“Masalah lu kok percintaan mulu, ya? Yah elah, kayak enggak ada yang lebih penting gitu?” ujar seorang teman sekitar 5-6 tahun lalu ketika saya selesai curhat.

Saya enggak tahu kenapa tiba-tiba bisa mengingat hal itu. Namun, menarik juga rasanya kalau saya bisa menjawab pertanyaan itu sekarang. Dulu, mungkin saya sangat sedih ketika sudah memilih teman curhat dan memercayakan dirinya bisa menjadi pendengar yang baik, tapi dia malah berkata seperti itu. Kalau diingat-ingat lagi, mungkin saya juga malu dan kecewa sekali kepadanya. Saya kan cuma pengin cerita dan didengarkan olehnya, bukan diremehkan permasalahannya. Terlepas dari kisah apa yang saya bagikan saat itu. 



Masalahnya, pada waktu itu percintaan memang menjadi persoalan utama saya. Saya mungkin tidak mempunyai keresahan pada lain hal. Kala itu kondisi keuangan saya termasuk cukup baik karena memiliki pekerjaan (meski statusnya masih pegawai kontrak, tapi pemasukan setiap bulan sungguh menyelamatkan dan membuat finansial aman. Tidak seperti saat ini). Keadaan keluarga juga belum kacau.

Waktu itu, saya belum memusingkan persoalan karier. Bagi saya, mempunyai pekerjaan dan penghasilan setiap bulannya itu sudah lebih dari cukup. Saya belum mengerti diri saya ini ingin menjadi apa. Saya belum memiliki cita-cita yang jelas, selain punya rekening sejumlah 10 digit atau lebih dari itu. Padahal, sampai sekarang pun saya enggak tahu harus mendapatkan uang sebanyak itu dari mana selain ikut pesugihan. Mulanya, tentu saya sempat berpikir tolol: asalkan bisa terus bekerja dan menabung, pasti keinginan jadi tajir itu dapat terwujud. 

Tiga tahun belakangan ini, setelah menjalani kehidupan yang naik-turun, saya pun tertawa kencang setiap kali mengingat pemikiran bodoh tersebut. Ternyata enggak semudah itu bekerja, mendapatkan gaji, lalu menabung, dan menjadi kaya raya. 

Kemudian, dulu saya juga belum menekuni dunia tulis-menulis. Saya baru mulai seriusnya pada tahun 2015 ke atas. Makanya, ketika itu saya sampai berani keluar dari tempat saya bekerja. Barangkali saya terlalu kemakan omongan follow your passion tanpa memikirkan hidup realistis. Saking mendedikasikan diri untuk sesuatu hal, saya malah melupakan faktor lainnya. 

Mungkin kita memang sering mengorbakan suatu hal untuk hal lainnya. Mengorbankan waktu dan uang demi seseorang yang kamu sayang atau cinta atau puja atau apalah itu, misalnya. Tololnya, entah mengapa saya bisa sampai lupa kalau hidup ini jelas-jelas membutuhkan uang untuk mempermudah segala urusan. 

Dalam kasus saya sekarang, untuk menulis dengan baik saya butuh membaca buku-buku bagus. Sebenarnya, saya tidak melulu harus membelinya. Saya masih bisa meminjam ke perpustakaan atau kepada teman atau unduh e-book ilegal. Sayangnya, buat saya itu merepotkan. Baik merepotkan diri sendiri maupun orang lain. Lagi pula, apakah perpustakaan di setiap wilayah itu telah tersedia? Jika sudah, apakah koleksi bukunya komplit? Lalu, apakah banyak teman yang mau meminjamkan buku-bukunya kepada saya? Apa buku yang mau saya baca itu mereka miliki? Dan seterusnya, dan sebagainya. Jadi, adakah cara terbaik selain saya harus punya banyak uang agar dapat membeli buku-buku yang saya inginkan itu? 

Perlahan-lahan, saya pun mengerti bahwa mengejar renjana itu berat untuk warga miskin (jika kata miskin terlalu kasar, kamu boleh menggantinya menjadi masyarakat ekonomi kelas menengah ke bawah atau kata lainnya) seperti saya. Jangan sembarangan melangkah kalau pengin mengikuti jejak Raditya Dika menjadi penulis sukses. Ya, dia mah emang dari awal udah anak orang kaya. Kalau saya perhatikan latar belakang para seniman, kebanyakan dari mereka, lebih-lebih yang idealis itu orang mampu. Saya sangat telat menyadari hal itu. Biasalah, gejolak darah muda yang terlalu menggebu-gebu.

Sebentar deh, tadi awalnya saya lagi bahas apa, sih? Cinta-cintaan mestinya, kan? Kenapa melantur begini? Ah, alam bawah sadar saya seakan-akan bekerja untuk menghindari menuliskan romansa-romansa tahi kotok semacam itu di blog ini. Baiklah, maafkan saya wahai, Saudara-Saudara. Sesaat lagi tur ini akan kembali ke jalan yang benar.

Karena kamu tadi sudah mengetahui permasalahan saya sekarang ini yang setiap harinya semakin bertambah rumit, lebih baik saya balik saja ke masa lalu—yang saya singgung pada paragraf pembuka. Sungguh itu masa-masa yang indah, di mana saya merasakan pahitnya hidup baru sebatas putus cinta, tapi entah kenapa justru sudah menjadi hal yang gawat. 

Perjalanan melintasi zaman butuh daya tahan tubuh dan pikiran yang kuat. Oleh sebab itu, saya menyarankan kepadamu untuk menyiapkan segelas air putih. Itu cara termurah dan termudah agar kamu bisa tetap fokus dan tidak terhanyut akan kenangan. 


Jadi, pada masa itu, saya mungkin termasuk orang yang butuh pasangan untuk menyemangati dan menjadi motivasi tersendiri dalam menjalani hari. Yang saya tahu dan ingat waktu itu, kalau kita tidak punya pacar itu rasanya hina di mata kebanyakan orang. Konyolnya, kebanyakan orang itu—terutama teman-teman saya—statusnya juga masih lajang. Mungkin menghina sesama jomlo bisa jadi kegiatan yang sangat mengasyikkan. Apalagi kalau temanmu lebih tampan atau cantik, tapi belum laku-laku. Cakep-cakep mubazir, kata seseorang. Mungkin karena itulah lelucon jomlo sangat laris. Kini, beberapa orang malahan belum beranjak dari komedi murahan itu.

Namun, kala memiliki kekasih memang rasanya berbeda daripada sendirian. Setidaknya, waktu itu saya jadi punya tujuan dan hidup bisa lebih terarah. Saya harus lebih giat mencari uang dan menabung untuk masa depan bersamanya. Beberapa orang mengatakan kalau jatuh cinta itu bikin dunia terasa milik berdua. Cinta pun bisa mengubah tahi kucing menjadi rasa cokelat. 

Sayangnya, di balik segala keindahan tentang cinta yang penuh bunga dan baunya harum itu, tentu ada risikonya. Sebagaimana analogi Dilema Landak yang pernah dijelaskan Arthur Schopenhauer. Saya dan si pacar bagaikan sepasang landak di musim dingin. Kami pun harus merapatkan tubuh agar tidak kedinginan. Tapi karena landak memiliki banyak duri yang tajam, tentu saja saya tidak bisa terlalu dekat dengannya. Saya tak ingin terluka maupun melukainya. Seandainya kami memaksakan untuk berpelukan, alih-alih merasa hangat, kami malah saling menyakiti. 

Namun, begitulah yang terjadi pada masa lalu. Kami terlalu kerap berkomunikasi dan bertemu, sehingga memicu terjadinya salah paham dan pertengkaran. Setelah menyadari hal itu, saya pun segera menjaga jarak. Sialnya, ketika saya lama tidak membalas pesannya, dia langsung menuduh-nuduh saya kencan sama perempuan lain. Padahal, seringnya saya cuma ketiduran karena kerjaan di kantor lagi gila-gilanya. Tubuh saya terlalu letih sampai-sampai lupa memberi kabar. Ujung-ujungnya, saya kudu meminta maaf atas sesuatu hal yang sepele itu. Bukannya memaklumi, dia malah membesar-besarkannya dan ngambek. Setelah dia posesif, curiga, dan cemburu buta kepada saya atas nama takut kehilangan, eh justru kekasih saya itu yang (ehem) selingkuh. Kan berengsek!

Saking kecewanya saya kepada perbuatan dia itu, saya pun marah-marah di media sosial. Terus, saya bisa-bisanya mengumbar aib sendiri—yang tentu saja menjadi tertawaan teman-teman di sekitar. Setiap menjelang tidur, saya selalu bertanya kepada diri sendiri: “Apa yang salah sama diri gue, sih, sampai dia setega itu?” Saya pun merasa apa yang telah saya bangun itu semuanya roboh. Lantas, saya jadi begitu goblok sehabis tragedi jahanam itu. Tabungan yang telah terkumpul itu bahkan saya hambur-hamburkan begitu saja. Saya akhirnya mabuk-mabukan, berjudi, dan menyewa jablay

Enggak-enggak, yang barusan itu bohong. Tapi kalau kamu mau percaya, bebas saja. Menghambur-hamburkan uang itu sebenarnya saya cuma membeli banyak pakaian dan mentraktir teman-teman setiap kali saya pengin curhat sama mereka. Saya tidak peduli lagi soal uang saya jadi cepat ludes atau boros. Bagi saya, yang terpenting bisa merasa lega sesudahnya. Nah, salah satu dari mereka itulah yang akhirnya merespons cerita saya dengan kalimat pembuka tulisan ini. Mungkin dia bosan mendengar kisah-kisah putus cinta semacam itu. Atau saya yang salah memilih teman curhat. Entahlah.

Sehabis dikecewakan oleh kekasih dan seorang teman bedebah, hidup saya pun mendadak tidak keruan. Saya mudah berputus asa. Bekerja buat apa lagi? Punya uang juga sudah tidak ada artinya. Saya tidak peduli lagi akan cita-cita untuk punya simpanan yang nominalnya sepuluh digit atau lebih. Enggak ada semangat sedikit pun di dalam diri saya. Saya bahkan malas menyambut ajakan-ajakan main para teman. Saya lebih senang mengurung diri di rumah. 

Baguslah sewaktu sendirian di kamar itu saya sempat-sempatnya merenungi permasalahan tersebut. Saya kan masih muda dan baru belasan tahun, tapi kok payah banget menjalani hidup. Baru begitu aja udah merasa seakan-akan dunia berakhir. Saya kan masih punya keluarga. Temen juga bukan dia doang, masih ada teman-teman yang lain. Saya pun pasti akan patah hati lagi sebelum nanti dapat menemukan jodoh yang sesungguhnya. 

“Jalanmu masih panjang.” 

Saya tidak ingat siapa yang melontarkan kalimat itu kepada saya. Entah itu nasihat dari orang tua, teman saya, atau orang asing yang saya kenal secara maya dan tidak tahu wujudnya (ya, dulu saya pernah beberapa kali kontakan sama orang asing untuk cerita tanpa menunjukkan identitas diri). 

Walaupun saat itu saya tahu bahwa kematian itu tidak mengenal tua maupun muda, tapi perkataan jalanmu masih panjang ada benarnya juga ketika pemikiran saya lagi pendek-pendeknya. Syukurlah, sebagian tabungan saya akhirnya ada yang berguna untuk merenovasi rumah. Meskipun boros, ternyata saya masih ada kontribusinya terhadap keluarga. Kemudian, saya juga sempat membeli buku-buku. Di antara banyaknya novel dan kumpulan cerita yang saya beli, rupanya terselip buku panduan menulis, Creative Writing (A.S. Laksana). Buku itu secara enggak langsung telah menuntun saya sampai menjadi sosok yang sekarang ini. 

Segala kesedihan yang saya rasakan kala itu, akhirnya bisa tertuangkan lewat tulisan-tulisan di blog ini. Meskipun kebanyakan tulisan itu telah saya hapus, tapi di kemudian hari saya dapat ilham untuk menjadikan blog ini sebagai jurnal. Saya lalu mencatat apa pun yang meresahkan hati dan pikiran saya. Kini, saya juga bisa mengubah beberapa pengalaman pribadi, curahan hati para teman, kejadian di sekitar, dan sebagainya menjadi kisah fiksi. Terus yang tepenting, saya enggak perlu repot-repot cerita kepada teman yang belum tentu peduli. Lebih-lebih harus mentraktir mereka. Saya hanya butuh laptop dan membuka perangkat lunak pengolah kata. Lebih gampangnya lagi, saya cuma butuh kertas dan pulpen. Sesudah itu, saya tinggal bercerita melalui teks sampai saya puas. Hingga saya lupa kalau saya sedang kesepian, sedih, punya masalah, dan lain-lain. 


Aduh, lagi-lagi saya meracau kepanjangan. Seharusnya saya sudah menjawab dari tadi pertanyaan pada kalimat pembuka itu. Tapi, masa bodohlah. Tulisan ini bisa kamu nikmati gratis-tis-tis, tanpa membayar sepeser pun kepada saya. Biaya yang kamu keluarkan toh hanya sedikit. Berapa, sih, kuota yang terbuang? Paling-paling waktu berhargamu itu yang tersita. Namun, kamu juga bisa menutup tulisan ini seandainya tidak suka sejak tadi. Saya tidak memaksa siapa pun mengikuti cerita ini. 

Daripada saya membuang waktumu lebih lama lagi, saya akan mengulangi kalimat yang saya tulis itu: menarik juga rasanya kalau saya bisa menjawab hal itu lagi sekarang. Mungkin secara tidak langsung saya sudah menjawab pertanyaan teman saya, “Masalah lu kok percintaan mulu, ya? Yah elah, kayak enggak ada yang lebih penting gitu?” Tapi, saya akan tetap menanggapinya lagi pada paragraf berikutnya.

Tenang saja, sekarang percintaan enggak melulu jadi masalah saya, kok. Persoalan saya saat ini mulai beragam. Ternyata hal-hal lain yang terjadi setiap hari juga bisa bikin diri saya bertambah gamang. Saya sudah lama sadar dan paham soal cinta-cintaan itu. Mencintai diri sendiri itu penting sekali sebelum mencintai orang lain. Pemikiran saya pun tentu telah bergeser karena tempaan hidup. Saya juga sudah punya banyak alasan untuk apa saya cari uang selain masa depan bersama kekasih; memperbaiki taraf hidup keluarga, jaminan hari tua saya, beli buku-buku bagus dan membangun perpustakaan pribadi—syukur-syukur bisa juga jadi taman baca, dan sebagainya. 

Dulu saya sudah keseringan membahas seputar cinta, sehingga saya sudah malas membicarakan dan mempermasalahkannya akhir-akhir ini. Seandainya saya sempat menuliskannya lagi, mungkin saya sedang meresahkan hal itu. Ya, sesekali apa salahnya? Lagian, mau seidealis apa pun seorang penulis, omong kosong kalau dia tidak menuliskan topik cinta-cintaan lagi. Apa kamu merasa malu untuk mengakuinya? Coba tengok catatan-catatan di ponsel dan dokumen-dokumen di laptop. Lihat blog-blog kamu yang namanya dibuat anonim atau diproteksi. Masih belum mau jujur? Perlu saya bobolkah gadgetmu? Oh, maaf, itu mah di luar kemampuan saya.

Namun, terlepas dari semua yang saya kisahkan di tulisan ini, intinya saya tidak ingin seperti teman saya ketika itu. Kalau ada teman yang curhat soal cinta, ya saya berusaha untuk mendengarkan sebaik-baiknya. Selama saya sedang luang, saya akan dengan senang hati meminjamkan telinga saya. Kalau dia minta solusi, ya saya coba berikan berdasarkan pengalaman atau yang saya ketahui. Walaupun saya sadar, orang yang jatuh cinta atau patah hati itu biasanya tidak benar-benar butuh nasihat. Dia sendiri yang paling mengerti tentang perasaannya.

Lalu, kalau ada orang yang kelihatan galau atau menuliskan cinta-cintaan mulu di media sosial dan blog, ya saya bisa memaklumi atau menghargainya. Menertawakannya sesekali bolehlah. Saya tertawa juga enggak sepenuhnya meledek. Tapi saya ingat kepada diri saya sendiri. Mungkin dia sedang merasakan hal yang sama, atau bisa saja lebih berat seperti yang pernah terjadi pada saya sekitar 5-6 tahun lalu. Barangkali masalah percintaan dapat menjadi sangat krusial bagi sebagian orang. Kita tidak pernah tahu kemampuan orang lain dalam menghadapi persoalan kehidupan, kan?

Lagi pula, seklise apa pun cinta, akan tetap ada orang yang ingin membaca atau mendengarkan atau menonton kisah itu. Toh, buktinya beberapa buku, lagu, dan film yang membahas cinta masih terus-menerus laku di pasaran. Saya juga percaya akan selalu ada orang-orang yang membuat dan menikmatinya. Tanpa perlu mengambil contoh yang jauh-jauh, tulisan saya yang menyerempet cinta ini juga kamu baca, kan? Tapi di balik cerita dan persoalan cinta yang saya singgung itu, semoga kisah ini juga bisa menjawab mengapa saya mencintai dunia tulis-menulis. Sampai-sampai saya selalu gagal memilih vakum, apalagi berhenti.

Salam,

Narator kesayanganmu,

ASY alias Agus Suhana Yongkuharu

--

Kamu bisa membaca tulisan ini sambil mendengarkan lagu Efek Rumah Kaca - Cinta Melulu.

Tadinya ini tulisan tahun 2017 di blog satunya, lalu saya tulis ulang dan kembangkan.