“Menulis cerita hanya dengan mengandalkan ingatan terkadang bikin kita lupa sama bagian-bagian terbaiknya.” —Mpu Gondrong, penulis berumur 21 yang terlalu sering mendengarkan lagu Rocket Rockers – Ingin Hilang Ingatan

-- 

Seorang pria berpakaian necis dan berambut klimis yang kira-kira berusia 30-an awal tampak ingin mendekati saya dan Fasya yang lagi duduk-duduk santai di Taman Lansia, Bandung. Kami sedang mengaso sejenak setelah mengunjungi Museum Geologi dan Museum Pos sembari menunggu kabar dari Rani, temannya Fasya yang bekerja di Gedung Sate. Rencananya kami ingin berkunjung ke sana. Jadi, sebelum Gedung Sate dibuka untuk umum seperti sekarang ini, saat itu—Maret 2016—yang boleh berkunjung hanyalah orang-orang khusus ataupun yang punya kenalan orang dalam. 

Pria itu kini sudah berjarak setengah meter dari tempat duduk kami. Dia mengucapkan selamat siang, mulai memperkenalkan diri, lalu membahas niatnya mendatangi kami. Meskipun saya sudah lupa siapa namanya, apa pekerjaannya, di mana tempatnya bekerja, yang jelas dia bermaksud meminta data kami untuk memenuhi target pekerjaannya. 

Fasya tentu bersikap waspada agar tidak memberikan datanya secara sembarangan, sehingga dia meminta keterangan lebih lanjut. Pria itu lantas memasang tampang melas, mengeluh betapa sulitnya mencapai target harian, dan menjelaskan bahwa data tersebut nantinya tak akan disalahgunakan. Entah Fasya merasa simpati, bermaksud menolong, mulai percaya sama ucapannya, atau bahkan kombinasi ketiganya, dia pun mengeluarkan dompet dan menyodorkan KTP-nya kepada pria itu. 

“Punya Masnya enggak sekalian?” ujar pria itu kepada saya sehabis memotret KTP milik Fasya. 

Belum sempat saya menjawab, Fasya sudah mewakilkan saya dengan berkata, “Dia bukan orang Bandung, Mas. Dia dari Jakarta. Ini lagi liburan. Boleh juga memangnya kalau bukan warga sini?”

Pria itu bilang enggak bisa dan berterima kasih, kemudian pamit meninggalkan kami. 

Sejujurnya, perkataan Fasya tentang saya lagi liburan itu terasa kurang tepat. Saya datang ke Bandung tidak dengan niat liburan. Saya hanya berusaha memenuhi janji kepada seorang kawan dekat yang berkuliah di Telkom untuk mengunjunginya sejak setahun lalu, tetapi jadwal kerja lepas dan kuliah selalu memaksa saya buat terus-menerus menundanya. Mumpung kali ini kuliah lagi libur dan saya juga sempat berjanji sama Fasya buat gantian main setelah sebulan silam dia datang ke Jakarta, saya pikir mungkin inilah waktu yang tepat untuk menerapkan peribahasa “sekali mendayung, bisa ketemu putri duyung dua tiga pulau terlampaui”. 

Sekalipun tujuan awal saya cuma silaturahmi, nyatanya saya sekarang bisa sekalian liburan dengan main ke beberapa tempat di Bandung berkat ajakan Fasya. Mengingat apa saja kebaikan yang telah Fasya lakukan kepada saya hari ini, tiba-tiba bikin hati saya tidak enak karena sewaktu dia bertandang ke Jakarta sambutan saya justru kurang asyik. 


Februari 2016 

Sewaktu saya bertanya kepada Fasya sudah sampai mana, dia bilang keretanya sedikit telat dan memberikan estimasi bakal tiba di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, sekitar 15 menit lagi. Maka, saya pun memilih menunggunya di Galeri Nasional (tempat pameran seni yang letaknya di seberang Stasiun Gambir) sekalian iseng memotret. 






Sehari sebelumnya Fasya mengirimi saya pesan di Line, “Yoga, besok aku ke Jakarta. Ada interviu kerja. Kamu sibuk, enggak? Mau minta tolong buat temenin ke kantornya.” Kebetulan jadwal kerja lepas saya masih dua hari lagi, jadinya besok masih libur dan memiliki waktu luang. Tapi mengingat saya juga ada kegiatan membantu orang tua dagang pada pagi hari dan kira-kira baru selesai pukul 9, saya pun harus mengabarkan kalau baru bisa menemuinya paling cepat pukul 9.30. Pesan Fasya berikutnya menjelaskan bahwa keretanya tiba pukul sebelas, bahkan jadwal wawancaranya juga sehabis Zuhur. Artinya, saya sanggup mengantarkan dan menemani Fasya ke tempat tujuannya. 


“Kan udah kenal, ngapain pas salaman nyebutin nama lagi?” ujar Fasya begitu kami bersalaman di dekat pintu keluar stasiun.

Saya berkata biar kenalannya lebih afdol, lalu terkekeh. Selagi kami berjalan menuju tempat motor saya terparkir, kesan pertama yang timbul di benak saya terhadapnya: suaranya berbeda dengan bayangan awal saya. Berhubung kami kenalnya baru lewat blog, saya tentu cuma bisa menduga seperti apa suara orang itu kala bercerita. Ternyata suara Fasya lebih kalem dari kebawelannya di tulisan. 

Awalnya kami tidak banyak mengobrol selama di motor menuju tempat lokasi yang beralamat di Jalan Panjang Nomor 8 A. Fasya hanya mengisahkan perjalanannya di kereta tadi mengenai penumpang yang menjengkelkan, sedangkan saya bertanya tentang siapa saja kawan di Jakarta yang sudah dia hubungi, lalu memperoleh jawaban yang luar biasa: Cuma kamu sama Tata. Setelahnya kami membisu kembali. 

Keheningan itu akhirnya pecah oleh pertanyaan Fasya, “Yoga, itu bloger cewek yang di grup Faedah dan diledek sama anak-anak betulan mantan kamu?” 

Meskipun agak terkejut, baguslah saat mendengar hal itu saya tidak lepas kendali dan bikin laju motor mendadak oleng. Entah pertanyaan yang barusan terlontar itu hanya basa-basi atau pancingan untuk mencurahkan isi hati, intinya saya tetap mencaplok umpan tersebut. 

Saya mengisahkan dari mana kedekatan saya dengan perempuan itu bermula, di mana kami bersua, berapa usia hubungannya, hingga bagaimana hubungan itu berakhir. 

“Kamu ada-ada aja, enggak kuat LDR-an tapi malah pilih pacar yang jauh-jauh. Kasihan kan dia diputusin sepihak gitu.” 

Saya tertawa seraya bilang betapa jahatnya diri saya. 

Keasyikan bercerita bikin saya hampir lupa dengan lokasi tujuan. Kalau saja saya tidak menoleh ke kiri dan mengerem, mungkin kami bakal kelewatan dan mesti putar balik lagi. Syukurlah kami berhenti tepat di depan gedung yang dituju Fasya. 

Azan Zuhur berkumandang ketika kami memarkir motor. Kami bergegas masuk ke gedungnya, bertanya kepada resepsionis tentang Pak Agus—orang yang ingin ditemui, dan menuju ruangan kerja sang pewawancara yang berada di lantai 4. 

Sesampainya kami di lantai 4 dan bertanya kepada salah seorang karyawan untuk bertemu Pak Agus, kami dipersilakan menunggu di ruangan yang tersedia bersama beberapa pelamar lainnya (yang kemungkinan besar berbeda posisi incaran) sebab saat ini Pak Agus sedang makan siang. 

Setengah jam berselang, wawancara itu akhirnya dimulai dengan santai sekali selayaknya mengobrol karena saya juga diperbolehkan bergabung bersama mereka. 

Sehabis mendengar ucapan Pak Agus mengenai beban pekerjaannya yang lumayan berat tapi gajinya tidak sepadan, lebih-lebih juga diutamakan yang domisili Jakarta, Fasya mendadak melempar tawaran pekerjaan itu kepada saya dengan berkata, “Kebetulan teman saya tinggal di Jakarta nih, Pak. Dia juga suka menulis di blog.” 

Berhubung saya merasa belum siap dan datang kemari hanya dengan niat mengantar, saya pun melontarkan kalimat bahwa saat ini belum lulus kuliah, masih semester 5. Saya menjelaskan lagi kalau saya kuliah kelas karyawan yang masuknya setiap Sabtu dan kadang-kadang Minggu juga, sehingga bertanya apakah tetap bisa mengemban tugas pekerjaan tersebut? 

“Masalahnya, kantor kami Sabtu juga masuk, Mas. Belum lagi ketika ada jadwal perjalanan ke luar kotanya.” 

Singkat cerita, interviu barusan selesai dengan hasil yang belum memuaskan. 

Selagi kami menuruni tangga menuju lantai dasar untuk bertanya kepada resepsionis di mana letak musalanya, saya membuka percakapan, “Habis dari sini memangnya kita mau ke mana, Teh?” 

“Tata sih ngajak ketemuan di Taman Anggrek.” 

“Oh, ya udah, mending salatnya di sana aja sekalian numpang ngadem di mal.” 


Sekitar pukul 2 kami telah berada di Mal Taman Anggrek, sudah rampung salat, dan kini duduk di sebuah kursi cokelat panjang yang terletak di tengah-tengah lorong mal yang membuat jalannya terbagi dua. Percisnya, kami duduk di antara toko peralatan optik dan toko kosmetik. 

Seraya menunggu kehadiran Tata, kami kembali berbincang. Kali ini topiknya menyangkut keluarga. Di antara pembahasan yang sensitif dan tak perlu dituliskan di sini, saya sempat berkata kalau saja waktu itu Fasya enggak berkomentar di blog saya mengenai namanya yang sama dengan Aulia Barbara—adik saya yang telah meninggal dalam kandungan, mungkin saya bakalan tidak sadar. Alih-alih merespons sedih, Fasya juga ikutan memberi tahu saya bahwa dia sebenarnya juga punya kakak yang bernama Akbar. Kami pun mentertawakan hal itu. 

Setahu saya, Fasya tak pernah menyebut-nyebut tentang kakaknya di blog. Tapi baru kali itu, dia mau bercerita banyak kepada saya yang mana termasuk orang asing dan baru pertama kali ditemuinya. Ada perasaan gembira yang muncul begitu saja ketika orang lain memilihmu sebagai tempat menampung cerita. Mungkin itu lantaran saya yang terlebih dahulu membuka kisah hidup saya kepada orang lain. 

Tapi, apa yang membuat saya percaya kepada Fasya? Mungkinkah saya berasumsi kalau anak Jurusan Psikologi bisa mendengarkan tanpa menginterupsi, atau saya membayangkan dia sebagai kakak saya? 

Waktu SD-SMP, saya memang pernah berimajinasi bagaimana rasanya punya seorang kakak karena saya pengin punya teman berbagi. Saya berandai-andai begitu sebab tak punya banyak teman dan malu untuk terbuka sama orang tua. Saya juga tak mungkin bercerita sama adik yang masih kecil. Apalagi dulu saya juga belum mengenal blog dan tak paham caranya “menulis”. 

Lalu saat ini, ketika saya bertemu dengannya dan mengobrol berbagai topik, seakan-akan saya telah menemukan figur seorang kakak pada diri Fasya*. Saya pun otomatis teringat akan momen sebelum wawancara di ruang tunggu dengan mengisahkan pengalaman percintaan saya yang getir sebelum akhirnya khilaf memilih LDR—seakan-akan tak mampu menggaet perempuan yang satu domisili. 

Saya membuka ceritanya begini, “Mungkin di mata mantan yang LDR itu aku penjahatnya. Tapi sebelum sama dia kan aku juga pernah jadi korban, Teh.” Fasya pun tertawa kala saya bilang betapa gobloknya diri saya yang mau-maunya balikan sama salah seorang mantan, padahal dia telah menyelingkuhi saya. Ketololan itu akhirnya bikin saya mengulangi rasa sakit hati akibat dikhianati oleh orang yang sama. 

Saya tak pernah keberatan ketika pengalaman pahit itu ditertawakan orang lain. Saya memang gemar mengejek diri sendiri dengan mengenangnya kembali dan mentertawai ketololan masa lalu. Saya kini justru merasa salut sama Fasya yang sebentar lagi akan interviu, tapi kok mau-maunya mendengarkan dongeng cinta yang dungu itu? Mungkinkah kisah nelangsa itu bisa membuatnya lebih rileks? 


“Si Tata katanya udah sampai tuh, Yog,” ujar Fasya. “Sekarang dia lagi di lantai 2.” 

Kami pun bangkit dari tempat duduk dan bergegas menemui Tata. Berhubung saya sudah pernah bertemu Tata sebelumnya, dari kejauhan saya pun bisa mengenali bahwa pria jangkung yang mengenakan kemeja flanel merah dan lagi memainkan ponselnya di depan salah satu toko ialah Tata. 

“Kamu ngapain nunggu di sini, Ta?” tanya Fasya. “Kayak enggak ada tempat lain aja.” 

“Emangnya kenapa, Teh?” 

Fasya menunjuk ke toko di belakang Tata yang ternyata menjual pakaian dalam wanita. Saya spontan menyemburkan tawa, sedangkan Tata cuma tertawa kikuk. 

Setelah kumpul bertiga, kami sepakat untuk makan siang di food court Taman Anggrek, yang uangnya mesti ditukar dengan uang mainan terlebih dahulu sebelum membeli. Sungguh sistem yang merepotkan. 

Sekelarnya makan, saya dan Tata mencoba bertanya kepada Fasya kira-kira mau main ke mana. Tapi karena Fasya mengatakan kalau dirinya harus kembali ke Stasiun Gambir sebelum Magrib, kami berdua pun bingung untuk mengusulkan tempat yang asyik. Akhirnya, kami cuma bisa pindah ke mal lainnya, yaitu Central Park. Setidaknya, mal ini tampak lebih menarik karena ada tamannya yang enak buat duduk-duduk santai tanpa harus merasa risih sama pramuniaga tokonya.



Saya sejujurnya sudah lupa apa saja yang kami bahas dalam obrolan itu. Paling-paling sih topiknya tidak jauh dari dunia blog dan tulis-menulis. Dua hal yang paling saya ingat dari hari itu, di sela-sela perbincangan Fasya mengajak kami berfoto dengan pose memegang pipi, lalu Tata sempat memamerkan sebuah trik sulap menghilangkan koin. Tak terasa waktu bergeser dengan begitu cepatnya dan tiba-tiba sudah menunjukkan pukul 5. Mau tak mau kami mesti menyudahi pertemuan singkat itu.







Jika bepergian pada jam pulang kerja, sekalipun naik motor dan bisa menyalip-nyalip pasti akan memakan waktu tempuh lebih banyak dibandingkan biasanya. Bahkan kalau lagi apes juga bisa dua kali lipatnya. Atas dasar itulah, Tata menyarankan kami untuk naik TransJakarta agar perjalanannya lebih lancar dan terhindar dari macet. Sayangnya, ajakan Tata ini termasuk sesat sebab menunggu kedatangan TransJakarta ternyata tidaklah sebentar. Sudah 15 menit menanti kemunculan busnya tapi tidak ada tanda-tanda bakal hadir, Fasya pun sampai berujar, “Ta, berhenti main sulapnya. Masa busnya juga dihilangin, sih? Aku kan mau pulang.” 

“Aduh, sori banget ya, Teh,” kata Tata. “Tumben banget nih busnya lama.” 

Saya dan Fasya tentu tak punya pilihan lain selain kembali ke parkiran mal dan menuju Stasiun Gambir menggunakan motor. Sore itu, tumben sekali kondisi lalu lintas dari Taman Anggrek menuju Gambir sangat lancar. Di sepanjang jalan itu jarang sekali kendaraan, padahal biasanya selalu padat merayap. Apakah ini yang dinamakan sebuah berkah? Rezeki anak saleh? Apa pun itu, saya cuma bisa mengucap alhamdulillah karena berhasil mengantarkan Fasya ke Stasiun Gambir dengan tepat waktu dan selamat. 

Kami berdua bahkan masih sempat menyantap es krim McFlurry, lalu bertemu dengan Heri—temannya Fasya yang bekerja di sekitaran situ—sekalian mengobrol singkat sembari menunggu jadwal keberangkatan kereta. Bunyi azan Magrib lantas menyudahi perbincangan kami. Fasya pun pamitan dan menutup kalimatnya dengan meminta saya untuk gantian berkunjung ke Bandung. 

-- 

*) Saya pernah menuliskan tentang hal ini sebelumnya di caption Instagram: https://www.instagram.com/p/B3AVo3sJGZN/

PS: Maafkan saya, Sya, baru mampu menyelesaikan draf ini sejak empat tahun silam. Saya tak tahu kelanjutan ceritanya bakal selesai kapan. Mungkinkah lima tahun lagi? Terima kasih sudah mensponsori saya kuota untuk menerbitkan tulisan di blog.
Read More
—20 Februari 2001 



Pagi itu semestinya menjadi pagi yang normal di SDN Palmerah 03, tepatnya di ruangan kelas 2. Pada pukul delapan, sebagaimana biasanya, di kelas itu guru dan murid-murid sedang dalam proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar). Sayangnya, kali ini kondisinya menjadi sedikit berbeda karena ulah salah seorang murid bernama Rangga. Meskipun kejadiannya hanya sebentar, suasana kelas yang tadinya hening itu berubah menjadi agak ricuh lantaran perkara pensil.


Bu Isnaini, guru yang mengajar berbagai mata pelajaran (kecuali Agama Islam, Seni Budaya, dan Penjaskes) dan merangkap wali kelas 2 sedang menulis soal Matematika di papan tulis hitam menggunakan kapur. Murid-murid lantas disuruh menyalin soalnya ke buku tulis mereka masing-masing menggunakan pensil, kemudian mengerjakannya.

Ketika mayoritas murid perhatiannya terfokus pada buku tulis dan soal yang harus digarap, Rangga justru memperhatikan pensil yang dipegang oleh Rani, temannya yang duduk di seberang kanannya. Rangga melihat pensil di tangan kanan Rani yang sudah pendek sekali, bahkan ukurannya sama seperti kelingkingnya. Kala itulah Rangga melontarkan sebuah mitos kepada Rani: Barang siapa yang memakai pensil dengan ukuran yang sama atau lebih pendek dari kelingkingnya, nanti ibunya bakalan cepat meninggal.

Rani yang mendengar perkataan Rangga barusan cuma menoleh sekilas ke arahnya, lalu perhatiannya kembali tersedot ke buku tulisnya. Berbeda dengan Rani yang tampak rileks, Laras—teman sebangku Rani—langsung merasa ngeri akan mitos tersebut. 

“Dikasih tau kok malah enggak percaya,” kata Rangga. 

Kali ini Rani tidak bereaksi sedikit pun. 

Kesal karena kalimatnya tidak digubris, Rangga pun merampas pensil Rani begitu saja. Rani yang terkejut dengan tindakan Rangga itu spontan berdiri dan berteriak, “Ih, sini balikin pensil aku! Aku kan mau nulis.” 

Bu Isnaini yang mendengar keributan kecil itu tiba-tiba berdiri, menggebrak meja, dan mempertanyakan ada masalah apa kepada Rani.

“Itu, Bu. Pensil aku diambil sama Rangga.” 

Mendengar namanya disebut, Rangga segera menundukkan wajahnya. Dia tak berani menegakkan kepala. Rangga cuma bisa menatap lantai dan sepatu Kasogi hitam yang dipakainya.

Bu Isnaini memalingkan wajahnya ke arah Rangga dan memanggil namanya. Rangga mendengar suara lemah lembut yang memanggil namanya. Perlahan-lahan Rangga mulai melihat paras Bu Isnaini yang ternyata sedang tersenyum. Meskipun mendadak tampak ramah, suara halus dan senyuman Bu Isnaini itu terasa sangat ganjil baginya.

“Rangga,” ujar Bu Isnaini. “Kembalikan dong pensil temanmu.” 

Saat berkata demikian, Rangga—yang duduk di barisan tengah sebelah kiri—dapat melihat dengan jelas kalau terdapat api di sorot mata gurunya. Rangga pun jadi teringat tatapan ibunya. Sorot mata itu mirip seperti kemarahan yang lagi ditahan-tahan oleh ibunya sebelum beliau murka serta menghajar Rangga menggunakan sapu lidi ketika dirinya kelewat bandel, lebih-lebih tak mau mendengar perkataan orang tua. 

Rangga bergidik membayangkan hal itu. Dia pun segera mengembalikan pensil Rani dengan menaruhnya di meja seberang, lalu menunduk lagi. Bedanya, kali ini Rangga menunduk untuk memandangi soal-soal di buku tulisnya.

Bu Isnaini kembali duduk di kursinya dan fokus mengoreksi PR Bahasa Indonesia para muridnya. 

Sewaktu keadaan mulai normal, Laras memberanikan diri bertanya kepada Rani secara berbisik, “Kamu memangnya enggak punya pensil lagi, Ran?” 

“Punya sih, tapi aku lebih suka pakai pensil yang pendek. Kenapa, Ras?” 

“Kamu enggak percaya sama mitos tentang pensil sekelingking itu?” 

“Percaya, kok.” 

“Tapi kenapa kamu enggak terlihat takut?” 

“Takut buat apa? Lagian ibuku sudah meninggal sejak aku masih bayi.” 

Kelas itu pun kini kembali ribut karena suara tangisan Laras. 

Bu Isnaini cuma bisa geleng-geleng kepala saat mendengar bunyi cempreng itu sembari bertanya kepada Rani apa yang kali ini terjadi.

--

Gambar dicomot dari: https://pixabay.com/photos/pencil-sharpener-notebook-paper-918449/
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home