—Jakarta, Juli 2018 




Alam bawah sadarnya seakan-akan membuat Arman mengetikkan kalimat dalam bahasa Inggris selepas membaca cerita pendek yang ditulis Sahid, kawan baiknya. “Aku kebangun tengah malam dan baru baca fiksi kilat di blogmu, lalu teringat mimpiku barusan yang buruk banget.” 

Akhir-akhir ini Arman memang sedang berlatih membaca cerpen maupun novel yang berbahasa Inggris. Tapi, apa yang sesungguhnya memicu dia sehingga berkomentar menggunakan bahasa asing, padahal kemampuannya masih sangat pasif dan kisah yang dibacanya kali ini merupakan bahasa Indonesia? 

Merasa ada yang tidak beres dengan kelakuan temannya, Sahid pun menanggapi, “Kau lagi mabuk ya, Man? Tiba-tiba kirim pesan pas dini hari, sok-sok pakai bahasa Inggris pula.” 

“Aku dalam keadaan sadar. Aku enggak lagi mabuk. Aku hanya sedang marah,” tulisnya dalam bahasa Inggris. “Mimpiku tadi dan ceritamu entah mengapa memicuku akan sesuatu hal. Ada kabar tentang Gina yang perlu kau ketahui.” 

“Maksudmu pakai bahasa Inggris apa, sih? Kau habis mimpi buruk apaan? Kau marah kenapa? Gina kenapa juga? Jangan buat orang panik dan penasaran tengah malam beginilah.” 

Masih tetap menggunakan bahasa Inggris, Arman merespons, “Kau nanti juga akan mengerti mengapa aku menggunakan bahasa Inggris. Soal Gina, sebentar lagi akan kuberi tahu, tapi tolong jangan kasih tahu hal ini ke siapa pun.” 

Sahid menjawab oke. 

“Apa kamu sama Gina masih saling mengikuti di Twitter?” 

Sahid heran mengapa pertanyaan yang sudah jelas itu segala dilontarkan lagi. Jelas-jelas dia merasa masih berkawan baik dengan Gina, tak ada masalah apa pun akhir-akhir ini kecuali mulai jarang bertemu lantaran Gina bilang pekerjaan di kantornya lagi padat dan sering lembur. Namun, atas rasa penasaran yang menggebu-gebu, Sahid pun membuka aplikasi Twitter dan mencari nama Gina Rahmawati.

Hasil pencariannya nihil. Sahid lantas terkejut tak bisa menemukan akun teman baiknya itu. Sahid pun mengecek daftar orang yang dia ikuti. Angkanya berubah. Dari yang semula 222 menjadi 221. Kala itulah Sahid tersadar dan mengetikkan kalimat, “Loh, si Gina tutup akun ya, Man?” 

Arman menjawab iya dan kali ini sudah ketiga kalinya, lalu mengirimkan tautan yang menjelaskan bahwa Gina sebetulnya punya akun Twitter kedua. Akun yang menampilkan sisi gelapnya.

“Waktu akun Gina hilang, aku segera mengecek ke akun itu. Kau bisa baca curahan hati Gina di sana. Kebetulan akunnya enggak diproteksi. Meskipun sekarang jumlah pengikut maupun yang diikutinya nol, dia kayaknya lupa kalau aku sempat tahu akunnya yang itu. Jadi, kuharap kau nanti juga pura-pura enggak tahu sehabis membaca twit-twitnya.”

Akun kedua Gina baru bergabung sekitar enam bulan silam dan twitnya hanya berjumlah 53. Biarpun baru sedikit memuntahkan kata-kata, Sahid langsung menelan ludah begitu membaca twit terakhirnya yang berbunyi: “Aku rasanya pengin mati aja setiap kali mengingat dosa itu. Tapi kalau aku memilih mati, bukannya aku semakin berdosa? Ya Tuhan, masih pantaskah aku buat bertobat?” 

Sahid lekas mengeklik twit itu dan membaca utas lengkapnya. 

1. Lagi-lagi aku dikatain lonte sama pacarku. Ah, mungkin lebih tepatnya mantan. Kami baru aja putus kemarin sore gara-gara dia melihat InstaStory aku yang katanya mengenakan pakaian pengundang nafsu. Aku rasa pakaianku masih normal selayaknya mbak-mbak kantoran pada umumnya. 

2. Tapi kenapa dia bilang aku ini ganjen dan mau tebar pesona? Mungkin dianya aja yang nafsuan, ya? Aku enggak paham lagi sama sifat dia. Yang aku tahu, aku sedih banget dihina-hina pacar sendiri terutama soal kata lonte itu. Ya Tuhan, sebinal apa sih memangnya aku? 

3. Aku capek diatur-atur pakaiannya sama dia setiap kali mau keluar rumah, padahal tiap kali aku main ke indekosnya juga palingan disuruh cepat-cepat telanjang. Ternyata aku memang lonte, ya? 

4. Namun, aku kayak begini juga karena dia, sih. Baru sama dia aku sampai berbuat sejauh itu. Aku menyesal banget menerima ajakannya balikan kalau ujung-ujungnya seperti ini lagi. Sudah dua minggu kami putus-nyambung dengan permasalahan yang itu-itu aja. 

5. Aku selalu dilarang main sama teman-teman cowok, sekalipun itu sahabatku sendiri yang sudah akrab sejak SMP. Aku kan jadi enggak enak sama Arman dan Sahid kalau keseringan menolak buat ketemuan. Mana bisa-bisanya aku berbohong lagi sibuk dengan pekerjaan di kantor pula. 

6. Kami berteman sudah sekitar 9 tahun, tapi gara-gara cowok bangsat yang baru aku kenal setahun justru bikin persahabatan kami retak begini. Aku kebangetan banget sama mereka. 

7. Mana selagi aku terkekang begitu, mantanku malah bisa bebas main sama cewek mana pun. Mungkin dia diam-diam juga mengajak cewek itu ke indekosnya. 

8. Tololnya, setiap kali aku cemburu dan ngambek, dia pasti mengancam aku buat putus. Dia licik banget, ya Tuhan. Setelah apa yang dia perbuat sama aku, dia kok bisa-bisanya gampang banget buat pergi? Apa dia lupa ya sama janjinya sewaktu kami pertama kali melakukannya

9. Dia bilang, dia enggak akan pernah meninggalkan aku sampai kapan pun. Bakalan tetap ada dalam suka maupun duka. Janji bakal nikah sama aku. Karena itulah aku percaya dan mau-maunya melepas hal sakral yang sudah aku pertahankan selama 22 tahun hidup di dunia berengsek ini. 

10. Nyatanya, dia sekarang lupa sama janji manis itu. Semuanya cuma omong kosong. Benar ternyata kata kedua sahabatku, kalau mantanku ini sebetulnya bajingan. Awal-awalnya doang baik, setelah dia dapat apa yang dirinya mau, langsung deh berubah banget sifatnya. 

11. Tapi kenapa dulu aku lebih percaya sama mantanku itu ketimbang sahabatku sendiri? Apa aku terlalu dibutakan cinta? Mestinya cinta itu enggak buta, kan? 

12. Aku tiba-tiba teringat lagu Efek Rumah Kaca, Jatuh Cinta Itu Biasa Saja. Liriknya menohok banget buatku: “Jika jatuh cinta itu buta, berdua kita akan tersesat. Saling mencari di dalam gelap. Kedua mata kita gelap, lalu hati kita gelap.” 

13. Kenapa aku baru sadarnya sekarang, sih? Semua itu sudah kadung terjadi. Aku enggak bisa memutarbalikkan waktu. Segelku sudah rusak. 

14. Adakah seseorang yang nanti sudi menerimaku dalam keadaan begini? Aku sejujurnya berusaha percaya bahwa masih ada cowok baik di luaran sana. Tapi untuk saat ini, bagaimana caranya aku sanggup menerimanya? Tolong, ajari aku buat ikhlas. 

15. Setiap kali aku meyakinkan diri kalau aku masih berharga sebagai manusia, aku otomatis teringat ucapan mantanku: “Kamu tuh harusnya merasa beruntung bisa pacaran sama fotografer kayak aku. Kalau kamu enggak kujadikan model foto-fotoku, kamu mah cuma cewek culun yang minderan.” 

16. Sumpah deh, kata-katanya nyelekit banget. Dia pikir dirinya itu ganteng kali? Tampang dekil dan mesum begitu kok banyak lagak. Begonya, kenapa aku pernah sayang sama dia? Sialan! Aku masih belum rela rasanya menyerahkan hal yang berharga bagiku itu ke manusia berengsek kayak dia. 

17. Aku rasanya pengin mati aja setiap kali mengingat dosa itu. Tapi kalau aku memilih mati, bukannya aku semakin berdosa? Ya Tuhan, masih pantaskah aku buat bertobat? 


Tanpa perlu membaca sisa twit Gina, Sahid sudah paham apa yang Arman maksud, bahkan mengerti kenapa dia bisa semarah itu sampai-sampai menggunakan bahasa Inggris untuk mengekspresikan emosinya. Karena saat ini, Sahid pun merasa untuk pertama kalinya dalam hidup bisa kelewat murka sampai tak mampu berkata-kata lagi dalam bahasa Indonesia. Dia hanya bisa melontarkan kata fuck sebanyak tujuh kali dalam pesan tersebut. Itu pertama kalinya juga dia merasa hatinya hancur tak keruan hingga lupa caranya menangis.

--

Sejak di Twitter ramai dengan utas-utas yang menyangkut urusan surga dunia, saya jadi sering berpikir: Kenapa sebagian besar yang menulis ceritanya seolah-olah merasa keren memiliki pengalaman tersebut, bahkan sepertinya juga bangga jika diketahui banyak orang, padahal mereka sebenarnya sedang membongkar aib sendiri? Saya entah mengapa sedih dengan hal semacam itu. Belum lagi terkadang muncul keraguan, apakah kisah itu benar adanya? Bukan karangan fiksi agar ikut-ikutan viral ataupun dicap nakal? Lantas, saya jadi bingung seandainya suatu hari nanti ada korban pelecehan seksual atau pemerkosaan yang bersuara di platform itu. Apakah yang ditulisnya sungguh terjadi? Tidak melebih-lebihkan cerita? Bukan memfitnah demi membalas dendam karena tak terima dengan keputusan sang lelaki?

Saya tak bermaksud menyalahkan pihak perempuan, hanya saja dari beberapa utas yang pernah saya baca itu melahirkan kesimpulan begini: Ketika kedua pihak melakukannya secara sadar dan sama-sama mau, kenapa giliran hubungan itu tak berakhir dengan pacaran dan cukup sebatas teman enak-enak, atau putus, atau apa punlah yang tak berlanjut sesuai kehendaknya, ada perempuan yang mengutuk habis-habisan si lelaki ini? Ingin memberi tahu kepada seluruh dunia kalau cowok yang meninggalkannya itu bajingan paling anjing, penjahat kelamin, manusia termesum sejagat raya, dan seterusnya. Bukankah itu konsekuensi dari pilihan mereka sendiri? Beda urusan jika si perempuan tidak dalam keadaan sadar, dipaksa, diancam, dan sebagainya.

Sebagai lelaki saya juga tak habis pikir, kok bisa ya mereka segampang itu buat celup sana-sini? Apalagi buat yang melakukannya tanpa ada konsen, kenapa bisa setega itu, sih? Mengapa mereka tak mampu mengontrol berahinya sampai-sampai merugikan orang lain? Apakah ini percis dengan apa yang saya baca di novel Eka Kurniawan, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, bahwa 'kemaluan bisa menggerakkan orang dengan biadab' dan 'kemaluan merupakan otak kedua manusia, seringkali lebih banyak mengatur kita daripada yang bisa dilakukan kepala'?

Dari pertanyaan-pertanyaan itulah lahir sebuah gagasan, bagaimana kalau saya bikin cerita sejenis dengan kondisi yang saya temukan di sekitar? Jadilah cerita yang barusan kamu baca. Angka enam romawi pada judulnya merujuk pada beberapa cerita di kumpulan cerpen David Foster Wallace, Brief Interviews with Hideous Men, yang diberikan angka seperti itu. Saya tak tahu apa maksud dan tujuannya. Kalau saya sendiri sih karena ini versi keenam dari berbagai cerita serupa yang telah saya bikin. Saya kira ini cerita yang paling aman buat dipajang di blog. Lima lainnya terlalu vulgar untuk ditampilkan.

Gambar saya comot dari Pixabay.
Read More
Eskapisme itu berwujud Tsubasa Honda. Ketika hari lagi bobrok-bobroknya, entah mengapa hanya dengan melihat wajah dan senyumnya, beban hidup saya perlahan berkurang.



Saya pertama tahu Tsubasa kalau tidak salah saat sedang menonton dorama Great Teacher Onizuka. Dia memerankan tokoh Urumi Kanzaki. Gadis jenius yang kesepian dan bosan hidup. Sehabis menamatkan dan menilai secara keseluruhan serial itu, sejujurnya saya kurang suka sama penggarapannya, tapi sialnya saya telanjur naksir sama karakter Urumi. Betapa tololnya diri ini terlalu sering jatuh cinta sama tokoh fiksi.

Mulanya, saya kurang suka dengan yang memerankannya. Perempuan berambut terlalu pendek bukanlah tipe yang cocok untuk saya kagumi. Saya benar-benar hanya peduli dengan tokoh Urumi yang kesepian, sebab saya cukup paham akan perasaan bedebah tersebut. Di kepala saya pun muncul lirik lagu Mew - Comforting Sounds: Why don't we share our solitude?

Terlepas dari tokoh fiktif itu, pada momen tertentu saya kian memperhatikannya,  dan ternyata Tsubasa manis juga. Sejak itulah saya iseng mencari tahu tentang dirinya lebih jauh. Saya pun mendapati sosoknya di live action Ao Haru Ride serta Radiation House—yang belakangan ini saya tonton lewat Viu. Seiring bergesernya hari, Tsubasa pun tumbuh menjadi sosok aduhai di mata saya.

Hari ini saya kembali merasa jenuh dan kacau banget sama hidup, sehingga memutuskan buat menghibur diri dengan menggambarnya (lebih cocok disebut bikin coretan, sih) dan membuat kisah fiksi tak penting.



Aku dan Tsubasa sedang duduk di rerumputan sembari memandangi danau di Taman Shikina, Okinawa, Jepang. Aku bilang kepadanya bahwa menatap air di sini sama seperti melihat wajahnya. Selalu bisa membuatku tenang. Dia lalu mengucapkan terima kasih. Meskipun begitu, rasa mengganjal di hati ini masih belum hilang juga. Berengsek betul. Biasalah, persoalan cinta. Sepertinya aku butuh bercerita mengenai masalahku itu kepadanya.

“Aku baru-baru ini sedang merindukan seseorang,” kataku.

Tsubasa terkejut dan tampak curiga kalau aku lagi berusaha menggodanya.

“Tenang saja, bukan kamu, kok. Aku sadar diri.”

Tsubasa tertawa. “Lalu siapa? Temanmu?”

Aku mengangguk dan menyebut sebuah nama—tentu saja dia tak mengenalnya.

“Aku capek memendamnya, Sa. Lantas aku nekat bilang kangen kepadanya di WhatsApp. Aku awalnya tak berharap apa-apa, yang penting hatiku terasa plong. Namun, lama-kelamaan aku semakin rindu dan dia malah menghantuiku di alam mimpi. Mimpi buruk pula. Entah kenapa aku jadi sedih karena rinduku tak terbalas sama sekali. Aku berharap dia membalas pesanku. Kami bisa berjumpa dan asyik mengobrol seperti dulu.”

“Enggak apa-apa, Yog,” ujar Tsubasa. “Hampir semua orang pasti pernah mengalami yang semacam itu. Di film Ao Haru Ride cintaku juga sempat tak berbalas.”

“Tapi pada akhirnya kalian bisa bersama, sedangkan aku tidak!”

Melihat parasnya yang ketakutan bercampur menggemaskan, mungkin dia kaget mendengar suaraku yang meninggi, aku jadi merasa bersalah kepadanya. Aku pun meminta maaf. Dia tersenyum dan bilang tak masalah. Dia juga meminta maaf karena mengambil referensi dari film yang jelas-jelas tak patut buat disamakan dengan realitas.

“Lagian, Yog, kisahmu kan belum sampai akhir,” katanya.

“Menurutku, antara aku dan dia sudah selesai. Jadi, kisahku juga sudah sampai akhir.”

“Hm, kenapa kamu yakin sekali?”

Aku menyebut beberapa alasan yang membuatku yakin; aku pernah berbuat kesalahan terhadapnya, kemungkinan dia sudah punya pacar, seandainya belum pun, dia hanya menginginkan pasangan yang bisa segera menikahinya, perasaanku juga mulai memudar.

Tsubasa melemparkan pertanyaan dari tiap-tiap alasan yang kulontarkan:

1. Apa kesalahanmu itu masuk ke kategori yang tak termaafkan?

2. Kamu pernah melihat dia bersama lelaki lain—baik secara langsung maupun foto?

3. Jadi, dia punya target menikah pada umur sekian, ya? Sekalipun akhirnya kalian bisa bersama, kamu tak sanggup menikahinya dalam waktu dekat?

4. Tahu dari mana perasaanmu memudar? Kalaupun iya, yang bikin perasaanmu rontok bukankah dari ketakutan-ketakutanmu sendiri?

Pertama, jelas kesalahanku masih bisa dimaafkan kalau dari sudut pandangku. Aku ketiduran saat membuat janji untuk bertemu dengannya. Dia sudah menungguku hampir satu jam dan aku baru merespons pesannya. Sudah begitu aku berbohong kepadanya, aku tak bilang ketiduran, tapi aku berkata bahwa ada pekerjaan dadakan yang harus diselesaikan saat itu juga dan tak sempat mengabarinya. Yang aku tahu sih, tak semua orang mudah memaafkan, sekecil apa pun bentuk dosa itu. Kedua, belum pernah sama sekali. Aku hanya menduganya karena perempuan semanis dia mustahil tak ada yang menaksir dan mendekatinya. Ketiga, karena dia lebih tua setahun dariku. Mungkin bagi perempuan usia segitu sudah terlalu tua. Soal menikah, tentu saja. Aku belum siap lahir dan batin. Kamu tahu betul kondisi keuanganku jauh dari kata stabil. Mentalku juga belum kuat buat melangkah ke tahap itu. Keempat, yah, namanya perasaan. Tapi jika kupikir-pikir lagi, logikaku biasanya tumpul ketika benar-benar menyayangi seseorang. Saat aku mulai banyak pertimbangan, aku mulai sadar bahwa aku rupanya enggak sesayang itu sama dia. Bisa jadi aku banyak takutnya karena harapanku kepadanya juga terlalu banyak. Setahuku, cinta itu menguatkan. Terus, mengapa upayaku untuk mendapatkan dan bisa bersamanya lagi begitu lemah? Mungkin yang kemarinan itu cuma obsesi semata.

Tsubasa mengutip kalimat Futaba di anime Ao Haru Ride: Tapi, memang wajar kalau apa yang kita harapkan, sesekali tidak sesuai dengan keinginan, kan? Karena itu, aku akan memulainya dari awal lagi. Kurasa itu pilihan terbaik.

“Maksudku mengutip yang barusan begini, kalau kamu bisa menyebutkan alasan sebanyak itu dan merasa tak ada harapan lagi dengan dia, kamu kan masih bisa memulainya bersama orang baru.”

“Aku memang ingin sekali melupakannya. Mencoba lagi dengan orang baru. Anehnya, semakin aku berusaha menghapusnya dari kepalaku, dia justru muncul pada setiap malam menjelang tidur. Sewaktu aku membuka diri kepada orang baru, kadang-kadang muncul perasaan membandingkan. Sejauh ini belum ada yang semanis dan sebaik si anu. Aku ingin bisa terlepas dari bayang-bayang dirinya yang sungguh menggangguku.”

“Semua butuh proses, kan? Nikmati saja. Nanti gangguannya juga selesai. Sebagaimana saat menggambarku, kamu sering bilang kalau kemampuan dalam menggambar ataupun mendesain itu payah, jadi kamu bikinnya pasti pelan-pelan. Tidak bisa langsung jadi. Tapi, lihatlah sekarang, gambarmu rampung. Begitu pula dengan berakhirnya obrolan bodoh dalam kisah fiksi yang kamu anggap sampah ini.”

Aku belum sempat menanggapi kalimatnya sebab cerita mesti berakhir di paragraf ini. Aku kini sibuk memikirkan bagaimana cara menutupnya. Selembar daun  yang belum kukenali jenisnya terbang di depan wajahku. Angin musim gugur terasa begitu sejuk. Aku menoleh ke arah Tsubasa dan melihat dirinya memejamkan mata seraya menghirup udara segar di taman ini.



Apa yang Tsubasa ucapkan dalam kalimat terakhirnya itu benar. Dia memang benar-benar eskapisme. Dia bisa mengecoh kesepian saya. Mana bisa-bisanya saya membayangkan sedang mengobrol bersamanya dalam bahasa Indonesia dan topiknya tentang cinta. Saya bahkan tak tahu siapa sosok perempuan yang kami bahas dalam cerita itu. Yang saya tahu, dia telah berhasil membuat saya menulis lagi sekaligus bersenang-senang dalam mengisi blog ini.

--

PS: Iseng memodifikasi tulisan satu tahun lalu. Setelah membaca ulang, saya sepertinya paham mengapa akhir-akhir ini sulit membuka diri kepada orang baru, khususnya lawan jenis. Barangkali karena sebagian tulisan itu ada benarnya. Beberapa perempuan yang saya temui menginginkan hubungan yang cepat-cepat menikah, sedangkan protagonis masih payah dalam menjalani hidupnya sendiri. Alasan lainnya, ada gadis manis yang tak bisa saya hapus dari kepala, walaupun saya sadar betul bahwa sosoknya mirip seperti tokoh fiktif alias saya tak akan pernah bisa meraihnya karena berbagai alasan. Yang terpenting dari semua itu sih, hidup tanpa kekasih dalam dua tahun terakhir ini juga tak buruk-buruk amat selama saya dapat mencari eskapisme.
Read More
—Ya Allah, Tsubasa Honda dan Lisa Blackpink  bisa satu frame. Perpaduan yang sungguh aduhai.

—Bisa ya kamu lagi berduaan sama pacar, tapi masih tetap mainan HP dan memuji cewek lain.

—Kamu apaan, sih? Kamu kan tadi makannya belum kelar, sedangkan aku selesai duluan, makanya aku pilih main HP. Masa aku harus ngajak kamu ngobrol? Kalau nanti kamu keselek, gimana? Lagi pula, cewek lain apa? Dia kan termasuk idola. Jangan bilang, ini kamu lagi cemburu?

—Enggak, siapa yang cemburu?

—Ya, baguslah kalau begitu. Toh, mereka enggak akan bisa diraih.

—Seandainya mereka bisa diraih, kamu bakal pilih mereka, kan?

—Ya Allah, pertanyaanmu ngawur. Enggak penting buat dijawab.

—Enggak penting buat dijawab? Atau karena jawabannya sudah jelas? Kamu pasti pilih mereka yang lebih mulus dan cantik.

—Kayaknya ketika kamu lagi memuji idolamu, khususnya oppa-oppa Korea, aku enggak pernah mempermasalahkan mereka sama sekali.

—Alah, bullshit, buktinya kamu pernah tuh meledek si Firsa.

—Tapi aku enggak mempermasalahkan fisik dia, aku cuma mengkritik suara dia yang fals dan tulisannya kurang asyik dibaca.

—Kamu sendiri memangnya bisa nyanyi? Apa tulisanmu sudah cukup bagus?

—Apa aku harus jadi penyanyi dulu untuk membedakan antara suara yang enak didengar dan yang fals? Soal tulisan, kamu sendiri yang pernah memuji begitu.

—Kapan aku pernah memuji tulisanmu lebih baik ketimbang dia?

—Waktu aku pertama kali main ke rumahmu. Aku iseng ambil salah satu buku dia di rak, terus pengin coba baca karena penasaran kenapa kamu bisa sesuka itu sama dia. Ingat?

—Aku rada lupa. Aku bilang apa waktu itu?

—Awalnya aku bilang tulisan dia itu enggak bercerita. Gaya bertuturnya jelek banget. Diksinya maksa untuk puitis. Daripada disebut novel, buku dia lebih cocok dianggap kumpulan kutipan. Saat itu, entah betulan memuji atau khilaf, kamu sempat bilang bahwa tulisanku di blog lebih enak dibaca.

—Mungkin aku khilaf. [suara tawa] Itu yang kamu baca buku pertamanya dia, bukan?

—Aku enggak tahu itu buku keberapa, bahkan enggak peduli. Intinya mah tulisan dia jelek.

—Seingatku memang buku debutnya yang kamu baca waktu itu. Menurut aku wajar sih, namanya juga karya pertama. Pasti banyak kekurangannya. Sebelum menyimpulkan tulisan dia jelek, coba kamu baca buku dia yang lain dulu.

—Ogah.

—Ya, terserah kamu. Seenggaknya sih di mataku dia masih jauh lebih baik ketimbang kamu yang merasa tulisannya oke, tapi nyatanya belum punya karya satu pun.



Pemuda A tiba-tiba terkenang percakapan dua tahun silam bersama mantan pacarnya. Kalimat terakhir dari mantannya itu langsung membuatnya bungkam dan tak mampu berdebat lagi. Kalimat itu pun masih terasa menusuknya hingga saat ini. Sayangnya, dia benar-benar sudah lupa apa kejadian yang terjadi selanjutnya. Apakah dalam perjalanan pulang mereka saling membisu? Apakah mantan pacarnya sempat meminta maaf atas ucapan getirnya tersebut?

Yang masih terekam jelas di memorinya ialah dua bulan setelah percakapan itu: mereka putus. Tentu karena persoalan lain dan tak ada sangkut pautnya dengan pembicaraan hari itu.

Sampai hari ini pemuda A tak pernah menyesali keputusannya untuk mengakhiri hubungan mereka. Namun, malam ini dia justru membayangkan satu hal dan menuliskannya di catatan:

“Jika kita masih bersama, aku pasti sedang mengejek selera bacaanmu yang buruk, sebab bisa-bisanya betah membaca semua buku Firsa Bahari; sedangkan kamu akan gantian membalas bahwa aku pembual paling berisik dan sok asyik yang tak punya keberanian menerbitkan tulisan-tulisannya menjadi sebuah buku.”

--

Gambar diambil dari Pixabay.
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home