Sebagian tulisan ini ada yang saya ambil dari jurnal Agustus 2019. Dengan kata lain, saya sedang berusaha merenungi kehidupan memble dalam setahun. 

— 



Selama masa pandemi yang tengah berlangsung hampir enam bulan ini, saya tersadar bahwa ini pertama kalinya dalam hidup saya tak menghasilkan cukup uang untuk diri sendiri. Mari lupakan sejenak perihal memberikan uang bulanan kepada orang tua yang pernah saya lakukan sebelumnya. Bisa bertahan buat diri sendiri aja itu sudah bagus. Sekitar setahun silam, saya sudah berpikir mengenai tahun 2019 merupakan tahun terburuk sepanjang hidup (sebelum akhirnya terkejut dengan kemunculan wabah ini), sebab banyak kejadian yang bikin saya merasa gagal sebagai manusia, serta di mana tawaran pekerjaan lepas lagi surut-surutnya. Saya tentu tak menyangka masa sekarang bisa berkali-kali lipat lebih bajingan ketimbang sebelumnya. 

Sejak saya memutuskan berhenti mengambil pekerjaan bloger dengan meliput acara maupun memasarkan produk (biasanya dengan live twit), lalu hanya mengandalkan tawaran kerja sama di blog, saya akui penghasilan dalam sebulan memang menurun drastis. Saya sengaja meninggalkan dunia bloger yang terlalu berfokus pada uang karena berbagai alasan yang tak perlu disebutkan di sini, tapi yang jelas ada kejadian pada akhir 2018 yang memicu saya buat memilih jalan lain. Jadi, niatnya pada 2019 itu saya akan berusaha mencari pekerjaan tetap di luar tulis-menulis. Saya lantas ingin mengisi blog ini cuma buat berlatih bikin tulisan fiksi, lalu sesekali menerima tawaran kerja sama yang harga dan temanya sesuai. Pokoknya, saya benar-benar tak mau lagi meliput suatu acara yang biasanya mengundang beberapa bloger komersial dan bertemu dengan beberapa di antara mereka yang memancing hawa kebencian. 

Sialnya, pilihan itu tentu menyusahkan diri sendiri. Sudah tahu sebelum-sebelumnya mengandalkan pemasukan utama dari sana, tapi kenapa mendadak cabut ketika belum memiliki wadah pengganti dalam mencari duit? Setidaknya, sih, saya telah berpikir kalau tabungan saat itu bisa menyelamatkan saya dalam tiga bulan ke depan, hingga kelak memperoleh pekerjaan baru. Itu tentu pikiran yang sangat naif, karena kenyataan sering tak berjalan mengikuti harapan saya. Terbukti sampai Agustus 2019, saya gagal mendapatkan pekerjaan tetap yang gajinya sepadan, sampai-sampai sepulangnya dari wawancara yang menyebalkan itu, saya merasa frustrasi banget dan nekat menggarap buku kumpulan cerpen Fragmen Penghancur Diri Sendiri

Meskipun 2019 terasa buruk dalam delapan bulan ini, pikir saya kala itu, siapa sangka niat awal saya buat menekuni kepenulisan fiksi sempat diberikan wadah oleh Loop pada April 2019. Saya masih tak menyangka bahwa beberapa cerpen saya dalam rentang 2015-2017 (yang ditulisnya secara main-main) bisa diterbitkan di media lain selain blog ini, lantas memperoleh bayaran berupa ponsel pintar seharga dua jutaan. Keinginan saya untuk mengganti iPhone 4 (gadget kesayangan yang telah menemani saya selama 5 tahun) yang sudah terlalu bobrok itu dengan membeli ponsel baru rupanya justru diberikan dengan gratis oleh mereka. Saya sangatlah berterima kasih dan bersyukur, karena seumur-umur itulah bayaran paling mahal selama saya terjun di bidang tulis-menulis. Lagi pula, mendapatkan sesuatu hal dari bidang yang kita sukai tentu memberikan kegembiraan istimewa. 

Celakanya, jika dilihat dari sudut pandang lain, apa yang saya sukai ini juga sering menerbitkan kesedihan. Entah sudah berapa kali diri ini menderita dan dipandang remeh ketika bersinggungan dengan dunia tulis-menulis. Misalnya, saya pernah dimaki-maki oleh klien karena telat revisi, di mana kondisinya mereka menyuruh saya mengirimkan artikel sebelum pukul 00.00, sedangkan mereka baru menghubungi saya pada pukul setengah 12 malam. Saya saat itu sudah mau tidur, sudah tak ingin terlibat dengan pekerjaan. Meski begitu, saya pun berusaha mengumpulkan niat, mengerjakan dengan lebih teliti, dan mengirimkan secepatnya. Tapi, kenapa pada akhirnya keterlambatan itu menjadi kesalahan saya? Sumpah, nyesek banget kalau diingat-ingat karena uang yang saya terima dari tulisan itu cuma 150 ribu. Sudahlah murah, diri ini dihina-hina pula. Asu tenan

Saya juga sempat merasa dicurangi dalam suatu perlombaan menulis. Walaupun ini baru sebatas desas-desus dan sebenarnya saya tak ingin suuzan, tapi ketika mengetahui kalau ada sistem pengaturan pemenang (pemenangnya dipilih berdasarkan mereka yang bergabung di suatu komunitas, atau teman dekat jurinya, atau ada orang dalam), otomatis saya murka. Saya sudah menulis secara maksimal dan beberapa kawan memuji tulisan saya oke, lalu berharap seminimalnya bisa meraih juara 3, terus kenapa tak masuk di daftar juara itu, terlebih lagi tulisan para pemenangnya ampas? Saya mah bisa menerima jika tulisan pemenangnya menarik. Lah, kalau jelek banget? Pastilah ada kesadaran bahwa penyelenggaranya curang. Sampai-sampai saya membaca keluhan peserta lomba lain, “Ini juri yang menilai seorang manusia, kan? Bukan robot?” Selain itu, saya juga membaca analisis peserta lainnya yang memberikan bukti-bukti tentang blog salah satu pemenangnya itu masih berumur baru. Jadi, syarat dan ketentuan lomba itu umur blognya telah mencapai setahun dan minimal menerbitkan 10 tulisan. Sementara itu, blog pemenang ini usianya masih hitungan bulan dan jumlah tulisannya tak lebih dari lima. Ketahuan banget bohongnya, kan? Saking marahnya, saya langsung menghapus tulisan lomba palsu itu. 

Saya pernah hampir diterima kerja di salah satu start-up sebagai penulis konten yang menawarkan gaji tak sampai 2 juta, padahal UMR kala itu sudah 3 juta lebih, sehingga saya terpaksa menolaknya karena setelah dihitung-hitung uang itu tak sebanding dengan apa yang akan saya kerjakan kelak (tugas menulis dalam sebulan sungguh seabrek). Sekalipun belum bekerja, saya benar-benar merasa tak dihargai sebagai manusia. Itu sekali-sekalinya saya girang bukan main bakalan bekerja yang sesuai dengan minat. Sayangnya, fakta akan bayarannya yang jauh dari bayangan saya membuat kebahagiaan saya lenyap dalam sekejap. Cuma segitukah nilai dari kemampuan saya? Apakah masih banyak orang yang memang memandang remeh pekerjaan menulis ini? Pertanyaan itu sepertinya tak perlu dijawab, karena saya masih menemukan banyak tawaran menulis yang di luar akal sehat. Salah satunya: menulis artikel 1.000 kata cuma dihargai 17 ribu. 

Daftar ini sesungguhnya bisa terus bertambah banyak, tapi saya kira hal itu sudah cukup sebagai contoh. 


Balik lagi ke persoalan tawaran kerja lepas tahun ini yang semakin surut, saya jadi teringat tentang dua tulisan kerja sama dari klien yang mendadak batal tanpa ada kabar lebih lanjut. Mempromosikan produk yang berhubungan dengan perjalanan dan penginapan saat situasi begini tentu tidak efektif bagi mereka. Saya sih mencoba maklum. Semoga aja kelak ada rezeki pengganti. 

Bicara tentang rezeki, saya sering mendengar mengenai pernyataan bahwa keseringan menolak rezeki konon bakal menghambat rezeki kita ke depannya. Saya sampai hari ini masih belum tahu akan kebenarannya, tapi saya punya pendapat terkait menolak tawaran kerja sama di bidang menulis atau blog. 

Pandangan ini bermula ketika saya kecewa dengan jawaban salah seorang bloger senior—yang pada masanya tulisan-tulisannya itu rutin saya baca dan favoritkan. Dia lagi membalas twit kawannya yang berupa sikap selektif dalam memilih tawaran kerja sama dari agensi maupun brand-nya langsung. Kesimpulannya: karena terlalu pilih-pilih, dia jadi enggak mendapatkan tawaran kerja sama lagi. Maka, diledeklah dia oleh si bloger yang saya maksud. Dia bilang, beda tipis antara selektif dan enggak laku. Saya pun meresponsnya, semacam mengulang inti dari twit kawannya itu dengan kalimat yang berbeda. Yang jelas, saya menegaskan bahwa setiap penulis pasti punya rasa idealis dan boleh berprinsip sesuai hati nuraninya. 

Maksud saya ini ialah menegaskan akan bentuk kebingungan atau malah suatu protes, memangnya kalau sering menolak tawaran kerja sama yang kurang sesuai dengan hati nurani bikin diri kita enggak laku? Apakah manusia tidak boleh punya prinsip? Harus menerima apa aja yang ditawarkan pada diri kita tanpa memikirkan dampak ke depannya? 

Saya sungguh tidak tersinggung dengan kalimatnya. Biasa aja. Seandainya saya termasuk pemasar atau bloger yang tidak laku dalam urusan mendapatkan tawaran kerja sama, saya pun jelas mengakuinya. Saya masih sesantai itu soal rezeki karena Tuhan sudah mengaturnya. 

Hanya saja, saya masih jengkel bukan main dengan kasus promosi yang dikemas menggunakan pengumuman anak hilang. Seakan-akan tidak ada cara lain untuk mengiklan. Tim pemasaran dan kreatifnya lagi buntu ide banget, kah? 

Biarpun saya telah gagal sebagai mahasiswa Jurusan Pemasaran, paling tidak saya merasa punya kode etik untuk memasarkan suatu produk. Menumpang berita yang lagi hangat menurut saya sah-sah aja biar mencapai target dan masih banyak orang yang penasaran buat mencari informasinya. Namun, kalau itu tentang berita duka (musibah atau bencana atau kematian), saya rasa tidak pantas sama sekali. Begitu pun dengan hal-hal yang bersifat darurat seperti pengumuman anak hilang atau penculikan. 

Orang-orang yang tak tahu bahwa pengumuman itu adalah iklan sebuah produk pasti akan menyebarkannya secara masif. Ketika sudah tahu dan merasa tertipu, tentu mereka bakalan jengkel setengah mampus. Mungkin mulanya target untuk masuk trending telah tercapai, tapi bagaimana dengan penjualan produknya itu? Mereka yang merasa kecewa telah dibohongi oleh iklan sialan itu lazimnya akan malas membeli produk tersebut. 

Omong-omong soal kebohongan, apa kau pernah mendengar kisah tentang seorang bocah di suatu desa yang bilang bahwa dirinya lagi dikejar-kejar macan dari hutan, lalu penduduk kampung itu pada panik dan berusaha ingin menolongnya, tapi ternyata itu hanya kebohongan belaka? Anak itu pun tertawa girang sudah berhasil mengecoh banyak orang. Setelah menipu sampai tiga kali, penduduk pun malas percaya lagi sama si bocah. Mungkin anak itu cuma kesepian dan berusaha mencari perhatian. Sayangnya, cara anak tersebut keliru. Hingga suatu hari, dia pun betul-betul dikejar macan dan tak ada penduduk yang bersedia menolongnya lantaran takut dibohongi lagi. Bocah itu pun tewas. 

Semestinya para pemasar dapat belajar dari dongeng sederhana semacam itu. Memang bikin iklan itu terkadang mesti fantastis atau memberi kejutan tak terduga sehingga menempel di benak masyarakat. Namun, menurut saya, sebisa mungkin jangan sampai membohonginya kelewatan. Jangan mempermainkan calon konsumen dengan kebohongan goblok seperti pengumuman tentang anak hilang dan penculikan. Apalagi yang sampai menumpang berita kematian. 

Saya masih ingat betul dengan kejadian seorang bloger yang mengiklankan produk SL internet cepat pakai kalimat begini: “Berkat pakai SL, saya jadi langsung tahu berita kematian JP dengan cepat tanpa ketinggalan informasi. Ayo, teman-teman yang internetnya lelet, mari kita beralih ke SL.” 

Ayolah, berpikir lebih kreatif lagi. Masa sih informasi tentang orang meninggal sampai dipakai mengiklan? Seakan-akan enggak ada cara lain buat memuji kecepatan internet suatu provider? Mana di twit orang itu nama aktrisnya tidak disensor pula. Itu bakal jadi kata kunci yang akan dicari orang-orang buat mengetahui berita duka tersebut. 

Saya menulis seperti ini bukan bermaksud merasa sebagai orang yang paling benar dalam mengiklan atau sok kritis. Saya cuma resah aja dengan para buzzer alias pemasar yang sebetulnya payah, lucunya tetap memaksakan diri demi sesuap nasi. Cari duit memang susah, tapi apa iya segitunya banget?

Saya tak tahu apakah selama ini cara mengiklan saya sudah bagus, lalu ada yang keterlaluan dungu seperti itu atau tidak. Kalaupun dulu saya pernah khilaf mengiklan dengan cara tolol, saya ingin sekali meminta maaf buat pihak yang telah dirugikan. Paling tidak, hari ini saya sudah belajar banyak dari kesalahan-kesalahan orang lain. 


“Jadi orang lagian pada gegayaan, sih,” ujar bloger senior yang sempat saya bahas barusan. 

Loh, siapa yang lagi gaya, sih? Itu namanya prinsip. Itu pilihan saya buat menolak tawaran kerja sama yang enggak sesuai dengan diri saya. Baik dalam segi harga, tema, dampaknya terhadap orang lain, dan lain-lain. Anggaplah kasusnya begini: kau memasang harga terendah untuk satu tulisan iklan di blogmu senilai 300 ribu, terus saat ada klien yang mengajakmu bekerja sama dengan harga 100 ribu, apakah kau akan menerimanya begitu aja tanpa memperhitungkan risiko? Seumpama keadaanmu lagi krisis banget dan benar-benar membutuhkan uang saat itu juga, mungkin bisa menjadi pertimbangan untuk menerimanya. Tapi, bagaimana kalau syarat menulisnya kurang sreg di hati? Bukankah pilihanmu itu juga bisa menurunkan harga pasaran? Tentu ada alasan-alasan lain yang membuatmu mempertimbangkan suatu tawaran kerja sama. 

Saya pun masih ingat dengan jelas pernah mendapatkan tawaran dari situs judi yang nominalnya nyaris sejuta kala blog saya lagi ramai-ramainya pengunjung. Saya sudah ada ide juga buat tulisan itu. Dengan memakai kata kunci “taruhan bola”, saya bisa bercerita tentang kenakalan saya zaman SMP-SMK (harus saya akui bahwa diri ini pernah gemar berjudi). Pembaca pasti tak akan sadar jika itu ternyata tulisan buat mempromosikan situs judi. Namun, hati kecil saya berkata, “Masa iya seorang Yoga mengajak orang lain berjudi? Malu dong sama nama ‘Sholihin’ yang sikapnya sama sekali tidak mencerminkan kesalehan itu sendiri?”

Biarpun saya tahu pilihan-pilihan dalam hidup, bahkan kehidupan itu sendiri, juga bagaikan perjudian, tapi konteksnya kali ini adalah judi secara harfiah. Terasa tidak cocok lagi buat diri saya yang sekarang mencari uang lewat cara itu. Lebih-lebih mengajak pembaca blog ini terlibat. Kalau kata orang-orang, itu bisa menjadi dosa jariah.

Akhirnya, tawaran itu saya tolak dengan tegas. Saya tahu saya lagi butuh duit, tapi bukan berarti memakai cara haram. Syukurlah setelah menolak kerja sama itu, tak lama datang lagi dua tawaran lain. Walaupun yang dua itu kalau ditotal jumlahnya masih kalah, bahkan cuma setengahnya dari judi bola, saya tahu uang yang ini bakal lebih berkah. 

Bisa dibilang dalam dua tahun terakhir ini kerja sama dari blog kian surut. Saya entah kenapa juga sempat kepikiran untuk berhenti mengomersialkan blog, cuma ingin mengisinya dengan tulisan saya tanpa ada embel-embel iklan lagi. Tapi berhubung tawarannya kadang lumayan buat menambah pemasukan, apalagi kondisi finansial saya jauh dari kata aman, saya pikir saya akan tetap mengiklan di blog ini–tentu saja dengan cara pilih-pilih dan tak mau sembarangan. 

Akhir kata, sekere apa pun keadaan saya nanti (amit-amitlah, saya maunya berkecukupan dan tajir dong), sebisa mungkin saya ingin tulisan ini bisa jadi pengingat diri sendiri bahwa integritas sangatlah penting ketimbang uang yang didapatkan dengan cara-cara jahanam.


Gambar saya comot dari Pixabay.
Read More
Cerita berikut ini merupakan nukilan dari halaman tiga sebuah cerpen berjudul Lelaki Melankolis yang Kembali Menemukan Arti Hidup Lewat Mimpi

-- 

“Aku berlindung dari godaan Farsya yang semakin aduhai,” tulis lelaki itu pada awal Desember 2019.



Dia mulanya kagum kepada gadis itu karena perjumpaannya yang tak disengaja di sebuah acara bazar buku. Eloknya wajah sang gadis jelas menjadi suatu daya tarik. Selain itu, sang gadis merupakan salah satu finalis di bidang yang disukai oleh lelaki ini. Kian bertambahlah rasa penasaran tersebut.

Suatu sore, setelah bertemu lagi untuk kedua kalinya di suatu kafe daerah Cikini (masih secara kebetulan), dia refleks berpikir jika pertemuan itu adalah suatu takdir. Sejak itu, dia jadi kesulitan menghapus bayang-bayang wajah sang gadis. Sepulangnya dari kafe itu pun dia langsung teringat dengan keisengannya beberapa hari lalu bersama seorang kawannya untuk melihat para finalis Nona Buku di Instagram. 

Foto-foto Farsya sungguh jelita dan bikin dia kian terpukau. Dengan satu tarikan napas panjang, dia memberanikan diri untuk menekan tombol ‘ikuti’ pada akun media sosial sang gadis. Dia pun rutin mengintip aktivitas gadis itu di InstaStory. Secara tak langsung dia telah resmi menjadi seorang pemuja rahasia. 

Dia berada jauh di sana, dan aku di rumah... memandang kagum pada dirinya dalam InstaStory. 

Tiga minggu sehabis menuliskan ‘aku berlindung’, dia justru mendapati fakta bahwa gadis itu masih seumuran adiknya, bahkan belum mencapai usia 20. Anak zaman sekarang yang sudah pandai merias diri betul-betul bisa menipu usia. Dia awalnya mengira palingan usia mereka cuma beda empat tahun. Lelaki ini bisa dibilang jarang tertarik dengan perempuan yang lebih muda, apalagi jarak umurnya lebih dari 5 tahun. Belum lagi ketika dia sadar diri kalau kelas sosial mereka sangat berbeda. Itu jelas-jelas menciutkan nyalinya. 

Biarpun begitu, benih-benih suka sudah kadung tumbuh, dan tak baik jika cepat-cepat membunuhnya sebelum pohon itu berbuah—entah manis ataupun pahit. 

Pada keesokan harinya, sang gadis rupanya berulang tahun. Lelaki ini pun segera menabung keberanian buat mengucapkan selamat dan mendoakan hal-hal baik. Jika nanti dia membalas pesanku, katanya kepada diri sendiri, aku berjanji agar tidak minder-minder lagi ke depannya. Persetan dengan rentang usia yang beda jauh, Farsya manisnya memukau dan aku telanjur naksir. 

Apakah mungkin seorang lelaki melankolis dapat mendekati gadis berkualitas unggul? Gadis yang kemunculannya mungkin hanya sekali dalam seabad. Gadis langka yang bisa menjadi pengecualian, sebab ini pertama kalinya dia memandang perempuan yang baru lulus SMA dan hatinya langsung bergetar tak keruan. Gadis yang senyumannya itu bisa menegaskan bahwa dunia ini masih baik-baik saja, masih layak untuk dijalani. 

Celakanya, kenyataan sulit untuk diajak berkompromi. Pesannya tak berbalas. Memang tak mungkin seorang biasa dapat mendekati sekuntum dewi kahyangan. Cuma orang beruntung yang sanggup menjangkaunya. Dia akhirnya kembali berjanji kepada diri sendiri: mulai tahun 2020 aku berhenti mencari tahu segala hal tentangnya. 

Namun, janji hanyalah omong kosong yang manis. Janji bisa diingkari dengan gampang. Sebab barusan lelaki itu menulis racauan berikut ini: 

Aku bersaksi tiada Farsya lagi pada tahun 2020, tapi sialnya aku lupa dengan cara kerja alam bawah sadar. Sampai Agustus ini dia telah muncul lebih dari tiga kali di dalam mimpiku. Tak ada adegan yang aneh-aneh di mimpi itu. Kami cuma kencan berduaan, lalu bergandengan tangan. Meski tampak remeh, itu jelas suatu kegembiraan yang mustahil bisa kudapatkan selama situasi bobrok, tepatnya saat masa pagebluk berengsek ini. 

Begitu terbangun dari mimpi indah itu, aku spontan mengecek koleksi fotonya di Instagram. Dia beberapa kali mengenakan pakaian warna kuning. Mulutku pun tanpa sadar menyenandungkan lagu Rumah Sakit – Kuning

Halusnya awan, menyatu dan menghalang 
Namun kau pun hanya bisu 
Tetap sinariku dengan cahaya... kuningmu 

Bagai berputar, jauh sudah terasa 
Namun jarak yang kutempuh 
Tak membuatku lebih dekat lagi... denganmu 

Oh, Tuhan, aku tak bisa membohongi diri lagi bahwa parasnya terlalu manis dan menyilaukan. Senyuman itu dapat membuat seorang lelaki melankolis rela hidup lebih lama di dunia bajingan ini. 

Aku kini bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, Nabi Muhammad adalah utusan Allah, dan aku ingin menambahkan satu hal lagi: bahwa Farsya makhluk jelita ciptaan Tuhan yang teramat sulit dihapus dari ingatan. 

-- 

Kisah ini adalah nukilan dari halaman tiga sebuah cerpen? Kebohongan macam apa itu? Halaman satunya aja jelas-jelas enggak ada. Judulnya pun cuma bentuk pelesetan dari cerpen Eka Kurniawan, Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi.
Read More
Tak perlu dimungkiri bahwa saya pernah takut mati. Saya takut mati sebagai manusia gagal. Karena kematian datang tanpa memandang usia manusia, dan saya merasa belum dalam keadaan bisa sedikit bermanfaat buat orang-orang yang saya sayangi.


Tadi pagi pada pukul 6, saya mendapat pemberitahuan tentang masuknya masa tenggang pada nomor ponsel lama saya—yang sudah jarang dipakai selain buat SMS maupun telepon, mendengarkan musik, serta menyetel alarm, sebab gadget iPhone 4 memang tidak lagi mendukung berbagai aplikasi, khususnya WhatsApp. Demi mempertahankan nomor yang sudah menemani saya sejak SMK, saya pun memutuskan beli pulsa. Saya memilih pembeliannya lewat m-banking karena berpikir konter-konter dekat rumah sepertinya belum pada buka. Kala itulah saya tertampar sama kondisi saldo yang memprihatinkan karena pemasukan terakhir sudah lewat dua bulan silam, sedangkan setelahnya malah banyak pengeluaran tak terduga.

Sewaktu di ambang krisis begini, saya tiba-tiba kepikiran hal ini: Kenapa pada masanya saya pernah langsung menghabiskan duit 500 ribu dalam tiga hari cuma buat voucer gim lantaran barang-barang di permainan itu lagi diskon 20%? Itu jelas hanya angka yang kecil buat potongan harga, tetapi mengapa tindakan spontan saya itu sampai segitunya? Belum lagi mengingat total biaya selama memainkannya yang kira-kira setahun (untuk bayar internet per bulan dan pembelian voucer), pastilah sudah habis jutaan.

Tololnya, saya sekarang enggak pernah memainkan gim itu lagi.

Sebagai mantan anak Ekonomi yang enggak mau rugi dan kepepet butuh duit, otomatis saya bertanya-tanya, itu karakter jika dijual bakalan laku berapa, ya? Namun, saya pun segera teringat dengan kondisi teman-teman yang sudah pensiun sejak 2 tahun silam, serta saat itu berkata bahwa harga jualnya tak sampai sejuta. Ketimbang menjualnya, saya mending membiarkan karakter itu jadi kenangan yang tak ternilai.

Lagi pula, suatu hari saya mungkin bisa memainkannya lagi buat bernostalgia sekiranya betul-betul luang. Kalaupun saya sungguh berhenti memainkan gim itu, toh tidak akan rugi karena pada masanya gim itu juga telah menolong diri saya, terutama dalam menyembuhkan depresi saya.

Dengan saling gantian bercerita kepada orang asing mengenai permasalahan hidup lewat kolom percakapan di gim, siapa sangka justru menjadi pelarian ampuh bagi diri saya. Ternyata memang ada beberapa orang yang di kehidupan nyatanya gagal dalam banyak hal, lalu mencoba menyenangkan diri sendiri di dunia maya. Mereka menyembunyikan kegagalannya dengan keberhasilan di dunia permainan konyol ini.

Salah satu kenalan saya, Vino, sempat bercerita kalau dia pernah putus kuliah saat sudah semester belasan karena bapaknya tak mampu lagi membiayai kuliahnya. Uang bapaknya habis buat biaya pengobatan ginjal dan cuci darah ibunya—yang dua minggu kemudian justru meninggal, padahal sudah keluar uang banyak dan seakan-akan terasa percuma.

“Andai waktu itu udah ada BPJS,” kata Vino. “Mungkin keadaannya bakal beda.”

Bangkit dari keterpurukan dan kegagalannya, dia bekerja serabutan sambil berbisnis online shop menjual pakaian-pakaian khas anak muda, yang sialnya hanya bertahan empat bulan. Kemalangannya pun tidak berhenti sampai di situ. Dia masih sempat ditipu kawannya sendiri senilai 10 juta, lalu saldo rekeningnya betul-betul terkuras habis demi membayar utang bapaknya yang tidak dia ketahui sebelumnya.

Vino terkejut akan fakta bahwa dia tadinya termasuk golongan orang berada, kok dalam sekejap menjadi kere begini. Dia pun tak bisa mempertahankan gengsinya lagi dan terpaksa bekerja menjadi OB alias pesuruh demi memenuhi kebutuhan hidupnya, sampai-sampai dipandang rendah oleh teman-teman di sekitarnya. Tapi, dia tak peduli lagi. Masa bodoh dengan perkataan orang lain yang berkata seenak udel dan cuma doyan mencibir. Dia hanya ingin terus bertahan hidup sembari mencari kebahagiaan-kebahagiaan sederhana. Maka, pada waktu luang itulah dia iseng bermain berbagai gim sehingga bisa berjumpa dengan saya di salah satu permainan virtual tersebut.

“Ternyata jual barang langka di gim bisa jadi cuan, ya,” ujarnya. “Main gim selain menghilangkan stres bisa jadi sampingan juga.”

Saya tak tahu kisah Vino itu cuma bacot kosong agar saya merasa iba atau benar adanya. Tapi satu hal yang dapat saya pahami: saya merasa tidak sendirian lagi.

Entah mengapa saya teringat adegan dalam anime NHK ni Youkoso, sewaktu sang protagonis kembali mengurung diri dan mendengarkan suara-suara jahanam di kepalanya: 

Wajar bagi seseorang untuk menyangkal kegagalannya sebagai manusia. Makanya dia mencari seseorang yang lebih menyedihkan ketimbang dirinya. Itulah kenapa ada begitu banyak permusuhan di internet. Mereka yang enggak bisa menemukan orang lain yang lebih menderita, lantas beralih ke internet dan menyebut orang itu sebagai pecundang, sekalipun mereka belum pernah berjumpa. Itu semata-mata untuk membuat diri mereka merasa lebih baik. Bukankah itu menyedihkan?



Saya tak bermaksud memandang Vino sebagai orang yang lebih gagal daripada saya. Lagi pula, di permainan virtual itu karakter Vino jauh lebih keren. Perbedaannya kentara jelas. Jika diibaratkan, saya beraroma minyak wangi sepuluh ribuan yang belinya di pasar malam, sedangkan dia parfum Hermes 24 Fauborg yang asli. Saya hanya berpikir kehadiran internet yang semakin lama terasa buruk itu masih tetap bisa menjadi eskapisme tanpa harus memandang rendah ataupun merugikan orang lain.

Selain menyembuhkan depresi, terbukti pada suatu waktu gim itu juga sangat mujarab untuk mengobati patah hati saya ketika awal-awal putus sama pacar. Jadi, saya bisa terhindar dari rasa nelangsa dan kesepian, terbebas dari berbagai asumsi kenapa hubungan kami gagal (apakah benar dia diam-diam menemukan kasih sayang pada diri orang lain?), lebih-lebih tak usah repot-repot mengutuk mantan pacar. Setelah hubungan itu berakhir, saya kudu berhenti menyakiti diri sendiri buat mencari tahu kabar tentangnya. Andaikan benar dia telah jatuh hati kepada orang lain, ya sudah. Semoga mereka bahagia. Enggak usah membuang-buang energi memikirkan hubungan yang telah kandas.

Biarpun main gim tampak tolol dan remeh, efeknya dalam menawarkan kegembiraan, apalagi dapat menyelamatkan hidup saya dari pikiran-pikiran jahat, sungguh benar adanya. Saya sebetulnya sih belum terlalu paham mengapa sebuah gim bisa menyelamatkan jiwa yang lagi berputus asa, yang memandang hari esok tak ada kebaikan lagi, dan cuma berpikir pengin mampus aja. Sampai-sampai orang itu kelewat depresif dengan menamakan karakternya: TakutMati.




Tak perlu dimungkiri bahwa saya pernah takut mati. Saya takut mati sebagai manusia gagal. Karena kematian datang tanpa memandang usia manusia, dan saya merasa belum dalam keadaan bisa sedikit bermanfaat buat orang-orang yang saya sayangi. Jika saat bocah saya pernah berpikir kalau manusia bakalan menutup usianya ketika sudah bangkotan dan renta, pemikiran itu segera terpatahkan kala saya berusia 18 tahun dan dikejutkan oleh kematian Aulia Barbara, adik bungsu saya, yang meninggal dalam kandungan. Baru diberikan kehidupan selama sembilan bulan di dalam rahim, dia bahkan langsung dipanggil lagi sama Tuhan sebelum sempat melihat bentuk dunia dan paras ibunya. 

Kasus lainnya, kurang lebih setahun kemudian, Ajeng—kawan sekolah saya—ikutan menyusul kepergian adik saya. Dia tewas dihantam metromini yang supirnya ugal-ugalan. Cara pandang saya terhadap kematian pun kian bergeser. 

Omong-omong soal mati, memori pada tahun 2016, percisnya di mana saya pernah merasa takut mati lantaran ditelan oleh depresi yang terkutuk, tak tahu kenapa masih terus mendekam di kepala ini sedalam apa pun saya menguburnya. Ketika saya mulai putus asa memandang dunia dan menghadapi kenyataan ini, pikiran-pikiran buat bunuh diri jelas mendatangi saya pada masa kelam itu. Bagusnya, ketakutan akan tercekiknya leher, pedih dan perihnya sayatan pisau di urat nadi, getirnya racun, pertanggungjawaban akan dosa-dosa, dan seterusnya, dan sebagainya, bisa mencegah saya untuk melakukannya. Meski begitu, sepertinya ada sedikit perasaan distimia yang masih tertinggal di dalam diri saya, sebab kadang-kadang saya sempat berharap bisa tertidur pulas, lalu tak usah bangun-bangun lagi.

Terlepas dari semua luapan kesedihan yang tertulis barusan, saya akhirnya senang karena bisa sembuh dan kembali menjalani rutinitas seperti biasanya berkat pertolongan seorang profesional dan salah satu orang terdekat. Saya sungguh berterima kasih kepada mereka. Selain bantuan dari mereka, saya tentu mesti mengucapkan terima kasih pula pada gim yang berkesan di hati saya ini. Gim yang mulanya saya mainkan saat kelas 1 SMP dan servernya masih Indonesia, lantas beberapa tahun berikutnya muncul yang server internasional. 

Saya sampai hari ini terus berusaha untuk memahami kenapa suatu permainan dapat menyelamatkan pemainnya. Mungkinkah karena gim itu berjenis Massively Multiplayer Online Role-Playing Game (MMORPG), sehingga saya bisa memilih mau menjadi karakter yang seperti apa? Ada lima jenis profesi di permainan itu, yakni Pendekar Pedang, Ninja, Penyihir, Gladiator, dan Pemburu. Jalan hidup karakternya dapat kita tentukan sendiri. Kita bisa memilih sendiri status (STR, DEX, VIT, INT) yang ingin ditingkatkan, serta jurus apa yang mau ditambah dan dipergunakan. 

Barangkali saat menjalankan misi-misi di gim itu saya juga bagaikan sedang menyelesaikan masalah-masalah hidup. Jadi, pikiran saya yang sempat keblinger dan memandang hidup dengan mata maupun hati gelap otomatis tercerahkan begitu saja. Simpelnya begini: meskipun misi yang saya hadapi dalam permainan itu sulit sekali, tapi saya pasti bisa mencari jalan keluar dan saya tak punya pilihan lain selain menuntaskannya demi memperoleh misi-misi baru. Contohnya, saya harus membunuh 500 monster beracun. Semburan racun dari monster itu sangatlah kuat dan berbahaya, maka sebelum bertempur saya mesti menyiapkan baju yang memiliki pertahanan luar biasa, senjata dengan serangan mematikan, mengombinasikan jurus-jurus maut, dan tentunya pintar-pintar menghindar dari serangan monster maupun rutin mengisi darah agar tidak lekas mati.

Sebagaimana masalah hidup yang ketika itu kudu saya hadapi dan bebannya terasa sangat berat seolah-olah memikul neraka di pundak, lalu bikin saya tiba-tiba yakin kalau problem hidup juga bisa dijalani kayak sedang bermain gim karena menyerah bukanlah jawabannya, saya pun mampu bangkit dari perasaan terkutuk sekaligus ganjil bernama depresi itu.

Di dalam suatu permainan, semakin tinggi level karakternya, maka monster-monster yang dihadapi pun kian berat, serta mengumpulkan EXP juga butuh usaha keras dan waktu yang teramat lama. Itu berarti dalam kehidupan nyata supaya bisa terus naik level juga tak mudah dan memerlukan proses. 

Kalau sebelum-sebelumnya saya mampu mengatasi berbagai persoalan hidup hingga bertahan sejauh ini, lantas saat masalah krisis identitas, finansial, atau apa pun itu kembali menghampiri saya pada hari ini (begitu pun pada hari yang akan datang), tentu saya cuma perlu bertahan sembari mencari solusinya lagi, kan? Jadi, ya, santai aja seperti lagu Koil - Nyanyikan Lagu Perang: Pasti ada cara untuk mencari uang, pasti ada cara untuk bersenang-senang.

Jika dipikir-pikir ulang, saya telat menyadari bahwa nama permainan yang saya mainkan dulu itu begitu diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi: Penyelamat Jiwa. Mungkinkah sejumlah uang yang pernah saya habiskan dalam gim itu secara tak langsung sebagai pembayaran untuk kesehatan dan keselamatan jiwa saya? Barangkali permainan itu memang telah memberikan efek plasebo buat saya agar terus bertahan selayaknya pesan Hamlet kepada Horatio: Untuk menunda kematian yang menawarkan kelegaan, dan teruslah hidup di dunia yang bajingan ini supaya dapat mengisahkan pelbagai cerita.




Dengan tetap menulis, siapa tahu kisah-kisah nestapa yang kerap saya anggap sampah ini bisa berguna bagi diri sendiri (syukur-syukur juga buat orang lain) pada suatu hari nanti. Alangkah eloknya lagi kalau cerita sedih itu bisa berubah menjadi kegembiraan. Semoga saja cara saya menulis ke depannya, entah kapan, tidak lagi menerbitkan kesedihan melainkan menjadi pengundang tawa.

--

Kumpulan jurnal pada bulan Maret, Mei, dan Juli yang diolah menjadi satu tulisan ampas yang boleh kamu anggap sebagai cerita fiksi.
Read More
—Hasil modifikasi tulisan Oktober 2019 yang isinya cocok dengan keadaan saya pada akhir Juli kemarin.

--



Dua bulan terakhir ini saya lagi senang-senangnya mendengarkan Nasadira menyanyikan sajak Chairil Anwar (saya kurang suka dengan sebutan musikalisasi puisi), Selamat Tinggal. Suara Sky, sang vokalis, terasa aduhai di telinga saya. Dari semua liriknya, saya sungguh menyukai bagian ini:

Kudengar seru-menderu
dalam hatiku.
Apa hanya angin lalu?

Lagu itu pula,
menggelepar
tengah malam buta.


Saya enggak tahu apa makna yang tersirat dalam puisi tersebut, tapi saya mencoba menafsirkan sesukanya bahwa itu tentang suasana hati yang rasanya ingin menjerit sekencang-kencangnya ketika lagi dirundung banyak problem. Kemudian muncul juga bunyi-bunyi berisik lain di kepala pada tengah malam sewaktu saya ingin memejamkan mata dan merehatkan tubuh, yang akhirnya malah bikin susah tidur sebab pikiran saya kian berkelana ke sana-kemari.

Seperti tiga hari belakangan ini, setiap malam saya selalu heran dengan diri sendiri. Kenapa suasana hati dan pikiran buruk ini begitu mengacaukan keseharian sampai-sampai saya tak berminat menjalani hidup? Saya enggan berjumpa dengan manusia lain. Saya pun malas membuka media sosial dan blog, apalagi menorehkan keresahan di sana. Saya bagaikan sedang menarik diri dari dunia nyata maupun maya.

Kala masalah hidup datang, saya memang mulai berusaha mengontrol diri untuk tidak memperlihatkannya. Untuk tidak memberi tahu siapa-siapa. Terlebih lagi agar tidak meminta bantuan, karena setiap orang tentu memiliki masalahnya masing-masing, dan saya tak ingin menambah beban mereka.

Mungkin pada akhirnya saya tetap butuh bercerita karena tak sanggup menyimpannya sendirian. Masalahnya, saya tak tahu harus memercayai siapa akhir-akhir ini. Orang-orang yang saya anggap dekat dan berada di sekitar justru yang paling memicu stres dan depresi. Sialnya lagi, pandemi ini terus memaksa saya untuk lebih baik di rumah saja. Betapa sulitnya keluyuran tanpa merasa cemas. Terasa riskan juga jika saya nekat berjumpa dengan kawan baik yang rumahnya jauh.

Kalau begitu, sementara ini mending kau cerita saja kepada temanmu yang jauh itu lewat WhatsApp atau telepon, pikir saya.

Memang, ada sebagian teman yang saya kenal lewat media sosial atau blog lalu pernah bertemu dan sebenarnya dapat dipercaya. Tapi di era digital yang serba screenshot dan terasa berengsek ini tentu membuat saya tetap khawatir. Mereka kan juga punya kesibukan masing-masing. Lagi pula, saya benar-benar ingin bercerita secara langsung saja.

Jadi, ketika saya sungguh tak kuat lagi memendamnya sendirian, pilihan saya satu-satunya hanya menulis di blog lain yang jarang pengunjungnya. Itu pun saya tak berharap ada yang membacanya. Saya cuma kepengin lega. Saya ingin kenestapaan ini lekas berlalu.

Yang saya bingung dari semua ini, apakah saat lagi ada masalah gawat kita memang sulit buat tampak baik-baik saja? Mungkin di dunia nyata saya mampu. Tak akan ada yang tahu bagaimana saya menyembunyikan kesedihan dalam diri ini. Sementara itu, saya pasti butuh pelarian ke dunia maya atau mencari eskapisme. Lalu, begitu saya mengingat perkataan seseorang (entah siapa, saya lupa), bahwa curhat tentang masalah atau bersedih di dunia maya bisa-bisa cuma jadi tertawaan netizen, kadang-kadang kok sialan juga, ya?

Meskipun selama ini saya kurang peduli bakal mendapatkan respons apa pun dari apa yang telah saya tulis atau curahkan, toh itu sudah menjadi konsekuensi, tapi kali ini saya betul-betul memikirkannya. Khususnya akhir-akhir ini saya jadi kian kepikiran karena terlalu banyak membuang air mata lewat tulisan. Menyiasatinya dalam bentuk fiksi juga terlihat percuma. Seakan-akan nasib malang tiap karakternya itu selalu menunjukkan betapa sedih atau kesepiannya diri saya.

Enggak perlu mengelak kalau semakin ke sini saya mulai merasa kesepian. Saya rasanya sudah kehilangan semua kawan yang sebelumnya bisa diajak berbagi. Dan yang lebih bajingan daripada itu, saya bagaikan melihat dunia dari ujung teleskop yang salah. Saya sendirian. Tak punya siapa-siapa lagi.

Sejak tak punya lagi tempat khusus buat berbagi cerita (seorang pacar maupun sahabat), saya pun selalu menjadikan blog seperti kawan sejati yang tak pernah meninggalkan saya. Namun, saya lama-lama merenung sekaligus membayangkan ia capek mendengarkan segala limbah ataupun omong kosong yang keluar dari hati dan pikiran saya. Seandainya ia makhluk hidup, mungkinkah ia muak? Bagaimana jika ia juga tak sanggup lagi menampung keluh kesah ini, kemudian pergi meninggalkan saya?

Saya kayaknya harus lebih menahan diri lagi. Sebenarnya sih bagus banyak menghasilkan teks dan jadi terlihat rajin, tapi paling enggak jangan terlalu sering menunjukkan sisi muramnya. Ada masanya saya perlu mengerem. Berikan batasan waktu sebagaimana minum obat dengan anjuran dokter. Biar saya enggak overdosis.

Tapi, mampukah saya bersikap baik-baik saja, padahal sedang kenapa-kenapa? Apakah ini tandanya saya sudah ketergantungan? Saya merasa sakau dan kacau jika belum membuang kesedihan itu lewat tulisan? Kalau saya tidak lagi mencari pelarian lewat menulis, adakah metode lain yang seampuh terapi jiwa ini? Lantas, bagaimana caranya bisa terlihat normal di dunia nyata maupun maya sewaktu dirimu sangat butuh tempat persembunyian untuk menutupi nelangsa? Memakai topeng senyum sebagaimana manusia digital yang semakin terbiasa dengan kepalsuan? Saya sudah malas berpura-pura. Saya tak ingin membohongi diri, lebih-lebih menyiksa diri, lebih dari ini.

Entahlah. Persetan dengan kesedihan! Persetan dengan gangguan kecemasan! Corona tai anjing. Pemerintah konyol (huruf 'Y' dan 'T' ini bersebelahan, hampir saja tipo).

Saya saat ini sih hanya ingin memodifikasi lirik Selamat Tinggal itu. Dari “Aku berkaca bukan untuk mereka. Ini muka penuh luka. Siapa punya?” menjadi “Aku menulis bukan untuk mereka. Blog ini penuh duka. Siapa peduli?”

Setidaknya, jika sementara ini cuma menulis yang bisa saya lakukan untuk menyembuhkan diri, saya berarti tinggal bersikap masa bodoh dengan cap “cengeng”, “lemah”, “payah”, “cari perhatian”, dan sebagainya. Toh, seandainya tulisan itu terpublikasi di blog ataupun media sosial, itu tandanya kesedihan saya telah berlalu. Saya menerbitkannya hanya buat pengingat bahwa perasaan terasing dan terdampar ini pernah saya lalui sebelumnya, supaya pada kemudian hari saya tidak kaget lagi. Bisa dibilang itu juga proses saya dalam berdamai dengan diri sendiri.

Bagaimana perasaanmu sewaktu tidak mengenali dirimu sendiri? Tepatnya seperti yang terukir pada penutup sajak Chairil, Segala menebal, segala mengental. Segala tak ku kenal. Selamat tinggal.

Berhubung saya sendiri baru saja mengalaminya, saya kala itu benar-benar ketakutan. Apakah saya memang pecundang tolol yang gampang berputus asa saat dihantam kepahitan hidup? Saya betul-betul tak tahu. Saya mendadak benci sama manusia. Saya muak dengan segalanya. Saya cuma bisa mengutuk kondisi busuk ini sembari menyalahkan keadaan.

Setelahnya, saya pun malu dan benci kepada diri sendiri. Masa sih saya pernah semengerikan dan sejahanam itu? Saya berharap semoga sosok yang tidak saya kenal dalam diri itu merupakan Yoga versi teramat buruk. Jadi, saya kini dapat mengucapkan selamat tinggal kepadanya demi menuju karakter yang, mungkin bagi orang lain masih amburadul, tapi sesungguhnya telah ber-evolusi, lebih baik.

--

Gambar saya comot dari: https://pixabay.com/id/photos/perpisahan-3258939/
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home