Sudah setahun belakangan ini saya heran dengan sistem pelayanan di warteg dekat rumah. Orang yang duluan dilayani oleh penjualnya itu yang mana, sih? Selama ini yang saya tahu, di tempat makan mana pun, orang yang pertama datang tentu akan mendapat pelayanan terlebih dahulu. Kemudian disusul oleh orang yang datang berikutnya. Dan begitu seterusnya mengikuti antrean. 

Namun, setiap kali saya membeli makanan di warteg itu pada pagi hari dan suasananya sedang ramai, pasti ada saja ibu-ibu yang menyerobot giliran saya. Biasanya, saya akan mengalah jika cuma 2-3 orang. Saya pun kerap kali menghindar berdebat dengan ibu-ibu. Sebab saya tahu, nantinya persoalan akan panjang dan saya bakalan tetap kalah dan salah, meskipun posisi saya itu benar.

Rasanya, saya sudah terlalu sering memaklumi hal itu. Saya tidak ingin bungkam melulu. Saya harus bertindak. Sayangnya, ketika saya sudah melakukan protes kepada penjualnya, “Mbak, maaf nih ya, yang datang kan saya duluan. Kok malah ibu itu yang dilayanin?” Eh, ibu-ibu yang saya maksud itu segera melirik saya sinis, sedangkan penjualnya hanya diam saja dan tetap melayani ibu-ibu tersebut. 

Saya sudah betul-betul bingung, kenapa saya terlalu sering diselak di warteg itu. Saya sadar sih, saya memang hanya membeli sebungkus nasi megono dengan lauk tempe goreng dan telur dadar—yang harganya tidak lebih dari sepuluh ribu. Tapi, apakah di mata penjualnya ini nilai saya jadi lemah, atau lebih-lebih tidak dianggap sebagai pembeli lantaran hal itu? Lalu, apakah ibu-ibu—yang biasanya membeli banyak sayur dan lauk-pauk—itu harus lebih diutamakan? Bukankah dengan segera melayani sesuai antrean (meskipun saya cuma membeli sebungkus nasi) itu justru urusan jadi lebih cepat dan membuat ruangan sedikit lebih longgar?

Anggaplah penjualnya bingung atau lupa atau tidak memperhatikan siapa yang datang lebih dahulu. Mau bagaimana lagi, antrean di warteg memang tidak beraturan karena posisinya memanjang ke samping, bukan ke belakang. Sehingga penjual biasanya akan melayani orang yang dia pilih secara acak, atau yang berada di hadapannya saja. Tapi ketika ada yang memprotes mengenai antrean itu, mengapa penjualnya justru diam saja? Sekalinya menjawab malah mengeluarkan kalimat pamungkas: “Masnya ngalah dong, kasih cewek duluan.”

sumber: https://pixabay.com/id/hewan-bebek-burung-air-menjalankan-2000586/

Yuhu! Penjualnya sungguh bijak sekali. Saya akan ngalah melulu sampai ibu-ibu di antrean itu habis. 

Ayolah, apa gunanya menuntut kesetaraan gender kalau masih menganut paham ladies first saat mengantre? Beberapa perempuan itu sendiri justru masih merasa kaumnya lemah. Namun, saya memberi pengecualian untuk ibu-ibu hamil dan lansia. Masalahnya, keadaan yang terjadi enggak begitu. Nah, apakah mbak-mbak penjual itu takut dengan kemarahan ibu-ibu yang menyelak antrean karena pelayanannya jadi tertunda? Tapi memang ibu-ibu itu yang salah karena mengambil hak orang lain, kan?

Intinya, lagi-lagi saya gagal memperjuangkan hak saya. Oke, ini kelihatannya mungkin berlebihan karena saya mempermasalahkan sesuatu yang sepele. Tapi, kalau orang-orang terbiasa merampas hal kecil seperti itu, lalu orang-orang memakluminya, bisa jadi suatu hari mereka juga akan mengambil bagian kita yang lebih besar, kan? Apa kita baru akan protes ketika darah sudah telanjur menetes? 

Lalu, pernah juga ada kejadian lain di warteg tersebut. Waktu itu hanya sedikit orang yang mengantre di sana. Kalau tidak salah ada empat orang pembeli termasuk saya. Setelah satu orang selesai dilayani, berarti antrean kan tinggal tiga. Saat itulah ada ibu-ibu yang baru masuk dan antrean kembali menjadi empat. Anehnya, dia bisa langsung mendapatkan pelayanan. Mereka, penjual dan pembeli yang baru datang, pun malah mengobrol akrab tanpa merasa ada yang salah. Saya kala itu cuek saja, sebab sedang santai dan malas berdebat. Toh, posisi antrean saya juga yang paling terakhir. Tapi kenapa pembeli yang lain pun cuma bisa melongo ketika haknya diambil? Saya sungguh tidak mengerti, mengapa penjualnya masih keliru dalam melayani saat sepi begitu? Saya pun menduga kalau ibu yang baru datang itu ialah teman dari si penjual. Begitu kan gunanya orang dalam? Membuat segala urusan menjadi lebih mudah dan cepat.

Akhirnya, saya pun jadi bertanya-tanya begini: Apakah penjual di warteg itu terbiasa memberi pelayanan terlebih dahulu kepada pembeli yang lebih cerewet untuk menghindari keributan? Atau mendahulukan pembeli yang mereka kenal, tetangganya misal? Atau mengistimewakan pembeli yang telah menjadi pelanggan tetap dan gemar memborong dagangan di warteg itu? 

Saya sungguh enggak bermaksud menilai buruk ibu-ibu di tulisan ini. Saya sendiri tentu memiliki ibu. Ibu saya juga seorang penjual, tepatnya pedagang nasi uduk. Tapi begitulah kejadian yang saya tangkap di warteg itu. Memang kebanyakan ibu-ibu yang berbelanja. Saya jarang menemukan bapak-bapak yang mengantre. Otomatis, saya pun pasti bersinggungan dengan ibu-ibu terus. Karena resah akan hal ini, saya bahkan sampai mewawancara ibu saya tentang pelayanan ini. 

Kesimpulan dari wawancara iseng bersama ibu saya: 

Ibu saya selalu menerapkan sistem siapa yang datang duluan, maka dialah orang yang akan dilayani. Lalu, kala ibu saya bingung dan tidak tahu siapa yang mesti beliau layani karena lupa atau tidak memperhatikan para pembeli yang datang, beliau pasti bertanya, “Tadi siapa yang datang duluan?”

Saya lalu merespons, gimana kalau ada yang ngaku-ngaku gitu dan saling berebut dirinya yang duluan datang? Syukurnya, beliau mengatakan bahwa sejauh ini pembelinya pada jujur dan belum pernah ada keributan semacam itu. 

“Kalau ada pembeli yang buru-buru minta duluan gimana, Bu? Misalnya, dia pakai alasan udah terlambat ngantor atau anaknya mau berangkat sekolah?” 

Lalu ibu saya menjawab, seandainya ada pembeli yang minta diistimewakan begitu, ibu saya menyerahkan keputusan itu kepada pembeli yang tiba gilirannya untuk dilayani. Apakah jatah antrenya boleh diambil yang lain? Jika pembeli itu mengizinkan, barulah ibu saya mulai melayani pembeli yang mungkin sedang buru-buru itu. Nah, berarti telah terjadi kesepakatan dalam hal itu. 

Namun, mengapa saya enggak pernah menemukan hal-hal semacam itu di warteg yang saya maksud ini? Pikiran ini pun lama-lama semakin tidak keruan. Sampai-sampai muncul pertanyaan seperti ini: Apakah penjualnya tahu kalau saya seorang anak dari pedagang nasi uduk dan mungkin dia anggap sebagai saingan? Sehingga dia pun malas melayani saya? Apa saya salah membeli makanan di tempatnya? Toh, saya bayar tunai. Enggak ngutang. Ya, kalau setiap penjual nasi yang menganggap ibu saya saingan berpikir begitu, masa saya harus makan dagangan ibu saya terus? Makan nasi uduk tiga hari berturut-turut saban pagi, pas hari keempat tentu lidah langsung menolak karena bosan. Lagi pula, bukankah rezeki setiap manusia juga sudah diatur oleh Tuhan? Kenapa mesti mencemaskan saingan dengan sikap tolol seperti itu?

Konyolnya, saya mendadak ingat tulisan Pram, “Harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran.” Mau tak mau saya mesti membuang pikiran-pikiran buruk tentang warteg itu. Tapi, pikiran sering di luar kendali. Dan, entah mengapa lama-lama saya jadi malas lagi membeli di warteg itu. Saya ingin pindah ke warteg lain saja. Sialnya, cuma warteg itu yang menjual nasi megono di dekat rumah. Saya belum menemukan menu favorit yang murah itu di warteg lain. Seandainya ada, belum tentu juga rasanya akan lebih enak.

Di tengah kegundahan ini, syukurlah pagi tadi ada kejadian yang menentramkan hati dan pikiran saya akan warteg itu. Mulanya, seperti biasa saat mengantre pasti giliran saya akan diselak oleh ibu-ibu. Kali ini tidak hanya 2-3 orang yang menyerobot antrean, tetapi lebih dari itu dan saya pun malas menghitung berapa banyaknya. Saya sudah menyahut berulang kali untuk minta dilayani kepada penjualnya. Tapi, suara saya seolah-olah tidak terdengar olehnya.

Saya telah menunggu lebih dari 20 menit. Kaki mulai pegal dan perut saya semakin keroncongan. Rasa lapar biasanya membuat saya menjadi orang yang lebih menyebalkan. Saya sudah terlalu kesal akan perlakuan semacam ini. Mau sampai kapan budaya menyerobot antrean ini terjadi? Lebih-lebih berlangsung di dekat tempat tinggal saya. Jika setelah ini saya tetap tidak mendapatkan pelayanan, saya akan protes dengan lebih tegas.

“Ibunya beli apa?” tanya penjual itu kepada ibu-ibu di sebelah kanan saya. 

Asu! Penjual ini lagi-lagi tidak menghiraukan saya. Dia benar-benar membuat saya geram. Tapi, ketika saya sudah ingin melayangkan protes, tiba-tiba ibu-ibu yang di sebelah saya itu bilang, “Maaf, Mbak, saya belakangan aja. Mas ini yang datang duluan.”

Ibu-ibu itu lalu tersenyum dan mempersilakan saya memesan. Hati saya mendadak melunak. Saya segera mengucapkan terima kasih kepadanya. Baru kali ini ada yang menghargai proses mengantre di warteg itu. Walaupun penjualnya tampak sebal akan kejadian barusan dan memasang wajah jutek, saya sudah tidak peduli lagi dan segera menyebutkan menu andalan.

Setelah itu saya membayar dengan uang pas, kemudian pamit Duluan, Bu kepada ibu-ibu yang meredamkan amarah saya. Di jalan menuju rumah, saya kembali memikirkan tindakan ibu-ibu itu. Apa ibu-ibu itu betul tidak ingin mengambil hak orang yang sudah duluan mengantre, atau karena telah membaca raut wajah saya yang menunjukkan kemarahan? Terlepas dari hal itu, kini cara pandang saya kepada kebanyakan ibu-ibu menyebalkan di warteg itu pun perlahan bergeser. Lalu, diam-diam saya berdoa sekaligus berharap semoga banyak ibu-ibu seperti beliau yang sadar betapa pentingnya mengantre.

--

Saya sudah mengirimkan tulisan ini ke dua media daring; yang satu mendapat penolakan seminggu setelah saya kirimkan, yang lainnya sudah hampir dua bulan tidak memberikan jawaban alias kayaknya ditolak juga. Setelah saya baca ulang, saya sadar tulisan ini mungkin kurang cocok disebut esai. Belum pantas terbit di media lain—selain blog ini. Lebih-lebih mereka membayar saya untuk menggerutu. Saya pun mengakui ini semacam bentuk kemarahan saya lewat teks yang telah melalui proses penyuntingan (sebab semua tulisan ini sebetulnya bisa disingkat menjadi satu twit: “Di dekat rumah banyak ibu-ibu kayak tai yang enggak bisa antre! Penjualnya juga sialan karena membela yang salah!”). Sialnya, ada bisikan di hati nurani, Masa bloger tulisannya kayak gitu, sih? Enggak menunjukkan punya kecerdasan dan etika (halah, kentut). Saya akhirnya memilih cara lain supaya marah-marahnya bisa lebih halus dan asyik. Kemudian, keresahan perihal mengantre itu pun ditutup dengan sok-sok berkontemplasi.

Sesungguhnya, dari awal saya memang berniat ingin menuliskannya di blog. Tapi berhubung saya lagi butuh uang, saya pikir kirim ke media bukanlah ide yang buruk. Seandainya nanti dimuat, ya semacam iseng-iseng berhadiah gitulah. Mengingat saya sudah malas dan bingung mau kirim ke mana lagi, jadilah saya taruh di sini saja dan langsung salin-tempel, tanpa perlu repot-repot mengedit lagi. Toh, menurut saya marah-marah di blog seperti ini, meskipun pembacanya tidak seberapa, tentu jauh lebih elegan daripada nyinyir di medsos dengan embel-embel A THREADMakan tuh retweet!