Seumpama ada seseorang yang meminta saya untuk merekomendasikan tiga orang penulis, saya kira itu adalah hal yang terlalu gampang. Jangankan cuma tiga, sepuluh kali lipatnya pun saya sanggup. Saya bisa dengan mudahnya memilih para pemenang Nobel Sastra, Man Booker, atau jenis penghargaan lainnya. Kalaupun dia mensyaratkan pilihan ini berdasarkan alasan personal, saya juga cukup membuat daftar dari setiap penulis yang karya-karyanya pernah saya baca sekaligus favoritkan. Toh, sebagaimana yang kita tahu, dunia ini terlalu luas dan tentunya ada banyak banget penulis hebat di luaran sana. Terlepas dari hal itu, andaikan permintaan dia mengharuskan saya untuk menyebutkan nama penulis lokal maupun asing dalam jumlah yang seimbang, atau malah sebatas yang lokal saja, saya juga tak akan merasa keberatan. 
 

 
 
Namun, jika yang diminta adalah tiga orang bloger, entah mengapa saya mendadak bingung. Ini bukan berarti tak ada bloger yang tulisannya bagus, melainkan sayalah yang jarang menjelajahi dunia perblogeran belakangan ini. Lalu, ketika saya akhirnya mencoba blogwalking ke blog-blog yang sempat direkomendasikan teman ataupun iseng mencicipi tulisan dari nama bloger yang belum pernah saya ketahui sebelumnya, rasanya justru hambar belaka. Jarang sekali ada tulisan yang benar-benar dapat memikat saya akhir-akhir ini. Tak ada blog yang membuat saya ingin membacanya lagi dan lagi, selalu menunggu tulisan terbarunya terbit, dan bahkan mendoakan semoga penulisnya sehat sentosa agar bisa rajin menulis.
 
Efek dari keseringan membaca buku-buku yang memukau sekaligus asyik otomatis membentuk standar baru di kepala saya, tentang bagaimana suatu tulisan bisa dinilai bagus. Saya sebenarnya tak bermaksud membandingkan antara bloger dengan penulis sungguhan. Saya tahu betul bagaimana mayoritas bloger bikin blog dan menuliskan ceritanya untuk seru-seruan semata, tak ada niat menjadi seorang penulis, atau justru hanya sebagai tempat melarikan diri di tengah-tengah kesibukan. 
 
Tentu tak ada kewajiban bahwa para bloger mesti bisa menulis sebagus mungkin sebagaimana seorang penulis saat menggarap naskahnya. Tapi, saya jelas punya pandangan tersendiri akan hal ini. Biarpun kita hanya menulis di blog, saya kira kita bisa tetap menjadikan blog sebagai wadah untuk memamerkan tulisan-tulisan terbaik. Selain itu, mau seremeh apa pun kisah yang ditulis, selama bisa dituturkan dengan ciamik, pastilah menawarkan kenikmatan yang berbeda. 
 
Sampai di paragraf ini, saya masih terus memikirkan siapakah bloger yang pantas saya rekomendasikan dan layak diketahui pembaca lebih luas. Hingga saya pun teringat tentang tulisan tiga tahunan silam, yakni 5 blog yang menyenangkan sekaligus menyebalkan.
 
Dari daftar barusan terdapat nama Hawadis, Kresnoadi, Bayu Rohmantika, Sabda Armandio, dan Ardi Wilda. Pertanyaan saya, bolehkan saya cukup menyertakan tautan itu tanpa harus membuat alasan baru kenapa tulisan mereka perlu dibaca oleh bloger lain? Jadilah saya merenung, mencoba memikirkan nama lain, dan membuat daftar berikut.
 

sonagia.com
 
“Tertarik menjadi bloger bukan karena suka nulis, melainkan semata ingin mencari sensasi selagi jiwa sibuk berimajinasi.” Begitulah penjelasan yang dia tampilkan di kolom profilnya, dan bisa-bisanya terus menempel di kepala saya. Saya tak tahu apakah Agia sedang berdusta atau merendah saat bikin kalimat itu, tapi setahu saya dia memang jarang banget menulis. Dalam setahun tulisannya dapat dihitung jari sebelah tangan, bahkan semakin ke sini cuma satu. Meski demikian, dari sedikitnya tulisan yang dia tampilkan di blog, saya merasa tulisan-tulisannya asyik buat dibaca ulang.
 
Saya berulang kali pengin bilang kepadanya, “Agia Senpai, nulis lagi dong!” Tapi apa daya, saya sangat mengerti bagaimana perasaan jengkel setiap kali ada yang meminta saya untuk menulis ketika saya sedang malas atau tak berminat menulis. Alhasil, saya harus rela membuang gagasan konyol itu, memilih memendamnya saja sembari diam-diam berharap, bahwa suatu hari nanti dia akan memunculkan tulisan baru.
 
Saya akhirnya mengerti kenapa Agia bilang dirinya tertarik menjadi bloger bukan karena suka menulis, sebab dia ternyata lebih gemar membaca. Saya berani jamin dia sebenarnya merupakan seorang kutu buku, sekalipun saya tak tahu sudah berapa banyak buku yang dia lahap. Namun, tulisan-tulisannya itu sangat mencerminkan bahwa referensi dia terlampau luas. Barangkali daftar bacaan dia bisa 3-5 kali lipat lebih banyak ketimbang saya.
 
Mengapa saya malah merekomendasikan blog yang jarang diisi oleh pemiliknya ini? Jawabannya: dia punya gaya bertutur yang khas. Konon, setiap penulis sejatinya memiliki suara tersendiri. Suara yang bisa membedakan antara satu penulis dengan penulis lainnya. Nah, saya menemukan hal itu pada tulisan-tulisan Agia. Di halaman blogwalking (tempat saya menyuguhkan daftar bloger yang saya sukai), saya menyebutkan begini: “Bloger Bandung yang menurut saya memiliki bakat alami menjadi seorang komedian. Apalagi gaya bertuturnya yang mengasyikkan itu. Pokoknya, blog ini anjislah!” 
 
Saya sesungguhnya tak tahu apa yang membuat tulisan Agia terasa lucu, sehingga saya hanya berani bilang kalau dia punya bakat alami menjadi seorang komedian. Misalnya, sewaktu dia bikin tulisan tentang 10 anime favorit, sebagai permulaan atau basa-basi atau bridging atau apalah itu, dia malah mengejek temannya terlebih dahulu sebelum menyebutkan daftar tontonannya. Saya paham bahwa mengejek itu rasanya menyakitkan, tapi Agia tampaknya menawarkan sesuatu yang lain. Ejekan dia itu seolah-olah bersifat penghormatan kepada temannya. Mirip sesi roasting pada acara Stand Up Comedy. Jadi, alih-alih bikin sakit hati, ejekannya itu justru menimbulkan ledakan tawa. Saya tak tahu seandainya di luaran sana ejekan dia pernah menyinggung orang lain tanpa kesadaran, tapi jika cuma mengacu pada tulisannya di blog, bagi saya itu masih batas yang wajar.
 
Tulisan lucu Agia lainnya yang bisa saya ingat adalah bentuk parodi atas review buku di Goodreads, yaitu dengan mengulas kopi Torabika Susu Jahe. Dia mengomentari sebuah kopi varian baru dengan sebuah sinopsis. Bloger macam apa coba yang bisa-bisanya kepikiran akan hal itu? Saya pikir dia memang punya sudut pandang yang anti-mainstream. Tulisan yang saya maksud itu begitu pendek dan sangat remeh, tapi anjingnya bisa bikin saya mengakak dan melontarkan sumpah serapah. Lalu, Agia juga pernah menuturkan ulang atau menyadur salah satu episode Spongebob dengan gaya bercerita miliknya sendiri. Dia sepertinya selalu punya cara buat menyajikan tulisan anomali.
 
Sejak menemukan blog Agia 4-5 tahun lalu, saya rasanya mulai belajar bagaimana cara bertutur, bagaimana mengisahkan suatu cerita lewat bentuk-bentuk yang tak lazim, dan mengejek sesuatu hal dengan cara yang mengasyikkan. Selain itu, pemilihan judul tulisan Agia juga teramat unik. Lihat saja coba gambar berikut ini sebagai bukti bagaimana dia berusaha menawarkan kesegaran dalam tulis-menulis.
 

 
 
kearipan.com 
 
Setahu saya alamat sebelumnya adalah yeaharip.com. Sebuah blog yang dikelola oleh Arif Abdurahman dan pada masanya gemar menyuguhkan cerpen-cerpen terjemahan, lantas kini lebih fokus membahas pop culture, psikologi, gim, serta hal-hal tentang Jepang—khususnya anime. Alasan utama saya menyukai blog ini jelas mengacu ke cerpen terjemahan tersebut. Sekitar 2016-2017, ketika saya lagi gandrung-gandrungnya dengan tulisan Haruki Murakami, saya baru bisa membaca karyanya dalam bahasa Indonesia lantaran kemampuan bahasa Inggris yang sangat amburadul. Hanya Norwegian Wood dan Dunia Kafka lah novel terjemahan Haruki yang bisa saya konsumsi pada saat itu. Singkat cerita, saya iseng berselancar di internet, dan merasa beruntung karena bisa menemukan blog Arif yang menyajikan beberapa cerpen Haruki. Lewat terjemahannya yang bagi saya lumayan enak dibaca itu, jelas membuat saya bisa membaca karya Haruki lainnya, bahkan mengenal penulis-penulis luar lainnya.
 
Anehnya, Arif sendiri mengaku kemampuan bahasa Inggrisnya masih biasa-biasa aja, serta terjemahannya pun dibantu oleh Google Translate. Kala itu saya masih tak percaya kalau dia menggunakan Google Translate sebagai alat bantu penerjemahan, sebab setahu saya mesin itu biasanya menampilkan hasil terjemahan yang kacau, sedangkan terjemahan dia bisa saya baca tanpa tersendat-sendat. Akhirnya saya pun paham bahwa dia pasti mengedit terjemahan itu lagi sebelum benar-benar menampilkannya.
 
Berkat membaca pengakuannya mengenai proses alih bahasa yang menggunakan bantuan Google Translate, tanpa sadar saya perlahan-lahan mencobanya juga. Siapa sangka pada kemudian hari saya jadi bisa menikmati bacaan berbahasa asing lewat cara semacam itu, hingga akhirnya mulai berani menjajal melahap buku-buku berbahasa Inggris, lebih-lebih dalam setahun terakhir ini saya semakin terbiasa dan lumayan lancar. Saya juga entah kenapa lebih percaya diri untuk menampilkan hasil terjemahan yang pada mulanya sering menggunakan bantuan Google Translate, lalu sekarang mulai mengalihbahasakan tulisan pakai kalimat-kalimat saya sendiri—atau menceritakan ulang sesuka hati. 
 
Walaupun sekarang ini blog Arif mengalami perubahan isi konten, syukurlah masih ada tulisan-tulisannya yang bisa saya nikmati dan juga menambah referensi. Berhubung saya juga mengagumi Jejepangan, tulisan Arif yang lazimnya berbentuk listicle (contohnya: 10 Serial Anime Seinen Pilihan) itu rupanya benar-benar membantu saya ketika lagi bingung ingin menonton anime apa lagi. Jadi, bagi para bloger yang kebetulan juga suka tentang hal-hal dari Negeri Sakura, tak ada salahnya menambahkan blog Arif sebagai daftar bacaan baru.
 
 
howhaw.com
 
Saya benar-benar pusing kudu merekomendasikan siapa lagi, sehingga sengaja memilih Hawadis ke dalam daftar ini sekalipun sudah pernah saya jagokan di tulisan yang saya maksud sebelumnya. Alasan saya: keberadaan Haw di dunia bloger membuat saya tak sendirian lagi. Saya berkata begini karena mengingat suatu esai tentang Enrique Vila-Matas (penulis asal Spanyol) yang sempat melontarkan kalimat pada salah satu media tentang literary brother—semacam saudara seperguruan sastra—atas persahabatannya dengan Roberto Bolano (penulis asal Chili). Saya tampaknya memahami apa yang dimaksud oleh Enrique itu. Dari sekian banyak bloger—khususnya di Indonesia, saya pikir cukup sulit buat menemukan orang-orang yang cocok, memiliki pandangan yang sama, bahkan sudi menyebutnya kawan dekat.
 
Di luar dari berbagai hal yang berseberangan antara saya dan Haw, setidaknya kami punya suatu pandangan yang sama: meskipun hanya menulis di blog, setidaknya bloger itu mesti paham dengan EBI (Ejaan Bahasa Indonesia), serta memiliki kemauan untuk meningkatkan kecakapan menulis. Dengan kata lain: blog bisa menjadi tempat berlatih menghasilkan tulisan yang lebih bagus seiring bergesernya waktu, atau tempat kita bertumbuh sebagai seorang penulis.
 
Terlepas dari pertemanan kami yang lumayan akrab pada saat ini, Haw dulunya jelas orang asing yang saya temui di Forum Jamban Blogger—semacam Forum Maniak Menulis yang baru-baru ini diluncurkan oleh Pak Anton. Kala itu, sekitar akhir 2014, di antara kerumunan bloger yang gaya menulisnya mengekor Raditya Dika atau Alitt Susanto atau siapalah yang mengisahkan keseharian dengan balutan komedi, Haw tampil dengan bentuk yang berbeda dan amat mencolok di mata saya. Dia menyuguhkan pertanyaan sehari-hari dan menjawabnya berdasarkan analisis fisika. Observasinya pada hal-hal yang sekilas remeh itu justru bisa menjadi tulisan menakjubkan. Misalnya, dia menjelaskan secara ilmiah kenapa balon hijau bisa meletus duluan pada lagu kanak-kanak, atau memaparkan bagaimana suara kuntilanak yang terdengar jelas itu menandakan bahwa hantunya jauh dari tempat kita.
 
Pada tulisannya yang lain, Haw juga mempertanyakan: “Mengapa orang yang mau nikah masakannya menjadi asin?”, “Kenapa kamar mandi bisa membuat suara orang jadi lebih merdu?”, dan “Berapa beda usia antara warna merah muda dan merah tua?” (sengaja tidak saya sertakan tautan, agar kamu bisa mengubek-ubeknya sendiri).
 
Semenjak 2014 hingga hari ini dia masih konsisten membahas hal-hal semacam itu. Betapa salutnya saya sama dia. Saya ingin berterus terang bahwa selalu ada keinginan di dalam diri ini untuk meniru gaya menulis para penulis yang saya favoritkan sebagai bentuk eksperimen. Sialnya, ternyata saya tak bisa meniru gaya menulis Haw dengan balutan fisikanya itu. Saya sudah mencobanya berkali-kali, tapi selalu gagal. Saya kira Haw itu memang sosok bloger yang unik dan telah memiliki gayanya tersendiri. 
 
Selain mengisi blognya dengan tulisan yang berbau fisika, Haw juga membuang huruf “a”, kemudian menempatkan “k” yang awalnya berada di akhir kata menjadi ke tengah-tengah deretan huruf itu hingga terlahirlah kata “fiksi”. Maaf kalau kalimat barusan terasa ribet, tapi saya sungguh gembira lantaran Haw benar-benar menemani saya di dunia perblogeran ini dengan menulis fiksi. Pada 2018-2020, ketika bloger-bloger yang berada di lingkaran kami mulai vakum satu per satu, saya dan Haw sering berinisiatif untuk meramaikan dunia blog lagi dengan menulis cerita fiksi bertema khusus, yang secara tak langsung bermaksud mengajak bloger-bloger lain buat berpartisipasi. Meskipun belakangan diketahui kalau peminatnya palingan itu-itu lagi, kami tetap mencoba bersenang-senang, dan sepertinya itulah tujuan utama kami agar bisa terus bertahan di dunia perblogeran.
 
 
Berhubung hanya tiga bloger yang diminta oleh Creameno, saya kira cukup sampai di sini saja daftar beserta alasan kenapa orang-orang perlu membaca blog-blog tersebut. Meski begitu, saya bukanlah seorang penurut dan masih ingin menyebutkan beberapa kawan lagi semacam bentuk honorable mention. Maka, inilah blog rekomendasi tambahan dari saya yang sepertinya belum diketahui oleh masyarakat luas:
 
1) Dian Hendrianto menjadikan blog untuk tempat mengenang dan bersenang-senang dengan menampilkan berbagai tulisan yang tak kalah menyenangkan; 2) Rido Arbain gemar membuat daftar tontonan dan bacaan yang asyik, apalagi gaya ulasannya itu singkat, padat, dan jelas—atau seakan-akan tidak menyisakan tempat untuk kalimat-kalimat mubazir; 3) Icha Hairunnisa memang sudah hijrah ke platform Letterbox untuk menuliskan pelbagai review, tapi di mata saya dia tetaplah bloger pengulas film dengan cara personal, unik, dan nakal (konon hanya berani nakal dalam tulisannya, tidak pada kenyataannya); 4) Yoga Cahya Putra ini memiliki nama awal yang sama dengan saya, zodiak kami juga kebetulan sama (Gemini), tapi bukan hal itulah yang bikin saya harus menyebutkannya dalam daftar ini. Pilihan ini jelas karena Yogaesce mengisahkan kesehariannya dengan menyelipkan lelucon-lelucon yang menghibur, sehingga bikin pembaca bisa sejenak melepaskan penat; 5) Terakhir, jika kamu ingin mencari bloger yang juga menyuguhkan cerpen seperti saya, kamu bisa berkunjung ke blog N Firmansyah, dan di luar soal tulisan Firman juga bikin podcast yang spesifik membahas dunia bloger.
 
-- 
 
Bikin daftar rekomendasi blog semacam ini sebetulnya membuat saya serba salah. Saya takut kalau ada bloger yang blognya tidak disebutkan tiba-tiba merasa cemburu, atau berpikir blognya tidak saya anggap bagus, atau apa pun itu yang mengarahkan pada hal-hal buruk. Namun, saya kira pilihan-pilihan ini lahir berdasarkan berbagai pertimbangan dan seleksi, yang artinya saya tidak asal-asalan dalam menentukan opsi. Saya jelas tak akan memasukkan blog-blog yang trafik maupun kolom komentarnya sudah ramai pengunjung. Itu artinya mereka sudah dikenal oleh banyak bloger dan, bagi saya, merekomendasikan mereka bagaikan perbuatan sia-sia. Pemilihan berdasarkan tampilan maupun desain blog juga saya coret karena itu terlalu klise. Apalagi pada era digital ini saya yakin sudah banyak templat responsif dan minimalis yang nyaman buat dikunjungi. Sementara perihal gagasan, sudut pandang, dan cara orang bercerita pastilah berbeda-beda, atau singkatnya nilai jual suatu blog tetaplah pada tulisannya.
 
Atas dasar itulah saya sengaja memilih bloger-bloger yang kalau diibaratkan lagi tenggelam di dasar laut. Mereka sama sekali tak terlihat ketika kita berkendara menaiki kapal pesiar. Oleh sebab itu, kita perlu menyelam atau menggunakan kapal selam untuk melihat betapa indahnya dunia bawah laut. Di antara luasnya samudra bernama dunia perblogeran, saya benar-benar merasa beruntung dapat menemukan harta karun, dan yang terpenting bisa mengenal sekaligus berkawan dengan mereka.
 
Jika orang-orang telah mencicipi tulisan dari daftar blog yang saya sebutkan barusan dan merasa enggak cocok, saya kira itu merupakan perkara lain. Mereka juga berhak mengejek pilihan saya ini. Setidaknya, saya sudah bercerita sejujur-jujurnya terkait para bloger yang saya favoritkan ini tanpa perlu menjilat si penyelenggara maupun para juri.
 
--
 
Gambar saya comot dari Pixabay.