Gula Biang

Catatan awal: Kisah ini sangatlah tidak penting dan hanya berisi percakapan-percakapan goblok sekaligus membosankan. Mungkin cerita ini juga tidak selesai karena masih banyak teka-teki yang belum terjawab. Dengan kata lain: Jangan habiskan waktumu buat membaca cerpen ampas yang tak layak terbit, bahkan sempat ingin dibuang oleh penulisnya.
 
*
 
Yudi tak habis pikir mengapa dia bisa mengeluarkan sisi jahatnya yang tersembunyi dan refleks menuliskan racauan semacam itu. Apakah dia cuma berusaha membuang unek-unek yang selama ini terpendam di hatinya? Dia ingin batinnya terasa lebih plong dan tak ada yang terganjal lagi? Demi menjawab pertanyaan itu, dia pun mengambil ponsel, lalu membuka aplikasi WhatsApp, dan mencoba melihat ulang beberapa percakapannya bersama seorang gadis. 


 
 
*

(28/02/21, 22.49) Ayu Indriani:
Halo, Kak Yudi. Apa kabar? Kakak lagi sibuk banget, kah?

(28/02/21, 22.57) Ayu Indriani:
Kak, aku kangen.

(28/02/21, 23.04) Ayu Indriani:
Balas pesanku dong, Kak. Kak Yudi marah, kah? Please, maafin aku. :(


*

(19/02/21, 19.45) Ayu Indriani:
Kak Yudi enggak kangen apa sama aku?

*


(14/02/21, 08.12) Ayu Indriani:
Kak? Kamu enggak punya pulsa, kah?


*

(11/02/21, 15.51) Ayu Indriani:
Halo, Kak Yudi. Aku pengin curhat deh. Kakak lagi sibuk atau enggak?

*

(05/01/21, 19.03) Ayu Indriani:
Selamat malam, Kak Yudi, apa kabarnya nih?

(05/01/21, 19.05) Ayu Indriani:
Maaf sebelumnya ya, Kak, karena aku mau merepotkan lagi. Semoga Kak Yudi enggak keberatan buat bantu aku. Jadi aku kan dapat tugas mata kuliah Pendidikan Pancasila nih. Nah, aku disuruh pilih di antara tiga judul ini:

1. Menjadi Manusia Indonesia Berdasarkan Nilai-Nilai Pancasila;
2. Menjadi Manusia Indonesia yang Beretika Pancasila;
3. Menjadi Manusia Indonesia yang Berwawasan Pancasila.

Kira-kira bagusan yang mana ya, Kak?

(05/01/21, 20.08) Yudi Aditya:
Alhamdulillah kabarku baik. Kenapa kamu tanya ke aku, Yu? Lebih baik itu berdasarkan pendapat pribadi, kan? Opiniku belum tentu bagus.

Lagian itu temanya oke semua dan tergantung kamu mengolahnya lagi. Tapi kalau memang mau minta pendapatku, aku mending pilih nomor satu karena meliputi semua aspek.

(05/01/21, 20.10) Ayu Indriani:
Ya, mau tanya aja ke Kak Yudi buat pertimbangan gitu. Oke deh, terima kasih ya, Kak. Maaf banget udah mengganggu waktunya.

(05/01/21, 20.11) Yudi Aditya:
Apa yang perlu dipertimbangkan? Gimana kalau aku orangnya enggak mengamalkan nilai-nilai Pancasila?

(05/01/21, 20.13) Yudi Aditya:
Aku pilih nomor 1 karena bahan atau sumbernya banyak. Tapi kalau kamu pengin yang simpel, pembahasan tema nomor 1 ini bakal melebar dan mungkin terasa ribet. Mending pilih yang lain.

(05/01/21, 20.15) Ayu Indriani:
Memangnya kalau pilih yang nomor 1, nanti apa aja, sih, yang bakalan dibahas, Kak?

(05/01/21, 20.17) Yudi Aditya:
Bahas poin-poin Pancasilanya. Yang unsur ketuhanan, kemanusiaan, gotong royong, kerukunan, musyawarah, dan keadilan itu. Lumayan banyak dan ribet, kan?

(05/01/21, 20.18) Ayu Indriani:
Hehehe. Banyak banget itu mah. Ya udah, makasih ya, Kak.

*

(17/11/20, 20.16) Ayu Indriani:
Kenapa ketakutan setelah ditinggal sama dia sangat mengakar ya, Kak? Aku benar-benar enggak bermaksud mempermainkan kamu, aku cuma takut sama seseorang yang baik sama aku, terus nanti ujung-ujungnya bakalan pergi juga.

(17/11/20, 20.25) Yudi Aditya:
Begini ya, kita pasti pernah jadi korban patah hati, entah itu bertepuk sebelah tangan, perselingkuhan, atau dijadikan pelarian maupun pelampiasan. Masalahnya, aku enggak mau hidup dibayang-bayangi masa lalu, makanya mencoba terus berjihad melawan trauma. 

(17/11/20, 20.26) Ayu Indriani:
Hm, begitu ya, Kak? Mungkin aku memang belum siap buat menjalani drama-drama kisah percintaan yang penuh dengan omong kosong ini.

(17/11/20, 20.27) Yudi Aditya:
Omong kosong? Tai ah, memangnya siapa yang memulai drama ini?

(17/11/20, 20.27) Ayu Indriani:
Hahahaha.

(17/11/20, 20.27) Yudi Aditya:
Lah, kenapa ketawa?

(17/11/20, 20.28) Ayu Indriani:
Enggak apa-apa.

(17/11/20, 20.31) Yudi Aditya:
Jadi kamu enggak mau mengakui kalau kamu yang memulai dramanya, Yu? Oke, anggaplah aku yang memulai ini semua. Aku yang salah bisa-bisanya termakan kata-kata manismu. Tapi saat ini, secara enggak langsung aku juga jadi korban, kan? Kamu sadar atau enggak, sih?

(17/11/20, 20.33) Yudi Aditya:
Setelah ini aku akan berusaha buat enggak menyalahkanmu lagi. Biar bagaimanapun, akulah yang mengontrol semua perasaan itu. Seandainya aku enggak tergoda dengan semua permainanmu, mungkin aku bakal baik-baik aja. Paling kamu yang nantinya capek sendiri. Jadi, ya udahlah. Lupakan aja segalanya. Anggap enggak terjadi apa-apa.

(17/11/20, 20.38) Ayu Indriani:
Aku udah baca semua kalimatmu, Kak, tapi aku bingung gimana balasnya. 

(17/11/20, 20.40) Yudi Aditya:
 Enggak usah dibalas. Abaikan aja.

(18/11/20, 05.14) Ayu Indriani:
Maaf ya telat balasnya, Kak, karena akhir-akhir ini jam tidurku perlahan membaik.

(18/11/20, 05.16) Ayu Indriani:
Saat aku menghilang dan bilang butuh waktu sendiri itu, aku berpikir kalau diriku memang takut untuk menyukai maupun disukai seseorang. Entah kenapa aku rasanya masih setrauma itu, Kak. Maaf banget ya sebelumnya.

(18/11/20, 05.19) Ayu Indriani:
Aku tahu setiap orang enggak bisa disamakan, tapi entah kenapa hal-hal semacam suka, sayang, cinta, itu rasanya udah terlalu bullshit buat aku. Makanya, kemarinan aku mungkin agak kaget sama tulisan afeksi yang kamu kirim, Kak. Aku enggak nyangka hampir pergi makan bareng sama Kak Yudi, meskipun ujungnya aku batalin. Aku sendiri juga bingung kenapa tiba-tiba kasih kamu hadiah. Itu sebatas rasa terima kasih karena kamu udah bantuin aku berkali-kali atau memang bentuk rasa suka.

(18/11/20, 05.22) Ayu Indriani:
Pikiranku saat ini lagi semrawut banget. Aku belum bisa atau belum siap lagi aja, dan rasanya lelah banget memulai hubungan baru. Aku terlalu capek dibohongi terus-menerus, ditinggalkan berulang kali, bahkan aku sebetulnya juga malas kenal sama orang baru, yang pada akhirnya mungkin hanya bikin aku kecewa lagi. Aku tahu enggak semua orang kayak begitu, tapi ketakutan di dalam diriku itu mendadak muncul lagi. Ia seperti menggebu-gebu dan enggak mau hilang. Sering bikin aku membayangkan yang buruk-buruk. Saat ini, aku rasanya lebih nyaman sendiri. Maafin aku ya, Kak.


(18/11/20, 05.50) Yudi Aditya:
Ya Allah, pagi-pagi udah sarapan kata cinta begini. Kenyang kagak, mules iya.

(18/11/20, 06.01) Yudi Aditya:
Aku cuma mau tanya, Yu, apakah waktu kita lagi bahas cokelat dan aku bilang, “Cokelat itu penghilang stres. Bisa bikin bahagia,” terus kamu balas “Iya, bener banget. Apalagi sama kamu makan cokelatnya,” itu cuma guyonan?

(18/11/20, 06.02) Yudi Aditya:
Saat aku pengin gantian kasih kamu sesuatu, aku menawarkan kamu mau makan apa ketika kamu kehabisan lauk tengah malam dan biar kamu enggak perlu masak Indomi, terus malah kamu jawab “Mau kamu,” itu juga sebuah kebohongan?

(18/11/20, 06.03) Yudi Aditya:
Lalu, saat aku kirim tulisan tentang ungkapan rasa terima kasih yang mungkin tersirat rasa suka, dan kamu merespons suka banget sama tulisannya beserta emoji hati itu juga bercanda?

(18/11/20, 06.20) Ayu Indriani:
Tolong jangan dibahas lagi, Kak. Iya-iya, aku salah udah bilang itu semua. Aku minta maaf.

(18/11/20, 06.22) Yudi Aditya:
Jadi kamu sebetulnya lagi berusaha membohongi perasaanmu sendiri atau gimana, sih?

(18/11/20, 06.24) Ayu Indriani:
Aku bingung, Kak. Sepertinya aku kemarin cuma terbawa perasaan. Maaf.

(18/11/20, 06.24) Ayu Indriani:
Oh iya, aku mau siap-siap kelas online. Kak Yudi balas aja, nanti kelar kuliah baru aku respons.

(18/11/20, 06.27) Yudi Aditya:
Ya, mungkin saat itu kita memang cuma terbawa perasaan. Tapi, sekarang tuh rasanya jadi serba salah. Ada rasa jengkel juga ketika sadar kalau aku yang udah berusia 25 ini bisa-bisanya tertipu dan dipermainkan sama bocah kuliahan.

(18/11/20, 12.20) Ayu Indriani:
Maaf banget kalau aku bikin Kak Yudi jadi serba salah. Kamu boleh anggap aku jahat, atau hal-hal lain yang membuat Kak Yudi berasumsi bahwa aku jahat. Aku minta maaf ya, Kak. Aku sama sekali enggak ada maksud ke sana. Seperti yang tadi pagi aku bilang, aku masih trauma sama hal-hal yang terkait cinta. Aku benar-benar belum siap. Maaf.

(18/11/20, 13.03) Yudi Aditya:
Anjinglah, kemarin-kemarin di chat, di telepon, di VN habis ngomong apa, sekarang apa. Berengsek juga ya kamu.

(18/11/20, 13.05) Ayu Indriani:
Maaf banget, Kak. Maaf. Maaf. Maaf.

(18/11/20, 13.07) Yudi Aditya:
Sebetulnya sudah dimaafkan, dan mending berhenti minta maafnya. Aku udah capek bacanya. Aku cuma lagi buang unek-unek yang mungkin masih mengendap. Sehabis ini aku enggak akan mempermasalahkan lagi apa yang udah berlalu. Enggak akan ada habisnya juga. Aku yakin diriku pasti juga punya salah, terutama kata-kataku yang jahat, jadi aku pun minta maaf.

(18/11/20, 13.20) Ayu Indriani:
Makasih ya, Kak. Aku habisnya bingung harus minta maaf kayak gimana lagi. Harus balas apa lagi. Aku sama sekali enggak bermaksud nyakitin atau mempermainkan, kok. Intinya, terima kasih, ya, karena udah sering bantu aku ngelarin tugas-tugas kuliahku, terus juga mau mendengarkan cerita-ceritaku. Terima kasih buat kiriman hadiahnya. Makasih juga pokoknya buat hal lain yang mungkin aku lewatkan selama ini.

*

(11/11/20, 14.10) Ayu Indriani:
Maaf ya, aku baru balas.

(11/11/20, 14.10) Ayu Indriani:
Tolong jangan ganggu aku dulu, Kak. Aku benar-benar butuh waktu buat sendiri.

*

(10/11/20, 05.21) Yudi Aditya:
Selamat pagi, Yu. Apa kamu baik-baik aja?

*

(08/11/20, 10.03) Ayu Indriani:
Kak, janjian pergi makan nanti sore kayaknya batal deh.

(08/11/20, 10.35) Yudi Aditya:
Hah, kenapa? Karena kondisinya masih PSBB, terus enggak dibolehin pergi sama orang tuamu?

(08/11/20, 10.37) Ayu Indriani:
Bukan, kok. Ada hal lain.

(08/11/20, 10.38) Yudi Aditya:
Kalau memang enggak bisa, ya udah santai aja. Nanti aja kapan-kapan ketika kamu luang lagi.

(08/11/20, 10.40) Ayu Indriani:
Kak Yudi pernah trauma sama jalan?

(08/11/20, 10.41) Yudi Aditya:
Maksud kamu gimana? Jalan tuh kencan? Atau jalanan karena pernah kecelakaan di daerah itu?

(08/11/20, 10.44) Yudi Aditya:
Kalau aku simpulkan dengan sotoy pertanyaanmu itu, kamu trauma sama jalan karena pernah jatuh di sana, makanya berusaha menghindari jalanan itu, ya? Sejauh ini aku biasa aja, sih. Aku pernah beberapa kali kecelakaan, tapi setelah sembuh mah lewat tinggal lewat.

(08/11/20, 10.51) Ayu Indriani:
*Mengirim pesan suara* (1:48)

(08/11/20, 10.55) Yudi Aditya:
Ya Allah, ternyata traumanya karena kilas balik sama mantan gebetan dan terpicu kenangan-kenangan bersamanya. Hahaha. Kenapa bisa sampai segitunya?

(08/11/20, 11.03) Ayu Indriani:
Aku enggak tahu. Yang jelas, aku enggak pengin pergi ke tempat-tempat yang pernah aku lewatin bareng dia, Kak.

(08/11/20, 11.05) Yudi Aditya:
Hahahaha. Ya udah, mending di rumah terus aja. Lagian masih pandemi. 

(08/11/20, 11.06) Ayu Indriani:
Maaf ya, Kak.

(08/11/20, 11.06) Yudi Aditya:
Oke.

(08/11/20, 11.07) Ayu Indriani:
Kok 'oke' doang? Kak Yudi marah?

(08/11/20, 11.08) Yudi Aditya:
Enggak marah, cuma kesal. Kamu kemarin kelihatannya yang pengin banget pergi, tapi giliran harinya tiba malah yang batalin.

(08/11/20, 11.08) Yudi Aditya:
Besok-besok kamu juga enggak usah ngajak-ngajak lagi mending, Yu, kalau ujung-ujungnya batal karena masalah trauma kayak begitu.

(08/11/20, 11.09) Ayu Indriani:
Tapi aku betulan trauma, Kak.

(08/11/20, 11.10) Yudi Aditya:
Ya, aku ngerti. Tapi aku yakin sampai kapan pun kamu enggak akan sembuh kalau terus-menerus takut begitu. Yang namanya kenangan tiba-tiba muncul mah wajar. Tinggal gimana kita bersikap, bisa mengontrol diri, dan jangan sampai terlarut sama kenangannya.

(08/11/20, 11.11) Ayu Indriani:
:)

(08/11/20, 11.22) Yudi Aditya:
Lalu, kira-kira setelah ini akan bagaimana? Aku melupakanmu dan tidak akan pergi ke mana-mana? Atau bertemu denganmu dalam kenyataan yang pahit, kemudian membuka lagi luka lama yang pernah kujahit?


*


(07/11/20, 17.23) Ayu Indriani:
Aku kan baru bangun tidur nih, Kak. Aku kaget banget bisa mimpiin Kak Yudi. Masa kita tinggal satu rumah di mimpi itu. Hahaha.

(07/11/20, 22.35) Yudi Aditya:
Sori, Yu, baru balas. Aku baru balik keluyuran nih dari sore.

(07/11/20, 22.36) Yudi Aditya:
Tinggal satu rumah gimana? Jadi suami-istri, gitu? Ada-ada aja mimpi kamu.

(07/11/20, 22.38) Ayu Indriani:
Wah, enaknya habis main. Pergi ke mana aja tuh, Kak? Masih Corona juga malah kelayapan. :p

(07/11/20, 22.39) Ayu Indriani:
Aku enggak tahu juga mimpi jelasnya gimana. Sewaktu terbangun langsung buyar semua. Itu aja aku buru-buru chat Kak Yudi mumpung inget. Haha.

(07/11/20, 22.41) Yudi Aditya:
Hm, ini karena udah jenuh banget. Sejak Maret aku di rumah doang kan. Baru kali ini keluyuran. Lagian cuma mampir ke kosan temen. Tadi habis minta film sekalian ngobrol-ngobrol. Setelahnya dia ngajak makan mi Aceh di deket rumahnya, terus pulang deh.

(07/11/20, 22.41) Yudi Aditya:
Itu efek baca tulisan kemarin sampai kebawa mimpi, Yu? 😂

(07/11/20, 22.42) Ayu Indriani:
Entah deh, Kak. Mungkin efek kangen. 

(07/11/20, 22.42) Ayu Indriani:
Hahahaha. Aduh, ini aku random banget tiba-tiba ngomongin kangen.

(07/11/20, 22.43) Ayu Indriani:
Baca kata 'mi Aceh' aku juga jadi pengin masak mi.

(07/11/20, 22.51) Yudi Aditya:
Ciye, kangen.

Jangan makan mi mulu, heh! Mending kamu keluar beli bakso, gule, ketoprak, nasi goreng, atau apa gitu.

(07/11/20, 22.52) Ayu Indriani:
Aku enggak boleh keluar malam, Kak.

(07/11/20, 22.52) Yudi Aditya:
Seriusan? Kan cuma cari makan? Atau orang tuamu memang seprotektif itu?

(07/11/20, 22.53) Ayu Indriani:
Entahlah, Kak. Mungkin karena aku cewek. Tapi kalau perginya sama Kak Yudi kayaknya mah dibolehin.

(07/11/20, 22.53) Yudi Aditya:
Kenapa sama aku dibolehin? Karena aku anak baik-baik? Oke, ini kepedean.

(07/11/20, 22.54) Yudi Aditya:
Tapi aku baru banget pulang, malas keluar lagi, Yu.

(07/11/20, 22.55) Ayu Indriani:
Kalau sama Kak Yudi kan orangnya jelas. Orang tuaku kenal. Ih, enggak sekarang juga lah, Kak. 😂

(07/11/20, 22.56) Yudi Aditya:
Hahaha. Ya udah, kapan-kapan kalau ibumu lagi enggak masak atau lauknya habis, nanti kabarin aku aja. Selama aku luang, bakal aku temenin.

(07/11/20, 22.57) Ayu Indriani:
Besok aja yuk, Kak!

(07/11/20, 22.57) Yudi Aditya:
Seriusan mau besok? Mau ke mana emang, Yu?

(07/11/20, 22.58) Ayu Indriani:
Iya, besok aja. Aku udah enggak betah di rumah. Ada kafe yang mau aku coba gitu, Kak. Kemarinan dapat rekomendasi dari temen kuliahku. Di situ katanya chicken teriyaki-nya enak banget. Terus aku juga mau coba green tea-nya, sih.

(07/11/20, 22.59) Yudi Aditya:
Dasar pecinta green tea. Haha. Kira-kira mau berangkat jam berapa, Yu? Habis Magrib?

(07/11/20, 23.00) Ayu Indriani:
Um, kalau dari sore aja mau enggak, Kak? Biar agak lamaan gitu perginya.

(07/11/20, 23.01) Yudi Aditya:
Berarti sekitar habis Asar atau setelat-telatnya jam empat, ya?

(07/11/20, 23.01) Ayu Indriani:
Boleh, Kak.

(07/11/20, 23.02) Yudi Aditya:
Siplah, Yu. Besok berkabar lagi aja. Aku tidur duluan, ya. Ngantuk banget. Malam, Yu.

(07/11/20, 23.02) Ayu Indriani:
Oke-oke. Selamat malam, Kak Yudi.

*

(06/11/20, 16.35) Yudi Aditya:
Aku habis bikin tulisan buat kamu nih: adityudi.blogspot.com/2020/11/afeksi.html Semoga kamu suka, ya!

(06/11/20, 16.43) Ayu Indriani:
Aw, manisnya. Aku sukaaaa bangeeettt. 💓💗💕😘


*

(01/11/20, 08.30) Ayu Indriani:
Kak, Kak, aku mau cerita.

(01/11/20, 08.35) Yudi Aditya:
Cerita tinggal cerita, ya ampun. Kayak sama siapa aja deh.

(01/11/20, 08.36) Ayu Indriani:
Tapi aku malas ngetik. Hehe. Boleh aku VN aja?

(01/11/20, 08.36) Yudi Aditya:
Monggo.

(01/11/20, 08.41) Ayu Indriani:
*Mengirim pesan suara* (2:48)

(01/11/20, 08.48) Yudi Aditya:
*Mengirim pesan suara* (3:17)

(01/11/20, 08.58) Ayu Indriani:
*Mengirim pesan suara* (4:44)

(01/11/21, 09.05) Yudi Aditya:
Daripada VN begini, teleponan aja mau, Yu?

(01/11/20, 09.06) Ayu Indriani:
Ya udah, telepon aja, Kak.

*

(15/10/20, 01.03) Ayu Indriani:
Kak, masih melek, kah? Aku mau curhat.

(15/10/20, 01.07) Yudi Aditya:
Masih. Malah lagi masak mi nih. Haha. Monggo kalau mau curhat, Yu.

(15/10/20, 01.08) Ayu Indriani:
Ya ampun, kelaperan tengah malam, Kak?

(15/10/20, 01.09) Yudi Aditya:
Biasalah, Yu. Melek malam pasti gampang laper.

(18/10/20, 01.13) Ayu Indriani:
Ini tentang orang tuaku lagi, Kak. Aku sering enggak paham deh, kenapa ada orang tua yang enggak sadar-sadar ketika anaknya malas terbuka sama mereka. Mereka kan harusnya coba komunikasi dan melakukan pendekatan sama anaknya, ya? Bukan malah merasa benar melulu dan ujungnya nyalahin si anak. Gimana aku bisa percaya sama mereka coba? Aku kan capek begini terus, Kak.

(18/10/20, 01.14) Ayu Indriani:
Oh iya, Kak Yudi makan dulu aja.

(18/10/20, 01.15) Yudi Aditya:
Sip. Nanti kubalas.

(18/10/20, 01.25) Yudi Aditya:
*Mengirim pesan suara* (2:26)

(18/10/20, 01.28) Ayu Indriani:
Yah, segala kirim VN. Aku cari earphone dulu, Kak.

(18/10/20, 01.29) Yudi Aditya:
Sori-sori. Aku soalnya lagi malas ngetik, Yu. Haha.

(18/10/20, 01.33) Ayu Indriani:
*Mengirim pesan suara* (3:12)

(18/10/20, 01.34) Ayu Indriani:
Aku sebenarnya pengin sekalian telepon Kak Yudi, tapi takut ibuku kebangun.

(18/10/20, 01.40) Yudi Aditya:
Telepon tinggal telepon, Yu. Memangnya kamar kalian sebelahan?

(18/10/20, 01.42) Ayu Indriani:
Enggak, kok. Kamarku di atas, kamar mereka di bawah. Tapi tetap aja takut ketahuan kalau aku belum tidur.

(18/10/20, 01.42) Yudi Aditya:
Ya, ngomongnya bisik-bisik kayak di VN tadi lah, Yu.

(18/10/20, 01.43) Ayu Indriani:
Ya udah, aku telepon ya.


(18/10/20, 04.28) Yudi Aditya:
Gila, enggak berasa udah mau Subuh. Lama juga ternyata kita teleponan.

(18/10/20, 04.29) Ayu Indriani:
Wah iya, kita teleponan hampir tiga jam, Kak. Haha. 

(18/10/20, 04.29) Yudi Aditya:
Sori ya, kamu jadi enggak tidur.

(18/10/20, 04.31) Ayu Indriani:
Enggak apa-apa, Kak. Aku malah berterima kasih karena Kakak mau mendengarkan ceritaku. Aku jadi lega nih sekarang. Ngobrol sama Kak Yudi seru banget sumpah. Aku jadi enggak sedih lagi. Syukurnya sekarang juga hari Minggu, jadi habis Subuhan bisa tidur deh sampai siang. Sekali lagi, makasih ya, Kak.

(18/10/20, 04.32) Yudi Aditya:
Sama-sama, Yu. Selamat beristirahat ya. 

(18/10/20, 04.33) Ayu Indriani:
Iya, selamat beristirahat juga, Kak Yudi. Jangan lupa Subuhan. 💓

*

Selebihnya, seingat Yudi hanya ada hal-hal manis jika pesan itu ditelusuri lebih jauh. Kala mengenang semua kenangan manis bersama gadis itu, kini Yudi sudah biasa saja. Tak ada perasaan apa-apa. 

Ini sungguh berbeda jauh kondisinya dengan bulan November, sewaktu dia baru saja dikecewakan oleh gadis itu dan merasa begitu tolol. Pada masanya, setiap kali Yudi iseng membaca ulang percakapan mereka, dadanya pasti terasa sesak. Dia berulang kali menghela napas dan mengembuskannya perlahan-lahan demi menenangkan diri. Lalu, saat melihat kalimat-kalimat manis dari gadis berparas jelita itu, Yudi pun otomatis menelan ludah. Pahit sekali. Bagaimana mungkin rasa manisnya mendadak pahit?

Hal itu pun mengingatkannya pada frasa “gula biang”. Bagi Yudi, gadis itu mirip gula biang. Ia memang manis saat dikonsumsi, tapi efek setelahnya akan bikin penikmatnya menderita. Itulah yang terjadi pada dirinya beberapa bulan lalu. Kedekatan Yudi bersama gadis itu terasa nikmat pada awalnya, hingga setelahnya dia mulai terganggu oleh tenggorokan gatal dan batuk yang sangat menyiksa.

Batuk yang mestinya bisa sembuh dalam tiga hari, atau paling lama dua minggu, tapi gadis itu justru membuat Yudi batuk-batuk selama satu bulan lebih. Baguslah Yudi bisa sembuh dari batuk yang merongrong itu. Racauan jahatnya kemarin pun seperti menandakan bahwa dia sudah benar-benar pulih. Dan sebagaimana orang normal pada umumnya, yang pikirannya masih waras, Yudi kini telah sadar dan tak ingin lagi mengonsumsi gula biang.
 
--
 
Sumber gambar: mudanews.com

4 Comments

  1. ini baca chatnya musti bolak balik dan meneliti waktunya ya, bagus kali bentuk ceritanya bang

    duh yang kayak si ayu ini emang bikin luluh lelaki lah kalau modelnya begitu.. biasanya untuk mencegah gula biang ini, saya selalu bersikap acuh..

    Tapi untungnya sih ga pernah ada yang giniin saya :))

    *kabur ke philadephia*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alurnya mundur. Persis kayak baca ulang chat, dari yang terbaru menuju ke yang lama. Toh, tiap ganti waktu juga udah dipisahkan sama tanda bintang. Jadi enggak akan bikin bingung.

      Tokoh cowoknya bego aja, diberikan hal-hal manis langsung ketagihan. Giliran sakit baru sadar deh kalau itu gula biang.

      Delete
  2. Kamu tuh bisaaa aja bikin cerpen yg ga biasa. Pake chat begini, yg awalnya aku agak bingung, tapi kemudian inget, oh iya ini alurnya mundur :D. Jadi ngerti, dan lgs gemes Ama si ababil cewe hahahahha . Kalo aku jd Yudhi, mungkin nomornya lgs aku Block wkwkwkw.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tahun 2017 pernah juga kok, Mbak. Bikin model percakapan begini, dan alurnya saat itu maju. Tapi sudah dihapus dari blog karena dimasukkan ke buku digital. Haha.

      Enggak usah diblokir. Melihat orang menyesal juga bentuk kegembiraan, kok. Secara enggak langsung mirip balas dendam. XD

      Delete

—Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap sudah blogwalking.