Sepulangnya dari klinik gigi, saya langsung memikirkan beberapa hal hingga sulit tidur. Pertama, upah kerja lepas saya minggu ini langsung habis setengahnya untuk membayar dokter gigi tersebut. Kedua, saya masih harus balik lagi ke sana sekitar 4-5 kali setiap seminggu sekali alias butuh duit banyak. Ketiga, dokter giginya lumayan cantik dan berkacamata pula. Oh, yang terakhir ini jelaslah penting, sehingga saya nggak gondok-gondok amat akan berkurangnya uang dari dompet. 

Enam jam sebelum saya pulang dari klinik gigi, sekitar pukul tiga sore, saya merasakan nyeri yang begitu hebat akibat gigi berlubang. Saya lalu mengobatinya dengan bawang putih. Caranya dengan menghaluskan bawang putih yang ditumbuk dan ditambah sedikit garam, dan setelahnya saya tempelkan pada gigi yang sakit atau berlubang. Saking lelahnya menahan penderitaan, tiba-tiba saya ketiduran sampai pukul lima sore.

Ketika saya terbangun dari tidur, rasa sakitnya mendadak lenyap. Saya yang merasa takut kalau gigi tersebut besok mungkin akan kambuh, sebab ada kerjaan yang mulainya dari pukul enam pagi hingga malam hari, otomatis langung ingin pergi ke dokter gigi saat itu juga. Paling nggak saya ingin konsultasi atau tanya-tanya dahulu, bagaimana baiknya untuk kondisi gigi saya sekarang ini.



Sehabis Magrib saya berniat berangkat, tapi ternyata cuacanya sedang hujan. Mau tak mau saya pun mesti menundanya hingga nanti reda. Karena hujan tak benar-benar berhenti, nekatlah saya berangkat ke klinik gigi dekat rumah gerimis-gerimisan pada pukul tujuh. Saya sudah mencari informasi di internet kalau kliniknya tutup pukul 20.30. Alangkah baiknya saya datang lebih cepat untuk mengantisipasi siapa tahu di sana antreannya sudah panjang.

Sesampainya di sana, terdapat tiga orang yang duduk di ruang tunggu. Saya menebak mereka ialah satu keluarga yang terdiri dari kedua orang tua dan satu anak perempuan kisaran SMA. Mungkin anak itu nggak berani datang sendiri, pikir saya. Resepsionis lantas menanyakan kepada saya, apakah sebelumnya sudah pernah datang. Saya menjawab ini pertama kalinya, lalu ia menyuruh saya mengisi data diri di sebuah buku.

Saya diberikan suatu pilihan, mau ditangani oleh dokter Wulan atau dokter Rani. Awalnya, saya memilih dokter Wulan karena namanya sama dengan personel WIRDY. Saya berpikir siapa tau nanti bisa memperoleh potongan harga ketika membahas soal nama yang sama itu. Oke, ini bodoh sekali dan nggak mungkin. Tapi, setidaknya dengan nama yang sama itu saya bisa mencoba bersikap lebih santai. Anggap saja memang teman saya yang sedang memeriksanya. Sayangnya, resepsionis itu langsung bilang kalau dokter Wulan sedang makan dan di daftarnya masih ada satu pasien. Jadilah saya menjawab, “Ya udah, dokter yang satunya aja biar cepet.”
 
Selagi duduk menunggu giliran karena dokter Rani masih menangani satu pasien, entah mengapa saya kepikiran juga untuk membersihkan karang gigi (scalling). Mumpung lagi di klinik gigi, biar sekalian gitulah. Sebelumnya, saya telah bertanya kepada salah seorang teman yang pernah ke situ. Berapa biayanya dan seperti apa rasa atau prosesnya. Mengingat permasalahan gigi yang bolong ini, saya pun menghubungi teman lainnya untuk bertanya-tanya apakah ada yang pernah menambal gigi. Saya mencoba untuk mengontak mereka mungkin supaya nggak stres. Kelamaan menunggu yang bercampur dengan rasa takut memang suka bikin saya panik dadakan. Mengobrol sering menyelamatkan saya, sebab dapat mengalihkan rasa khawatir yang berlebihan itu.

Lagi asyik-asyiknya mengobrol di WhatsApp, kemudian nama saya dipanggil. Saya pun segera masuk ke ruangan dokter Rani. Dia pun bertanya apa keluhan saya, dan saya tentu refleks bercerita begini: Saya pernah kecelakaan motor dan rahang sebelah kiri saya terkena aspal. Ada salah satu gigi yang sedikit patah. Satu gigi geraham, kan, memiliki mahkota—yang terdiri dari empat bagian. Nah, gigi geraham saya salah satu bagiannya patah dan tersisa tiga. Saya benar-benar nggak sadar kalau patahan tersebut tiba-tiba sudah menjadi lubang dan kini jadinya tersisa dua.

Awalnya gigi itu hanya nyeri dan sakit sedikit kala baru-baru patah dan berlubang. Saya juga nggak kepikiran untuk datang ke dokter gigi. Saya hanya menuruti perkataan Ibu untuk kumur air garam. Gigi itu pun langsung sembuh dan sesudahnya nggak pernah kambuh lagi. Hingga tiga hari lalu, saya mulai merasakan nyeri hebat di gigi itu. Sakitnya bahkan sampai ke kuping. Begitu mengaca, rupanya gigi saya lubangnya sudah semakin besar. Mungkin karena puasa dan Lebaran kemarin saya khilaf kebanyakan mengonsumsi makanan dan minuman manis. Hanya dalam waktu sebulan, lubang itu besarnya sudah parah. Terus saya bingung, kenapa gigi sebelahnya jadi timbul putih-putih, padahal sebelumnya nggak ada? Apakah itu efek gigi yang bolong dan merusak gigi di sebelahnya? 

“Emang kecelakaannya kapan?” tanya Dokter Rani. 

“Udah lama sih, hampir setahun kayaknya,” jawab saya. 

“Kenapa baru datang sekarang?” 

Saya terdiam. Nggak tau harus jawab apa. Nggak mungkin saya menjawab jujur, waktu itu lagi bokek atau sayang duitnya (mending juga buat belanja buku pas ada bazar).

“Ya udah, mending saya langsung periksa aja biar lebih jelas.” 

Selagi dokter Rani mulai memeriksa gigi saya, dia berkata kalau datang ke dokter gigi jangan tunggu sampai sakit. Sekiranya pas mengaca ada gigi yang kelihatan bolong, segera periksa aja. Lebih bagusnya lagi, datang enam bulan sekali. Baik untuk mengecek kondisi gigi ataupun membersihkan karang.

Saya hanya bergeming sebab memang nggak bisa ngomong. Tapi di dalam hati saya bertanya kepada diri sendiri, kenapa saat baru patah saya nggak mau datang? Kenapa baru sekarang? Pertanyaan itu saya ulang terus-menerus, meski saya tahu nggak akan ada artinya lagi. Ya, klise sekali, penyesalan selalu terjadi belakangan. Sekarang gigi geraham yang sedang diperiksa sudah tinggal setengah. Dugaan saya, paling nanti dokternya bilang kalau gigi itu mesti dicabut.

“Yang kamu maksud, gigi muncul putih-putih yang sebelah mana, sih?” tanya Dokter Rani. “Kalau yang belakangnya, itu emang udah muncul lubang kecil.”

Saya lalu memberitahunya “yang ini nih” menggunakan jari telunjuk kiri. 

“Oh, itu mah karang.” 

Dokter Rani kemudian tertawa, sedangkan saya merasa bodoh. Dia lalu bertanya sekaligus menebak kalau saya jarang mengunyah dengan gigi yang kiri karena risih ada yang bolong. Saya mengangguk. Dia pun menjelaskan kalau gigi yang nggak dipakai untuk mengunyah, justru malah cepat timbul karang. Mengunyah harus gantian kiri dan kanan. Jangan cuma sebelah aja.

“Terus gimana dong, Dok? Ini jadinya bisa cabut gigi dan bersihin karang?” 

Katanya, gigi yang lubangnya sudah besar itu masih bisa ditambal. Prioritasnya mending tambal yang bolong ini dulu. Bersihin karang bisa menyusul. Lagian, kalau mau cabut nggak bisa langsung sekarang. Kudu tunggu dua atau tiga hari lagi.

“Beneran masih bisa ditambal?” tanya saya ragu. 

Dokter Rani menjawab bisa, tapi untuk saat ini tambal sementara karena mesti perawatan saluran akar. Tambal permanennya nanti ketika sudah berkunjung 4-5 kali, tepatnya kala kondisi gigi sudah betul-betul layak untuk ditambal. 

Saya lalu nekat bertanya, memang kenapa kalau dicabut? Dia bilang, sayang sama keadaan giginya yang masih bisa diperbaiki. Apalagi gigi itu nggak akan tumbuh lagi. Udah bukan gigi susu. Selama masih bisa tambal, kenapa harus cabut? Selama gigi masih memungkinkan untuk ditambal, maka biasanya akan dilakukan perawatan akar gigi. Gigi saya katanya masih bisa banget untuk dilakukan perawatan. Ya, walaupun lubangnya besar dan harus beberapa kali datang setiap seminggu sekali. Akhirnya, saya bertanya lagi berapa biaya per kunjungan. Saya berterus terang saja soal urusan uang itu. Dia pun menyebutkan harga 200-300 ribu.

“Jadinya mau gimana?” tanya dokter Rani. 

“Gimana baiknya aja deh, Dok.” 

Dokter Rani tentu memilih menambal sementara gigi saya. Memangnya apa yang bisa saya protes dari pilihannya itu? Nggak ada. Saya hanya bisa bilang oke. Saya saat ini sudah betul-betul pasrah akan ketololan diri sendiri.

Saya ini termasuk orang yang jarang sakit gigi, kecuali saat munculnya geraham bungsu yang pertumbuhannya agak miring waktu itu. Lalu sekalinya sakit, ya, saya selalu pakai cara tradisional: kumur air garam. Tapi harus saya akui, saya memang goblok karena entah mengapa sering merasa takut atau malu setiap kali berniat datang ke dokter gigi. Sekalipun saya rajin menyikat gigi, tapi saya juga terlalu banyak mengonsumsi yang manis-manis (yang mana tidak baik untuk kesehatan gigi). Jadi kala sudah telanjur berlubang begini, saya patuh saja dengan penanganan dokternya.

Saya melihat dia memasukkan jarum panjang dan entah alat apa lagi untuk mengebor dan membersihkan gigi saya yang bolong. Kalau nggak salah, dia sempat bilang itu untuk mematikan syarafnya dulu. Kemudian gigi yang berlubang itu sepertinya diberikan obat atau entah ada bahan-bahan lainnya. Sepuluh menit kemudian, urusan menambal sementara ini sudah kelar. Saya disuruh kumur. Pahit betul. Lidah pun refleks mengecek gigi yang baru saja ditambal itu. Rasanya pun semakin pahit. 

Sebelum saya pulang dan membayar tarifnya, dokter Rani sempat berkata, “Dalam seminggu ini kamu bisa pikirin lagi baiknya gimana. Mau terus datang 4-5 kali untuk perawatan saluran akar supaya nanti bisa ditambal, atau mau langsung cabut.” 

Ini jelas sungguh menjengkelkan. Kalau tahu akan begini jadinya, mending saya datang dari dulu aja. Ketika lubangnya belum terlalu besar. Paling 1-2 kali kunjungan sudah bisa langsung tambal. Lebih bagus lagi, sehabis kecelakaan waktu itu saya nggak cuma urut badan, tapi saya juga periksa gigi. Bedebah. Kenapa baru sekarang, sih? Namun, keluhan-keluhan seperti itu nggak bisa saya ungkapkan kepada dokternya. Saya lagi-lagi cuma bisa menjawab singkat, “Oke, Dok.” 

Totalnya saya kudu membayar hampir Rp.250.000 untuk biaya administrasi, obat penghilang rasa nyeri (jika suatu waktu sakit lagi), dan tambalan sementara.

Begitu sampai di rumah, saya langsung cerita saat proses pemeriksaan di klinik gigi itu, berapa biaya yang saya keluarkan, dan bertanya kepada Ibu baiknya gigi saya ini ditambal atau dicabut. Ibu saya pun tertawa mendengar harganya yang menurut beliau terlalu mahal. Ketika saya kembali meminta saran, beliau hanya menjawab, “Terserah. Duit-duit kamu ini, kan.”

Saya betul-betul galau akan hal ini.

Jika saya memilih menambal gigi berlubang itu, saya takut suatu hari tambalannya akan lepas. Saya sempat baca-baca di internet, sekuat-kuatnya tambalan itu palingan sekitar belasan tahun. Itu pun mesti merawatnya dengan benar. Jangan dipakai buat mengunyah yang keras-keras. Selain itu, entah mengapa ada rasa kurang rela menghabiskan uang untuk masalah gigi seperti ini. Saya pasti menghabiskan duit satu juta lebih untuk 4-5 kali kunjungan itu. Ya, Allah. Sejuta itu banyak! Tentu saya bisa menggunakannya untuk hal lain. Buat makan bisa beli berapa bungkus nasi padang coba? Kalau ke toko buku dapat berapa buah novel? Bisa meet and greet sama Bowo Alpenliebe (anak TikTok) berapa kali tuh?

Seandainya saya cabut, persoalan gigi ini jelas langsung hilang beserta giginya. Enaknya, saya nggak perlu takut tambalan akan lepas. Gigi juga nggak akan kambuh-kambuh lagi. Tapi saya pasti merasa sedih, sebab sudah kehilangan beberapa gigi padahal usia baru 23 tahun. Sejauh ini, ada dua gigi yang lenyap: 1) geraham kiri atas sudah keropos dan nggak tertolong lagi; 2) geraham kanan bawah sudah dicabut sekitar lima tahun lalu (saya lupa karena apa). Apa daftarnya harus saya tambah lagi? 

Menurutmu, gimana baiknya? Tambal atau cabut? 

Namun setelah  membaca ulang dan mengedit tulisan ini, saya langsung pikir-pikir lagi kalau mau mencabut gigi itu. Saya nggak mau cepat-cepat ompong. Lebih baik giginya saya tambal aja. Seenggaknya, saya jadi ada motivasi untuk mencari uang lebih banyak lagi. Lagi pula saya pun jadi bisa bertemu dokter Rani yang uwuwuw (ini apa coba?). Selain itu, ternyata saya juga masih punya pilihan lain: pindah dari klinik gigi ke Puskesmas atau Balkesmas yang kemungkinan biayanya lebih murah. Apa pun pilihan saya kelak, semoga rezekinya selalu ada. Aamiin.

--

Gambar saya comot dari Pixabay.