Catatan Seorang Suami Newbie dalam Menempuh Hidup Baru

Di lingkup pertemananku, umur 25-27 konon adalah angka yang ideal untuk menikah. Itu dibuktikan langsung oleh empat teman dekatku yang menikah di rentang usia tersebut: Kiki (25), Tono (25), Irfan (26), dan Andi (27). Bagi seorang lelaki di lingkungan tempat tinggalku, bahkan umur 30 seakan-akan menjadi batas akhirnya.

Nah, bagi siapa pun yang belum menikah hingga usia lebih dari 30, biasanya akan ada tetangga yang suka mengejek kalau orang itu nantinya bakal melajang seumur hidupnya. Begitu pula yang terjadi denganku sewaktu usiaku baru saja menginjak 29. Ada saja tetangga ataupun teman yang gemar bertanya, “Kapan nikah? Ditunda-tunda begitu, kamu mau jadi bujang lapuk?”




Pernikahan, dalam narasi besar masyarakat kita, sering kali digambarkan seperti sebuah gerbang megah yang hanya boleh dimasuki oleh kesatria yang sudah menunggang kuda putih. Di sisi lain, ada juga golongan orang nekat yang loncat ke sumur tanpa dasar dengan mata tertutup sambil berprinsip “Jalanin aja dulu, rezeki udah ada yang mengatur, kok.”

Aku tak mau memilih di antara keduanya. Aku belum punya kuda putih (semacam kiasan suka-suka versiku buat mobil dan rumah), dan aku juga menolak melompat dengan mata tertutup. Aku tentu masih perlu menyiapkan diri meskipun sudah menjalani hubungan bersama pacarku selama dua tahun. Akhirnya, aku pun memberanikan diri bilang kepadanya, “Nanti ya, aku lihat kondisi keuangan dan kesiapan mentalku saat usiaku tepat 30 tahun.”

Empat bulan sebelum usiaku beranjak 30, aku berhasil memegang selembar surat keputusan dari kantor yang menyatakan bahwa diriku resmi diangkat menjadi karyawan tetap dan ada info tentang kenaikan gaji. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya hal yang biasa saja. Namun, aku merasa itu semacam pencapaian kecil sebelum usiaku 30 tahun, karena pada usia 25-27 kondisiku benar-benar amburadul saat berstatus pekerja lepas. Memang, itu hanyalah selembar kertas, tapi itu seolah-olah bisa berubah menjadi sebuah sertifikat yang menyatakan bahwa diriku sudah layak menikah. Apalagi pada waktu yang hampir bersamaan, di dalam rekening bank tabunganku ternyata angkanya hampir mencapai target.

Seminggu setelah ulang tahunku yang ke-30, aku pun membuktikan ucapanku dengan melamar pacarku, lalu membicarakan tanggal pernikahan sekaligus mempersiapkan segalanya, hingga akhirnya kami sah menjadi sepasang suami-istri pada September 2025.




Banyak pria gagap menghadapi pernikahan karena mereka dibesarkan dalam mitos bahwa menikah adalah urusan mengambil seorang perempuan buat mengurus kehidupan mereka. Ini adalah kesalahpahaman patriarki yang teramat konyol. Aku bersyukur sudah melek akan hal ini. Jadi, kala aku memutuskan untuk melangkah ke jenjang pernikahan, aku justru harus sudah terbiasa dan terus berusaha mengakrabkan diri pada sabun cuci piring, deterjen, dan setrikaan.

Ada falsafah yang pernah kudengar tentang pekerjaan domestik yang dilakukan oleh lelaki. Di antaranya: mengetahui bagaimana membersihkan noda lemak di permukaan piring adalah latihan dasar untuk membersihkan ego mereka sendiri. Sepasang tangan pria yang terbiasa memegang setrika, yang tahu bagaimana meluruskan kusutnya pakaian hingga rapi, adalah sepasang tangan yang sedang bersiap untuk memikul beban bersama istrinya, serta tidak akan membiarkan dia mengurus rumah tangga sendirian.

Bagiku, menikah jelas bukan mencari pembantu yang hanya dibayar dengan jatah bulanan dari gaji yang tidak seberapa itu. Menikah adalah membangun sebuah relasi di mana sang suami tidak berhak nongkrong di luar bersama teman-temannya, sementara istrinya di rumah sedang bertempur melawan tumpukan piring ataupun pakaian kotor.




Ini mungkin sok tahu, tapi lelaki yang telah mandiri secara domestik sebelum menikah adalah salah satu standar minimal untuk dijadikan patokan, sebab dia nanti tidak akan merepotkan orang lain hanya untuk urusan perut dan baju bersih. Ucapanku ini tentu harus diuji di lingkungan yang nyata, sehingga nanti sebelum tiga bulan usia pernikahan, aku dan istri harus segera keluar dari rumah orang tua maupun mertua. Nah, pilihan yang paling realistis dengan isi kantongku saat ini adalah mengontrak rumah.

Walau aku sadar bahwa menolak tinggal di rumah mertua atau rumah orang tua sendiri sering kali dianggap sebagai bentuk pemborosan. Apalagi terkadang akan ada ujaran begini: “Ngapain sewa bulanan kalau ada kamar kosong di rumah? Buang-buang duit aja, mending juga ditabung.” Namun, jawaban di dalam hatiku jelas demi ketenangan batin dan menghindari cekcok.

Rumah, sekecil apa pun bentuknya, bahkan jika itu hanya sebuah rumah kontrakan tiga petak adalah sebuah wilayah kekuasaan baru bagi sepasang suami-istri. Di sana, aturan main benar-benar dibikin oleh dua orang yang baru saja menikah dan ingin belajar, bukan oleh intervensi generasi sebelumnya yang sering kolot itu. Di dalam rumah kontrakan, kami bisa bebas menentukan kapan harus mencuci piring tanpa perlu merasa diawasi oleh mata orang tua maupun mertua yang mungkin memiliki standar berbeda.

Mengontrak rumah juga merupakan cara terbaik untuk berhenti ketergantungan secara psikologis kepada orang tua. Kami belajar bahwa menjadi dewasa itu memang mahal, dan harganya sering kali bermanifestasi dalam bentuk tagihan kontrakan bulanan dan bunyi token listrik. Namun, rasa lelah membayar sewa itu terbayar lunas oleh perasaan bahwa kami merupakan nakhoda di kapal kami sendiri. Kami bebas mau berlayar ke mana pun.

Di sela-sela semua kalkulasi angka, urusan domestik, dan urusan tagihan rumah kontrakan itu, aku sejatinya menyisakan satu sudut kecil di dalam kepalaku untuk sebuah hobi yang tergolong keras kepala ini, yaitu menulis. Sebagian orang mungkin melihat hobi menulis sebagai kesia-siaan yang menghabiskan waktu di depan laptop atau bloknot tanpa ada hasil yang nyata.

Namun, dalam rencana jangka panjang pernikahan ini, aku ingin melihatnya sebagai semacam penyelamat darurat. Di satu sisi, tulisan-tulisan yang diolah menjadi esai, artikel, cerpen, puisi, atau barangkali dikompilasi menjadi sebuah buku, adalah bentuk ikhtiar untuk mendatangkan pemasukan sampingan—dana tak terduga yang barangkali bisa digunakan untuk membeli barang self reward seperti buku, sepatu, jaket, atau sekadar mengajak istri makan malam di akhir pekan tanpa mengganggu anggaran belanja bulanan.

Di sisi lainnya, yang jauh lebih krusial, menulis adalah ruang privat untuk menjaga kewarasan. Rutinitas sebagai karyawan tetap berpotensi mengubah manusia menjadi robot. Urusan domestik bisa melelahkan juga. Di sinilah menulis mengambil peran, dan ia menjadi ruang di mana aku tetap bisa menjadi diriku sendiri, tempatku merenung, mengunyah pengalaman hidup, dan menyusunnya kembali menjadi kalimat-kalimat yang bernyawa. Mungkin saja menulis adalah caraku mewariskan pikiran kepada anak-anakku kelak, bahwa ayahnya adalah seorang pekerja yang enggak pernah berhenti berpikir.

Pada akhirnya, esai ini (atau lebih cocok disebut racauan?) bukan sebuah contoh tanpa cacat. Menikah di umur tiga puluh dengan tabungan seadanya, sebuah pekerjaan tetap yang gajinya pun masih biasa aja, keahlian mencuci piring, dan sebuah pilihan untuk mengontrak rumah, adalah sebuah potret dari keberanian yang terukur, tapi tetap mengandung beberapa risiko.

Setidaknya, pernikahan kami enggak dimulai dengan kemewahan fana yang menyisakan utang setelahnya. Kami menggelar resepsi sederhana saja dengan membayar semuanya secara kontan, agar ke depannya kami tidak perlu pusing melunasi tagihan-tagihan tolol hanya demi gengsi.

Pernikahan justru menjadi sangat sakral ketika dua orang manusia dengan sadar berani melangkah masuk ke dalam sebuah rumah kontrakan kecil tiga petak, melihat sekeliling ruangan yang tentunya masih kosong, lantas berkata: “Mari kita mulai semuanya dari sini. Pelan-pelan akan kita isi dengan kebahagiaan.”

--

Modifikasi draf jurnal 2025-2026.

0 Comments