Obrolan yang Tidak Patut Disimak

15 comments
Sesuai janjiku di tulisan sebelumnya, berikut kulampirkan obrolan antara Wawan Kusmondar (W) alias aku sendiri dengan Yoga Akbar (Y). 

-- 



W: Aku kan sempat lihat twitmu yang tampak marah dengan cerpen bertema romansa remaja (menulis bareng teman-teman bloger), terus jadi mempermasalahkan komentar pembaca yang salah fokus dengan bagian mesumnya, hingga berujung diskusi soal kemesuman pada tulisan. Nah, apa sebetulnya yang memicu kemarahanmu, Yog?

Y: Saya sejujurnya udah lupa waktu itu marah karena apa. Bisa jadi mood saya lagi buruk. Tapi kemungkinan besarnya sih saya habis membaca tulisan orang yang keterlaluan bagusnya, lalu mulai membandingkannya dengan tulisan sendiri. Itu penyebab utama saya sering marah sama diri sendiri. Kalau enggak salah, saya habis baca novel Vegetarian, Han Kang. Novel itu lumayan oke, meski bukan favorit saya. Kebetulan di dalam kisah itu ada unsur mesumnya. Saya lantas berpikir bahwa hal kayak begitu sah-sah aja dimasukkan ke dalam cerita dan orang-orang juga dapat menerimanya. Jika novel itu bisa meraih penghargaan dan tandanya banyak pula yang suka dengan bumbu mesum, lalu kenapa ketika saya cuma sedikit memasukkan bagian mesum (cuma tentang adegan pelukan dan merasakan kelembutan payudara), tapi tetap ada yang mempermasalahkannya? 

Saya menduga, sih, kemampuan menulis saya ini yang masih payah buat mengisahkan adegan-adegan menjurus mesum. Saya kayaknya perlu sadar diri juga kalau cerpen-cerpen bikinan saya itu jelek, apalagi cerpen Aljabar. Sumpah, tulisan itu jelek banget. Saya marah sama hasilnya, berharap ada yang kritik, lalu tololnya malah semakin marah karena citra mesum dalam diri yang belum terlepas sepenuhnya di mata sebagian orang. 

W: Sayangnya, aku belum baca novel itu. Jadi enggak bisa komentar apa-apa. Aku cuma mau menebak, palingan di novel itu ada bagian vulgar seperti di buku Eka, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, ya? (sori, referensiku tentang tulisan vulgar baru sebatas itu). Kalau kau berasumsi novel sejenis itu banyak yang menerimanya dan suka, mungkin kau lupa sama fakta ini: apa pun yang kau lakukan (dalam hal ini menulis), toh tetap ada orang-orang yang bakalan enggak suka dan membenci. Bedanya, Eka memilih buat enggak peduli. 

Kau ini selalu keras banget dalam menilai karya sendiri, Yog? Itu cerpen Aljabar buat aku udah lumayan, kok. Kau seenggaknya tuh paham sama apa yang mau disampaikan. Kau cukup bisa membangun narasinya. Bagaimana kau juga bisa membungkus romansanya dengan perlombaan biar enggak cinta-cintaan doang. Tapi ya, masalah cerpenmu itu kepanjangan. Juga ada beberapa lubang yang saat kelar membaca masih menimbulkan pertanyaan di kepala pembaca. Ada bagian-bagian yang kudu dijelaskan lagi. 


Y: Sebetulnya saya enggak lupa sama hal itu. Saya cuma sempat teringat dengan seorang teman (perempuan) yang seakan-akan memasang standar ganda. Dia bisa memuji habis-habisan karya Eka, Agus Noor, Haruki Murakami, atau siapalah yang sudah punya nama dan di dalam tulisannya ada unsur mesum. Sedangkan dia tuh jijik banget sama tulisan saya dan beberapa kawan yang mesumnya cuma sepotong-sepotong atau buat lelucon. Terus, tainya lagi tuh dia menuduh saya menuliskannya berdasarkan pengalaman pribadi—merujuk cerpen Es Krim Spesial yang kini sudah dihapus.

Seakan-akan di matanya dia yang boleh menulis mesum hanyalah penulis-penulis besar atau orang-orang yang sudah menikah. Jika belum kawin dan membuat tulisan vulgar, otomatis telah berhubungan seks di luar pernikahan. Anjing banget, kan? Apa dia lupa sama yang namanya imajinasi? Tapi itu jelas cuma dugaan saya aja karena berburuk sangka sama dia. Kemungkinan yang paling bisa diterima: cara saya menulis masih sangat buruk. Ini buat saya dosa besar bagi seorang penulis. Jangan sampai menyuguhkan tulisan-tulisan busuk. Sekalipun saya tahu ada pula dosa lain—seperti penulis yang meniduri pembacanya, saya mencoba buat enggak terlalu peduli. Berhubung saya juga bukan tipe kayak gitu, saya mending lebih fokus sama dosa menciptakan tulisan buruk. Saya enggak mau terus-menerus berdosa kepada pembaca. Salah satunya: memilih berhenti membuat lelucon maupun cerita mesum jika cara mengemasnya masih payah. 

Berkat diskusi bareng Haw di Twitter itu, saya pun jadi semakin yakin kalau cara menulis saya memang perlu perbaikan. Terutama pada susunan kata dan kalimatnya, seperti diksi “menikmati” yang bikin tokohnya jadi terlihat mesum. Terus terang aja, waktu itu di kepala saya tuh hanya si protagonis terkejut mendapatkan pelukan. Dipeluk pas lagi sedih-sedihnya itu kan buat saya nikmat banget. Bisa menjadi pelipur lara. Nah, kata “menikmatinya” ini mestinya tentang pelukan. Bukan menikmati kelembutan payudara orang yang memeluk. Jika ada pembaca yang salah paham, kayaknya saya gagal mendeskripsikan adegan tersebut. Tapi seandainya sudah tepat, berarti kepala pembaca itu sendiri yang bermasalah. Lagian, saya juga enggak bisa mengatur pembaca mau berpikir dan berkomentar apa akan tulisan saya. 

Buat penulis culun macam saya kan komentar pembaca itu penting banget. Saya masih butuh masukan dan kritik. Tololnya, kadang saya menelan begitu aja komentar yang masuk. Kayak kasus dikomentari tokohnya atau ceritanya yang mesum itu. Lebih-lebih pas tahun 2015-2016 saat sering mendapat ejekan. Padahal kalau saya pikir ulang, ya udahlah kalau dinilai mesum sama orang lain. Mengapa harus repot? Jika kenyataannya diri saya enggak begitu, kenapa saya mesti risih? Orang yang kenal baik sama saya, pasti tahu hal itu cuma citra—yang kini sudah dibuang juga.

Semoga sih ke depannya saya betul-betul bisa bersikap cuek sama perkataan orang-orang yang enggak relevan. 

Iya, saya sadar cerpen itu berlubang. Tapi jika saya tambah lagi kalimatnya buat menjelaskan, pasti bakal semakin panjang. Jadi, tolong jangan bahas cerpen itu lagi, Wan. Saya malu dan malas buat mengingatnya. Soal keras banget menilai—atau tepatnya mengkritik—diri sendiri ini sebenarnya biar nanti ketika saya memperoleh kritik dari orang lain, saya bakal sudah siap dan enggak terpuruk karena muncul pikiran begini: ah, masih lebih jahat komentar saya pada diri sendiri. Ini seolah-olah kayak saya gemar menyakiti diri sendiri atau masokis, ya? 


W: Wah, aku baru sadar kalau cerpen kontroversial itu dihapus (barusan langsung aku cek). Aku pikir sih karena sebelum-sebelumnya kau terbiasa menceritakan keseharian, jadi pembaca otomatis mengira kau menuliskannya berdasarkan pengalaman juga. Jika memang bukan begitu, kau menulis mesum tuh pengaruhnya dari mana? Itu pun jika kau berkenan.

Soal masokis, itu kau sendiri yang bilang, lho. Hahaha. Aku mah cuma bisa mengiyakan saja. Tapi mesti diakui, kau itu termasuk gila dalam menulis. Terlalu jahat sama tulisan sendiri.


Y: Saya coba cerita runut dari awal aja, ya? Kayaknya saya belum pernah menceritakan hal ini ke media apa pun. Dulu waktu kelas 3 SMP, tepatnya pas saya lagi main ke rumah salah satu temen yang anaknya kutu buku banget, saya berkenalan dengan komik hentai gitu. Rumahnya dia mewah banget khas anak orang tajir dan punya dua rak buku gede. Koleksi bacaan dia tuh kebanyakan komik. Nah, di sanalah saya bisa menemukan komik mesum seperti Love Junkies dan Golden Boy. Jadi setiap main ke rumahnya, saya diam-diam membaca komik itu (meski sekarang udah lupa ceritanya kayak apa). Terus, zaman SMK saya juga sempet ikut-ikutan temen baca kisah dewasa di internet. Kalau dua tahun terakhir ini palingan efek baca buku Eka Kurniawan atau Paman Yusi—terkhusus di novel Raden Mandasia bab ‘Rumah Dadu Nyai Manggis’. Mungkin aja pengalaman membaca cerita erotis sejak SMP hingga sekarang, walaupun porsinya sedikit, itu tetap menempel di kepala sehingga ada keinginan dalam diri buat ikutan mengekspresikannya lewat tulisan.

W: Waduh, enggak nyangka seorang Yoga pernah baca komik sejenis itu. Aku baru dengar judulnya (habis ini mau coba cari, ah). Eh iya, bukannya kau pembaca Duo Murakami? Kalau enggak salah kau pernah  bilang terpengaruh Haruki, lalu menerjemahkan cerpen Ryu? Kok kini mereka enggak disebut? Apakah tulisan mereka enggak berpengaruh lagi? Kau lebih suka mana di antara mereka berdua?

Y: Iya, saya membaca buku-buku mereka. Jika pertanyaannya lebih suka yang mana, saya sejujurnya gandrung ke tulisan Ryu. Anehnya, saya justru baru baca empat bukunya—tiga novel (In the Miso Soup, 69, Coin Locker Babies) dan satu kumcernya (Tokyo Decadences). Kalau si Haruki malah dua kali lipatnya. Saya udah baca novelnya: Norwegian Wood, Dunia Kafka, Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya, Hear the Wind Sing, Sputnik Sweetheart, The Wind-Up Bird Chronicle; terus kumcernya: Blind Willow, Sleeping Woman; dan terakhir nonfiksinya: What I Talk About When I Talk About Running

Mungkin karena saya terlambat dua tahun mengenal Ryu, jadi Haruki mencuri start dalam daftar bacaan saya.

Entah kenapa sekarang ini saya agak bingung kalau ditanya soal pengaruh mesum mereka ke dalam tulisan. Saya malah lebih terpengaruh sama unsur kelam dari tulisan Haruki. Terus gaya berceritanya yang sering bertele-tele itu. Saya yakin ini terpengaruh banget sama Haruki. Soalnya sejak setahun terakhir saya enggak membaca tulisannya lagi, kebiasaan melantur di tulisan saya perlahan-lahan berkurang ketika sedang iseng mengevaluasi beberapa tulisan. Entah kalau di mata pembaca kayak gimana. Biarkan mereka menilainya sendiri. 

Dari tulisan Ryu, saya juga lebih terpengaruh dalam penggalian sisi psikologis tokohnya. Walaupun saya belum mahir menerapkannya alias masih cetek, sih. Saya juga belajar bikin monolog interior lewat tulisan-tulisannya. Jadi, porsi mesum yang berefek ke tulisan saya nyaris enggak ada ketika membaca karya mereka. Mungkin karena saya coba menerapkan ambil baiknya, tinggalkan buruknya. Oke, si Yoga sok iye banget. 


W: Mendinglah itu kau udah baca empat karya Ryu. Aku baru satu: Sup Miso versi terjemahan. Haruki juga baru Norwegian Wood, Dunia Kafka, sama Dengarlah Nyanyian Angin. Pokoknya aku cuma sanggup mencerna yang bahasa Indonesia. Kemampuan bahasa Inggrisku buruk banget. Belum berani baca versi selain terjemahan. Lalu, apakah kau pernah baca buku stensilan karya Enny Arrow atau Freddy S.?


Y: Freddy S. pernah sekali, lupa judul yang mana. Enny Arrow kayaknya belum. Saya dulu lebih sering baca komik Tatang S. Cerita dia juga ada beberapa yang menjurus mesum, kan? Seingat saya, sih, sewaktu setannya berwujud Kolor Ijo dan sesosok perempuan sejenis kuntilanak yang suka menjilati darah haid di celana dalam para gadis. Itu kan termasuk vulgar banget buat anak SMP. 

Kalau boleh kasih saran, terserah mau dipakai atau enggak, coba paksa aja baca versi Inggrisnya, Wan. Kemampuan saya juga masih amburadul, bahkan terlalu pasif. Dari keempat elemen linguistik—membaca, mendengarkan, menulis, berbicara; jika harus kasih nilai 1-10 untuk kecakapan bahasa Inggris, saya merasa yang nilainya di atas 6 cuma membaca. Toh, sekalipun pusing duluan saat melihat teks-teksnya, kita masih bisa cek kamus ketika enggak tahu artinya, kan? Seandainya mau yang lebih praktis, pakai Terjemahan Google. Enggak usah malu. Saya sesekali juga masih pakai itu. Namanya buat belajar. Asalkan enggak ketergantungan nantinya. Terus yang lebih penting: selalu baca ulang atau cocokin lagi, mana alih bahasa dari sistem itu yang masih ngawur. 

W: Gila, sampai dikasih saran begini. Makasih banget, Yog. Ini dua pertanyaan terakhirku, apakah kau sempat menyesal telah membangun citra mesum? Untuk ke depannya, kau bakalan tetap memasukkan unsur itu ke dalam tulisan, atau tak mau memakainya lagi?

Y: Rasa sesal tentu ada. Misalnya, dari sekian banyak citra yang dulu bisa saya buat, kenapa harus memilih mesum? Capek sumpah mengecek satu per satu tulisan di blog buat mengembalikannya ke draf atau menghapusnya. Ada rasa berdosa juga menggunakan metode curang buat mencari trafik. Zaman 2015-2016 itu soalnya banyak banget pengunjung tolol yang terjebak dengan kata kunci mesum di blog saya. Hahaha. Saya pun sempat risih sama penilaian pembaca yang lawan jenis. Ini pikiran enggak penting sih, tapi barangkali ada beberapa perempuan manis yang tadinya suka sama tulisan saya, lantas mendadak jijik begitu menemukan bagian mesumnya. Siapa tahu salah satunya ada calon pacar saya, kan? Aduh, lucu amat khayalan menyedihkan ini. Sekarang sih alhamdulillah udah lebih santai. Saya enggak takut lagi dapat cap mesum maupun kehilangan pembaca. 

Gimana ya, tergantung kebutuhan cerita, sih. Saya memang telah berjanji sama diri sendiri buat enggak memakainya secara sembarangan dan berlebihan. Lagian, bahan menulis dan gagasan itu sebetulnya kan melimpah, terus untuk apa saya bikin cerita yang menjurus ke mesum? Namun di satu sisi, jika saya pikir bagian mesum dalam kisah itu penting—saat dihilangkan rasa di dalam tulisannya justru melemah, saya pasti akan tetap menempatkannya sesuai porsi. Apalagi kalau saya udah jago buat menuturkannya. Kalau masalah saya sekarang, kan, bagaimana saya bisa bikin pembaca terangsang tanpa harus membuatnya risih, bosan, dan mual? 

Saya bingung harus kasih referensi apa buatmu selain novel Raden Mandasia garapan Paman Yusi. Bagian Nyai Manggis itu aduhai dan bisa dijadikan contoh. Tapi kayaknya kamu belum baca buku itu. Mengingat kamu juga pembaca Haruki, ada satu hal yang paling berkesan buat saya dari tulisan mesumnya: “Aku mengangkat kaos Sakura lantas memainkan payudaranya yang lembut. Aku meremas putingnya seakan tengah mencari saluran radio. Penisku yang sekeras batu kembali menyentuh bagian belakang pahanya, namun dia tidak bersuara dan nafasnya masih tetap sama. Aku rasa dia pasti tertidur sangat pulas.” 

Sekiranya kamu lupa, adegan mesum itu ada di novel Dunia Kafka. Anjinglah, saat membaca bagian itu saya justru mengakak. Unsur mesumnya secara tak langsung berubah jadi lelucon. Penuturan tokohnya juga sangat natural. Saya perlu belajar lebih banyak buat bikin yang seperti itu. Intinya, saya akan berani menulis mesum lagi jika kemampuan menggarap kisah-kisah keseharian yang remeh sudah di atas standar.

*

Percakapan kami telah berakhir. Aku kini mendapatkan sudut pandang baru seusai berbalas surat dengan Yoga. Apakah kamu juga mulai memandang sosoknya secara berbeda dan muncul rasa suka? Namun, aku yakin hal itu tidak akan berdampak apa-apa baginya. Sebanyak apa pun apresiasi yang kamu hadiahkan kepadanya, aku kira dia akan tetap membenci diri sendiri dan tulisan-tulisannya.

--

Sumber foto: https://pixabay.com/photos/business-internet-browser-inbox-3070472/
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

15 comments

  1. Gue sih ngerasa penulis enggak perlu ngejelasin semua hal secara detail dalam tulisannya. Beberapa kali biarin pembaca yang berpikir dan menebak sendiri aja. Kayak cerpen gue yang lu kritik abis-abisan sama Haw itu, itu kan banyak banget "lubang" di sana, dan itu bukan karena garapnya buru-buru melainkan karena memang udah segitu aja porsinya. Pengen pembaca menebak sendiri kok gini kok gitu. (Dijelasin lagi wkwk)

    Belakangan ini gue jadi jarang baca buku fiksi. Gue lebih banyak mencari buku-buku non-fiksi dan gue enggak tau pasti alasannya kenapa. Mendadak lebih seneng sama non-fiksi aja kira-kira itu kenapa ya wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena preferensi pembaca juga menentukan, Man. Enggak semua bisa menangkap teka-teki itu. Katakanlah bloger yang hanya menulis buat mencurahkan isi hati tanpa paham elemen kepenulisan. Tantangan buat penulis, gimana bisa tetap sampai ke orang awam itu. Dalam kasus cerpen gue, kan itu juga (menurut gue pribadi) ada satu bagian yang paling enggak perlu ditulis tanpa harus menjelaskan panjang. Saat menghampiri Rani, Aljabar bertanya soal kenapa dia ada di dua sekolah yang berbeda, padahal bukan peserta lomba. Gue luput buat mengetik sependek itu.

      Kalau soal punya lu, mungkin gue sama Haw memandangnya dengan mata kritus. Bukan pembaca biasa. Jika gue enggak tahu soal eksperimen lu bikin kisah di bawah 1.000 kata, tentu akan berpengaruh banget. Seharusnya perlu ditambah lagi di bagian ini dan itu. Gue juga sampai berpikir lu terburu-buru, kan. Kalaupun pembaca tahu, mungkin juga mereka akan komentar: bagian itu mending dibuang aja, kurang penting, ganti yang lain buat di bagian puncaknya. Gitulah contohnya.

      Mau gimana lagi, pembaca memang akan terus menuntut. Sepertinya penulis memang butuh sikap lebih cuek. Ambil kritik dan saran yang memang penulisnya butuh.

      Gue enggak tahu, Man. Gue mah baca apa aja yang kalimatnya memikat gue. Terlepas itu fiksi/nonfiksi. Genre apa pun juga.

      Delete
    2. *kritikus, kok jadi kritus. Anjirlah.

      Delete
    3. setuju sama firman. malah sering kali bagian nebak-nebak itulah yang bikin baca cerpen jadi seru. cerpen pada umumnya memang berlubang kan. ia memberi ruang untuk si pembaca berimajinasi.*

      *saya memakai “berlubang” untuk “tidak menjelaskan segalanya”, sementara untuk “kecolongan” biasanya pakai istilah “bocor”

      kalau soal pembaca narik interpretasi berbeda dari yang dimaksud si penulis, buat saya, itu lumrah karena memang begitulah cara fiksi bekerja. karena ia berbeda dari khotbah yang mendikte.

      oya, tadi baca-baca obrolan yang sama haw di twitter, dan saya jadi kepikiran sesuatu. tapi sepertinya itu bahasan lain untuk waktu yang juga lain. sekarang mau cari buku enny arrow dulu wqwq

      Delete
    4. Apa pun sebutan itu untuk luputnya penulis, gue mungkin terlalu menyesali beberapa hal soal cerpen itu. Entah tentang proses menulisnya maupun cara menanggapi komentar pembaca. Begitulah ketika tersulut karya-karya bagus. Atau gue betulan terlalu jahat sama diri sendiri kayak yang dibilang Wawan.

      Iya, yang asyik kan begitu. Pembaca boleh menafsirkan yang berbeda. Mau itu melenceng jauh dari maksud penulis, sah-sah aja. Dan semestinya enggak apa-apa juga dinilai karakternya mesum, apalagi guenya. Sepertinya waktu itu gue cuma terpicu trauma komentar lama.

      Mending enggak usah dibahas lagi, gue membenci Yoga yang marah hari itu.

      Delete
    5. Rame banget, gak ada yang mau baca buku Enny Arrow rame-rame apa?

      Delete
    6. buku enny arrow enggak ada di ipusnas ternyata. mungkin tuhan lebih suka kalau saya baca alkitab. subhanallah

      Delete
    7. Sinajir nyari bukunya Enny Arrow di ipusnas. Hahahaha

      Delete
    8. Gigip: lu enggak lagi pura-pura bego, kan? Mana ada buku sejenis itu masuk ke sana. Cari di toko buku bekas atau tukang loak.

      Firman: lu yang bikin tambah rame karena dikomentarin lagi. Gue tambahin pula.

      Itu ajakan maksiat berjamaah? Zaman sekolah pas baca buku mapel berduaan (karena temen sebangku enggak bawa buku) aja susah fokus, apalagi rame-rame.

      Delete
    9. Eh di Bukalapak ada yang jual siapa tau Gigip beneran pengen hahahaha.

      Delete
    10. yoga phobia dengan kemesuman, karena ada pembaca yg nganggep penulisnya yg mesum saat ada adegan atau karakter yg berpikir vulgar. susah sih ini, saat org lain bebas bercerita dan memelihara karakter ustaz, karakter preman, karakter pemabuk dan karakter mesum tanpa dituduh, yoga malah dianggap apapun yang mesum itu adalah yoga. padahal itu cuma karakter dalam tulisan doang. jadinya, saat orang mengomentari karakter di dalamnya, yoga kadang otomatis ngerasa dia yg diomongin. :(

      Kalo baca buku rame-rame, biasanya satu orang yg baca, lainnya dengerin sambil nyautin jalan ceritanya. Bukannya ngebaca, malah srimulatan.

      Kalo pembaca minta jelasin, ya, terserah yang nulis sih maunya gimana. Kalo tujuannya emang ngambang dan ketidakjelasan, semacam Burn itu, ya, biarin. Namun, ada juga org awam yg seperti yg kamu maksud, buat mereka ya jelasin aja dikit biar mereka bisa menikmati. Bukan berarti tulisannya gagal karena tidak dipahami loh.

      tapi untuk firman, di cerpen ditinggal nikah itu kami benar2 menuntut penjelasan. bodo amat ama visi menulis di bawah serebu katanya. kesel aing.

      karena terlihat jelas, di cerpennya yang terbaru juga ada banyak hal yg masih misteri, tapi jadinya malah bagus dan puas bacanya.

      Delete
    11. Enggak fobia juga, sih. Mungkin trauma dihina gebetan. Hahaha. Tapi setelah tulisan ini tayang, insyaAllah telah berdamai. Menulis seasyiknya tanpa khawatir dicap ini-itu.

      Sautan-sautan kayak gitu bikin yang baca sering nge-blank.

      Intinya, sih, saya berusaha menulis kisah (sekalipun targetnya 17 ke atas) yang bahasanya bisa tetap dicerna buat anak SMP. Terus, sekalipun temanya sering soal kepenulisan, saya pengin yang enggak mendalaminya juga paham dengan hal itu tanpa harus basah kuyup dulu.

      Ini judulnya obrolan yang tidak patut disimak, tapi justru jadi obrolan baru. Strategi pemasaran yang semacam larangan (pakai kata negatif kayak "jangan", "bukan", "tidak") ini masih berhasil rupanya.

      Delete
    12. betul, yog. lanjut aja. toh, penulis secara pribadi tidak berhubungan dengan tindakan karakter fiksinya, meskipun si penulis tetap punya tanggung jawab. kata orang-orang sih begitu. jadi ya, gerak bebas aja. kayak firman yang—entah dia sengaja atau enggak—selalu menempatkan karakter laki-lakinya dalam situasi patah hati, yang mungkin bagi beberapa orang itu firman lagi curhat.

      untuk yang target ke pembaca, berarti harus lebih getol di analogi, ya? kan analogi cukup ampuh untuk menyederhanakan yang rumit atau mendekatkan yang jauh, meski tiap-tiap analogi punya batasan tersendiri. yah, apa pun itulah, pokoknya gas aja 😁

      Delete
    13. Untuk Haw, sori, emang cerpen yang itu tuh porsinya segitu aja, tolong tidak usah menuntut lagi ya. Wkwkwk.

      Untuk Gigip, EMANG APAAN LAGI KALAU BUKAN CURHAT BANGKAI?

      Dan untuk Yoga, gue lupa mau ngomong apa, emang bener komen yang modelan gini tuh bikin orang jadi lupa mau komen apa hahahaha

      Delete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.