Entah setan apa yang merasuki pikiranku hingga aku sudi membiarkan beberapa orang memperlakukan diriku bagai seonggok sampah. Kalimat barusan kubaca dalam versi bahasa Inggris di sebuah meme acak yang lewat di lini masa Twitter, dan seketika itu pula aku ikut mengakak. Lebih tepatnya: mentertawakan ketololan diri sendiri.
Belakangan ini, urusan kerja serabutan sungguh menyita waktu luangku. Itu tentu hal yang baik bagi dompetku yang butuh pemasukan tambahan. Tapi masalahnya, minggu ini aku merasa ketiban sial bertubi-tubi. Aku sudah memastikan segala pekerjaan beres dengan kantung mata yang bengkak, pinggang rasanya mau patah, dan pada akhirnya tanpa membawa upah kerja yang layak. Jangankan uang makan buat dua hari, uang pengganti kuota internet pun cuma sekadarnya. Anjinglah memang salah satu kenalanku itu.
Kenalan yang aku maksud ini bernama Rustol—atau begitulah aku memanggilnya di dalam hati, meski di kontak ponsel namanya kusimpan sebagai “Ruslan Karang Taruna”. Jadi, terserah kau mau menganggap Rustol ini singkatan untuk “Ruslan tolol” atau Ruslan kontol”, sebab bagiku sama saja. Dia beberapa tahun lalu sempat menjabat sebagai ketua panitia 17-an di lingkungan RW kami. Sejenis posisi semenjana yang entah bagaimana membuatnya merasa punya bakat kepemimpinan alami sekelas jenderal militer angkatan darat, padahal kerjanya dulu tuh seingatku cuma menunjuk-nunjuk orang lain untuk pasang bendera dan umbul-umbul (dia sok jadi mandor) serta kepercayaan diri tingkat tinggi setiap kali memegang mikrofon (entah untuk memberikan sambutan, atau sekadar memberikan celetukan sok lucu saat ada perlombaan berlangsung).
Entah angin apa yang membawanya kepadaku. Setelah bertahun-tahun lenyap tanpa bertukar kabar, dia mendadak menghubungiku lagi lewat WhatsApp. Karakternya tidak berubah: sok akrab seolah-olah kami baru kemarin sore nongkrong bareng di pos ronda. Tujuannya sok mulia tapi klise: meminta tolong dibuatkan desain gambar untuk kaos acara reunian SMA.
“Dari sekian banyak temanku, kau kan ahlinya ngedesain, Ri,” ujarnya lebih lanjut lewat pesan suara. “Aku butuh visual yang unik sekaligus elegan, tapi tetap terlihat santai. Pokoknya yang kalau dipakai langsung kelihatan berkelas dan enggak kaku. Bisalah, ya, jadi dalam dua hari?”
Segala kalimat yang keluar dari mulut Rustol adalah sejenis mantra yang biasanya diucapkan oleh klien bermodal cekak tapi punya harapan setinggi langit. Sialnya, malam itu aku memang merasa sedang sangat bokek, dan kepalaku mendadak buram oleh optimisme palsu. Sejauh pengetahuan dangkal yang kupunya tentang ilmu ekonomi, keahlian apa pun yang diperas untuk sebuah kegiatan massal, apalagi reuni yang isinya ajang pamer pencapaian hidup, jelas-jelas berhak mendapatkan bayaran yang layak. Sayangnya, kami tidak menyepakati angka di awal, dan itulah kesalahanku yang paling fatal. Aku cuma benar-benar berasumsi dia bakal tahu diri.
Maka, demi tenggat waktu dua hari yang dia minta, aku mengurung diri di kamar yang pengap. Menatap layar laptop sampai mataku berair sambil terus mengulik perangkat lunak desain demi menghasilkan gambar yang ciamik. Aku bahkan rela begadang dua malam berturut-turut, menahan kantuk dengan asupan kopi sasetan murahan yang rasanya terlalu banyak gula, demi memastikan desain bikinanku ini tidak kelihatan seperti kaos partai politik yang dibagikan menjelang pemilu.
Berkas final format PNG berkualitas tinggi kukirim malam itu juga. Rustol membalas dengan kilat: “Mantap, Ri! Ini baru berkelas!”
Seminggu berlalu begitu saja. Di Instagram-nya, aku melihat foto-foto reunian itu terpampang dengan mewah. Ratusan alumni tersenyum ceria, berfoto dengan latar belakang panggung mewah, dan semuanya mengenakan kaos hitam dengan desain buatanku yang tercetak presisi di bagian dada. Sungguh elegan. Ya, secara tak langsung aku baru saja memuji buatanku sendiri.
Namun, upah yang kutunggu-tunggu tak pernah menampakkan batang hidungnya. Saldo di rekeningku masih tetap sama, menunjukkan angka 16.378 rupiah. Sialan, itu bahkan tak sampai 1 dolar jika dikonversikan. Yang sempat mampir ke ponselku sebelumnya justru hanyalah rentetan emoji jempol dari Rustol dan satu paragraf ucapan terima kasih yang seolah-olah ditulis dengan template chat GPT.
Setelah menimbang-nimbang harga diri yang mulai terdesak oleh gejolak di perut, aku memberanikan diri mengetik pesan kepadanya: “Rus, urusan desain kemarin tuh gimana, ya? Belum ada transferan masuk.”
Rustol membalas dengan pesan suara sebagaimana kebiasaannya. Intonasinya begitu lepas, tanpa rasa berdosa, bahkan tanpa beban, sejenis suara yang membuat tensi darahku mendadak naik ke ubun-ubun. “Lho, aku masih perlu bayar lagi, ya? Aku udah tag akun jasa desainmu kan di Instagram. Ya, itu hitung-hitung bantu kawan, biar lancar dan berkah usahamu. Kuyakin nanti jadi banyak orang yang pesan, Ri.”
Kalimat jahanam itu sukses membuatku tertegun di depan layar ponsel selama lima menit. Masih perlu bayar lagi? Si Bangsat satu ini mengira aku bakal kenyang mendapatkan eksposur, kah?
Jujur, aku benci sekali dengan tipe manusia semacam ini. Tiba-tiba bisa merasa akrab ketika sedang membutuhkan tenaga gratisan. Apakah manusia bernama Rustol ini mengira bahwa beras di warung bisa dibeli dengan modal senyuman akrab, atau tagihan listrik bulanan bisa dilunasi hanya dengan menunjukkan banyaknya impresi di media sosial?
“Kau saat itu meminta jadi dalam dua hari lho, Rus. Aku sanggupi. Kalau memang tak mau bayar, cukup uang pengganti kuota sama kopi buat begadang kemarinan aja lah.”
“Oh, ya udah. Habis ini kutransfer. Makasih sebelumnya ya, Ri.”
Semenit berselang, notifikasi transferan masuk ke rekeningku. Aku spontan tertawa mengakak kala sadar angkanya hanya 50 ribu. Aku tadinya berharap seminimalnya itu seratus ribu. Tapi, ya, begitulah hidup.
Malam itu aku tidak bisa tidur. Ada rasa dongkol yang membuat dadaku sesak. Aku sadar, musuh terbesar seorang pekerja desainer grafis serabutan sepertiku bukanlah kecerdasan buatan atau ketatnya persaingan pasar, melainkan lingkaran pertemanan masa lalu yang gemar menukar profesionalisme dengan romantisasi tai kucing bernama “harga teman”. Harga yang bahkan sulit buat mengganjal perut keroncongan. Namun, aku saat ini menolak untuk sekadar meratap dan memblokir kontaknya. Itu terlalu pengecut. Sesuatu yang setimpal harus diselesaikan pada kemudian hari.
Tak disangka, dua minggu kemudian ponselku bergetar lagi. Nama “Ruslan Karang Taruna” muncul kembali di layar ponselku. Aku tersenyum tipis. Aku sudah menduga tabiatnya. Orang yang pernah meminta tolong sekali, pasti akan kembali untuk kedua kalinya dan seterusnya, apalagi setelah dia sadar bahwa ada kawannya yang rela dibayar murah.
“Assalamualaikum, Ari. Sibuk enggak?” suara Rustol lagi-lagi terdengar sok akrab. Aku sungguh tak mengerti, kenapa ada tipe orang yang gemar sekali mengirimkan pesan suara ketimbang mengetik padahal ke sesama cowok?
“Ini, bosku di kantor kan lihat kaos reunian kemarin. Dia tertarik banget sama desainnya. Mau minta tolong dibuatkan logo buat proyek perumahan baru. Katanya, butuh yang ‘auranya mewah, futuristik, tapi tetap membumi’. Kau pasti pahamlah maksudnya sebagai desainer. Nanti kalau proyeknya tembus, gampanglah urusan kita.”
Aku pun mengetik, “Oh, bisa aja. Memangnya, kapan bosmu butuh?”
“Kalau bisa secepatnya, Ri. Kata bosku, sih, minggu-minggu ini mau dipresentasikan di depan investor. Tiga hari dari sekarang bisa?”
“Oke. Sebelum tiga hari nanti kukirim.”
Aku tidak menyentuh perangkat lunak desain sama sekali malam itu. Aku tidur nyenyak selama delapan jam penuh, sesuatu yang mewah yang tidak kudapatkan dua minggu lalu. Aku banyak bersantai tanpa memikirkan soal proyek tersebut. Barulah pada satu jam sebelum tenggat waktu yang diminta, aku membuka laptop. Aku mengambil sebuah gambar dari internet, yaitu sebuah logo rumah sederhana yang sangat standar, tipe logo yang bisa kau temukan dalam pencarian Google dengan kata kunci “logo rumah gratis bebas lisensi”.
Di bawah gambar rumah itu, dengan jenis huruf Comic Sans yang paling dibenci oleh seluruh desainer grafis di muka bumi, aku menuliskan sebuah kalimat tebal: PERUMAHAN RUSLAN, lalu disusul tagline berikut: “Mau punya rumah dengan cicilan ringan? Beli saja keong, itu sudah gratis rumah.”
Aku mengekspor gambar itu ke dalam resolusi yang paling rendah, sangat pecah dan buram jika diperbesar, lalu mengirimkannya ke WhatsApp Rustol. Tidak butuh waktu lama, ponselku menjerit. Rustol meneleponku. Aku pun mengangkatnya dengan santai.
“Ini maksudnya apa, Ri?” suara Rustol melengking, hilang sudah wibawa seseorang yang katanya berjiwa kepemimpinan ini. “Kok logonya pecah-pecah begini! Terus tulisan di bawahnya apa pula ini? Bosku bisa ngamuk kalau dikasih lihat beginian! Kau jangan main-main!”
Aku menarik napas panjang, menikmati setiap detak kemarahan di seberang telepon, lalu menjawab dengan suara paling ramah yang bisa kurekayasa, “Lho, Rus, kok malah protes, sih? Anggap saja logo buram itu bagian dari hadiah pertemanan kita. Kau belum bayar apa-apa, kan? Kalau bosmu mau logo yang tajam, mewah, dan punya tagline bagus, bilang sama dia: ‘Tarifnya dua juta rupiah, bayar di muka.’ Paham?”
Hening mendadak tercipta di seberang sana. Rustol tidak membalas. Dia langsung mematikan sambungan telepon.
Aku meletakkan ponsel di meja, bersandar di kursi, dan menghirup sisa kopi yang mulai dingin. Rasanya entah mengapa jauh lebih manis dari biasanya. Aku sadar bahwa aku mungkin baru saja kehilangan satu kenalan lama. Tapi, setidaknya buat malam ini, atau mungkin untuk pertama kalinya dalam hidup setelah sekian lama bekerja serabutan, aku merasa harga diriku telah kembali. Aku bukan lagi seonggok sampah.
--
Modifikasi tulisan lawas yang draf awalnya tertulis pada 2022. Gambar diambil dari Pixabay.


0 Comments
—Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap sudah blogwalking.