Dongeng Cinta Goblok Sebelum Hari Valentine

“Semua orang menginginkan jantung (hati) Chainsaw Man. Bagaimana dengan hatiku? Tidak adakah seseorang yang menginginkan hatiku?”
 
 

 
Kalimat barusan diucapkan oleh Denji, protagonis manga Chainsaw Man, saat dia menyadari banyak manusia ataupun iblis yang ingin memburu serta mengambil jantung Pochita—iblis yang menggantikan jantung asli Denji agar dia tetap hidup, dan di sisi lain Denji merasa nelangsa karena tak ada seorang perempuan yang menginginkan hatinya. Apalagi belakangan diketahui, seorang perempuan yang selama ini dia pikir baik dan tulus kepadanya, rupanya cuma memanfaatkan dirinya demi suatu kepentingan.
 
Hal itu lantas mengingatkan saya dengan dongeng cinta goblok berikut:
 
Saya pernah didekati oleh seorang gadis manis yang seumuran adik saya (kisaran lima tahun lebih muda). Kedekatan kami bermula dari pertanyaan-pertanyaan dia tentang dunia perkuliahan karena dia saat itu baru saja menjadi mahasiswa baru. Walaupun saya tak terlalu paham sistem perkuliahan di universitas negeri lantaran dulunya saya kuliah di kampus swasta dan itu pun kelas karyawan, setidaknya dia bilang sangat berterima kasih dengan berbagai penjelasan saya, yang konon memberinya pencerahan bahwa dunia perkuliahan amatlah berbeda dengan masa sekolah.
 
Sejak saya meresponsnya dengan baik, dia terkadang jadi suka meminta bantuan saya. Mulai dari mengedit warna latar pas foto (mengganti warna cat tembok menjadi warna yang dia minta) untuk kebutuhan ospek atau tugas, mengoreksi tugas esainya, bahkan mengunggah fail tugasnya ke situs kampus karena dia kebetulan sedang di luar rumah dan tak membawa laptop, sementara saat upload via HP katanya selalu eror dan tenggat mengumpulkan tugas sudah sangat mepet. Sebetulnya, selama saya sedang luang, saya tak pernah keberatan untuk menolongnya. Saya hanya sangat keberatan sewaktu dia tiba-tiba mengucapkan, “Thank you so much, Beb.”
 
Karena risih, saya pun protes kepadanya, lalu jawaban dia: “Aku iseng doang kok, Mas, manggil begitu. Tapi siapa tau, kan, nanti aku bisa manggil betulan kayak gitu?” Kalimatnya ditutup dengan emoji menjulurkan lidah.
 
Seiring bergesernya waktu, kami kian bertambah dekat dan mulai berani membicarakan hal-hal personal serta perihal asmara. Saya pun mendengar curahan hatinya tentang bagaimana dia sempat trauma dengan percintaan pada masa SMA-nya, sampai-sampai dia sempat mengunci hatinya hampir setahun. Dia lalu berharap saat memasuki masa perkuliahan ini bisa kembali membuka hatinya. Saya entah kenapa jadi ikutan berkisah bahwa sudah dua tahun tak mengizinkan seorang perempuan mengambil hati saya semenjak patah hati hebat dengan pacar terakhir saya.
 
Hari itu, kami saling berbagi penderitaan yang sama, dan rasanya sama-sama paham bahwa seandainya nanti bisa jatuh cinta lagi, kami bertekad untuk menjaga pasangan itu sebaik-baiknya.
 
Suatu malam, ketika saya terbangun dari tidur, saya mendapati pesan darinya yang menuturkan cerita sedih tentang kondisi keluarganya yang kurang harmonis. Saya meminta maaf karena sudah tidur sewaktu dia mengirimkan pesan, lantas terkejut karena dia masih melek pada dini hari. Obrolan yang tadinya hanya teks, berubah jadi pesan suara, hingga berujung teleponan.
 
Saya sudah lupa apa saja yang kami bicarakan malam itu. Yang saya ingat jelas: Dia bilang merasa nyaman mengobrol bersama saya. Hari-hari terus belanjut dan kami masih rutin bertukar pesan, hingga suatu waktu dia sempat bilang kalau kami itu cocok, kami punya minat yang sama terhadap buku, kami saling melengkapi, dan sebagainya.
 
Saya terus terang saja mulai jatuh hati kepadanya. Apalagi ada momen-momen sewaktu dia memberikan saya kejutan sederhana yang terasa luar biasa. Semakin menjadi-jadilah rasa suka itu. Keraguan saya akan perempuan yang belum berusia 20 tahunan (lantaran mayoritas dari mereka ini sifat maupun sikapnya masih jauh dari kata dewasa) pun perlahan-lahan memudar. Saya tak keberatan dengan gadis muda berumur 19 tahun ini, yang kala itu saya nilai cukup dewasa.
 
Namun, dalam waktu singkat kurang dari tiga bulan, setelah hal-hal manis terjadi di antara kami dan saya sedang menikmati rasa kasmaran itu, entah kenapa segalanya berubah pahit dan asing. Semua penilaian saya sebelumnya tentang kedewasaan pada dirinya mendadak sirna.
 
Ini terjadi pada suatu malam jahanam sehabis saya inisiatif membelikannya sebuah lauk lantaran dia sempat mengeluh lapar tapi hari sudah terlalu larut dan enggan memakan mi instan lagi. Selepas dia mengucapkan terima kasih dan kapan-kapan akan mengganti uang saya tersebut—yang tentunya saya jawab tak perlu menggantinya, dia tiba-tiba mengajak saya mengobrol serius. Dia melempar pertanyaan begini: “Mas Yoga, kamu pernah trauma sama jalan?”
 
Saya menjawabnya dengan pertanyaan juga: Jalan apa maksudmu? Sebuah jalanan karena pernah jatuh atau kecelakaan di situ, kah?
 
Dia lalu berkata bukan dan menjelaskan kalau lagi melewati suatu jalan, dia mendadak terkenang masa lalu bahwa dirinya pernah berduaan dengan mantan pacarnya di jalan itu atau semacamnya.
 
Saya yang biasanya tenang, entah kenapa langsung terbawa emosi lantaran ada satu kalimatnya yang bikin muak. Saya lupa seperti apa kalimat persisnya. Intinya, sih, dia berusaha membanding-bandingkan masa lalunya dengan hal-hal bersama saya yang belum tentu terjadi.
 
Setelahnya, seperti yang bisa kautebak, dia mulai memberikan alasan-alasan yang terdengar sangat omong kosong. Dia bagaikan cuma penasaran dengan saya, sebab begitu dia mendapatkan hati saya (saya menunjukkan gelagat orang jatuh cinta), dia segera menjauh karena seolah-olah misinya telah selesai. Mungkin baginya menjalani permainan bersama saya sudah tak seru lagi.
 
Dia terus-menerus bilang dengan seenak udel bahwa dia masih sangat trauma dengan tetek bengek cinta. Dia belum mau memulai hubungan baru, sebab dia yakin kalau hubungan kami nantinya bakalan putus juga. Malam itu hati saya hancur seketika dan merasa sangat dipecundangi oleh bocah kunyuk sepertinya.
 
Hari-hari berikutnya saya lewati dengan kesedihan dan berandai-andai semestinya sejak awal saya tak usah mengizinkan dia mengenal saya lebih dekat. Hingga akhirnya saya mendapati kalau dia balikan bersama mantannya, sampai-sampai saya tertawa keras sekali saat itu. Tentu saja saya mentertawakan betapa gobloknya diri saya, yang bisa-bisanya ditipu oleh gadis mahasiswa baru berparas manis tai anjing.
 
Oh, kenapa saya menyebutnya tai anjing? Karena si anjing ini memang keterlaluan. Saya mencoba membuka hati saya yang kurang lebih saya tutup selama 2 tahunan (sedari awal dia telah mendengar terkait trauma saya dengan hubungan terakhir saya). Dia juga saya biarkan masuk ke dalam hidup saya. Namun, mengapa dia yang semestinya paham akan kondisi tersebut justru mengacak-acak isinya, serta membuat segalanya bertambah kacau?
 
Kala itu, di tengah rasa frustrasi, saya bertanya kepada diri sendiri: Apa itu cinta?

Lima detik kemudian saya menjawab asal, “Cinta itu tai anjing!” dan tertawa mengakak.

6 Comments

  1. sungguh perjuangan dengan ending yang belom menyenangkan. kadang cinta emg setai anjing itu hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cut Pat Kai pernah berkata, cinta itu deritanya tiada akhir~

      Delete
  2. dear cewek-cewek, baca baik-baiik kalimat saya; "jangan baik-baik ke cowok, sok ngasih perhatian, kami gampang baper lah ajning!!"

    😂😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Ternyata perhatiannya cuma kepalsuan.

      Delete
  3. Ketawa bacanya haha. Tapi kalau ngerasa dipecundangi sama ade-ade begitu jadi ga terlalu melekat dan gampang lupa gasi? 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gampang lupa, sih, enggak, soalnya memori saya tergolong kuat. Hanya jadi orang yang tidak mudah tergoda lagi dengan gadis-gadis yang usianya masih di bawah 22 tahun. XD

      Delete

—Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap sudah blogwalking.