Burung Biru Bermata Hijau

“Kau masih belum mengenal arti kesedihan. Sekarang coba rasakanlah kepedihan itu. Perasaan yang ingin kusampaikan padamu. Kini kuungkapkan dengan kata-kata.” —Terjemahan potongan lirik Ikimono-gakari, Blue Bird




--

“Kalau enggak ikutan bahas gaji atau cuan, HP-nya meledak, ya?”

Heru spontan mengakak kencang sekali membaca cuitan Raka Bagoy itu. Sebulan belakangan ini, lini masa Heru memang penuh sekali dengan twit bertemakan gaji, uang, profit, investasi, saham, dan sejenisnya. Seakan-akan hampir semua akun yang dia ikuti ingin menyuarakan opininya terkait hal itu, bahkan berusaha menjadi pakar.

Heru sendiri memilih bisu karena tak berselera. Tak semua topik yang sedang ramai perlu dia suarakan. Dia juga merasa biasa saja setelah mengetahui fakta bahwa penghasilan bulanan segelintir orang bisa seratus kali lipat dari gajinya. Tak ada sedikit pun rasa terintimidasi dalam dirinya. Mungkinkah ini efek dari menerapkan Zen?

Hal ini sungguh berbeda dengan dua tahun silam, ketika Heru masih termasuk golongan manusia yang gampang meledak. Ada sedikit percikan saja, kemarahannya pasti langsung meluap-luap, dan letusan emosinya sulit buat dihentikan.

Perubahan sosok yang tadinya mudah terbakar lantas menjadi kalem itu bermula sewaktu Heru tiba-tiba merasa kosong sehabis mengomentari twit dear cewek/cowok yang disampaikan oleh orang-orang berpengikut ribuan dan sungguh bikin muak itu. Misalnya, “Dear cowok, tolong peka dong, cewek yang mendadak ngambek tuh dia sebenarnya lagi kangen dan pengin dimanja tapi gengsi buat bilang, dan kalian harusnya bisa lebih mengerti kami, bukan malah gantian cuek atau ikutan ngambek.”

Heru ingin muntah kala membacanya, lantas berkomentar, “Kalau kangen mah ngomong, Goblok. Jangan main tebak-tebakan perasaan. Lagian, gengsi-gengsi begitu buat apa, sih? Hidup kok dibikin ribet.”

Sebelumnya, Heru sudah berulang kali berjanji supaya bisa lebih menahan diri, menjaga tutur kalimatnya biar tidak menyakiti manusia lain, tapi pada akhirnya dia butuh sekali memaki. Setelah melanggar janji kepada diri sendiri itu, terbitlah kesedihan yang sulit terjelaskan hingga dia diselimuti rasa hampa.

Meskipun berujung pada kekosongan, mulanya tentu ada perasaan lega bisa mengeluarkan unek-unek yang tertahan dalam dirinya selama ini. Menahan-nahan emosi dan terus menyimpannya di dalam hati tanpa mencurahkannya, konon tak bagus buat kesehatan jiwa. Makanya ada beberapa orang yang perlu curhat intim sama teman, bahkan konsultasi dengan psikiater, menulis jurnal, berteriak di tempat yang sepi pengunjung, menggambar sesukanya, datang ke tempat karaoke—atau malah versi murahnya: menyetel musik dengan telinga yang disumbat earphone, lalu menyanyikan lagu-lagu favorit di kamar sekeras mungkin. Singkatnya, ada banyak cara buat mengekspresikan diri, dan cara paling mudah buat Heru entah kenapa selalu menumpahkan segalanya via teks. Baik itu menulis di jurnal, blog, maupun berkicau di Twitter.

Suatu hari, temannya yang bernama Ismi kebetulan membaca kalimat-kalimat sinis Heru di Twitter dan merespons begini: “Kalau kamu merasa terganggu, kenapa masih dibaca? Langsung aja mute atau blokir.”

Bagi Heru masalahnya tak sesimpel itu. Heru jelas sudah berusaha membisukan maupun memblokir akun yang membuat twit-twit semacam itu dan sangat tak ingin melihatnya, tapi kok rasanya cuitan-cuitan bedebah itu masih terus bermunculan. Tidak habis-habis. Twit dungu semacam itu tidak punah juga. Apakah formula meraih perhatian dan impresi dari pengguna lain dengan cara seperti itu memang lagi musimnya?

Sejak kehadiran akun menfess, alter (lazimnya yang pakai foto aktor maupun aktris Korea), selebtwit yang tergabung dalam grup arisan retwit, orang yang hobi sulap mendramatisir kemiskinan dan gampang kasihan, serta buzzer politik, dia merasa platform itu semakin hari kian terasa bising. 

Heru pun sampai bosan karena sudah terlalu banyak akun yang dia bisukan dan blokir lantaran merasa terganggu oleh cuitan-cuitan tersebut. Heru merasa lebih nyaman membaca twit orang yang bercerita mengenai keseharian mereka, merekomendasikan buku, lagu, film maupun anime, dan menorehkan sajak, ketimbang orang-orang yang berusaha terlalu keras pengin lucu, sok asyik, meraih banyak impresi, dan berujung menjadi pesohor.

Heru sebetulnya mengakui bahwa twit-twit lucu masih dapat menghiburnya beberapa kali—biasanya berbentuk video yang sejak awal sudah kocak, tinggal diunggah ulang, lalu edit sedikit dan tambahkan kalimat “directed by Robert B. Weide”. Tapi, kenapa lelucon-lelucon soal cinta yang hasil pengulangan zaman dulu, apalagi guyonan tentang jomblo, masih didaur ulang lagi sampai hari ini? Guyonan usang itu tak bisa lagi membuatnya tertawa, bahkan menyengir pun tidak.

Walaupun suka jengkel, Heru terkadang masih berusaha memakluminya. Mungkin yang bikin twit itu masih bocah sekolah—atau seperti istilah anak Twitter elite: dedek-dedek bloon askmenfess. Cara berpikir mereka mungkin masih kacau. Perkembangan otaknya belum tumbuh dengan baik dalam memfilter segala sesuatu.

Baguslah sejak pertama kali bikin akun Twitter sekitar sepuluh tahun lalu, tepatnya saat dia masih SMA, Heru tak menemukan akun semacam itu dan ikut-ikutan menyumbang kebodohannya. Masa-masa remaja yang penuh ketololan itu lebih banyak dia habiskan di dunia nyata ketimbang maya, sehingga dia cukup senang bahwa tidak ada rekam jejak buruknya di Twitter.

Kini dia bisa mengetahui adanya akun seperti itu karena suka muncul beberapa kali di lini masanya berkat ada sebagian kawan yang sinis terhadap twit mereka—yang secara otomatis memancing Heru buat ikutan mengejeknya. Sebetulnya sebisa mungkin Heru berusaha untuk menoleransi hal-hal semacam itu. Tapi semenjak muncul twit sok tahu yang memberi unjuk bahwa cewek tuh harus begini, cowok kudu begitu, dan seakan-akan standar mereka adalah yang paling benar, atau dengan kata lain: orang-orang perlu ikutan menerapkan perkataan selebtwit yang meraih banyak retwit, sehingga twit mereka bagaikan petuah atau bahkan tak pernah salah, persis seperti ujaran para motivator yang mengajak kaum buruh menjadi pengusaha daripada menjadi budak gaji, dan ketika itulah dia sangat murka hingga sesosok monster di tubuhnya menguasai dirinya.

Seperti yang sempat disinggung sebelumnya, mengapa Heru bisa meledak dan pada akhirnya justru merasa kosong, inilah yang sebenarnya terjadi:

Sehabis Heru mengejek twit seseorang dengan makian “goblok”, di lini masanya justru muncul lagi selebtwit perempuan yang bikin utas tentang tipe-tipe cowok/cewek idaman seperti apa. Pada salah satu twit itu dia bilang bahwa cowok yang tidak main Mobile Legends, AOV, PUBG, dst. itu punya nilai lebih di mata cewek.

Akibat terlalu sering menahan diri, puncak kesinisan Heru tiba-tiba meletus saat membaca pernyataan tersebut. Heru gemas bukan main sama twit konyol itu sampai-sampai menanggapinya dengan kalimat berikut, “Opinimu enggak valid, Mbak. Tingkat sotoy kamu sudah tak tertolong lagi. Itu dapat datanya dari mana, sih? Apakah sudah pernah riset?”

Heru setengah bercanda saat menyampaikan kalimat itu karena setelahnya dia langsung menambahkan, “Aku tak pernah main gim-gim tai sejenis itu, tapi di mata cewek yang kusukai, aku tetaplah tak terlihat. Mana nilai lebihnya? Yang ada minus.”

Kata-kata itu murni keisengan Heru, bukan sedang mencurahkan isi hati—meskipun pada suatu waktu kondisi itu pernah terjadi pada dirinya, ketika dia tak dianggap sama sekali oleh perempuan yang dia jadikan gebetan.

Sekalipun Heru tidak memainkan permainan semacam itu dan kadang-kadang menghinanya, dia tentu tidak merasa spesial ketimbang cowok-cowok yang memainkannya. Lagi pula, apa asyiknya bikin cewek kesal karena merasa terabaikan, sampai timbul pertanyaan di benak beberapa perempuan: Mengapa banyak cowok lebih pilih gim daripada komunikasi sama ceweknya?

Tanpa harus menjawab pertanyaan barusan, seandainya mau dilihat dari sudut pandang lain, Heru yang tak bermain gim dan konon punya nilai lebih di mata cewek berdasarkan opini sok tahu itu memang tetap tidak terlihat lebih baik dibandingkan laki-laki lain bagi beberapa jenis perempuan. Tampang dan penghasilannya yang pas-pasan itu pasti tak akan masuk kriteria bagi setiap perempuan yang menomorsatukan ketampanan atau kemapanan.

Heru masih tak habis pikir, kenapa orang-orang yang pengikutnya banyak sering sekali didewakan? Opini mereka dianggap selalu benar. Sampai-sampai suatu hari sempat lahir sebuah kalimat sindiran: Mahabenar selebtwit dengan segala bacotnya—atau sebagai alternatif, frasa itu dapat diganti dengan “ribuan pengikutnya” atau “pendukung garis kerasnya”.

Heru sesunguhnya pengin tak peduli terhadap kehadiran mereka. Dia ingin bersikap masa bodoh. Sialnya, kejengkelan dalam dirinya akan terus lahir karena sikap sok tahu mereka akan sesuatu hal entah mengapa muncul sendiri dan tidak sengaja terbaca olehnya. Mungkin saja awalnya niat mereka sekadar berbagi. Namun, begitu pendapatnya mulai disetujui banyak orang atau memperoleh banyak retwit dan pengikut, perangainya langsung berubah. Kebanyakan dari mereka jadi pengin beropini melulu, rajin membuat utas sekalipun yang disampaikannya berupa kebohongan, dan yang paling parah: merasa menjadi seorang pakar dan tak mau mengakui kesalahan, sebab pasti banyak pengikut yang sudi membelanya mati-matian.

Heru rasanya semakin benci dengan para pesohor. Dia bisa-bisa akan bertambah sinis, yang jelas tak baik bagi kesehatan jiwanya. Sampai-sampai kebencian yang sangat meluap itu membawanya pada kekosongan.

Apa aku perlu jeda membuka aplikasi burung biru itu?

Aplikasi Twitter sudah menghilang dari ponsel Heru selama dua minggu. Meski demikian, pada hari-hari tertentu ada saja godaan untuk membukanya lagi lewat web di laptopnya, dan kala itulah Heru kembali terpancing lagi buat mengomentari hal-hal yang dia benci.

Ismi pun membalas lagi kalimat Heru, “Biarkan orang lain berpendapat sesukanya, Her. Bukannya aku pernah menyarankan untuk mute atau blokir mereka daripada kamu sewot terus?”

Heru kali ini membalas twit Ismi dengan bilang supaya dia juga tak ikut campur urusannya. Twit aku, ya suka-suka aku juga, kan? katanya. Atau jangan-jangan kamu ini membela mereka, Mi? Ada salah satu idolamu yang aku sindir dan kamu enggak terima?

“Hah? Aku belain mereka? Buat apa? Aku tuh ngomong begini karena peduli sebagai teman. Aku enggak nyangka kamu memandangku begitu. Aku rasa kamu perlu ke psikiater, Her.”

Hatinya terasa dijotos kencang sekali oleh Ismi lewat kalimat terakhirnya itu. Psikiater? tanya Heru. Apa benar kondisiku segawat itu? Heru berusaha mengelak, memastikan dirinya baik-baik saja, dan gantian ingin menghina Ismi, tetapi saat itulah dia tersadar kalau Ismi telah memblokirnya. Apa pun yang nanti Heru katakan, jelas tak akan terbaca oleh Ismi.

“Karena peduli sebagai teman.”

Kalimat itu membuat Heru termenung lama. Heru pun mencoba membaca ulang belasan twit terakhirnya, yang benar-benar menyiratkan ada yang salah dalam dirinya. Hampir semuanya berbentuk kemurkaan—yang mana merupakan salah satu dari tujuh dosa pokok manusia. Barulah Heru menyadari kesalahannya selama ini.

Benarkah cara untuk menghentikan kesinisanku kepada orang-orang yang aku benci ini cukup dengan berhenti bermain Twitter dan menghapus aplikasinya? Atau aku hanya perlu menerapkan medote berkicau ketika lagi mau saja tanpa menyimak sedikit pun lini masa? Atau aku cuma butuh pelarian ke hal lain demi mengekspresikan diri?

Dari pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan kepada dirinya sendiri itu, Heru akhirnya mengerti bahwa ini semua tentang pengendalian diri. Segala gangguan dari luar pasti tak akan berpengaruh apa-apa jika ada ketenteraman di dalam dirinya. Heru tak ingin jari dan mulutnya jadi kelewat ganas hingga menelan daya pikirnya. Toh, sebagaimana yang telah dia pelajari, kebisingan, kalau tak bisa dibungkam atau diminimalisir, sebaiknya memang diabaikan.

Semenjak itulah dia sedikit-sedikit mengontrol dirinya. Dia mulai membisukan teman-teman yang gemar memprovokasi dan menyebarkan kebencian. Dia memfilter ulang orang-orang yang pantas dia ikuti. Dia juga semakin membiasakan diri untuk menulis jurnal, sehingga kemarahannya bisa tersalurkan dengan baik tanpa harus mengganggu orang lain. Sekalipun suatu hari dia tak sengaja membaca twit-twit yang dia benci, dia menganggapnya hanya angin lewat. Ketenangannya sudah seperti pohon beringin berusia ratusan tahun. Tak akan mudah roboh lagi.


Heru melihat kembali twit-twit yang membahas gaji dan sejenisnya itu. Sementara ini penghasilannya jauh dari kata layak (di bawah UMR karena penyesuaian krisis pandemi), lalu dia belum bisa menginvestasikan uangnya, dan dia bahkan tak paham sama sekali dengan saham. Biarpun begitu, dia merasa hidupnya baik-baik saja.

Heru tahu bahwa ilmu tentang finansial yang mereka sampaikan itu bagus. Tapi dia sungguh tak takut saat berseberangan dengan pendapat ataupun prinsip mereka yang berpengikut banyak itu. Dia jelas tahu apa nilai jual dan pedoman hidup miliknya sendiri, bukan? Heru saat ini hanya heran, mengapa orang-orang kalangan atas itu gemar sekali bilang bahwa para orang miskin adalah pemalas?

Orang yang paling Heru kenal, yakni ibunya sendiri, selalu bangun setiap pukul tiga pagi untuk mencari nafkah. Seperti yang sering orang bilang, untuk sukses kita harus bekerja lebih keras dari yang lain, bangunlah lebih awal ketika orang-orang masih terlelap. Tapi, apakah formula itu benar adanya?

Ibunya sudah bertahun-tahun kerja keras, terlebih saat ini hidup tanpa sosok suami yang mendampinginya sejak ayah Heru meninggal lima tahun silam karena gagal ginjal kronis, kemudian Heru pun terpaksa memilih bekerja dan putus kuliah demi membantu perekonomian keluarga, tapi kenapa perubahan kondisi keuangannya tetap tak terlihat signifikan? Dia sampai hari ini masih tetap hidup pas-pasan. Di mana letak kesalahannya? Apakah dia dan ibunya masih dianggap sebagai pemalas? Apakah metode mencari uangnya salah?

Di sisi lain, Heru mengerti, sangat mengerti, bahwa ada manusia-manusia yang melakukan pekerjaan dengan santai, tapi soal upah bisa 5-10 kali lipat lebih besar. Jadi, bagi Heru sudah teramat usang jika mengatakan bahwa kerja keras dan kerja cerdas adalah rumus agar bisa kaya raya. Toh, sekeras dan secerdas apa pun dia bersiasat dalam mencari rezeki, hidupnya masih saja memble.

Heru paham ada faktor nasib, keberuntungan, privilese, dan lain-lain dalam urusan semacam ini. Enggak ada rumus sukses yang pasti. Motivator yang gemar berkata-kata tentang kesuksesan bahkan terkadang menyesatkan orang lain. Mereka dengan entengnya menyuruh para karyawan untuk berhenti bekerja dan mulai membuka usaha plus iming-iming kutipan Bob Sadino bahwa sekecil apa pun usaha kitalah bosnya, tetapi bagaimana kalau Tuhan menggariskan nasibnya buruk dalam berwirausaha? Siapa yang tahu kalau di luaran sana ada seseorang yang sudah mencoba berbisnis dan terus-menerus bangkrut, hingga tabungannya habis, apalagi sampai berutang ke bank? Bukankah itu berbanding terbalik dengan ucapan mereka? Bukannya untung malah buntung.

Kini Heru berharap semoga orang-orang dari kelas menengah atas ngehe ini pada kemudian hari tidak seenak jidat lagi menghina kaum bawah dengan mental pengemis, pemalas, gemar mengeluh, dan sebagainya. Urus sajalah persoalan masing-masing. Toh, tanpa harus punya gaji per bulan seratus juta, tanpa mengerti apa itu saham, tanpa ada kecemburuan sosial terhadap golongan atas, beberapa kalangan bawah masih bisa menikmati hidupnya, dapat menjalani hari-harinya dengan baik, terus menemukan secercah kegembiraan di tengah berbagai penderitaan, dan seperti judul buku kumpulan esai Dea Anugrah: hidup begitu indah dan hanya itu yang mereka punya.


/2020-2021

10 Comments

  1. Ngeri banget emang tulisan lu Yog. Deep!

    Btw Heru (yang bukan orang itu) mungkin perlu baca buku Mark Manson untuk gimana bersikap bodo amat

    ReplyDelete
    Replies
    1. ((yang bukan orang itu))

      Haha. Nama itu enggak ada sangkut pautnya, kok. Bagusnya sekarang dia juga sudah bisa bersikap bodo amat.

      Delete
  2. sebenarnya banyak sih orang pada era sekarang yang pernah menjadi heru

    ya ada lah masa masa itu...tapi seiring sejalan memang ga baik buat kesehatan jiwa pribadi kalau apa-apa disinisin, walau ya jalur healing masing masing orang atas segala macam pelik dalam hidupnya itu pasti beda beda dan kita ga bisa memaksakan cara kita ke orang lainnya karena belum tentu pas atau cocok...jadi solusinya memang kitanya yang latihan mengontrol diri...seandainya memang ada yang ganjel banget di hati...ga pa pa kita coba tuliskan mungkin salah satunya lewat fiksi hehehhe asal ya memang kita sendiri yang bisa pertimbangkan konsekuensinya ke depan bagaimana

    mudah mudahan orang yang pernah menjadi heru atau masih mengalami kegelisahan seperti heru bisa lekas membaik dan menemukan caranya agar dia bisa hidup dengan hati yang tenang tanpa perlu dijudge yang terlampau kejam oleh lingkup sosial terutama yang tidak kenal kenal banget...


    ya gw ngomong apa sih ahhahah...ga sah ditanggepin serius deng yog, soalnya gw juga bukan pakar masalah ginian...sehari harinya aja masih banyak ribetnya ama kerempongan diri sendiri gw tuh heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih sangat banyak. Sejak pandemi orang-orang sepertinya mencari pelarian dengan marah-marah di medsos. Boro-boro memikirkan lawan bicara yang sakit hati, yang penting bagi mereka mungkin egonya bisa terpuaskan.

      Semoga aja mulai pada introspeksi, Mbak. Termasuk saya yang berusaha menulis ini buat pengingat.

      Sama halnya dengan cerpen ini yang tak perlu dianggap serius.

      Delete
  3. Heru adalah aku di dunia nyata :))

    Pengen bodo amat tapi overthinking :)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya tokoh Heru cukup mewakilkan sebagian orang.

      Delete
  4. Aku juga kadang marah-marah sama pendapat orang di medsos. Tapi ya sekedar marah-marah dalem ati aja, atau biasanya aku lampiaskan ke lawan bicaraku. Biasanya dengan kalimat, "piye sih wong iki? blablabla" dan ditutup dengan kalimat, "yowes lah ya" lalu ketawa.

    Aku pernah berprinsip, selama orang yang mengeluarkan opini yang menurutku salah itu bukan orang sekitarku, aku nggak bakal mendebat. Soalnya percuma. Aku nggak tau latar belakang yang ngetwit, aku nggak tau motifnya, dan lainnya.

    Tapi kalo sesekali buat seneng2 gapapa lah wkwkwkwk. Eh sering juga gapapa deng 🤣 asal ga sampe gedek banget nanggepinnya.

    Keren banget tulisannya mas Yog. Banyak hal-hal yang nampar dan akhirnya bikin kita sadar di sini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kadang percuma. Cuma buang-buang waktu berdebat sama orang asing. Yang penting berani menerima konsekuensinya seandainya diserang sama bala-bala orang yang kamu ejek. XD

      Makasih, Co.

      Delete
  5. Berasa ngerti yg dirasain Ama Heru :D. Sebelnya kalo baca twit2 ga mutu, yg ada memang bikin emosi dan pengen memaki. Mungkin, itu juga alasan, kenapa aku udh lama uninstall Twitter Yog :D. Ga nyaman, dan ga ngerasa isinya berguna :p.

    Drpd emosi dan mempengaruhi mood baca isinya, mnding stop, uninstall dan beralih ke medsos yg LBH fun :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Oh iya, baru ingat kita saling follow dulu di Twitter. Sekarang masih juga, sih, tapi ya Mbak Fanny udah unin pantas lama enggak lihat cuitannya.

      Saya masih butuh Twitter karena suka buang sampah di sana. Kadang sampah-sampah itu bisa diolah lagi jadi cerita di blog. Hehe. Yang penting bisa mengontrol diri aja menyikapi twit mengganggu.

      Delete

—Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap sudah blogwalking.