Orang-orang bilang dalam menjalani hidup itu ada polanya. Pola ini berasal dari kebiasaan sehari-hari atau rutinitas. Apa yang kita lakukan dalam tiga hari berturut-turut, biasanya akan otomatis terulang lagi keesokan harinya. Kebiasaan tidur larut atau begadang, misalnya. Kalau kau tak suka contoh yang buruk, tinggal diubah saja menjadi kebiasaan baik seperti tidur lebih awal dan bangun pagi sebelum waktu Subuh.

Mari kita coba ilustrasikan seperti ini: Seandainya ada seseorang yang sebelum-sebelumnya demi bisa bangun pagi membutuhkan alarm, bahkan masih mencoba tidur lagi hingga peringatan kedua—yang muncul 5-15 menit setelah alarm pertama—berbunyi, nanti jika dia akhirnya berhasil bangun sesuai waktu yang disetel di alarm, kemungkinan besar pada hari keempat otaknya otomatis bekerja supaya bangun pada pukul sekian, atau malah lebih awal ketimbang alarm karena seolah-olah menyesuaikan jadwal kemarin.

Orang yang sudah terbiasa tidur teratur jelas akan sulit menunda tidurnya. Sekeras apa pun berusaha melek, paling-paling dia akan ketiduran juga. Dia benar-benar tak kuasa menahan kantuknya. Alhasil, dia pun terbiasa bangun pagi berkat pengulangan pola tidur tersebut.

Seumpama pada suatu hari dia terpaksa menunda tidurnya 1-2 jam karena faktor kerja lembur atau ada hal penting lainnya, probabilitas dia bakal tetap bangun pagi seperti hari kemarin, menurutku, lebih dari 70%. Walaupun saat terbangun dia masih merasa ngantuk dan butuh tidur tambahan, tetap saja tubuhnya sudah tersetel otomatis untuk bangun pada jam yang sama. Bila setelahnya muncul hasrat buat tidur kembali dan tingkat kemalasannya sedang akut, itu menurutku sudah masuk ke persoalan lain. Meski begitu, biasanya dia akan tetap kesulitan memejamkan matanya sebab sebelum-sebelumnya tubuh mulai beraktivitas.

Barangkali beginilah pola yang sedang aku rasakan ketika mulai terbiasa tidak menulis pemikiranku sendiri ke blog, dan entah mengapa lebih sreg menerjemahkan tulisan orang lain. Pada beberapa waktu silam bahkan aku sampai berpikir lebih enak menyajikan tulisan orang lain yang kuanggap bagus (dengan terjemahan sekadarnya) ketimbang menyampaikan gagasan-gagasanku sendiri yang mulanya kuanggap cemerlang, tapi kelak bakal bikin malu jika suatu hari dibaca ulang.

Tanpa perlu dimungkiri, aku terbiasa menulis untuk terapi jiwa. Saat aku yang tadinya gemar membuang racun pikiran lewat metode itu, lalu mendadak berhenti melakukannya, sudah jelas aku akan membutuhkan pengalihan lain yang kukira juga sama bermanfaat seperti joging, menggambar, atau memotret pemandangan. Kalau kondisi ketiganya kurang mendukung buat dijalani, aku pun masih bisa menonton film/anime, main gim, atau apa sajalah asalkan bukan menulis.




Namun, pola hidupku yang sudah terbiasa menulis di blog selama lima tahun terakhir ini memang sulit sekali tergantikan. Sengotot apa pun aku ingin berhenti, walau sudah berulang kali kecewa dengan dunia kepenulisan, dan bahkan jika berada di fase sangat sedikit pembaca ataupun tak ada komentar yang masuk, pasti ada saja dorongan untuk tetap kembali menuangkan keresahanku di wadah ini.

Barangkali karena aku terkadang menulis bukan untuk dibaca oleh orang lain. Aku cuma berusaha menyelamatkan diri sendiri, atau hanya ingin menjerit lewat metode sunyi ini. Yah, sebagaimana yang kita tahu, beberapa orang konon menulis untuk berteriak dalam senyap, sebab saat mereka sudah memberanikan diri buat berbicara, lawan bicara mereka rupanya justru tak mengerti cara mendengarkan.

Perasaan takut membebani orang lain, tak ingin terlalu merepotkan, atau malah tak mau kecewa dengan tanggapan mereka ketika aku sedang mencurahkan unek-unek, sepertinya telah kusiasati dengan metode menulis sejak 2015. Pola menjerit dalam sunyi semacam ini, kupikir merupakan cara seorang pengecut yang sedang berusaha memberanikan diri untuk melawan segala kecemasan dan ketakutan hidupnya.

Oleh karena itulah, mungkin aku kerap merasa muak setiap kali menemukan seseorang yang mengutip Pramoedya bahwa mereka menulis agar abadi, sementara di sisi lain aku tertawa kencang kala membaca salah satu fragmen novel Bartleby & Co. karangan Enrique Vila-Matas yang berbunyi: Ada orang yang berhenti menulis untuk selamanya karena mereka percaya bahwa mereka abadi. Tapi, ya, itu sah-sah saja. Sebebasnya dirimu mau menulis atau tidak menulis. Aku tak akan ambil pusing dengan tujuan menulis orang lain.

Lantas, selama ini kau terus menulis untuk apa? tanyaku kepada diri sendiri yang belakangan ini mulai kehilangan hasrat untuk berbagi cerita, dan setelah aku renungkan baik-baik, sepertinya pertanyaan tersebut juga bisa menjadi sebuah jawaban. Jadi, alih-alih bertujuan supaya abadi padahal kita paham manusia ini makhluk yang pikirannya mudah teralihkan atau gampang lupa (apa kau sepercaya diri itu bakal ada yang mengenangmu sampai beratus tahun kemudian lantaran kau menulis?), aku yang medioker dan sangat sadar diri ini, selain menulis buat menolong diri sendiri, palingan berniat menulis cuma untuk bertanya, baik itu kepada diri sendiri maupun pembaca (itu pun seandainya si pembaca sudi tenggelam ke dalam tulisanku).