Menu Puisi

13 comments
Pilihlah salah satu menu puisi berikut ini yang sesuai dengan seleramu. Jika tidak ada satu pun yang membuatmu suka, kamu bisa membuat menu sendiri di kotak yang tersedia.


Membuat Donat di Tubuhmu 



Pecahkan empat butir telur, buanglah tangisannya, dan masukkan mata cerahnya ke dalam hatimu. Ambil dua genggam pasir manis, lalu campurkan dengan segelas penuh penderitaan. Aduk searah jarum jam, kemudian minumlah.

Tuang seplastik terigu ke dalam baskom, juga bubuk ragi sebelum datangnya pagi. Muntahkan semua air yang tadi kauminum. Biarkan segalanya tercampur dan bawalah ke dapur. Diamkan selama lima menit. Jika sudah, balurkan di sekujur tubuhmu. Tidurlah, bermimpilah. Biarkan dirimu menjadi adonan. Jika sudah terbangun dari nyenyak, seraplah pengetahuan yang banyak. Dengan bekal itu, kau perlahan-lahan dapat menjalani kehidupan sembari belajar lebih luas lagi.

Kejamnya kenyataan dan takdir hidup akan membanting tubuhmu itu sampai teksturnya pas. Kedengarannya memang bengis, tapi kau mesti kuat dan tak perlu sering-sering menangis. Nanti dengan sendirinya karaktermu akan mengembang.

Seraya menunggu tubuhmu mekar, kau dapat memanaskan bakat dengan semangatmu itu. Gorenglah dengan sedikit amarahmu hingga kecokelatan dan matang. Tapi sebelum sampai ke titik itu, mungkin kau akan terjatuh dan gagal berkali-kali. Tak apa, begitulah proses bekerja. Jika sudah puas menikmatinya, angkat dirimu dari keterpurukan, lalu tiriskan segala kesedihan. Setelahnya kau bisa menambahkan butiran salju atau meses atau apa pun sesuai selera. Kini, tubuh donatmu pun sudah tampak istimewa.

/2017 


Wedang 



Ketika aku berkunjung ke rumahmu, 
kau menyuguhkanku secangkir wedang. 

Sebagai tanda terima kasih, 
aku pun membuatkanmu puisi 
sambil menunggu panasnya surut. 

Tapi saat wedang itu ingin kuminum, 
ada seekor lalat yang asyik berenang. 
Lantas, keluarlah bangsat dari dalam mulut. 

/2017


Tidak Enak 




Tidur adalah kepingan yang kutabung di dalam kaleng-kaleng biskuit. Ketika nanti kubuka, isinya tidak akan memberikan apa dan siapa yang kurapalkan dalam doa. Namun, garing dan pahitnya itu ternyata masih dapat kukunyah. Hingga tidak enak pun telah menjadi rasa mewah di lidah.

/2017


Masakan Ayah




Sejak kematian Ibu
Ayah memiliki peran yang banyak
Terutama dalam tugas memasak.

Ayah mulai belajar merebus sepiring cinta
Menggoreng sepotong gembira
Menumis seikat bahagia
Untuk dirinya, aku, dan adikku.

Tapi, Ayah selalu punya resep sendiri
Misalnya, sayur asem menjadi manis
Sayur gudeg menjadi asin
Ikan asin berubah pahit.

Suatu hari, tetanggaku pernah bertanya:
“Apakah ayahmu tidak mau kawin lagi
untuk mengisi hatinya yang kosong?”

Ah, tetanggaku sepertinya memang tidak tahu
Bahwa Ayah sudah sering berbulan madu
dengan masakan-masakan gosong
ketika dirinya sedang bengong.


/2017


Air Senyum



Jari-jari tanganku masih menempel aroma tubuhmu:
Bumbu khas nasi padang yang kubeli tadi siang.

Kuhirup dalam-dalam sebagaimana oksigen
Yang kupuja menjelang petang.

Bagaimana aku selalu mengingat
Sekumpulan udara yang telah tercampur
Dengan keringat para pekerja
Yang letih menangkap bintang.

Mereka ingin selalu bersinar
Tapi kilaunya justru meredup
pada malam hari.

Hanya tersisa puing-puing luka
Yang ia bawa pulang dengan tangan terbuka.

Niatnya untuk diberikan kepada anak dan istri
Tapi setiap hari di apartemen itu
Tak ada seorang pun yang menyambutnya.

Cuma ada cangkir bergambar muka
Yang berisi air senyum duka dan murka.

/2018

--

Sumber gambar:

https://pixabay.com/photos/donut-american-doughnuts-pastries-3448210/
https://pixabay.com/photos/ginger-ginger-tea-hot-drink-drink-3966502/
https://pixabay.com/photos/cookies-baked-goods-fresh-chocolate-1372607/
https://pixabay.com/photos/meat-wood-burned-spare-ribs-own-2231339/

https://www.tokopedia.com/gtainone/cangkir-ajaib-cangkir-suhu-2-warna-magic-mug-motif-senyum-y-03
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

13 comments

  1. Replies
    1. Disuruh pilih satu, terus ini malah pilih dua. Mantaplah~

      Delete
    2. Gue suka puisi yang berima dan pake kata-kata yang gak umum, soalnya kosakata gue kan kurang banget. Itu juga kenapa gue gak pernah bikin puisi. Hahahaha

      Delete
  2. Pilihanku : Donat dan Masakan Ayah.

    ReplyDelete
  3. ((menggoreng dengan amarah))

    *brb bikin marah ibu kos biar bisa gorang goreng.

    ReplyDelete
  4. Pilihanku: Tidak Enak dan Masakan Ayah

    Puisi Tidak Enak itu singkat, tapi ternyata menohok sekali. Untuk yang Masakan Ayah... malah jadi sedih bacanya :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebih baik singkat dan menancap di hati daripada kepanjangan. Hahaha.

      Delete
  5. Masakan Ayah bagus Yoggggs!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Teh Fasya! Dengan ini berarti poinnya menjadi empat.

      Delete
  6. Replies
    1. Berarti Masakan Ayah telah menjadi menu favorit sejauh ini.

      Delete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.