GAJI.




Gagal haji. Ng... kayaknya bukan itu deh. Maaf-maaf. Oke serius, gaji itu adalah gangguan jin. Astagfirullah. Makin gak nyambung. Di dalam KBBI, gaji adalah singkatan dari garuk biji. Bentar, KBBI yang gue baca ternyata bukan Kamus Besar Bahasa Indonesia, melainkan Kamus Bokep Bahasa Indehoi. Ya Allah, semakin gak bener ini.

Baiklah, kali ini gue akan serius. Dalam arti sebenarnya, gaji adalah upah kerja yang dibayar dalam waktu yang tetap. Dalam arti lain, sebuah balas jasa yang diterima pekerja dalam bentuk uang berdasarkan waktu tertentu; -- bersih gaji yang diterima oleh pekerja (pegawai) setelah dikurangi potongan; gaji yang dibayar (tunai) setelah dikurangi dengan semua potongan.
 
Ya, untuk orang-orang yang sudah 17 tahun ke atas, rasanya tidak akan asing lagi dengan kata itu (walaupun beberapa di antaranya belum bekerja, setidaknya mereka sudah mengerti).

Gaji merupakan sebuah kata yang bisa membuat orang khilaf begitu menerimanya. Misalnya, kita bisa langsung berbelanja macam-macam barang. Mementingkan keinginan terlebih dahulu daripada memenuhi kebutuhan. Pokoknya empat huruf inilah yang selalu ditunggu-tunggu kedatangannya. 

Giliran gaji aja ditungguin, nanti kalau malah malaikat Izrail yang tiba-tiba dateng, gimana? Mampuslah woy! Segeralah bertobat, kawan-kawan. Ingat, 2,5% dari gaji kalian itu untuk apa? Yak, betul. Untuk dikirimkan ke rekening gue.

Hm... dalam agama gue, 2,5% itu untuk dizakatkan. Ingatlah hak mereka. Sesuai yang tertera di dalam kitab suci:

Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah (zakat) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik. (QS Al Baqarah 267)

Allahu Akbar. Tumben amat gue nulis hal bener begini.

Entah kenapa, tiba-tiba gue merasa resah dengan kata kampret satu ini. Iya, gaji ini emang suka nyebelin. Terkadang juga cuma numpang lewat. Apalagi saat ini gue sedang bekerja mati-matian, tapi gaji yang gue terima ini rasanya tidak sesuai. Untuk lebih jelasnya, mungkin gue akan bahas lain waktu.

Gue merenungi soal gaji ini selama berhari-hari. Kenapa, sih, demi sebuah kata bernama “gaji”, kita merelakan waktu terbuang begitu banyak untuk suatu pekerjaan? Katanya, waktu lebih berharga daripada uang, kan? Mirisnya, kita rela lembur, pulang telat, bahkan ada yang menginap di kantor untuk menuntaskan pekerjaan itu. Kita meninggalkan keluarga (orangtua, istri/suami, anak, serta cucu), tapi itu semua juga demi menghidupi keluarga. Membingungkan banget.

Namun, tidak semua gaji itu harganya pas dengan segala hal yang telah kita korbankan. Masih banyak sekali perusahaan yang membayar karyawannya terlalu murah. Mempekerjakan manusia dengan semena-mena, padahal kan kita ini bukanlah robot. Kita ini butuh istirahat yang cukup.

Rasanya banyak waktu yang terbuang sia-sia demi mendapatkan gaji. Jungkir balik banting tulang sampai tubuh sakit, eh sementara itu upahnya terlalu pas-pasan. Atau bahkan sangat kurang. Sehingga kita perlu mencari tambahan dari kerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Oh, gaji… tolong hargai gue lebih mahal. Gue kerja cari duit, bukan cari penyakit. Oleh karena itu, gue ingin menyimpulkan tentang gaji ini. Jadi, kalau dipikir-pikir sebenarnya sebuah gaji itu memang ditukar dengan harga yang sangat mahal: waktu bersama orang tersayang.

--

PS: Oke, ini mah bukan sekadar kesel sama gaji yang kecil, tapi efek lagi kangen pacar juga sepertinya deh. Kan jadi pengin ngomong sama pacar: Kalau aku udah gak sibuk, nanti kita ketemuan ya, Sayang!

Diketik 10 Oktober 2016. Gue berusaha menyempatkan menulis saat jam makan siang. Maaf jika tulisan ini terlalu pendek dan tidak seperti biasanya. Gue hanya ingin berusaha konsisten update. Sependek apa pun tulisannya.