Sisi Jahat yang Tersembunyi

Kau ingin mendengar kabar tentang hidupku? Tai, tolong katakan itu sekali lagi agar aku bisa mengumpat yang lebih jahat, tapi aku teramat yakin bahwa kau tak benar-benar mau mendengar cerita hidupku. Kau hanya penasaran, kan? 

Kau kini kembali menghubungiku untuk apa? Merasa bersalah? Mencari pelarian? Lagi kesepian? Atau benar-benar kangen sekaligus merasa kehilangan?




Sejujurnya, aku tak masalah andaikan kau ujuk-ujuk menghilang lagi. Bukankah aku pernah bilang sewaktu awal-awal mendengar ceritamu, sekiranya percakapan kita nantinya berakhir, itu tak apa-apa. Yang penting kau sudah baik-baik saja.

Saat mendengarkan cerita-ceritamu, aku tak pernah punya niat tersembunyi sama sekali. Sejak awal aku juga tak ada harapan lebih selain bermaksud menolongmu. Lalu waktu bergeser, kita lebih sering mengobrol atau bertukar kisah, hingga kau tiba-tiba berkata kita ini saling melengkapi.

Aku tak pernah tahu pandangan kau sebenarnya kepadaku seperti apa, tapi caramu mengekspresikan diri itu terasa sangat berlebihan. Mungkin kau cuma terbawa perasaan. Sekiranya kau memang naksir, aku masih bingung harus bersikap bagaimana. Saking lamanya aku menutup diri, aku sampai lupa bagaimana cara kerja afeksi.

Apa kau ingat saat kubilang jangan menyukai orang yang salah, sebab diriku terkadang suka menyakiti diri sendiri? Yang anehnya kau justru tak keberatan, tak merasa takut, dan entah kenapa malah gantian bercerita bahwa dirimu juga pernah melukai diri sendiri.

Sayangnya, menyakiti diri yang aku maksud lebih ke sisi psikologis atau mental atau hati, sedangkan kau pada tubuhmu. Kau menyilet lenganmu hingga berdarah demi mengalihkan rasa sakit pada batinmu. Bukankah itu tindakan tolol?

Aku masih bingung mengapa kisah-kisah sedihmu justru bikin aku peduli, supaya kau tak melakukan perbuatan bodoh itu lagi. Kini, aku tak tahu apakah saat itu aku berupaya menjadi seorang pahlawan atau benar-benar tak ingin orang yang aku kenal bersikap zalim kepada dirinya sendiri atau cuma kasihan. Aku yang sekarang malah mencoba berasumsi: kau gemar memanipulasi demi mencari perhatian maupun mendapatkan belas kasihan.

Kau tentu paham, kan, bagaimana aku bisa semurka ini dan mengatakan hal-hal buruk kepadamu? Pada malam itu, persisnya saat aku membaca ceritamu yang masih membahas terkait trauma, aku benar-benar tak habis pikir, mengapa kau selalu membandingkan hal-hal yang belum terjadi nanti dengan masa lalu. Kau membuat hatiku remuk karena aku disamakan dengan lelaki sialan yang memberikanmu harapan palsu dan meninggalkanmu ketika kau telanjur menyayanginya.

Apa kau bermaksud balas dendam? Tapi, apa salahku sampai kau jadikan pelampiasan begini?

Sesungguhnya, merasa takut dikhianati lagi itu adalah hal yang wajar, sebab begitulah cara kerja trauma. Masalahnya, kau tuh sebelumnya suka menyuguhkan kata-kata manis, serta mengirimkan emoji hati, peluk, dan cium. Terlebih lagi, kau memberikanku hadiah berupa es krim favoritku, pai susu, dan sweter. Kau secara tak langsung membuatku tertarik untuk mengenalmu lebih jauh. Dan berengseknya, kau mendadak berubah dalam sekejap. Kau berulang kali menghilang. Kau bagai mencari-cari alasan dengan bilang butuh waktu sendiri, dan begitu muncul malah menjelaskan bahwa kata-kata manismu itu cuma lelucon, lantas menghilang lagi, seakan-akan misimu untuk membuatku suka kepadamu telah selesai, dan rasa penasaranmu terhadapku sudah lenyap.

Pendek kata, pertanyaan apa kabarmu barusan itu menunjukkan bahwa kau tak benar-benar peduli terhadapku, Manis. Sekali lagi aku tanya, kau baru menghubungiku lagi setelah sekian lama karena apa? Apakah lantaran ada perlu supaya bisa memanfaatkanku lagi? Mengisi kekosongan ataupun kesepianmu? Atau kau merasa tersakiti sehabis membaca sajak-sajak cintaku yang dungu?

Aku yang sekarang sudah bisa menerima kata-kata manismu itu cuma guyonan sebagaimana yang pernah kau sampaikan pada malam sebelum kau menghilang. Aku juga sedikit-sedikit dapat memahami mengenai ketakutanmu pada hari itu. Sebetulnya, siapa, sih, yang enggak takut atau cemas dengan masa depan? Pada masanya, hampir setiap hari aku sering diganggu oleh gangguan kecemasan biadab itu. Tapi mungkin itu aku yang tolol dalam bersikap karena telah menjalani hidup atau memandang dunia dengan cara yang keliru.

Setelah aku bisa mengontrol diri dengan baik, aku tak pernah takut lagi menyongsong masa depan. Aku berusaha menjalani hidup dengan sebaik-baiknya dan memilih opsi-opsinya berdasarkan kemauanku sendiri, lalu menerima segala konsekuensinya dengan berkata, “Apa pun yang kelak terjadi, ya terjadilah.” Aku mencoba rileks saja, tanpa perlu pusing memikirkan hal-hal buruk, apalagi kalau aku belum mencobanya sama sekali.

Seandainya kau benar-benar telah menyesal dan kini baru merasa kehilanganku, lantas ingin memperbaiki apa yang pernah kau hancurkan, maaf saja aku tak sudi. Aku tak sebaik itu buat memberikan kesempatan kedua. Sekali dikecewakan, aku akan berprinsip untuk pergi dan tak mau menoleh ke belakang. Kuharap kau kini bisa mengerti betapa mengerikannya orang yang pernah kau buat patah hati. Jadi, jangan suka mempermainkan perasaan manusia, Manis. 

Salam,

Sisi Jahat yang Tersembunyi


PS: Jika aku boleh menanggapi pernyataanmu pada hari itu yang berkata pengin mati aja dan bingung menentukan cara untuk mati, aku jadi ingin bilang: Buat apa repot-repot memikirkan berbagai cara untuk mati, jika cukup dengan jatuh cinta kepada seseorang yang tak bisa dimiliki rasanya bagaikan mati terbunuh atau bunuh diri berulang-ulang kali.

--

Sumber gambar: somoskudasai.com

2 Comments

  1. Kalo kata Fahri Skroepp: "Dia cuma becanda, harusnya kamu ketawa, bukan jatuh cinta". Ha ha ha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu admin akun Fahri sialan juga, ya. Kalimat tentang cintanya oke dan cukup menyindir para bucin. XD

      Delete

—Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap sudah blogwalking.