Sabtu dan Minggu kemarin adalah jadwal kopdar dua komunitas blogger yang gue ikuti. KK dan JB. Tepatnya tanggal 10 dan 11 Januari 2015. Namun sangat disayangkan, hari Sabtu gue kuliah. Jadi, gue hanya bisa mengikuti yang hari Minggu.

Ini adalah kopdar pertama buat gue. Oke, sebagai blogger gue merasa gagal. Karena belum pernah kopdar bersama teman-teman blogger yang lain. Karena ini adalah pertama kalinya. Jantung gue berdebar-debar. Diibaratkaan, seperti pertama kalinya nge-date sama cewek. Biasa, jomblo emang gitu. Kelamaan nggak dipeluk cewek aja, pas meluk guling rasanya seneng banget. Pedih.
 
 H-2 kopdar, gue dapet informasi dari ketua kelas, bahwa hari Minggu harus masuk kuliah. PARAH!!! MASA NGGAK JADI KOPDAR?!

Karena gue mahasiswa yang rajin (hm, nggak rajin sih, cuma sayang aja udah bayar kuliah pake duit sendiri, terus gue malah nggak masuk. Kan rugi. #NggakMauRugi), jadi Minggu pun gue terpaksa masuk. Gue bilang ke anak-anak JB di grup WA, “Maaf nggak bisa hadir, ada kuliah.” Mereka kaget, kalo hari Minggu malah masuk kuliah. Yaudah, terserah mereka menganggap gue berdusta atau jujur. Tapi, gue selalu jujur kok. (jangan percaya).
 
Setidaknya, gue udah bilang dan minta maaf juga. Karena gue orangnya penginan dan demen banget kumpul-kumpul gitu. Seperti, kumpul sesama komunitas, acara gathering, dan kumpul kebo hati gue mulai tergoda untuk cabut kuliah.

Iblis bilang, “Udahlah, kuliah mulu. Lagian, lu salah jurusan kan? Cabut aja cabut!”

Malaikat juga berkata, “Wahai anak muda. Menuntut ilmu itu perlu. Meski engkau salah jurusan, meski engkau tidak mengerti dengan pelajarannya. Hargai dosenmu. Ia juga harus datang untuk mengajar, merelakan waktu santainya bersama keluarga di rumah. Bayangkan perasaannya, apabila mahasiswanya hanya segelintir yang hadir. Sakit, Nak. Sakit... sakitnya tuh di sini... (kemudian malaikatnya malah nyanyi)

“CABUT AJA CABUT!!!”
 
“Jangan anak muda. Kuliahlah, sukses, dan buatlah orang tuamu bangga dan bahagia.”

BERISIK LO BERDUA! GANGGU ORANG LAGI SARAPAN AJA!

***

Gue mengikuti perkuliahan seperti biasa. Tapi, kali ini hanya sampai pukul 15.00. Alhamdulillah, kelar juga.

Gue nggak tau bagaimana keseruan mereka. Mencoba ngecek grup WA, ternyata sudah banyak foto-foto. Inilah fotonya.

Kopdar Jamban Blogger Jabodetabek


Tetapi, di situ ada chat seseorang yang bilang menyusul juga. Gue langsung iseng bertanya, “Nyusul sekarang, telat nggak?”

“Woles,” jawab salah satu dari mereka santai.
 
“Iya, nyusul aja,” balas Tiwi.
 
“Beneran nih?”
 
“Iyaaa, buruan.”
 
Gue kemudian ragu. “Ini acaranya kan kelar jam 4. Gue nyusul, sampe sana pasti udah kelar.” Coba aja tanya lagi. “Jauh kali Pamulang ke Bogor, 1 jam nih. Tungguin, yak?”
 
“Iya.”
 
“Oke, otw.”

Gue langsung mengendarai motor dengan kecepatan cahaya, yang kira-kira 60-80 km/h.

Bagusnya, jalanan ke arah Bogor, hanya lurus-lurus doang. Setelah memasuki wilayah Bogor, gue melihat jam yang jarum pendeknya menunjukan angka 3 dan jarum panjangnya menunjukan angka 8. Gue nggak nyangka, ternyata secepat ini gue berkendara. Dan, secepat ini pula bensin gue habis. Gue segera mencari pom bensin. Gue cek HP lagi. Eh, mantan SMS. Kemudian gue bales pula.
 
 Keasikan SMS-an, gue lupa kalo ditungguin mereka. Saat cek grup WA: “Yoga, lagi di mana?”

“Di hati kamu.” Yang kemudian gue hapus lagi, kebiasaan gue kalo ditanya begitu, pasti refleks ngetik kayak gitu. “Di pom bensin daerah Bogor,” yang gue lanjutkan dengan bertanya, “Alamatnya di mana?”
 
 Salah satu dari mereka menyebutkan alamatnya. Lalu, sih Tiwi malah bilang, “Botani.”
 
Gue mengira, maksud Tiwi itu alamatnya dekat sama Botani Square.

Setelah sampai Botani Square, gue bertanya sama bapak-bapak. “Permisi, Pak. Mau numpang tanya. Mbah Jingkrak di mana ya, Pak?”
 
 Kata Bapak itu, gue kelewatan. Harus puter balik. Tapi kalo nggak mau puter balik, lewat komplek sini aja. Gue melewati jalan yang belum pernah gue lalui. Eh, tau-tau salah belok dan gang buntu. Di sekitar situ ada beberapa pemuda yang berkumpul, 4 atau 5 orang gitu. Dengan baik-baik gue bertanya, “Permisi, Bang. Maaf numpang tanya, Mbah Jingkrak itu lewat mana, ya?”
 
Para anak muda itu memberi tahu gue jalan yang benar.

Ketika gue menyalakan mesin motor, gue ditepuk salah satu dari mereka. Sumpah, langsung keringet dingin, jantung gue berdebar-debar, kayak nunggu jawaban dari cewek yang gue tembak. Duh, perandaian gue ke situ-situ mulu. Gue mendadak takut. Gue menoleh dan dia bertanya, “Lu anak SMA mana?”
 
 “Gue kuliah, Bang. Kenapa?”
 
“Ah, gapapa. Yaudah, jalan gih.”

KAMPREEEETTTT! Gue kira mah kenapa, nggak taunya cuma nanya gitu doang. Eh, tapi gue disangka anak SMA. Berarti, secara nggak langsung dia bilang muka gue masih baby face. Asik! Tapi, yang bilang cowok. Oke, nggak asik!

Setelah sampai di Mbah Jingkrak, gue parkir motor dan segera masuk. Kok, malah sepi, ya? Setelah bertanya sama salah seorang pelayannya, katanya baru saja pergi. Parah. Gue dikerjain. Gue cek lagi grup WA, Tiwi bilang, “Kan gue bilang Botani.”

DUAAARRRRR!

Oke, Yog. Cerdas banget emang lu!

Gue balik lagi ke Botani. Mereka bilang, lagi di Burger King. Setelah sampai di Botani dan gue parkir kendaraan, gue buru-buru ke BK. Sampai di BK, mereka bilang di Gramedia. “Ini maunya apa sih? Ngajak ribut?”

Gue mana tau Gramedia yang ada di Botani Square ini terdapat di lantai mana. Mengingat mal-mal di Jakarta biasanya ada di paling atas, naiklah gue ke lantai 2 atau 3. Karena nggak mau sotoy, gue bertanya pada security. Dan ternyata Gramedia ada di paling bawah. Ya Tuhan, turun lagi ke bawah.” 
 
Da aku mah apa atuh, ke Bogor hanya numpang lewat pas mau ke Puncak. Ke malnya mah boro-boro.

Setelah sampai di Gramedia, gue mulai ngiter-ngiter sambil melihat-lihat kerumunan orang sedang baca buku. Tapi gue belum pernah ketemu langsung dengan mereka semua. Sebatas foto itu juga belum tentu mirip kan foto sama aslinya. (biasanya sih gitu).

Gue mulai chat lagi, “Gimana caranya mengenali kalian di Gramedia?”
 
Tiwi bales, “Ke lantai paling atas, Yog. Daerah food court.”
 
Astagfirullah. Beginikah rasanya jadi anak baru? Dikerjain? Lalu, gue berpikir, “Jangan-jangan mereka semua udah pulang. Terus gue dikerjain doang? Jahat banget sih.”

Tapi gue tidak mau berburuk sangka. Gue mencoba ke lantai paling atas. Entah lantai berapa, gue udah pusing muter-muter mal. Gue melihat-lihat di area food court dan belum mengenali salah satu dari mereka. Ada cewek cantik, dede gemez gitu umurnya sekitar 16-17 lah. Tapi, nggak mungkin deh kayaknya. Soalnya di foto pada pake jilbab. Kesempatan bertemu neng geulis Bogor kan jarang-jarang nih. Ah, pengin gue ajak kenalan aja rasanya. Meski nggak ketemu mereka, setidaknya gue nemu jodoh. Oke, ngawur. Gue coba chat lagi di grup WA.

Akhirnya, mereka menyuruh gue ke Lotteria.

Sampai sana, gue seperti orang kebingungan yang mencari orang. Nunduk, ngeliatin hape mulu. Udah kayak anak autis. Gue ketik di chat, “Gue nggak ada yang kenal kalian, samperin kenapa.”
 
 Barulah, Tiwi bilang, “Lu pake baju kotak-kotak?”
 
“Iya.”
 
“YOGAAAAAA,” teriak salah seorang wanita memanggil gue. Awalnya, gue pikir itu suara nyokap. Terus mau ngomelin gue, “PULANG KULIAH BUKAN LANGSUNG PULANG. MALAH MAEN JAUH-JAUH!!!” Alhamdulillah, itu bukan nyokap, dan itulah salah satu dari mereka.

Gue melangkah dengan ragu-ragu. Dengan mengucap bismillah gue memberanikan diri. Gue mencoba senyum. Lalu kemudian berkenalan dengan mereka.
 
 “Yoga.” Gue mengulurkan tangan.
 
“Adi.” Seorang cowok tinggi, berkulit putih yang mengenakan kaos hitam membuat dirinya semakin putih dan menjabat tangan gue.
 
 “Cowok sendirian?” tanya gue.
 
“Nggak, noh ada sih Ucup, lagi mesen makanan.” Adi menunjuk ke seorang cowok bertubuh tinggi memakai kaos Jamban Blogger.
 
Gue menyebutkan nama lagi.
 
“Vira,” kata seorang cewek yang mukanya nggak asing buat gue.

Ternyata, ini Kak Vira yang blogger itu juga. Oalah. Kemudian gue berkenalan dengan yang lain. Begitulah seterusnya.
 
 “Abis pulang kuliah?” tanya Adi.
 
“Iya.”
 
“Kuliah di mana?”
 
“Pamulang,” jawab gue datar.
 
“Gue juga Pamulang.”
 
“Ah? Serius? Semester berapa?” tanya gue penasaran.
 
“Udah lulus.”
 
“Lah, ini Bang Kresnoadi itu? Gembel... gue nggak nyadar karena dia potong rambut,” batin gue. “Oh, iya IPB.”
 
Sumpah, gue baru engeh kalo dia Bang Adi yang kocak itu. Sampe-sampe gue tanya, “Baru cukur rambut?” dan “Deva nggak diajak?” ledek gue.
 
Bang Adi langsung kaget, “Kok pada tau dia pacar gue?”
 
Dalam hati gue bilang, “Di blog pernah ditulis gitu. Gimana sih, Bang Adi yang tidak keribo.”

Karena mereka banyak yang memesan makanan, kebetulan gue juga laper, gue langsung ke kasir untuk memesan makanan juga. Saat melihat daftar harganya gue mendadak kenyang. Cek dompet, “Sisa lima puluh rebu,” batin gue. Kenapa mereka milih di tempat mahal begini, kenapa nggak di nasi padang atau warteg aja, sih?
 
Ya udahlah, gue nggak mau malu-maluin. Gue pesan yang paling murah saja. Itu aja setengahnya dari uang gue.

Setelah itu mereka mengobrol-ngobrol dan saling bertanya-tanya juga. Gue masih menikmati makanan.
Gue ngomong ke Tiwi, “Adminnya diem aja.”
 
Tiwi tetap diem.
 
“Heh, ditanya Yoga, noh,” Kata Bang Adi sambil menepuk bahu Tiwi.
 
“HAH?! Tanya apaan?”
 
Gue nggak jadi nanya, gue hanya bisa menyimpulkan. “Orang yang di chat berisik, ternyata aslinya malah kalem.” Timbul juga pikiran-pikiran lain, “Lagi sakit gigi kali ya?” atau “Nahan boker?”

Setelah makanan habis, gue melihat ke sebelahnya Tiwi.
 
Subhanallah, Ukhti, senyum kamu manis sekali, batin gue.
 
Setiap kali melihat senyumnya, gue bilang,”Subhanallah.” Entah udah berapa kali gue bilang begitu, kalo udah 33 kali, gue harus ganti jadi “Alhamdulillah”
 
Mendengar rumahnya di Bekasi. “ASTAGFIRULLAH JAUHHHHHH!”

Kembali ke topik.

Mereka semua sedang membahas umur dan kelahiran tahun berapa, kemudian juga membahas Bang Adi dan Bang Ucup yang berzodiak Aquarius. Entah mereka seneng banget zodiaknya sama. Tapi, mereka berdua lucu sih, cukup menghibur. Bang Adi sama seperti di tulisan. Seru, kocak, kerenlah pokoknya. Nggak percuma punya teman blogger yang gue idolakan. Caileh. (ini orangnya kalo baca ke-ge-er-an pasti)

Kak Vira bertanya ke gue, “Yoga kelahiran tahun berapa?”
 
 “Sembilan lima, Kak,” jawab gue jujur.
 
Yang lain pada kaget mendengar umur gue semuda itu. Susah sih ya, jadi berondong. Bebas Yog!
 
“Yah, nggak jauh beda sama adek gue. Adek gue sembilan tujuh,” kata Kak Vira. “Kok, sembilan lima udah kuliah sih? Loncat kelas ya?”
 
“Nggak kok, sempet sih dulu ditawarin. Cuma takut makin kecepetan aja. Gue nggak pake TK soalnya, Kak. Dulu pas SD pinter. Kalo sekarang, hmm... gitulah.”
 
 Mereka semua tertawa.
 
“Eh, Yog. Bagi pepsinya ya? Abis nggak diminum, masih utuh aja,” kata Kak Vira.
 
“Ambil aja, Kak.”
 
“Semua nih?”
 
Gue mengangguk.
 
“Eh-eh mau-mau! Gue bagi juga dong,” kata cewek-cewek yang lain.
 
Kasian mereka semua kehausan. Ternyata ada yang lebih nggak ada duit dari gue. Miris sekali.
 
“Terus lo minum apa, Yog?”
 
“Air putih, gue bawa kok,” jawab gue kalem.
 
“Ohh,” jawab mereka datar.

Ciyee gue diajak foto
 
Sial, gue lupa obrolan-obrolan lainnya. Kalo kebanyakan nunda pas nulis ya beginilah. Nggak bisa detail semuanya gue ceritain. Ini aja harus nginget-nginget dulu. Keasikan ngobrol, nggak terasa sudah hampir setengah enam. Gue inget belum sholat Ashar. Lalu, gue, Bang Adi, Bang Ucup, dan Kak Vira ke mushola. Kalo cewek yang lain? Mungkin sedang M. Antara malas dan menstruasi. Jawab masing-masing aja ya. Gue nggak mau suuzan.

Setelah sholat Ashar, kami kembali ke tempat makan lagi. Ngobrol bentar, sholat Magrib lagi. Sekitar pukul 7 lewat kami memutuskan untuk pulang. Terus gue lupa tadi masuknya lewat pintu mana.

Karena mereka semua baik, atau tepatnya kasian sama gue, mereka nganterin gue ke parkiran. Gue juga lupa parkir di mana. Jujur, gue ngerasa kayak anak ilang yang nggak tau jalan. Emang gitu sih kenyataannya.

Alhamdulillah, ketemu juga.

Makasih Bang Adi, Bang Ucup, Kak Vira, Kak Tiwi, Kak Febi, Kak Yolan, Kak Uni, Kak Imas, yang udah rela nungguin gue yang nyusul dan nekat ini. Gue merasa paling muda, jadi gue panggil Bang dan Kak. Oke, gue maunya muda terus.

Gue pulang naik motor dan sendirian, sedangkan yang lain naik kereta dan rumahnya deket-deket. Gue harus pulang ke Jakarta. Jauh, sendirian, nggak ada yang meluk. Dasar jomblo! Sekitar jam 9-an, gue sampe dengan selamat. Alhamdulillah, yang lain malah masih bermacet ria dan mengeluh kalo masih di kereta. Gue ledekin aja, “Akhirnya kasur.” Mereka pada nggak nyangka gue secepat itu. Walaupun gue pulang dengan pantat ilang, kelamaan duduk di motor gitu. At least, gue bahagia kok.

Terima kasih. Sekali lagi, gue ucapkan ke kalian semua. Wahai anggota Jamban Blogger, terutama yang Jabodetabek. Meskipun ada yang nggak ketemu gue, makasih juga pokoknya. Karena kalian gue mempunyai keluarga baru. Tempat gue berbagi lewat tulisan. Udah gue anggep keluarga lah pokoknya, yaitu sebuah komunitas blogger.

Semoga solid terus ya. Happy birthday Jamban Blogger. Semoga sehat selalu anggotanya, panjang umur komunitasnya, dan makin kreatif lagi. Aamiin.


Happy Birthday

 
Ini adalah kopdar pertama gue yang  absurd banget tapi terasa seru karena penuh perjuangan. Gue jadi pengin ikutan kopdar berikutnya.