Sehabis mencela atau menghina tulisan liputan orang lain yang jelek, aku mendadak kesulitan saat menuliskan laporan. Apakah tulisan buruk itu dapat menular? Sial! Kalau tahu akan begini jadinya, seharusnya aku tidak perlu repot-repot membaca tulisan itu. Lebih-lebih sampai kelar. Keparat!

Problem utama dalam tulisan liputanku itu ialah kepanjangan. Entah mengapa aku malah ngalor-ngidul di awal tulisan. Apa yang kuketik sudah mencapai 600 kata, tapi aku belum menyinggung apa-apa mengenai brand yang mengajakku bekerja sama itu. Berengsek sekali. Akhirnya, sekitar 400 kata pun aku mesti buang (sebetulnya masih aku simpan di file lain) demi kepadatan tulisan. Setelah itu, ada masalah baru yang muncul: aku selalu tidak sreg ketika membaca ulang, apalagi menerbitkannya.



Lantaran mencerca itu, aku pun jadi takut dikata-katai oleh orang lain bahwa tulisanku itu jelek banget. Sebenarnya itu sudah menjadi hukum alam, sih. Apa yang aku perbuat, tentu ada balasannya. Setiap hal, baik maupun buruk, jelas ada konsekuensinya. Ada risiko yang mesti kutanggung, sekalipun hinaan itu hanya kupendam sendiri dan tidak kutunjukkan kepada orang lain.

Namun, aku sebelumnya enggak pernah bermasalah seperti ini sewaktu menuliskan liputan. Dengan alat bantu: rumus 5W+1H, proses menulis sejauh ini selalu lancar. Meskipun ada masalah, palingan cuma sedikit saja. Kini, aku kudu membahas hal yang tidak kupahami sama sekali. Alhasil, aku jadi merasa kalau gaya menulis dan suaraku di dalam tulisan tersebut sangat kurang. Aku sudah melakukan riset lebih dari sepuluh artikel, aku telah membaca tulisan bloger lain yang juga diundang; tapi tetep saja aku enggak mengerti mau membawa tulisan iklan itu ke arah mana.

Memang, banyak hal yang aku belum ketahui lebih lanjut di bidang teknologi. Sejujurnya, minatku juga kurang ke arah situ. Mungkin kepalaku masih kuat belajar HTML (kode khusus blogspot), masih paham bagaimana cara memasang domain, serta sedikit-sedikit tahu teknik SEO. Tapi kalau sudah menyangkut hal-hal yang lebih dari itu, kepalaku entah kenapa mau pecah. Mesin di dalamnya dipaksakan bekerja lebih ekstra, dan kalau diteruskan bisa korslet. Asap seolah-olah mulai mengebul di atas kepalaku, hingga lama-lama terjadi kebakaran.

Aku mulai mendengarkan musik Mozart demi bisa menyingkirkan rasa takut itu. Lantunan lagu itu perlahan-lahan bisa membuatku lebih percaya diri, rileks, dan cuek. Aku pun kembali menuliskan apa yang kupahami saja. Masa bodohlah kalau penjelasannya masih kurang lengkap. Aku bukan spesialis dalam memberikan tutorial. Biar itu menjadi tugas yang lainnya. Toh, yang penting aku telah jujur dalam menulis. Aku pun sangat bahagia bisa menuliskan pengalaman sekaligus berbagi cerita. Aku tidak mungkin berbagi sesuatu yang diriku sendiri enggak mengerti, kan? Jadinya, aku cukup menuliskan hal-hal yang kuketahui saja. 

Duh, kenapa aku tiba-tiba malah merasa tidak keruan begini? Aku pun enggak sadar sekarang lagi menulis apa sebagai pelarian dari tulisan itu. Terkadang kalau bayaran datang lebih awal sebelum menulis, itu tidak selamanya bisa bikin semangat. Justru ada beban dan takut mengecewakan klien. Apalagi kalau upahnya sudah habis duluan. Ya, yang ada akan semakin lemas kayak sekarang ini. Rasanya aku pun sudah siap jika tidak akan mendapatkan tawaran kerja sama lagi, sebab bisa saja tulisanku kelak tidak memuaskan, atau laporan yang kutulis mundur dari tenggat yang telah disepakati.

Namun kalau aku mendapat bayaran belakangan, pasti ada rasa gelisah saat menanti cairnya. Apalagi terkadang ada klien yang telatnya keterlaluan (dalam pengalamanku selama bekerja sama bisa sampai enam bulan) pasti bikin dongkol. Duh, begini betul cari uang dari menulis. 

Lalu, karena terlalu pusing akan tulisan liputan, lagi-lagi aku lupa untuk ikutan lomba menulis. Draf yang sudah sekitar 70% alias hampir rampung, akhirnya jadi sia-sia. Aku enggak tahu kenapa bisa begini bodohnya melupakan tulisanku yang lain. Masa iya aku harus menunggu lomba yang temanya sama lagi, sih? Tahun depan apakah bakal ada lagi dan temanya pasti sama?

Ada apa dengan kebiasaanku menulis belakangan ini, ya Tuhan? Gara-gara fokus mencari uang, kok aku jadi tersendat-sendat begini. Kebiasaanku menulis setiap hari jadi meredup. Aku mulai menunda-nunda lagi. Padahal, kemarin-kemarin aku sehabis membaca tulisan seorang kawan bloger yang keren tentang menulis itu soal kemauan. Dia mengingatkan dirinya sendiri untuk lebih rajin menulis dan tidak menyalahkan keadaan atau kesibukannya. 

Sebetulnya dari dulu pertama kali belajar menulis aku juga sudah banyak membaca kalimat serupa. Menulis itu soal kedisiplinan. Nulis enggak perlu bergantung sama mood. Enggak ada yang namanya writer’s block. Selama manusia masih hidup dan otaknya berfungsi, ide pasti akan selalu ada. Kitanya aja yang mungkin kurang peka. Dan seterusnya, dan sebagainya.

Bagiku, tulisan-tulisan semacam itu cukup menonjok. Aku yang belum memiliki pekerjaan tetap, tapi untuk mengatur waktu menulis pun entah kenapa masih terhitung jarang. Aku pun jadi iri melihat orang lain yang sudah bekerja tetap. Bukan, bukan karena aku masih pekerja lepas atau boleh juga kausebut seorang pengangguran, melainkan aku iri sama cara mereka yang hebat dalam membagi waktu. Kala sedang sibuk-sibuknya, dia masih sempat meluangkan waktu untuk menulis. Sedangkan aku ini apa?

Aku ini terlalu banyak menunda. Kemudian, masih banyak takutnya. Bahkan untuk ikut lomba saja masih sering menyangkal. Padahal kalau aku ikutan, peluang untuk menang tentunya akan terbuka. Walaupun kalau diikuti banyak orang persentase kemenangannya bakalan sangat kecil, tapi itu jelas lebih baik, daripada enggak ikutan sama sekali dan jelas-jelas nol persen? Biar DP rumah saja yang nol persen. Eh, dengar-dengar itu juga omong kosong, ya? 

Aku tidak mengerti mengapa pikiran pas ikut lomba pasti selalu berharap kemenangan. Hmm, mungkin enggak ada salahnya, sih. Cuma hal itu jadi beban tersendiri buatku. Aku sering minder duluan sebelum bertanding. Bukannya menantang diri kalau mampu menulis dengan tema bersyarat, lalu kalau menang anggap saja bonus. Setidaknya, aku tetap bisa mengalahkan diri sendiri. Sayangnya, ini belum ikutan udah suuzan kalau lomba nanti ada pengaturan pemenangnya.

Meskipun kita tahu dan tidak perlu menutup mata, bahwa di dalam setiap hal ada saja bentuk kecurangan. Termasuk dalam perlombaan kayak begitu. Aku pun pernah mendengar beberapa gosip, yang menang katanya temannya sendiri. Hasilnya mungkin nanti bisa dibagi sama juri. Berbicara soal curang, aku pun jadi teringat suatu adegan di film Bad Genius. Salah satu tokohnya jika tidak salah bilang begini, “Kalaupun kamu enggak mau curang, dunia ini nantinya yang bakalan mencurangimu.”

Apakah aku sendiri pernah dicurangi oleh dunia? Lecet-lecet sebab dipecundangi realita pun mungkin sering. 

Kembali ke soal gagal ikut lomba dan kesulitan menyelesaikan tulisan liputan, aku mulai merasa diriku ini enggak pernah menyelesaikan apa pun dalam hidup. Untuk ikutan lomba menulis yang paling simpel saja, diriku masih gagal. Lalu kuliah yang tidak kelar. Kumpulan cerita dari 2015 tentang perjalanan juga berhenti di tengah jalan. Oksimoron sekali. Mau bikin cerita perjalanan yang mungkin bisa menjadi penunjuk jalan, tapi malah tersesat sendiri dalam hidupnya.

Sesudah itu ada proyek cerita bersambung bersama teman, ujung-ujungnya tidak selesai. Lanjut bikin kumpulan cerpen, tapi keburu enggak sabaran dan malah buru-buru menampilkannya di blog. Belum juga dicoba buat kirim ke penerbit, udah jiper duluan cuma lantaran seorang kawan bilang dirinya bukan siapa-siapa—jadi, siapa yang mau baca tulisanmu? Satu-satunya draf novel tahun 2014 yang sudah selesai, malah dihapus hanya karena malu sekaligus jijik saat membaca ulang. Entah mengapa aku langsung merasa dungu, sebab belum bisa menulis dengan rapi, tapi sudah sok-sok bikin novel. Kelewatan sekali waktu itu berani-beraninya menggarap proyek serius, padahal baru sedikit membaca.

Selain yang barusan kusebutkan, mungkin masih banyak banget draf menumpuk yang belum selesai. Intinya, aku tidak akan pernah bisa menjaga fokus tersebut. Rasa-rasanya tidak ada satu pun karya yang berhasil kubuat. Sebuah mimpi sebelum mati untuk menerbitkan minimal satu buku masih jauh sekali kalau begini terus yang kulakukan. Aku benci sekali terhadap penundaan. Aku kesal sama diriku sendiri yang kebanyakan berkomentar dan mengeluh daripada berbuat sesuatu yang positif. Jika begini terus, aku tiba-tiba ingin berantem sama diri sendiri yang keterlaluan goblok ini. Ingin kuhantam dia hingga sadar dan mengerti. Lalu, yang paling bikin aku heran; kenapa sisi lain diriku yang benar, baik, ataupun bijak itu enggak pernah muncul untuk sesuatu yang lebih serius?

sumber: https://pixabay.com/id/anak-laki-laki-orang-orang-cermin-69723/


Kenapa di saat sendirian tengah malam dan bersedih begini dia baru hadir buat menegurku lewat tulisan tidak jelas semacam ini? Kenapa? Apa kamu enggak bisa muncul buat selalu mengingatkanku ketika aku lagi malas? Mengapa kala aku leyeh-leyeh, sisi baiknya juga ikut tertidur? Lalu pas merenung atau menyesal baru dia bangun. Mengapa? Hei, jawab! Jangan buat aku nelangsa begini. Jangan buat dadaku sesak lagi karena setiap kali ingin menangis, tapi tak ada satu pun air mata yang menetes. Aduh, aku semakin terlihat sebagai pecundang kalau begini terus. Setelah mengeluh begini, kuharap kau segera bangun setiap kali kubutuhkan, wahai aku yang lain. Misalnya, membantuku menyelesaikan tulisan liputan yang kurisaukan pada paragraf pertama.

-- 

Saya menemukan flashdisk berwarna biru di kamar Agus, salah seorang teman. Saat saya iseng membukanya, isinya cuma ada satu file berupa: catatan atau cerpen atau apalah kata yang cocok untuk menyebut tulisan di atas. Ketika membaca tulisan tersebut, saya langsung kaget kalau ternyata Agus ini dapat menulis. Karena ragu-ragu, akhirnya saya bertanya apakah flashdisk itu adalah miliknya. Agus lalu menjawab bukan, mungkin punya kawannya yang ketinggalan. Nama flashdisk itu hanya inisial ASY, sedangkan nama panjang Agus: Agus Putranto. Anehnya, saya dan Agus sama-sama tidak memiliki teman yang berinisialkan seperti itu. Informasi dari file itu pun hanya terbuat pada 1 September 2017 di paling bawah tulisan. Daripada cerita itu mubazir, lebih baik saya taruh saja di sini. Jadi, buat pemilik tulisan ini yang berinisial ASY, maafkan saya yang telah menyuntingnya sesuka hati. Saya cuma bisa mempertahankan judulnya supaya tetap sama, alias saya memang payah ketika bikin judul.