Do you want to sleep with other men?”

What?” 

Do you want to sleep with other men?” 

That’s a strange question.” 

Because ... if you did ... it’d be okay. I’d be okay.” 

Are you being serious? When you say a thing like that, it makes me think you don’t love me anymore.” 

I don’t think I do.”


Dialog barusan saya nukil dari sebuah adegan di film Control (2007). Film biografinya Ian Curtis, vokalis grup musik Joy Division. Percakapan itu juga dimasukkan ke dalam lagu Hypomanie - Lullabye for Ian.

sumber: https://pixabay.com/id/headphone-headset-audio-teknologi-690685/

Harus saya akui, saya belum menonton filmnya. Saya baru mengintip cuplikan-cuplikan cerita yang ada di Youtube. Padahal saya sudah mengubek-ubek internet, tapi tetap saja tidak kunjung ketemu. Sekalinya saya menemukan film itu di salah satu situs streaming, saya pun buru-buru mengunduh filmnya.

Begitu unduhan kelar, saya langsung memutar filmnya. Namun, film yang terputar itu justru film lain entah apa. Kampret, saya tertipu. Mana ukuran filenya 1 GB lebih pula. Balikin kuota aing! Bodohnya, kenapa dari awal enggak saya cek dulu, sih? Saya terlalu nafsu kayaknya. Ah, kunyuk!





Terlepas dari hal itu, saya pertama tahu filmnya memang dari lagu Lullabye for Ian ketika saya lagi mencari-cari referensi buat cerpen Surat Bunuh Diri Nolan. Saat itu, saya sedang membutuhkan data: siapa saja vokalis band yang memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Nah, Ian Curtis ini adalah salah satunya. Kemudian, saya membaca artikel yang merujuk ke sebuah lagu dari band Hypomanie ini. Berhubung filmnya belum bisa saya tonton dan berujung salah unduh, maka saya jadikan saja lagu ini untuk menemani proses menulis. Siapa tahu bisa menguatkan perasaan sedihnya.


Ketika sedang mendengarkan sebuah lagu, saya kerap berpikir dan mengingat-ingat dari mana mulanya saya mengetahui lagu itu, lalu menyukainya, dan bahkan sampai memfavoritkannya. Mulai dari yang klise karena direkomendasikan seorang teman atau pacar, yang saya temukan sendiri saat berselancar di internet, menonton film, hingga yang memiliki sebuah cerita.

Untuk hal yang terakhir itu, misalnya, saya pernah tidak sengaja mendengarkan sebuah lagu di suatu kafe. Terus karena merasa lagunya enak, saya jadi membuka Google, lalu mengetik potongan liriknya yang berhasil saya ingat itu. Sialnya, lagu itu enggak ketemu-ketemu di pencarian. Mungkin pendengaran saya kurang baik atau apa yang saya tuliskan itu salah.

Akhirnya, selagi membayar  menu yang saya pesan, saya coba sekalian bertanya kepada kasirnya. Sayangnya, kasir itu berkata tidak tahu dan menyuruh saya untuk menyanyikannya saja. Karena saya malu sebab suara ini sumbang, jadilah saya nekat meminta daftar lagu yang diputar di kafe itu saking penasarannya. Tentu saja ada puluhan lagu dalam daftar tersebut. Syukurnya, kasirnya bilang kalau daftar putar itu dimainkan secara berurutan. Lalu saya mulai mengingat-ingat, lagu yang saya cari itu diputarnya tidak jauh dari salah satu lagu yang saya kenal. Saya pun mencatat lima atau enam lagu. Begitu sampai di rumah, barulah saya coba cari di Youtube dan dengarkan satu per satu. Alhamdulillah ada lagu yang saya maksud dalam daftar itu.

Gara-gara itu, suatu hari saya jadi iseng mengumpulkan lagu-lagu yang saya temukan dan bisa dituliskan menjadi sebuah cerita. Termasuk kisah tentang lagu di pembukaan tulisan ini. Lalu, inilah daftar lagu selanjutnya yang berhasil saya tuliskan ceritanya. 


Linkin Park - Numb 



Saya masih ingat dengan jelas waktu pertama kali menyukai lagu ini. Pada tahun 2007, di sebuah rental PS (PlayStation) 1 dekat rumah, saat sedang bermain games Winning Eleven alias sepak bola. Ketika itu saya main bersama Wisnu—seorang kawan SD. Saya kemudian bertanya apa nama band dan judul lagunya kepada Wisnu. Lalu dia menjawab, Linkin Park – Enam.

Keesokan harinya saya berniat pergi ke warnet (warung internet, yang entah kenapa saat itu sering dipelesetkan oleh teman-teman saya menjadi warung netek). Saya bermaksud ingin mendengarkan lagu itu lagi tanpa harus bermain PS. Kala itu saya belum memiliki MP3 Player, iPod, ponsel, ataupun komputer. Jadi, satu-satunya cara adalah mendengarkan musik di warnet. 

Setelah membayar Rp3.000 untuk uang sewa selama satu jam kepada operator, saya langsung duduk di salah satu meja yang kosong. Sesudahnya, saya segera membuka Mozila, mengunjungi situs fupei.com, lalu mengetikkan “Linkin Park 6”. 

Mungkin Fupei kurang terkenal dan jarang yang tahu. Jadi bagi yang belum tahu, Fupei itu merupakan jejaring sosial semacam Friendster, tapi (kalau tidak salah) Fupei ini khusus buat orang-orang Indonesia. Lalu seingat saya, saya enggak memiliki akunnya dan membuka situs itu hanya untuk menggunakan fitur pemutar musiknya. Dulu saya belum mengenal Youtube—atau justru belum ada?

Namun, apa yang saya ketik itu tidak menampilkan satu pun hasil. Saya bingung, kenapa tidak keluar di pencarian? Apakah judulnya salah? Saya lalu mengetik ulang dengan bahasa Indonesia, Linkin Park – Enam. Hasilnya sama saja. Apa yang saya cari tidak muncul. Saya akhirnya sadar, band ini berasal dari luar negeri, mana mungkin menggunakan bahasa Indonesia. Ya, mungkin dulu saya setolol itu. Kemudian, saya mengubah angka “6” menjadi “Six”. Sialnya, apa yang saya ketik itu masih keliru. Saya pun kesal dan memilih mendengarkan lagu-lagu lainnya saja sambil bermain mini games. 

Waktu sewa sudah berjalan sekitar 40 menitan, berarti tersisa belasan menit lagi. Saya sudah bayar tiga ribu, masa saya enggak bisa memperoleh hasil dari tujuan utama datang ke warnet ini, sih? Tidak ingin pulang dengan sia-sia, lalu saya pun bertanya ke mas-mas di meja sebelah kanan yang sedang bermain GunBound, “Mas, ini gue cari lagu Linkin Park yang judulnya ‘Enam’ kok enggak muncul-muncul, ya?”

Mas-mas itu menoleh kiri, melepas headphone, lalu bertanya tadi saya ngomong apa sebab dia tidak menangkap suara saya. Saya mengulang pertanyaannya. Mas itu kemudian memperhatikan layar komputer saya. Entah kenapa Mas itu pun langsung tertawa. Kayaknya dia begitu karena melihat apa yang saya ketik. Akhirnya, dia mengoreksi, “Judulnya itu Numb. En-u-em-be.” 

Ya, Allah. Pantas saja. Lalu, saya cepat-cepat mengganti “Six” menjadi “Numb”. Sesudah itu, lagunya muncul di hasil pencarian. Saya pun berterima kasih kepada Mas itu. Dia kemudian menoleh dan tertawa lagi. Saya begitu malu dan rasanya ingin buru-buru pergi dari warnet. Tapi yang masih bikin saya heran sampai sekarang, bagaimana bisa saya dulu kepikiran judulnya itu “enam”? 

Bangsat, ini pasti gara-gara Wisnu yang enggak menjelaskan lebih lanjut tentang penulisannya! Omong-omong, menyalahkan orang lain emang lebih enak, ya? 


Metric - Black Sheep 



Pada pertengahan tahun 2013, saya main ke indekos salah seorang teman kantor untuk bermain PES (Pro Evolution Soccer), menggunakan laptop saya. Kami main dari sehabis magrib hingga pukul 22.00. Sesampainya di rumah, saya segera membuka laptop itu lagi, sebab tadi sebelum pulang teman saya itu sempat menyalin tiga buah film dari flashdisk-nya ke laptop saya. Pertama, Scott Pilgrim vs. the World (2010); kedua, Insidious (2010) dan; ketiga, Pee Mak (2013). 

Sejujurnya, saya kurang suka film horor. Apalagi saya paling malas kalau jadi susah tidur dan sampai terbawa mimpi. Meskipun belakangan diketahui Pee Mak itu film horor yang lucu, tapi pilihan saya ketika itu cuma Scott Pilgrim vs. the World. Saya pun memutuskan menonton film itu sebelum menutup hari. Lalu dari semua adegan yang ada, saya paling ingat sama bagian-bagian konser musiknya, sebab ada sebuah lagu yang menempel di kepala saya sampai sekarang.

Beberapa bulan silam, saya entah mengapa ingin menonton ulang film Scott Pilgrim vs. the World hanya buat melihat salah satu bagian konsernya. Kala itu kebetulan saya sedang tidak di rumah dan lupa membawa laptop. Jadilah saya membuka Youtube dari ponsel. Rupanya, di Youtube ada lagu versi lengkapnya. Setelah hasrat bernostalgia terpuaskan, saya kemudian iseng membaca komentar-komentarnya.

I wish this was a real band.” 

Ketika saya melihat balasan dari komentar itu, saya pun baru tahu ternyata ada band aslinya. Namun, saya tetap lebih sreg mendengarkan versi vokalnya Brie Larson yang ada di film.


Straightout - Elegy



Zaman SMP-SMK saya sering diracuni musik-musik screamo, hardcore, metal, grindcore, dsb. oleh teman sekelas. Band-band yang saya dengarkan lagunya itu biasanya berasal dari luar negeri. Hingga saat kelas dua SMK, ada seorang teman yang bertanya kepada saya, “Lu tau band Straightout?” 

Saya menggeleng, lalu gantian bertanya apakah lagu-lagunya bagus. Dia pun mengatakan saya payah karena tidak tahu. Setelah itu, dia mengirimkan lima lagu yang ada di ponselnya ke ponsel saya via bluetooth. Begitu selesai mendengarkan dua lagu yang menurut saya asyik, saya bertanya kepadanya, “Ini band luar asal mana?”

“Dari Indonesia, tolol!” 

“Yang bener?” 

Dia pun tersenyum mengejek dan bilang, “Jangan sok metal makanya!” 


Awal tahun 2018, saya sedang mencari lagu-lagu yang bertemakan penderitaan, kemudian saya langsung teringat dengan band Straightout itu. Beberapa liriknya yang dulu pernah saya coba terjemahkan; kalau tidak salah memang menceritakan tentang rasa terabaikan, keputusasaan, dan berakhir bunuh diri. Saya akhirnya bernostalgia dengan lagu-lagu sedih itu. 

Pada bulan Juli, saya kembali memutar lagu-lagunya untuk memberikan efek sedih di tulisan saya. Tapi kali itu, saya coba mendengarkan keseluruhan lagunya dalam album Forsaken Upon Nemesis. Saya baru tahu kalau band ini punya lagu instrumental. Dulu-dulu saya ke mana aja? Akhirnya saya jadi kecanduan dengan lagu instrumentalnya yang berjudul Elegy (Forbidden Unearth). Bagi saya, lagunya cocok sekali buat menjadi pengiring ketika menuliskan bagian-bagian yang sedih dan pedih. 

Jadi kalau ada yang penasaran kenapa tulisan saya belakangan ini sering cenderung gelap dan dalam, selain karena faktor bacaan, mungkin juga terpengaruh oleh lagu-lagu yang saya dengarkan. 


The Radio Dept. – I Don’t Like It Like This 



Apa kamu pernah menemukan cuitan bagus dari seseorang yang enggak kamu ikuti di Twitter ketika muncul di beranda, lalu iseng mengunjungi profilnya? Nah, apa kira-kira yang pertama kali kamu fokuskan saat melihat profil akun Twitter orang itu? Nama penggunanya, fotonya, bionya, twit-twitnya (pemikirannya), atau tombol ikuti?

Saya termasuk orang yang jarang mengikuti sebuah akun cuma dari satu cuitannya yang menarik. Pasti saya lihat lagi twit-twit lainnya. Nah, biasanya yang pertama saya lakukan ialah langsung mencari tahu apakah di profilnya tercantum alamat blognya atau tidak. Saya gemar membaca tulisan yang lebih panjang daripada twit—yang memang pendek-pendek itu.

Ya, walaupun saya juga tidak munafik kalau seandainya orang itu perempuan, pasti saya akan mengeklik fotonya juga supaya bisa terlihat lebih jelas. Meskipun pada akhirnya saya juga sering tertipu, sih. Saat terlihat dari foto yang kecil itu dia kelihatannya cantik sekali, tapi begitu diperbesar saya malah istigfar.

Namun, suatu hari saya pernah menemukan twit menarik dari salah seorang perempuan di beranda yang jumlah retweet-nya masih bisa dihitung jari. Dugaan saya, dia pasti bukan selebtwit. Saya pun membuka profilnya dan terdapat alamat blognya. Begitu fotonya saya coba klik, saya tidak merasa dibohongi seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya. Dia tampak lucu dan manis. Tanpa berpikir dua kali, saya langsung mengunjungi blog itu dan membaca tulisannya terbarunya. Tulisannya rapi dan enak dibaca. Saya gembira sekali seolah-olah menemukan harta karun.

Kala selesai membaca tulisan ketiga di blognya, kesenangan itu berubah menjadi rasa sesak. Tulisan dia padahal pendek. Hanya menceritakan tentang mencintai itu terkadang menyakitkan. Lalu dia memiliki sebuah mantra yang bisa membuat keadaannya terasa lebih baik. Mantra itu semacam kalimat pendek dalam film 3 Idiots, “All is well.” 

Saya waktu itu sempat heran, apakah dada ini terasa sakit sekali cuma karena membaca tulisannya? Atau karena sekalian mendengarkan lagu The Radio Dept. - I Don’t Like It Like This yang dia sisipkan di awal tulisan itu?

Akhirnya, saya sadar kalau ada yang salah dalam hidup saya dalam dua bulan terakhir. Terutama soal hubungan saya dengan pacar yang saat itu sedang di ujung tanduk. Saya sudah mencium bau-bau patah hati dari sebulan sebelumnya. Lalu sehabis membaca tulisan perempuan ini, saya jadi merenungi hubungan saya akan ke arah mana.

Apa hubungan ini akan kandas? Tapi kok saya masih merasa sayang.  Seandainya mau lanjut, apakah saya sanggup bertahan? Lalu saya mendengarkan lagu itu sambil mengucapkan mantra. Supaya saya bisa jadi lebih kuat menerima rasa sakit atau kecewa, serta hubungan kami akan baik-baik saja. Namun, ternyata kami putus. Ya, mungkin itu yang terbaik. Mungkin juga mantra yang saya ucapkan tidak ampuh. Atau saya memiliki mantra lainnya: Saya bisa tetap baik-baik saja tanpa dia.

--

Kamu punya juga salah satu lagu favorit yang bisa diceritakan? Boleh tulis di kolom komentar dan silakan berbagi rekomendasi.