Mantra Penyelamat Hidup yang Tak Lebih dari Sampah

Di atas meja kerja di suatu rumah kontrakan kumuh, terdapat sebuah bloknot yang dibiarkan terbuka oleh penulisnya. Jika ini adalah sebuah adegan film, dan kamera segera menyorot fokus ke bloknot itu, tentu penonton dapat membaca dengan jelas teks berikut:

Jurnal 4 April 2022

Dua hari lalu, aku menulis sebuah puisi motivasi diri karena saat itu hidup terasa begitu melelahkan. Setelah puisi itu selesai, aku mencoba mengistirahatkan diri. Aku juga berusaha untuk tidak terbebani oleh betapa buruknya kualitas puisi tersebut. Setidaknya, aku bisa merasa plong seakan-akan sampah di dada itu telah dibuang. Dan akhirnya, aku pun merasa lebih baik.

Namun, entah mengapa rasa lelah ini datang kembali. Aku baru saja bangun dan langsung merasa capek. Tiba-tiba aku memikirkan hidupku sekarang yang benar-benar amburadul. Tapi tak apa-apa. Aku memang enggak punya pilihan selain bertahan dan tetap hidup. Aku hanya perlu membangun kembali hatiku yang hancur, memulai cari pekerjaan lagi, dan menata ulang hidupku. Dan aku berharap, aku masih memiliki sisa energi untuk melakukannya.




--

Januar terbangun dengan perasaan seolah-olah kepalanya baru saja dijadikan tempat latihan grup musik metal amatir yang sedang bersemangat untuk pentas. Ia menatap langit-langit kamarnya yang dihiasi noda rembesan air hujan, sebuah pola abstrak yang jika dilihat dengan mata yang cukup putus asa, menyerupai peta benua yang hilang atau mungkin wajah bos yang dulu memecatnya dengan alasan efisiensi biaya operasional.

Dua hari lalu, dalam sebuah serangan panik yang membuatnya merasa ingin bunuh diri saja, Januar menulis sebuah puisi. Bukan sembarang puisi, melainkan apa yang disebutnya sebagai “puisi pertolongan pertama pada gangguan kecemasan”. Isinya penuh dengan kata-kata besar yang biasanya hanya muncul dalam pidato politisi yang sedang membangun citra atau brosur tempat kursus yang biayanya terlalu mahal. Ada kata bangkit, cahaya, energi, dan tentu saja favorit semua motivator: berproses.

Saat menuliskannya, Januar merasa seperti seorang nabi yang sedang menyembuhkan lukanya sendiri dengan tinta. Namun pagi ini, puisi yang tercantum di bloknot itu tampak seperti rongsokan kata-kata yang memalukan, atau bahkan serupa mantra penyelamat hidup yang tak lebih dari sampah. Membaca puisi itu seperti melihat foto diri sendiri sedang menangis di pesta pernikahan mantan: menjijikkan sekaligus menggelikan.

“Menata kembali hati yang porak-poranda,” ujar Januar, membaca salah satu baris puisinya sendiri. Ia lalu mendengus begitu keras hingga upilnya keluar. “Tai, menata hati bahkan lebih sulit daripada melupakan wajah teman SD-ku yang pernah berak di celana.”

Januar lantas berjalan ke dapur. Di sana, ia disambut oleh sebuah instalasi seni yang luar biasa: tumpukan piring, mangkuk, dan gelas kotor yang sudah mencapai level kemalasan akut. Sisa-sisa saus sambal yang mengering, ampas kopi yang berkerak, serta aroma yang keluar dari sana sungguh memicu rasa mual di lambung.

Ia memandangi piring-piring itu dengan penuh benci. Seolah-olah, jika ia menatapnya cukup lama, piring itu akan merasa malu dan mencuci dirinya sendiri secara sukarela. Ya, tentu saja tidak. Piring-piring itu tetap diam, angkuh dalam wujud kotornya.

Setelah menghela napas panjang, ia pun mau tak mau harus menghadapi musuh utamanya: perabotan kotor itu. Ia mulai menyalakan keran. Air mengalir, dingin dan sedikit berbau tanah. Begitu selesai mencuci muka, Januar mulai mengambil spons yang sudah tipis, meneteskan sabun pencuci piring warna hijau, dan mulai menggosok. Ia membayangkan setiap perabotan adalah satu bagian dari hidupnya yang gagal. Piring dan mangkuk dengan sisa lemak soto daging ini adalah cicilan motornya yang macet. Gelas dengan noda kopi ini adalah mimpinya menjadi penulis novel best seller dan justru berakhir menjadi penulis caption untuk selebritas Instagram yang hanya dibayar murah. Dan sendok yang gampang bengkok ini adalah hubungan asmaranya yang kandas karena belum bisa memberikan kepastian untuk menikah.

Gosok, Jan. Gosok sampai mengkilap atau sampai kau lupa bahwa kau belum membayar uang sewa kontrakan bulan ini, ujarnya kepada diri sendiri.

Anehnya, gerakan repetitif itu memberikan semacam ketenangan yang tidak bisa diberikan oleh puisi buruknya. Ada kepuasan instan saat melihat noda merah kecokelatan menghilang dan menampakkan porselen putih di bawahnya. Ini adalah satu-satunya hal dalam hidupnya yang bisa ia kontrol sepenuhnya. Ia tak bisa mengontrol inflasi, ia juga tidak mampu mengontrol algoritma media sosial, tapi setidaknya ia bisa memastikan perabotan ini bersih.

Di tengah ritual itu, ponselnya bergetar di saku celana. Pesan yang ternyata dari ibunya dan berbunyi: “Jan, sudah salat? Jangan lupa ibadah, ya, kalau lagi banyak masalah. Oh ya, sekiranya ada sisa uang dari gajimu, tolong kirim dong 500. Ini adikmu minta dibelikan tas dan sepatu baru.”

Januar berhenti menggosok. Ia menatap tangannya yang berbusa. Ia merasa seperti pecundang kelas berat. Ibunya meminta uang, sementara saat ini ia hanya bisa mengirimkan puisi-puisi sampah. Uang buat diri sendiri saja masih kurang, batinnya.

Ia membilas piring terakhir dengan perasaan yang sulit didefinisikan. Ada sedikit rasa lega, tapi juga ada rasa letih yang baru. Itu bukan jenis kelelahan fisik, tapi rasa capek karena menyadari bahwa dunia tidak akan berubah hanya karena dirinya sudah mencuci piring. Besok, piring-piring itu akan kotor lagi. Besok, ia akan lapar lagi. Besok, hidup akan tetap menuntutnya untuk membayar sesuatu yang ia sendiri tidak punya.

Januar kembali ke meja kerjanya. Ia mengambil pulpen. Ia melihat jurnal itu sekali lagi. Dan aku berharap, aku masih memiliki sisa energi untuk melakukannya.

Ia membuat coretan besar dan berniat menghapus seluruh baris terakhir itu. Ia menggantinya dengan kalimat yang lebih masuk akal bagi seorang manusia yang nekat hidup di Jakarta: Aku tak ingin berharap banyak. Aku enggak butuh energi besar untuk kembali membangun hidup. Aku hanya butuh sedikit energi untuk melanjutkan hidup, dan tidak mati hari ini.




Ia melipat kertas itu, menjadikannya pesawat terbang, dan melemparkannya ke arah luar. Pesawat kertas itu entah bagaimana mendarat tepat di atas tempat sampah. Januar tersenyum tipis. Sebuah senyum yang tidak mengandung kemenangan, tapi mengandung penerimaan akan kekalahan yang bermartabat.

Perut Januar tiba-tiba berbunyi. Sebuah sinyal yang meminta tubuhnya untuk segera diisi makanan. Ia lantas berjalan ke arah dapur lagi, menyalakan kompor, dan menunggu air mendidih untuk memasak mi instan rasa kari ayam—satu-satunya stok persediaan di rumah.

Sembari menunggu air matang, Januar melangkah ke toilet dan memandangi dirinya sendiri di cermin. Hidup memang masih amburadul, batinnya, tapi setidaknya mangkuk untuk mi instanku nanti sudah bersih. Dan untuk sekarang, itu sudah lebih dari cukup.

0 Comments