirkan hal ini—aku tidak yakin akan mendapat banyak keuntungan dari situ, sebab ayahku sudah menempati tempat itu, tempatku, di samping Mercedes, untuk selama-lamanya. Saat aku dikremasi nanti—aku kembali heran dengan pikiranku sendiri—aku harus menyingkirkan ayahku, meskipun aku tidak tahu bagaimana caranya menyingkirkan seseorang yang sudah mati. Terkadang aku bertanya-tanya apakah isi surat yang belum kubuka itu jauh berbeda dari apa yang kubayangkan dan kutakutkan; apakah surat itu menawarkan solusi, atau mungkin menyatakan bahwa dia lebih memilihku. Lalu aku berpikir: “Betapa absurdnya. Kami bahkan belum pernah bertemu.” Aku memandangi surat itu, mencium baunya, membolak-baliknya di tanganku, namun akhirnya selalu menyimpannya kembali tanpa pernah membukanya.
(1989)
--
Catatan penerjemah:
*) Usted merupakan kata ganti orang kedua tunggal formal dalam bahasa Spanyol yang berarti “Anda”.
**) sedangkan tu berarti “kamu”.
Cerita ini saya alihbahasakan secara suka-suka dari “One Night of Love” (Javier Marias, While the Women are Sleeping, terbitan New Directions, terjemahan versi Inggris oleh Margaret Jull Costa).
Javier Marias adalah seorang penulis, penerjemah, dan kolumnis terkenal asal Spanyol yang lahir pada 1951. Dia telah menerbitkan beberapa novel di antaranya: A Heart So White, Tomorrow in the Battle Think on Me, dan All Souls.



0 Comments
—Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap sudah blogwalking.