“Biarkan cahayaku berpijar sampai nanti. Darah di nadiku mengalir deras karenamu. Racun yang di tubuhku terhapus karena napasmu. Cahaya, cahaya, berpijarlah untuk selamanya. Ingin ku rasa ini... selamanya.” —Zat Kimia, Feromon 

-- 

Saya berencana mengisahkan ulang cerita anime Kimetsu no Yaiba episode 11-14 secara suka-suka. Bagi yang belum pernah mengikuti kisahnya dan takut enggak paham, kamu boleh menutup halaman ini. Tapi tunggu sebentar, bukankah tak baik memilih berhenti sebelum mencobanya sama sekali? Jadi, semoga kamu bisa tetap menikmati dongeng berikut ini. Seandainya nanti kamu merasa jenuh atau kecewa atau tidak puas dengan tulisan saya, berarti saya telah gagal menceritakan ulang sebaik versi anime maupun komiknya, dan kamu tentu saja boleh mengejek saya di kolom komentar. Saya mungkin juga telah gagal sebagai seorang pencerita. Menyadur sebuah kisah ternyata tidak semudah kelihatannya. Lagian, kapan sih proses menulis bisa terasa gampang?

-- 



Kegilaan ini bermula dari sebuah kecupan di pipi kananku. Kegilaan ini bermula dari sebuah kecupan di pipi kananku, suatu hadiah sehabis menolong sesosok iblis perempuan. Kegilaan ini bermula dari sebuah kecupan di pipi kananku, suatu hadiah sehabis menolong sesosok iblis perempuan berjenis langka yang bernama Nezuko.
Read More
Seusai menonton enam film pendek bertema romansa di Youtube, Farhan bertanya kepadaku, “Kapan terakhir kali kau menangis karena cewek?” Biarpun nenek, ibu, dan tante juga termasuk perempuan, tapi kayaknya maksud Farhan bukan menyangkut anggota keluarga semacam itu. Ini pasti berurusan dengan gebetan atau kekasih. Maka, pertanyaan itu tentu tak bisa kujawab dengan lekas. Aku perlu mengecek satu per satu laci kenangan di dalam kepala terlebih dahulu.



Sebelumnya, Farhan sering memuji memori otakku yang sanggup menggali kenangan-kenangan lawas dalam waktu singkat. Ketika kami sedang membicarakan kenangan masa kecil, misalnya, aku sudah membagikan enam cerita, sedangkan Farhan baru dua. Dalam waktu kurang dari 30 detik selepas aku berkisah bagaimana dulu dia pernah menangis kejer lantaran gagal melulu mengalahkan Oxide dalam gim CTR (Crash Team Racing) di Playstation, aku menambahkan dia juga pernah menangis seperti itu saat melempar mainan Crush Gear milik kawannya, menirukan aksi para karakternya di televisi. Hasilnya: tentu saja mainan itu langsung rusak dan akhirnya disuruh ganti rugi.

Farhan pun mengakak, tidak menyangkal sama sekali, dan berkata, “Kalau kau enggak cerita, Bar, aku pasti sudah lupa pernah segoblok itu zaman bocah. Daya ingatmu luar biasa, ya.”

Sayangnya, kali ini aku betul-betul gagal mempertahankan kehebatan daya ingat yang sempat Farhan ucapkan. Barangkali pujian itu terlalu berlebihan. Mungkin juga karena pikiranku bekerja secara otomatis untuk mengunci rapat hal-hal yang menyakitkan—yang dulu ingin sekali kulupakan.

Berhubung aku tak ingin membuatnya menunggu, aku hanya bisa merespons singkat: lupa. Farhan tidak terima dengan jawaban tersebut, bilang kalau aku berpura-pura sebab malu menunjukkan sisi melankolis, dan tetap memprovokasiku supaya terus menggali ingatan sampai ke akar-akarnya.

Aku mencoba meyakinkannya bahwa sekarang ini kepalaku sedang tidak berfungsi dengan baik karena mulai mengantuk, lalu balik bertanya kenapa dia tiba-tiba mempertanyakan hal itu. Farhan bercerita mengenai dua bulan silam habis ketahuan selingkuh oleh pacarnya.

Aku sangat terkejut begitu mendengarnya. Jika ingatan ini tak berdusta, seminggu yang lalu aku sempat melihat mereka mengunggah cerita di Instagram sedang berkencan di sebuah kafe. Aku kira hubungan mereka yang telah berjalan tiga tahunan itu juga baik-baik saja tanpa kendala dalam belakangan ini, sebab mereka tak pernah lagi mencurahkan persoalan itu ke media sosial.

Sampai tiga bulan silam, setahuku mereka masih gemar saling sindir jika sedang bertengkar. Contohnya, sewaktu Farhan ada reuni bersama kawan SMP-nya, Nadia—pacarnya—dengan konyolnya bikin twit begini lantaran teringat Farhan saat masa sekolah dulu sempat jadian dengan teman sekelasnya: “Asyik ya yang lagi nostalgia sama mantan. Sampai lupa kasih kabar.”

Farhan lantas membalas, “Enak banget jadi manusia yang suka menuduh-nuduh sembarangan tanpa ada bukti, padahal orang yang dimaksud juga enggak datang ke reunian. Udah jelas-jelas salah, enggak mau minta maaf pula. Kocak.”

Entah kini mereka sudah bertambah dewasa dan sadar betapa tololnya hal itu sehingga malu buat memamerkan problem hubungannya lagi, atau mereka sama-sama lupa kata sandi akun Twitter-nya. Tanpa perlu menebak-nebak, aku akhirnya bertanya kepadanya, “Terus kalian sempat putus atau gimana, Han?”

“Putus tiga hari doang, terus balikan.”

Dalam keadaan sama-sama rebahan beranjak tidur, Farhan kemudian mengisahkan kepadaku kronologi kejadiannya secara berantakan. Mungkin karena dia sudah mengantuk atau memang tak pandai bercerita. Beginilah kisahnya setelah kususun ulang dengan versi lebih ringkas:

Merasa jengkel dengan tuduhan pacarnya yang kian lama bikin jenuh, lebih-lebih tak mau meminta maaf atas prasangka buruk itu, Farhan jadi kepikiran untuk memasang aplikasi Tinder di ponselnya buat menghibur diri sekaligus mencari teman bercerita. Satu jam berselang, dia akhirnya berteman dengan seorang perempuan bernama Indira dan mulai mengobrol. Mulanya niat Farhan hanya iseng mencari pelarian sejenak dengan berbincang-bincang via aplikasi bersama perempuan lain (karena sedang jeda komunikasi sama pacarnya) tanpa ada niat bertemu langsung. Namun, begitu Indira tiba-tiba memancing Farhan dengan bilang lagi butuh teman nonton film Joker sebab malas menonton bioskop sendirian, keisengan itu berubah jadi hal yang tak terduga.

Penampilan Indira saat perjumpaan hari itu mirip sebagaimana potret dari samping yang dia pajang di Tinder: berparas khas Arab dengan hidung mancung, berambut lurus sepunggung, warna kulit kuning langsat, dan bertubuh montok berisi. Intinya, tak ada satu pun kepalsuan dalam foto tersebut kalau dibandingkan dengan sosok aslinya. Melihat perempuan seaduhai itu, Farhan pun seolah-olah lupa akan fakta bahwa dia telah memiliki kekasih.

Sepulangnya menonton bioskop di mal Taman Anggrek, mereka melanjutkan agenda hari itu dengan makan sore di warung Sambal Super area Tanjung Duren. Dari sanalah perselingkuhan itu dimulai. Memang, Farhan dan Indira belum pernah bersua kembali, apalagi melakukan hal yang bukan-bukan, hingga Nadia berhasil mengetahui perbuatan biadab mereka. Tapi banyaknya rekam jejak digital, yakni obrolan mesra via teks, telepon, dan panggilan video yang lupa Farhan hapus, sangatlah membuat Nadia murka. Perselingkuhan tetaplah perselingkuhan sekalipun tak ada sentuhan fisik.

Saat hari pertama ketahuan selingkuh, pada Minggu siang yang cerah—yang niatnya untuk berkencan lalu mendadak berubah menjadi momen berengsek, Farhan jelas langsung meminta maaf kepada Nadia. Tidak lupa dia menghapus bukti-bukti yang Nadia temukan, memblokir kontak Indira, serta memberi penjelasan tentang hubungan mereka yang belum terlalu jauh. Tapi sebagaimana orang-orang yang amarahnya sedang di puncak, Nadia tidak mau mendengar penjelasan apa pun. Dia hanya ingin menyebutkan daftar binatang yang lazimnya digunakan untuk memaki, lalu meminta putus.

Pada keesokan harinya, Farhan tetap berusaha menghubungi Nadia, meminta maaf semampunya, dan mengajak rujuk kembali. Tak ada satu pun respons. Farhan sangat frustrasi akan sikap Nadia yang mengabaikannya. Hingga hari ketiga, sepulangnya dari kantor, Farhan nekat mampir ke indekos Nadia.

Begitu dibukakan pintu oleh Nadia, Farhan langsung memeluknya, berlutut, sampai akhirnya menangis di pangkuan Nadia. Dengan terisak-isak, Farhan mengaku itu pertama kalinya dalam seumur hidup dia khilaf selingkuh selama berpacaran. Dia berjanji enggak akan mengulanginya lagi, berupaya mengubah sifat-sifat buruk lainnya, serta mencoba lebih mengerti Nadia. Nadia pun luluh dengan permintaan maaf tulus Farhan. Sepertinya dia terkejut dengan sisi lain Farhan yang bisa secengeng itu demi cinta. Sampai-sampai air mata yang Farhan jatuhkan itu kalau dikumpulkan mungkin bisa memenuhi sepatu pantofel ukuran 39.

Sejak Farhan menangis di pangkuan Nadia, hubungan mereka semakin lama membaik. Mereka juga mulai introspeksi satu sama lain, khususnya persoalan mengeluh di Twitter seperti sebelum-sebelumnya yang tampak norak.


“Pantas baru dua minggu selingkuh kau langsung ketahuan sama Nadia, Han,” ujarku. “Kau ternyata masih pemula.”

“Anjing!” kata Farhan sembari menoyor kepalaku. “Emang kau sendiri udah ahli, Bar?”

“Sori ya, aku mah enggak pernah ada niat kayak begitu.”

“Kau bahkan udah enggak niat punya pacar, kan?”

Kini, gantian aku yang menyikut kepalanya.

“Gantian dong, Bar, mana ceritamu pas nangis karena cewek?”

“Sabar, Han, ini dari tadi juga sambil diingat-ingat.”


Aku sungguh lupa kapan terakhir kali menangisi perempuan. Maksudku, menangis yang betul-betul keluar cairan. Akhir-akhir ini semakin banyak orang yang mengaku kalau mereka menangis tanpa keluar air mata, kan? Konon itu rasa sedihnya sudah sangat mendalam. Nah, seingatku, setiap kali aku dan pacarku memilih bubar pasti dadaku terasa sesak dan hatiku juga bakal menjerit-jerit. Itu termasuk menangis tanpa keluar air mata, kah? Aku sebenarnya juga ingin menumpahkan air mata, sialnya tak ada setetes pun yang terjatuh, bahkan berkaca-kaca juga tidak. Aneh sekali.

Namun, sehabis mendengar kisah Farhan yang sampai mengorbankan harga dirinya dengan menangis di hadapan pacarnya itu, pecahan-pecahan memori jahanam di kepalaku mulai muncul kembali. Mulutku otomatis mengucapkan, “Han, aku mulai ingat nih.”

Tak ada tanggapan darinya. Cuma terdengar bunyi orang bergumam. Aku menoleh ke kiri. Farhan sudah memejamkan matanya. Sialan, tadi minta gantian cerita, eh giliran aku telah mengingatnya justru dia tertidur pulas.

Meski begitu, aku sudah tidak kaget lagi, sih. Setiap kali menginap di rumah Farhan aku biasanya juga ditinggal tidur seperti ini. Masalahnya, gara-gara berusaha menjawab pertanyaan bedebahnya itu, rasa kantukku lenyap seketika dan tak bisa ikutan nyenyak. Aku juga tak tahu mesti menceritakan kenangan ini kepada siapa. Apakah aku mesti merenunginya sendirian?

Aku lalu mengambil ponsel yang tergeletak di dekat paha kananku. Waktu sudah menunjukkan pukul 02.17. Aku mengecek aplikasi WhatsApp, kemudian membuka kontak Anisa Oktaviani. Di situ muncul percakapan terakhir kami sebulan yang lalu sedang membahas film Pyaar Ka Punchnama (2011).

Itu film yang beberapa bulan lalu Anisa rekomendasikan di Twitter, terus aku iseng menontonnya. Omong-omong, aku dan Anisa baru berkenalan secara digital. Awalnya kami cuma mengobrol lewat media sosial, barulah setahun berikutnya saling bertukar nomor telepon. Kami belum pernah sekali pun kopi darat, padahal sudah berteman selama empat tahunan. Mau bagaimana lagi, aku tinggal di Jakarta, sedangkan dia di Samarinda. Biarpun begitu, kami termasuk kawan yang akrab, khususnya saat membicarakan film dan mengaitkannya dengan pengalaman pribadi.

Jika dibandingkan dengan Anisa, wawasanku dalam perfilman terbilang cetek. Kira-kira 3 berbanding 8. Film-film yang dia tonton dan menjadi kesukaannya jarang sekali kuketahui, sedangkan yang menjadi favoritku kebanyakan juga menjadi idola sejuta umat—dengan kata lain: pasaran. Terus terang saja, mungkin karena selera kami berbeda atau aku kurang cocok dengan seleranya. Aku yang lebih menyukai anime ini memang terlalu pemilih dalam soal tontonan lain. Banyak genre yang aku benci. Misalnya, aku pantang menonton horor dan thriller yang terlalu sadis. Aku juga kurang suka dengan film yang garis besarnya mengisahkan percintaan tanpa ada bumbu lain. Apalagi film yang berasal dari India. Banyak nyanyi dan joget-jogetnya. Asli, bagian itu bagiku sungguh membuang-buang waktu.

Namun, rekomendasi Anisa kali itu entah mengapa malah cocok dan terasa relevan denganku. Dulu, nasibku dalam menjalin hubungan dengan perempuan juga pernah setragis di film. Lima tahun silam, tepatnya sewaktu aku berusia 19, aku betul-betul lelah dengan sifat Nova—pacarku saat itu. Makanya, aku mengakak pada sebuah adegan di film Pyaar Ka Punchnama, ketika Rajat mencerocos selama lima menit hanya buat mengeluh soal perempuan kepada kawannya.



Aku juga sempat melakukan hal itu. Aku mengisahkan permasalahanku kepada Farhan ataupun sebaliknya. Aku muak harus sering-sering mengabari pacarku saat jam kerja. Apalagi aku ini tipe orang yang membuka ponsel cuma pas jam istirahat atau sewaktu pekerjaanku telah rampung. Jika pekerjaan masih menumpuk, aku malas menyentuh gawai itu, bahkan memilih mematikannya. Aku cukup paham sih kenapa Nova ingin sekali kontakan denganku. Dia bekerja sebagai resepsionis di salah satu radio kawasan Jakarta Barat. Kalau tamunya lagi sepi, dia tentu merasa jenuh bukan main. Tapi, bukan berarti dia harus ketergantungan terus denganku. Dia kan bisa cari cara lain buat menghibur diri. Baik itu dengan mendengarkan lagu, membaca buku, atau menonton film di ponselnya.

Nova bilang, aku ini kurang perhatian maupun pengertian, padahal menurutku dialah yang begitu. Sampai akhirnya, hal itu menjadi satu dari sekian banyak alasan Nova untuk menyudahi hubungan kami pada kemudian hari.

Berbeda dengan Farhan yang reunian bersama teman SMP-nya lalu dituduh-tuduh oleh pacarnya sedang bernostagia dengan mantan, padahal nyatanya tidak sama sekali; kejadian reunian teman SMP yang Nova ikuti justru membuat dia dekat dan jadi sering berkomunikasi sama salah satu cowok bernama Agung. Berhubung Agung seorang fotografer lepas, dia memiliki waktu yang lebih fleksibel ketimbang aku yang penginput data dan mesti mengetik sembari menatap layar komputer terus-menerus.

Kekosongan Nova yang tak bisa aku isi karena kesibukan, akhirnya tergantikan oleh kehadiran Agung. Aku pun mulai cemburu, meminta penjelasan dari Nova, dan memintanya buat menjaga sikap. Tapi Nova selalu menyangkal hal itu. Dia bilang tak ada hubungan apa-apa. Percakapannya biasa saja selayaknya teman lama yang lagi bertukar kabar. Aku merasa dongkol tidak keruan. Sialnya, aku masih sayang sekali kepadanya. Aku tak mampu mengakhiri hubungan yang sudah berjalan setahun ini.

Hingga akhirnya, pada suatu malam selepas azan Isya, dialah yang berhasil melontarkan kalimat putus terlebih dahulu, “Kayaknya aku udah enggak bisa sama kamu lagi, Bar. Kamu tuh emosian banget setiap cemburu enggak jelas begini. Aku capek kita berantem melulu setiap hari. Mungkin kita emang udah enggak cocok. Mendingan jadi teman lagi kayak dulu.”

Kala aku membaca pesan itu, terdengar bunyi petir kencang sekali. Kebetulan cuacanya memang lagi hujan deras. Aku berusaha meminta maaf, mencari apa penyebabnya, lalu terburu-buru menyebut nama Agung dalam urusan itu.

“Apaan sih pakai bawa-bawa dia? Ini tuh tentang kita. Dia enggak ada hubungannya sama sekali. Kamu kalau salah tuh ngaku aja kek, jangan malah cari-cari kambing hitam.”

Aku meminta maaf lagi. Tak ada balasan. Aku kemudian meneleponnya. Tetap tak ada respons. Nova lalu mengirim pesan bahwa tak mau mengangkat teleponku dengan alasan takut tersambar petir.

Sehabis salat Isya dan berdoa, aku pun nekat pergi ke rumah Nova.


Sepuluh detik setelah pintu rumahnya kuketuk dan mengucapkan salam, ibunya Nova membukakan pintu. Beliau bertanya ada masalah apa sehingga bersikeras menerobos hujan lebat begini.

“Ada salah paham yang harus dibicarakan langsung sama Nova, Bu.”

“Memangnya enggak bisa lain waktu?”

Mendengar perkataannya, aku langsung bergeming dan merasa tolol. Betul juga. Kenapa tiba-tiba aku datang ke sini cuma untuk membicarakan masalah? Bukankah kondisi cuaca juga sama sekali tidak mendukung? Mana tadi di perjalanan aku mengebut pula. Syukurlah tidak terjadi kecelakaan.

“Ya udah, mari masuk,” ujar beliau sembari mempersilakanku duduk. “Ibu panggilkan dulu ya si Nova.”


“Kamu betul-betul gila ya, Bar?” kata Nova begitu keluar kamar dan duduk di sebelahku. “Aku tuh paling enggak suka sama cowok yang nekat dan berpikiran pendek kayak kamu.”

“Maaf, Nov, tapi menurutku cuma ini caranya biar hubungan kita tetap bertahan.”

“Justru karena kamu begini, aku semakin yakin buat putus.”

“Loh, kenapa? Aku bikin salah apa lagi?”

Nova memberi tahuku tentang status BlackBerry Messenger ibuku: “Ya Allah, hujan deras begini anakku malah kelayapan. Semoga dia baik-baik aja. Aamiin.” Tak cukup dengan status, Nova juga memperlihatkan pesan ibuku, “Nova, memangnya si Barry punya salah apa sampai kamu enggak mau maafin dia?”

Anjing, kenapa orang tua jadi ikut campur masalah begini, sih? Setan. Iblis. Dedemit. Jurik. Kenapa ibuku segala membuat status norak semacam itu? Kenapa pula mereka berteman di BBM?

Ah, aku ingat. Ini semua lantaran Nova yang kurang percaya denganku, sehingga enam bulan lalu dia meminta kontak ibuku. Agar dia bisa memastikan kalimatku bukanlah dusta. Misalnya, sewaktu aku pamit pergi ke suatu tempat, Nova juga akan bertanya kepada ibuku supaya lebih yakin.

Rasanya kurang patut jika aku menyalahkan ibuku dalam kondisi kacau ini. Mungkin dengan nekat datang ke rumah Nova begini aku juga sudah melakukan kesalahan fatal terhadap ibuku. Aku telah membuat ibuku cemas. Aku masih ingat dengan jelas percakapan tadi di rumah ketika sedang memakai jas hujan dan pamit pergi.

“Kamu mau ke mana hujan-hujan begini, Bar?”

Aku menjelaskan ingin ke rumah Nova buat meminta maaf dan bertanggung jawab atas kesalahanku.

“Tanggung jawab apa? Kamu ngehamilin Nova?”

Aku terkejut dengan pertanyaan barusan. Sepertinya aku salah bicara.

“Bar, betul kamu ngehamilin dia?”

“Astagfirullah. Enggak, Bu. Kenapa berpikiran sejauh itu? Ciuman aja aku belum pernah. Ini cuma ada salah paham. Pokoknya masalah anak muda deh.”

Ibuku akhirnya dapat bernapas dengan lega dan mengizinkanku pergi. Tapi setelah aku menutup pintu, aku mendengar beliau berkata, “Kayak enggak ada hari lain aja.”

Di dalam hati, aku teramat menyesal dan meminta maaf kepada ibuku. Aku kini juga hanya bisa meminta maaf kepada Nova akan status BBM ataupun pesan ibuku. Dia memilih tetap membisu. Momen beku tanpa suara yang bikin enggak nyaman ini akhirnya menyelimuti kami.

Keheningan itu kemudian pecah ketika ibunya Nova menyuguhkanku teh manis hangat di meja yang terletak di hadapanku. Beliau menyuruhku untuk segera meminumnya. Selagi aku menyeruput teh itu, beliau menasihati kami berdua agar membicarakannya baik-baik sebelum mengambil keputusan, lalu kembali ke kamarnya.

Aku lagi-lagi meminta maaf dan berusaha mempertahankan hubungan kami. Nova tetap tak peduli dengan perkataanku.

“Jawab dong, Yang.”

“Enggak usah panggil aku ‘yang-yang’ lagi. Aku betulan capek sama kamu, Bar. Aku pengin sendiri aja.”

“Ini bukan alasan kamu karena ada orang lain, kan?

“Terserah kamu mau ngomong apa deh, Bar.”

Aku tak punya pilihan lain selain meminta maaf lagi.


Di film Pyaar Ka Punchnama, ada seorang cowok yang menangis di pangkuan ceweknya karena tidak kuat lagi dengan sikapnya yang kian menjengkelkan. Kenapa cewek itu bisa-bisanya bercerita habis begituan sama cowok lain, apalagi sampai menjelaskan betapa nikmatnya indehoi? Tidak terima akan fakta itu, maka sang cowok pun memohon-mohon kepada si cewek untuk bilang bahwa yang barusan dikatakannya hanyalah kebohongan semata. Tak ada pria lain selain dirinya.



Aku tak habis pikir dengan bagian yang satu ini. Apakah itu karena saking cintanya si cowok sampai dia rela mengorbankan harga dirinya, padahal jelas-jelas sudah dipermainkan sedemikian rupa sama si cewek? Berbeda dengan di film, kisah Farhan yang menangis di pangkuan pacarnya sebab dia telah berkhianat tentu masih terasa wajar buatku.

Terlepas akan hal-hal barusan, pada hari itu aku juga sempat meletakkan kepalaku di pangkuan Nova seperti yang Farhan lakukan ataupun tokoh pria di film itu. Aku mengulang permintaan maafku sampai tiga kali sembari memohon-mohon supaya tidak putus, tetapi tak kunjung mendapatkan titik terang dari hubungan yang sudah di ujung tanduk ini. Seketika itu aku ingin sekali menangis di pangkuannya. Sayangnya, aku tak ingin mempermalukan diri lebih dari ini atau bermaksud menyelamatkan harga diri, jadi kutahan air mataku sekuat mungkin.

Saat itu aku malah teringat kembali dengan status BBM ibuku. Mungkin menjalin komunikasi dengan orang tua pacar itu ada baiknya. Berhubung niat Nova bukan untuk mengakrabkan diri, melainkan krisis kepercayaan terhadapku, aku pikir punya pacar yang overprotektif dan curigaan seperti dia sangatlah merepotkan dan melelahkan. Bisa jadi putus dengannya bukanlah ide buruk.

Jadi, aku pun langsung menegakkan kepalaku, menatap matanya, dan bilang dengan mantap, “Oke, Nov, aku udah paham sekarang. Berarti mulai malam ini kita putus.”

Giliran aku memutuskannya, dia langsung menghinaku dengan “anjing”, “bajingan”, serta “cowok bangsat”.

Aku tak peduli lagi. Aku tak ingin menyesali keputusanku yang sudah bulat itu. Maka, aku hanya bisa menanggapinya dengan senyuman, lalu berterima kasih kepadanya. Baik karena telah menemani hari-hariku maupun atas kebaikan yang dia dan keluarganya berikan selama ini. Aku menutup kalimatku dengan menitip salam kepada ibunya.

Walaupun kondisi di luar masih hujan gerimis, aku sudah tak ada keperluan lagi di rumah Nova. Berlama-lama di sini cuma akan menimbulkan nestapa. Toh, malam juga sudah semakin larut. Aku pun memilih pulang tanpa mengenakan jas hujan. Jadi begitu keluar dari area kompleks rumahnya, aku langsung memacu motor secepat mungkin. Kebetulan suasana jalan raya juga lagi sepi-sepinya. Tak ada mobil melintas di jalur yang kulalui. Hanya ada 2-3 motor yang terlihat di depanku. Ketika itulah tangis yang kutahan-tahan sejak tadi mulai luber begitu saja. Aku menangisi hubungan yang baru saja berakhir seraya kilas balik masa-masa membahagiakan yang pernah kami lewati bersama. Sesudah hatiku terasa lebih plong, aku memaki sekencang-kencangnya, “Cinta tai kotok.”


Satu minggu setelahnya, tai kotok itu tak sengaja terinjak olehku alias sewaktu aku lagi main ke rumah kawan di kawasan Bintaro, aku melihat Nova boncengan naik motor bersama seorang cowok. Yang tidak lain tidak bukan adalah Agung. Nova memeluknya dengan erat seakan-akan tak ingin kehilangannya.

Aku pun berkata lirih, “Katanya waktu itu pengin sendiri, Nov? Kok sekarang berdua? Dasar cewek bajingan!”


Saat mengenang memori sialan itu, gerimis turun begitu saja di sudut mataku. Dadaku sesak tidak keruan. Rasanya seperti menancapkan pisau yang baru diasah ke luka lama yang sudah sembuh. Biarpun menyakitkan, menangis tengah malam menjelang tidur begini terasa nikmat sekali.

“Bar, kau kenapa nangis?”

Aku terkejut Farhan tiba-tiba terbangun. Bangsat, momen begini sungguh bikin malu. Bisa-bisanya aku kepergok lagi meneteskan air mata. Ayo, segera cari alasan, Bar. Lekaslah berpikir. Dengan satu tarikan napas, lalu mengembuskannya perlahan-lahan, aku akhirnya menjawab, “Aku barusan mimpi ibuku meninggal.”

“Ya, Allah.”

“Aku belum siap kehilangan ibuku, Han.”

Farhan menasihatiku bahwa itu cuma bunga tidur. Enggak perlu dipikirkan lebih jauh. Aku mengangguk dan mengelap air mataku. Farhan lantas bangkit dari posisi rebahnya, berjalan ke dapur, dan mengambilkanku segelas air putih. Aku meminumnya hingga tandas. Dia pun menyuruhku tidur lagi, serta jangan lupa berdoa. Aku langsung memejamkan mata saat itu juga.

Malam itu harga diriku berhasil terselamatkan dengan kebohongan tolol semacam itu. Dalam keadaan mata terpejam, aku tersenyum berusaha menahan tawa karena rasanya ingin mengakak sampai mampus.

--

Gambar saya ambil dari: https://pixabay.com/photos/people-man-guy-cry-tears-groom-2566201/
Read More
Banjir di area rumah saya, Palmerah, saat Sabtu beberapa minggu silam (18/1) lebih cepat surut ketimbang pada hari pertama 2020. Selepas bersih-bersih pada awal tahun, saya sempat membaca informasi dari BMKG bahwa pada pertengahan Januari hingga Maret masih akan terjadi puncak hujan. Dalam waktu dekat, sekitar tanggal 12-15, mereka memprediksi hujan yang lebih lebat daripada tanggal satu. Ketika itu saya tentu hanya bisa berdoa agar prakiraan cuaca tersebut keliru dan jangan sampai ada banjir separah hari itu lagi.





Saya berpikir tentang doa saya yang mungkin terkabul karena hingga tanggal 16 belum ada tanda-tanda kalau langit bakal menangis meraung-raung. Dugaan saya nyatanya meleset dua hari kemudian. Langit akhirnya mengucurkan air matanya pada waktu Subuh. Seketika itu, saya pun masih berpikir palingan cuma hujan biasa yang tidak akan menimbulkan banjir. Namun, siapalah saya yang tidak mampu membaca bahasa alam ini bisa-bisanya langsung menyimpulkan demikian?

Satu jam berselang, pertanyaan itu langsung terjawab dengan semakin derasnya hujan dan air pun masuk ke dalam rumah. Ketakutan mulai menjalari tubuh saya. Meskipun waktunya sedikit mundur, prediksi BMKG sepertinya benar adanya mengenai hujan yang lebih ganas dan mungkin ketinggian airnya meningkat. Terbukti air butek hari ini lebih lekas masuk ke rumah daripada kejadian pada 1 Januari.

Sembari memindahkan barang-barang di ruangan depan ke tempat yang lebih tinggi, saya bertanya dalam hati: Bagaimana jika kamar saya yang lebih tinggi sebelas cm dari ruangan depan ini juga terkena dampak lagi sebagaimana waktu itu? Saya otomatis terkenang kembali dengan banjir awal tahun—yang bagi sebagian orang dianggap sebagai pertanda buruk.


Rabu, 1 Januari 2020

Saya baru beranjak tidur sekitar Subuh karena habis begadang menonton anime Kimetsu no Yaiba. Belum ada sepuluh menit memejamkan mata, saya mendengar teriakan banjir berulang-ulang kali dari luar rumah. Dalam keadaan setengah sadar, saya mengira itu hanya fase awal menuju alam mimpi yang mungkin berkisah tentang banjir. Saya langsung terjaga begitu ada seseorang yang menabok paha saya. Saya mendapati wajah gusar ibu saya. Beliau meminta tolong dengan nada mengomel buat memindahkan segala perabotan di ruangan depan.

Ketinggian air di ruangan depan ternyata sudah mencapai mata kaki saya. Sebagian benda-benda, khususnya alas tidur semacam karpet dan bantal yang biasa digunakan ayah saya ketika ketiduran di ruangan depan, sudah lepek. Saya mengangkutnya ke kamar mandi, lalu menaruhnya di ember yang berisi baju-baju kotor.

“Salat dulu, jangan tidur lagi,” ujar Ibu sewaktu saya balik ke kamar.

Saya menjawab sudah dan gantian bertanya “apanya yang tidur lagi?” sekalian menjelaskan bahwa tidur tak sampai 10 menit itu belum terhitung nyenyak.


Bunyi teriakan kombinasi antara menyuruh bangun dan informasi kamar saya kebanjiran terdengar begitu nyaring. Dengan kondisi kepala teramat pusing, saya membuka mata dan terkejut menyaksikan kamar saya sudah dimasuki air berwarna kecokelatan. Kesadaran saya langsung pulih sepenuhnya ketika mengetahui bagian bawah kasur saya telah basah.

“Lagian, tadi kan udah dibilang supaya jangan tidur lagi, kok malah ngeyel,” kata Ibu seraya membantu saya menggotong kasur dan menaruhnya di atas kursi-kursi plastik yang berjejer.

Seumur-umur saya hidup, apalagi sehabis rumah direnovasi (ruangan lain dibikin lebih tinggi dari ruangan depan), baru kali ini kamar saya kebanjiran. Alasan saya tadi langsung tidur lagi tanpa memindahkan barang-barang, sebab sebelum-sebelumnya memang selalu aman dari banjir.

Kesombongan saya itu pun akhirnya terendam oleh kuasa Tuhan. Mungkin kejadian ini memang perlu terjadi agar saya ke depannya tidak lagi meremehkan kondisi alam yang mustahil bisa ditebak. Lagi pula, ketinggian kamar saya juga belum tinggi-tinggi amat. Kenapa saya bisa seoptimis itu buat menyimpulkan kamar saya bakalan aman dari banjir? Toh, Titanic—kapal yang dirancang dengan hebat dan kata penciptanya tak mungkin bisa tenggelam—buktinya tetap terkena malapetaka. Bagaimana dengan rumah saya yang ala kadarnya ini?



Kondisi hujan masih keterlaluan deras. Belum ada tanda-tanda sedikit pun bakal reda. Lima belas menit kemudian, banjir di kamar saya telah mencapai mata kaki. Gawat, ini sungguh di luar dugaan saya. Saya refleks berlari ke ruangan depan. Saya pun menelan ludah melihat tinggi airnya yang nyaris mencapai betis. Kalau daerah rumah saya yang dalam 4-5 tahun terakhir terbilang aman dari banjir dan tiba-tiba bisa separah ini, lantas bagaimana dengan kondisi daerah lain yang lebih rendah? Mungkinkah sedengkul?



Dari beberapa informasi yang saya baca via Twitter, banjir di sebagian wilayah bahkan sudah mencapai 80-100 cm. Gila, itu tingginya kira-kira sepinggang saya. Jika hujan tidak kunjung berhenti, bisa-bisa tempat saya banjirnya juga akan setinggi itu. Astagfirullah. Saya enggak bermaksud berpikiran buruk, tapi hujan pagi itu betul-betul terasa mengerikan.

Jadilah saya mulai memindahkan tas berisi dokumen-dokumen penting, laptop beserta perangkat elektronik lainnya, alat tulis, serta obat-obatan yang tadinya berada di meja dan bagian lemari paling bawah, ke bagian lemari paling atas ataupun menumpuknya bersama pakaian-pakaian bersih.

Apa yang saya takutkan mulai menjadi kenyataan. Setengah jam berselang, banjir di kamar saya sudah mencapai setengah betis, sedangkan di ruangan depan sedengkul. Bagian dapur, kamar mandi, dan kamar orang tua saya (ruangan yang paling tinggi di rumah) pun akhirnya mulai ikut kemasukan air. Saya bersyukur saat tiga menit sebelumnya menyempatkan diri buat memindahkan buku-buku di rak nomor dua dari bawah ke dalam tas, terus menyimpannya ke dalam lemari. Kalau terlambat sedikit saja, pasti buku-buku itu bakal terendam dan basah kuyup.


Saya tak mau kejadian awal tahun itu terulang kembali. Sekelarnya memindahkan pelbagai benda di ruangan depan, saya langsung kembali ke kamar buat memindahkan kasur, laptop, buku-buku, dan barang penting lainnya ke tempat yang terasa aman dari banjir. Tidak lupa juga saya mengungsikan motor ke rumah tetangga yang rumahnya lebih tinggi dan halamannya cukup luas buat menampung enam motor.

Saya sungguh tak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Pada banjir yang pertama dan tak terduga itu, kami sekeluarga sempat luput buat memindahkan motor yang terparkir di depan rumah. Kami terlalu sibuk dengan perabotan di dalam rumah. Kami baru mengingatnya sewaktu motor kami dua-duanya telah terendam sampai bagian tempat duduknya. Mesin dan knalpot yang terendam air dalam jangka waktu lama itu lantas membuat motor tersebut enggak mau hidup saat dinyalakan, sekalipun ayah saya sudah membuang air yang berada di knalpot. Mau tak mau, kami perlu mengeluarkan biaya yang lumayan buat servis ke bengkel.

Selain motor, yang ikut terendam air bah ialah kulkas di teras rumah yang kami gunakan buat menjual aneka minuman (air mineral, teh, susu, minuman bersoda, minuman rasa jeruk). Saat ada tetangga depan rumah yang memanggil tukang servis pada keesokan harinya, ibu saya berniat ikut memeriksakan kulkas yang sempat terendam itu.

“Berhubung kulkas punya Ibu belum sama sekali dihidupkan sehabis terendam banjir,” ujar si tukang servis. “Ini nanti cukup tunggu aja sampai mesinnya benar-benar kering, kira-kira selama sepuluh hari, baru boleh dinyalakan lagi.”

Barangkali kami termasuk beruntung karena tak perlu menyervisnya. Jika ada yang pantas disebut kerugian, mungkin ruginya hanya tak ada pemasukan dari penjualan minuman selama dua minggu.


Bicara soal pemasukan, pada Sabtu saat kebanjiran itu keluarga kami juga sudah telanjur membuka warung demi mencari uang. Nasi uduk, bihun, tahu maupun telur semur, serta sambal kacang telah tersaji di etalase dagangan. Serampungnya urusan memindahkan perabotan, saya juga mesti kembali ke dapur untuk menggoreng donat, tempe, serta bakwan supaya melengkapi menu jualan.

Hiburan saya satu-satunya sembari menunggu gorengan itu matang, yaitu memainkan ponsel buat mengisahkan tragedi banjir hari ini ke Twitter. Maka, saya pun melanjutkan cerita itu dengan twit banjir sebelumnya. Ingatan tentang banjir pertama kali itu langsung memenuhi kepala saya hingga bikin saya bertanya-tanya, mengapa pengalaman pertama sering membuat saya tampak norak?


Pertama kalinya merasakan banjir parah membuat saya menulis catatan begini: Karena jengkel bukan main sama banjir sialan ini, mendadak muncul hasrat di dalam diri buat jadi orang tajir biar bisa pindah ke apartemen atau merenovasi rumah jadi bertingkat dua. Saya enggak perlu menderita kayak sekarang. Mau rebahan aja tempatnya tidak memungkinkan. Saya cuma bisa duduk di meja kerja semacam bufet—tempat menaruh laptop—sembari memandangi kasur yang basah di pojokan kamar, lalu sesekali becermin di air butek dan terus-menerus merenungi kondisi berengsek ini.

Walaupun saya tidak merasa miskin, tapi entah kenapa hari itu saya ingin sekali menangisi kehidupan memble yang termasuk golongan kelas bawah ini. Sialnya, air mata justru tak kunjung mengucur sekeras apa pun saya berusaha mengeluarkannya. Mungkin rasa capek di tubuh saya sudah melebihi kesedihan dalam diri. Atau bisa juga kesedihan saya telah berevolusi menjadi kemarahan.

Rasa murka berlebihan biasanya datang saat saya lagi kelaparan ataupun belum tidur. Bisa kau bayangkan jika kedua hal itu dipadukan? Betul, saya ingin mengucapkan sumpah serapah kepada siapa pun yang terlihat menjengkelkan. Orang yang menjadi samsak kemarahan saya ialah seorang komika yang mengaku berpikiran terbuka, menjunjung nilai kemanusiaan di atas agama, dan gemar melontarkan lelucon-lelucon gelap. Tapi, apakah saking gelapnya dalam berkomedi membuat mata dan hati Coki Pardede ikutan buta? Saya heran, mengapa dia bisa-bisanya meledek para korban banjir dengan mengaitkannya pada musibah akibat bermaksiat pada malam tahun baru? Pertanyaan itu saya jawab dengan makian “tai anjing” ke akunnya.

Kegusaran saya kayaknya sudah tak bisa tertolong lagi, sebab saat itu juga saya sangat ingin menjotos orang-orang tak berempati seperti Coki hingga tangan saya berdarah. Pikiran jahat barusan mungkin tak perlu muncul kalau saja saya bisa menahan diri agar tidak membuka Twitter. Tapi karena sudah kadung terpicu, mungkin kali ini saya cuma perlu mengikuti nasihat Hawadis untuk memblokir para bajingan tolol dan tak berempati di Twitter demi kondisi hati yang lebih tenteram.

Masalahnya, bagaimana mungkin bisa tenteram kalau ketika saya betul-betul butuh tidur atau minimal merebahkan tubuh, sedangkan keadaan memaksa saya harus tetap terjaga? Saya hanya bisa menyender ke tembok dan memejamkan mata sambil berdoa supaya hujan lekas reda serta banjir segera surut.

Mungkin kamu akan berpikir, memangnya separah apa sih keadaan saya? Apakah tak ada kasur lain buat ditiduri? Keadaan saya sebetulnya biasa saja kalau dibandingkan dengan orang lain. Namun, mengingat membandingkan kesulitan orang lain itu tidak pantas, atau setiap orang punya penderitaannya masing-masing, jadi biarkanlah saya meratapi penderitaan saya sendiri. Saya cuma ingin tidur, tetapi kasur saya basah. Kasur milik adik saya dan orang tua juga sudah penuh dengan berbagai perabotan. Boro-boro bisa dijadikan tempat tidur, buat duduk saja rasanya susah.


Singkat cerita, air baru benar-benar surut pada pukul satu siang. Saya tak punya pilihan lain selain ikut membantu membersihkan sisa-sisa genangan dan sampah yang masuk ke rumah. Jika kondisi tubuh dalam keadaan prima, mungkin saya tak perlu mengeluh saban kali bangkit dari jongkok. Maka, setiap kali punggung terasa hendak patah saat mengepel, saya cuma bisa mengumpat anjing dalam hati. Yang sedetik kemudian langsung berkata, “Sabar, Yog, tinggal sedikit lagi demi bisa mengistirahatkan tubuh.”

Sesudah urusan bersih-bersih itu kelar, saya akhirnya bisa menumpang tidur di kasur adik saya, lalu terbangun hingga pukul lima sore. Mengingat tadi sebelum tidur saya hanya sempat membilas kaki dan tangan dengan sabun, saya ingin segera mengguyur sekujur badan. Terasa ada yang kurang kalau belum mandi.

Begitu saya masuk ke kamar mandi dan memutar keran, tak ada setetes air pun yang keluar. Ternyata air masih tetap mati. Mungkin sampai besok. Saya akhirnya langsung keluar lagi, kemudian memilih meminta air wudu kepada tetangga yang rumahnya menggunakan Jet Pam. Setelah Magrib, saya ketiduran lagi.

Malamnya, sekitar pukul sepuluh, saya terbangun dan kembali membuka Twitter buat menengok keadaan di luar sana. Masih adakah wilayah yang kebanjiran? Selama menggulir ponsel dalam rentang setengah jam, saya tak kuat menyaksikan penderitaan orang lain. Dari sekian banyak korban banjir, dua hal yang muncul di lini masa dan paling saya ingat: 1) Seorang wanita lumpuh berusia 50-an yang terjebak di sebuah rumah dan belum menerima pertolongan sejak pagi karena layanan bantuan tidak merespons sama sekali; 2) Ibu-ibu hamil yang juga mengalami kejadian serupa, bahkan belum menyantap apa pun sejak subuh.

Saat membayangkan rasa lapar ibu hamil itu, saya baru ingat kalau sejak pagi baru memakan sepotong roti dan meminum sekotak susu. Saya lantas menyuruh adik saya buat beli makanan di luar. Hampir dua jam dia tidak pulang-pulang. Mana hujan mulai turun lagi. Saya hanya bisa berdoa semoga tidak sampai banjir.

Begitu kembali, adik saya langsung mencerocos nama-nama hewan sekaligus mengeluh akan kondisi di dekat rumah tak ada penjual makanan sama sekali. Dia harus mencari ke area yang lebih jauh demi menemukan satu-satunya pedagang nasi goreng. Namun saking ramainya pembeli dan dia mendapat antrean paling akhir, piihan yang tersisa cuma mi gorengnya. Saya pun segera menyantap mi goreng yang begitu dikunyah rasanya aneh betul di lidah. Masa bodohlah, yang penting bisa mengganjal perut.

Setelah kenyang, pikiran tentang “jika saja saya lebih kaya, andaikan rumah saya bertingkat, seandainya saya tinggal di apartemen, dan seterusnya, dan sebagainya” itu mulai memudar ketika saya semakin sadar bahwa di perumahan wilayah Jakarta Timur dan Bekasi, terdapat beberapa rumah yang konon saat pagi tadi lantai duanya juga kemasukan air. Lantai satu mereka sudah benar-benar terendam. Saya juga tak menyangka, sudah semalam ini masih ada daerah yang banjirnya belum surut, sampai-sampai mereka perlu mengungsi di posko penampungan terdekat.

Jadi, mau setinggi apa pun bangunan, sepertinya manusia tak akan pernah bisa melawan keganasan alam. Tetap ada kemungkinan bakal terendam kalau Tuhan sudah berkehendak. Merujuk kisah banjir bandang pada zaman Nabi Nuh, saya spontan ingin tertawa atas banjir yang saya alami sekarang ini sungguh tak ada apa-apanya. Meski begitu, bukankah tak ada larangan buat mengeluh?

Buktinya, beberapa kawan saya yang terdampak bencana ini pun dengan entengnya menyalahkan pemerintah, khususnya gubernur masa sekarang, yang tidak becus menanggulangi banjir. Berbeda sekali dengan era sebelumnya. Mereka berujar baru tahun ini ada banjir yang separah itu lagi. Terakhir kali merasakannya sudah sekitar 4-5 tahun silam. Mereka pun menyimpulkan bahwa program kerja gubernur baru teramat payah. Hinaan mereka bahkan semakin menjadi-jadi ketika mengetahui sikap gubernur itu yang bukannya mengevaluasi kesalahan, melainkan malah menyalahkan banjir kiriman dari Bogor.

Entah sudah lelah dengan sedih-sedihan atau merasa mendapatkan hiburan gratis, saya akhirnya bisa menutup hari itu dengan tertawa. Pertanyaannya, apa yang sebetulnya saya tertawakan?


Mengenang kembali kejadian banjir pada awal tahun, rupanya dapat membuat diri saya lebih rileks untuk menyikapi banjir berikutnya, tepatnya yang terjadi pagi ini. Ketakutan saya atas dagangan bakal kurang laku maupun ketinggian air yang lebih gila, justru terpatahkan dengan larisnya dagangan ibu saya berbarengan dengan surutnya air. Pukul tujuh, makanan-makanan di etalase sudah lenyap diborong para pembeli, padahal jika hari biasa masih membutuhkan sekitar 2-3 jam lagi baru benar-benar habis. Mungkin orang-orang lagi malas memasak atau bingung mesti mencari sarapan ke mana saat hujan dan banjir begini. Jadi, pilihan paling dekat: warung ibu saya. Alhamdulillah, berarti banjir kali ini bisa membawa berkah buat keluarga saya.

Meskipun sama-sama belum tidur seperti banjir pada tahun baru, tapi proses bersih-bersih rumah selepas surut kali ini terasa lebih ringan. Tidak ada lagi problem kasur basah ataupun motor terendam yang harus dibawa ke bengkel. Saya juga lebih bisa menahan diri, agar tak mudah terpancing dengan lelucon yang meledek korban banjir. Intinya, penderitaan pada banjir pertama telah menguatkan saya, sehingga masalah-masalah banjir hari ini dapat dipikul dengan enteng.

Mungkin yang berat hanyalah bagaimana saya mengisahkan cerita banjir ini dengan menarik. Lagi pula, apakah kisah korban banjir tak penting semacam ini layak ditulis? Siapakah yang sudi membaca keluhan seorang penggerutu? Apa pun itu, ketika tulisan ini telah kamu baca, berarti saya sudah berdamai dengan kejadian banjir yang pernah menimpa saya. Kecemasan mengenai bagus atau jeleknya tulisan pun sudah saya buang bersamaan dengan tewasnya alter ego yang memilih bunuh diri sewaktu dia terjebak dalam manik depresi. Semoga pada 2020 ini saya juga betul-betul berdamai dengan trauma-trauma masa lalu, dan mungkin bisa melahirkan sosok yang jauh lebih ceria dan tahan banting.


Januari 2020
Read More
“Apa arti dari apresiasi? Begitu pentingkah untuk dimengerti? Jangan lihat ini sebagai konfrontasi, gunakanlah sebagai inspirasi.” –lirik ThirteenJkt, Sombong, Angkuh, dan Arogan



--

Suatu malam, saat badan sudah rebah dan mata telah memejam tapi kantuk tidak kunjung datang, di kepala saya terlintas pikiran begini: mungkin dihujat habis-habisan seperti Putri Marino terasa lebih menggembirakan daripada enggak ada yang peduli sama puisi bikinan saya. Anggaplah saya seorang masokhis alias senang ketika disakiti. Saya tak peduli dengan penilaian semacam itu. Yang jelas, respons seburuk apa pun masih terasa jauh lebih baik ketimbang diabaikan.

Jadi, jika saya pikir ulang, keputusan untuk menerbitkan himpunan puisi itu secara digital dan membagikannya gratis, serta berjanji tidak akan merangkai sajak lagi, kayaknya merupakan pilihan yang tepat buat diri saya. Saya kira, seandainya saya masih bersikeras membuat sajak, saya pasti hanya akan memaksakan diri, bahkan mempermalukan diri sendiri. 

Sekarang sudah memasuki Februari 2020. Terbukti tidak ada kabar lagi dari majalah sastra yang saya kirimkan saat Desember lalu. Saya cuma sempat menerima informasi bahwa naskah puisi saya telah mereka terima. Itu pun kejadiannya dua hari setelah saya membagikan kumpulan sajak Disforia Pengusik Kenangan. Setidaknya, itu terasa mendingan daripada media daring yang selalu menolak puisi-puisi saya tanpa sekali pun mengucapkan, “Maaf, puisimu belum layak atau cocok untuk kami muat.” 

Mungkin sampai seterusnya enggak akan ada yang sudi membayar sebagus apa pun puisi ciptaan saya. Yang saya heran, mengapa kepercayaan diri buat mengirimkan puisi-puisi saya ke media tersebut bisa-bisanya tumbuh lantaran pada masa silam ada salah seorang kawan yang bilang, “Eh, aku tadi baca puisimu di blog. Bagus, Yog. Kamu enggak coba kirim ke koran atau ada niat buat diterbitkan jadi buku?” 

Kala itu, jumlah puisi yang saya bikin baru sekitar belasan. Mustahil untuk menjadikannya buku. Saat menampilkan puisi di blog juga sebenarnya cuma hasil iseng-iseng sebab terpicu sehabis membaca kumpulan puisi Joko Pinurbo. Ternyata keisengan itu justru ada yang suka. Mendapatkan pujian dari teman, lebih-lebih dia berjenis kelamin perempuan, tentu membuat saya pengin merangkai sajak yang lebih keren. 

Saya lantas mencoba berlatih lagi sekalian memperbanyak tulisan berjenis puisi di Tumblr. Selain minder, sikap ini (memilih Tumblr sebagai media latihan daripada blogspot) saya ambil karena beberapa pembaca di blog akbaryoga lebih menyukai curahan hati saya. Ini era sewaktu saya belum belajar lebih dalam tentang penulisan fiksi. Kebanyakan bloger kalau tidak salah juga masih getol mengisahkan kesehariannya. Mereka belum terpapar godaan AdSense, job review, dan tetek bengek lainnya. Bloger di sekitar masih jarang yang kepikiran untuk mengubah konten blog gado-gado menjadi bertema khusus—lazimnya berbentuk kuliner, perjalanan, tutorial, keuangan, dan fesyen.

Satu atau dua tahun kemudian, ketika pemerintah memblokir Tumblr buat pertama kalinya, hingga saya terpaksa memindahkan sebagian puisi di sana ke blog ini, respons yang saya terima di komentar kian berkurang. Jika tak salah ingat, bahkan ada 2-3 pembaca yang terus terang mengeluh, “Gue main ke blog ini karena pengin baca curhatannya. Kok isi blog ini malah berubah jadi puisi melulu?” 

Itu jelas menandakan bahwa mayoritas pembaca blog ini kurang menyukai tulisan saya yang berbentuk puisi. Setelah himpunan puisi saya ditolak berkali-kali oleh beberapa media, mestinya sih saya juga sadar diri, lalu memilih pensiun. Bukan malah tetap berkepala batu sampai akhir 2019. Saya sungguh tak mengerti, apa yang membuat saya mengotot begitu? Barangkali pujian dari teman yang pertama kali berkesan di hati saya itu masih menempel, sehingga saya percaya kalau puisi saya kelak bakal mendapatkan tempat di luaran sana.

Saya masih tak menyangka pernah senaif itu. Namun, kedelai sudah menjadi kecap. Saya tak perlu menyesali kegelapannya. Ketololan yang telah terjadi kemarin, biarkan saja menjadi bahan tertawaan buat masa sekarang.

Meski demikian, toh saya bisa tetap gembira setiap kali mengingat ada sedikit pembaca yang bersedia mengomentari puisi bikinan saya. Memang, puisi saya tidak akan mungkin sampai, apalagi dapat menyentuh hati para pensyair hebat yang karya-karyanya bertengger di berbagai media serta memperoleh penghargaan sastra. Tapi, bukankah saya memahami kalau respons para pembaca blog ini juga memiliki nilai lebih di hati saya? 

Dari beberapa apresiasi pembaca terhadap sajak saya, entah mengapa ingin saya kumpulkan di sini sebagiannya buat mengenang bahwa pada masanya saya pernah menciptakan sesuatu hal yang biasa-biasa saja, malahan cenderung ampas, tetapi mereka mau menghargainya setulus hati. 


Andika Machmud 

Puisinya gila, keren! Saya paling suka puisinya tentang resolusi itu. Kata-katanya itu loh, ngena banget. Yang awalnya masih mengejar-ngejar resolusi, terus jadi bosan, mau lagi tapi pikirannya kayaknya ini enggak bisa deh, akhirnya jadi: ya sudahlah. Terus “Arti Tahun Baru” juga gila. Kalau kata bloger biasanya, “Nice, Gan.” 


Riandy Satria Putra 

Dari ketiga sajak yang ditulis, saya paling suka sama “Medusa” dan “Tidak Tahu Malu”. Kalau yang model pertama, rasanya sudah sering lihat dan baca. Saya kurang suka (secara pribadi) model yang begitu. Tapi Medusa, walaupun ditulis dengan model seperti cerpen, tapi makna plus sastranya dapat banget, Mas. Ah, seperti itulah. Saya kurang bisa mengungkapkan kalimat-kalimat yang pas dengan perasaan saya. Kalau yang “Tidak Tahu Malu”, rima di bait kedua memang agak maksa, tapi masih tetap bagus, kok. Maknanya pas gitu. Pas buat orang-orang yang berkarya hanya untuk uang, bukan untuk ruang. 


Fanny F. Nila

Dari ketiganya, aku suka “Medusa”. Puisi naratif ya kamu bilang? Mungkin karena seperti bercerita itu, makanya aku jadi suka. Tulisan kamu bagus-bagus kok, Yog. Pilihan katanya juga variatif. Enggak terlalu berat untuk dicerna. Jadi yang baca bisa menikmati maksud tulisannya. Enggak tau ya kalau orang-orang yang memang ahli beranggapan gimana. Tapi buat pembaca biasa kayak aku sih, yang begini bikin aku belajar kata-kata baru, dan enggak susah untuk memahami puisinya. 


Gigip Andreas 

Dulu, setiap Yoga Akbar nulis puisi di blognya, saya sering bingung mau komentar apa (kadang-kadang malah iseng bikin puisi asal di kolom komentar). Sekarang, ketika dia nulis puisi, saya tetap bingung mau komentar apa. Bedanya, kali ini ditambah perasaan iri. Tailaso! Ini salah satu puisi Yoga yang saya jadikan bahan bedah ketika belajar memilih kata, memainkan rima, dan membuat makna yang berlapis-lapis—meski saya aplikasikan di prosa karena sampai sekarang belum becus-becus bikin puisi: https://ketikyoga.wordpress.com/2019/01/11/lima-fragmen-penghancur-diri-sendiri/


Zahrah Nida 

Amarah, kebengisan, muak, dan sedihnya dapat. Lebih menyayat hati ketimbang beberapa yang beredar sekenanya di media sosial. Saya membayangkan apabila narasi ini digaungkan dalam ruangan DPR, atau setidaknya saat demo dilaksanakan. 


Einid Shandy 

Wah, “Semburat Kuning Museum Kenangan” ini bagus sekali tulisannya. Kok bisa-bisanya bikin museum kenangan di kepala dan dengan tiket masuk mahal yang ternyata dari angka pertemuan dan perpisahan. Anyway, aku suka gaya bahasa kamu. Referensi bacaannya apa aja sih? 


Dian Hendrianto 

Dia sempat membacakan puisi “Jika Kau Mencintai Orang Lain” di Instagram. Sayangnya, video itu sudah diarsipkan atau dihapus. Biarpun begitu, saya tetap gembira karena Dian bisa-bisanya khilaf membacakan puisi saya sekalian membagikannya kepada orang lain, sehingga mendadak ada beberapa orang yang penasaran dan bertanya lebih lanjut mengenai puisi saya lainnya. 


Terkait himpunan sajak Disforia Pengusik Kenangan 

A Dreamer, bloger yang beralamat di adreamers-journey.blogspot.com (saya enggak tahu namanya) 

Saya enggak tau apa-apa tentang persajakan atau apa pun yang berbaur puisi, tapi saya suka tulisan-tulisan yang di bagian “Hidup, Maut, dan Kepenulisan”.


Gustyanita Pratiwi 

Walaupun gue belum bermaksud menginterpretasikan makna puisinya lebih dalam, tapi sejauh yang gue baca semalam, kalau dilihat dari pilihan katanya, gue suka sama yang judulnya “Tidak Enak”, “Potret Manusia Digital”, “Warna Puisi”, dan “Mendengarkan Mono”. Karena gue suka pilihan kata yang justru rimanya enggak sama dengan bunyinya di akhir. Di keempat judul puisi itu, diksinya bagus, banyak, dan enak pas diucapkan. 


Anonim atau sebut saja Bunga atau Rani 

Ada seorang perempuan yang sudah saya lupa namanya (saya punya kelemahan buat mengingat nama seseorang yang kurang akrab), mengirimkan komentar via WhatsApp ke nomor lama saya. Sebetulnya saya masih bingung, dia tahu nomor saya dari mana? Saya bukan tipe orang yang gemar menyebarluaskan nomor ponsel ke khalayak. Apakah dia pernah memenangkan giveaway di blog ini? Pernah membeli buku-buku bekas yang saya jual murah? Pernah membeli buku digital Fragmen Penghancur Diri Sendiri? Pernah bertanya perihal templat blog? Atau kami pernah berjumpa di suatu acara bloger? 

Terlepas dari pertanyaan-pertanyaan barusan, dia terpikat dengan puisi saya yang berjudul “Topeng” dan kira-kira bilang begini:

Kata-katamu itu biasa banget dan mudah dipahami ketimbang puisi yang biasanya aku sukai. Tapi, enggak tahu kenapa aku suka sama ide topeng yang menyembunyikan perasaan “aku tidak mencintaimu lagi”. Puisi kamu yang ini mewakilkanku banget. Orang yang memang udah enggak sayang lagi sama pacarnya, kenapa sih enggak langsung berkata jujur? Kenapa harus pakai topeng dan pura-pura masih sayang, padahal diam-diam lagi berusaha mencari-cari kesalahan pasangannya biar segera putus? Lebih parahnya lagi, gimana kalau dia emang udah punya cadangan? Larik penutupnya, Kau lupa membawanya saat pergi, itu terasa sangat menohok buatku. Makasih ya, Yoga, sudah menulis ini. 

Ini puisi Topeng yang dia maksud: 

Apakah topeng selalu bermakna kepalsuan? 
Mungkinkah wajah manis 
yang kutatap pada dirimu 
sebetulnya tidak ada? 

Ia hanya bopeng yang kaurias dengan topeng. 
Ia hanya kepedihan yang kaututupi dengan senyum. 
Ia hanya rasa sepat yang bersembunyi di belakang ranum. 

Jadi, apakah puisi ini juga sebuah topeng? 
Karena ia tidak bisa langsung berkata jujur: 
“Aku tidak mencintaimu lagi.” 

Tapi, topeng yang puisi ini pakai 
mungkin adalah milikmu. 
Kau lupa membawanya saat pergi. 

/2018 

--

Gambar diambil dari: https://pixabay.com/photos/thank-you-neon-lights-neon-362164/

PS: Bagi siapa pun yang nama dan komentarnya tertera di sini, saya minta maaf kalau tidak izin terlebih dahulu. Maaf juga karena kalimatnya saya modifikasi sedikit supaya lebih enak dibaca. Seandainya ada yang merasa keberatan, kamu bisa meminta saya buat menghapusnya. Selebihnya, saya ucapkan terima kasih. Buat kawan-kawan yang juga pernah mengapresiasi tulisan-tulisan saya di blog ini (terutama yang memberi kritik dan saran) tapi namanya tidak disebut, saya juga minta maaf dan berterima kasih. Saya tak mungkin menampilkan semuanya di sini. Nanti dianggap haus akan pujian lagi, padahal kan cuma lagi butuh afeksi.
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home