Mencari menu sarapan pada minggu pertama Lebaran sama susahnya seperti menggemukkan badan. Setidaknya, begitulah yang dirasakan oleh Yogi Pratama. Selama dua puluh lima tahun hidup di dunia, tak pernah sekali pun ia masuk ke dalam kategori tubuh ideal. Berat badannya belum pernah menyentuh angka 50 kg. Empat puluh delapan adalah hasil tertinggi yang pernah ia raih. Itu pun Yogi masih kurang 10 kg lagi untuk terlepas dari penilaian kurus—berdasarkan rumus menghitung berat badan ideal yang pernah ia baca di sebuah artikel. 

Membuka kisah dengan membahas berat badan mungkin membuat sebagian orang sensitif. Apalagi kalau bagian itu tidak ada hubungannya dengan alur cerita. Tapi, memang hanya hal itu yang selalu terlintas saat aku memikirkan makanan. Ketika paragraf ini kuketik, barulah aku menemukan perbandingan yang lebih cocok. Seharusnya aku tadi membandingkan kesulitannya itu dengan memilih kalimat pembuka. Pendapatku cukup benar, bukan? Seandainya menuliskan kalimat pembuka yang memikat itu mudah, aku pasti tak perlu bertele-tele begini. 

Untuk mempersingkat waktu, sebaiknya aku sudahi omong kosong barusan dan segera melanjutkan cerpen busuk ini. 



Pada hari ketiga setelah Lebaran, Yogi mulai bosan menyantap ketupat dan opor ayam, rendang, bakso, serta mi instan. Ia ingin menu lainnya. Sialnya, semua penjual makanan di dekat rumahnya masih pada mudik. Kini, ia jadi repot dan kebingungan harus mencari sarapan ke mana. 

Yogi sudah berjalan kaki lima belas menit dari rumahnya ke arah Pasar Palmerah, tapi belum juga menemukan seorang pedagang makanan yang menggugah selera. Ia sebetulnya tadi sempat berpapasan dengan tukang bubur ayam. Sayangnya, ia berpikiran itu makanan buat orang sakit. Lagi pula bubur juga tidak bikin kenyang, pikirnya, nanti dua jam kemudian bakal lapar lagi. Yogi melihat tukang kembang tahu dan soto mi di seberang jalan, tetapi ia tak menyukainya. Ia memang terlalu pemilih dalam urusan makanan. Sambil terus melangkahkan kaki, ia bertanya sekaligus mengeluh, kenapa tak ada satu pun penjual nasi uduk? 

Frustrasi karena belum juga mengisi perut, akhirnya Yogi melunak. Makan apa sajalah, yang penting kenyang. Anehnya, ia justru mendadak ragu kala melihat tukang mi ayam. Masa mi lagi, sih? Selain itu, ada delapan pembeli yang mengerubunginya. Yogi sedang malas mengantre. Ia pun mengabaikan penjual makanan yang jelas-jelas sudah di dekatnya. 

Begitu mendapati tukang mi ayam untuk kedua kalinya, mau tidak mau Yogi harus menyerah karena rasa laparnya sudah tak terbendung lagi. Ia langsung menghampirinya, memesan satu porsi, dan duduk di kursi panjang yang telah disediakan. Sesaat setelah abangnya mulai meracik, ia baru sadar bahwa pedagang makanan yang sepi pembeli biasanya rasanya tidak keruan. Meskipun demikian, ia tak mungkin membatalkan pesanan itu. 

Empat menit kemudian, mi ayam sudah tersaji di meja. Yogi mulai menyendok kuahnya dengan perasaan cemas. Kala air itu tertelan, rasanya aneh betul di lidah. Yogi menambahkan saus dan sambal secukupnya, lalu mengaduknya. Ia mencicipi lagi. Rasa ganjil itu tetap tidak berubah. Seumur-umur makan mi ayam, ini adalah rasa terburuk yang pernah ia santap. 

Yogi tiba-tiba terkenang ucapan salah seorang kawannya, “Walaupun rasanya enggak enak, kalau lapar mah bakalan habis juga.” Terus ia juga membayangkan, seandainya saat ini dirinya tengah berada di situasi antara hidup dan mati, sedangkan makanan yang tersedia untuk bertahan hidup cuma mi ayam laknat ini, ia tentu tidak punya pilihan lain selain menelannya. 

Seekor kucing belang tiga—berwarna putih, hitam, dan oranye—menghampirinya ketika mi ayam di mangkuk Yogi tersisa setengah. Kucing itu duduk di sampingnya dan mengeong. Yogi dengan seenaknya menafsirkan bahasa kucing itu, “Bagi dong.” Ia pun mengambil sepotong ayam semur dengan sumpit dan melemparkannya ke jalan sekitar situ. Kucing itu segera turun, berjalan ke arah potongan ayam semur, dan memakannya. 



Kucing itu kembali lagi. Terbesit sebuah ide di benak Yogi. Ia berusaha mengecoh rasa jahanam itu dengan mengobrol bersama makhluk imut di sebelahnya ini. Makan sembari berbincang-bincang itu kadang tidak terasa. Tahu-tahu makanan sudah tandas.

“Hei, Pus,” kata Yogi. “Apa kau pernah kesulitan mendapatkan makanan? Ketika lagi minta makanan begini, berapa banyak orang yang mengusirmu?” 

“Meong.” 

Yogi melemparkan ayam semur ke jalan. Kucing itu langsung melompat dan memburu santapan gratis tersebut. Tak lama, kucing itu kembali duduk di samping kanannya lagi. 

“Kau masih lapar?” 

Kucing itu memasang wajah yang lucu sekali. 

“Sejujurnya, aku tidak terlalu suka kucing, tapi tidak juga membencinya. Hidungku kadang cuma sensitif dengan bulu-bulumu, Pus. Kalau cuma didatangi kayak gini buat minta makanan mah aku tak pernah keberatan. Berhubung aku mengerti rasanya kelaparan karena pernah berada di fase ekonomi sulit, bisa berbagi hal kecil semacam ini justru terasa membahagiakan.” 

Yogi memberikan ayam semur kepada kucing itu lagi. Kali ini jarak lemparannya lebih dekat. Hanya sejengkal dari kaki kanannya. 

“Pus, terima kasih. Berkatmu penderitaanku mencari sarapan hari ini jadi tak ada apa-apanya dibandingkan kemarin. Apa kau mau mendengar ceritaku?” 

Kucing itu bergeming. Mungkin hewan berbulu ini tak mengerti, bahkan tak peduli, manusia di sebelahnya sedang berkata apa. Ia cuma ingin makan. Pikiran Yogi lantas terseret ke hari sebelumnya. 



Berbeda dengan hari ini, kemarin pedagang makanan jauh lebih sedikit, bahkan tak ada satu pun makanan pokok. Yogi hanya bisa menemukan kudapan di area pasar. Mulanya ia membeli satu loyang martabak cokelat kacang. Sadar kalau penganan itu tak cukup untuk mengenyangkan perutnya, ia membeli lagi tempe dan pisang goreng masing-masing seharga lima ribu. Di jalan pulang, ia berpapasan dengan tukang kue cubit. Berhubung Yogi sudah lama sekali tidak memakannya, terbit keinginan untuk membelinya. 



Sesampainya di rumah, ketika Yogi menawarkan jajanan itu ke keluarganya, ia baru ingat bahwa mereka semua sedang berpuasa Syawal. Ia sebenarnya tak yakin bisa menggasak semuanya. Tapi apa boleh buat, daripada makanan itu mubazir. Yogi pun segera melahapnya satu per satu. Pertama, kue cubit berhasil ia habiskan dalam sekejap. Lalu martabak yang dibelah menjadi lima bagian itu tersisa satu potong. Tempe goreng tinggal dua lagi, sedangkan pisang goreng benar-benar tidak termakan. 



Yogi memang tidak suka buah pisang, tapi jika sudah diolah menjadi bentuk lain seperti pisang goreng, piscok alias pisang cokelat, pisang molen, ia sanggup memakannya. Sialnya, perutnya sudah begah. Ia tak mau memaksakan diri sampai mual dan muntah. Ia tadi berniat membeli pisang itu untuk ibunya. Pisang adalah buah favorit ibunya. Namun, niat baik itu terhalang oleh puasa sunah. Apakah rasa pisangnya bakalan masih mantap kalau menunggu sampai Magrib? Waktu sepuluh jam jelas akan memengaruhi kenikmatan pisang goreng itu. Sisa makanan itu pun akhirnya terbuang. 

“Aku tak suka membuang-buang makanan, Pus. Kejadian kemarin sungguh bikin aku sedih.” 

Yogi berkata hal itu sambil membuang ayam semurnya. Tentu kali ini berbeda. Ia tidak benar-benar membuangnya, ia bermaksud memberikannya pada kucing itu sebagaimana beberapa menit sebelumnya. Momen mengasih makanan ini pun terus berulang hingga lima kali. 

Sebelum memberikan potongan ayam semur yang keenam, Yogi menambahkan satu cerita lagi. 


Sewaktu Yogi lagi mengantre beli martabak, ada seseorang yang menepuk bahu kanannya dan bilang, “Kamu Yogi kan, ya?” Yogi langsung menoleh. Ia mendapati perempuan berambut lurus sebahu dan berparas aduhai menaiki motor Scoopy bersama bocah cowok yang kira-kira berusia tiga tahun. 

“Betul,” kata Yogi seraya menggali ingatannya, siapakah cewek manis yang menyapanya ini? Jika diperhatikan lebih lama, wajahnya tampak tidak asing. Apakah ia teman sekolahnya dulu? SD? SMP? Atau SMA? Sayangnya, Yogi terlalu cepat menyerah. “Kamu siapa dah? Sori nih kalau aku lupa.” 

“Zulvia Nanda, temen SMP kamu. Kita pernah sekelas waktu kelas 7.” 

Zulvia Nanda? Apa ini Nanda yang pernah aku taksir dulu?

“Oh, Nanda. Iya-iya, aku inget sekarang. Kamu nomor absen terakhir sehabis aku.” 

Mereka berdua spontan tertawa bersamaan. Mereka pun bertukar kabar secara singkat. Yogi lalu bertanya, lagi ada perlu apa ke pasar ini. Nanda menjawab sedang mengantar ibunya belanja sayuran. 

“Aku enggak nyangka bisa ketemu lagi sama temen sekolah,” ujar Nanda. “Udah lama banget pada lost contact. Eh iya, save nomor aku dong, Yog.” 

Yogi langsung mengeluarkan ponsel dari kantong celana tanpa sedikit pun menaruh rasa curiga. Bagaimana mungkin ia berpikiran buruk akan cinta pertamanya ini? Entah pantas atau tidak disebut cinta pertama, sebab mereka tidak berpacaran. Yogi dulu cuma bisa memendam rasa terhadapnya. Yogi tidak tahu apakah Nanda juga mempunyai perasaan yang sama. Saat SMP Yogi ialah seorang pengecut. Ia juga gampang minder. Tapi, hari ini jelas sudah berbeda dengan belasan tahun silam. Rasa percaya diri Yogi telah berkembang pesat. Mungkinkah perkataan orang-orang kalau jodoh tak ke mana itu benar adanya? Mereka kini dipertemukan kembali kala keduanya sudah sama-sama siap? Yogi tersenyum membayangkan semua itu dan mengamininya dalam hati. 

Nanda menyebutkan nomor dan Yogi mencatatnya. Ketika mereka asyik mengobrol tentang kekonyolan masa sekolah, bocah yang duduk di belakang Nanda tiba-tiba merengek minta pulang. 

“Adikmu lucu banget, Nan. Siapa namanya?” 

“Gilang Ramadan,” kata Nanda. “Um, ini bukan adik, tapi anak aku, Yog.” 

Seandainya ini adalah film animasi, pasti akan muncul petir di atas kepala Yogi. Kemudian tubuhnya berubah tembus pandang, terlihat hati yang pecah berkeping-keping, dan yang tidak kalah penting, terdengar musik latar memilukan. 

Karena peristiwa ini adalah kenyataan, yang terjadi pada Yogi ialah pembawaan santai untuk merespons kalimat Nanda, “Ohahaha. Udah nikah, toh. Habis enggak kentara bedanya sih, Nan. Kamu malah masih cocok jadi anak kuliahan.”

Nanda tersenyum tipis. Yogi membalas senyuman itu. Ia tak mau terlihat lemah. Ia mencoba menampilkan diri sebaik-baiknya dan bersikap biasa saja seakan-akan tidak ada masalah mengenai fakta keparat barusan. 

Keheningan menyelimuti keduanya selama belasan detik. 

“Eh, ibu aku udah beres belanja tuh,” kata Nanda sambil memutar balik laju motornya. “Aku duluan ya, Yog. Nanti berkabar-kabar lagi.” 

Selama di perjalanan pulang, Yogi berpikir keras: Kalau Nanda sudah memiliki anak dan menjadi istri orang, lantas buat apa ia menyuruhku menyimpan nomornya? Apakah ia ingin menawarkanku asuransi? Mengajakku bergabung anggota MLM? Atau ia sudah janda dan bermaksud menggodaku supaya menjadi suami barunya? Atau itu anaknya yang hamil di luar nikah, sebab laki-laki berengsek yang menanam benih itu melarikan diri dan tak mau bertanggung jawab? 

Biarpun dua kalimat terakhir itu berbentuk harapan baginya, Yogi tetap ingin membuang semua ingatan yang terjadi sepanjang pagi ini. Langkah awal yang dapat ia lakukan: menghapus nomor Zulvia Nanda dari daftar kontaknya. 


“Pus, aku ini ternyata manusia tolol yang menyedihkan, ya? Bisa-bisanya berharap banyak pada reuni tak sengaja itu.”

Potongan ayam semur yang Yogi ambil menggunakan sumpit terjatuh di antara kedua kakinya. Kucing itu segera melompat ke tempat tersebut. Setelah memakannya, kali ini kucing itu tak kembali duduk di sebelah Yogi. Kucing itu berjalan menjauhi Yogi, tanpa sekali pun menoleh ke arahnya. 

Yogi menelan kunyahan terakhir, lalu berkata, “Kau pergi karena tak kuat mendengar kisahku atau karena sudah kenyang, Pus?”