Tamasya yang Menunda Kematian

25 comments
“Menulis cerita hanya dengan mengandalkan ingatan terkadang bikin kita lupa sama bagian-bagian terbaiknya.” —Mpu Gondrong, penulis berumur 21 yang terlalu sering mendengarkan lagu Rocket Rockers – Ingin Hilang Ingatan

-- 

Seorang pria berpakaian necis dan berambut klimis yang kira-kira berusia 30-an awal tampak ingin mendekati saya dan Fasya yang lagi duduk-duduk santai di Taman Lansia, Bandung. Kami sedang mengaso sejenak setelah mengunjungi Museum Geologi dan Museum Pos sembari menunggu kabar dari Rani, temannya Fasya yang bekerja di Gedung Sate. Rencananya kami ingin berkunjung ke sana. Jadi, sebelum Gedung Sate dibuka untuk umum seperti sekarang ini, saat itu—Maret 2016—yang boleh berkunjung hanyalah orang-orang khusus ataupun yang punya kenalan orang dalam. 

Pria itu kini sudah berjarak setengah meter dari tempat duduk kami. Dia mengucapkan selamat siang, mulai memperkenalkan diri, lalu membahas niatnya mendatangi kami. Meskipun saya sudah lupa siapa namanya, apa pekerjaannya, di mana tempatnya bekerja, yang jelas dia bermaksud meminta data kami untuk memenuhi target pekerjaannya. 

Fasya tentu bersikap waspada agar tidak memberikan datanya secara sembarangan, sehingga dia meminta keterangan lebih lanjut. Pria itu lantas memasang tampang melas, mengeluh betapa sulitnya mencapai target harian, dan menjelaskan bahwa data tersebut nantinya tak akan disalahgunakan. Entah Fasya merasa simpati, bermaksud menolong, mulai percaya sama ucapannya, atau bahkan kombinasi ketiganya, dia pun mengeluarkan dompet dan menyodorkan KTP-nya kepada pria itu. 

“Punya Masnya enggak sekalian?” ujar pria itu kepada saya sehabis memotret KTP milik Fasya. 

Belum sempat saya menjawab, Fasya sudah mewakilkan saya dengan berkata, “Dia bukan orang Bandung, Mas. Dia dari Jakarta. Ini lagi liburan. Boleh juga memangnya kalau bukan warga sini?”

Pria itu bilang enggak bisa dan berterima kasih, kemudian pamit meninggalkan kami. 

Sejujurnya, perkataan Fasya tentang saya lagi liburan itu terasa kurang tepat. Saya datang ke Bandung tidak dengan niat liburan. Saya hanya berusaha memenuhi janji kepada seorang kawan dekat yang berkuliah di Telkom untuk mengunjunginya sejak setahun lalu, tetapi jadwal kerja lepas dan kuliah selalu memaksa saya buat terus-menerus menundanya. Mumpung kali ini kuliah lagi libur dan saya juga sempat berjanji sama Fasya buat gantian main setelah sebulan silam dia datang ke Jakarta, saya pikir mungkin inilah waktu yang tepat untuk menerapkan peribahasa “sekali mendayung, bisa ketemu putri duyung dua tiga pulau terlampaui”. 

Sekalipun tujuan awal saya cuma silaturahmi, nyatanya saya sekarang bisa sekalian liburan dengan main ke beberapa tempat di Bandung berkat ajakan Fasya. Mengingat apa saja kebaikan yang telah Fasya lakukan kepada saya hari ini, tiba-tiba bikin hati saya tidak enak karena sewaktu dia bertandang ke Jakarta sambutan saya justru kurang asyik. 


Februari 2016 

Sewaktu saya bertanya kepada Fasya sudah sampai mana, dia bilang keretanya sedikit telat dan memberikan estimasi bakal tiba di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, sekitar 15 menit lagi. Maka, saya pun memilih menunggunya di Galeri Nasional (tempat pameran seni yang letaknya di seberang Stasiun Gambir) sekalian iseng memotret. 






Sehari sebelumnya Fasya mengirimi saya pesan di Line, “Yoga, besok aku ke Jakarta. Ada interviu kerja. Kamu sibuk, enggak? Mau minta tolong buat temenin ke kantornya.” Kebetulan jadwal kerja lepas saya masih dua hari lagi, jadinya besok masih libur dan memiliki waktu luang. Tapi mengingat saya juga ada kegiatan membantu orang tua dagang pada pagi hari dan kira-kira baru selesai pukul 9, saya pun harus mengabarkan kalau baru bisa menemuinya paling cepat pukul 9.30. Pesan Fasya berikutnya menjelaskan bahwa keretanya tiba pukul sebelas, bahkan jadwal wawancaranya juga sehabis Zuhur. Artinya, saya sanggup mengantarkan dan menemani Fasya ke tempat tujuannya. 


“Kan udah kenal, ngapain pas salaman nyebutin nama lagi?” ujar Fasya begitu kami bersalaman di dekat pintu keluar stasiun.

Saya berkata biar kenalannya lebih afdol, lalu terkekeh. Selagi kami berjalan menuju tempat motor saya terparkir, kesan pertama yang timbul di benak saya terhadapnya: suaranya berbeda dengan bayangan awal saya. Berhubung kami kenalnya baru lewat blog, saya tentu cuma bisa menduga seperti apa suara orang itu kala bercerita. Ternyata suara Fasya lebih kalem dari kebawelannya di tulisan. 

Awalnya kami tidak banyak mengobrol selama di motor menuju tempat lokasi yang beralamat di Jalan Panjang Nomor 8 A. Fasya hanya mengisahkan perjalanannya di kereta tadi mengenai penumpang yang menjengkelkan, sedangkan saya bertanya tentang siapa saja kawan di Jakarta yang sudah dia hubungi, lalu memperoleh jawaban yang luar biasa: Cuma kamu sama Tata. Setelahnya kami membisu kembali. 

Keheningan itu akhirnya pecah oleh pertanyaan Fasya, “Yoga, itu bloger cewek yang di grup Faedah dan diledek sama anak-anak betulan mantan kamu?” 

Meskipun agak terkejut, baguslah saat mendengar hal itu saya tidak lepas kendali dan bikin laju motor mendadak oleng. Entah pertanyaan yang barusan terlontar itu hanya basa-basi atau pancingan untuk mencurahkan isi hati, intinya saya tetap mencaplok umpan tersebut. 

Saya mengisahkan dari mana kedekatan saya dengan perempuan itu bermula, di mana kami bersua, berapa usia hubungannya, hingga bagaimana hubungan itu berakhir. 

“Kamu ada-ada aja, enggak kuat LDR-an tapi malah pilih pacar yang jauh-jauh. Kasihan kan dia diputusin sepihak gitu.” 

Saya tertawa seraya bilang betapa jahatnya diri saya. 

Keasyikan bercerita bikin saya hampir lupa dengan lokasi tujuan. Kalau saja saya tidak menoleh ke kiri dan mengerem, mungkin kami bakal kelewatan dan mesti putar balik lagi. Syukurlah kami berhenti tepat di depan gedung yang dituju Fasya. 

Azan Zuhur berkumandang ketika kami memarkir motor. Kami bergegas masuk ke gedungnya, bertanya kepada resepsionis tentang Pak Agus—orang yang ingin ditemui, dan menuju ruangan kerja sang pewawancara yang berada di lantai 4. 

Sesampainya kami di lantai 4 dan bertanya kepada salah seorang karyawan untuk bertemu Pak Agus, kami dipersilakan menunggu di ruangan yang tersedia bersama beberapa pelamar lainnya (yang kemungkinan besar berbeda posisi incaran) sebab saat ini Pak Agus sedang makan siang. 

Setengah jam berselang, wawancara itu akhirnya dimulai dengan santai sekali selayaknya mengobrol karena saya juga diperbolehkan bergabung bersama mereka. 

Sehabis mendengar ucapan Pak Agus mengenai beban pekerjaannya yang lumayan berat tapi gajinya tidak sepadan, lebih-lebih juga diutamakan yang domisili Jakarta, Fasya mendadak melempar tawaran pekerjaan itu kepada saya dengan berkata, “Kebetulan teman saya tinggal di Jakarta nih, Pak. Dia juga suka menulis di blog.” 

Berhubung saya merasa belum siap dan datang kemari hanya dengan niat mengantar, saya pun melontarkan kalimat bahwa saat ini belum lulus kuliah, masih semester 5. Saya menjelaskan lagi kalau saya kuliah kelas karyawan yang masuknya setiap Sabtu dan kadang-kadang Minggu juga, sehingga bertanya apakah tetap bisa mengemban tugas pekerjaan tersebut? 

“Masalahnya, kantor kami Sabtu juga masuk, Mas. Belum lagi ketika ada jadwal perjalanan ke luar kotanya.” 

Singkat cerita, interviu barusan selesai dengan hasil yang belum memuaskan. 

Selagi kami menuruni tangga menuju lantai dasar untuk bertanya kepada resepsionis di mana letak musalanya, saya membuka percakapan, “Habis dari sini memangnya kita mau ke mana, Teh?” 

“Tata sih ngajak ketemuan di Taman Anggrek.” 

“Oh, ya udah, mending salatnya di sana aja sekalian numpang ngadem di mal.” 


Sekitar pukul 2 kami telah berada di Mal Taman Anggrek, sudah rampung salat, dan kini duduk di sebuah kursi cokelat panjang yang terletak di tengah-tengah lorong mal yang membuat jalannya terbagi dua. Percisnya, kami duduk di antara toko peralatan optik dan toko kosmetik. 

Seraya menunggu kehadiran Tata, kami kembali berbincang. Kali ini topiknya menyangkut keluarga. Di antara pembahasan yang sensitif dan tak perlu dituliskan di sini, saya sempat berkata kalau saja waktu itu Fasya enggak berkomentar di blog saya mengenai namanya yang sama dengan Aulia Barbara—adik saya yang telah meninggal dalam kandungan, mungkin saya bakalan tidak sadar. Alih-alih merespons sedih, Fasya juga ikutan memberi tahu saya bahwa dia sebenarnya juga punya kakak yang bernama Akbar. Kami pun mentertawakan hal itu. 

Setahu saya, Fasya tak pernah menyebut-nyebut tentang kakaknya di blog. Tapi baru kali itu, dia mau bercerita banyak kepada saya yang mana termasuk orang asing dan baru pertama kali ditemuinya. Ada perasaan gembira yang muncul begitu saja ketika orang lain memilihmu sebagai tempat menampung cerita. Mungkin itu lantaran saya yang terlebih dahulu membuka kisah hidup saya kepada orang lain. 

Tapi, apa yang membuat saya percaya kepada Fasya? Mungkinkah saya berasumsi kalau anak Jurusan Psikologi bisa mendengarkan tanpa menginterupsi, atau saya membayangkan dia sebagai kakak saya? 

Waktu SD-SMP, saya memang pernah berimajinasi bagaimana rasanya punya seorang kakak karena saya pengin punya teman berbagi. Saya berandai-andai begitu sebab tak punya banyak teman dan malu untuk terbuka sama orang tua. Saya juga tak mungkin bercerita sama adik yang masih kecil. Apalagi dulu saya juga belum mengenal blog dan tak paham caranya “menulis”. 

Lalu saat ini, ketika saya bertemu dengannya dan mengobrol berbagai topik, seakan-akan saya telah menemukan figur seorang kakak pada diri Fasya*. Saya pun otomatis teringat akan momen sebelum wawancara di ruang tunggu dengan mengisahkan pengalaman percintaan saya yang getir sebelum akhirnya khilaf memilih LDR—seakan-akan tak mampu menggaet perempuan yang satu domisili. 

Saya membuka ceritanya begini, “Mungkin di mata mantan yang LDR itu aku penjahatnya. Tapi sebelum sama dia kan aku juga pernah jadi korban, Teh.” Fasya pun tertawa kala saya bilang betapa gobloknya diri saya yang mau-maunya balikan sama salah seorang mantan, padahal dia telah menyelingkuhi saya. Ketololan itu akhirnya bikin saya mengulangi rasa sakit hati akibat dikhianati oleh orang yang sama. 

Saya tak pernah keberatan ketika pengalaman pahit itu ditertawakan orang lain. Saya memang gemar mengejek diri sendiri dengan mengenangnya kembali dan mentertawai ketololan masa lalu. Saya kini justru merasa salut sama Fasya yang sebentar lagi akan interviu, tapi kok mau-maunya mendengarkan dongeng cinta yang dungu itu? Mungkinkah kisah nelangsa itu bisa membuatnya lebih rileks? 


“Si Tata katanya udah sampai tuh, Yog,” ujar Fasya. “Sekarang dia lagi di lantai 2.” 

Kami pun bangkit dari tempat duduk dan bergegas menemui Tata. Berhubung saya sudah pernah bertemu Tata sebelumnya, dari kejauhan saya pun bisa mengenali bahwa pria jangkung yang mengenakan kemeja flanel merah dan lagi memainkan ponselnya di depan salah satu toko ialah Tata. 

“Kamu ngapain nunggu di sini, Ta?” tanya Fasya. “Kayak enggak ada tempat lain aja.” 

“Emangnya kenapa, Teh?” 

Fasya menunjuk ke toko di belakang Tata yang ternyata menjual pakaian dalam wanita. Saya spontan menyemburkan tawa, sedangkan Tata cuma tertawa kikuk. 

Setelah kumpul bertiga, kami sepakat untuk makan siang di food court Taman Anggrek, yang uangnya mesti ditukar dengan uang mainan terlebih dahulu sebelum membeli. Sungguh sistem yang merepotkan. 

Sekelarnya makan, saya dan Tata mencoba bertanya kepada Fasya kira-kira mau main ke mana. Tapi karena Fasya mengatakan kalau dirinya harus kembali ke Stasiun Gambir sebelum Magrib, kami berdua pun bingung untuk mengusulkan tempat yang asyik. Akhirnya, kami cuma bisa pindah ke mal lainnya, yaitu Central Park. Setidaknya, mal ini tampak lebih menarik karena ada tamannya yang enak buat duduk-duduk santai tanpa harus merasa risih sama pramuniaga tokonya.



Saya sejujurnya sudah lupa apa saja yang kami bahas dalam obrolan itu. Paling-paling sih topiknya tidak jauh dari dunia blog dan tulis-menulis. Dua hal yang paling saya ingat dari hari itu, di sela-sela perbincangan Fasya mengajak kami berfoto dengan pose memegang pipi, lalu Tata sempat memamerkan sebuah trik sulap menghilangkan koin. Tak terasa waktu bergeser dengan begitu cepatnya dan tiba-tiba sudah menunjukkan pukul 5. Mau tak mau kami mesti menyudahi pertemuan singkat itu.







Jika bepergian pada jam pulang kerja, sekalipun naik motor dan bisa menyalip-nyalip pasti akan memakan waktu tempuh lebih banyak dibandingkan biasanya. Bahkan kalau lagi apes juga bisa dua kali lipatnya. Atas dasar itulah, Tata menyarankan kami untuk naik TransJakarta agar perjalanannya lebih lancar dan terhindar dari macet. Sayangnya, ajakan Tata ini termasuk sesat sebab menunggu kedatangan TransJakarta ternyata tidaklah sebentar. Sudah 15 menit menanti kemunculan busnya tapi tidak ada tanda-tanda bakal hadir, Fasya pun sampai berujar, “Ta, berhenti main sulapnya. Masa busnya juga dihilangin, sih? Aku kan mau pulang.” 

“Aduh, sori banget ya, Teh,” kata Tata. “Tumben banget nih busnya lama.” 

Saya dan Fasya tentu tak punya pilihan lain selain kembali ke parkiran mal dan menuju Stasiun Gambir menggunakan motor. Sore itu, tumben sekali kondisi lalu lintas dari Taman Anggrek menuju Gambir sangat lancar. Di sepanjang jalan itu jarang sekali kendaraan, padahal biasanya selalu padat merayap. Apakah ini yang dinamakan sebuah berkah? Rezeki anak saleh? Apa pun itu, saya cuma bisa mengucap alhamdulillah karena berhasil mengantarkan Fasya ke Stasiun Gambir dengan tepat waktu dan selamat. 

Kami berdua bahkan masih sempat menyantap es krim McFlurry, lalu bertemu dengan Heri—temannya Fasya yang bekerja di sekitaran situ—sekalian mengobrol singkat sembari menunggu jadwal keberangkatan kereta. Bunyi azan Magrib lantas menyudahi perbincangan kami. Fasya pun pamitan dan menutup kalimatnya dengan meminta saya untuk gantian berkunjung ke Bandung. 

-- 

*) Saya pernah menuliskan tentang hal ini sebelumnya di caption Instagram: https://www.instagram.com/p/B3AVo3sJGZN/

PS: Maafkan saya, Sya, baru mampu menyelesaikan draf ini sejak empat tahun silam. Saya tak tahu kelanjutan ceritanya bakal selesai kapan. Mungkinkah lima tahun lagi? Terima kasih sudah mensponsori saya kuota untuk menerbitkan tulisan di blog.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

25 comments

  1. Seru ceritanya mas...persahabatan itu seperti kepompong memakan ulat jadi bolong2

    Pernah ngalamin jg diminta temen cwe ngantar ke mall. Setelah keliling2 belanja pakaian dalam dianya.Dia risih saya jga. Jadinya saya nunggu bengong di toko sebelahnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm, liriknya bukan begitu, Mas.

      Teman saya malah ada yang dikerjain sama pacarnya. Dia cerita waktu itu si ceweknya malah nanya tentang BH, kira-kira ukuran yang mau dibeli pas atau enggak. Teman saya malu bukan main dilihatin pramuniaganya.

      Delete
    2. asyem, mau dong dikerjain gitu

      Delete
  2. Aku masih mencerna pas tadi pagi baca, kok abis mimpiin Yoga dan teman blogger lain, bangun-bangun ada tulisan ini. Bisa gitu canggih amat idup.

    Terus tadi mikir hah aku ngasih KTP ke siapaaaa, oo ternyata ke marketing bank ya wkwk sumpah tadi mikir lama kirain aku dihipnotis sampe ngasihin KTP segala wkwkwkwk. Tapi bener kan ya dia marketing bank? (Lah nanya juga)

    Semua hal yang kamu tulis di sini masih aku ingat-ingat potongan ceritanya karena udah empat tahun lalu, jadi lupa. DAN ITU MON MAAP POTONYA KOK MASIH ADA YA WEEEY HAHAHAHA.

    Sehat-sehat ya Yoga, terima kasih sudah pernah dibantu, semoga kebaikan selalu menyertai kamu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sumpah, saya lupa dia marketing bank atau bukan. Intinya sih khusus domisili Bandung yang dicari sama masnya.

      Masih ada dong, tersimpan dengan rapi di folder perjalanan. Zaman-zamannya Yoga masih rajin memotret dan belum membenci foto dirinya sendiri. Haha.

      Aamiin. Begitu juga dengan Teh Fasya.

      Delete
  3. Aku pikir td tata itu cewe, ternyata cowo :). Yoga mah saluuut, detil cerita padahal 2016 kejadiannya msh inget aja. Itu lokasi duduk di kursi coklat antara toko optik dan toko kosmetik beneran ? Ato kalian jg foto2 makanya lgs keinget :D?

    Aku jujurnya rad susah kalo hrs nulis ulang cerita yg udh terlalu lama. Bisa sih memang dibantu Ama foto. Tp kayak kuliner nih, walopun fotonya ada, tapi rasa makanannya aku kdg lupa dan jd susah ngedeskripsiinnya :p. Makanya draft yg udh terlalu lama aku jrg posting. Kec bener2 msh inget :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu karena pas 2016 ada poin-poin yang saya catat, Mbak. Baru dilanjutkan sekarang aja. Kami cuma foto di taman aja, di Taman Anggrek enggak sama sekali.

      Kalau kuliner mungkin bisa dilakukan dengan makan lagi menu yang sama.

      Delete
  4. Ceritanya seru sih ini, bikin ketawa2 pas depan toko pakaian dalam wanita :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Teman saya anehnya enggak sadar pas nunggu di dekat situ.

      Delete
  5. Bisa gitu ya, orang-orang. Langsung ngobrol sana-sini dan cepet akrab. Sebagai orang introvert, saya kalau ketemu orang baru ya bakal banyak diemnya.

    Alhamdulillah banget itu, bisa dapet jalanan yang lancar tanpa macet pas jam sibuk pulang kantor. Dulu pas saya pulang dari tes di NET TV, walahlah...macetnya parah. Habis maghrib kan, mana pulangnya naik taksi biasa lagi. Sepanjang jalan pulang, yang tak liatin cuma argo doang. Ya Allah, habis 100an ribu itu kalau nggak salah. Bokek-bokek udah itu. Untung nginep di tempat bude, jadi makan masih sedikit terjamin. Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kemungkinan pertama, kami bisa beradaptasi dengan baik. Bisa juga kami cocok, jadi otomatis nyambung obrolannya. Berteman kan kadang cocok-cocokan juga. Pernah juga saya ketemu perempuan asing yang serasa kenal sudah setahun, padahal mah baru mengobrol 1 jam. Haha.

      Saya sampai hari ini berusaha banget menghindari taksi. Selain karena argonya, wanginya suka bikin mual.

      Delete
  6. tadi pas mulai baca sempet bergumam sendiri, kayaknya ini cerita udah pernah diposting lah dulu. oh, di IG, oh, sepenggal juga pernah disinggung di postingan pas ke bandung yang ada foto crop.

    judulnya bisa diganti "Tafasya" ini, Yog, nggak tahu bakal terasa lebih edge, adem apa nggak. walo jelas nggak tahu saya apa maksudnya.

    Yog, lu waktu pertama ama saya pake ngenalin nama juga nggak, sih? lupa saya. atau masih belum memenuhi ritual afdol selama ini..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tadinya mau buat judul "Tamasya Bersama Fasya" biar berima gitu. Tapi entah kenapa yang terpilih judul ini.

      Seingat saya kita sempat salaman di area Stasiun Tanah Abang, Haw. Soal menyebutkan nama sih udah lupa. Haha.

      Delete
  7. Yog, bokapnya Fasya bukan Sholihin kan? Hahahahaha. Btw, salah satu hal yang gue benci di Jakarta juga adalah harus nuker uang pake kartu atau koin pas mau makan itu. Waktu itu makan di mol mana lupa, tapi ribet banget buat orang yang cuma main sekali-dua kali ke tempat itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Kayaknya bukan, Man.

      Itu lu makan di Eat n Eat kayaknya kalau pakai kartu begitu. Gue pernah di Cilandak Town Square. Emang ribet sih sistemnya. Bikin keluar 20 ribu buat bikin kartunya. Mana sampai hari ini belum ke sana lagi. Kayaknya kartu itu juga udah hilang.

      Delete
  8. Gimana rasanya main ke Bandung, Yog?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asyik, Gip. Dingin juga. Jadi enggak perlu sering-sering mandi kayak di Jakarta.

      Delete
  9. Apa tidak kaget itu lagi nganterin tahu2 disuruh ikut interview? Hahaha. Seru bener inii walaupun bentar doang juga ya. Gue sekalinya ke Bandung ketemu Fasya dulu malah diajak ke sana ke sini dijajanin ini itu. Auto ngerasa nggak enak. Huhuhuu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jelas sempat kaget. Tapi lebih kaget lagi pas dengar tugas pekerjaan itu yang tak sesuai gajinya. Hahaha.

      Sewaktu Fasya ke Jakarta belum pernah ketemu berarti, ya?

      Delete
  10. Fasya orangnya nice dan ngemong bgt ya yog
    Iyalah anak psikologi hihihi

    Btw enak memang curcol ke orang yg pemikirannya dewasa, lebih bisa ngedengerin
    Tapi sama loh gw juga karena terbiasa baca blog temen2, biasanya secara otomatis pas baca tuh serasa kyk ngedubberin suaranya, ntah di realnya sama ga ama bayangan pas kita ngeduberrin itu wekekek
    Tp si fasya baik ey mau nawarin kerjaan yg harusnya buat dia ke elu yog wekekk..

    Klo ketemuan di taman anggrek mang gitu, ujung2e pindah mol, tp emang bener sik lebih enakeun central park walo klo gw ke sana bingung jarang ada yg bisa terbeli saking pada branded semua

    ReplyDelete
    Replies
    1. Teteh yang satu ini memang terbaiklah.

      Nah, kan. Pasti jadi mengira-ngira suaranya kayak apa. Saya paling kaget sewaktu dengar suara salah seorang penulis yang jauh sekali dari kesan sangar, padahal tulisannya terbayang lagi marah. Haha.

      Itu kami cuma di taman aja tanpa masuk ke dalam.

      Delete
  11. Pertama mikir Tata itu cewek, apalagi nunggunya di toko dalaman cewek. Ajaib banget sih milih tempat nunggu.

    Balikan ama mantan yang pernah selingkuh itu sungguh bikin aku bertanya-tanya, tujuan kamu balikan itu apa Mas?
    Pengen disakiti lagi? Atau punya hobby disakiti berkali-kali sih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bantu jawab. Emang teman saya ini tujuan hidupnya adalah disakiti berkali-kali oleh orang yang sama, Mas.

      Delete
    2. Firman tai burung. Hahaha.

      Gimana ya, Mas Rud, coba tanya sama diri saya pas remaja deh kenapa bisa setolol itu. Pas masih 17 tahun kan kejadiannya. Saya kira itu hal wajar.

      Biar bagaimanapun cinta katanya memang bisa bikin tolol, kan? Asumsi saya sih Yoga waktu itu cuma terlalu sayang sama si cewek atau takut buat mencari orang baru. Makanya kayak enggak ada pilihan lain.

      Toh sejak usia 20-an saya belum pernah balikan sama mantan.

      Delete
  12. Aaakh kereen ...akhirnya dirimu dapetin impianmu punya kakak betulan.
    Untungnya si Fasya karakternya beneran ngemong ya 🙂

    Lucu loh pose foto kalian bertiga .. , bikin aku terinspirasi berfoto gaya kayak gitu 😁

    ReplyDelete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.