Pesta Netizen

20 comments
“Kamu nggak akan pernah tahu sampai kamu mencobanya.” 

Begitulah kalimat yang tertera di buku tulis SIDU (Sinar Dunia). Sayangnya, walaupun sudah paham betapa pentingnya berani mencoba, saya terkadang tetap saja ketakutan ketika mencoba sesuatu. Terutama dalam mengikuti perlombaan besar. Belum apa-apa saya udah jiper duluan. Mental saya seolah masih belum kuat, atau memang anaknya gampang pesimis. 

Namun pada akhir tahun kemarin hingga awal tahun ini, saya lagi getol-getolnya mencari info perlombaan dan ikut meramaikannya. Saya ingin lebih berani dan nggak mau terus-terusan cemen. Lalu di antara beberapa lomba yang saya ikuti tersebut, saya sangat menunggu pengumuman lomba “Cinta Rupiah” yang digelar oleh Bank Indonesia—yang bekerja sama dengan Netmedia. 



Saat saya mengecek website cintarupiah.id, saya justru baru tahu kalau lombanya diperpanjang. Kemudian saya lihat jumlah peserta yang mengikuti lomba blog itu: kurang lebih berjumlah enam ratus. Waduh, banyak banget. Hadiah untuk juaranya padahal hanya tiga; juara 1 sebanyak 12 juta, juara 2 sebesar 8 juta, dan juara 3 senilai 4 juta. Dari pengalaman yang sudah-sudah, saya belum sekali pun meraih kemenangan dalam lomba besar. Apalagi lomba ini yang pesertanya keterlaluan banyak. Kemungkinan menangnya pasti tipis sekali.

Baiklah, kalau begitu saya tawakal saja. Seenggaknya saya udah berani ikutan. Saya pun mulai melupakan lomba itu dengan menamatkan tiga novel yang baru saja saya beli. Sekitar seminggu setelahnya, pada tanggal 1 Maret 2018 sekitar pukul 11 malam, saya lagi membuka email untuk mengecek ada komentar yang masuk ke blog atau nggak. Di kotak masuk, saya malah mendapati pesan dari Bank Indonesia yang mewartakan kalau saya terpilih menjadi salah satu finalisnya. Saya pun langsung buru-buru mengecek website itu lagi. Dan, dari seratus finalis yang terpilih itu memang terdapat nama saya. Alhamdulillah.



Tapi ada keanehan pada email tersebut. Saya harus mengirimkan data diri ke email yang tercantum sebelum tanggal 1 Maret 2018. Sedangkan saya sendiri baru menerima email itu pada tanggal yang sama. Email itu masuk sekitar pukul tiga sore, lalu saya baru membukanya pada malam hari. Salah saya, sih, memang segala telat mengecek email. Tapi bukannya pihak mereka juga telat menginformasikannya ke saya? Ah, ya udahlah. Saya pun dengan cepat segera mengirimkan data diri sebelum tanggal berganti. 

Keesokan paginya, saya masih kebingungan. Kemudian saya kepikiran untuk mengontak salah satu nomor yang tertera di situs lomba tersebut. Saya pun menanyakan tentang masalah email itu. Saya juga bertanya mengenai acara bertajuk Pesta Netizen pada tanggal 2 Maret 2018 atau sore nanti. Jawabannya, saya disuruh mengirim ulang data diri lewat WhatsApp dan ke email yang lainnya. Terus nanti sore tinggal datang aja dan jangan lupa registrasi. 

*** 

Dari keseratus finalis itu, nggak ada satu pun nama yang saya kenal secara nyata. Saya bermaksud untuk mencari barengan biar di sana nggak planga-plongo. Tapi yang saya dapat hanya 1-2 nama yang biasa memenangkan lomba. Itu mah justru membuat saya malas datang. Toh, saya juga nggak kenal dan nggak memiliki kontak mereka. Ya apa boleh bikin, saya datang sendirian saja kalau begitu. Saya berangkat naik kereta komuter dari Stasiun Palmerah menuju Stasiun Jakarta Kota. Setelah menempuh satu jam lebih perjalanan, pada pukul empat sore saya pun tiba di tujuan.



Saya keluar dari stasiun dan berjalan kaki menuju Museum Bank Indonesia yang beralamatkan di Jalan Pintu Besar Utara No. 3 Pinangsia, Taman Sari, Jakarta Barat. Sesampainya di lokasi, saya iseng memotret bangunan itu sambil menunggu ada yang masuk ke gedungnya. 



Suasana di luar terlihat masih sepi. Saya pun merasa kecepetan datang dan takutnya di dalam belum ada peserta yang hadir. Kadang datang terlalu cepat nggak enak juga, ya. Sekitar 5 menit kemudian, saya melihat kumpulan anak muda yang sedang nge-vlog. Lalu mereka bertanya ke petugas keamanan dan memasuki gedung. Saya pun mengekor mereka. 

Di dalam, ternyata sudah cukup ramai. Saya melihat beberapa mahasiswa/i yang menggunakan almamater. Saya nggak tahu apakah mereka juga para finalis dalam lomba ini atau bukan. Saya kemudian melangkah ke meja registrasi. Seorang perempuan menyambut saya dan menanyakan berasal dari Jabodetabek atau luar Jabodetabek. Ia lalu menyuruh saya menuliskan data diri di kertas yang ia berikan. Begitu selesai mengisi formulir, saya diberikan tanda pengenal bertuliskan “Finalis”. Setelah itu, Mbak Penjaga Meja Registrasi menyuruh saya berbaris bersama rombongan mahasiswa/i itu.

Saya pun melihat bagian belakang almamater salah satu dari mereka yang terdapat tulisan GENBI UIN. Saya membatin, apa itu GENBI? Saya lalu memperhatikan yang lainnya. GENBI UNJ. Selagi menebak-nebak apa singkatan tersebut, salah satu panitia acara itu menyuruh kami membuat barisan dengan per barisnya lima orang supaya lebih rapi karena rombongan mulai bertambah. Saya akhirnya menyimpan pertanyaan soal GENBI itu. Sepuluh menit sesudah itu, salah seorang perempuan berpakaian putih dan celana hitam menyambut kami. Saya kira ia adalah pemandu tur di museum ini. 

“Nggak usah pada serius gitu mukanya. Acaranya santai dan kita bakal seru-seruan, kok.” 

Dugaan saya benar, sebab setelah ngomong begitu ia menjelaskan sejarah museum yang diresmikan oleh Presiden SBY pada 21 Juli 2009 ini. Ketika Mbak Pemandu Tur sedang menceritakan sejarah museum ini, tiba-tiba pundak saya ditepuk. Saya menengok dan mendapati seorang cowok yang saya lihat saat sedang nge-vlog tadi. 

“Finalis juga ya, Mas? Asalnya dari mana?” tanyanya. 

“Iya, tapi saya ikut yang lomba blog. Saya dari Jakarta.” 

Kemudian ia terkejut jika lomba yang saya ikuti adalah blog. Mungkin karena ia sendiri finalis vlog, atau sebelumnya telah berkenalan dengan finalis vlog, atau entahlah apa itu. Lalu ia bilang dirinya berasal dari Madiun. Saya lalu memperhatikan teman-temannya. Mereka mengalungkan tanda pengenal yang bertanda “Peserta”. Talinya berwarna merah. Saya melihat tali di tanda pengenal saya yang berwarna biru. Lalu saya sadar jika tanda pengenal itu dibagi ke dalam tiga jenis; biru untuk para finalis, merah untuk peserta (bisa dikatakan teman yang diajak finalis), dan hijau untuk GENBI. Setelah itu, saya kembali mendengarkan Mbak Pemandu Tur yang berkisah secara antusias. Sesudah berbicara panjang lebar, akhirnya ia mengajak kami mengelilingi museum ini.

*** 

Ketika berkeliling, saya memilih berada di bagian belakang. Saya sengaja agak memisah, sebab berada di tengah-tengah mereka pun rasanya seperti berada di dalam kekosongan. Ada, tapi tak terlihat. Lalu saya menghibur diri dengan mencari objek untuk difoto. 





Selagi berada di lantai dua, saya melihat ke arah luar bangunan. Terlihat sebuah panggung untuk acara yang akan digelar dan beberapa orang sedang sibuk menyiapkan tata panggungnya. Setelah itu, saya kembali mengikuti tur ini. Beberapa orang semakin sibuk foto-foto hampir di setiap tempat. Saya sendiri hanya mengambil gambar yang menurut saya penting saja. Bahkan kala saya yang lagi asyik baca penjelasan mengenai sejarah rupiah, salah seorang mahasiswi meminta tolong saya untuk memotret ia dan teman-temannya. Ternyata ada juga toh orang yang memperhatikan saya. Tapi nggak jadi tukang foto juga. Kutu kupret.



Pada pukul 17.45, tur ini selesai dan kami dipersilakan memasuki area panggung. Saya memilih duduk di bagian tengah karena beberapa bangku di urutan depan hampir terisi penuh. Saya lebih suka mengisi kursi yang masih banyak kosongnya. Di sebelah kanan saya terdapat seorang cowok bertubuh tinggi dan tegap sedang memainkan ponselnya. Lalu tersisa tiga kursi di sebelah kiri saya. Yang pada akhirnya diisi oleh tiga orang GENBI UIN. Dua perempuan dan satu laki-laki.

Setelah itu, para pegawai menyiapkan beberapa makanan dan menatanya di meja. Beberapa orang langsung menyerbu ke meja makan itu. Saya malas mengantre kalau rombongannya terlalu padat. Saya pun memilih mengambil segelas es teh manis yang disajikan secara prasmanan. Setelah itu, saya duduk kembali dan berniat untuk mengobrol dengan orang yang berada di sebelah kiri saya. Ia laki-laki yang dari GENBI UIN itu. 

“Finalis lomba apa, Bang?” tanyanya membuka percakapan. 

Padahal tadi saya yang niat mengajak ngobrol, tapi kenapa malah didahulukan olehnya, sih? Konyol sekali. Saya menjawab sekenanya dan gantian bertanya, “GENBI itu apaan, ya?” 

“Singkatan dari Generasi Baru Indonesia, Bang. Para mahasiswa yang menerima beasiswa dari Bank Indonesia.” 

Akhirnya, pertanyaan mengenai GENBI itu terjawab. Karena saya tidak tahu apa-apa akan hal itu, saya pun bertanya lagi tentang program beasiswanya. Ia lalu menceritakan kalau di kampusnya hanya terdapat 40 penerima beasiswa. Setiap kampus jumlahnya mungkin berbeda-beda. Itu pun hanya sebagian fakultas saja yang diberikan. 

“Saya waktu itu iseng-iseng ngajuin. Alhamdulillah diterima, Bang.”

Kemudian, saya gantian bercerita tentang ikut lomba blog ini yang sebetulnya juga secara iseng-iseng. Ya, meskipun aslinya sangat berharap bisa menang. Walaupun nanti hanya juara tiga yang senilai empat juta nggak apa-apa deh. Halah. Gini amat ya ngarep. Setelah itu percakapan kami tertunda karena ia bilang ingin makan. Selanjutnya, sebelah kanan saya tiba-tiba gantian memperkenalkan diri. Namanya Herland. Ia finalis lomba video kategori film pendek.

“Gue kira lu finalis video juga. Gue tadinya mau nawarin kerjaan ngedit video. Kantor gue lagi butuh,” ujar Herland. 

“Yah, gue kurang ngerti soal urusan video. Cuma bisa nulis.”

Ia kemudian bercerita sedikit tentang pekerjaannya. Setelah itu, kami bertukar cerita tentang lomba-lomba yang pernah kami ikuti. Saya lalu bertanya mengenai jadwal acara ini kenapa belum juga dimulai. Ia langsung memperlihatkan saya jadwalnya yang mana ialah waktu ishoma (istrahat, salat, dan makan). Saya pun memintanya untuk mengirimkan gambar itu lewat WhatsApp. Acaranya ternyata baru berlangsung pukul 19.00. Pengumuman pemenang pada pukul 20.15.

Tak lama, suara azan mulai terdengar. Beberapa orang pun meninggalkan panggung dan menuju ke masjid yang terdapat di museum ini. Ketika azan Magrib selesai berkumandang, antrean prasmanan mulai sepi. Herland mengajak saya makan dan berjalan ke arah meja prasmanan itu. Sebetulnya saya pengin salat dulu, tapi sialnya perut ini udah sangat keroncongan. Jadilah saya mengikuti di belakangnya.

Kelar makan, kami ke masjid bersama-sama. Herland pergi dengan membawa tasnya, sedangkan saya sendiri meninggalkan tas itu dan menitipkannya ke salah satu perempuan dari GENBI UIN. Yang terpenting, barang-barang berharga seperti dompet dan ponsel ada di kantong celana saya. Tas itu cuma ada mi-fi Bolt, novel, buku catatan, dan alat tulis. Jadi, nggak masalah kalau saya tinggal. Toh, saya pun percaya tas itu nggak akan diotak-atik.

Seusai salat, saya berjalan duluan karena Herland bilang ingin ke toilet. Di perjalanan menuju panggung, saya bertemu dengan cowok dari GENBI UIN itu yang asyik ngobrol bersama temannya. Sialnya, pas mau menyapa saya malah tidak ingat namanya. Lemah sekali ingatan saya ini. Mungkin saya anaknya memang lebih mudah mengingat wajah daripada nama. Ia lalu menyapa saya dengan “Bang”. Nggak tau kenapa, lama-lama saya merasa aneh dan risih dipanggil “Bang” mulu. Saya bukan kakaknya. Lagian, panggilan itu membuat kami seperti berjarak. Yang saya tebak paling usia kami hanya beda 2-3 tahun. Tapi yang saya curigai, ia juga lupa nama saya. Ah, masa bodohlah dengan nama dan panggilan “Bang”.

Begitu sampai di tempat duduk semula, sebelah kanan saya tiba-tiba ada yang mendudukinya. Berjejer empat orang. Kursi Herland direbut salah satu dari mereka. Ya, mungkin mereka pikir tempat duduk itu kosong. Dan, kayaknya tempat saya tidak mereka isi sebab terdapat tas dan saya juga sudah menitipkannya ke perempuan tadi.

Sehabis pantat saya benamkan ke kursi, tiba-tiba saya mencium bau kaki. Saya lihat ke arahnya, sepatunya ia lepas dan bau busuk semakin jelas. Bedebah. Minat saya untuk sekadar berkenalan langsung lenyap. Ya udahlah, setidaknya saya masih bisa mengobrol dengan orang di sebelah kiri saya. Setelah ini, saya anggap saja namanya Lukman. 

Acara ini dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama. Setelah itu pembacaan doa agar acaranya lancar. Selanjutnya, sambutan dari orang-orang penting Bank Indonesia. Mendengarkan orang berpidato nggak tau kenapa sering bikin ngantuk. Jadilah saya mengobrol dengan Lukman tentang berbagai hal. Kami saling bertanya sesukanya. Dari mulai saya yang bertanya ia jurusan apa dan semester berapa. Kemudian, dijawab IT semester empat olehnya. Lalu saya sedikit bertanya tentang bahasa pemrograman. Padahal saya hanya tahu sebatas HTML. Ketika saya mulai nggak mengerti apa yang ia bicarakan, saya hanya bisa manggut-manggut. Ia pun gantian menanyakan apakah blog saya dikomersilkan atau nggak. Bisa suka menulis awalnya gimana. Dan seterusnya, dan sebagainya.

Nggak terasa pidato telah selesai. Sesudah itu acara berganti menjadi hiburan, yakni menampilkan tarian-tarian daerah di Indonesia. Seperti Tari Pendet, Tari Topeng, Tari Piring, Tari Ronggeng, serta tari dari daerah Papua yang saya lupa namanya. Selanjutnya, acara beralih menjadi tanya jawab seputar dunia blog dan vlog. Kedua MC pun memanggil Agung Hapsah, Benazio Rizki Putra (Benakribo), dan Kevin Hendrawan ke atas panggung. 

Semakin mendekati acara pengumuman pemenang, saya tiba-tiba kebelet kencing. Saya pun meninggalkan area panggung, bertanya di mana toilet terdekatnya kepada salah seorang panitia acara, serta bergegas ke toilet dan buang air. Setelah kembali, acara masih soal tanya-jawab itu. Lalu dari sekian banyak pertanyaan, saya paling ingat dengan pertanyaan ini: “Bagi kalian deadline itu penting nggak, sih?” 

Terus, jawaban Agung Hapsah begitu menempel di kepala saya. Ia menjawab sangat penting, tapi dirinya sendiri sudah dua bulan nggak upload video. Alasan Agung tidak mengunggahnya karena ia memiliki standar kualitas terhadap kontennya. Jadi meskipun ia sudah membuat beberapa video, jika tidak ada video yang memenuhi standar bagus menurut dirinya, ia nggak mau menyajikan video biasa-biasa saja itu kepada penonton.

Salah satu dari kedua MC itu (kalau nggak salah yang perempuan) pun langsung merespons, “Wow, ternyata Agung benar-benar pengin videonya selalu berkualitas, ya.”

MC satunya lagi gantian bertanya, “Terus ada nggak, sih, dari banyaknya video yang kamu upload itu pas ditonton ulang sekarang merasa malu?” 

“Banyak. Banyak banget. Tapi nggak apa-apa, itu tandanya aku berkembang. Apalagi kalau aku udah merasa jijik. Berarti aku menyadari adanya pertumbuhan yang bagus dalam diriku saat bikin konten.” 

Sesi tanya jawab pun selesai. Kini, giliran acara yang memang sudah ditunggu-tunggu oleh para finalis. Detik-detik menunggu pengumuman rasanya begitu menegangkan. Jantung saya pun berdebar-debar kala melihat satu per satu cuplikan blog dan tulisan itu. Diam-diam, saya berharap semoga salah satunya terdapat blog saya.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

20 comments

  1. Juara gak "bang"? Wkwk

    Wih ternyata ada agung sama benakribo, keren sih emang mereka. Oh iya, saya juga sebenernya mau ikut lomba blog kaya gitu bang tapi yang jadi permasalahan tuh ide. Iya, ide yang kadang gak mau muncul. Munculnya pas deadline selesai wkwkwk.

    Tapi tetep aja noob hehe. Kalo kata si agung merasa jijik itu tanda ada perkembangan, saya merasa engga. Tetep aja tulisan saya kaya sampah wkwk.

    Jadi, juara gak "bang"?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini lagi ikutan manggil "Bang"~ Tunggu aja tulisan selanjutnya. :p

      Ide muncul sehari sebelum deadline aja menyebalkan. Kadang kan tulisan jadi ala kadarnya dan minim pengeditan. :))

      Anjir, kejam juga sama tulisan sendiri. Tapi saya juga sering gitu, sih. Kayaknya tulisan saya kurang bermanfaat. Bahaha.

      Delete
  2. wa wa waaa.. itu gedung yg pernah saya tanyakan ketika menuju TMII kan, Bang? xD

    udah pernah masuk sih, liat2 koin yg zaman dulu juga yg ada di dalamnya. sempet kepikiran juga karena melihat koin dulu itu kecil2, jangan2 koin2 itu dibuat di zaman Indonesia belum mengenal kerokan.

    yg baju prajurit yg diletakin di lantai itu kayaknya punya kesan buat saya, tapi saya lupa apa.. harus ditanyain ama temen lagi ini. karena belom diceritain, jadi nunggu post selanjutnya aja ya ttg hasilnya... xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, padahal itu jaraknya jauh, kan. Bentuk bangunannya aja mungkin yang mirip. Bahaha. Mungkin zaman dulu masuk angin juga belum diketahui. Halah.

      Emang ke sananya waktu itu sama siapa, Haw? Hasilnya tidak begitu penting, kok. Yang penting prosesnya. Wqwq.

      Delete
  3. Sempet ngobrol nggak sama si Agung? Asli, saya kagum banget sama tuh anak, super kreatif.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak, Din. Saat sesi tanya jawab aja saya nggak pengin nanya. Haha.

      Delete
  4. (( Ada, tapi tak terlihat )) yawlaa kok sedih ya bacanya:(

    Trus kelanjutannya gimana yoooggss??
    Blog kamu ada di salah satunya kan?
    LANJUTIN DONG BANG!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin perasaan saya saja. Haha. Tapi sendirian di tengah kumpulan begitu, kadang memang suka merasa hampa, sih.

      Kelanjutannya nanti kalau udah nggak males ngedit~

      Delete
  5. Akhirnya tau juga kepanjangan genbi
    Huh bisa tidur lagi ini mah

    Genbita Om supaya menang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wqwq. Nggak penting amat, ya? Itu ganbate, Bang~

      Delete
  6. jadi, gimana hasilnya yog??? Juarakah???

    "kepodeh

    hahaha

    ReplyDelete
  7. waduh lihat jumlah pesertanya ngeri duluan yah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Nggi. Tapi nggak nyangka bisa terpilih sebagai finalis. :)

      Delete
  8. Oke, ini sedikit kontradiktif karena... lu bisa ceritain detail acara dari awal sampai akhir tapi lupa sama nama satu orang yang sudah elu temui. And, btw, lu menang nggak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya juga nih, Man. Oksimoron. Tapi mungkin saya memang lebih ingat suatu kejadian daripada sebuah nama. :D

      Menang ... is~

      Delete
  9. wah keren juga ya, kreatif banget lah

    ReplyDelete
  10. Jiaaaaahhhh bikin penasaran aja :p. Tapi kamu mah pantes kalo masuk finalis, apalagi menang. Memang bgs kok Yog yg kamu tulis :).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Sengaja dipotong biar nggak terlalu panjang. Tapi sayangnya belum menang, Mbak. Makasih pujiannya. :D

      Delete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.