—20 Februari 2001 



Pagi itu semestinya menjadi pagi yang normal di SDN Palmerah 03, tepatnya di ruangan kelas 2. Pada pukul delapan, sebagaimana biasanya, di kelas itu guru dan murid-murid sedang dalam proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar). Sayangnya, kali ini kondisinya menjadi sedikit berbeda karena ulah salah seorang murid bernama Rangga. Meskipun kejadiannya hanya sebentar, suasana kelas yang tadinya hening itu berubah menjadi agak ricuh lantaran perkara pensil.


Bu Isnaini, guru yang mengajar berbagai mata pelajaran (kecuali Agama Islam, Seni Budaya, dan Penjaskes) dan merangkap wali kelas 2 sedang menulis soal Matematika di papan tulis hitam menggunakan kapur. Murid-murid lantas disuruh menyalin soalnya ke buku tulis mereka masing-masing menggunakan pensil, kemudian mengerjakannya.

Ketika mayoritas murid perhatiannya terfokus pada buku tulis dan soal yang harus digarap, Rangga justru memperhatikan pensil yang dipegang oleh Rani, temannya yang duduk di seberang kanannya. Rangga melihat pensil di tangan kanan Rani yang sudah pendek sekali, bahkan ukurannya sama seperti kelingkingnya. Kala itulah Rangga melontarkan sebuah mitos kepada Rani: Barang siapa yang memakai pensil dengan ukuran yang sama atau lebih pendek dari kelingkingnya, nanti ibunya bakalan cepat meninggal.

Rani yang mendengar perkataan Rangga barusan cuma menoleh sekilas ke arahnya, lalu perhatiannya kembali tersedot ke buku tulisnya. Berbeda dengan Rani yang tampak rileks, Laras—teman sebangku Rani—langsung merasa ngeri akan mitos tersebut. 

“Dikasih tau kok malah enggak percaya,” kata Rangga. 

Kali ini Rani tidak bereaksi sedikit pun. 

Kesal karena kalimatnya tidak digubris, Rangga pun merampas pensil Rani begitu saja. Rani yang terkejut dengan tindakan Rangga itu spontan berdiri dan berteriak, “Ih, sini balikin pensil aku! Aku kan mau nulis.” 

Bu Isnaini yang mendengar keributan kecil itu tiba-tiba berdiri, menggebrak meja, dan mempertanyakan ada masalah apa kepada Rani.

“Itu, Bu. Pensil aku diambil sama Rangga.” 

Mendengar namanya disebut, Rangga segera menundukkan wajahnya. Dia tak berani menegakkan kepala. Rangga cuma bisa menatap lantai dan sepatu Kasogi hitam yang dipakainya.

Bu Isnaini memalingkan wajahnya ke arah Rangga dan memanggil namanya. Rangga mendengar suara lemah lembut yang memanggil namanya. Perlahan-lahan Rangga mulai melihat paras Bu Isnaini yang ternyata sedang tersenyum. Meskipun mendadak tampak ramah, suara halus dan senyuman Bu Isnaini itu terasa sangat ganjil baginya.

“Rangga,” ujar Bu Isnaini. “Kembalikan dong pensil temanmu.” 

Saat berkata demikian, Rangga—yang duduk di barisan tengah sebelah kiri—dapat melihat dengan jelas kalau terdapat api di sorot mata gurunya. Rangga pun jadi teringat tatapan ibunya. Sorot mata itu mirip seperti kemarahan yang lagi ditahan-tahan oleh ibunya sebelum beliau murka serta menghajar Rangga menggunakan sapu lidi ketika dirinya kelewat bandel, lebih-lebih tak mau mendengar perkataan orang tua. 

Rangga bergidik membayangkan hal itu. Dia pun segera mengembalikan pensil Rani dengan menaruhnya di meja seberang, lalu menunduk lagi. Bedanya, kali ini Rangga menunduk untuk memandangi soal-soal di buku tulisnya.

Bu Isnaini kembali duduk di kursinya dan fokus mengoreksi PR Bahasa Indonesia para muridnya. 

Sewaktu keadaan mulai normal, Laras memberanikan diri bertanya kepada Rani secara berbisik, “Kamu memangnya enggak punya pensil lagi, Ran?” 

“Punya sih, tapi aku lebih suka pakai pensil yang pendek. Kenapa, Ras?” 

“Kamu enggak percaya sama mitos tentang pensil sekelingking itu?” 

“Percaya, kok.” 

“Tapi kenapa kamu enggak terlihat takut?” 

“Takut buat apa? Lagian ibuku sudah meninggal sejak aku masih bayi.” 

Kelas itu pun kini kembali ribut karena suara tangisan Laras. 

Bu Isnaini cuma bisa geleng-geleng kepala saat mendengar bunyi cempreng itu sembari bertanya kepada Rani apa yang kali ini terjadi.

--

Gambar dicomot dari: https://pixabay.com/photos/pencil-sharpener-notebook-paper-918449/