—Desember 2016



Jika bukan Bang Arif—guru mengajimu sewaktu SD—yang memintamu untuk menjadi panitia acara peringatan maulid, kau tentu sudah mencari-cari alasan untuk menolaknya. Kau sulit mengabaikan permintaan tolong dari seseorang yang kau hormati. Namun, kenapa kau tiba-tiba merasa ingin mengundurkan diri, padahal acaranya tinggal dua hari lagi? Apakah itu karena kau mulai muak mendengar berbagai ocehan Faisal—selaku ketua pelaksana—yang gemar menggurui anggotanya? Khususnya tentang peristiwa rapat semalam.



Setelah rapat berakhir, Faisal menyuruh Vina—yang bertugas sebagai bendahara—melaporkan hasil uang yang kalian dapatkan dari meminta donasi kepada para tetangga setempat. Belum ada satu menit membaca buku laporan keuangan itu, Faisal tiba-tiba melontarkan protes, “Ini serius RT 3 cuma dapat uang sumbangan segini?”

Kau kaget mendengar RT-mu disebut.

“Ini siapa yang bertugas meminta dananya?” katanya lagi.

Vina lantas menengok ke arahmu. Kau dan Kiki—teman yang menemani berkeliling meminta donasi dan merangkap sahabat—pun segera mengangkat tangan kanan.

“Ini kalian udah setor semua uangnya, kan?” tanya Faisal.

“Udah semua, Bang,” katamu. “Itu totalnya 1.460.000, kan?”

“Iya, tapi kok sedikit amat?”

“Memangnya kami harus dapat berapa, Bang?” ujar Kiki. “Apa ada syarat minimalnya?”

“Ya, enggak ada patokan, sih. Cuma kok bedanya lumayan jauh sama RT 1 dan 2. Ini uangnya enggak kalian simpan sebagian, kan?” Faisal berkata begitu sambil tertawa.

Enggak lucu!

Kau dan Kiki sempat merasa malu saat mengetahui jumlah donasi RT lain bisa menyentuh angka dua juta, sedangkan RT-mu satu setengah juta saja belum sampai. Namun, memang itulah kenyataannya. Kau dan Kiki tidak mengambil jatah sedikit pun dari hasil pencarian donasi tersebut. Bahkan, tidak ada pikiran buruk sama sekali saat memegang uang sebanyak itu. Bagi remaja seusiamu yang belum pernah memegang uang dalam jumlah besar, biasanya akan ada bercandaan antarkawan seperti, “Duit segini buat main Playstation bisa sewa berapa jam, ya?” atau “Kalau ini duitnya dibelikan kuota internet, kira-kira bakal dapat berapa GB nih?” Tapi kau sendiri biasa saja dan tidak norak begitu. Kiki pun sama.

Belum sempat kau membela diri atas kalimat yang mungkin cuma kelakar itu, Faisal mulai membuka mulutnya lagi dan seakan-akan sedang menceramahimu beserta Kiki, “Saya enggak bermaksud menuduh kalian. Yang barusan juga cuma bercanda. Tapi saya sebenarnya mau menjelaskan kalau ini uang buat kepentingan bersama. Demi memperingati hari besar Nabi Muhammad. Jangan berani-beraninya kalian mengambil sepeser pun. Sebab Allah Maha Melihat.”

Itu mah anak SD juga tahu, katamu dalam hati.

“Sumpah demi Allah, saya dan Rudi enggak berbuat macam-macam, Bang,” ujar Kiki secara tiba-tiba. Kalimatnya betul-betul mengagetkanmu.

“Iya, Bang. Demi Allah,” katamu ikut-ikutan.

Suasana rapat di pelataran masjid yang mulanya sejuk itu mendadak berubah jadi panas sekali.

Menurutmu, kau dan Kiki sebenarnya tidak perlu bersumpah seperti itu. Kau malas membawa-bawa nama Tuhan untuk urusan salah paham begini. Lagi pula, kau memang tidak berbohong sama sekali. Sejujurnya, kau juga tak sudi memanggilnya “Bang” walaupun usia dia lebih tua tiga tahun darimu. Kau merasa kalian semestinya sepantaran karena Faisal yang sudah berumur 20 dan seorang mahasiswa, tetapi pola pikirnya masih labil sebagaimana anak SMA.

Memang, sejak awal rapat dan pembentukan panitia dia cukup sering mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan terlihat dewasa ketika berbicara di depan para anggota. Tapi kau menebak-nebak kalau dia sebetulnya hanya sok bijak dan doyan mencari muka. Lebih-lebih mencari perhatian di depan Vina. Sebagai sesama lelaki, kau tahu betul bahwa Faisal menyukai Vina dari gelagatnya. Lalu, malam ini sikap bijak dan wibawanya telah lenyap di matamu lantaran dia blunder. Dugaanmu akan kepalsuannya itu pun terbongkar dengan sendirinya.

“Sori, saya enggak bermaksud menuduh dan bikin Rudi maupun Kiki bersumpah kayak begitu. Itu tadi saya hanya bermaksud memberikan sedikit nasihat. Jadi kalimat saya berlaku juga buat RT lain yang bertugas meminta donasi. Bekal buat kalian semua ke depannya.”

Enggak bermaksud menuduh? Lantas yang tadi itu namanya apa? Mendakwa? Jika memang niat awal Faisal itu melemparkan lelucon, semestinya dia juga tidak perlu protes sejak awal kala mengetahui hasil donasi RT 3 yang lebih sedikit ketimbang RT lain. Kau langsung benci setengah mampus dituduh korupsi olehnya. Pengalaman itu rasanya tidak ingin kau lupakan sampai kapan pun.

Bicara soal lupa, kau kemudian jadi terkenang sewaktu menghitung uang hasil donasi itu yang ternyata jumlahnya kurang 30 ribu saat dicocokkan dengan laporan yang tertulis. Mau tidak mau, suka tidak suka, kau mesti menggantinya dengan uang milikmu. Kau mengambil uang dari dompetmu dan memindahkannya ke buku laporan keuangan sembari membatin, udah berusaha berhemat karena sekolah libur dan enggak dapat jatah jajan, eh malah mesti nombok begini. Asu!

Setelah seluruh uang hasil donasi itu kausetorkan ke bendahara, kau segera merebahkan diri di kasur dan menghibur dirimu dengan mendengarkan lagu-lagu rock di ponselmu menggunakan earphone. Kau pun ikut menyanyikan lagu itu dengan suara sedikit berteriak. Saat itulah kau mendadak tersadar bahwa Kiki sempat salah tulis pada salah satu jumlah uang yang ditulisnya pada buku laporan.

“Rud, itu tadi Pak Nanang cuma menyumbang 20 ribu, terus aku salah tulis jadi gocap,” ujar Kiki. “Gimana dong nih?”

Kau berkata tak masalah. Angkanya tidak perlu dicoret ataupun dihapus pakai tipe-x. Takutnya nanti malah menimbulkan curiga. Lebih baik nanti ketika ada yang menyetor sebesar 50 ribu, barulah ditulis menjadi 20 ribu. Semacam pertukaran untuk menggantikan yang salah tulis itu. Sayangnya, sampai kalian selesai meminta donasi sekaligus menyebarkan undangan (tentang acara peringatan maulid) pada semua rumah di wilayahmu, kau justru terlupa akan kejadian Kiki salah tulis. Begitu mengingatnya lagi sekarang, kau pun mengutuk kebodohanmu yang satu itu.

Tapi hingga jadwal rapat tiba pada malam ini, kau memilih untuk tidak menceritakan bagian tersebut kepada Kiki. Lalu, kini kau bisa-bisanya dituduh menggelapkan uang. Betapa teganya si Faisal keparat itu.

*

Kau teramat jengkel mengingat bagian yang satu itu hingga terlintas di benakmu untuk berhenti dari panitia acara peringatan maulid. Kalau saja malam itu Bang Arif tidak segera datang bermaksud mengecek situasi rapat yang belum usai juga padahal malam semakin larut, kemudian menengahkan permasalahannya, mungkin kau juga sudah menorehkan kebencianmu itu terhadap Faisal dan mengundurkan diri saat itu juga.

Namun, alasan apa yang sekarang bisa kau berikan kepada Faisal ataupun Bang Arif untuk berhenti menjadi panitia? Lagi banyak tugas sekolah? Kau tidak dapat berbohong dengan membawa-bawa perihal sekolah. Dua minggu silam kau habis mengikuti UAS (Ujian Akhir Sekolah) semester ganjil dan setelahnya tidak ada lagi kegiatan belajar-mengajar. Pihak sekolah telah membebaskan murid-muridnya, boleh masuk ataupun tidak, sebab kehadirannya sudah tak dihitung lagi karena sebentar lagi pembagian rapor. Belajar untuk persiapan UN (Ujian Nasional)? Waktunya kurang lebih masih empat bulan lagi. Sebentar lagi pun waktunya liburan sekolah. Bukankah sekarang-sekarang ini adalah masa santai bagi para siswa? Sepertinya tidak ada satu pun alasan yang bisa kau jadikan senjata ampuh. Toh, sekalipun kau kelak berhasil menemukan alasan dan tidak lagi menjadi panitia, bukankah itu berarti kau lepas dari tanggung jawab? Kau sangat tak ingin dianggap sebagai pengecut.

Kau pun berusaha menguatkan diri. Kau mencoba bertahan sebab ada Kiki—kawan baikmu—yang masih tetap ikut serta dalam acara ini. Kau tahu Kiki yang awalnya bersikap biasa saja, akhirnya juga ikutan jengkel dengan sosok Faisal setelah kejadian malam itu. Kau lalu berpikir, jika beban dan kesulitan itu ditanggung bersama pasti akan terasa lebih enteng. 

*

Kau sedang membagi-bagikan kotak—yang berisi tiga macam kudapan dan air mineral gelas—kepada para tamu yang hadir di Masjid Al-Barokah. Acara peringatan maulid itu akhirnya tiba juga setelah kau jenuh dengan jadwal rapat yang nyaris selalu ada pada setiap malam. Meski penutupan acaranya masih sekitar 3 atau 4 jam lagi, kau berkata kepada dirimu sendiri bahwa acaranya sebentar lagi akan selesai. Bersabarlah, Rud.

Begitu selesai membagikan penganan itu, kau menghampiri Kiki, yang sedang menjalankan tugasnya sebagai seksi dokumentasi—memotret para hadirin dan acara yang sebentar lagi akan berlangsung.

“Ini nanti kalau acara maulidnya udah selesai dan sukses, pasti yang dapat pujian dari Bang Arif si Faisal kunyuk,” ujarmu kepadanya dengan setengah berbisik.

Kiki pun berhenti memotret, mengalungkan DSLR-nya, menoleh kepadamu, serta menimpali kalimatmu, “Emang kau juga pengin dapat pujian, Rud? Kalau kerja yang ikhlas, kek.”

“Bukan begitu. Tapi dia tuh enak banget jadi ketua. Kerjanya santai. Bisanya cuma nyuruh-nyuruh anggotanya.”

Dari arah kiri, terdengar seseorang memangil-manggil namamu. Suaranya tidak asing di telingamu. Kau lalu menoleh dan mendapatkan Faisal yang sedang melambaikan tangan.

“Kau sih segala ngomongin dia, Rud. Datang kan tuh orangnya.”

Mau nyuruh apaan lagi sih ini orang?

Kau pun dengan terpaksa menghampirinya.

Faisal ternyata menyuruhmu ikutan mendokumentasikan acara bersama Kiki agar bisa menghasilkan foto yang lebih banyak.

“Kenapa enggak kau sendiri yang memotret, Bang?”

Bukannya menjawab pertanyaan itu, Faisal justru balik bertanya, “Memangnya kau enggak bisa memotret?”

“Kurang jago.”

Akhirnya, Faisal pun menjelaskan bahwa Gani yang bertugas sebagai MC belum juga datang dan entah sedang ke mana karena saat dihubungi nomornya tidak aktif. Barangkali dia melarikan diri, batinmu. Oleh sebab itulah, Faisal kudu menggantikan perannya.

“Kalau kau enggak bersedia, saya cari orang lain lagi nih,” ujarnya.

Tak ingin diremehkan olehnya begitu saja, kau pun menyanggupinya.

Dia kemudian berusaha mengajarkanmu tentang cara mengoperasikan kameranya. Kau sesungguhnya sudah paham tanpa perlu diajari lagi, tetapi rasa isengmu tiba-tiba terbit dan kau penasaran kalimat apa saja yang bakal dia lontarkan.


“Wih, kau disuruh motret juga, Rud?” tanya Kiki begitu kau berjalan mendekatinya.

“Iya, tapi aku enggak sudi pakai kameranya. Tukeran dong, Ki.”

Kiki terkekeh dan geleng-geleng kepala.

Sebelum kalian berpisah untuk menempati spot masing-masing dan menemukan sudut pandang yang berbeda, kau mengisahkan tentang Faisal yang mengajarkanmu cara memotret.

“Konyol juga si Faisal, orang yang pernah menang lomba fotografi di sekolah masih diajarin motret,” ujar Kiki, lalu tertawa.

Kau menempelkan telunjukmu ke bibir dan mengeluarkan bunyi “sssttt”. Sikapmu barusan sangatlah ambigu. Entah itu untuk menyuruh Kiki agar tidak tertawa karena acara maulidnya sudah dimulai atau jangan membahas soal prestasimu di sekolah.


Faisal membuka acaranya dengan salam dan mengajak hadirin membaca Alfatihah, lalu begitu selesai langsung mempersilakan Bang Arif memberikan kata sambutan. Acara sesudahnya pembacaan ayat-ayat suci Alquran dan selawat Nabi Muhammad saw. Saat momen ini, kau memilih berhenti memotret dan memejamkan mata. Kau bermaksud melupakan aktivitas itu sejenak untuk menikmati suara riuh para hadirin yang sedang melantunkan selawat. Hatimu terasa tenang dibuatnya.

Kau kembali memotret ketika selawatan itu telah beralih menjadi ceramah yang disampaikan oleh K. H. Ishak—ayah dari Bang Arif. Beliau mengisahkan perjalanan Nabi Muhammad dari lahir hingga wafat secara ringkas dengan gaya mendongeng. Kau entah mengapa sedih mendengar ulang cerita tentang bagaimana Rasulullah sudah menderita sejak kecil. Dia telah menjadi anak yatim sejak dirinya dilahirkan, lalu pada usia enam tahun tahun juga ditinggal wafat oleh ibunya (Siti Aminah), sehingga harus menjadi yatim piatu. Bahkan dua tahun kemudian, dia mesti kehilangan kakeknya (Abdul Mutholib) pula. Dan seterusnya, dan sebagainya.

Sebelum acara peringatan maulid ini ditutup, penampilan marawis yang sangat ditunggu-tunggu oleh bocah-bocah SD dan SMP pun semakin memeriahkan acaranya. Kau terharu melihat wajah-wajah gembira para bocah itu, terutama saat mereka ikut menyanyikan lagu Annabi.

Annabi Shallu ‘Alaih
Sholawatullahi’alaih
Wayyana lul barokah
Kulluman sholla ‘alaih

Perpaduan bunyi vokal, marawis, tamtam, dan tamborin itu merdu sekali di kupingmu. Kau pun memotret para pemain marawis tersebut beberapa kali. Kau kemudian mengalihkan pandanganmu dan langsung terkejut dengan pemandangan indah yang spontan membuat matamu berkaca-kaca. Dimas—salah seorang tetanggamu yang baru duduk di kelas dua SD dan telah menjadi anak yatim—sedang bertepuk tangan mengikuti permainan marawis. Kau lantas teringat kembali dengan masa kecil Rasulullah.

Sebelum momen bagus dan langka itu lenyap, kau segera membidik kameramu ke arah Dimas. Kau memperbesar jarak pandang kamera itu hingga hanya menampilkan wajah dan setengah badannya. Kau membuat orang-orang di sekitar Dimas blur. Kau tidak terlalu peduli lagi dengan permainan marawisnya. Biarlah itu menjadi tugas Kiki yang membekukan momennya. Kini, yang terpenting bagimu adalah senyuman dan tepuk tangan Dimas. Kau rasanya ingin mengabadikan momen aduhai itu sebanyak-banyaknya. Sekelarnya memotret, kau mencoba melihat hasil jepretanmu. Air matamu yang sedari tadi berusaha ditahan-tahan itu akhirnya menetes juga.

Dalam kondisi sedih bercampur bahagia begini, kau terkenang pula bagaimana Rasulullah wafat dan kata-kata yang diucapkannya: “Umatku” sebanyak tiga kali. Hatimu rasanya bergetar mengingat bagian itu. Bagaimana mungkin, kau yang berusaha memperingati maulid dan berusaha meneladani sifat-sifatnya itu, tetapi masih sering bersikap egois. Kau kembali mengingat kebencian-kebencianmu terhadap Faisal. Sebetulnya, atas dasar apa kau sangat tidak menyukai sosoknya? Apakah hanya lantaran cemburu karena kau merasa tidak percaya diri saat mendekati Vina? Bisa jadi begitu. Kau kini berusaha untuk tidak menyangkal perasaanmu bahwa kau juga menyukainya. Kau lalu berusaha mencari Vina di antara kerumunan.

Selama satu menit pencarian, kau berhasil menemukannya. Dia terlihat paling muda dan bersinar di antara ibu-ibu dan nenek-nenek. Dia juga manis sekali dan cocok mengenakan jilbab biru dongker, baju muslim warna merah jambu, dan bawahan rok hitam. Kau pun diam-diam memotretnya. Sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan, Vina langsung menoleh ke arahmu. Kau memindahkan kamera yang menutupi parasmu, memegangnya sejajar dengan dada, dan tersenyum kepadanya. Vina membalas senyumanmu.


Acara peringatan maulid itu pun rampung juga. Para panitia acara lalu berbagi tugas untuk membersihkan area masjid. Tiga puluh menit berselang, tugas kalian akhirnya sudah betul-betul selesai. Tapi sebelum melangkahkan kaki keluar masjid, kau rupanya masih sempat kena protes oleh Faisal karena tadi yang mengembalikan kamera miliknya bukanlah dirimu, melainkan Kiki. Kau tanpa merasa jengkel—sebagaimana kejadian sebelum-sebelumnya—langsung meminta maaf, memberikan alasan, dan menampilkan senyum terbaikmu.

Di perjalanan pulang menuju ke rumah, Kiki bertanya kepadamu, “Apa, sih, yang membuatmu cengar-cengir begitu, Rud?”

“Enggak ada apa-apa.”

Seandainya di dekatmu saat ini ada cermin, kau rasanya ingin sekali mengaca dan melihat wajahmu sendiri. Kau bertanya-tanya, seperti apa rupamu kala sedang berbahagia?

“Tadi waktu diceramahi si Faisal kau juga tampak santai,” ujar Kiki. “Kau lagi kenapa sih, Rud? Pasti ada yang kau sembunyikan, ya?”

Kali ini, akhirnya kau berani menjawab: “Alasan dan rahasiaku tiba-tiba jadi seperti ini, semua ada di kameramu.”

Saking penasarannya, Kiki langsung menyalakan kameranya dan bermaksud melihat galerinya. Foto apa saja yang telah kaupotret. Kau meneruskan langkahmu dan meninggalkan Kiki yang masih berdiri mematung dan tengah sibuk dengan kameranya itu. Sebelas detik kemudian, kau menoleh ke belakang dan melihat Kiki yang posisinya semakin jauh denganmu. Saat itu pula kau berusaha kilas balik semua momen maulid barusan. Kau pun bersyukur bisa menjadi panitia acara peringatan maulid, sebab kegiatan itu seakan-akan telah menggeser cara pandangmu dalam melihat dunia di sekitarmu.

--

PS: Kurang lebih dua minggu silam ada sayembara menulis cerpen dengan tema maulid atau cinta Rasulullah. Penyelenggara itu berniat menjadikannya buku antologi buat sepuluh cerpen terbaik dengan hadiah senilai dua juta rupiah bagi setiap pemenang. Mengetahui informasi itu, salah seorang penulis medioker (sebetulnya disebut medioker saja belum pantas) yang saldo tabungannya kian menipis lantas nekat mengikuti perlombaannya karena tergiur dengan ganjaran uangnya sekalipun dia tidak menguasai tema. Apalagi dia sebelumnya juga tak pernah menulis dengan tema islami. Namun, dia seakan-akan dapat melihat probabilitas kemenangan yang cukup besar dari sedikitnya respons di unggahan lomba tersebut. Lebih-lebih tenggatnya juga terlalu mepet. Paling-paling yang ikutan tidak sampai 50 orang, pikirnya. Belakangan diketahui, total pesertanya nyaris 400 orang, bahkan para senior yang sudah menerbitkan buku juga tak segan-segan mengikutinya hingga menjadi pemenang.

Siapa coba yang tidak tergoda dengan angka segitu? Walaupun sudah memiliki banyak karya, kalau urusan uang mah tetap hantam terus. Peduli setan membiarkan penulis-penulis pemula berunjuk gigi. Meminjam kalimat Eka Kurniawan, mereka adalah raja-raja kecil yang tak mau turun dari singgasananya. Tapi daripada jengkel dengan pemenangnya, bukankah lebih baik penulis medioker itu becermin? Saking terfokus dengan uang, dia sampai-sampai lupa menghasilkan cerita yang asyik dan segar. Dia berharap memenangkan lomba dengan persiapan yang tidak memadai. Berani-beraninya dia baru mulai mengirimkan tulisan saat empat jam sebelum batas pengumpulan. Itu pun dia sempat merasa bersyukur bisa menyelesaikan tulisannya, lalu akhirnya berpartisipasi. Menggarap cerpen dengan terburu-buru lantaran baru mengetahui informasi itu pada hari terakhir dan bermimpi menjadi pemenangnya adalah setolol-tololnya perbuatan.

Tak usah diragukan lagi betapa bodohnya penulis medioker itu. Dia ingin menang dengan mengandalkan keberuntungan saja. Memang, kadang-kadang hal ini dapat terjadi. Tapi seandainya dia betulan menang dan mendapatkan uangnya, dapat dipastikan dia akan menyesal pada kemudian hari, dan mungkin bunuh diri, karena teramat malu karya bobrok semacam itu mendapatkan tempat.

Penulis medioker itu tadinya ingin menghapus cerpen yang gagal dan tidak layak disebut sebagai karya, tapi kini dia sengaja memajang cerpen sampahnya di blog—ditampilkan apa adanya sebagaimana sewaktu dia mengirimkannya tanpa ada penyuntingan lagi. Dia bermaksud mengingatkan dirinya kelak, jangan sampai besarnya hadiah maupun jumlah uang menjadikannya tumpul sehingga menciptakan yang semacam itu lagi. Sebab cerpen yang bagus dan cerpen yang memenangkan perlombaan itu jelas-jelas dua hal yang berbeda.