Menentukan Harga Jual Buku Bekas

Niat untuk menjual buku bekas itu seperti sedang berusaha pelan-pelan melepas kepingan memori. Saat memfilter buku-buku yang ada di rak, saya sadar bahwa kegiatan ini enggak hanya sekadar memindahkan sekumpulan kertas yang sedikit berdebu dari rak buku ke meja ataupun lantai, melainkan juga menghadirkan kembali pengalaman membaca yang pernah saya lewati sebelumnya. Ada semacam perpisahan yang terasa dipaksakan di sana, dan alasan di baliknya yang sangat manusiawi.

Pikiran buat menjual buku bekas bermula ketika rak buku saya di rumah kontrakan tampak menjerit karena penuh, sesak, dan tak sanggup lagi menampung satu buku paling tipis pun. Saya jelas sadar untuk memberi ruang bagi ide-ide baru lantaran mulai ada perubahan selera dalam membaca, sehingga mau tak mau, sudi tak sudi, ya, saya perlu mengikhlaskan beberapa koleksi lawas. Kala menyentuh satu per satu koleksi buku itu, ada pula momen saat pikiran saya melayang ke tempat lain. Entah mengapa buku yang dulu pernah saya gemari kini mendadak terasa asing, bahkan tak lagi memanggil hasrat buat dibaca ulang. Namun, di balik itu semua, tentu saja ada alasan paling realistis: saya sedang butuh uang tambahan.




Menurut keyakinan saya, menjual buku dalam kondisi seperti ini bukanlah tindakan jahat (banyak yang bilang soal tidak menghargai penulis karena nanti dia enggak akan dapat royalti lagi dari transaksi jual-beli buku bekas), melainkan murni sebuah upaya demi tetap bertahan hidup. Sayangnya, urusan melepas buku bekas ini segera berbenturan dengan perkara yang kerap kali memicu perdebatan di kalangan pembaca, yakni penentuan harga. Di sinilah, saya merasa bahwa seni dan rasionalitas sebagai pemilik buku mulai diuji.


Menakar harga yang pantas

Menjual buku bekas tentu bukan sekadar asal murah atau yang penting laku. Ada logis dan tidaknya sebuah harga saat kita coba menawarkannya kepada calon pembeli. Buku yang baru dibaca 1-2 kali (kondisi masih mulus atau bahkan seperti baru), apalagi jika bukunya masih sangat terawat (tak jarang pemiliknya memberikan sampul plastik atau menyimpannya di plastik klip), saya kira sah-sah saja untuk menjualnya di angka 75–80% dari harga beli—terlepas saat membelinya dengan harga normal atau mendapatkan diskon.

Setidaknya, saya sadar untuk tidak pernah memberikan angka 90%, sebab ini sering kali terasa tanggung bagi calon pembeli. Perbedaan harga yang terlalu tipis dengan buku baru di toko buku resmi, belum lagi kalau toko buku itu sedang memberikan diskon yang lazimnya senilai 10%, pastilah kebanyakan orang akan memilih beli buku baru demi garansi originalitasnya dan tak ada kondisi yang cacat (andaikan ada halaman yang hilang atau minus lainnya, buku itu pun masih dapat diretur atau tukar baru).

Angka 50-70% biasanya dipakai untuk buku-buku yang keberadaannya masih gampang ditemukan di pasaran, kondisinya juga masih layak baca (tidak ada noda yang menutupi teks, enggak ada halaman yang robek), hanya saja di bagian-bagian tertentu sudah mulai menguning atau berjamur lantaran berumur lebih dari dua tahun.

Untuk angka 20-40%, selain karena kondisi buku yang sudah kurang layak, bisa jadi disebabkan oleh pemiliknya yang sedang butuh duit dan cuma kepengin cepat laku—walaupun kondisi bukunya itu masih tergolong bagus.

Saya kira, tak perlu membahas angka-angka di bawah 20% karena entah mengapa terasa sangat menyedihkan. Biasanya, jika saya kecewa dengan isi sebuah buku, atau sudah merasa enggak relevan lagi dengan isi bukunya, lebih baik saya jadikan hadiah saja ketimbang menjualnya dengan harga sangat murah. Barangkali saja ada kawan dekat yang tertarik buat membacanya.

Terlepas dari segala ocehan barusan, saya justru jadi kepikiran dalam menentukan harga untuk buku-buku langka yang sudah tidak dicetak ulang dan sampai dicari-cari banyak pembaca. Bolehkah itu dijual lebih mahal dari harga aslinya? Asli, saya sendiri pun bingung buat menjawabnya.

Sebagian orang jelas berkata boleh karena ini termasuk hukum kelangkaan dan apresiasi pasar. Ketika sebuah buku tak lagi dicetak ulang, sementara nilainya—baik keilmuan maupun historisnya—tetap tinggi, buku itu bakal bertransformasi dari barang konsumsi menjadi barang koleksi. Bagi mereka, menjualnya dengan harga pasar kolektor bukanlah suatu kejahatan, melainkan apresiasi karya seni. Yang ajaibnya, kok ada saja para peminatnya.

Kasus yang sempat saya ingat adalah ketika novel Jakarta Sebelum Pagi karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie ini sempat terpajang di toko daring senilai 400 ribu hingga satu juta rupiah. Jika tak salah ingat, harga buku aslinya cuma kisaran 60-80 ribu saja. Sebelumnya, tolong koreksi kalau saya salah, terkait Ziggy yang bilang tentang editor asli yang menangani naskah tersebut telah resign dari penerbit, dan dia tak berkenan jika buku itu dicetak kembali dengan proses penyuntingan dari editor yang berbeda. Misalnya, di kontrak penerbit itu sekali cetak hanya 2.000 eksemplar. Ya, berarti hanya itu stok yang tersedia hingga kapan pun ketika penulisnya tak mau lagi mencetak ulang.

Terlepas dari apa alasan sebenarnya si penulis tak ingin mencetak ulangnya (apakah sejak awal buku itu semacam tulisan pesanan dari penerbit, bukan dari penulis yang memang kepengin menerbitkannya?), barangkali penulis juga sengaja menjadikannya edisi terbatas—merujuk buku Sumur karya Eka Kurniawan. Hal-hal semacam ini kerap saya temukan di bidang fesyen, seperti suatu merek tertentu yang menjual kaos atau sepatu edisi khusus cuma sebanyak 100 buah.

Namun, yang akhirnya terjadi pada kasus Ziggy tersebut, dia merasa enggak tega kepada para pembaca bukunya kalau sampai harus mengeluarkan kocek lebih untuk sebuah buku, sehingga menjalin kontrak baru agar novel tersebut dicetak ulang dengan harga wajar.

Satu pertanyaan terakhir yang sering menghantui para penjual buku bekas: Bagaimana dengan etikanya kepada si penulis, mengingat mereka tak lagi dapat royalti dari transaksi ini?

Sebagai orang yang pernah hidup dari menulis, saya, sih, bisa tegaskan: menjual buku bekas sama sekali tidak melanggar etika. Secara hukum dan tradisi literasi, ketika seseorang membeli buku baru, royalti untuk penulis sudah terbayar pada transaksi pertama itu. Hak cipta tetap milik seorang penulis, tetapi fisik buku itu jelas sepenuhnya menjadi milik pembeli. Kamu berhak meminjamkan, menyumbangkan, atau menjualnya kembali. Yang penting kan si penjual ini tidak memperbanyak, membajaknya, atau apa pun yang melanggar hak cipta si penulis.

Buku bekas sejatinya adalah siklus hidup literasi. Buku yang membusuk di rak rumahmu karena tak pernah dibaca lagi sejatinya adalah tragedi yang lebih besar ketimbang buku bekas yang dijual. Menjual buku bekas malah membuat gagasan si penulis tetap bernapas dan menjangkau pembaca baru yang mungkin belum sanggup membeli buku baru. Pembaca buku bekas hari ini barangkali adalah seorang pembeli merangkap pembaca setia buku-buku baru si penulis di masa depan.

Jadi, saya pun kembali mengingatkan kepada diri sendiri untuk bisa melepaskan buku-buku di rak tanpa rasa bersalah, memberinya harga yang wajar, dan biarkan ia menemukan takdir barunya di tangan pembaca yang tepat. Setelah berbasa-basi yang rasanya terlalu panjang itu, berikut daftar buku yang ingin saya coba jual agar berjumpa dengan sang pemilik baru:


Neil Gaiman - Untunglah, Susunya


Buku dongeng buat anak-anak, atau bisa juga untuk sosok anak kecil yang tetap ada di dalam diri orang dewasa. Idenya sederhana: ketika si Ayah beli susu buat anaknya kok lama banget, hingga si anak itu jelas memprotesnya, dan di sinilah Neil Gaiman membual secara menyenangkan. Terhisap oleh UFO, terdampar di kapal bajak laut, berjumpa dengan vampir, serta Stegosaurus yang menjadi profesor. Adanya tambahan gambar ilustrasi menjadikan bukunya kian keren. Buku ini bisa dibaca dalam sekali duduk.


Penerjemah: Djokolelono
Jumlah halaman: 128
Kondisi buku: Masih oke walaupun ada beberapa noda jamur khususnya di bagian atas buku.
Harga jual: 15.000


Neil Gaiman - Stardust




Novel yang memadukan fantasi, petualangan, dan romansa. Petualangan seru ini berawal dari bintang jatuh. Sepasang teman masa kecil sedang memandangi langit dan melihat sebuah bintang jatuh, lantas si perempuan berkata kepada si lelaki bahwa dia akan mengabulkan segala permintaannya jika berhasil membawakannya bintang jatuh itu. Petualangan lelaki ini pun dimulai dengan pergi ke Negeri Peri (kemungkinan tempat bintang itu mendarat) demi bisa membawa pulang bintang jatuh untuk kekasihnya. Proses pencarian ini membuat perjalanan sang tokoh yang semula tak pernah tahu bagaimana kondisi dunia di luar tembok menjadi sangat seru. Dia berjumpa dengan peri, penyihir, kurcaci, dan segala yang berunsur magis. Perjalanan ini jugalah yang membentuk atau mengembangkan sang karakter.




Penerjemah: Femmy Syahrani Ardiyanto dan Herman Ardiyanto
Jumlah halaman: 256
Kondisi buku: Ada beberapa noda di bagian atas buku, tapi kondisinya tergolong bagus.
Harga jual: 41.000




Oh ya, jika kamu membeli sepaket buku Neil Gaiman itu hanya 50.000.


Eka Kurniawan - Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong 




Aku berhenti pergi ke masjid. Aku berhenti sembahyang. Sebaris paragraf pembuka di novela barusan tentu sangat memantik rasa penasaran pembaca untuk mengikuti tokoh Sato Reang yang nakal. Saking nakalnya, dia bahkan berjanji untuk mengajak Jamal, kawannya yang paling saleh, untuk bolos salat atau menjajal sebuah dosa. Berbeda dengan novel-novel Eka sebelumnya yang tergolong tebal, tentu novela ini menjadi karyanya yang paling tipis (selain cerpen Sumur). Sepertinya Eka sedang mencoba bereksperimen untuk karya terbarunya ini, atau justru dia sudah kehabisan ide cerita? Apa pun itu, Eka mencoba mengejek lagi maskulinitas seorang lelaki (kalau sebelumnya tentang gangguan impotensi di Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas) lewat pertanyaan-pertanyaan dalam dirinya setelah dia disunat. Kenapa setelah disunat harus menjadi anak yang saleh? Sato Reang merasa dipaksa harus melakukan suatu kegiatan ibadah tanpa diberikan pemahaman akan esensi ibadah tersebut. Lalu, perseteruan Sato dengan ayahnya juga bisa dianggap semacam kritik buat orang tua yang mendidik anaknya secara otoriter.






Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 135
Kondisi buku: Masih sangat bagus dan ini hardcover.
Harga jual: 97.000

*


Ernest Hemingway - Fiesta


Buku ini lebih seperti catatan atau liputan perjalanan ketimbang novel, yang berlatar di dua tempat, Paris dan Spanyol. Saat di Paris, mayoritas cerita hanya tentang makan malam, mabuk-mabukan di bar serta hotel, dan berdansa. Mungkin lantaran berada di fase depresi setelah Perang Dunia pertama, jadi tokoh-tokohnya cuma ingin menikmati hidup. Ketika latar berpindah ke Spanyol, lebih tepatnya saat menyaksikan adegan tarung seorang matador dengan banteng, barulah terasa asyik dan filosofis. Gaya bercerita Hemingway di novel perdananya ini ternyata sudah lugas dan sederhana sebagaimana buku-bukunya yang lain, sehingga kerap dibilang dia menggunakan teori puncak gunung es. Ini mungkin sedikit bikin repot sebagian pembaca, termasuk saya, yang harus mencari makna mendalam yang tersembunyi di balik permukaan narasi sederhana itu. Tapi berhubung ini karya pertamanya, rasanya boleh juga.



Penerbit: Bentang Pustaka
Penerjemah: Rahmani
Jumlah halaman: 336
Kondisi buku: Masih bagus, walaupun ada noda-noda jamur di beberapa bagian buku (lumayan di bagian atas, dan sedikit bercak di bagian bawah) akibat kelembapan rak buku kayu. Untuk lebih jelasnya, bisa cek kondisi di foto yang terlampir.
Harga jual: 37.000




Pyun Hye-young - The Hole



Bagaimana hidup bisa berubah dalam sekejap? Narasi yang menjadi konflik batin Oh Gi ketika mengalami kecelakaan dan menjadi lumpuh ini terasa menarik, karena pada masa-masa suram begitu dia jadi banyak merenung soal masa lalu. Pembaca diajak menyelami seperti apa kehidupan Oh Gi sebelum tragedi itu, bagaimana hubungan dia dengan keluarganya, masa-masa perkenalan dengan istrinya, dan seterusnya. Pada kondisi lumpuh itu, Oh Gi juga jadi harus ketergantungan dengan ibu mertuanya. Hubungan tak akur antara mertua dan menantu tentu bukanlah hal yang asing lagi bagi kita. Namun, hubungan Oh Gi dengan ibu mertuanya merupakan sesuatu yang lain. Saat Oh Gi terbaring di kasur, sang ibu mertua justru sedang menggali lubang yang sangat besar di halaman rumahnya. Nah, timbul deh segala pikiran buruk di kepala Oh Gi yang terasa mencekam.


Penerbit: Baca
Penerjemah: Dwita Rizki
Jumlah halaman: 241
Kondisi buku: Masih bagus biarpun ada sedikit noda jamur di bagian atas buku.
Harga jual: 41.000

Luis Sepúlveda - Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta




Saya salah sangka ketika cuma membaca judulnya sebelum membaca keseluruhan teks. Saya kira, tadinya novel ini semacam cerita Pak Tua yang sedang membaca kisah cinta, lantas jadi nostalgia masa mudanya. Jujur, saya pernah menemukan beberapa kali ide cerita semacam itu kala membaca buku. Tapi rupanya ini tentang kisah Pak Tua yang hidup terpencil di tengah rimba, lalu bagaimana dia berusaha untuk bertahan hidup dan ingin tetap melestarikan isi hutan di tengah gempuran orang kulit putih yang bermaksud membawa peradaban baru atau modern. Novela ini betul-betul masih relevan dengan kondisi kita saat ini: ada oknum-oknum yang melakukan penggundulan hutan, serta eksploitasi satwa beserta kekayaan alamnya.



Penerjemah: Ronny Agustinus
Jumlah halaman: 133
Kondisi buku: Meski tidak seperti baru, tapi jelas masih sangat bagus.
Harga jual: 37.000




Sengkarut karya Natsume Soseki, Edogawa Ranpo, Kaiji Motojiro, Ogawa Mimei



Terdiri dari enam cerpen karya klasik penulis Jepang. Soseki dan Ranpo jelas sudah saya kenal sebelumnya, tetapi dua yang lain jelas suatu kebaruan dan tentu menambah referensi bacaan. Dari daftar cerpen itu, gacoan saya adalah cerpen Ranpo yang berjudul Kursi Manusia. Semua cerita di buku tipis ini diterjemahkan dengan apik, sehingga pembaca bisa menikmatinya dengan lancar.



Penerbit: Mai
Penerjemah: Astri Pratiwi Wulandari, Armania Bawon Kresnamurti, Mega Dian P.
Jumlah halaman: 100
Kondisi buku: Masih bagus walau ada sedikit noda kuning.
Harga jual: 33.000

Jika kamu membeli empat paket terjemahan (Fiesta, The Hole, Pak Tua, dan Sengkarut), saya berikan diskon menjadi: 140.000

--

Pengiriman buku dari wilayah Jakarta. Harga tersebut belum termasuk ongkos kirim. Untuk pemesanan bisa kontak ke surel: fragmenprosa@gmail.com. Sekiranya kamu berkawan dengan saya di media sosial bisa juga via DM, atau boleh langsung kirim pesan jika memiliki kontak pribadi saya. Buku-buku yang sudah laku nanti akan saya berikan garis coret pada teksnya.

0 Comments