Mungkin pilihan orangtua itu sebenarnya bagus dan pastinya dilakukan yang terbaik untuk anaknya. Namun, dalam sudut pandang si anak, apakah itu juga bagus dan benar-benar yang terbaik?

Misalnya orangtua yang memilihkan (atau bahkan memaksakan) jurusan kuliah anak perempuannya untuk mengambil Kedokteran. Karena orangtua ini ingin anaknya dapat meneruskan profesinya, yaitu seorang dokter. Sayangnya, anak itu tidak suka dengan dunia kedokteran. Anak itu geli atau takut melihat darah. Anak itu lebih suka jurusan Hubungan Internasional karena hobinya adalah jalan-jalan (traveling). Kalau anak itu tetap dipaksakan untuk mengambil jurusan Kedokteran, takutnya ia tidak bahagia dalam menjalani perkuliahannya. Anak itu jadi sering bolos kuliah, lalu saat tugas akhir semakin kebingungan, atau bahkan berujung DO (Drop Out).

***

Hal seperti itu pun terjadi dalam hidup gue. Dari gue masih kecil, gue merasa orangtua—lebih tepatnya ayah gue—selalu mengarahkan gue ke pilihan yang beliau mau. Iya, gue harus menuruti segala pilihan Bokap. Sejak gue masih SD, Bokap sudah menyarankan atau menyuruh gue ketika lulus nanti masuk pesantren aja ketimbang masuk SMP umum. Gue yang mendengar hal itu pun dengan tegasnya langsung mengatakan, “Ogah!”

Bokap mulai menceramahi gue dengan pergaulan anak SMP yang mulai nggak bener. Beliau juga mulai menceritakan kenakalan-kenakalan yang telah gue perbuat, di antaranya: bukannya berangkat ngaji malah ke rental PlayStation—biasa disingkat PS; main bola nggak inget waktu, kalau belum azan Magrib nggak akan pulang; sering membantah nasihat orangtua dan juga sering meninggalkan salat.

Gue pun mulai berjanji untuk berubah dan nggak akan nakal lagi kalau diizinkan masuk SMP umum dan nggak jadi masuk pesantren (iya, gue tau ini bullshit banget). Syukurnya, Nyokap membela gue dengan pendapatnya.

Nyokap waktu itu bilang, “Jangan dipaksa gitu kalo anaknya gak mau. Lihat noh anaknya Pak Agus (nama disamarkan), keluar pesantren malah kayak orang stres. Keberatan ilmu malah nggak kuat.”

Gue pada waktu itu bahagia sekali karena batal masuk pesantren. Seolah-olah gue merasa terbebas dari vonis penjara seumur hidup. Muahaha lebay anjir. Namun, kebahagiaan itu ternyata hanyalah sesaat. Gue emang nggak jadi masuk pesantren, tapi gue nggak dibolehin masuk SMP yang gue pengin. Bokap berkata, “Kamu NEM segitu sayang banget kalau nggak masuk SMP favorit. Udah SMP N 111 aja, ya.”

Hmm. Gue sadar, sih, waktu itu NEM gue emang paling tinggi di sekolah. Terus kenapa? Apa orang dengan NEM tertinggi wajib masuk SMP yang favorit? Gue rasa nggak. Sedihnya, mau nggak mau gue harus sekolah di SMP favorit itu. Ya, daripada gue masuk pesantren. Nggak ada pilihan lain.

Begitu gue masuk di SMP itu, ternyata bayarannya cukup mahal. Orangtua jadi harus lebih bekerja keras lagi untuk bisa menyekolahkan dan membiayai hidup gue. Lebih parahnya lagi, gue jadi minder ketika berteman dengan anak-anak di SMP itu. Mayoritas dari mereka adalah orang-orang tajir, uang saku sekolahnya aja ada yang sampai 50 hingga 100 ribu. Asli, pada zaman ini (sekitar 2006-2009) duit segitu mah banyak banget. Lah, gue? Uang jajan gue hanya Rp7.000,00 hahaha. Cuma cukup untuk sekali makan dan transportasi (naik angkot).

Kadang gue merasa nyesel sama pilihan Bokap. Kenapa gue jadi semakin ngerepotin orangtua gitu? Iya, soalnya gue merasa standar nilai di sekolah itu ketinggian. Nilai KKM-nya kebanyakan adalah 75, kemudian untuk pelajaran TIK (Teknik Informatika dan Komputer) itu 81. Buseh. Tinggi amat standar nilainya. Gue yang kecerdasannya di bawah standar alias nggak pinter-pinter amat ini pun merasa nggak ada apa-apanya di sekolah. Gue yang dibilang pintar karena mendapatkan peringkat 1 atau 2 saat SD, di SMP malah hampir nggak naik kelas karena banyak yang remedial.

Namun, gue nggak boleh mengecewakan orangtua. Beliau sudah membiayai gue mati-matian, gue pun harus belajar dengan mati-matian. Nggak boleh menyerah sama standar KKM itu. Sampai akhirnya gue bisa beradaptasi sama keadaan di sekolah itu, baik teman-teman yang hidupnya mewah ataupun nilai-nilai yang begitu wah. Alhamdulillah gue bisa naik kelas dan lulus dengan nilai yang cukup baik.

Ceritanya tidak hanya berhenti di sini. Pilihan-pilihan Bokap masih banyak lagi. Begitu lulus SMP, gue masih harus dipaksa mengikuti kemauan beliau. Jujur, gue emang masih bingung waktu itu mau masuk SMA mana. Yang jelas gue tau satu hal: gue pengin masuk ke jurusan Bahasa Indonesia. Celakanya, sekolah yang ada jurusan ini langka banget. Sekalipun ada, itu jauh banget dari rumah. Beda domisili pula. Yah mau gimana, gue nggak bisa mewujudkan harapan itu karena peraturan pada saat itu sekolahnya harus sesuai domisili. Harapan gue pun sirna.

Lagi merenung akan pilihan mau masuk SMA mana, Bokap dan Nyokap mengajak gue berdiskusi.

“Udahlah, kamu masuk SMK aja, ya. SMA nanti harus kuliah lagi. Biaya mahal,” ujar Bokap.
“Iya, Le. Mendingan SMK, nanti kamu bisa langsung kerja setelah lulus. Terus bisa bantu-bantu orangtua deh,” tambah Nyokap.

Gue nggak tau lagi harus ngomong apa. Kali ini, Nyokap juga mendukung pilihan Bokap. Yowes, gue yang memang bingung ini pun mengiyakan keputusan itu. Gue segera mendaftar di SMK negeri yang jaraknya deket banget dari rumah (kira-kira cuma 10 menit kalo jalan kaki). Begitu sampai di sana, gue bingung sama jurusannya. Di sekolah itu ada 5 jurusan: Akuntansi, Administrasi Perkantoran, Pariwisata, Pemasaran, dan Seni.

Pertama gue mau milih jurusan Akuntansi, tapi NEM gue yang pas-pasan itu nggak cukup. Lalu, Administrasi Perkantoran dan Pariwisata memberikan syarat tinggi badan untuk laki-laki 163 cm, sedangkan untuk perempuan 158 cm. Gue waktu itu tingginya hanya 161 cm (iya gue dulu pendek), nggak akan bisa lolos. Masa iya gue harus nyamar jadi cewek dan pake rok, atau malah transgender hanya demi jurusan tersebut? YA, KAGAKLAH. BIAYA OPERASI MAHAL ANJIR!

Akhirnya, pilihan gue tinggal dua; kalau nggak Pemasaran, ya Seni. Namun, gue mulai berpikir kalau masuk jurusan Seni. Gue nggak paham sama sekali soal seni. Satu-satunya seni yang gue bisa hanyalah membuat gambar atau nama sendiri dengan air seni. Iya, melukis dengan aer kencing. Wahaha. Kacau!

Pemasaran, itulah pilihan gue. Sebenernya gue juga nggak begitu ngerti soal pemasaran ini. Temen-temen gue yang SMA pun mulai meledek gue ketika lulus nanti akan jadi tukang sayur, tukang cendol, dan sekeren-kerennya cuma jadi sales. Iya, sales yang berpakaian rapi terus keliling rumah jualan panci atau alat masak.

Cih. Pikiran mereka sempit sekali soal pemasaran. Pemasaran itu luas woy! Padahal, gue pada saat itu juga nggak tau bakal jadi apa nantinya. Menyedihkan. Dengan susah payah gue jalani masa-masa di SMK ini. Sumpah, gue nggak nyangka banget kalau pergaulan di SMP sama SMK ini beda banget. Temen-temen gue di SMK ini pada liar dan nakal banget. Ditambahin brutal dan membuat semua orang menjadi gempar cocok tuh jadi Kera Sakti.

Mereka bener-bener nggak peduli sama PR (pekerjaan rumah). Setiap kali ada PR, mereka hampir nggak pernah mengerjakannya. Pokoknya, anak-anak yang bandel ini sudah terbiasa dengan kelakuannya itu. Kalau belum mengerjakan PR, mereka tinggal berangkat pagi, lalu meminjam buku ke temen yang sudah mengerjakan PR itu. Iya, para anak nakal ini menyalin jawaban teman yang pintar.

Lucunya, begitu kelas 12 gue mulai menikmati sekolah di SMK ini. Gue terkadang atau sesekali juga ketularan temen-temen yang pada males itu untuk mengerjakan PR di sekolahan. Namun, gue gak bisa seperti itu terus. Gue mulai berpikir dan merenung kalau sebentar lagi bakalan lulus. Temen-temen yang males itu pun juga udah berubah. Mereka mulai rajin. Sifat kekanak-kanakan sewaktu kelas 10 dan 11 perlahan mulai hilang. Kemudian jurusan dan temen-temen yang dulunya sempat gue remehkan ini ternyata nggak buruk-buruk amat. Gue suka tingkah mereka yang berisik dan ceplas-ceplos. Gue malah jadi anak yang suka bercerita dan berani ngomong. Padahal mah sebelumnya gue itu pemalu abis. Waktu kelas 10 pas disuruh maju ke depan kelas aja gemeteran. Saat kelas 12, gue udah mulai jago. Bahkan gue sepertinya cocok kalo jadi tukang prospek MLM.

***

Sampai akhirnya waktu itu pun tiba. Gue sudah lulus dan mulai menentukan pilihan hidup mau ke mana. Gue sudah memantapkan diri untuk tidak lagi mendengarkan atau mengikuti pilihan Bokap. Sudah 17 tahun usia gue. Gue sudah bisa memilih jalan hidup sendiri.

Yeah, akhirnya gue pun memilih untuk bekerja setelah lulus. Kampretnya, dua bulan setelah kelulusan gue nggak kunjung dapet kerja. Udah belasan perusahaan yang menolak gue. Gini amat anjis cari kerja. Astagfirullah.

Di saat gue galau akan pilihan ini yang pengin mencoba kerja dan mencari uang sendiri, tapi entah kenapa nggak diterima-terima ini, Bokap kembali menceramahi gue. Dan ujung-ujungnya gue disuruh kuliah. Gue semakin nggak ngerti sama jalan pikiran Bokap. Dulu pas SMP mau ke SMA, gue mendingan masuk SMK aja, katanya biar ketika lulus bisa langsung kerja dan bantu orangtua karena kalau kuliah itu butuh biaya banyak. Giliran udah lulus, gue kok disuruh kuliah. Kan konyol.

Syukurnya dua minggu setelah itu gue diterima kerja di Pusat Pengolahan Data Dokumen Perpajakan. Nggak nyangka banget, seorang Yoga yang lulusan Pemasaran ini malah kerja di perpajakan sebagai data entry. Pilihan hidup gue untuk bekerja ini pun membuahkan hasil.

Namun, dari semua pilihan Bokap yang telah gue ceritakan. Ada satu kisah yang bikin gue belajar banyak dan nggak pengin mengulangi kesalahannya. Itu semua terjadi ketika gue kelas 11 SMK.

***

Saat kelas 11, yang namanya duit itu mah udah seperti gali lubang tutup lubang. Baru dapet pemasukan, langsung deh pengeluaran lagi. Waktu itu, keadaannya terjadi saat gue UTS. Di mana pihak sekolah mewajibkan gue untuk segera melunasi uang gedung yang senilai 1,5 juta. Kalau nggak salah, gue sudah membayar sekitar 700 ribu. Jadi, masih kurang 800 ribu lagi.

Gue dan beberapa teman yang lain nggak boleh mengikuti UTS kalau belum bayaran (seharga 100 ribu setiap bulannya) dan mencicil uang gedung itu. Siswa yang belum bayaran harus memanggil orangtuanya untuk memberikan alasan kenapa belum membayar dan tentunya agar gue bisa ikut UTS.

Pagi itu rasanya tidak dingin seperti biasanya, gue merasa gerah sekali sama peraturan sekolah yang membuat ribet ini. Di saat teman-teman lain sedang mengerjakan soal UTS, gue masih saja berada di luar kelas sedang menelepon orangtua supaya datang ke sekolah untuk mengurus masalah ini.

Setelah menunggu sekitar 20-an menit, akhirnya gue mendapatkan kartu sementara untuk mengikuti UTS. Bokap dengan muka lesu pun mengeluh ke gue, “Bulan kemarin baru bayar 500 ribu, sekarang udah cicil 200 ribu lagi. Tau gitu mah bayarnya nanti aja kalau udah ditagih.”

Gue hanya bergeming. Nggak tau harus jawab apa.

“Ya udah, kerjain UTS yang bener dan jangan lupa berdoa,” kata Bokap, lalu meninggalkan sekolah dan kembali ke rumah.

Gue pun segera ke kelas untuk mengikuti UTS.

***

Setelah kejadian itu, beberapa hari kemudian kerabat jauh Bokap datang ke rumah. Oiya, sebut saja Pak Bambang. Awalnya kami sekeluarga mengira kalau Pak Bambang ini main ke rumah untuk silaturahmi. Sayangnya bukan itu. Pak Bambang memiliki maksud terselubung.

“Anda mau punya rumah mewah? Pengin punya mobil BMW? Atau ingin punya kapal pesiar? Gampang! Hanya tinggal bergabung bersama saya, Anda bisa langsung mendapatkannya dalam waktu 2 tahun. Salam sukses dan sejahtera!”

Muahaha. Kagak-kagak. Nggak gitu, kok. Itu cuma bercanda.

Jadi, Pak Bambang emang sebenarnya mempunyai tujuan lain selain silaturahmi, dia menawarkan asuransi kesehatan untuk kami sekeluarga. FYI, Bokap gue menderita asma sejak gue SMP (ini kalo gak salah sekitar tahun 2007). Entah karena tidak enak menolak tawaran kerabat atau memang bepikir jangka panjang akan risiko itu, Bokap pun memilih untuk berasuransi.

Gue yang saat itu memang mempelajari tentang asuransi di sekolah (walaupun nggak tau banyak), merasa senang karena Bokap sudah menentukan pilihan yang tepat. Tapi ya, rasa senang itu pudar seketika setelah berjalan 6 bulan. Bokap merasa dirinya baik-baik saja dan sehat. Asmanya nggak pernah kambuh lagi. Oleh karena itu, beliau akhirnya bilang ke keluarga (sebenarnya cuma ke gue dan Nyokap, karena adik gue nggak diajak berdiskusi. Dia masih SD dan nggak ngerti apa-apa).

“Kayaknya asuransi ini malah buang-buang duit deh. Bisa cairnya juga masih lama. Ayah juga sehat-sehat aja nih. Nggak akan kepakai duitnya. Mending duitnya dipakai buat kebutuhan lain. Yoga juga sebentar lagi kelas 12, pasti banyak biaya.”

“Ya, terserah Ayah aja,” respons Nyokap yang memang nggak terlalu mengerti pentingnya asuransi.

“Ya udah,” jawab gue pasrah. Padahal di dalam hati merasa keberatan.

Akhirnya, Bokap menghubungi Pak Bambang untuk mundur dari asuransi itu. Bokap mengikhlaskan uang yang sudah masuk. Pak Bambang juga bingung harus menyarankan seperti apa. Pilihan Bokap sudah bulat seperti tahu yang digoreng dadakan dan sedang ngetren saat ini.

Sedihnya, yang namanya musibah nggak pernah ada yang tau. Dua bulan setelah berhenti dari asuransi itu, Bokap malah masuk rumah sakit. Asmanya kambuh dan udah parah banget. Mungkin karena banyak beban pikiran. Dari mulai biaya sekolah gue yang bikin pusing, kebutuhan keluarga, dan pikiran-pikiran yang lain entah apa.


Keadaan waktu itu gawat dan kacau banget. Gue belum bayaran sekolah dan harus cicil uang gedung, biaya rumah sakit mahalnya bukan main, dan tanggal tua belum gajian. Kami sekeluarga pun bingung. Panik banget rasanya. Akhirnya, Nyokap menjual semua perhiasannya (gelang, kalung, dan cincin) itu demi membiayai sekolah gue dan membayar rumah sakit. Perhiasan emas yang tadinya banyak itu, hampir tak bersisa kecuali cincin perkawinan.

Asli, gue sedih banget sama kejadian itu. Gue nggak tahu lagi harus apa. Mau nangis aja rasanya karena merasa nggak berguna dan nggak bisa bantu apa pun selain doa. Gue merasa nyusahin banget. Gue pengin buru-buru lulus dan cari kerja rasanya biar bisa mengurangi beban keluarga. Gue juga merasa kesal sama pilihan Bokap yang berhenti dari asuransi itu. Coba aja waktu itu tetep lanjut, pasti asuransi itu akan ada gunanya. Ya, gue berpikir asuransi itu nggak buang-buang duit. Itu penting banget untuk mengatasi risiko-risiko yang nggak pernah kita duga di kemudian hari.

Alhamdulillah yang namanya kesulitan itu pasti datang kemudahan. Sekitar seminggu dirawat, akhirnya Bokap boleh pulang dan bisa beraktivitas kembali seperti sedia kala. Bayaran sekolah gue dan uang gedung itu juga udah lunas. Gue nggak perlu lagi ribet-ribet ketika UTS ataupun UAS.


***

Ngomong-ngomong soal pentingnya asuransi, gue jadi inget sama seminar yang waktu itu gue ikuti pada tanggal 15 Oktober 2016. Seminar Yuk Atur Uangmu diselenggarakan oleh Sinarmas MSIG Life. Seminar yang dimulai pada pagi hari sekitar pukul 10 ini bertempatkan di Gedung Telkom Menara Multimedia, Kebon Sirih. Serius deh, gue bersyukur banget bisa ikut seminar ini. Karena seminarnya telah memberikan gue wawasan akan perencanaan keuangan yang lebih mendalam. 

Acaranya ini beneran seru banget. Berbeda dengan seminar-seminar yang biasanya bikin ngantuk. Mbak yang berbaju dan berkerudung merah (karena gue lupa namanya) juga melakukan presentasi dengan sangat menarik soal perencanaan keuangan. Gue pun mendengarkan mbak-mbak baju merah ini.

Yang baju merah jangan sampe lolos

Katanya, investasi dan asuransi di masa depan itu penting sekali. Karena kita itu nggak bisa bekerja selamanya. Akan tiba masanya kita menjadi tua dan pensiun. Kita hidup di dunia tuh nggak cuma untuk hari ini aja. Kita perlu memikirkan hari esok atau masa depan. Karena yang namanya sumber dana itu terbatas, tapi kebutuhan dan keinginan manusia tidak terbatas.

Maka dari itu, kita perlu banget membuat perencanaan keuangan. Kita harus menabung untuk kebutuhan jangka pendek, berinvestasi untuk kebutuhan jangka panjang, dan asuransi untuk mengantisipasi risiko keuangan.

Tiga hal ini penting sekali. Menabung itu berguna kalau ada hal-hal yang darurat. Menabung bisa dengan membuat tabungan harian atau deposito. Kalau investasi, tujuannya untuk pertumbuhan aset dan penghasilan pasif (passive income). Kita bisa berinvestasi dengan saham, obligasi, atau reksadana. Bisa juga dengan mengoleksi emas batangan, bisnis properti, dll. Lalu, asuransi itu tujuannya untuk mengantisipasi risiko kematian, risiko kesehatan, risiko harta benda, dan risiko-risiko lainnya. Kita bisa memilih produk asuransi seperti: asuransi jiwa, asuransi kesehatan, asuransi kendaraan, de el el.

Mbak Chika menjelaskan permainannya


Selain materi itu, kami yang ikut seminar juga diajak bermain game. Permainannya mirip banget sama monopoli, cuma permainan ini mengenai perencanaan keuangan: Smart Money. Kami akan mendapatkan peran dengan profesi yang berbeda-beda. Lalu, setiap pemain harus bisa melunasi utang-utangnya dan menjadi kaya seolah-olah sedang mengatur keuangan di kehidupan nyata. Kalau di monopoli ada kesempatan dan dana umum, di permainan ini namanya berbeda. Sayang sekali gue lupa nama sebutannya itu. Lalu, yang dibeli bukanlah negara atau perusahaan listrik dan air seperti permainan monopoli pada umumnya. Di sini, kami membelinya bisnis usaha, saham, dan sejenisnya yang merupakan sebuah investasi dan asuransi. Berkat permainan ini, kami jadi belajar untuk mengalahkan rasa takut dan lebih berani mengambil risiko. Pokoknya asoy banget deh!



Oiya, kembali lagi ke asuransi. Salah satu produk asuransi yang bagus adalah Sinarmas MSIG Life ini. Kenapa Sinarmas? Ya, karena sudah didirikan sejak tanggal 14 April 1985. Kemudian Sinarmas MSIG Life ini adalah anak perusahaan dari PT Sinar Mas Multiartha Tbk. Satu dari enam pilar bisnis Sinar Mas yang menyediakan layanan finansial yang terpadu dan menyeluruh; meliputi perbankan, asuransi, pembiayaan, pasar modal, manajemen aset, jasa administrasi saham, keamanan, perdagangan, serta industri dan teknologi informasi.

Perkembangan Sinarmas MSIG Life didukung oleh kondisi keuangan yang sangat baik, inovasi produk, dan layanan nasabah serta kepemilikan jaringan bisnis yang luas. Hingga tahun 2014, Sinarmas MSIG Life ini telah melayani lebih dari 790.000 nasabah individu dan kelompok di 69 kota. Tersebar di 113 kantor pemasaran dan 10.500 tim marketing. Jadi, Sinarmas MSIG Life ini recommended deh untuk berasuransi.

Gue jadi teringat sama pilihan Bokap dulu ketika SMK yang rasanya agak mengecewakan itu. Gue juga sedih kalau mengingat masa-masa itu. Kenapa beliau berhenti berasuransi dan sampai sekarang juga tidak memikirkan hal itu lagi. Kenapa saat ini nggak memilih untuk asuransi lagi. Atau ya paling nggak investasi apa kek gitu. Entahlah gue kurang paham sama Bokap dan orang-orang yang menganggap asuransi itu buang-buang duit. Buang duit dari mananya coba? Itu kan juga buat kebaikan diri sendiri dalam mengantisipasi risiko di masa depan yang penuh dengan misteri. Sepertinya masih banyak orang yang kurang memedulikan hari esok. Mungkin pola pikir orang-orang itu selalu bilang, “Ah, buat makan aja susah. Ngapain segala asuransi.”

Padahal, kalau saja kita pintar dan bisa mengatur keuangan dengan baik. Gaji untuk kebutuhan hidup dalam sebulan itu pasti masih bersisa. Nah, sisanya itu bisa untuk menabung, investasi, atau asuransi. Lagian, sehat itu mahal tau. Namun kalau berasuransi, pasti sehat itu rasanya jadi lebih murah karena sudah menyiapkannya sejak dini.

Hm... gue pun merenungi hal itu terus-menerus. Tampaknya, gue nggak pengin mengulangi kesalahan Bokap di masa lalu. Gue nggak mau memaksakan anak gue nanti harus jadi apa. Gue harus bisa mendengarkan pendapat anak dan berdiskusi tanpa memaksakan. Tidak perlu mengatur-ngatur atau mengekang secara berlebihan. Selama pilihan dan jalan hidup anak gue itu di jalur yang positif, gue bakalan mendukungnya. Gue pengin dia sukses dengan impiannya sendiri, bukan karena pilihan atau paksaan dari orangtuanya. Gue juga nggak pengin kalau nanti anak gue jadi susah ikut UTS cuma karena belum bayaran sekolah atau kuliah. Gue nggak mau hal itu terulang kembali. Gue tidak ingin mengulangi kesalahan ayah gue itu.

Gue juga pengin nanti begitu udah kerja tetap untuk membuat perencanaan keuangan. Apalagi kalau kelak sudah menikah. Gue pasti akan berdiskusi dengan istri betapa pentingnya perencanaan keuangan untuk masa depan yang lebih baik. Jangan menyia-nyiakan waktu dan uang begitu saja. Harus menyiapkan bekal masa depan agar cerah dan terang benderang.

Yeah, maka dari itu gue mau bilang,





“Yuk, atur uangmu! Mari buat perencanaan keuangan sejak dini agar tidak kesulitan soal uang di hari tua.”

PS: Lagi-lagi kekuatan deadline memaksa gue untuk berpikir lebih kreatif.