Serpihan Hati di Kardus Digital

Jika pada akhirnya menimbulkan rasa marah dan sakit, lebih-lebih luka yang tertutup itu malah kembali menganga, seharusnya kardus digital itu tak perlu aku obrak-abrik. 

Ini bermula pada malam jahanam, tepatnya sewaktu aku membuka Google Drive untuk mencari beberapa foto zaman kuliah yang diminta oleh Aldo, teman paling akrab saat di kampus. Aku terpaksa mencarinya di Drive, sebab foto-foto lawas itu sudah lama terhapus di galeri ponselku yang kapasitasnya mudah penuh lantaran hanya memiliki memori internal 16 GB tanpa ada tambahan memori eksternal.

Aku sungguh tak yakin apakah foto-foto itu ada salinannya di Drive. Aku belum membukanya lagi sejak setahun silam. Aku sebetulnya juga bisa saja menyuruh Aldo meminta ke kawan yang lain. Namun, setelah mengingat bahwa selama masa kuliah justru aku yang paling sering menjadi tukang potret mereka, sepertinya memang akulah orang yang paling diandalkan dalam urusan mengarsip foto.

Di dalam kardus digital itu terdapat tumpukan folder: Film, Lagu, Manajemen 608, Perpustakaan Digital, Potret Kehampaan, Tugas Kuliah, dan Wisnu Hidayat. Aku pun langsung membuka folder “Manajemen 608” karena mengira foto-foto itu ada di sana. Di dalamnya terdapat beberapa folder lain, yakni Aib Mahasiswa, Kantin, Kelas, Liburan, dan Wisuda. Aku pun mengeklik satu per satu dan berusaha memperhatikannya secara cermat. Sayangnya, apa yang aku cari itu tak ada di sana. Aneh sekali. Aku lantas coba buka folder lainnya, hingga aku berhasil menemukannya di “Potret Kehampaan”. 

Setelahnya, alih-alih memilah foto-foto tersebut dan segera mengirimkannya kepada Aldo via surel, aku entah mengapa malah iseng membuka folder “Wisnu Hidayat” yang berisi: Ancol, Bandung, Bogor, Dia Manis Hari Itu, Galeri Nasional, Kota Tua, Monas, Puncak, Ragunan, Ulang Tahun, dan Yogyakarta. 

Folder “Dia Manis Hari Itu” jelas menarik perhatianku. Aku segera mengekliknya dan sontak terkejut. Ada 139 foto bersama Julia—mantanku yang terakhir—di salah satu tempat wisata. Dia mengenakan jilbab biru gerau, baju merah jambu, celana denim biru, dan flat shoes hitam. Warna bajunya penuh dengan cinta. Judul folder itu sama sekali tak berbohong. Dia memang manis sekali pada hari itu.



Aku pun mendadak teringat, bahwa foto-foto dia yang dipotret sekitar dua tahun silam itu selalu menjadi jurus andalanku ketika kami bertengkar atau kondisi hubungan mulai memburuk. Mengenang kebersamaan kami pada hari menggembirakan itu, tepatnya menatap wajahnya yang manis, entah mengapa berhasil melunakkan rasa marahku, serta menguatkan hatiku.

Namun, kau tahu, ketahanan setiap orang pasti ada batasnya. Semanis apa pun dia pada hari itu, tak akan bisa terus-terusan menyembuhkan luka batinku yang tak terlihat. Aku pun telah mencium bau-bau patah hati. Tiga bulan terakhir sebelum kami putus, aku terus meyakinkan diri kalau hubungan kami bakal baik-baik saja. Nyatanya, banyak kerusakan di sana sini. Aku terlambat menyadari bahwa hubungan kami telah berada di ujung tanduk. Bertahan tak ada gunanya lagi, sebab kami cuma akan saling menyakiti. Terutama untukku. Tapi bisa juga dia yang merasa paling sakit kalau aku diizinkan mengetahui sudut pandangnya. 

Berbicara soal sudut pandang, dalam sebulan terakhir kami bersama, aku mulai merasakan bahwa dilihat dari sudut mana pun, aku akan selalu salah baginya. Aku mencoba membenahi diri, tapi dia bilang aku terus-menerus memberikan efek negatif. Aku tak tahu mengapa dia tega bilang begitu, padahal aku cuma mau bercerita dengan orang yang aku percaya sekaligus sayangi. Salahkah aku yang ingin berbagi keseharianku dengannya?

Dia menganggap aku gemar mengeluh. Apakah aku memang separah itu? Apakah bukan karena dia memikirkan orang baru? Aku tak bermaksud menuduh, hanya saja aku melihat berbagai kemungkinan. Atau ini efek karena dia sedang kelelahan dengan banyaknya tugas di kantor? Atau mungkin juga dia telah muak menjadi pendengar segala omong kosongku?

Sebetulnya, aku sudah berusaha tak terlalu peduli akan hal semacam itu. Jika dia memang sedang malas menanggapi ocehanku yang dianggap sebagai keluhan, toh aku masih bisa menyiasatinya lewat membuang unek-unek di Twitter melalui akun kedua yang tak diketahui oleh siapa pun, ataupun mencurahkannya di buku jurnal.

Tapi seandainya dia memang lagi capek dan ceritaku berbentuk racun, apa salahnya, sih, dia menyampaikan hal itu kepadaku lebih awal? Aku sungguh bisa mengerti. Itu kan gunanya komunikasi? Namun, dia justru memendam segala keluh-kesahnya itu. Seakan-akan aku cuma bisa bacot, bacot, dan bacot. Tak bisa bertukar posisi menjadi pendengar yang baik.

Ini seakan-akan aku sama saja tidak dipercaya lagi olehnya. Hal itu jelas sangat menyakitkan jika dibandingkan dengan masalah yang aku tebak dia sedang jenuh bersamaku, lalu tak mau mendengar kisah yang menurutnya buruk. Aku tentu saja bisa mencoba menahan diri. Atau seperti perkataannya, berbicara yang bagus-bagus saja. Sialnya, semua problem itu sudah telanjur memuncak akan satu pertanyaan: hubungan kami sedang mengarah ke mana?

Sehabis aku renungi matang-matang, aku lantas memilih pergi. Melupakan janji-janji yang telah kami bangun dan susun. Dia jelas kecewa sekali. Tapi apa boleh buat, aku tak bisa berpura-pura lebih lama lagi akan keraguan yang semakin membesar dan rasa sayang yang semakin memudar.

Aku kemudian mesti siap menerima segala konsekuensi dari pilihan tersebut: dia memblokir kontakku dan berhenti mengikuti media sosial milikku. Aku nanti perlu menemukan orang baru lagi—yang baru memikirkannya saja pasti sudah terasa berat karena aku terlalu pemilih, sehingga jarang sekali menemukan kecocokan atau rasa sreg. Memulai dari awal lagi itu sangat melelahkan. Tapi, aku tak punya pilihan lain selain berpisah dengannya. Itu satu-satunya jalan bagiku untuk bisa lebih bahagia. Untuk lebih semangat menjalani hari.

Omong-omong soal blokir, aku suka kepikiran kenapa sejak dulu sepertinya aku tak pernah diizinkan berkawan dengan mantan. Tak ada satu pun dari mereka yang bisa tetap berhubungan baik denganku. Akses untuk mengetahui kabar mereka selalu ditutup. Sekalinya ada yang tidak memblokirku, aku memang tidak ada keinginan berkawan dengan mantanku yang bernama Sinta itu. Mantan yang sebenarnya menduakanku, tapi seolah-olah merasa sebagai korban. Apalagi dia juga seorang pendendam. Dia sudah punya pacar baru, tapi beberapa kali masih suka menyindirku ini dan itu lewat cuitannya. Kami tentu saja seperti orang asing. Kami berteman di media sosial cuma untuk formalitas, sebab aku tak terbiasa memblokir atau menekan tombol unfollow. Lagi pula kami hanya sebatas memberikan respons remeh, yaitu menekan tombol hati pada beberapa unggahan foto di Instagram. Itu pun lebih sering dia yang memberikannya. Aku, sih, tak terlalu peduli dengannya.

Kembali ke persoalan Julia, kala mengingat semua kenangan manis bersama mantan terakhirku itu, dadaku mendadak sesak. Aku menghela napas dan mengembuskannya perlahan-lahan, tapi perasaan ganjil ini masih tak kunjung lenyap. Aku lalu menelan ludah dan rasanya teramat getir. Aku ingin menangis, tapi seperti yang sudah-sudah, tak ada setetes pun cairan yang jatuh dari mataku. Mungkin mataku sedang musim kemarau.

Jadilah kubiarkan perasaan bedebah itu dan segera menuntaskan tugasku untuk mengirimkan foto yang Aldo minta sebelumnya. Sekitar lima menit kemudian foto-foto itu sudah terkirim, dan aku pun langsung mematikan laptop, lalu beranjak ke kasur.


Keesokan paginya aku terbangun sepuluh menit lebih awal sebelum alarm yang kusetel pada pukul 04.40, sebab sangat terkejut atas apa yang terjadi di dalam mimpi. Aku tak begitu ingat jelas detailnya, tak tahu apakah di mimpi itu kami masih pacaran atau sudah putus, tapi yang jelas Julia pamitan ingin pergi jauh ke suatu tempat, lalu sebelum berpisah dia sempat memberikanku sebuah bingkisan kado, pelukan, dan ciuman perpisahan.

Tanpa sadar aku mengedarkan pandangan ke sekeliling kamarku dan mencari-cari bingkisan kado itu, sebelum akhirnya aku mengerti bahwa itu hanyalah bunga tidur. Lagi pula, selama pacaran selama dua tahunan itu kami tak pernah berciuman. Jadi, aku yakin betul adegan-adegan dalam mimpi itu sangat jauh dari kenyataan.

Aku kembali rebahan, memandangi langit-langit kamarku, dan paras manis Julia sekonyong-konyong kembali hadir di plafon putih itu. Melihat gambaran wajahnya yang sedang tersenyum, aku pun refleks membalas senyumannya.

Seketika itu, aku tak tahu apakah diriku masih setengah sadar atau sudah sadar sepenuhnya, yang jelas aku tak habis pikir karena bisa-bisanya meraih ponsel yang tergeletak di kasur, kemudian membuka aplikasi WhatsApp, mencari nama Julia, dan mengetik begini:

Jul, apa kau pernah merindukanku? Aku semalam baru saja memimpikanmu. Aku tak tahu kenapa saat terbangun tiba-tiba langsung merasa kangen banget. Aku ingin memelukmu sembari meminta maaf. Maaf atas keputusanku buat pergi begitu saja karena aku tak punya cara lain untuk menyelamatkan hubungan kita.

Aku tahu dan sadar diri telah menjadi racun untukmu lewat cerita-ceritaku yang muram serta pandangan kelewat pesimis. Namun, kau harus tahu juga bagaimana aku merasa tak dianggap ataupun tak berharga lantaran kau tidak memercayaiku sebagai seorang pendengar. Aku waktu itu adalah pacarmu, orang yang lazimnya bisa menjadi tempat berbagi suka dan duka. Anehnya, kau dalam beberapa bulan terakhir sebelum putus justru tak mau berbagi kisah keseharianmu denganku lagi. Kau tahu, itu sungguh menyakitkan. Hubungan yang mulai saling tertutup tak akan pernah bisa bertahan lama, Jul. Semestinya kita berdialog, kau merespons kalimat-kalimatku, bukan malah membiarkanku bermonolog.

Aku kini bersyukur berani mengambil pilihan buat pergi dari sisimu. Mungkin aku hanya ingin kau menemukan seseorang yang mampu membuatmu bercerita tentang dirimu tanpa ada keterpaksaan. Lagi pula, aku juga tak yakin dapat melangkah lebih jauh saat itu. Sekarang benar-benar terbukti bahwa aku belum banyak berubah dari titik rendahku. Hidupku masih memble. Tak pantas bersanding denganmu. Jika kala itu kita memaksa buat bertahan, aku yakin diriku cuma bikin kau tambah menderita.

Semoga kau di sana sehat dan baik-baik saja, Jul. Semoga kau selalu bergembira, dan syukur-syukur kau juga sudah menemukan seseorang yang bisa menambah kebahagiaanmu. Maaf dan terima kasih.


Dua menit berikutnya pesanku itu rupanya terkirim dan muncul tanda ceklis biru.

Anjing. Anjing. Anjing. Aku pikir nomorku masih diblokir olehnya. Apakah dia sadar kalau itu aku yang mengirimkannya? Apakah dia masih hafal nomorku? Tai, kenapa aku malah bertanya-tanya begini? Aku langsung menghapus pesan tersebut tanpa berpikir macam-macam lagi.


“Hm, kenapa dihapus? Telat tau, aku udah telanjur baca pesanmu, Wis.”

Mampuslah aku. Dia ternyata masih mengenaliku.

“Setahun lebih tanpa kabar dan tiba-tiba sekarang membicarakan itu semua. Kamu itu sebenarnya lagi kenapa, sih? Kesepian?”

Aku terus-menerus mengutuk ketololanku. Kenapa bisa-bisanya aku luput akan fakta kalau nomorku ternyata tidak lagi dia blokir. Sejak kapan dia membuka blokir itu? Ah, apa pun itu, aku mencoba menarik napas dalam-dalam, membuangnya lewat mulut, dan jariku pun mulai menyusun kalimat.

“Jul, aku benar-benar minta maaf. Aku tadi waktu mengetik itu dalam keadaan setengah sadar. Aku pikir nomorku juga masih diblokir sama kamu. Sumpah, aku enggak ada maksud apa-apa, kok.”

“Kamu mau balikan, Wis?”

Kali ini aku benar-benar tak tahu harus membalas apa.

/2019

0 Comments